---
DIPAKSA NIKAH DENGAN DOKTER DINGIN
Hujan itu akhirnya reda jam 11 malam. Tapi Yudha masih di sana.
Kaos putihnya udah transparan, nempel di badan. Rambutnya lepek. Motor bebeknya masih terparkir miring di depan pagar, yang dari tadi gak Bapak izinin masuk.
Aku ngendap-ngendap turun dari tangga lantai 2. Jantungku dag-dig-dug takut ketahuan Ibu. Pintu depan aku buka pelan.
"Yud..."
Dia noleh. Matanya merah. Entah karena hujan, entah karena nangis. Yudha itu jarang nangis.
Aku langsung meluk dia. Badannya dingin banget, gemetaran.
"Ayo, aku anter pulang Yud," bisikku, suaraku ikut gemetar. "Kamu demam nanti."
Dia malah pegang bahuku erat.
"Jadi gimana, Put? Jawab aku sekarang. Kamu beneran mau nikah sama dia? Sama dokter itu?"
Aku nangis lagi. Kenceng. Gak bisa ditahan.
"Jangan bahas ini dulu Yud, please. Kamu gak enak badan, kehujanan dua jam..."
"PUTRI!"
Suara Bapak menggelegar dari dalam rumah. Lampu teras yang tadinya mati, tiba-tiba dinyalakan. Terang banget.
Aku sama Yudha kaku.
Bapak berdiri di pintu dengan sarung dan kaos oblong, wajahnya merah marah. Di belakangnya... ada dia.
Dokter dingin itu.
Dokter Arga.
Pakai kemeja putih rapi, jas hujannya masih netes air. Padahal di luar hujan baru reda. Berarti dia baru datang. Jam 11 malam begini ngapain dia ke rumah?
"Dokter Arga dari tadi nunggu kamu di dalam. Sopan. Nggak kayak anak ini, bikin malu depan tetangga nangis di depan pagar!" bentak Bapak.
Yudha langsung lepas pelukanku. Nunduk.
Arga natap kami berdua. Tatapannya itu lho... datar. Dingin. Kayak gak ada emosinya sama sekali. Dia lihat aku yang cuma pakai daster tipis habis nangis, meluk laki-laki lain di depan rumahnya - eh, calon rumahnya.
Aku kira dia bakal marah. Cemburu. Ngebentak.
Enggak.
Dia malah buka jas hujannya, jalan pelan ke arah Yudha, dan...
Dia selimutin jas hujannya ke badan Yudha.
"Kalau kehujanan dua jam tanpa atap, suhu tubuh bisa turun sampai hipotermia ringan. Kamu butuh kompres hangat, bukan berdebat di sini," katanya. Suaranya rendah, berat, tenang banget. Tapi nadanya... menusuk.
Dia ngomong ke Yudha, tapi matanya ngeliat aku.
"Putri, masuk. Kamu juga basah."
Yudha yang frustasi tadi, yang udah pasrah karena restu orang tuaku nggak pernah dia dapat, sekarang malah ngerasa kalah telak. Bukan karena dibentak Bapak. Tapi karena diperlakukan baik sama saingannya sendiri.
Yudha narik jas itu, mau dibalikin.
"Gak usah, Dok. Saya bisa pulang sendiri."
"Pakai saja. Saya dokter. Saya tahu kapan seseorang butuh diobati dan kapan butuh ditinggalkan."
Deg.
Kalimat terakhirnya itu bikin aku merinding.
Yudha akhirnya naik motornya dengan jas milik Arga itu. Sebelum pergi, dia natap aku dalam-dalam.
"Put, kalau kamu bahagia sama dia, aku ikhlas. Tapi kalau enggak... kabarin aku."
Motornya meraung pergi, ninggalin jejak air di aspal.
Tinggal aku, Bapak, dan Arga di teras yang becek.
Bapak masuk duluan, ninggalin kami berdua.
Arga masih berdiri di depanku. Jaraknya cuma satu meter. Aku bisa cium aroma hujan campur parfum kayunya yang mahal.
"Jadi ini alasan kamu nolak saya terus, Putri?"
Aku gak bisa jawab. Air mataku masih netes.
Dia mendesah pelan, lalu tiba-tiba tangannya terulur. Aku kira dia mau hapus air mataku.
Ternyata dia cuma betulin kerah dasterku yang miring. Sentuhannya cepat, dingin, profesional. Kayak lagi meriksa pasien.
"Masuk. Nanti kamu sakit. Pernikahan kita minggu depan. Saya tidak mau calon istri saya sakit sebelum akad."
Dingin. Terlalu dingin.
Tapi kenapa jantungku malah makin kencang pas dia bilang 'calon istri saya'?
---Lanjut...
---
HARI KEDUA SETELAH HUJAN ITU.
Yudha beneran sakit.
Kata temen kosnya, demam tinggi sejak semalam. Gak mau makan. Aku yang denger langsung panik. Gimana enggak, dia kehujanan 2 jam gara-gara nungguin aku.
Aku izin sama Ibu mau ke kampus, padahal belok ke kos Yudha di daerah Suhat.
Kosnya sumpek, bau minyak kayu putih.
Yudha tiduran cuma pakai singlet, wajahnya pucat, bibirnya kering. Begitu liat aku datang, dia maksa duduk.
"Put? Ngapain kesini? Nanti tunangan doktermu itu marah."
Aku langsung duduk di lantai sebelah kasurnya. Tanganku otomatis kompres jidatnya pakai handuk kecil.
"Ssshh, diem. Kamu tuh demam 39, Yud. Masih sempet ngomongin dia."
Aku bawa bubur ayam sama obat yang aku beli di apotek. Aku suapin pelan-pelan. Yudha nurut. Suasana jadi kayak dulu lagi, sebelum semua berantakan. Sebelum Bapak jodohin aku sama Arga karena utang budi keluarga.
"Put, andai waktu bisa diulang ya..." Yudha ngelus tanganku.
Aku belum sempat jawab,
TOK TOK TOK.
Pintu kos yang gak dikunci itu diketuk 3 kali. Pelan, tapi tegas.
Kami berdua noleh bareng.
Arga berdiri di sana.
Masih pakai kemeja kerja putih lengan digulung, tas dokter di tangan kanan, dan di tangan kiri... plastik apotek.
Wajahnya datar. Tapi rahangnya mengeras.
"Oh, jadi izin kampusnya kesini," katanya pelan. Nadanya gak marah. Justru itu yang bikin serem.
Aku kaget setengah mati dan langsung berdiri. "Dok— Dokter Arga? Kok tau aku di sini?"
"Ibu kamu telpon. Katanya kamu belum berangkat kampus jam segini, dia khawatir. Saya coba cek shareloc yang kamu kirim ke saya kemarin," jawabnya. Shareloc itu syarat dari Bapak biar dia bisa 'jaga' aku.
Arga masuk tanpa disuruh. Dia taruh plastik apoteknya di meja.
Lalu hal yang paling gak aku sangka terjadi.
Dia jongkok, cek nadi Yudha. Cek suhu pakai termometer digital yang dia bawa dari tasnya. Profesional banget. Kayak Yudha bukan saingannya, tapi pasiennya.
"38,9. Faringitis karena kehujanan, kurang istirahat," vonisnya ke Yudha. "Antibiotik yang dia beli ini dosisnya kurang, Put. Harusnya yang ini."
Dia ganti obat yang aku beli dengan obat dari plastiknya. Dia bahkan tuangin air putih anget buat Yudha minum obat.
Terlalu baik.
Sampai bikin aku gak enak. Bikin Yudha juga diem, gak berani ngomong.
Aku yang gak tahan liat kebaikan Arga yang menyiksa itu.
"Udah, Yud, kamu istirahat ya. Aku pulang dulu."
Yudha cuma angguk lemes.
Aku jalan keluar duluan. Arga ngikutin dari belakang. Sepanjang jalan di gang kos itu, dia diam.
Sampai di mobilnya yang hitam mengkilap itu, baru dia ngomong. Frustasi.
"Putri."
Aku berhenti.
Dia buka pintu mobil penumpang buat aku, tapi aku gak langsung masuk. Dia napas panjang. Pertama kalinya aku liat dokter sedingin kulkas itu frustasi.
"Kamu pikir saya gak sakit liat kamu suapin laki-laki lain di depan saya?" Suaranya pelan, tapi tiap kata nusuk. "Saya diemin, saya obatin dia, saya gak bentak kamu di sana karena saya hargai kamu. Tapi jangan pakai kebaikan saya buat injek saya terus."
Aku nangis lagi. Aku benci di posisi ini.
"Saya tau kamu gak cinta saya, Put. Dari awal saya tau. Tapi Bapak kamu sudah janji sama Almarhum Ayah saya. Pernikahan ini bukan cuma soal kamu dan saya. Saya juga dipaksa."
Aku kaget. Jadi dia juga...
Dia natap aku lurus. Mata dinginnya itu sekarang ada capeknya.
"Tapi kalau sudah jadi istri saya, saya minta satu hal saja. Jangan buat saya keliatan bodoh."
Lalu dia ngomong kalimat yang bikin kakiku lemes, susah buat bilang enggak. Kalimat pelan, pendiem, tapi mutlak.
Dia condong dikit, suaranya cuma buat aku yang denger:
"Put, inget ya... mulai hari ini, kalau kamu sakit, yang panggil pertama saya. Kalau kamu butuh apa-apa, larinya ke saya. Bukan ke dia. Kamu boleh gak cinta saya sekarang, tapi izinin saya jadi suami kamu yang sah dulu. Bisa?"
Gimana cara nolak kalau dia ngomong gitu?
Terlalu jujur. Terlalu menahan.
Aku akhirnya masuk ke mobilnya. Pulang bareng Arga.
Di spion mobil, aku liat Yudha berdiri di pintu kosnya, masih pakai selimut, natap mobil Arga yang makin jauh.
Dan di sebelahku, Arga nyetir diam. Satu tangannya nyetir, satu tangannya tiba-tiba narik selimut kecil dari jok belakang dan ditaruh di pangkuanku.
"Kamu kedinginan. Pakai."
Dingin, pendiem, tapi... kenapa perhatiannya sedetail itu?
Lanjutannya...
---
Mobil Arga itu wangi. Wangi kayu dan disinfektan samar. Dingin banget AC-nya, tapi dia malah nyalain penghangat di jok aku.
"Kedinginan terus dari tadi," gumamnya tanpa natap aku. Fokus nyetir.
Aku meluk selimut kecil yang dia kasih tadi. Selimut itu... wangi dia.
"Maaf ya, Dok," akhirnya aku berani buka suara. Suaraku kecil. "Aku gak bermaksud bikin kamu keliatan bodoh tadi."
Dia diem sebentar di lampu merah.
"Saya gak marah kamu jenguk dia, Put," jawabnya akhirnya. "Saya marah karena kamu bohong sama Ibu kamu. Kalau kamu mau jenguk, bilang aja ke saya. Saya anter. Gak usah pakai alasan kampus."
Aku nunduk. Malu.
"Yudha itu butuh istirahat total 2 hari. Jangan sering-sering kamu jenguk dulu, nanti dia malah mikir kamu masih ngasih harapan. Itu lebih nyakitin."
Nasehatnya logis. Terlalu logis. Sampai aku gak bisa debat.
Tiba-tiba HP-nya bunyi. Nada dering RS.
Dia angkat pakai bluetooth mobil.
"Dokter Arga, pasien appendiks di IGD, harus segera operasi sekarang, Dok."
Wajahnya langsung berubah. Mode dokter dinginnya ON.
"Oke, saya 10 menit lagi sampai."
Dia nutup telpon, liat aku.
"Put, saya harus ke RS. Operasi mendadak. Kamu... mau saya turunin di rumah dulu?"
Aku geleng cepat. "Gak usah, aku ikut aja. Nanti aku tunggu di luar."
Dia angguk. "Di ruangan saya aja. Lebih nyaman."
---
20 MENIT KEMUDIAN - RS MEDIKA MANDIRI.
Ini pertama kalinya aku masuk ke dunia dia.
Semua perawat dan suster yang lewat nunduk hormat, "Siang, Dokter Arga."
Dia jalan cepat, tapi langkahnya pelan biar aku bisa ngikutin. Tangannya sesekali nempel di punggung bawahku, nuntun aku biar gak ketinggalan. Sentuhan seperlunya, tapi sopan.
Ruangan dokternya luas, rapi, dingin, dan... sepi banget. Gak ada foto siapa-siapa. Cuma ada tumpukan jurnal medis, stetoskop, dan satu bingkai foto kecil yang dibalik, gak keliatan mukanya.
"Kamu di sini aja. Jangan kemana-mana. Ada dispenser, ada sofa kalau ngantuk. Operasi mungkin 1-2 jam. Kalau lapar, telpon suster di luar, bilang aja atas nama saya."
Dia udah ganti baju operasi hijau. Rambutnya yang biasanya rapi, sekarang agak berantakan. Lengan berototnya keliatan jelas.
Pas dia mau keluar, aku manggil pelan.
"Dok..."
Dia balik badan.
"Semangat operasinya," kataku lirih.
Dia diem. Lalu jalan balik ke arahku. Aku kira dia mau ngomong apa.
Dia malah narik laci mejanya, ngambil satu coklat SilverQueen, naruh di meja depanku.
"Kalau cemas jangan gigit kuku. Makan ini aja."
Hah? Dia merhatiin aku gigit kuku di mobil tadi?
Sebelum aku sempat jawab, dia udah keluar. Pintu ketutup.
Aku sendirian di ruangan dokter dingin itu.
Penasaran, aku jalan pelan ke mejanya. Tanganku iseng... ngebalikin bingkai foto yang dibalik tadi.
Dan jantungku berhenti sedetik.
Itu foto dia. Arga. Masih pakai baju wisuda dokter muda. Senyumnya lebar, gak dingin sama sekali. Dan di sebelahnya... ada seorang perempuan tua yang meluk dia erat. Mirip banget sama Ibu.
Di belakang foto itu ada tulisan tangan pakai spidol:
Untuk Arga, satu-satunya alasan Ibu bertahan. - Ibu, 2023
Tiba-tiba pintu ruangan kebuka kencang.
Arga udah selesai operasi? Secepat itu?
Ternyata bukan Arga.
Seorang suster cantik, rambut panjang, masuk sambil bawa berkas. Begitu liat aku, mukanya langsung berubah sinis.
"Oh, jadi kamu Putri itu ya? Yang dipaksa nikah sama Dokter Arga?"
Dia senyum miring, natap aku dari atas sampai bawah.
"Kasihan ya, Dokter Arga. Ganteng, kaya, pinter, karir bagus... eh dijodohin sama anak SMA yang masih nangisin mantannya di depan pagar."
Aku beku.
Suster itu lanjut, "Kenalin, saya Liana. Temen deketnya Arga dari koas. Kalau kamu gak mau sama dia, lepasin aja. Banyak yang mau."
Pintu di belakang Liana kebuka lagi.
Kali ini beneran Arga.
Masih pakai baju operasi hijau yang ada bercak darahnya, maskernya diturunin setengah, napasnya masih ngos-ngosan habis operasi.
Dia liat aku yang berdiri kaku megang bingkainya, dan liat Liana di depan aku.
Wajah dinginnya itu... untuk pertama kalinya retak jadi marah.
"Liana, ngapain kamu di ruangan saya?"
Lanjut...
---
"Liana, ngapain kamu di ruangan saya?"
Suara Arga itu rendah. Pelan. Tapi semua orang di RS ini tau, kalau Dokter Arga udah pakai nada itu, berarti dia beneran marah.
Liana yang tadi sinis ke aku, langsung ganti mode manja.
"Aku cuma mau nganter berkas pasien tadi, Ga. Terus liat ada tamu cantik di ruangan kamu, jadi aku sapa," katanya sambil senyum, tangannya mau ngelus lengan Arga yang masih ada bercak darah.
Arga mundur selangkah. Menghindar.
"Berkas taruh di meja perawat. Jangan pernah masuk ruangan saya tanpa izin. Apalagi kalau saya gak ada. Ini SOP."
Suster Liana itu kicep. Mukanya merah.
"Tapi Ga—"
"Dan satu lagi," Arga motong. Tatapannya pindah ke aku. "Dia bukan 'anak SMA yang nangisin mantan'. Dia calon istri saya. Kalau kamu gak bisa hargai dia, berarti kamu gak hargai saya. Keluar."
Dingin. Tegas. Gak pakai emosi meledak-ledak, tapi setiap kata kayak pisau bedah. Rapi, tepat sasaran, dan bikin orang gak bisa napas.
Liana lari keluar sambil banting pintu. Aku masih berdiri kaku di dekat meja, bingkai foto itu masih di tanganku. Ketahuan.
Arga ngeliat itu. Dia buang napas panjang, capek. Dia lepas sarung tangan operasi berdarah itu, buang ke tempat sampah medis, terus cuci tangan di wastafel pojok ruangan. Gerakannya pelan.
Dia jalan ke arahku. Bukan marah karena aku megang fotonya. Malah...
Dia ambil bingkai itu dari tanganku, pelan.
"Itu Ibu saya," katanya lirih. Pertama kalinya suaranya gak dingin. Ada getarnya.
"Beliau sakit jantung. 3 tahun lalu butuh operasi besar. Biayanya... besar sekali. Bapak kamu yang bantu. Bapak kamu yang jaminin semua biaya, yang carikan donor, yang tungguin Ibu saya di ICU waktu saya masih koas di luar kota dan gak bisa pulang."
Aku bengong. Jadi...
"Sebagai gantinya, Almarhum Ayah saya janji, kalau Ibu saya sembuh, anak laki-lakinya akan jaga anak perempuannya Bapak kamu. Dijodohin. Saya kira itu cuma omongan orang tua. Ternyata Bapak kamu pegang janji itu sampai sekarang."
Dia naruh lagi bingkai itu, sekarang posisinya gak dibalik. Dihadapin ke depan.
"Kenapa saya dingin, Put? Karena saya diajarin dari kecil, kalau mau jadi dokter, gak boleh baper. Pasien meninggal di depan mata, kalau saya ikut nangis, siapa yang nolong pasien selanjutnya? Ibu saya hampir meninggal di depan mata saya, Put. Sejak itu saya belajar matiin semua rasa. Biar gak sakit lagi."
Dia akhirnya duduk di sofa. Keliatan capek banget. Baju operasinya masih basah keringat.
"Jadi saya juga dipaksa, Put. Sama seperti kamu. Bedanya, kamu dipaksa ninggalin orang yang kamu cinta. Saya dipaksa nikah sama orang yang bahkan gak pernah liat saya sebagai laki-laki."
Kata-katanya jleb.
Aku duduk di sebelahnya. Jarak masih ada satu meter, tapi ini pertama kalinya kami duduk sejajar, bukan sebagai 'dokter dingin dan calon istri yang nangis'.
"Maaf..." bisikku.
"Gak usah minta maaf," dia merem, nyenderin kepala ke sofa. "Saya cuma mau kamu tau. Saya gak akan maksa kamu cinta saya cepat-cepat. Tapi selama kamu masih pakai nama saya nanti..."
Dia buka mata, natap aku. Dalam banget.
"Put, inget ya... kalau ada yang berani rendahkan kamu kayak Liana tadi, kamu gak usah jawab. Biar saya yang maju. Tugas kamu cuma satu: berdiri di belakang saya. Ngerti?"
Lagi. Kalimat itu lagi. Pendiem, tapi sekalinya ngomong serius, susah banget buat bilang enggak.
Aku angguk pelan. Air mataku netes lagi, tapi kali ini bukan karena Yudha.
Arga liat aku nangis, dia panik kecil. Dokter pinter operasi, tapi bego urusan cewek nangis.
"Eh, kok nangis? Saya ngomongnya kekencengan ya?"
Dia buru-buru ngambil tisu di mejanya, terus... dengan kaku banget, dia hapus air mataku. Tangannya dingin, tapi gerakannya hati-hati banget, kayak lagi pegang luka pasien.
"Udah, jangan nangis. Nanti mata kamu bengkak. Bapak kamu nanya lagi."
Aku malah ketawa kecil di sela nangis. Pertama kalinya aku ketawa di depan dia.
Tiba-tiba perutku bunyi. Kenceng. Kruuuk.
Kami berdua diem.
Wajah Arga yang dingin itu... untuk pertama kalinya, senyum. Senyum tipis, tapi beneran senyum.
"Lapar?"
Aku malu mau nangis lagi. "Belum makan dari pagi... habis ngurus Yudha— eh..."
"Yaudah," dia berdiri, ngambil jas dokternya. "Kita makan. Abis itu saya anter kamu pulang. Biar Bapak kamu gak mikir saya culik kamu."
Dia ulurin tangannya ke aku. Mau ngebantu aku berdiri dari sofa yang keempukan.
Aku liat tangannya itu. Tangan yang habis nyelamatin nyawa orang, tangan yang dingin, tapi tadi hapus air mataku.
Pelan-pelan, aku sambut tangannya.
Pas kulit kami bersentuhan...
Pintu ruangannya diketuk lagi.
"MAAF DOKTER ARGA!"
Seorang suster masuk panik.
"Pasien Ibu Putri yang tadi pagi, Bapaknya datang mengamuk di lobi! Katanya mau ketemu anaknya sekarang!"
Bapak?
Bapak tau aku gak di kampus dan malah di RS sama Arga?
Lanjut...
---
LOBI RS JADI PANGGUNG DRAMA.
Aku kira Bapak bakal ngamuk-ngamuk kayak di sinetron. Teriak-teriak, malu-maluin.
Ternyata enggak.
Pas aku sama Arga turun dari lift dengan tangan masih agak gugup — aku masih gandeng ujung jasnya karena takut — Bapak udah berdiri di tengah lobi.
Pakai batik kesayangannya. Yang biasanya cuma dipakai kalau ada acara penting atau ketemu orang penting.
Begitu liat kami, Bapak langsung senyum. Senyum lebar.
"Nah! Ini dia calon mantu Bapak!"
Lho?
Bapak jalan cepat nyamperin Arga, langsung salaman, peluk pundaknya. Akrab banget. Kayak Arga itu anak kandungnya yang baru pulang dari perang.
"Gimana operasinya, Ga? Lancar? Tadi Ibu telpon Bapak, katanya Putri sama kamu di RS. Bapak langsung kesini, takut Putri ngerepotin kamu."
Aku bengong. Jadi Ibu yang ngadu ke Bapak kalau aku bohong izin kampus. Tapi kok Bapak malah nyambut baik Arga?
Arga yang tadi tegang habis dimarahi suster, langsung ganti mode jadi menantu ideal. Sopan, nunduk.
"Alhamdulillah lancar, Pak. Maaf ya Pak, tadi Putri saya ajak ke RS mendadak, soalnya ada operasi emergency. Harusnya saya izin dulu ke Bapak."
PINTER BANGET. Dia bohong demi aku.
Bapak malah ketawa bangga, nepuk-nepuk bahu Arga.
"Gak apa-apa! Justru bagus! Biar Putri tau gimana kerjaan calon suaminya! Biar dia belajar jadi istri dokter itu gak gampang!"
Terus Bapak noleh ke aku. Tatapannya beda. Bukan marah kayak semalam pas sama Yudha. Tapi tatapan... menilai.
"Putri, kamu tuh beruntung lho dapet Arga. Tadi di jalan Bapak ngobrol sama perawat-perawat di sini, semua bilang Arga itu dokter paling pinter, paling rajin, gak pernah macem-macem sama cewek. Lha kamu malah cemberut terus."
Aku cuma bisa nunduk. Malu setengah mati dilabrak Bapak di lobi RS depan banyak orang.
Arga kayak ngerti aku terpojok. Dia langsung pasang badan.
"Putri gak cemberut, Pak. Dia cuma lapar. Dari pagi belum makan. Makanya saya mau ajak makan dulu sebelum pulang."
Lagi-lagi, kalimat pendiemnya itu... susah buat dibantah. Bahkan Bapak pun langsung angguk-angguk.
"Oh ya sudah! Makan sana! Bapak ikut sekalian ya? Bapak juga belum makan siang. Kita makan bertiga!"
Dan itulah bencana selanjutnya.
---
DI RUMAH MAKAN DEPAN RS.
Bayangin: Aku, Bapak, dan Arga. Makan siang bersama. Kayak keluarga harmonis.
Bapak mesen rawon, aku soto ayam, Arga cuma mesen air putih sama ayam dada rebus tanpa garam.
"Ga, kamu kok makannya gitu aja?" Bapak protes.
Arga jawab santai, "Menjaga pola makan, Pak. Kebiasaan jaga di RS."
Padahal aku tau, dia makan itu karena tadi dia liat aku gak nafsu makan kalau di depan orang yang makannya berlemak banyak. Dia pernah bilang di mobil, "Pasien jantung harus jaga makan, keluarga pasien juga harus kasih contoh."
Detail kecil. Tapi nusuk lagi.
Di tengah makan, Bapak mulai cerita ngalor-ngidul tentang aku waktu kecil. Tentang aku demam, tentang aku nangis kejer gak mau disuntik.
Aku mau masuk ke dalam soto rasanya.
"Pak, udah ah..." bisikku.
Bapak malah makin semangat. "Dulu tuh Putri kalau disuntik, yang pegangin harus 3 orang, Ga!"
Arga yang dari tadi datar, tiba-tiba ngelirik aku dan... senyum lagi. Senyum tipis kedua harinya.
"Kalau sekarang disuntik masih takut, Put?" tanyanya pelan, cuma ke aku.
"Takut," jawabku jujur.
"Ya udah, nanti kalau butuh suntik, biar saya yang suntik. Biar gak sakit."
Bapak yang denger itu langsung tepuk meja.
"Nah! Kan! Cocok! Dokter pribadinya Putri!"
Aku tersedak soto.
Perjalanan pulang ke rumah setelah makan itu jadi aneh.
Aku duduk di belakang sama Bapak, Arga nyetir di depan. Bapak sepanjang jalan muji-muji Arga terus.
"Lihat tuh Put, mobilnya bersih, nyetirnya alus, orangnya tenang. Beda sama..."
Bapak gak lanjutin. Tapi aku tau dia mau ngomongin Yudha.
Aku natap punggung Arga dari jok belakang. Punggungnya tegak, rapi.
Cowok yang kemarin aku anggap monster dingin yang mau ngerenggut hidupku, hari ini...
Dia bohong demi nutupin kesalahanku di kos Yudha.
Dia obatin saingannya sendiri.
Dia belain aku di depan suster genit.
Dia pasang badan di depan Bapak.
Sampai di depan rumah, Bapak turun duluan, masuk ke dalam sambil teriak ke Ibu, "Bu! Mantunya datang! Siapin teh!"
Tinggal kami berdua lagi di mobil.
Arga matiin mesin. Hening.
"Put," panggilnya. Gak noleh, cuma liat spion depan biar bisa liat mataku dari belakang.
"Inget ya... tadi di RS, Bapak kamu bilang kamu beruntung dapet saya. Padahal saya yang beruntung dapet kamu. Jadi... jangan ngerasa sendirian lagi kalau ada apa-apa. Ada saya."
Aku gak bisa jawab. Dada sesak.
Dia turun, bukain pintu mobil buat aku. Kayak supir pribadi.
Pas aku turun, jarak kami deket banget di samping mobil.
Dia bisik lagi, kalimat pamungkasnya yang bikin lutut lemes:
"Dan satu lagi... kalau kangen Yudha, bilang aja ke saya. Jangan bohong. Saya antar kalau perlu. Tapi pulangnya... tetap sama saya ya, Putri Arga."
Namaku disebut dengan nama belakangnya.
Putri Arga.
Lanjut...
---
2 HARI KEMUDIAN. MALL.
Aku sengaja ke mall sendirian. Beli boneka Boba.
Boneka bulat besar warna coklat susu, yang kalau dipeluk tuh empuk banget. Aku butuh sesuatu buat dipeluk. Soalnya 2 hari ini rasanya sesak terus di rumah.
Sejak kejadian di RS itu, Arga jadi sering ke rumah. Gak tiap hari, tapi... sering.
Dan Bapak Ibu nyambutnya kayak raja. Heran.
Siang itu aku pulang bawa kantong besar isi boneka Boba. Hujannya baru mau turun, mendung.
Pas buka pagar, aku kaget.
Mobil hitam Arga udah parkir di depan. Sepatu pantofelnya rapi di teras.
Di dalam ruang tamu, Ibu lagi gelar karpet, Bapak lagi ngobrol serius sama Arga. Di meja ada kotak hantaran besar, ada baju kebaya.
Ngomongin lamaran.
"Putri pulang!" Ibu langsung manggil ceria. "Sini, Nak, pas banget Dokter Arga di sini. Ini lagi pasin tanggal lamaran. Lusa ya, hari Sabtu."
Aku berdiri di pintu, masih peluk boneka Boba gede. Keliatan bodoh banget.
Arga noleh. Liat aku sama boneka itu. Dia gak ketawa. Malah...
"Bagus bonekanya," katanya pelan. "Buat gantiin guling kamu yang sobek itu ya?"
Aku kaget. Kok dia tau gulingku sobek? Padahal aku gak pernah cerita.
Ibu nyaut, "Lho kok Dokter Arga tau guling Putri sobek?"
Arga jawab enteng, "Kemarin pas betulin keran wastafel di kamar Putri, saya liat, Bu."
Bapak manggil tukang aja enggak, dia yang betulin sendiri?
Itu yang bikin sakit.
Yang buat aku sakit bukan datengnya Arga ke rumah terus. Bukan lamaran yang makin deket.
Tapi baiknya.
Terlalu baik sampai aku gak punya alasan buat benci dia.
Aku cuma bisa angguk-angguk pas mereka ngomongin lamaran. "Iya, Pak, Bu, terserah." Sambil peluk Boba makin erat.
Arga pamit maghrib. Sebelum pulang, dia bisik ke aku di teras, pas Bapak lagi ke dalam ambil minum.
"Bonekanya kasih nama siapa?"
"Belum ada," jawabku pelan.
"Namain Arga aja. Biar kalau kangen saya, peluk dia aja dulu," katanya setengah bercanda, setengah serius. Terus dia pergi.
Dasar dokter dingin genit.
---
2 HARI SEBELUM LAMARAN. JAM 8 MALAM.
Hujan turun dengan derasnya lagi. Deres banget kayak malam itu pas Yudha kehujanan.
Bedanya, malam ini Bapak sama Ibu arisan RT di balai warga. Rumah kosong. Cuma aku sama Mbak Siti yang udah tidur di dapur.
Aku lagi di kamar lantai 2, peluk boneka Boba Arga — eh, Boba — sambil dengerin hujan.
Tiba-tiba...
TOK TOK TOK.
Suara pintu bawah diketuk keras, campur suara motor mati.
Aku ngintip dari jendela.
Arga.
Pakai jas hujan hitam, motor gede nya mogok di depan pagar. Basah kuyup. Kepalanya nunduk, rambutnya netes air.
"Putri! Buka pagarnya!" teriaknya di tengah hujan.
Aku panik, lari turun. Buka pagar.
"Kenapa, Dok?"
"Motor mogok nerjang banjir di perempatan. Bengkel tutup. Saya numpang neduh sebentar ya, hujan gede banget. Bapak Ibu ada?"
"Arisan, Dok! Di balai!"
Dia diem. Kami berdua diem di teras yang cuma diterangi lampu kuning.
Situasi paling canggung se-Indonesia. Calon suami yang belum sah, terjebak hujan di rumah calon istrinya pas rumah kosong.
"Masuk dulu, Dok, nanti masuk angin," kataku akhirnya.
Dia masuk. Bajunya basah semua. Kaos dalamnya nempel. Aku gak berani liat lama-lama.
Aku ambil handuk besar, kasih ke dia.
"Pakai handuk Bapak dulu ya."
Dia lap rambutnya. Air netes-netes ke lantai ruang tamu.
Aku mau ambilin teh anget, pas balik dari dapur, aku liat dia duduk di sofa, menggigil. Bibirnya agak pucat.
"Dok, kamu kedinginan ya?"
Dia geleng, tapi tangannya dingin pas aku — refleks — pegang jidatnya.
Anget. Dia demam.
"Ya ampun, kamu demam, Dok!"
"Gak apa-apa, kecapekan habis jaga IGD 24 jam," katanya pelan. Matanya sayu.
Hujan makin deres. Petir jederrr. Listrik...
JEGLEK.
Mati lampu.
Gelap gulita. Cuma cahaya HP ku.
Aku sama Arga kaget, saling tatap dalam gelap.
"Listrik mati, Put," suaranya serak.
"Di atas ada lilin, Dok, aku ambil dulu—"
Belum sempat berdiri, tanganku ditarik pelan.
Jangan. Di sini aja dulu. Gelap gini licin tangganya.
Dia narik aku duduk lagi di sofa. Jarak kami... deket banget sekarang karena gelap.
Cuma ada suara hujan gede di atap, napas kami, dan boneka Boba yang aku taruh di tengah sebagai pembatas.
"Put," panggilnya dalam gelap. Suaranya deket di telinga.
"Inget ya... 2 hari lagi saya lamar kamu resmi. Setelah itu kamu gak bisa mundur lagi. Kamu yakin?"
Pertanyaan yang selama ini gak pernah dia tanyain.
Aku nangis pelan dalam gelap. Gak keliatan, jadi berani.
"Aku takut, Dok..."
Dia gak jawab pakai kata-kata.
Dalam gelap, dengan tangan masih dingin dan demam, dia pelan-pelan narik boneka Boba pembatas itu, dan ganti dengan... kepalanya yang nyender pelan di bahu aku.
"Kalau takut, sandaran aja di sini dulu. Saya gak akan kemana-mana malam ini. Hujan juga gak izinin saya pulang."
Dokter dingin yang terjebak hujan di rumahku. Demam. Nyender di bahuku.
Lanjut...
---
Aku panik liat dia menggigil gitu.
"Tunggu-tunggu, saya ambil kompres dulu ya, Dok. Sama minyak kayu putih—"
Aku mau berdiri. Mau lari ke dapur.
Belum sempat napasku naik satu tangga...
Pergelangan tanganku ditarik. Pelan, tapi kenceng. Gak bisa lepas.
Arga.
Dalam gelap yang cuma diterangi cahaya HP ku yang redup di meja, aku gak bisa liat jelas mukanya. Cuma bisa ngerasain tangan dinginnya yang masih demam itu melingkar di pergelangan aku.
Sengaja atau enggak, aku gak tau. Cuma Arga yang tau.
"Di sini aja dulu, Put..." suaranya serak, pelan banget, hampir ketutup suara hujan di genteng. "Jangan tinggalin saya sendirian."
Jantungku... astaga. Dag-dig-dugnya kayak mau copot.
Aku balik duduk. Pelan. Jarak kami sekarang gak ada boneka Boba lagi. Bonekanya udah jatuh ke lantai pas mati lampu tadi.
Dia masih pegang tanganku. Gak dilepas.
"Putri," panggilnya lagi. Napasnya anget, padahal tangannya dingin.
Aku noleh. Dalam gelap, mata kami ketemu. Deket banget.
Dan...
Dia maju pelan. Ragu-ragu. Kayak nunggu aku mundur atau enggak. Kayak dokter yang mau suntik tapi nunggu pasiennya siap.
Aku gak mundur.
Ciuman pertama.
Pelan. Hangat. Cuma sekilas di bibir. Gak maksa, gak buru-buru. Tapi...
Aku merinding. Dari ujung kaki sampai kepala.
Bukan karena jijik. Bukan karena takut.
Karena ini pertama kalinya dalam 2 bulan dijodohin, aku ngerasain dia bukan sebagai "dokter dingin yang dipaksa nikah sama aku", tapi sebagai... laki-laki yang lagi butuh aku.
Aku langsung narik diri, napas ngos-ngosan. Mukaku panas banget, padahal AC mati.
"Do—Dokter..."
Arga langsung lepas tanganku, kayak kesetrum. Panik. Wajah dinginnya itu untuk pertama kalinya keliatan gugup setengah mati.
"Maaf. Maaf, Put. Saya... saya gak bermaksud... demam saya bikin ngawur," katanya cepat, suaranya gemetar. "Kamu... kamu marah ya? Kalau kamu gak mau, anggap aja gak terjadi. Saya kelewatan."
Dia mundur, ngasih jarak. Nunduk. Nyesel.
Aku yang masih merinding, masih megang bibirku sendiri.
Harusnya aku marah. Harusnya aku teriak. Ini kan yang aku takutin dari perjodohan? Dipaksa?
Tapi kenapa... yang aku rasain bukan marah?
Aku liat dia. Dokter hebat yang biasa tenang ngadepin pasien sekarat, sekarang malah kayak anak kecil yang takut dimarahin habis ngelakuin kesalahan.
Pelan-pelan, aku ambil lagi tangannya yang tadi narik aku. Kali ini aku yang pegang.
"Dok... kalau masih demam jangan banyak mikir," bisikku. Suaraku kecil banget. "Kompresnya tetap harus diambil. Tunggu di sini ya."
Dia ngangguk kaku. Matanya masih gak berani natap aku lama-lama.
Aku lari kecil ke dapur dalam gelap, ambil baskom air, handuk kecil. Jantungku masih berisik kayak hujan di luar.
Pas aku balik bawa kompres, dia udah duduk tegak, usahain keliatan profesional lagi.
Aku peras handuk, terus pelan-pelan kompres jidatnya.
Jarak kami deket lagi. Aku bisa liat bulu matanya yang lentik, keringat di pelipisnya.
"Put," dia manggil lagi, sambil merem nikmatin kompres anget itu.
"Hm?"
"Yang tadi... boleh saya ulang kalau udah gak demam? Dengan izin kamu?"
Aku hampir jatohin baskom.
Dokter dingin ini... sekali ngomong serius, emang susah banget buat bilang enggak.
Di luar, hujan masih deres. Listrik masih mati. Bapak Ibu masih arisan.
Dan di ruang tamu yang gelap itu, cuma ada aku, boneka Boba yang jatuh, dan calon suamiku yang demam gara-gara motor mogok.
Lanjut...
---
Aku gak tau jam berapa aku ketiduran.
Yang aku inget, abis kompresan kedua, demam Arga turun dikit. Napasnya udah gak ngos-ngosan lagi. Hujan di luar masih deres, tapi suara petirnya udah reda jadi gemericik pelan.
Listrik belum nyala juga.
Aku masih duduk di lantai, nyender di sofa, tangan masih nempel di jidatnya buat mastiin kompresnya gak jatuh. Boneka Boba yang jatuh tadi udah aku pungut lagi, aku pangku.
Anjir, capek banget. Sehari ke mall, ngurusin lamaran, ngurusin dokter demam.
Mata ku berat...
Dan ketiduran.
---
JAM 10 MALAM. PINTU PAGAR BUNYI.
"Putri? Putri! Kok lampu mati semua?"
Suara Bapak. Sama Ibu.
Aku kebangun kaget. Leherku kaku. Ada yang berat di bahu ku.
Arga.
Dia ketiduran nyender di bahu ku. Pules banget. Wajah dinginnya pas tidur keliatan... damai. Gak dingin sama sekali. Bibirnya agak terbuka, napasnya teratur. Tangan kanannya masih megang ujung hijab ku pelan, kayak takut aku pergi.
Baskom kompres udah tumpah dikit di lantai.
Dan di depan pintu ruang tamu, Bapak sama Ibu berdiri bawa payung, senter HP nyala, bengong liat kami berdua di sofa dalam gelap, cuma diterangi lilin kecil yang Ibu nyalain dari dapur tadi.
Hening 5 detik yang rasanya 5 tahun.
Ibu nutup mulutnya. Bapak... senyum. Senyumnya lebar banget, puas banget.
"Wah wah wah..." Bapak manggil pelan, takut bangunin Arga. "Pantesan motornya mogok gak mau pulang ya, Ga?"
Aku panik setengah mati mau bangunin Arga.
"Dok, Dok, bangun, Bapak Ibu pulang," bisikku sambil goyang-goyang bahunya pelan.
Arga kebangun pelan. Matanya masih sayu. Liat aku, liat Bapak Ibu.
Dia langsung duduk tegak, benerin bajunya yang kusut basah. Panik, tapi tetep berusaha kalem. Dokter dingin mode on lagi.
"Eh, Pak, Bu... maaf, motor saya mogok, hujan gede, jadi..."
Ibu langsung motong sambil ketawa kecil, "Gak apa-apa, Dok, gak apa-apa! Justru Bapak seneng liatnya! Berarti Putri udah pinter ngrawat calon suaminya!"
Aku mau nangis rasanya. Malu.
Bapak malah ambil kursi, duduk di depan kami kayak lagi sidang.
"Gini aja, Ga. Malam ini hujan masih deres, banjir di perempatan belum surut kata Pak RT. Motor kamu biarin di sini. Kamu nginep aja di kamar tamu bawah. Besok pagi baru pulang. Gimana?"
Hah?
Nginep?!
Aku langsung noleh ke Arga. Arga noleh ke aku.
"Jangan, Pak, gak enak, saya gak enak sama Putri—" Arga nolak halus.
"Gak enak kenapa? Lusa kamu udah lamaran resmi. Anggap aja latihan jadi suami siaga. Lagian Putri di atas, kamu di bawah. Bapak di tengah jagain. Aman!"
Bapak udah mutusin. Gak bisa dibantah.
Akhirnya malam itu, untuk pertama kalinya...
Arga nginep di rumahku.
Aku di kamar lantai 2, gelisah gak bisa tidur, peluk Boba erat-erat. Di bawah, ada calon suamiku yang demam, yang 2 jam lalu nyium aku pertama kali dalam gelap.
Jam 1 malam, HP ku getar.
Pesan WA dari nomor yang namanya aku save "Dokter Es Batu 🧊"
Isinya:
Dokter Es Batu 🧊: Put, masih bangun?
Dokter Es Batu 🧊: Kompresnya ketinggalan di atas. Jidat saya anget lagi.
Dokter Es Batu 🧊: Boleh minta tolong ambilin? Sekalian... Boba saya kangen. Yang di sofa tadi jatuh lagi.
Aku baca sambil senyum-senyum sendiri di atas kasur. Pipiku panas.
Lanjut...
---
Aku turun pelan-pelan.
Jam 1 malam, rumah gelap, cuma lampu dapur kecil yang nyala. Bapak Ibu udah ngorok di kamar. Mbak Siti juga udah pules.
Aku bawa baskom kompres baru, selimut tipis, sama... Boba. Boneka Boba yang tadi dia titip.
Di kamar tamu bawah, pintu gak dikunci. Arga duduk di tepi ranjang, masih pakai kaos Bapak yang kebesaran. Rambutnya udah kering, tapi mukanya masih keliatan capek.
Begitu liat aku masuk, dia langsung berdiri.
"Maaf ya Put, jadi ngerepotin—"
Aku taruh baskom di meja. Gak berani natap matanya lama-lama.
"Ini kompresnya, Dok. Sama selimut."
Hening.
Aku peluk Boba erat, terus gumam pelan, hampir gak kedengeran:
"Please jangan ada moment itu lagi ya..."
Yang tadi. Ciuman dalam gelap pas mati lampu itu.
Aku masih merinding kalau inget. Bukan karena benci, tapi karena... aku takut. Takut kalau aku malah ngarep. Padahal lusa lamaran. Padahal hatiku masih berantakan antara Yudha dan dia.
Arga denger. Jelas dia denger.
Dia diem sebentar. Terus jalan pelan ke arahku. Aku kira dia mau marah atau maksa lagi kayak di film-film.
Enggak.
Dia berhenti satu langkah di depan aku. Gak nyentuh.
"Oke," katanya pelan. Suaranya serak habis demam. "Oke, Put. Maaf ya, yang tadi. Saya kelewatan. Saya janji gak akan ada moment itu lagi kalau kamu gak mau."
Aku kaget. Segampang itu dia nurut?
Tapi abis itu dia ngomong lagi, jujur banget:
"Tapi boleh gak... saya peluk aja? Pelan. Bukan karena mau apa-apa. Saya cuma... dari tadi kedinginan di bawah sendirian. Dan kamu anget."
Aku gak jawab. Cuma angguk kecil. Pelan banget.
Baru deh dia maju. Peluk pelan.
Bukan peluk maksa yang narik kenceng kayak tadi di sofa. Ini peluk yang... hati-hati. Dagunya nempel di atas hijabku. Satu tangannya meluk punggungku, satu tangannya megang boneka Boba yang ada di antara kami.
Hangat. Wangi kayu putih samar dari balsem yang tadi aku oles di lehernya.
Kami diem di dapur yang gelap itu. Cuma suara kulkas.
"Put," bisiknya di atas kepalaku. "Tau gak yang paling saya tahan apa?"
"Apa?"
"Bukan pengen cium lagi. Yang saya tahan itu... pengen bilang kalau saya kangen kamu terus, padahal kita baru kenal 2 bulan karena dijodohin. Kedengeran bodoh ya?"
Aku diem. Air mata netes lagi. Pelan. Nyerempet ke kaos Bapak yang dia pakai.
"Gak bodoh, Dok..." bisikku balik.
Dia lepas pelukannya pelan. Natap aku. Matanya merah, bukan cuma karena demam, tapi kayak nahan sesuatu yang udah lama dia tahan. Dokter dingin yang selama ini jaim, pendiem.
"Saya tahan ya, Put. Ciuman dewasa yang pengen saya kasih ke calon istri saya sendiri. Saya tahan sampai kamu yang minta. Bukan saya yang maksa. Jadi malam ini cukup peluk ini aja ya?"
Dia senyum tipis. Senyum tulus pertama yang bener-bener gak dingin.
Aku angguk sambil nangis kecil. Lega. Karena dia dengerin aku. Karena dia gak maksa pas aku bilang jangan.
"Yaudah, sekarang kamu naik ke atas, kunci kamar. Tidur. Besok saya masih di sini, kok. Temenin Bapak sarapan. Temenin kamu... sampai lamaran lusa."
Aku naik ke atas lagi, bawa baskom kosong. Jantung masih deg-degan, tapi beda rasanya.
Bukan deg-degan takut.
Deg-degan karena untuk pertama kalinya, aku ngerasa aman dipeluk sama orang yang akan jadi suamiku lusa.
Di atas kasur, aku buka HP.
Ada chat baru dari dia, 1 menit lalu:
Dokter Es Batu 🧊: Makasih ya, Putri Arga, udah kasih izin peluk. Tidur yang nyenyak. Mimpiin saya aja ya, jangan mimpiin Boba terus.
Aku senyum-senyum sendiri sambil peluk Boba.
Lanjut...
---
2 HARI KEMUDIAN. HARI LAMARAN. SABTU PAGI.
Rumahku rame kayak mau lebaran.
Ibu dari jam 5 pagi udah di dapur, Bapak pasang tenda kecil di depan. Mbak-mbak make up datang bawa koper gede. Aku didudukin di kamar, dipakein kebaya dusty pink yang Ibu pilihin. Jilbab dililit-lilit.
Di bawah, suara motor, mobil, orang ngobrol. Keluarga besar Arga datang.
Dan aku? Tanganku dingin. Peluk Boba terus dari tadi.
"Put, udah cantik banget," Ibu nangis liat aku di kaca. "Akhirnya..."
Akhirnya apa, Bu? Akhirnya aku nikah sama orang yang bahkan belum pernah aku bilang cinta?
Jam 9 pagi, acara lamaran mulai.
Aku turun pelan-pelan dari tangga. Semua mata ngeliat aku.
Di ruang tamu, duduk Arga.
Pakai batik coklat, rapi banget, wangi. Di sebelahnya ada Ibu-nya — perempuan yang di foto itu — yang senyumnya hangat banget liat aku. Bapak-nya Arga gak ada, udah almarhum.
Begitu liat aku turun, Arga berdiri.
Beda. Hari ini dia gak dingin sama sekali. Gugup. Keliatan banget gugupnya. Tangannya ngeremas kotak cincin kecil di tangannya sampai buku jarinya putih.
Bapak buka acara pakai doa. Ibu-nya Arga ngomong panjang lebar tentang niat baik, tentang janji almarhum suaminya sama Bapak, tentang gimana Arga cerita terus tentang aku di rumah — yang bikin aku kaget, dia cerita apa coba?
Terus giliran Arga ngomong.
Dia natap aku. Dalam. Di depan semua orang.
Semua diem.
"Putri..."
Suara pendiemnya itu keluar lagi. Pelan, tapi semua orang dengerin.
"Saya tau ini cepet banget. Saya tau kamu masih takut. Dua hari yang lalu kamu masih bilang 'jangan ada moment itu lagi' ke saya. Dan saya hargai itu."
Bapak Ibu langsung saling lirik. Moment apa?
Aku mau tenggelam aja rasanya.
"Lamaran ini bukan karena saya mau menang dari Yudha. Bukan karena janji Bapak-bapak kita. Lamaran ini karena... seminggu terakhir, saya jadi tau rasanya pulang ada yang nungguin kompres. Ada yang bawain selimut tengah malem. Ada yang peluk Boba sambil nungguin saya."
Dia buka kotak cincinnya. Cincin simple, putih, kecil.
"Jadi, Put... inget ya... kalau kamu terima cincin ini, kamu gak cuma jadi tunangan saya. Kamu jadi partner jaga malam saya kalau saya jaga IGD. Jadi orang pertama yang saya telpon kalau operasi saya selesai. Boleh?"
Caranya ngomong... ya Allah. Pendiem, tapi sekalinya ngomong serius, susah banget buat bilang enggak.
Air mataku netes. Bukan karena dipaksa. Tapi karena untuk pertama kalinya, lamaran ini terasa kayak... dia butuh aku, bukan cuma aku yang butuh dia.
Aku angguk. Pelan. "Boleh, Dok."
Dia pasangin cincinnya. Tangannya gemetaran. Dingin, tapi gemetaran. Cincinnya pas banget.
Satu rumah tepuk tangan. Ibu nangis kenceng. Ibunya Arga langsung peluk aku.
Sah. Dilamar.
---
SEMINGGU SETELAH LAMARAN. 7 HARI MENUJU AKAD.
Cepet banget. Kayak diseret ombak.
Seminggu itu isinya fitting baju akad, cetak undangan dadakan, urus KUA. Arga yang ngurus semua. Aku cuma ikut.
Dia bolak-balik RS - rumahku - KUA. Gak pernah ngeluh.
Yudha? Sejak malam hujan yang Arga nginep itu, dia gak ada kabar. Aku denger dari temennya, dia ngajuin pindah kos ke luar kota. Mungkin itu yang terbaik.
Malam ini, H-2 akad.
Aku duduk di kamar, liat undangan yang baru jadi.
AKAD NIKAH: PUTRI & ARGA
Nama ku udah bersebelahan sama nama dia.
Boba aku taruh di pojok. Gak aku peluk malam ini.
HP bunyi.
Dokter Es Batu 🧊: Put, besok akad. Gugup?
Aku ketik lama.
Putri: Gugup banget, Dok. Rasanya cepet banget. Seminggu katanya akad. Aku belum siap jadi istri dokter dingin.
Balasannya lama. 5 menit. Terus muncul.
Dokter Es Batu 🧊: Saya juga belum siap jadi suami Putri yang tukang nangis di depan pagar.
Dokter Es Batu 🧊: Tapi kalau siapnya nunggu sempurna, kapan nikahnya? Kita belajar siapnya bareng-bareng aja ya abis akad. Saya ajarin kamu jadi istri saya, kamu ajarin saya jadi suami kamu yang gak sedingin kulkas.
Dokter Es Batu 🧊: Turun sebentar. Saya di depan pagar. Bawa Boba.
Aku lari ke jendela lantai 2.
Di bawah, di tengah gerimis tipis, ada Arga. Pakai hoodie hitam, gak pakai jas dokter. Bawa dua kopi sachet anget dari warung.
Sama kayak malam pertama Yudha dulu nungguin aku kehujanan.
Bedanya, malam ini yang nungguin... calon suamiku sendiri.
Lanjut...
---
HABIS AKAD. JAM 2 SIANG.
"Saya terima nikahnya Putri binti Bapak... dengan mas kawin tersebut tunai."
Suaranya gemetar.
Dokter Arga yang biasanya ngomong datar, operasi 5 jam aja tangannya gak gemetar, hari ini suaranya pecah di kata "tunai".
Satu masjid denger. Bapak nangis. Ibunya Arga nangis. Aku yang di balik hijab akad, nangis juga.
SAH.
Putri Arga. Beneran jadi Putri Arga sekarang.
---
JAM 8 MALAM. RUMAH ARGA.
Rumahnya bukan rumah sakit. Rumahnya anget.
Begitu masuk, aku kaget. Rumah minimalis 2 lantai yang biasanya dingin dan sepi kayak pemiliknya, hari ini... wangi melati, ada lilin aromaterapi di meja.
Dan di kamar utama...
Aku bengong.
Lemarinya yang tadinya isinya cuma kemeja putih, kemeja biru, dan jas dokter, sekarang setengahnya penuh.
Ada tunik warna-warni yang masih ada labelnya. Ada baju tidur katun yang lembut-lembut, ada dress cantik buat kondangan, ada gaun panjang, ada hijab-hijab warna senada. Semua ukuran aku.
Banyak banget. Kayak dia borong satu mall.
"Do— Mas... ini apa?" Aku masih canggung manggil Mas. Tadi ijab kabul manggilnya masih Dokter.
Arga yang masih pakai baju koko putih habis akad, lagi lepas jam tangannya. Denger aku manggil Mas, dia berhenti sebentar, senyum tipis.
"Oh, itu? Itu baju kamu," katanya santai, kayak bukan hal besar. "Saya siapin dari seminggu lalu. Tanya ukuran ke Ibu kamu. Kalau gak muat bilang ya, besok saya tuker."
"Kenapa banyak banget, Mas?"
"Soalnya saya gak tau kamu sukanya warna apa. Jadi saya beli semua warna yang menurut mbak SPG-nya cocok buat pengantin baru," jawabnya jujur. Polos banget. Dokter pinter tapi buta fashion.
Aku ketawa kecil sambil ngelus satu tunik kuning mustard. Lembut.
Terus aku baru sadar. Di kamar itu cuma ada satu ranjang. King size. Gede banget. Gak ada sofa, gak ada kasur lantai. Selimut cuma satu yang tebel.
"Mas... kita tidurnya..."
Dia langsung ngerti maksudku. Dia duduk di tepi ranjang.
"Di sini. Bareng," katanya pelan. Tegas.
Aku langsung peluk Boba — yang ternyata dia juga bawa dari rumahku tadi — defensif.
"Put," dia manggil. Nada pendiem seriusnya keluar lagi. Yang susah ditolak itu.
"Saya gak mau tidur pisah-pisah. Kita udah sah. Di luar sana semua orang tau kamu istri saya. Kalau di dalam rumah aja kita pisah, buat apa kita akad tadi?"
Aku nunduk. Jantung dag-dig-dug.
"Tapi Mas, aku—"
"Ssshh, denger dulu," dia potong halus, terus tepuk sisi ranjang sebelahnya. "Saya gak akan apa-apain kamu kalau kamu gak mau. Sumpah. Demi Ibu saya. Saya cuma... pengen tidur sebelah kamu. Abis 24 jam jaga IGD, capek, pengen ada yang bisa dipeluk. Boleh gak Boba-nya saya pinjem orangnya sekalian?"
Cara dia ngomong... ya Allah.
Aku pelan-pelan duduk di sisi ranjang yang jauh. Masih pakai jarak satu guling. Boba aku taruh di tengah sebagai benteng terakhir.
Lampu kamar dia matiin, sisain lampu tidur kuning temaram.
Dia baring, pakai kaos oblong hitam, bukan baju koko lagi. Wangi habis wudhu.
Dia gak langsung peluk. Dia baring telentang, natap langit-langit.
"Put, inget ya..."
Datang lagi kalimat keramatnya.
"Di rumah ini, baju-baju itu semua punya kamu. Lemari itu punya kamu. Kamar ini punya kamu. Saya juga... punya kamu sekarang. Jadi kalau kamu mau nangis, nangis aja. Kalau mau peluk Boba, peluk aja. Tapi kalau udah capek peluk Boba..."
Dia miring, natap aku. Matanya sayu ngantuk.
"...peluk saya aja ya? Saya anget kok kalau udah gak demam."
Aku gak jawab. Cuma narik selimut tebel itu sampai dagu. Merinding lagi.
5 menit hening. Aku kira dia udah tidur.
Ternyata tangannya pelan-pelan geser, singkirin Boba yang jadi benteng di tengah itu, terus... narik selimutku pelan biar aku gak kedinginan.
Gak maksa. Gak narik aku. Cuma benerin selimut.
"Selamat malam, Istriku," bisiknya ngantuk.
"Selamat malam, Mas..." bisikku balik.
Malam pertama sebagai Putri Arga. Bukan malam yang orang-orang pikirin. Gak ada yang aneh-aneh.
Cuma ada dokter dingin yang akhirnya tidur pules di sebelahku, tangannya masih megang ujung hijab tidurku kayak takut aku hilang.
Dan aku, untuk pertama kalinya dalam sebulan terakhir, tidur tanpa nangis.
Lanjut...
---
PAGI PERTAMA JADI ISTRI. JAM 5.30 PAGI.
Aku kebangun duluan.
Kaget. Lho kok ada yang napas di sebelah?
Oh iya. Udah jadi istri.
Arga masih tidur pules, miring, satu tangannya masih... megang ujung kerudung tidurku yang udah berantakan. Kayak bocah megang guling.
Aku pelan-pelan lepas, ambil wudhu, sholat subuh. Dia masih pules.
Iseng, aku buka lemari yang kemarin dia penuhin itu.
Banyak banget pilihan. Tapi mataku langsung ke satu set: training kaos pink pastel yang masih ada label, celana training hitam longgar, sama topi putih.
Pas banget buat jalan pagi. Di rumah Bapak dulu aku gak pernah jalan pagi, takut. Di sini... kompleknya sepi, adem, banyak ibu-ibu jalan juga.
Aku pakai. Kaos pink-nya agak ngepas, tapi gak ketat, enak buat gerak. Topi putih aku pakai, rambut aku kuncir. Cerminan di kaca: pantes gak ya jadi istri dokter?
Ah bodoh, jalan aja.
Aku keluar pelan, gak bangunin Arga. Ninggalin sticky note di kulkas: Mas, aku jalan pagi bentar ya - Putri
Udara pagi komplek Arga tuh beda. Adem, sepi, banyak pohon. Aku jalan santai, kadang lari kecil, sambil dengerin musik. Bebas. Untuk pertama kalinya seminggu ini aku ngerasa bebas tanpa mikirin lamaran, akad, Yudha, Bapak.
Gak sadar udah 20 menit muter komplek.
Pas belokan terakhir mau masuk rumah lagi...
Aku berhenti.
Di depan pagar rumah, Arga berdiri.
Masih pakai kaos oblong hitam yang tadi malem buat tidur, celana training abu-abu, rambutnya berantakan habis bangun tidur, mukanya panik. Di tangannya HP, kayaknya baru mau nelpon aku.
Begitu liat aku belokan, dia diem.
Bengong.
Matanya dari atas ke bawah. Dari topi putihku, kaos pink ku, sampai sepatu kets putih yang baru juga — yang ternyata dia juga yang beliin, masih ada di kardus semalam.
Ini pemandangan baru buat Arga.
Selama ini yang dia liat: Putri pakai gamis, pakai kebaya, pakai mukena, nangis di depan pagar, nangis di RS. Pucat, lemes.
Sekarang: Putri pakai training kaos pink, topi putih, pipinya merah habis jalan pagi, keringetan, seger.
"Putri?" panggilnya. Suaranya masih serak bangun tidur.
"Aku jalan pagi, Mas. Tadi ninggalin note di kulkas," kataku sambil jalan deketin pagar, agak malu diliatin gitu.
Dia masih bengong. Terus jalan cepat nyamperin aku, langsung... narik topi putihku pelan, benerin rambutku yang keluar dikit.
"Topinya miring," gumamnya. Padahal gak miring.
Terus tangannya turun, ragu-ragu, benerin resleting kaos pink ku yang emang agak kebuka dikit di leher karena gerah.
"Kaosnya... bagus. Cocok di kamu," katanya pelan. Matanya gak bisa bohong. Dokter dingin itu salah tingkah.
Aku godain, "Bagus doang, Mas? Gak cantik?"
Dia langsung batuk kecil. Salah tingkahnya jadi-jadi.
"Cantik. Cantik banget. Makanya... makanya jangan jalan kelamaan. Nanti dilihatin orang," bisiknya jujur. Cemburu mode dokter.
Aku ketawa ngakak. Pertama kalinya aku ngakak depan dia pagi-pagi.
"Mas Arga cemburu ya?"
"Enggak. Saya... saya cuma gak mau istri saya masuk angin. Udah, masuk, mandi, saya udah masakin sarapan."
"Masakin? Mas bisa masak?"
Dia diem. Mukanya agak merah.
"Gosong dikit. Telurnya. Gak apa-apa ya?"
Dan di pagi pertama jadi Putri Arga itu, aku masuk rumah digandeng sama suamiku yang masih pakai baju tidur, yang bengong liat aku pakai kaos pink dan topi putih, yang masakin telur gosong demi istrinya.
Di meja makan, ada dua piring telur gosong, dua gelas susu, dan satu sticky note baru dari dia yang ditempel di piringku:
Put, inget ya... kalau jalan pagi besok, ajak saya. Biar orang tau yang pakai kaos pink itu istri saya.
Lanjut...
---
HABIS SARAPAN GOSONG.
Telurnya gosong beneran. Asin lagi. Tapi Arga makannya lahap, aku juga pura-pura lahap biar dia gak sedih. Dokter pinter bedah, tapi kalau di dapur levelnya masih magang.
"Masih enak kan?" tanyanya penuh harap.
"Enak, Mas. Enak banget. Besok lagi ya masaknya?" godaku.
Dia langsung nyerah, "Enggak. Besok kita beli di luar aja."
Kami ketawa bareng. Pagi pertama yang gak canggung.
Abis itu dia mandi, ganti kemeja putih rapi, jas dokter dilipet di lengan. Gantengnya balik lagi jadi Dokter Arga.
"Put, temenin saya ke RS ya? Cuma bentar. Saya mau kenalin istri saya ke semua suster, biar gak ada Liana-Liana lain lagi yang masuk ruangan saya sembarangan."
Kalimatnya... ya Allah. Pendiem tapi sekalinya posesif, bikin jantung ketinggalan.
Aku pakai salah satu tunik warna-warni yang dia beliin — warna sage yang adem — sama hijab coklat. Pas ngaca, aku pangling. Bukan Putri yang nangis di depan kos Yudha lagi.
Di RS, beneran dia gandeng tanganku di depan lobi. Semua suster bengong.
"Kenalin, ini istri saya, Putri," katanya ke setiap orang yang lewat. Datar, tapi jelas. Bangga.
Suster Liana yang kemarin sinis itu liat kami dari jauh, langsung nunduk dan belok.
Siangnya kami pulang. Sore.
---
SORE. JAM 5.30. HUJAN LAGI.
Langit mendung dari jam 4. Pas kami sampai rumah, hujan turun deres banget lagi.
Kayak deja vu. Persis kayak malam dia terjebak dulu.
Bedanya, sekarang kami udah sah. Gak perlu panik kalau Bapak Ibu tau. Ini rumah kami sendiri.
Aku lagi lipetin baju-baju baru di kamar atas, Arga di bawah bikin teh — masih belajar, tumpah-tumpah.
Tiba-tiba...
JEGLEK.
Mati lampu lagi.
"Mas?" panggilku dari atas.
"Listrik mati lagi, Put! Kayak kemarin!" teriaknya dari bawah, ketawa.
Aku turun bawa lilin kecil. Rumah gelap, cuma suara hujan gede di atap.
Arga udah di sofa, sama posisi kayak malam itu. Bedanya, sekarang gak demam, gak pakai baju basah. Pakai kaos rumah.
Dia liat aku turun pakai tunik sage dan topi putihku yang masih aku pakai habis jalan pagi tadi belum aku lepas.
"Topinya masih dipakai?" godanya.
Aku duduk di sebelahnya. Lilin di meja bikin bayangan kami goyang-goyang di dinding.
Hujan makin deres.
Hening. Tapi hening yang nyaman. Bukan hening canggung kayak dulu.
"Put," panggilnya pelan.
"Hm?"
"Inget gak, 3 hari lalu di sini juga mati lampu. Kamu bilang 'jangan ada moment itu lagi'."
Aku angguk. Malu ingetnya.
"Sekarang..." dia geser duduk, lebih deket. Tangannya pelan-pelan ambil topi putihku, taruh di meja. "Sekarang boleh gak... ada moment itu lagi? Yang sah?"
Aku diem. Jantungku deg-degan lagi, tapi bukan takut.
Aku yang dulu takut dicium, sekarang... malah nunggu.
Aku angguk kecil. Pelan banget, hampir gak keliatan dalam gelap.
Dia ngerti.
Pelan, Arga angkat tangannya, benerin anak rambutku yang keluar dari hijab. Tangannya anget sekarang, gak dingin kayak dulu demam.
Terus dia mendekat. Pelan. Nunggu aku.
Ciuman lagi.
Kali ini beda.
Bukan ciuman kaget, bukan ciuman ragu-ragu kayak malam hujan kemarin. Ini ciuman sah suami istri. Tenang, dalam, hangat. Gak buru-buru. Gak maksa.
Cuma bibir ketemu bibir. Lama. Sampai aku lupa suara hujan.
Aku merinding lagi. Tapi merindingnya beda. Merinding nyaman. Merinding karena akhirnya... aku ngerasa ini rumahku, ini suamiku.
Pas lepas, dahi kami nempel.
"Putri Arga," bisiknya di depan bibirku, napasnya masih di bibirku. "Akhirnya..."
"Akhirnya apa, Mas?"
"Akhirnya Boba-nya gak perlu jadi pembatas lagi."
Aku ketawa kecil di antara ciuman itu. Lilin di meja hampir padam ketiup angin hujan.
Di luar hujan deres. Di dalam mati lampu. Di sofa itu, ada kami berdua, suami istri yang nikahnya cepet banget, seminggu katanya akad.
Dan untuk pertama kalinya, cepetnya itu terasa pas.
Lanjut...
---
PAGINYA. JAM 6 PAGI. SEHABIS MATI LAMPU DAN CIUMAN SAH ITU.
Aku bangun duluan lagi. Tapi kali ini gak jalan pagi.
Aku duduk di depan kaca, pakai salah satu tunik kerja ku yang lama — yang dari sebelum nikah. Tunik putih polos yang biasa aku pakai ngajar les privat di bimbel deket rumah Bapak dulu.
Arga keluar dari kamar mandi, rambut masih basah, handuk di leher. Liat aku rapi pakai tunik kerja, alisnya langsung naik.
"Mau kemana, Put? Pagi-pagi udah cantik gini."
Aku mainin ujung tunikku. Gugup.
"Mas..." aku mulai pelan. "Mas boleh nggak kalau aku kerja lagi?"
Hening.
Arga yang tadinya mau ambil kemeja, berhenti. Natap aku lewat kaca.
"Kerja lagi? Kerja di bimbel itu lagi?" tanyanya.
Aku angguk cepat. "Iya. Cuma 3 kali seminggu, Mas. Sore aja. Aku kangen ngajar. Di rumah terus sepi. Bosen. Lagian..."
"Ngapain kerja, Put?"
Potongannya tegas. Dinginnya balik lagi. Mode Dokter Arga di RS.
"Uang dari saya kurang?"
Deg.
Kalimat itu... jleb. Sakitnya beda sama sinisnya Liana.
Aku langsung bingung. Nunduk.
"Bukan gitu, Mas. Cukup. Lebih dari cukup malah. Baju-baju yang Mas beliin aja belum kepake semua. Cuma... aku pengen punya kesibukan. Pengen punya uang sendiri. Pengen... gak cuma jadi istri yang nungguin di rumah terus."
Arga jalan mendekat. Duduk di tepi ranjang depan aku. Wajahnya serius.
"Putri, dengerin saya ya."
Dia ambil tanganku. Genggam.
"Saya ini dokter jaga IGD. Pulang malem, berangkat pagi. Kadang 24 jam gak pulang. Saya nikahin kamu bukan buat kamu capek-capek ngejar angkot ke bimbel sore-sore sendirian. Saya nikahin kamu biar kamu istirahat. Biar kamu gak pusing mikirin uang les kayak dulu. Tugas kamu di rumah aja udah cukup berat jadi istri saya."
Niatnya baik. Tapi caranya... bikin aku sesek.
Jadi istri tuh tugasnya di rumah aja? Gitu?
"Mas, tapi aku lulusan pendidikan, Mas. Aku suka ngajar. Kalau di rumah terus aku malah... ngerasa gak berguna," bisikku. Mataku udah mulai berkaca-kaca lagi. Cengeng banget emang.
Arga liat aku mau nangis, langsung panik. Nada tegasnya turun 90%.
"Eh, eh, jangan nangis. Saya bukan ngelarang kamu jadi gak berguna, Put. Saya cuma... takut."
"Takut apa?"
"Takut kamu kecapekan. Takut kamu ketemu orang-orang yang aneh-aneh di jalan. Takut... takut kamu nanti lebih betah di bimbel daripada di rumah sama saya."
Lho? Dokter dingin posesif ini ternyata...
Takut ditinggal?
Aku ketawa kecil di sela mau nangis.
"Mas Arga takut aku selingkuh sama murid bimbel?"
"Enggak!" dia ngeles cepat, mukanya merah. "Saya takut kamu capek aja. Kan habis akad kemarin kamu bilang pusing urus undangan. Saya gak mau kamu pusing lagi."
Aku tarik napas. Coba jelasin pelan-pelan, kayak ngajar anak les ku.
"Mas, kalau Mas kasih aku uang banyak tapi aku gak boleh kemana-mana, aku malah pusing di rumah mikirin Mas terus. Mikirin Mas lagi deketin suster Liana lagi apa enggak."
Dia langsung melotot, "Putri Arga!"
"Nah kan, Mas aja gak suka aku mikir gitu. Sama kayak aku, Mas. Aku gak mau cuma nungguin. Aku mau kita sama-sama capek, sama-sama cerita pas pulang. Mas cerita pasien di IGD, aku cerita muridku yang gak bisa perkalian. Kan seru?"
Arga diem lama. Mikir. Ngelus jenggot tipisnya yang baru tumbuh pagi ini.
Akhirnya dia buang napas panjang.
"Put, inget ya..."
Datang lagi.
"Kalau kamu mau kerja, boleh. Tapi ada syaratnya."
Aku langsung duduk tegak. "Apa, Mas?"
"Satu, saya yang antar jemput. Gak ada angkot-angkotan. Dua, kalau saya jaga malem, kamu jangan ambil jadwal malem. Harus di rumah. Tiga..."
Dia natap aku, senyum tipis jahil.
"Tiga, gajinya jangan lebih gede dari gaji saya. Nanti saya minder jadi suami."
Aku ngakak. Kenceng banget sampe perut sakit.
"Mas! Mana ada gaji guru les lebih gede dari gaji dokter!"
"Siapa tau murid kamu anak menteri semua," katanya santai, tapi tangannya udah ngambil topi putihku kemarin dan dipakein lagi ke kepalaku.
"Oke, deal ya? Boleh kerja lagi. Tapi nanti siang saya anterin daftar ulang ke bimbelnya. Biar kepala bimbelnya tau, guru favoritnya ini udah ada yang punya. Istri dokter Arga."
Aku loncat peluk dia. Spontan. Pertama kalinya aku yang peluk duluan.
"Makasih ya, Mas!"
Dia kaget dipeluk, terus balas peluk erat. Ketawa.
"Ya ya ya, sama-sama, Putri Arga yang tukang ngajar. Asal jangan lupa, pulangnya tetap sama saya ya."
Selalu kalimat itu.
Pulangya tetap sama saya ya.
Lanjut...
---
Hingga suatu hari...
Sebulan setelah akad.
Sebulan jadi Putri Arga yang beneran. Bukan cuma tinggal serumah, bukan cuma peluk di sofa pas mati lampu, bukan cuma ciuman sah di dapur.
Tapi beneran jadi suami istri. Sepenuhnya.
Malam itu gak ada hujan. Gak ada mati lampu. Gak ada drama.
Cuma ada aku yang akhirnya bilang sendiri, pelan banget di telinga Mas Arga: "Mas, boleh..."
Dan dia yang biasanya dingin, pendiem, tegas itu, malam itu hati-hati banget. Pelan banget. Nanyain terus, "Sakit gak, Put? Mau lanjut? Mau berhenti dulu?"
Gak ada paksaan sama sekali. Cuma ada aku yang akhirnya nangis bukan karena takut, tapi karena ngerasa... utuh jadi istrinya.
Abis itu kami tidur pelukan. Tanpa Boba di tengah.
---
2 MINGGU KEMUDIAN.
Aku telat.
Telat 5 hari.
Aku yang biasanya tanggal 10 udah dapet, sekarang tanggal 15 belum ada tanda-tanda.
Awalnya aku cuek. Mungkin kecapekan habis ngajar di bimbel, mungkin stres adaptasi jadi istri.
Tapi hari ke-7, aku mulai takut.
Takut telat. Takut macem-macem.
Takut... hamil?
Kami baru nikah sebulan. Aku baru aja boleh kerja lagi. Baju-baju warna-warni yang Mas beliin aja baru setengah kepake. Kami masih belajar jadi suami istri yang gak berantem gara-gara telur gosong.
Kalau hamil sekarang gimana?
Aku jadi bolak-balik ke kamar mandi. Ngecek terus. Ngitung kalender di HP.
Arga pulang IGD jam 9 malam, liat aku duduk di lantai kamar mandi, meluk lutut, pucat.
"Put? Kamu kenapa? Sakit perut?" Dia langsung jongkok, panik. Mode dokter on.
Aku geleng. Nangis.
"Mas... aku takut..."
"Takut apa? Pusing? Mual?"
"Aku telat, Mas... seminggu..."
Arga diem. Langsung ngerti.
Dia gak langsung heboh kayak di sinetron. Dia duduk di sebelahku di lantai kamar mandi yang dingin itu. Peluk aku dari samping.
"Udah tes?" tanyanya pelan.
Aku geleng. "Takut, Mas. Kalau beneran gimana? Aku belum siap jadi ibu. Mas masih jaga IGD terus, aku masih ngajar..."
Dia elus punggungku pelan-pelan. Napasnya teratur.
"Putri, dengerin Mas ya."
Kalimat keramatnya lagi.
"Kalau beneran telat karena hamil, itu bukan musibah, Put. Itu rezeki kita. Rezeki sah suami istri. Kita hadepin bareng. Kalau belum siap, kita belajar siapnya bareng lagi, kayak kemarin belajar jadi suami istri."
"Tapi Mas... aku takut macem-macem. Takut nanti gak bisa kerja lagi, takut Mas gak bolehin lagi, takut—"
"Ssshhh..." dia potong halus, terus kecup keningku. "Yang Mas takutin bukan kamu hamil. Yang Mas takutin tuh kamu takut sendirian, gak bilang ke Mas."
Dia berdiri, ambil sesuatu dari tas dokternya.
Testpack. Dua. Masih baru.
"Mas beli tadi di apotek depan RS. Tadi siang Mas liat kamu bolak-balik kamar mandi, ngitung kalender terus. Mas udah curiga."
Aku bengong. Dokter dingin ini peka banget ternyata.
"Jadi... kita tes bareng sekarang? Atau besok pagi biar lebih akurat?" tanyanya.
Aku peluk dia erat di lantai kamar mandi itu.
"Besok pagi aja, Mas... temenin ya?"
"Temenin. Selalu. Pulangnya kan tetap sama saya, inget?"
Malam itu kami tidur gak nyenyak. Aku masih takut. Tapi takutnya beda.
Bukan takut sendirian lagi.
Karena ada Mas Arga yang peluk aku semaleman sambil bisik, "Apapun hasilnya besok, kita tetap Putri Arga ya."
Akhir cerita...
---
3 TAHUN KEMUDIAN.
Rumah yang dulu sepi itu sekarang rame.
Bukan rame karena tenda lamaran lagi. Tapi rame karena ada suara kecil lari-lari pakai kaos pink dan topi putih kebesaran.
"Mama! Mama! Boba jatuh!"
Aku yang lagi ngoreksi tugas murid bimbel di meja makan, langsung noleh.
Di ruang tengah, ada anak perempuan kecil umur 2,5 tahun. Rambutnya dikuncir dua, pipinya bulat kayak Boba. Pakai kaos pink yang dulu pernah aku pakai buat jalan pagi pertama kali jadi istri.
Itu kaosnya masih muat di dia, jadi dress.
Namanya Arbina Putri Arga.
Arbina. Dari Arga dan Putri. Bina yang artinya dibina dengan cinta.
Anak perempuan kami.
Hasil dari telat seminggu yang dulu bikin aku nangis di lantai kamar mandi itu.
Ternyata hasilnya... garis dua.
Dan Arga, dokter dingin yang pas liat testpack garis dua itu, nangis. Pertama kalinya aku liat dia nangis. Bukan netes, tapi sesenggukan di lantai kamar mandi sambil meluk aku erat.
"Put, kita jadi Bapak Ibu..." katanya malam itu.
Sekarang, Arbina lagi narik-narik boneka Boba yang udah buluk, yang dulu jadi saksi pertama kami.
Di pintu, suara motor gede masuk pagar.
Arga pulang. Masih pakai kemeja putih, jas dokter di lengan, muka capek habis jaga IGD.
Begitu liat Arbina lari pakai topi putih kebesaran, capeknya hilang.
"Bapak!" Arbina lari.
Arga langsung jongkok, tangkep anaknya, gendong tinggi.
"Wah, siapa nih pakai topi Bapak? Cantik banget kayak Mamanya pas pertama kali jalan pagi dulu."
Aku senyum dari meja makan. Ngeliat pemandangan yang dulu gak pernah aku bayangin.
Dulu aku mikir perjodohan ini bakal jadi neraka. Dipaksa nikah sama dokter dingin yang pendiem, yang susah banget buat bilang enggak sekalinya ngomong serius.
Ternyata...
Ternyata dia gak pernah maksa aku jadi apa-apa. Dia cuma maksa satu hal dari awal sampai sekarang.
"Inget ya, Put... pulangnya tetap sama saya."
Dan aku pulang. Beneran pulang.
Sekarang, di rumah yang tadinya dia siapin penuh baju warna-warni buat aku, sekarang ada lemari kecil tambahan penuh baju warna-warni juga — tapi ukuran 2 tahun.
Arga jalan ke aku sambil gendong Arbina.
"Gimana murid-murid Mama hari ini, Bin?" tanya Arga ke anaknya.
Arbina jawab cadel, "Murid Mama nakal! Kayak Bapak!"
Kami ngakak bareng.
Malam itu, hujan turun lagi. Deres.
Tapi listrik gak mati.
Di sofa yang sama kayak 3 tahun lalu pas kami pertama kali mati lampu, sekarang kami duduk bertiga. Aku nyender di bahu Arga, Arbina tidur di pangkuan kami, peluk Boba yang udah sobek lagi.
"Mas," bisikku.
"Hm?"
"Makasih ya, udah nahan ciuman dewasa itu dulu, sampai aku yang minta sendiri."
Arga ketawa kecil, terus kecup keningku, terus kening Arbina.
"Sama-sama, Putri Arga. Makasih juga udah mau pulang terus sama dokter dingin ini."
Di luar hujan deres. Di dalam anget.
Tamat.
---