Fiktor ngecek kebun apel di atas, Reffa bawain makanan — rantang isinya nasi, pecel, sama telur dadar yang tadi pagi hampir gosong karena rebutan kamar mandi.
Di kebun ada mertuanya, Bu Ratna. Lagi duduk di bale bambu, lihat apel yang baru dipetik.
Reffa datang, nafas agak ngos-ngosan naik tanjakan.
"Bu, rantangnya."
Bu Ratna lihat Reffa, lihat Fiktor yang lagi angkat karung.
"Waaah pantesan aja anak Ibu tambah gemuk."
Fiktor kaget, pegang perut.
Reffa juga pegang perut, langsung manyun.
"Bu!"
Bu Ratna ketawa ngakak.
"Loh, Ibu ngomong gemuk itu bukan ngejek, Nak. Ibu seneng. Dulu Fiktor kurus karena mikirin Ibu sakit, mikirin kebun, mikirin nikah buru-buru. Reffa kurus karena nangis sendirian di gudang, makan nggak teratur."
Bu Ratna buka rantang, bagiin nasi.
"Sekarang lihat, pipinya Reffa sudah isi, pipinya Fiktor juga. Kalau orang habis nikah tambah gemuk, artinya makannya bareng, tidurnya nyenyak, ngajinya ketawa-ketawa sampai jam 11 malam. Itu gemuk bahagia, bukan gemuk sakit."
Fiktor sama Reffa saling lihat, terus ketawa.
"Iya Bu, soalnya Reffa kalau masak, Mas harus habisin. Kalau Mas masak, Reffa harus habisin. Jadi nggak boleh sisa."
"Makanya tambah gemuk berdua," kata Bu Ratna, nyuapin Reffa satu suap kayak anak kecil.
Reffa yang tadi manyun karena dibilang gemuk, sekarang manyun karena disuapin depan Fiktor.
"Bu, malu!"
"Malu kenapa? Ibu juga dulu disuapin bapakmu waktu habis nikah, Tor. Biar gemuk bareng."
Di kebun itu, siang-siang, mereka bertiga makan rantang bareng. Fiktor yang dulu ngecek kebun sendirian, sekarang ngeceknya ditemenin istri bawain rantang. Reffa yang dulu merantau karena rumahnya dikuasai paman, sekarang punya ibu mertua yang bilang gemuknya itu tanda bahagia.
Lanjut malemnya ngaji lagi di rumah kecil itu.
Sajadah digelar, rantang bekas siang sudah dicuci, troli jajan yang kebanyakan tadi numpuk di pojok. Lampu kuning.
Baru buka Iqro, belum apa-apa Fiktor sudah nahan ngakak. Ingat "wa laa donat" kemarin.
"Apa sih Mas? Eeh kita belajar gini bekal buat anak kita nanti loh."
Reffa manyun, mukenanya sudah bener, nggak jadi topi lagi.
"Yaudah kita ngaji dulu," ujar Fiktor sok serius, nafas ditarik dalam.
"A'udzubillah..."
Baru 2 huruf, Fiktor yang tadinya nahan tawa nggak kuat juga. Meledak.
"Hahahaha!"
"Mas!"
"Maaf, maaf! Ingat donat tadi siang!"
Reffa mau marah, tapi ketawa juga.
"Sayang, nanti kalau kita nggak bisa, les in aja ya anak kita nanti. Kita les bareng," kata Fiktor akhirnya jujur.
Disitu Reffa baru sadar, nepok jidat.
"Oh iya ya, nggak kepikiran ke situ. Kita ngaji blepotan gini mau ngajarin anak, nanti anaknya jadi 'wa laa donat' juga."
"Makanya les bareng. Biar gurunya yang pusing, bukan kita."
Fiktor meluk Reffa kayak anak kecil — bukan peluk yang aneh-aneh, peluk yang kepala nempel kepala karena capek nahan ketawa.
Pas meluk, sarung kotak-kotak Fiktor ketarik, kelihatan perut.
Reffa ngintip.
"Eeh kok Yakult-nya Mas gemoy ya?"
Maksudnya perutnya bulet kayak Yakult yang gemoy.
"Mas kayak gentong tau perutnya."
Fiktor kaget, pegang perut.
"Lah! Katanya tadi siang Ibu bilang gemuk bahagia! Sekarang dibilang gentong!"
"Gentong bahagia, Mas! Gentong yang isinya wafer sama chiki tadi sore!"
Fiktor bales, cubit pelan pipi Reffa yang memang tambah isi.
"Lah Reffa juga! Pipinya kayak bakpao! Bakpao isi pecel!"
"Mas!"
Berantem lagi. Gletik lagi. Kamar yang tadi pagi sudah dirapiin habis jadi kapal pecah, malam ini jadi kapal pecah lagi jilid 2.
Sajadah geser, mukena jadi topi lagi, sarung kotak-kotak jadi selimut lagi.
Akhirnya dua-duanya rebah, ngos-ngosan, nggak jadi ngaji.
"Mas, jadi gimana ngajinya?"
"Besok les. Malam ini istirahat. Capek jadi gentong sama bakpao."
"Setuju."
Mereka matiin lampu, tidur jam 10, lebih cepet dari biasanya. Troli jajan di pojok nggak disentuh, karena kenyang ketawa.
Malemnya Reffa kebiasaan kalau tidur pakai lengan Fiktor. Tiap malam.
Sampai kesemutan lagi. Tiap subuh Fiktor bangun sambil goyang-goyang tangan biar nggak kebas.
"Ref, tangan Mas jadi bantal terus, lama-lama jadi bantal beneran."
"Enak tau, Mas, bantalnya anget."
Hingga suatu hari Fiktor tiba-tiba nggak enak badan. Pulang dari kebun, mukanya pucat, badannya meriang.
"Ref, Mas masuk angin kayaknya. Minta dikerik dong."
Reffa panik, ambil koin sama minyak.
Dikerik punggungnya.
"Mas keras banget kayak batu!"
"Lah, kan kerja di kebun."
Fiktor ketawa kecil, masih meriang.
"Bagus tau, masih kuat angkat istri Mas yang sekarang hampir 55 kilo. Tadi siang gemuk bahagia, sekarang sudah 55."
"Maaass! Jangan disebut angkanya!"
Reffa ngomel, tapi tangannya tetep mijitin, ngolesin minyak pelan-pelan.
Habis dikerik, Reffa lihat punggung Fiktor merah-merah, terus iseng noel-noel bahunya yang kekar karena angkat karung apel tiap hari.
"Jadi ini - hasil angkat karung ya?"
"Ehh jangan jorok ya, lagi dikerik malah dipok-pok."
"Mas? Bagus tau, umur udah mau 42 masih kuat. Bu Ratna aja bilang, bapak dulu umur 42 sudah encok."
Fiktor yang tadinya meriang, ketawa.
"Alhamdulillah masih kuat. Biar bisa angkat rantang, angkat troli jajan yang kebanyakan kemarin, sama angkat Reffa kalau minta digendong 3 langkah itu."
Reffa diem, terus ambil selimut sarung kotak-kotak, selimutin Fiktor yang kedinginan habis dikerik.
"Udah, Mas tidur. Malam ini Reffa nggak pakai lengan Mas. Mas istirahat, tangannya jangan jadi bantal dulu."
"Loh?"
"Nanti kesemutan lagi, terus masuk angin lagi. Malam ini Reffa yang jaga Mas."
Malam itu gantian. Fiktor yang biasanya jadi bantal, sekarang yang dibantal selimut. Reffa yang biasanya manja minta disuapin, sekarang yang nyuapin teh anget, ngecek dahi.
Jam 9 lampu mati. Nggak ada kapal pecah malam itu. Nggak ada ngaji donat.
Cuma ada Reffa duduk di sebelah, pegangin koin kerik, lihat suaminya tidur nyenyak, punggungnya masih merah, napasnya sudah nggak sesak lagi.
Bu Ratna yang besok pagi datang bawain bubur, lihat Fiktor sudah mendingan, lihat Reffa yang jaga semaleman matanya agak bengkak, cuma bilang:
"Nah, gini baru rumah tangga. Gantian. Kemarin Mas yang kesemutan, sekarang Reffa yang jaga. Besok Reffa yang kesemutan lagi, Mas yang kerikin lagi. Terus aja gitu sampai gemuk berdua."
Reffa ketawa kecil, bisik ke Fiktor yang masih tidur:
"Mas, cepet sembuh ya, gentong bahagia."
3 hari nggak sembuh.
"Apa mau periksa Mas? Udah dikerik, udah minum tolak angin, masih meriang."
Fiktor yang biasanya kuat angkat karung, sekarang duduk aja ngos-ngosan. Reffa panik.
Akhirnya periksa ke puskesmas. Diperiksa semua — tensi normal, darah normal, nggak tipes, nggak apa-apa.
Dokter cuma bilang: kecapean, kurang istirahat. Disuruh istirahat, jangan angkat berat dulu.
"Loh, nggak kenapa-napa kok masih meriang, Dok?"
"Kecapean, Pak. Ibu di rumah ada yang lagi kecapean juga mungkin?"
Fiktor sama Reffa bingung.
Pas pulang, Bu Ratna yang nunggu di rumah, notice bukan ke Fiktor. Dari tadi pagi Reffa bolak-balik kamar mandi, mual lihat minyak kerik, wafer yang kemarin diborong banyak nggak disentuh sama sekali.
Bu Ratna narik Reffa ke dapur, pelan-pelan, nggak depan Fiktor.
"Nduk? Bulan ini udah halangan belum?"
Reffa kaget. Mukanya langsung merah.
"Bu..."
"Ibu nanya pelan-pelan aja. Soalnya Fiktor 3 hari meriang bukan karena masuk angin, Nduk. Bapaknya dulu gitu juga. Pas Ibu hamil Fiktor, bapaknya malah yang mual, yang meriang, yang nggak bisa lihat pecel. Orang Jawa bilang, yang hamil ibunya, yang ngerasain bapaknya."
Reffa diem. Ngitung-ngitung dalam hati. Tangannya megang perut yang katanya gemuk bahagia itu.
Fiktor dari ruang depan teriak:
"Bu, Reffa kenapa? Kok bisik-bisik?"
Bu Ratna keluar, senyum, nggak jawab Fiktor dulu. Dia ambil HP, telepon bidan langganan.
"Nduk, kita periksa ya besok pagi. Bukan Fiktor yang periksa, kamu. Biar jelas. Kalau memang belum, ya nggak apa-apa, berarti Reffa kecapean jagain Mas. Kalau memang iya, Alhamdulillah, berarti sarung kotak-kotak itu bentar lagi ada yang kecil yang makai."
Malam itu, Fiktor masih meriang, Reffa yang mijitin, tapi sekarang dua-duanya diem. Bukan diem berantem. Diem yang deg-degan.
"Mas..."
"Hmm?"
"Kalau besok ternyata... Reffa hamil gimana?"
Fiktor yang tadinya meriang, langsung duduk. Kesemutannya hilang seketika.
"Hah?"
"Tadi Bu nanya halangan. Reffa baru inget, bulan ini belum."
Fiktor pegang tangan Reffa. Tangan yang 3 hari ini kerokin punggungnya yang kayak batu itu.
"Kalau iya, berarti Mas meriangnya bukan karena masuk angin. Karena mau jadi bapak. Gentong bahagia mau jadi dua gentong kecil."
Reffa nangis. Bukan nangis sendirian di gudang kayak dulu. Nangis sambil ketawa, sambil masih mijitin punggung Fiktor.
"Mas, jangan ngomong dulu. Besok periksa dulu ya. Reffa takut kecewain."
"Nggak ada yang kecewa, Sayang. Ada atau belum ada, kita tetep les ngaji 'wa laa donat' bareng kan?"
Malam itu mereka tidur jam 9 lagi. Nggak ada kapal pecah. Fiktor nggak jadi bantal, Reffa nggak jadi bakpao. Dua-duanya tidur miring, hadap-hadapan, tangan Fiktor nggak kesemutan karena nggak dipakai jadi bantal — dipakai buat pegang tangan Refa.
Ternyata tes itu masih samar.
Waktu di bidan kemarin, garis dua-nya ada, tapi satu samar banget. Kayak pensil alis Reffa yang hampir habis.
Bidan nggak mau langsung bilang iya atau enggak.
"Ini masih samar, Nduk. Bisa karena masih awal banget, bisa karena kecapean kemarin. Jangan dipegang dulu hatinya ya. Seminggu lagi periksa lagi, biar jelas. Jangan tes di rumah terus, nanti kepikiran terus."
Seminggu itu rasanya lama banget buat rumah kecil itu.
Fiktor yang meriangnya sudah sembuh — habis dipaksa makan bubur sama Bu Ratna, nggak boleh angkat karung dulu — sekarang gantian yang jagain Reffa.
Nggak ada gletik-gletikan, nggak ada kapal pecah. Nggak ada ngaji "wa laa donat" dulu. Lesnya libur seminggu beneran.
Reffa jadi manja lagi, tapi manja yang beda. Dulu manja minta digendong 3 langkah. Sekarang manja diem, duduk di bale bambu, pegang perut yang katanya gemuk bahagia itu, ngitung hari.
"Mas, kalau masih samar gimana?"
"Ya periksa lagi. Kalau belum, ya kita les ngaji lagi. Kalau sudah, ya kita les ngajinya berdua sama yang di perut."
Seminggu kemudian, pagi-pagi, mereka berdua lagi ke bidan. Kali ini nggak bawa Bu Ratna. Bu Ratna sengaja nggak ikut.
"Biar kalian yang denger duluan, Nduk. Ibu tunggu di rumah aja, masak bubur."
Di ruang periksa, Reffa genggam tangan Fiktor kenceng. Tangan Fiktor yang biasanya kesemutan karena jadi bantal, sekarang yang genggam balik.
Bidan senyum lihat test yang baru.
Garis dua. Nggak samar lagi. Jelas.
Fiktor kaget, Reffa langsung nangis. Bukan nangis sendirian di gudang, bukan nangis karena Pram, bukan nangis karena rumah paman.
Nangis karena 5 tahun merantau, 1 tahun nikah buru-buru, 3 hari dikira masuk angin, 1 minggu nunggu garis samar jadi jelas.
"Alhamdulillah, Nduk. Positif. Sudah 5 minggu. Makanya kemarin meriangnya Pak Fiktor, bukan Ibu. Karena Ibu yang kuat, Bapak yang ngerasain."
Fiktor yang umur mau 42, yang katanya kuat angkat istri 55 kilo, yang perutnya dibilang gentong, yang punggungnya kayak batu habis dikerik — duduk lemes di kursi bidan.
"Saya... mau jadi bapak?"
"Iya, Mas. Gentongnya bentar lagi jadi dua."
Di luar puskesmas, Fiktor bopong Reffa lagi. Kayak habis subuh dulu.
"Mas! Katanya berat! Sekarang tambah berat lagi!"
"Nggak! Sekarang tambah ringan! Karena yang digendong dua!"
Reffa ketawa sambil nangis, mukenanya yang kemarin jadi topi, sekarang dipakai buat ngelap air mata.
Sampai rumah, Bu Ratna sudah masak bubur banyak. Lihat mereka berdua datang, lihat muka Reffa, langsung tau.
"Ya Allah... jadi?"
Reffa angguk. Fiktor angguk.
Bu Ratna nangis, peluk Reffa, peluk Fiktor.
"Pantesan kemarin Ibu nanya halangan, bukan nanya Fiktor. Ibu tau. Yang meriang bapaknya, yang isi ibunya."
Siang itu, Febby yang dapat kabar dari Bu Ratna, datang bawa pecel 3 bungkus, bukan 2.
"Nih, buat bertiga. Satu buat Reffa, satu buat Mas Fiktor yang kemarin meriang, satu buat yang di perut yang bikin garis samar jadi jelas."
Rumah kecil yang dulu renovasi aja susah, yang ngajinya "wa laa donat", yang belanja bulanannya kebanyakan jajan, yang tangannya sering kesemutan — sore itu jadi rame lagi.
Bukan karena berantakan kayak kapal pecah. Tapi karena ada kabar yang jelas, bukan samar lagi.
Sejak hamil, hobinya bikin ngakak berdua — makan terus.
Dikit-dikit laper katanya.
Jam 9 pagi habis bubur Bu Ratna, jam 10 laper lagi. Jam 12 makan pecel Febby, jam 1 ngemil wafer yang dulu dibilang buat betah di rumah. Jam 3 sore, troli jajan yang bulan lalu dibilang kebanyakan, habis.
Fiktor lihat kulkas kosong lagi.
"Sayang kalau gini ntar rumah kita nggak muat."
"Maaass! Ini kan gara-gara Mas juga!"
"Lah kok gara-gara Mas?"
"Iya! Kata Bu Bidan, yang di perut ini lapar karena bapaknya dulu 3 hari meriang nggak makan. Sekarang gantian, anaknya nagih makan terus ke ibunya."
Fiktor ketawa, padahal perutnya juga ikut bunyi. Sejak Reffa hamil, Fiktor ikut laper terus. Orang Jawa bilang lagi, bapaknya yang ngidam.
"Ya udah, besok belanja bulanan lagi. Tapi jangan wafer aja. Kita tanya Bu Bidan ya, makan apa yang bagus buat Reffa sama yang di perut, biar gemuknya tetap gemuk bahagia, bukan gemuk wafer doang."
Reffa manyun, pegang perut yang sekarang bukan 55 kilo lagi.
"Reffa mau pecel terus, Mas."
"Pecel boleh, tapi sama telurnya, sama sayurnya, sama buburnya Ibu. Wafernya buat hadiah kalau habis ngaji bener."
Malamnya, les ngaji libur lagi. Gantinya les makan. Mereka berdua duduk di lantai, piring berdua, nasi berdua, pecel berdua.
Fiktor suapin Reffa, Reffa suapin Fiktor. Yang di perut ikut kenyang.
"Mas, nanti kalau rumah nggak muat gara-gara stok makanan, kita renov lagi ya?"
"Nggak usah renov. Kita buka pintu aja lebar-lebar, biar tetangga lihat, rumah kecil ini isinya orang yang laper terus tapi ketawa terus."
Bu Ratna yang ngintip dari jendela, lihat mereka makan berdua sambil rebutan telur dadar, cuma geleng-geleng sambil senyum.
"Pantesan kemarin garisnya samar. Orangnya sibuk makan, bukan sibuk mikirin garis."
Dan malam itu, tangan Fiktor nggak kesemutan lagi. Soalnya Reffa nggak tidur pakai lengannya — Reffa tidur miring, peluk guling, sambil ngiler ngimpiin pecel. Fiktor yang jagain, sambil pegang piring wafer yang sisa satu.
Lanjut mereka belanja — bukan chiki-chiki lagi.
Bu Bidan habis kontrol bilang, "Nduk, makannya yang bergizi ya, jangan wafer terus. Bapaknya juga."
Jadi troli bulan ini isinya beda.
Buah apel dari kebun sendiri, sayur bayam, wortel, susu, vitamin yang dikasih bidan, roti tawar buat sarapan.
"Nah gini dong, Sayang. Troli gemuk bahagia, bukan troli kiamat," kata Fiktor dorong troli yang sekarang beratnya sayur, bukan chiki.
Sampai rumah, Bu Ratna seneng lihat troli.
"Alhamdulillah, akhirnya kulkas isinya warna-warni, bukan coklat semua."
Malamnya, Fiktor habis mandi, pakai kaos daleman kesayangan — yang putih, yang udah 5 tahun dipakai buat ke kebun.
Reffa lihat, langsung ngakak.
"Kenapa Mas?"
"Bolong," ujar Fiktor nunjukin kaos kesayangannya. Bolong di ketiak, bolong di perut.
"Yang lain?"
Fiktor buka lemari, coba kaos lain. Tarik perut.
"Ngga muat, Sayang."
Perut gentong bahagia yang dulu diketawain Reffa, sekarang beneran nggak muat kaos lama.
Reffa makin ngakak, sampai pegang perutnya yang lagi hamil.
"Yaudah Mas, besok beli lagi. Beli kaos yang gede, yang muat buat Mas sama buat perut Reffa yang bentar lagi gede juga."
"Beli dua ya? Satu buat Mas, satu buat yang di perut nanti kalau sudah lahir. Biar kembaran gentong."
"Maaass!"
Malam itu, Fiktor tidur pakai kaos bolong itu tetep, karena kaos yang muat belum kebeli. Reffa tidur miring, nggak pakai lengan Fiktor lagi, tapi pakai kaos bolong itu buat selimutan kaki.
Kulkas penuh buah, bukan chiki. Lemari penuh kaos yang nggak muat. Rumah kecil yang katanya nggak muat karena makanan, sekarang nggak muat karena bahagia.
Febby besoknya datang bawa 2 kaos baru ukuran jumbo dari pasar.
"Nih, buat Mas Fiktor. Yang bolong itu buang aja. Buat Reffa, ini susu, bukan wafer."
Fiktor coba kaos baru, muat. Reffa coba kaos baru — kebesaran, karena buat Fiktor, tapi dipakai juga.
"Loh, kok muat berdua?"
Lanjut beli kaos yang 200 ribuan isi 7, bahannya adem, biar bisa ganti-ganti.
Fiktor akhirnya ke pasar sama Reffa, bukan ke grosir jajan. Nemu lapak kaos oblong.
"Mas, ini 200 ribu isi 7, bahannya adem. Buat ke kebun enak, buat tidur enak, buat gendong Reffa juga enak, nggak sobek lagi."
Fiktor coba satu, muat. Nggak bolong, nggak sesak. Gentong bahagia akhirnya punya rumah baru.
"Alhamdulillah, akhirnya nggak jadi gentong yang pakai kaos bolong."
"Sekarang jadi gentong yang pakai kaos adem, Mas."
Sementara Reffa beli tunik sama daster — 2 tunik warna sage sama coklat susu, 2 daster adem buat di rumah.
"Biar perutnya nggak sesak, Mas. Kata Bu Bidan, pakai yang longgar-longgar, adem, biar Reffa sama yang di perut betah."
Pas sampai rumah, mereka gelar belanjaan di kasur — yang dulu jadi kapal pecah karena rebutan sarung, sekarang jadi kapal pecah karena baju baru.
7 kaos Fiktor dijejer, 2 tunik sama 2 daster Reffa dijejer.
"Wah, sekarang lemari kita warna-warni, Mas. Nggak putih bolong semua."
"Iya. Biar nanti anak kita lihat, bapak ibunya bukan pakai kaos bolong, tapi pakai kaos adem isi 7."
Bu Ratna lewat, lihat, langsung komentar:
"Nah gitu. Kemarin belanja chiki, sekarang belanja adem. Pantesan pipinya Reffa tambah seger, pipinya Fiktor nggak pucat lagi."
Malamnya, Fiktor pakai kaos baru yang adem itu tidur, Reffa pakai daster baru yang adem juga. Nggak ada lengan kesemutan, nggak ada kaos bolong.
Cuma ada dua orang — bentar lagi tiga — yang tidurnya nyenyak karena bajunya adem, kulkasnya penuh buah, bukan chiki.
Malemnya habis Isya, udah 4 bulan.
Perut Reffa udah kelihatan. Bukan gemuk wafer lagi, beneran hamil. Daster barunya udah mulai sesak di perut.
Fiktor masih pake sarung — sarung kotak-kotak kesayangan, yang dulu jadi rebutan, yang dulu jadi selimut kapal pecah. Sekarang sarungnya juga udah agak sesak.
Habis Isya, mereka ngaji — udah nggak "wa laa donat" lagi, udah bener, diajarin Bu Ratna. Selesai ngaji, Fiktor duduk di lantai, tempelin kuping ke perut Reffa.
Nyapa:
"Dek, bunda gemoy, ayah gemoy, kamu gemoy nggak?"
Reffa langsung ngakak sampai perutnya goyang.
"Salah Mas! Masa nanyanya gitu!"
"Lah terus gimana?"
"Ya yang bener, Dek, sehat-sehat ya di dalam. Bunda sama Ayah nungguin kamu."
Fiktor ulang, masih pakai sarung, masih pakai kaos adem isi 7 yang sekarang tinggal 6 karena satu hilang entah kemana.
"Dek, ini Ayah. Ayah yang kaosnya dulu bolong, sekarang udah adem isi 7. Bunda kamu pakai daster adem. Kamu sehat-sehat ya di dalam, jangan bikin bunda laper terus jam 2 pagi."
Reffa elus-elus kepala Fiktor yang nempel di perut.
"Pinter. Gitu dong nanyanya. Jangan gemoy-gemoy."
"Tapi kan kita keluarga gemoy. Bunda gemoy, Ayah gemoy, nanti kamu gemoy juga, biar kaosnya muat bertiga."
Reffa ketawa lagi, terus tiba-tiba perutnya kedutan.
"Mas! Gerak! Gerak!"
Fiktor kaget, tangannya yang biasa kesemutan karena jadi bantal, sekarang diem di perut Reffa, ngerasain kedutan kecil.
"Ya Allah... gerak, Ref?"
"Iya!"
Dua-duanya diem. Lampu kuning, sarung kotak-kotak, sajadah masih digelar, buah apel potong di piring nggak disentuh.
Di luar, Bu Ratna yang habis Isya mau pulang, denger dari jendela suara Fiktor sama Reffa ketawa pelan-pelan sambil ngobrol sama perut, senyum sendiri.
"Alhamdulillah. Yang dulu garisnya samar, sekarang udah bisa diajak ngobrol. Yang dulu kaosnya bolong, sekarang sarungnya masih dipakai buat ngaji."
Malam itu, Fiktor nggak nanya "kamu gemoy nggak" lagi. Dia ganti:
"Dek, Ayah di sini, Bunda di sini. Kamu jangan buru-buru keluar ya, tunggu baju kecilmu datang. Ayah masih nabung buat kaos isi 7 yang kecil."
Dan Reffa yang biasanya tidur nggak pakai lengan Fiktor, malam itu tidur pakai lengan lagi — bukan karena manja, tapi karena Fiktor yang minta.
"Boleh Mas jadi bantal lagi? Tadi tangannya ngerasain kamu gerak, jadi kangen."
"Boleh. Asal jangan kesemutan lagi."
"Siap, Bunda Gemoy."
"Maaass!"