Aku tidak tahu bagaimana bisa sampai di sana.
Sore itu, entah karena salah jalan atau sekadar rasa penasaran, aku justru berakhir di sebuah sekolah yang sangat megah.Bangunannya tinggi, dindingnya didominasi warna putih gading, dengan jendela-jendela besar dan halaman luas yang dipenuhi tanaman hias.Bahkan dari gerbangnya saja, aku bisa menebak bahwa sekolah itu bukan tempat untuk orang sepertiku.
Sekolah elit.
Aku hanya berdiri di depan gerbang sambil memperhatikan papan nama yang terpasang di atasnya.Seragam para siswanya terlihat mahal, mobil-mobil yang terparkir di halaman pun tidak ada yang tampak murah.
Aku mulai merasa salah tempat.
Namun, ketika berniat pergi, aku baru menyadari sesuatu.
Gerbangnya sudah terkunci.
Aku menarik jeruji besi itu beberapa kali. Tidak bergerak sedikit pun.
"Permisi!"
Aku mencoba memanggil seseorang, berharap ada satpam yang berjaga.Namun, pos keamanan di dekat gerbang tampak kosong.Tidak ada seorang pun.
Aku mulai panik.
Bagaimana mungkin sekolah sebesar ini bisa ditinggalkan tanpa seorang penjaga?
"Sedang mencari seseorang?"
Sebuah suara laki-laki terdengar dari belakang.
Aku menoleh.
Seorang anak laki-laki berdiri beberapa meter dariku.Penampilannya rapi, rambutnya tertata, dan seragamnya terlihat sangat bersih.Ia memiliki wajah yang cukup tampan, dengan ekspresi tenang seolah tidak ada sesuatu yang aneh di dunia ini.
"Aku... sepertinya salah masuk. Gerbangnya terkunci."
Dia tersenyum kecil.
"Kamu siswa baru?"
"Bukan. Aku cuma tersesat."
"Oh."
Dia mendekat.
"Jangan khawatir. Aku bisa membantumu."
Entah kenapa, aku langsung mempercayainya.
Mungkin karena dia satu-satunya orang yang kutemui di tempat itu.Atau mungkin karena cara bicaranya yang begitu tenang membuatku tidak merasa terancam.
"Sebentar, ya.Aku mau ke toilet dulu."
Aku mengangguk.
Dia berjalan meninggalkanku melewati koridor panjang menuju salah satu bangunan di sisi sekolah.
Aku menunggu.
Namun, belum genap beberapa menit, tiga orang tiba-tiba menghampiriku.
Dua perempuan dan seorang laki-laki.
Salah satu perempuan langsung memegang lenganku.
"Kamu masih di sini?"
Aku mengerutkan kening. "Memangnya kenapa?"
"Kamu harus cepat keluar."
"Kenapa?"
Mereka saling berpandangan sebelum salah satu dari mereka menjawab dengan suara pelan.
"Laki-laki yang tadi bersamamu itu..."
Dia berhenti sejenak.
"Dia tidak akan membiarkanmu pergi."
Aku menatap mereka bergantian.
"Maksudnya?"
"Kami akan membantumu.Ada jalan keluar di belakang sekolah."
Aku spontan menoleh ke arah koridor tempat laki-laki tadi menghilang.
"Tapi dia bilang mau membantuku."
Perempuan itu menghela napas.
"Justru itu masalahnya.Kamu harus ikut kami sekarang."
Aku tidak tahu apakah harus mempercayai mereka.Namun, melihat ekspresi ketiganya, aku akhirnya memutuskan untuk mengikuti.
Perempuan yang sejak awal memegang lenganku berjalan paling depan.Kami melewati beberapa bangunan, kemudian menyusuri lorong sempit yang jarang dilewati orang.
Di ujungnya terdapat pintu kecil.
"Lewat sini."
Dia mendorong pintu tersebut hingga terbuka.
Kami keluar melalui bagian belakang sekolah yang dipenuhi semak-semak dan pepohonan liar.
Aku hampir menghela napas lega.
Namun, tiba-tiba terdengar suara mesin motor.
Brrrmmm!
Suara itu berasal dari dalam sekolah.
Perempuan yang membantuku langsung menghentikan langkah.
"Diam."
Kami bersembunyi di balik tembok rendah.
Dari celah pepohonan, aku melihat sebuah motor keluar melewati gerbang utama.
Laki-laki itu.
Aku mengenali motornya.
Dia sedang pergi.
Mungkin dia mengira aku sudah berhasil keluar dan berada jauh dari sekolah.
Kami tidak langsung bergerak.Kami menunggu sampai suara motornya benar-benar menghilang.
"Sudah aman?" bisikku.
"Belum tentu."
Perempuan itu menarik tanganku lagi.
"Kita harus pergi lebih jauh."
Kami berjalan melewati jalan kecil yang semakin lama semakin sepi.
Bangunan-bangunan mulai menghilang.Yang tersisa hanya tanah kosong, semak belukar, dan beberapa pohon besar.
Tidak lama kemudian, kami tiba di dekat rel kereta api.
Di sana terdapat sebuah tempat penyimpanan terbengkalai.Beberapa karung robek berserakan, sementara di dekatnya terdapat gundukan putih yang cukup besar.
Garam.
Aku mendekat dan menyentuh sedikit permukaannya.
"Ini garam?"
"Iya.Katanya garam impor.Sudah lama ditinggalkan."
Gundukan itu terlihat aneh.Sebagiannya sudah menggumpal karena terkena air hujan, sementara bagian lainnya masih berupa butiran putih halus.
Perempuan itu melihat sekeliling.
"Kita sembunyi di sini dulu."
Aku berjongkok di balik gundukan garam tersebut.Tubuhku hampir seluruhnya tertutup oleh tumpukan karung dan material putih yang menggunung.
Aku mencoba mengatur napas.
Sementara itu, ketiga orang yang membantuku berpencar mencari tempat persembunyian lain.
"Jangan keluar sebelum kami kembali," pesan perempuan itu.
Aku mengangguk.
Waktu terasa berjalan sangat lambat.
Suara angin, gesekan dedaunan, dan sesekali suara kendaraan dari kejauhan menjadi satu-satunya hal yang terdengar.
Aku mulai berpikir bahwa semuanya sudah berakhir.
Mungkin aku benar-benar berhasil kabur.
Mungkin laki-laki itu sudah pergi.
Mungkin setelah ini aku bisa pulang dan melupakan kejadian aneh tersebut.
Sampai akhirnya...
Krek.
Aku mendengar suara ranting patah.
Aku langsung menahan napas.
Ada seseorang berjalan di sekitar tempat penyimpanan itu.
Langkahnya pelan.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian berhenti.
Aku merapatkan tubuh ke balik gundukan garam.
"Lucu sekali."
Suara laki-laki.
Aku langsung mengenalinya.
Darahku terasa seperti berhenti mengalir.
"Jadi, kamu bersembunyi di sini?"
Aku menutup mulut dengan kedua tangan.
Sepasang sepatu hitam muncul dari balik tumpukan karung.
Dia berjalan mengitari gundukan itu.
"Padahal aku sudah mencarimu ke mana-mana."
Aku memejamkan mata.
Tolong jangan lihat ke sini.
Tolong jangan lihat ke sini.
Tiba-tiba terdengar suara benda ditendang.
Sebuah karung kosong bergeser beberapa sentimeter dari tempatku bersembunyi.
Aku menggigit bibir.
Lalu terdengar suara tawanya.
Pelan.
Seolah dia sedang menikmati permainan ini.
"Kamu tahu?"
Dia berhenti tepat di hadapanku.
"Aku tadi sempat berpikir kamu sudah berhasil keluar."
Aku tidak bergerak.
"Tapi ternyata kamu masih di sekitar sini."
Dia berjongkok.
Butiran garam berjatuhan dari bagian atas gundukan.
Aku perlahan membuka mata.
Sepasang mata menatap tepat ke arahku dari celah tumpukan karung.
Dia tersenyum.
Senyum yang sama seperti ketika pertama kali menyapaku di sekolah.
"Ketemu."
Aku spontan berusaha mundur, tetapi punggungku terbentur dinding bangunan.
Dia berdiri sambil membersihkan kedua tangannya.
"Kamu benar-benar membuatku kesulitan."
Aku mencoba berteriak, tetapi suaraku tercekat.
"Jangan mendekat!"
Dia memiringkan kepala, seolah tidak mengerti mengapa aku harus merasa takut.
"Lho? Kenapa?"
Dia melangkah mendekat.
"Padahal aku cuma ingin membantumu."
Aku terus mundur sampai tidak ada lagi ruang untuk bergerak.
Dia berhenti beberapa langkah di depanku.
Kemudian, dengan suara yang sangat tenang, dia mengatakan sesuatu yang membuat seluruh tubuhku membeku.
"Kamu pikir sekolah itu punya banyak jalan keluar?"
Dia tersenyum tipis.
"Kamu pikir tiga orang tadi benar-benar bisa membantumu?"
Aku menatapnya dengan kebingungan.
Dia mengeluarkan sesuatu dari saku seragamnya.
Sebuah ponsel.
Layarnya menyala, menampilkan foto diriku yang diambil entah kapan.
"Aku sudah bilang, kan? Jangan pergi sendirian."
Aku mulai gemetar.
Dia memasukkan kembali ponselnya, kemudian mendekatkan wajahnya.
Senyumnya perlahan menghilang.
Tatapannya berubah dingin.
"Kamu tidak bisa sembunyi dan kabur dariku."
Dia terdiam sebentar.
Lalu berbisik tepat di hadapanku.
"Karena ke mana pun kamu pergi..."
Matanya tidak pernah lepas dariku.
"...aku pasti akan menemukanmu."
Tamat.