Paginya sebelum berangkat kerja.
Fiktor udah pakai kaos adem isi 7 yang sisa 6, sarung kotak-kotak dilipet rapi — nggak buat rebutan lagi — pakai celana kebun. Reffa masih pakai daster adem, rambut masih acak-acakan habis bangun, perut 4 bulan udah kelihatan jelas.
Fiktor jongkok depan perut Reffa, belum pakai sepatu.
"Nyapa adek dulu," ujar Fiktor. Rutinitas baru tiap pagi.
Reffa ketawa, elus perut.
"Boleh, tapi ntar pulangnya jangan lupa bawain apel ya Mas?"
Fiktor tempelin dahi ke perut, bisik:
"Dek, Ayah berangkat kerja dulu ya. Cari apel buat Bunda. Kamu di rumah jangan tendang-tendang Bunda terus, kasihan Bunda laper terus."
Terus berdiri, cium dahi Reffa.
"Siap, mau berapa? Sekarung?"
Reffa ketawa, mukul pelan lengan Fiktor yang dulu sering kesemutan.
"3 aja, sekarung mah nggak muat beneran ntar rumahnya!"
"3? Kemarin 3 habis jam 10 pagi."
"Ya udah 5 deh!"
"Siap, Bunda Gemoy. 5 apel buat Bunda Gemoy sama Adek Gemoy."
"Mas!"
Fiktor berangkat, motor bunyi krek-krek, bawa karung kosong buat apel, bukan buat chiki lagi.
Reffa di bale bambu, sarapan roti sama susu yang kemarin dibeli, bukan wafer. Ngelus perut sambil nunggu.
Jam 10, apel belum datang, perut bunyi lagi. Reffa buka WA:
"Mas, Adeknya laper lagi."
Langsung dibales Fiktor, foto dari kebun, pohon apel penuh:
"Sabar ya Dek, Ayah lagi manjat. Bunda jangan ngemil wafer dulu."
Bu Ratna yang lewat bawa sayur, lihat Reffa duduk sendiri ngelus perut sambil ketawa lihat HP, cuma bilang:
"Pantesan rumahnya dulu nggak muat karena jajan. Sekarang nggak muat karena apel. 5 apel katanya, nanti pulangnya sekarung beneran."
Dan siang itu, Fiktor pulang beneran bawa 5 apel — tapi 5 apel yang gede-gede, seplastik penuh, plus bonus 2 jeruk dari temen kebun.
"Katanya 5 aja, Mas? Ini banyak!"
"Tadi Adeknya bisik, katanya mau 5 yang gede, bukan yang kecil. Ayah nurut sama Adek, bukan sama Bunda."
Reffa ngakak, ambil satu apel langsung gigit, duduk di pangkuan Fiktor yang masih pakai kaos adem.
"Makasih ya, Ayah Gemoy."
"Sama-sama, Bunda Gemoy. Adek Gemoy gimana? Kenyang?"
Perut Reffa kedutan lagi, jawabnya.
Lanjut pas lahiran normal lancar, Alhamdulillah.
Di puskesmas, bidan bilang Reffa kuat — 4 bulan ngemil apel, 9 bulan pakai daster adem, les ngaji yang udah nggak "wa laa donat" lagi, jadi tenaganya ada.
Bayinya lahir, nangisnya kenceng banget kayak sekecamatan denger.
Bu Ratna yang nunggu di luar langsung nangis, Febby yang bawa rantang pecel langsung diem.
"Lah, suaranya kayak bapaknya pas manggil Reffa di kebun!"
Fiktor masuk, masih pakai kaos adem isi 7 yang sekarang sisa 5 karena yang 2 dipakai jadi lap, sarung kotak-kotak dilipet di tangan.
Disuruh ngadzanin.
Fiktor gendong, gemeteran. Anaknya nendang-nendang sarungnya.
"Allahu Akbar, Allahu Akbar..."
Baru setengah adzan, kakinya nendang pipi Fiktor.
"Loh, Dek, Ayah lagi adzan, jangan ditendang!"
Bayinya nangis lagi, lebih kenceng. Sekecamatan denger beneran.
Selesai adzan, Reffa yang masih lemes di kasur, bisik:
"Mau dikasih nama siapa Mas?"
Fiktor yang masih digendong bayi yang nendang-nendang, iseng:
"Paijo," ujar Fiktor ketawa ngledek.
"Maaas! Jelek!"
"Lah kan biar kayak petani apel, kuat."
Reffa manyun, padahal masih ngos-ngosan.
"Khmm siapa ya? Feri...?"
"Feri?"
"Iya, Feri. Biar kayak..."
Reffa mikir, Fiktor mikir. Bayinya masih nangis kenceng, nggak peduli namanya Paijo atau Feri.
"Feri Ahmad? Biar kalau dipanggil, sekecamatan denger juga, kayak nangisnya tadi."
"Maaas! Jangan Feri doang, yang bagus dong!"
Fiktor duduk di samping Reffa, taruh bayi di dada Reffa — yang dulu tempat kaos bolong, sekarang tempat gendong.
"Ya udah, kita rembug bertiga. Bunda Gemoy, Ayah Gemoy, sama Adek Gemoy yang suaranya sekecamatan."
Bayinya berhenti nangis pas di dada Reffa. Nendangnya berhenti.
Bu Ratna masuk, bawa selimut kecil yang udah disiapin dari 7 bulan lalu.
"Udah, namanya besok aja. Sekarang kasih ASI dulu. Bapaknya yang tadi meriang 3 hari, yang kaosnya bolong, yang apelnya sekarung, sekarang udah jadi bapak beneran."
Fiktor angguk, lihat Reffa, lihat bayi yang matanya masih merem tapi tangannya ngegem sarung kotak-kotak.
"Dek, maaf ya tadi Ayah ngledek Paijo. Ayah cuma grogi. Nama kamu nanti yang bagus, yang adem kayak kaos Ayah isi 7, yang manis kayak apel yang 5 biji itu."
Reffa ketawa kecil, capek.
"Iya Mas, besok kita namain yang bagus. Sekarang Reffa mau tidur, pakai lengan Mas lagi boleh?"
"Boleh. Sekarang lengan Mas nggak kesemutan lagi. Soalnya ada yang kecil yang bantuin jagain Bunda."
Malam itu, rumah kecil yang dulu isinya troli chiki, kaos bolong, sarung rebutan, ngaji donat — sekarang isinya tangisan yang kencengnya sekecamatan, 5 kaos adem yang sisa, 2 daster, seplastik apel, dan 3 orang yang tidurnya miring berhadapan, ditambah satu sarung kotak-kotak buat selimut bayi.
Lanjut 7 hari acara aqiqah, diberi nama Fiki.
Fiki Ahmad.
Bukan Paijo, bukan Feri doang. Fiki — biar kalau dipanggil, inget bapaknya Fiktor, ibunya Reffa, yang dulu kaosnya bolong, sekarang kaosnya adem isi 7.
Aqiqahnya kecil-kecilan di rumah. Nggak di gedung, nggak mewah. Ayam 2, nasi pecel dari Febby 3 rantang, apel 5 kilo dari kebun Fiktor, buah sama sayur yang dulu dibeli bukan chiki lagi.
Bu Ratna masak, tetangga datang, doa.
Fiki digendong pakai sarung kotak-kotak yang dulu jadi rebutan, yang dulu jadi selimut kapal pecah, yang dipakai Fiktor ngadzanin sambil ditendang-tendang. Sekarang jadi gendongan pertama Fiki.
Nangisnya masih kenceng, sekecamatan denger lagi. Pas dicukur, pas dikasih nama, nangisnya nggak berhenti.
"Wah, sah nih, suaranya kayak bapaknya pas manggil ibunya di kebun," kata Pak RT.
Reffa pakai tunik sage yang dulu dibeli, daster ademnya dilipet dulu. Fiktor pakai kaos adem isi 7 yang paling bagus dari sisa 5 — yang nggak bolong, yang muat.
Habis maghrib, tamu pulang. Piring pecel habis. Apel habis. Rumah berantakan lagi, tapi berantakan yang beda — berantakan popok, berantakan selimut kecil, berantakan bekas gunting rambut Fiki.
Malamnya, lampu kuning nyala. Fiki tidur di tengah, di kasur yang dulu cuma muat berdua pakai lengan jadi bantal.
Fiktor senyum-senyum liat keluarga kecilnya. Reffa tidur miring, daster adem, tangan Fiktor jadi bantal lagi — tapi kali ini nggak kesemutan, karena Fiki yang di tengah yang pakai tangannya buat pegangan.
"Ternyata gini ya punya keluarga sendiri."
Reffa kebangun denger Fiktor ngomong sendiri.
"Gimana, Mas?"
"Ya gini. Dulu Mas pikir punya keluarga sendiri itu harus punya rumah gede, renovasi gede. Ternyata cukup rumah kecil yang dulu nggak muat karena chiki, sekarang nggak muat karena apel, besok nggak muat karena popok Fiki. Cukup kaos adem isi 7, daster adem 2, sarung kotak-kotak 1, sama Bunda Gemoy sama Adek Gemoy yang nangisnya sekecamatan."
Reffa ketawa pelan, takut bangunin Fiki.
"Mas masih mau jadi bantal terus?"
"Mau. Sampai Fiki gede, sampai Fiki yang gantiin jadi bantal buat Bunda."
Fiki gerak, nendang sarungnya lagi, kayak pas diadzanin dulu.
Fiktor elus kepala Fiki, Reffa elus kepala Fiktor. Tiga kepala, satu sarung kotak-kotak.
"Selamat datang ya, Fiki. Maaf ya Ayah dulu ngledek mau namain Paijo. Ternyata nama kamu yang paling adem."
Malam itu jam 9 lagi lampu mati — bukan karena kapal pecah, bukan karena rebutan remote, tapi karena 3 orang kekenyangan apel, pecel, dan doa aqiqah, tidur nyenyak berjejer.
Yang dulu garisnya samar, sekarang udah punya nama yang jelas.
Lanjut setiap harinya adalah warna.
Kalau dulu pulang kerja, Fiktor buka pintu langsung peluk istri duluan.
"Bunda Gemoy pulang!"
Sekarang gantian.
Pintu dibuka, Fiktor masuk masih pakai kaos adem isi 7 yang sisa 5, bawa apel 5 biji kayak janji dulu.
Yang dipeluk duluan bukan Reffa. Yang dicari duluan Fiki yang lagi tidur di gendongan sarung kotak-kotak.
"Ayah pulang, Dek!"
Reffa yang lagi di dapur pakai daster adem, pegang centong sayur, manyun.
"Loh, Mas? Bundanya nggak dipeluk?"
Fiktor baru sadar, ketawa.
"Eh iya, Bunda Gemoy juga. Sini, peluk bertiga."
Reffa cemburu ke anaknya sendiri sampai gemes.
"Maaas! Fiki kan baru aja Ayah gendong pagi! Reffa dari pagi masak, nyuci daster, nyuci kaos adem isi 7 yang sisa 4 sekarang, nggak dipeluk!"
Fiki yang di tengah, yang nangisnya dulu sekecamatan, sekarang malah ketawa ngeliat bundanya manyun.
Fiktor peluk Reffa dari belakang, Fiki di depan.
"Ya kan sekarang peluknya harus paket hemat, Sayang. Sekali peluk dapat dua. Bunda Gemoy sama Adek Gemoy."
"Nggak mau paket hemat! Maunya dipeluk duluan kayak dulu!"
Fiktor puter badan Reffa, peluk beneran.
"Bunda, dulu Mas pulang peluk istri duluan karena rumah isinya cuma istri. Sekarang rumah isinya istri sama anak yang suaranya sekecamatan. Kalau nggak peluk duluan anaknya, nanti rumahnya berisik lagi."
Reffa ketawa, pukul pelan dada Fiktor.
"Alasan!"
Malamnya, warna-warni itu kelihatan lagi.
Reffa gendong Fiki pakai tunik sage, Fiktor cuci kaos adem di belakang, Bu Ratna datang bawa bubur.
Fiki rewel, maunya sama Ayah terus. Reffa yang gendong dari pagi, disodorin ke Ayah langsung diem.
"Tuh kan! Anaknya Ayah banget! Gemoy-nya nurun Ayah!"
"Lah kan Ayah kaosnya adem, Bunda dasternya adem, jadi dia milih yang adem."
Reffa pura-pura ngambek, duduk di bale bambu, makan apel yang 5 biji tadi — sekarang sisa 2 karena dimakan bertiga.
Fiktor datang, duduk sebelah, gendong Fiki pakai satu tangan, tangan satunya meluk Reffa.
"Nih, sekarang Ayah peluk Bunda duluan ya? Adeknya ngintip aja."
Reffa senyum, sandaran ke bahu Fiktor.
"Gini dong. Jangan anaknya terus."
Fiki yang di tengah, nendang-nendang lagi kayak pas diadzanin dulu, kayak protes.
"Loh, Dek protes? Nggak boleh cemburu, Bunda juga pernah cemburu sama kamu."
Dan malam itu, peluknya gantian beneran. Sekali Fiki dulu, sekali Reffa dulu, sekali bertiga sampai kasur yang dulu kapal pecah karena rebutan sarung, sekarang kapal pecah karena rebutan siapa yang dipeluk duluan.
Bu Ratna yang ngintip dari jendela, lihat tiga orang berjejer pakai baju adem semua, cuma bilang pelan:
"Alhamdulillah. Yang dulu garisnya samar, sekarang warnanya jelas. Setiap hari warna."
Lanjut malemnya pas Fiki udah tidur tinggal mereka quality time di kamar sebelah.
Fiki tidur di ayunan sarung kotak-kotak, dijagain Bu Ratna yang nginep malam ini. Lampu kamarnya diredupin.
Di kamar sebelah, Reffa sama Fiktor akhirnya berdua lagi — kayak dulu sebelum ada tangisan yang sekecamatan.
Reffa rebahan pakai daster adem, rambut diikat, kaki selonjor.
"Mas, pijitin," Reffa manja banget. Suaranya kayak dulu pas minta digendong 3 langkah.
Fiktor masih pakai kaos adem isi 7 yang sisa 4, duduk di pinggir kasur, ketawa.
"Gantian ntar ya."
Mulai deh isengnya.
Fiktor pijitin kaki Reffa pelan-pelan — kaki yang seharian gendong Fiki, masak, nyuci kaos adem.
"Enak?"
Reffa diem. Merem. Pura-pura tidur.
"Ref?"
Nggak jawab. Napasnya dibuat teratur, kayak Fiki kalau bobok.
Fiktor ngerti, ini jurus lama Reffa. Kalau disuruh gantian pijit, pura-pura tidur.
"Oh, tidur ya? Ya udah, Mas nggak jadi pijitin."
Langsung Reffa buka mata.
"Maaas! Curang! Pijitin lagi!"
"Lah katanya tidur?"
"Nggak! Pura-pura doang biar Mas pijitin terus, nggak gantian!"
Fiktor ketawa, tarik selimut.
"Ya udah, sini, gantian Mas yang dipijitin. Tangan Mas kan kemarin gendong Fiki seharian, kesemutan lagi."
Reffa duduk, pijitin tangan Fiktor yang besar — tangan yang dulu jadi bantal, yang dulu angkat karung apel, yang dulu adzanin Fiki sambil ditendang.
Pijitnya nggak jago, mencet-mencet random.
"Aduh, Sayang, itu bukan pijit, itu nyari kutu."
"Biarin! Kan quality time!"
Berdua ketawa pelan, takut bangunin Fiki di kamar sebelah.
Habis pijit-pijitan nggak jelas itu, mereka rebahan berhadapan — nggak ada Fiki di tengah untuk pertama kalinya seharian.
"Kangen ya Mas berdua gini?"
"Kangen. Tapi kangen yang sekarang warnanya beda. Dulu berdua sepi, sekarang berdua sebentar aja rasanya mahal, soalnya di sebelah ada yang nangisnya sekecamatan nungguin."
Reffa sandaran ke dada Fiktor, dengerin detak jantungnya.
"Besok kalau Fiki bangun, peluk Bunda duluan lagi ya? Jangan Fiki terus."
"Siap, Bunda Gemoy. Besok peluk Bunda duluan, Fiki kedua, apel ketiga."
"Maaas!"
Lampu dimatiin. Bukan karena kapal pecah, bukan karena rebutan sarung. Karena dua orang yang udah jadi Ayah Gemoy sama Bunda Gemoy butuh tidur siang — eh malam — 10 menit aja sebelum Fiki bangun lagi minta susu.
Cerita ditutup.
Menikah dengan yang lebih muda kalau sama-sama dewasa itu enak.
Bukan enak karena yang satu manja, yang satu ngalah terus. Enak karena sama-sama belajar dewasa bareng.
Dulu Fiktor 40, Reffa 25 — beda 15 tahun. Orang bilang, "Wah, yang satu kebapakan, yang satu masih bocah."
Padahal enggak.
Yang satu 40 tahun belajar lagi gimana jadi bantal yang nggak bikin kesemutan. Yang satu 25 tahun belajar lagi gimana masak bukan cuma wafer, tapi sayur, buah, susu, vitamin, roti.
Yang satu dulu kaosnya bolong, nggak muat. Yang satu dulu dasternya cuma satu. Sekarang kaosnya adem isi 7, dasternya adem ganti-ganti, sarung kotak-kotak satu jadi selimut bertiga.
Yang dulu kalau pulang peluk istri duluan, sekarang gantian — kadang istri duluan, kadang anak duluan — tapi tetep peluknya paket bertiga.
Yang dulu les ngajinya "wa laa donat", sekarang udah bisa ngaji bener, bisa adzanin anaknya sambil ditendang-tendang, bisa aqiqahin Fiki yang nangisnya sekecamatan.
Ternyata nikah beda umur itu bukan soal siapa yang lebih tua, siapa yang lebih muda.
Tapi soal siapa yang mau bilang:
"Mas, pijitin."
"Gantian ntar ya."
Terus pura-pura tidur, terus ketawa berdua lagi di kamar sebelah pas Fiki udah tidur.
Ternyata punya keluarga sendiri itu gini — rumah kecil yang dulu katanya nggak muat, ternyata muat buat 7 kaos adem, 2 tunik, 2 daster, 5 apel, 1 sarung kotak-kotak, dan 3 orang yang setiap harinya warna.
Fiktor, Reffa, dan Fiki.
Yang dulu garisnya samar, sekarang namanya jelas.