Angga datang ke kota itu hanya dengan sebuah koper tua, ijazah SMK, dan keyakinan bahwa hidup keluarganya bisa berubah jika ia cukup keras berusaha. Ia adalah anak pertama dari empat bersaudara.
Karena itu, sejak kecil Angga sudah terbiasa mendengar kalimat yang sederhana tetapi terasa berat.
“Kamu harus jadi orang sukses, ya, Nak.”
Ibunya selalu mengatakannya sambil tersenyum.
Angga tidak pernah tahu bagaimana cara menjelaskan kepada ibunya bahwa kalimat itu terkadang terasa seperti beban di pundaknya.
Namun setiap kali melihat wajah kedua orang tuanya, ia tahu satu hal. Ia tidak boleh menyerah.
Maka setelah lulus SMK, Angga memilih meninggalkan kampung halamannya dan pergi ke kota metropolitan.
Di kota itu, ia menyewa sebuah kamar kos kecil yang bahkan tidak cukup luas untuk menyimpan semua barang miliknya, Tetapi Angga tidak peduli.
Baginya, selama masih ada tempat untuk tidur dan atap yang melindunginya dari panas dan hujan, kamar itu sudah lebih dari cukup.
Pekerjaan tetap belum juga ia dapatkan.
Untuk sementara, ia bekerja apa saja yang bisa menghasilkan uang. Mengangkat barang,Membantu di gudang,menjadi buruh harian,dan pekerjaan apa pun.Sampai suatu hari, setelah berbulan-bulan mencari, sebuah perusahaan akhirnya menerimanya sebagai karyawan tetap. Gajinya tidak besar.
Tetapi untuk pertama kalinya sejak datang ke kota itu, Angga merasa dirinya mulai memiliki arah. Tetapi ada satu masalah.Tempat kerjanya berada cukup jauh dari tempat tinggalnya. Dan Angga tidak memiliki kendaraan.Maka setiap pagi, ketika sebagian orang masih menikmati sisa tidur mereka, Angga sudah berjalan menuju stasiun.Begitu pula setiap sore.
Kereta terakhir yang membawanya pulang menjadi teman dalam perjalanan panjangnya.
Hari demi hari.
Minggu demi minggu.
Hingga suatu sore, Angga melihat seseorang yang selalu berdiri di ujung peron.
Awalnya Angga tidak begitu memperdulikan pria itu. Namun karena setiap hari melewati stasiun yang sama, ia mulai terbiasa melihat sosok pria paruh baya yang selalu berdiri di ujung peron.
Entah sudah berapa lama pria itu berada di sana.
Hampir setiap sore, ketika Angga pulang bekerja, pria itu selalu berada di tempat yang sama. Berdiri sendirian sambil memandang ke arah rel, seolah sedang menunggu seseorang.
Suatu hari, Angga pulang lebih cepat dari biasanya. Jadwal keretanya masih cukup lama, sementara perutnya mulai terasa lapar. Ia membeli dua buah roti dari sebuah toko kecil di sekitar stasiun, lalu duduk di bangku besi sambil menunggu kereta.
Tanpa sengaja, pandangannya kembali tertuju kepada pria paruh baya itu.
Entah mengapa, hari itu Angga merasa ingin berbicara dengannya.
Ia pun menghampiri pria tersebut.
“Permisi, Pak. Boleh saya duduk di sini?”
Pria itu menoleh dan tersenyum.
“Oh, iya. Silakan, Nak.”
Angga duduk di sampingnya. Ia kemudian mengeluarkan dua buah roti yang baru dibelinya.
“Bapak sudah makan? Kebetulan saya punya dua roti. Kalau Bapak mau, satu untuk bapak buat mengganjal lapar.”
Pria itu tampak sedikit terkejut sebelum akhirnya menerima roti tersebut.
“Oh, iya. Terima kasih, ya, Nak. Kamu baik sekali.”
“Sama-sama, Pak.”
Untuk beberapa saat mereka hanya duduk berdampingan. Suara pengumuman stasiun terdengar bersahutan dengan suara kereta yang datang dan pergi.
Angga akhirnya memberanikan diri bertanya.
“Maaf, Pak. Boleh saya bertanya sesuatu?”
“Tentu. Apa itu, Nak?”
“Saya Angga, Pak.”
Pria itu tersenyum.
“Saya Iwan. Panggil saja Pak Iwan.”
“Oh, Pak Iwan. Saya sebenarnya penasaran. Hampir setiap hari saya melihat Bapak berdiri di ujung peron ini. Bapak sedang menunggu siapa?”
Senyum di wajah Pak Iwan perlahan menghilang.
Ia kembali memandang rel di hadapannya.
“Saya sedang menunggu anak saya pulang.”
“Anak Bapak?”
Pak Iwan mengangguk.
“Sudah sangat lama saya menunggunya. Dia pergi merantau dan dulu bilang akan pulang. Tapi sampai sekarang belum juga kembali.”
Angga terdiam.
“Anak Bapak laki-laki atau perempuan?”
“Laki-laki. Sepertinya usianya tidak jauh berbeda denganmu.”
Pak Iwan terdiam beberapa saat sebelum melanjutkan.
“Dulu kami pernah bertengkar karena sebuah masalah keluarga. Setelah itu dia pergi merantau menggunakan kereta dari stasiun ini.”
Pak Iwan menundukkan kepalanya.
“Sampai sekarang saya masih menyesal. Seandainya waktu itu saya tidak terlalu keras kepadanya, mungkin semuanya akan berbeda.”
Tangannya menggenggam roti yang diberikan Angga.
“Saya hanya ingin meminta maaf kepadanya. Itu saja.”
Angga memperhatikan wajah pria di sampingnya.
“Siapa nama anak Bapak?”
“Jaka.”
Pak Iwan kemudian mengeluarkan sebuah foto kecil dari sakunya. Foto itu tampak sudah lama dan sedikit kusam.
“Ini anak saya.”
Angga melihat foto tersebut.
Seorang pemuda tersenyum di dalam foto.
Entah mengapa, melihat foto itu membuat dada Angga terasa sesak.
Pak Iwan kemudian bertanya.
“Kamu masih punya orang tua di rumah?”
Angga mengangguk.
“Masih, Pak.”
“Syukurlah.”
Pak Iwan tersenyum.
“Kalau begitu, pulanglah sesekali untuk menemui mereka.”
Angga terdiam.
“Orang tua itu tidak selalu mengharapkan sesuatu dari anaknya. Kadang mereka hanya ingin tahu bahwa anaknya baik-baik saja.”
Pak Iwan menatap rel di hadapannya.
“Jangan membuat orang tuamu terlalu lama menunggu.”
Kalimat itu membuat Angga terdiam cukup lama.
Ia teringat kedua orang tuanya di kampung.
Sejak pergi merantau, ia memang semakin jarang menelepon. Bukan karena tidak sayang, tetapi karena terlalu sibuk. Ia terus berkata kepada dirinya sendiri bahwa nanti, ketika sudah sukses, ia akan pulang dan membahagiakan mereka.
Namun sekarang untuk sekadar menelepon pun, ia sering merasa tidak punya waktu.
“Bapak benar,” ucap Angga pelan. “Mungkin selama ini saya terlalu sibuk mengejar sesuatu sampai lupa ada orang yang selalu menunggu kabar saya.”
Pak Iwan tersenyum.
“Saya pernah menjadi seperti itu juga. Terlalu sibuk bekerja sampai lupa menanyakan kabar orang tua di rumah.”
Angga tersenyum kecil.
“Kalau begitu, kita sama-sama pernah salah, ya, Pak.”
Pak Iwan tertawa pelan.
“Mungkin begitu.”
Tak lama kemudian, terdengar suara pengumuman bahwa kereta Angga akan segera tiba.
Angga berdiri.
“Baiklah, Pak. Saya pulang dulu. Kereta saya sudah datang.”
“Iya, Nak. Hati-hati di jalan.”
Angga berjalan beberapa langkah sebelum berbalik.
“Oh iya, Pak. Kalau nanti saya bertemu anak Bapak, akan saya sampaikan salam dari Bapak.”
Pak Iwan tersenyum.
“Iya, Nak. Sampaikan salam saya kepadanya.”
Angga mengangguk.
“Saya pamit, Pak.”
Kereta pun tiba.
Angga masuk ke dalam gerbong dan mencari tempat duduk. Setelah kereta mulai bergerak, ia mengambil ponselnya.
Untuk beberapa saat ia hanya menatap nama **Ibu** di layar.
Kemudian ia menekan tombol panggilan.
“Assalamu'alaikum, Bu.”
“Wa'alaikumsalam. Kenapa, Nak?”
“Bu... besok aku pulang.”
Terdengar suara ibunya terdiam beberapa detik.
“Serius?”
“Iya.”
“Bapak kamu pasti sangat senang mendengarnya.”
Angga tersenyum.
“Iya, Bu. Aku kangen.”
Malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Angga berbicara cukup lama dengan ibunya.
Keesokan harinya, Angga pulang ke kampung halaman.
Tiga hari libur mungkin bukan waktu yang panjang, tetapi cukup untuk melepas rindu yang selama ini ia simpan.
Ketika melihat kedua orang tuanya di depan rumah, langkah Angga terhenti.
Ibunya tersenyum.
Angga langsung memeluknya.
“Maaf, Bu.”
Ibunya mengusap punggungnya.
“Tidak apa-apa. Yang penting kamu pulang.”
Untuk pertama kalinya Angga menyadari bahwa selama ini ia terlalu sibuk mengejar masa depan sampai lupa bahwa ada rumah yang selalu menunggunya.
Tiga hari berlalu begitu cepat.
Angga kembali ke kota untuk bekerja.
Sesampainya di stasiun, ia kembali melakukan rutinitas seperti biasa.
Namun sore itu, matanya langsung mencari satu sosok yang selama beberapa minggu terakhir selalu berada di ujung peron.
Pak Iwan.
Tetapi pria itu tidak ada.
Angga menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Hingga kereta yang biasa dinaikinya datang.
Pak Iwan tetap tidak muncul.
Awalnya Angga mengira mungkin hari itu Pak Iwan sedang tidak datang.
Namun keesokan harinya, pria itu tetap tidak ada.
Begitu pula hari berikutnya.
Akhirnya rasa penasaran membuat Angga bertanya kepada salah seorang petugas stasiun.
“Pak, mau tanya. Bapak pernah melihat pria paruh baya yang sering berdiri di ujung peron sana?”
Petugas itu mengernyitkan dahi.
“Pria yang bagaimana?”
“Usianya sekitar lima puluhan. Biasanya berdiri sendirian di ujung sana. Saya sering melihatnya.”
Petugas itu menggeleng.
“Maaf, saya tidak tahu.”
Angga kemudian bertanya kepada beberapa orang lain.
Jawabannya tetap sama.
Tidak ada yang tahu.
Tidak ada yang merasa pernah melihat Pak Iwan.
Bahkan seorang penjual di sekitar stasiun yang hampir setiap hari berada di sana pun menggeleng ketika Angga menyebut nama tersebut.
“Pak Iwan?”
“Iya.”
Penjual itu tampak berpikir.
“Sepertinya saya tidak pernah dengar nama itu.”
Angga terdiam.
Ia kemudian mengeluarkan ponselnya dan membuka foto yang sempat ia ambil dari album Pak Iwan.
Namun foto itu tidak ada.
Ia mencoba mengingat kembali wajah Pak Iwan.
Senyumnya.
Suaranya.
Nasihatnya.
Dan kalimat terakhirnya.
**“Jangan membuat orang tuamu menunggu.”**
Tiba-tiba Angga teringat sesuatu.
Nama Jaka.
Ia mencari informasi tentang nama tersebut, tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.
Sampai akhirnya ia melihat sebuah papan pengumuman lama di dekat stasiun.
Di sana terdapat beberapa berita dan pengumuman masyarakat.
Salah satunya membuat langkah Angga terhenti.
Nama itu.
**Jaka.**
Seorang pemuda yang bertahun-tahun lalu meninggalkan kota untuk merantau dan tidak pernah kembali.
Di bawah tulisan itu terdapat keterangan bahwa orang tuanya telah lama meninggal dunia.
Angga membeku.
Tangannya perlahan turun.
Jadi selama ini...
Pak Iwan...
Sore itu Angga kembali berdiri di ujung peron.
Tempat yang selama ini selalu digunakan Pak Iwan untuk menunggu.
Namun kali ini tidak ada siapa-siapa.
Hanya rel kereta yang membentang panjang dan suara kereta yang datang silih berganti.
Angga menatap tempat itu cukup lama.
Kini ia mengerti.
Pak Iwan bukan sedang menunggu kereta.
Ia sedang menunggu seseorang yang sangat ia rindukan.
Anaknya.
Jaka.
Mungkin selama bertahun-tahun, Pak Iwan datang ke tempat itu karena ia percaya bahwa suatu hari anaknya akan kembali.
Dan mungkin, sebelum akhirnya pergi untuk selamanya, ia hanya ingin memastikan bahwa ada seseorang yang mengingat pesan terakhirnya.
Angga menundukkan kepala.
Ia tersenyum kecil.
“Pak... saya sudah pulang.”
Kereta melintas di hadapannya.
Angin berembus cukup kencang.
Dan untuk sesaat, Angga merasa seperti melihat sosok pria paruh baya itu berdiri di ujung peron.
Tersenyum.
Lalu perlahan menghilang bersama kereta yang meninggalkan stasiun.
Sejak hari itu, Angga tidak pernah lagi melihat Pak Iwan.
Tetapi setiap kali pulang kerja dan berdiri di peron, ia selalu teringat satu hal:
**Jangan membuat orang yang menyayangimu terlalu lama menunggu.**
Karena terkadang, kesempatan untuk pulang tidak selalu datang dua kali.
**TAMAT**