“Ada nama yang tak pernah benar-benar hilang, meski pemiliknya sudah lama tak terlihat. Ada perasaan yang tak pernah sempat tumbuh menjadi kisah, tetapi entah mengapa, selalu menemukan jalan untuk pulang.”
–Kelas VII SMP–
Pagi itu, lapangan sekolah dipenuhi barisan siswa berseragam putih biru. Matahari belum terlalu terik, tetapi telapak tanganku sudah terasa lembap sejak tadi.
Hari itu, kelasku mendapat giliran menjadi petugas upacara bendera. Aku berdiri di barisan, menunggu tugasku tiba. Di sampingku, seorang laki-laki berdiri dengan memegang Al-Qur'an di dadanya. Wajahnya terlihat tenang, seolah tidak ada puluhan pasang mata yang sedang memperhatikan kami – Ali.
Nama itu pertama kali menetap di ingatanku pada pagi itu.
Pembacaan ayat suci Al-Qur'an menjadi bagian awal dari rangkaian upacara. Aku mendapat tugas membacakan terjemahannya, sedangkan Ali melantunkan ayat-ayatnya.
Ketika suaranya mulai terdengar melalui pengeras suara, aku menunduk, memperhatikan lembaran terjemahan yang berada di pangkuanku.Surah An-Naba.
Lantunannya mengalun dengan begitu merdu. Ada sesuatu dalam suaranya yang membuat riuh lapangan seolah menjauh untuk sesaat. Aku bisa mendengar suaranya dengan jelas, menangkap setiap jeda di antara ayat-ayat yang dibacanya.
Aneh. Padahal, aku sudah beberapa kali mendengar teman-teman membaca Al-Qur'an. Namun, pagi itu terasa berbeda.
Aku menggeser posisi duduk sedikit, berusaha memastikan mikrofon tetap mengarah kepadanya. Tanganku gemetar tipis ketika memegang gagangnya.
Kenapa gugup banget, sih?
Aku melirik tanganku sendiri.
Namun, saat hendak kembali memperhatikan teks terjemahan, pandanganku justru berbelok ke samping. Ke arahnya.
Deg!
Jantungku seperti melewatkan satu ketukan.
Ali masih membaca dengan pandangan tertuju pada mushaf. Wajahnya terlihat begitu serius, bibirnya bergerak mengikuti ayat demi ayat. Sesekali, ia mengambil jeda sebelum melanjutkan bacaannya.
Aku buru-buru menunduk. Pipiku terasa hangat.
”Astaghfirullah. Ngapain lihat-lihat? Fokus, fokus!" batinku.
Kutatap tulisan di hadapanku, mencoba mengingat bagian terjemahan yang harus kubacakan setelah ia selesai. Namun, entah mengapa, suara Ali justru memenuhi kepalaku.
Bahkan ketika giliranku tiba dan aku mulai membacakan terjemahan, sebagian pikiranku masih tertinggal pada lantunan suaranya.
Sejak pagi itu, ada kebiasaan baru yang diam-diam kulakukan. Mencari sosok Ali di antara kerumunan siswa.
Saat berpapasan di koridor, aku akan berpura-pura sibuk dengan teman-temanku. Ketika melihatnya berjalan melewati kelas, aku akan mencuri pandang dari balik jendela. Jika kebetulan mata kami bertemu, aku selalu menjadi orang pertama yang mengalihkan pandangan.
Kami tidak pernah benar-benar berbicara.
Tidak pernah bertukar pesan. Tidak pernah duduk berdua untuk sekadar membicarakan hal-hal sederhana.
Bahkan, aku tidak tahu apakah ia mengingatku sebagai gadis yang pernah duduk di sampingnya sambil memegang mikrofon pada upacara itu.
Baginya, mungkin pagi tersebut hanyalah satu dari sekian banyak kegiatan sekolah. Bagiku, pagi itu menjadi awal dari sesuatu yang tak pernah berani kuberi nama.
–Bertahun-tahun Kemudian–
Waktu berjalan tanpa menunggu siapa pun.
Seragam putih biru berganti menjadi putih abu-abu. Lapangan upacara yang dahulu menjadi saksi awal perasaanku perlahan berubah menjadi kenangan yang tersimpan di sudut ingatan.
Aku melanjutkan pendidikan di SMK jurusan Tata Boga. Sementara Ali mengambil jurusan Akuntansi.
Kami berada di sekolah yang sama, mengenakan seragam yang sama, melewati koridor yang hampir setiap hari kulalui. Namun, dunia kami tetap berjalan masing-masing.
Aku sibuk dengan praktik memasak, mengukur bahan, menguleni adonan, dan berusaha memastikan setiap hidangan yang kubuat sesuai dengan standar penilaian guru. Tanganku yang dahulu gemetar saat memegang mikrofon kini terbiasa mengaduk adonan dan mengangkat loyang panas.
Sesekali, ketika sedang berjalan menuju kantin, aku melihat Ali bersama teman-temannya. Ia selalu tampak santai.
Ada kalanya ia tertawa karena sesuatu yang dikatakan temannya. Ada kalanya ia berjalan sambil memasukkan kedua tangan ke saku celana. Terkadang, ia hanya berdiri di depan kelas, berbicara dengan seseorang tanpa terlihat terburu-buru.
Hal-hal sederhana seperti itu entah mengapa selalu menarik perhatianku.
Aku tidak pernah mencari alasan untuk mendekatinya. Aku bahkan tidak tahu harus mengatakan apa jika suatu hari kami benar-benar berdiri berhadapan.
Jadi, aku memilih menjadi penonton.
Dari kejauhan, aku menyaksikan hari-harinya berjalan tanpa pernah menjadi bagian di dalamnya.
Lucunya, semakin lama waktu berlalu, semakin sulit pula aku memahami perasaanku sendiri.
Seharusnya, rasa suka yang tidak pernah mendapat tempat bisa memudar dengan sendirinya, bukan?
Namun, setiap kali aku berpikir sudah melupakannya, ada saja hal kecil yang membuat namanya kembali terlintas.
Seseorang melantunkan ayat Al-Qur'an dengan merdu. Seseorang tertawa dengan santai. Atau sekadar melihat seorang laki-laki berjalan melewati koridor dengan gaya yang sedikit mengingatkanku kepadanya.
Lalu, tanpa sadar, aku kembali mencari sosok yang sama, Ali. Masih dia. Selalu dia yang muncul di antara nama-nama lain yang bahkan tidak pernah kucoba untuk bandingkan.
–Percakapan Terakhir–
Hari-hari menjelang kelulusan tiba. Sekolah mulai terasa berbeda. Ada obrolan tentang rencana setelah lulus, formulir pendaftaran, kampus impian, dan berbagai kemungkinan yang menunggu di luar gerbang sekolah.
Aku sendiri belum sepenuhnya terbiasa dengan pikiran bahwa sebentar lagi kami tidak akan bertemu setiap hari. Bahwa koridor yang biasa kulalui mungkin tak akan lagi mempertemukanku dengannya. Bahwa setelah hari kelulusan, aku mungkin hanya akan menjadi seseorang dari masa lalunya.
Sore itu, aku melihat Ali sedang menjaga gerobak bakso milik penjaga sekolah.
Beberapa siswa mengerumuninya. Ada yang memesan bakso, ada yang meminta tambahan sambal, dan ada pula yang sibuk mengobrol sambil menunggu pesanan mereka.
Ali melayani mereka satu per satu.
Aku berdiri beberapa langkah dari sana, menggenggam tali tasku erat-erat. Jantungku mulai berulah. Sekarang atau tidak sama sekali. Aku menarik napas panjang, kemudian berjalan mendekat.
"Ali?"
Ia menoleh. "Iya?"
Satu kata. Hanya satu kata sederhana, tetapi aku sempat lupa dengan kalimat yang sudah kususun sejak tadi. Aku tersenyum kecil, berusaha terlihat biasa saja.
"Ehm, habis lulus nanti, kamu mau lanjut ke mana?"
Ali kembali memperhatikan bakso di hadapannya sebentar sebelum menjawab.
"Kuliah."
"Oh."
Jawaban itu membuatku mengangguk, meskipun sebenarnya masih ada begitu banyak hal yang ingin kutanyakan. "Di mana?"
"Belum tahu. Kayaknya di Pulau Jawa."
Aku menatapnya. Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun hanya berani melihatnya dari kejauhan, aku benar-benar mencoba mempertahankan tatapanku.
Namun, Ali justru menunduk, menghindari tatapanku.
"Mau beli bakso juga?" tanyanya kepadaku.
Aku segera menunduk. "Oh, enggak. Aku cuma nanya."
Ali mengangguk singkat. "Oh, ya."
Hening.
Di antara kami, suara sendok beradu dengan mangkuk dan obrolan siswa lain terdengar begitu jelas.
Aku ingin bertanya lebih banyak. Tentang kampus yang ingin ia tuju. Tentang jurusan yang akan diambilnya. Tentang apa yang ingin ia lakukan setelah meninggalkan sekolah ini.
Aku bahkan ingin bertanya apakah ia akan merindukan tempat ini. Namun, semua pertanyaan itu hanya berhenti di kepala. Aku tidak punya alasan untuk menahannya lebih lama.
"Ya udah, semangat kuliahnya nanti," ucapku akhirnya dengan seutas senyum tipis yang bahkan tidak aku sadari.
Ali menoleh sekilas."Makasih."
Aku mengangguk, lalu berbalik pergi.
Langkahku terasa biasa saja. Aku tidak menangis, tidak pula melakukan sesuatu yang bisa membuat orang lain menyadari betapa berartinya percakapan singkat tadi bagiku.
Namun, beberapa langkah sebelum mencapai koridor, aku sempat menoleh. Ali masih berada di belakang gerobak, sibuk melayani pembeli berikutnya. Ia tidak melihat ke arahku. Aku kembali berjalan.
Hari itu menjadi kali terakhir aku berbicara dengannya. Sebuah percakapan singkat tentang masa depan yang mungkin akan segera dilupakan olehnya.
Sementara aku, tanpa kusadari, menyimpannya baik-baik di tempat yang sama dengan kenangan tentang upacara bendera bertahun-tahun lalu.
–Seseorang di Balik Layar–
Kelulusan datang, lalu membawa kami pergi ke arah masing-masing. Hari-hari yang dahulu dipenuhi seragam, tugas sekolah, dan suara bel perlahan berganti dengan rutinitas baru.
Aku mulai terbiasa tidak melihat Ali di koridor. Terbiasa tidak mencari sosoknya di antara kerumunan. Terbiasa menjalani hari tanpa perlu memikirkan apakah hari itu aku akan berpapasan dengannya atau tidak. Setidaknya, begitulah yang kupikirkan.
Sampai suatu malam, ketika aku sedang menggulir layar ponsel sebelum tidur, sebuah unggahan muncul di antara deretan story Instagram. Aku berhenti menggulir.
Di layar, Ali duduk di samping seorang gadis. Mereka tampak dekat. Ada sesuatu dalam cara mereka berdiri yang membuatku mengerti tanpa perlu bertanya. Beberapa detik kemudian, aku membaca tulisan yang menyertai foto tersebut, 'My dear💛'.
Aku tidak tahu sudah berapa lama aku menatap layar itu. Jempolku berhenti bergerak. Senyum yang tadi masih tersisa di bibir perlahan menghilang.
Aku memperbesar foto itu sedikit, lalu mengecilkannya kembali. Entah apa yang sebenarnya kucari. Mungkin aku hanya ingin memastikan bahwa laki-laki di dalam foto itu benar-benar Ali. Atau mungkin, ada bagian kecil dalam diriku yang berharap aku salah melihat.
Namun, wajah itu tetap sama. Wajah yang dahulu kulihat dari samping ketika ia membaca surah An-Naba. Wajah yang pernah kulihat dari kejauhan selama bertahun-tahun. Wajah yang terakhir kali kutatap saat ia sedang menjaga gerobak bakso.
Aku mengunci layar ponsel. Kamar mendadak terasa sunyi. Aku berbaring, menarik selimut hingga ke dada, lalu memejamkan mata.
Memangnya kamu siapa?
Pertanyaan itu muncul begitu saja. Aku bukan mantannya. Bukan gadis yang pernah dekat dengannya. Bahkan, aku tidak tahu apakah Ali pernah menyadari perasaanku. Lantas, atas dasar apa aku merasa sesak melihatnya bersama orang lain?
Aku tidak punya jawaban. Yang kutahu, malam itu aku membutuhkan waktu lebih lama untuk tertidur. Dan untuk pertama kalinya, aku menyadari bahwa menyukai seseorang dalam diam ternyata tidak membuat perasaan itu kebal terhadap kenyataan.
–Nama yang Kembali Pulang–
Aku pernah berpikir bahwa waktu akan menyelesaikan semuanya. Bahwa kesibukan akan membuatku lupa. Bahwa jarak akan menghapus hal-hal yang selama ini kusimpan sendirian. Dan untuk beberapa waktu, semuanya tampak berhasil.
Aku menjalani hari-hariku seperti biasa. Ada pekerjaan yang harus diselesaikan, ada orang-orang yang harus kutemui, ada hal-hal baru yang perlahan mengisi pikiranku.
Ali tidak lagi menjadi nama yang muncul setiap kali aku membuka mata pada pagi hari. Aku bahkan bisa melewati berhari-hari tanpa mengingatnya.
Sampai suatu malam, ia muncul dalam mimpiku. Aku tidak ingat bagaimana mimpi itu bermula. Yang kuingat hanya kami berada di suatu tempat, berbicara tentang sesuatu yang terasa begitu biasa.
Ali tersenyum. Aku tertawa. Tidak ada jarak di antara kami. Tidak ada keraguan untuk menatapnya. Tidak ada kecanggungan seperti yang selalu kubayangkan jika suatu hari kami bertemu lagi.
Dalam mimpi itu, semuanya terasa mudah. Lalu aku terbangun. Ponsel di samping bantal menunjukkan waktu yang masih terlalu pagi, sekitar pukul 04.30.
Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran. Beberapa detik kemudian, ingatan tentang mimpi tadi kembali muncul.
Aku memiringkan tubuh, menatap langit-langit kamar. Senyumnya masih terbayang begitu jelas. Aku mengembuskan napas panjang, kemudian meraih ponsel. Tanpa sadar, jemariku membuka Instagram dan mengetik namanya di kolom pencarian.
Akun itu masih ada. Aku menatap foto profilnya beberapa saat. Jempolku sempat bergerak hendak membuka profilnya, tetapi berhenti sebelum menyentuh layar. Aku meletakkan ponsel kembali.
"Kenapa, sih?" bisikku kepada diri sendiri.
Tidak ada yang menjawab.
Hari itu, aku kembali mengingatnya. Bukan hanya wajahnya, melainkan hal-hal kecil yang selama ini kusimpan tanpa sadar.
Cara ia tertawa bersama teman-temannya.
Cara ia berbicara dengan santai, seolah tidak ada sesuatu yang perlu dirisaukan.
Caranya berdiri sambil memasukkan tangan ke saku. Dan suara merdunya saat melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an pada pagi yang telah berlalu bertahun-tahun silam.
Aku masih bisa membayangkan diriku duduk di sampingnya, memegang mikrofon dengan tangan gemetar. Masih bisa mengingat bagaimana aku refleks menunduk setelah pandangan kami nyaris bertemu.
Betapa sederhana kejadian itu. Betapa tidak berartinya mungkin baginya. Namun, kenangan tersebut masih tersimpan utuh di dalam diriku. Seolah waktu tidak pernah benar-benar menyentuhnya.
–Andai Bisa Bertemu Sekali Lagi–
Ada hari-hari ketika aku merindukannya tanpa alasan yang bisa kuterangkan. Aku bisa sedang membuat sesuatu di dapur, lalu tiba-tiba teringat suaranya. Bisa sedang berjalan di tengah keramaian, lalu mendapati mataku mencari sosok yang sebenarnya tidak mungkin ada di sana.
Kadang, saat malam semakin larut dan tidak ada lagi hal yang harus kulakukan, pikiranku membawaku kembali ke masa putih biru. Ke lapangan upacara. Ke suara lantunan surah An-Naba. Ke seorang laki-laki yang duduk di sampingku tanpa mengetahui bahwa pada pagi itu, seseorang mulai menyimpan namanya di dalam hati.
Aku pernah mencoba mencari tahu kabarnya. Membuka media sosialnya, melihat unggahan yang sesekali muncul, lalu menutupnya lagi tanpa meninggalkan jejak.
Namun, informasi yang kudapatkan selalu terasa sedikit. Aku tidak tahu bagaimana kehidupannya sekarang. Tidak tahu apakah ia sudah sampai di tempat yang dahulu ia sebut sebagai kemungkinan. Tidak tahu apakah kuliahnya berjalan lancar, apakah ia masih sering berkumpul dengan teman-temannya, atau apakah ia masih membaca Al-Qur'an dengan lantunan yang sama.
Ada begitu banyak hal tentang dirinya yang tidak kuketahui. Dan mungkin, memang sudah seharusnya begitu. Sebab, sejak awal, aku tidak pernah benar-benar menjadi bagian dari kehidupannya.
Aku hanya seseorang yang kebetulan pernah duduk di sampingnya selama beberapa menit. Seseorang yang kemudian menghabiskan bertahun-tahun untuk mengaguminya dari kejauhan. Seseorang yang memberanikan diri memulai percakapan sebelum kelulusan, lalu membiarkan percakapan itu menjadi pertemuan terakhir kami.
Tidak ada janji. Tidak ada perpisahan yang dramatis. Tidak ada kisah cinta yang sempat dimulai. Hanya ada perasaan yang tumbuh diam-diam, bertahan tanpa pernah diberi kepastian, lalu menetap sebagai kenangan.
Sesekali, aku membayangkan bagaimana jika suatu hari kami bertemu lagi. Mungkin di sebuah tempat yang tidak pernah kami rencanakan. Mungkin di tengah keramaian, ketika aku sedang sibuk dengan urusanku sendiri. Atau mungkin ketika aku sudah tidak lagi mengingatnya sesering sekarang.
Apa yang akan kulakukan?
Apakah aku akan menyapanya?
Apakah aku masih akan gugup seperti gadis berseragam putih biru yang dahulu duduk di sampingnya?
Apakah ia akan mengenaliku?
Atau justru melewatiku begitu saja, tanpa menyadari bahwa perempuan yang berpapasan dengannya pernah menyimpan begitu banyak kenangan tentang dirinya?
Aku tidak tahu.
Namun, jika kesempatan itu benar-benar datang, rasanya aku hanya ingin mengatakan satu hal sederhana.
Apa kabar, Ali?
Bukan untuk mengusik kehidupannya.
Bukan pula untuk mengharapkan sesuatu yang sejak awal tidak pernah menjadi milikku.
Aku hanya ingin tahu bahwa seseorang yang pernah menjadi bagian kecil dari masa remajaku itu baik-baik saja. Bahwa ia tumbuh menjadi seseorang yang bahagia. Bahwa segala hal yang dahulu ia impikan perlahan menemukan jalannya.
Mungkin, setelah itu, aku bisa tersenyum dan melanjutkan langkahku sendiri. Atau mungkin, aku akan kembali membawa pulang perasaan yang sama.
Entahlah.
Untuk sekarang, pertemuan itu hanya hidup dalam angan-angan. Dan aku tidak tahu apakah dunia akan cukup baik untuk mempertemukan kami sekali lagi.
Malam ini, aku kembali duduk di tepi tempat tidur dengan ponsel di tangan. Jendela di hadapanku terbuka sedikit. Udara malam masuk perlahan, membawa suara-suara samar dari luar rumah.
Aku membuka aplikasi catatan. Entah sejak kapan, aku terbiasa menuliskan hal-hal yang tidak pernah sanggup kuucapkan kepada siapa pun. Jemariku bergerak pelan.
Ali, apa kabar?
Aku berhenti. Menatap kalimat itu lama sekali sebelum akhirnya menghapusnya. Untuk apa menuliskan pertanyaan yang bahkan tidak tahu akan ditujukan kepada siapa?
Aku mengunci ponsel dan meletakkannya di samping bantal. Lalu, tanpa bisa kutahan, ingatanku kembali pada pagi itu.
Seorang gadis kecil yang gugup memegang mikrofon. Seorang anak laki-laki yang membaca surah An-Naba dengan tenang. Sinar matahari yang jatuh di lapangan sekolah. Dan jantung yang berdetak sedikit lebih cepat hanya karena satu pandangan singkat.
Aku tersenyum tipis. Bertahun-tahun telah berlalu sejak hari itu. Kami sudah tumbuh, berjalan ke arah yang berbeda, dan mungkin tidak lagi memiliki persinggungan apa pun dalam kehidupan masing-masing.
Aku pun tidak lagi menjadi gadis berseragam putih biru yang hanya berani menatapnya dari kejauhan. Namun, ada satu hal yang ternyata tidak berubah semudah yang kubayangkan.
Namanya masih bisa membuatku berhenti sejenak. Senyumnya masih bisa muncul di antara ingatan-ingatan yang lain. Dan suaranya masih tersimpan di sudut hati yang tidak pernah benar-benar kutemukan cara untuk mengosongkannya.
Aku tidak tahu apakah ini cinta, atau sekadar perasaan yang tumbuh terlalu lama tanpa pernah menemukan tempat untuk berlabuh.
Aku hanya tahu, ada seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milikku, tetapi entah bagaimana meninggalkan kenangan yang begitu sulit kulupakan.
Seseorang yang bahkan mungkin tidak tahu bahwa namanya pernah menjadi bagian dari doa-doa kecil yang tidak pernah kuucapkan dengan suara keras. Seseorang yang tidak pernah menjanjikan apa-apa, tetapi diam-diam menjadi bagian dari banyak hal yang kuingat.
Dan jika suatu hari nanti seseorang bertanya siapa cinta pertamaku, mungkin aku tidak akan menceritakan kisah panjang tentang dua orang yang saling mencintai.
Aku hanya akan mengingat sebuah pagi. Sebuah lapangan upacara. Sebuah mikrofon yang kugenggam dengan tangan gemetar. Dan seorang anak laki-laki yang duduk di sampingku, melantunkan ayat-ayat suci dengan suara yang menenangkan.
Lalu aku akan tersenyum kecil, sebelum menjawab dalam hati—Dia. Ali. Cinta pertamaku yang bahkan tidak pernah tahu bahwa dirinya pernah dicintai.
Untuk dia, seseorang yang mungkin tidak pernah tahu bahwa dirinya pernah menjadi tokoh utama dalam begitu banyak kenangan seorang gadis:
"Semoga kamu selalu sehat. Semoga langkahmu dimudahkan, impianmu satu per satu menemukan jalannya, dan kebahagiaan selalu punya alasan untuk mengetuk pintumu.
Semoga kamu tumbuh menjadi seseorang yang membanggakan dirimu sendiri. Dan semoga, di mana pun kamu berada sekarang, kamu sedang menjalani kehidupan yang baik.
Dari seseorang yang pernah mengagumimu dalam diam. Yang tidak meminta untuk dikenang. Yang tidak mengharapkanmu kembali.
Hanya seseorang yang, entah sampai kapan, akan menyimpan namamu sebagai bagian kecil dari masa laluku."
Terima kasih sudah pernah menjadi cinta pertama, Ali. Meski kamu tidak pernah tahu. _🥀