Fika, 22 tahun, baru pulang kerja, masih pake seragam kerja kusut, rambut diikat asal.
Kamu buka pintu, dan langsung freeze.
Di ruang tamu rumahmu, ada Bapak sama Ibu duduk rapi. Terlalu rapi. Ibu senyumnya ditahan-tahan, Bapak mukanya serius tapi salah tingkah.
Dan di tengah-tengah mereka...
Pak Tio.
Kemeja putih rapi, celana bahan. Bukan kaos oblong dan gaya galaknya dulu waktu ngajar. Rambutnya lebih pendek.
Guru killer yang dulu tiap kamu telat 5 menit langsung disuruh berdiri di depan kelas sambil hafalan itu.
Kamu: "Loh ada pak guru??"
Pak Tio langsung berdiri, salting parah. Yang biasanya suaranya ngebass bikin satu kelas diam, sekarang malah gagap.
"E-eh Fika. Udah pulang."
Bapak kamu langsung nimbrung: "Sini dulu, Fik. Duduk. Pak Tio dari tadi nungguin kamu."
Kamu duduk di ujung sofa, masih bingung. Tas kerja aja belum dilepas.
Ibu kamu yang buka suara, pelan: "Jadi gini lho, Nak... Pak Tio kesini mau silaturahmi. Katanya... mau lebih deket sama kamu."
BINGUNG X1000.
Pak Tio yang dulu kamu sebelin karena hobinya ngasih tugas mendadak dan komen "Tulisan kayak ceker ayam, Fika!" di buku tugasmu, sekarang nunduk, kupingnya merah.
Dia akhirnya ngomong: "Maaf ya kalau dulu Bapak nyebelin. Waktu kamu kelas 12 dulu... jujur Bapak sengaja perhatiin kamu terus."
"Soalnya kalau nggak digituin, kamu nggak bakal noleh."
Oke oke, paham. Fika mode ON: senyum kecut, ngeselin, susah diajak serius.
---
Ibu kamu: "Fika, dengerin dulu Pak Tio ngomongnya..."
Kamu yang masih berdiri di depan pintu, tas kerja masih nyantol di bahu satu, langsung senyum kecut khas kamu.
Fika: "Ohhh... jadi ini toh balas dendamnya Pak? Dulu saya dihukum ngerjain soal di papan tulis sampai tangan kram, sekarang giliran Bapak yang dihukum suruh duduk di depan Bapak saya?"
Pak Tio: "..."
Bapak kamu langsung batuk. "Fika!"
Pak Tio yang mukanya udah merah makin merah. "Bukan begitu, Fika. Bapak-"
Fika: "Bapak apa? Bapak Tio? Atau udah ganti jadi Pak Tio calon... apa tadi bu? Silaturahmi?"
Kamu duduk, tapi sengaja duduknya jauh, ambil bantal sofa dipeluk kayak tameng.
Fika: "Maaf ya Pak, saya baru pulang kerja. Capek. Kirain di rumah ada maling, ternyata ada guru yang kesasar. Bapak nyasar ya Pak? Sekolah kan udah tutup jam 3."
Ibu kamu nginjek kaki kamu dari bawah meja. Kode keras: JAGA SIKAP!
Pak Tio malah ketawa kecil, napas lega. Dia udah hafal gaya kamu.
Pak Tio: "Nah ini. Ini Fika yang Bapak kenal. Kalau kamu udah diam dan serius, Bapak malah takut."
Fika: "Ih, Bapak ini. Dulu bilangnya saya berisik, sekarang kalau saya diam malah ditakutin. Maunya apa sih Pak?"
Pak Tio ngelirik Bapak kamu, minta bantuan.
Bapak: "Fika, Pak Tio ini katanya udah lama perhatiin kamu. Dari lulus sampai kamu kerja sekarang."
Fika: "Lama? Berapa lama Pak?"
Pak Tio: "Dua tahun."
Fika langsung melotot kocak: "DUA TAHUN? Pak, dua tahun itu saya bisa kredit motor lho! Bapak ngapain aja dua tahun? Ngestalk Instagram saya? Kepo story saya dilihat mulu ya? Ketahuan lho Pak, second account Bapak yang namanya @tioganteng_33 itu!"
Pak Tio SPILL TEH. Langsung keselek air minum.
Pak Tio: "KOK KAMU TAU?!"
Fika: "Ya tau lah. Masa guru ekonomi fotonya cuma foto langit sama quote 'kerja keras'. Nggak meyakinkan, Pak."
Satu ruang tamu ngakak, bahkan Bapak kamu yang tadi serius jadi ngakak.
Pak Tio yang tadinya tegang, sekarang malah nyerah. Dia senyum, senyum yang beda dari senyum guru killer dulu.
Pak Tio: "Ya makanya Bapak kesini. Kalau cuma diliatin dari Instagram terus, kamu nggak bakal tau. Bapak serius, Fik."
Dan kamu... yang tadinya ngeselin dan ketawa-tawa, tiba-tiba diem sedetik.
Senyum kecut kamu masih ada, tapi agak goyah.
Srekkk.
Kamu tarik napas panjang banget. Panjang yang sampai kedengeran satu ruang tamu.
Fika: "Hhhh..."
Senyum kecutnya hilang.
Fika: "Udah ya, Pak, Bu. Fika capek. Baru pulang kerja, belum ganti baju, belum mandi. Nggak mau bahas-bahas ini dulu."
Ibu: "Fik, tapi Pak Tio udah jauh-jauh kesini-"
Fika: "Besok aja, Bu. Ya?"
Kamu nggak nunggu jawaban. Tas kerja kamu seret, sandal rumah kamu teplek-teplek, langsung masuk kamar.
KLEK. Pintu dikunci. Pelan, tapi jelas.
Hening di ruang tamu.
Tinggal Pak Tio yang masih megang gelas teh yang belum diminum, sama Bapak Ibu kamu yang saling lirik.
Bapak yang pertama buka suara, agak nggak enak.
Bapak: "Maaf ya, Tio. Anaknya emang gitu. Kalau capek, nggak bisa diajak ngomong apa-apa."
Pak Tio langsung geleng cepet: "Nggak apa-apa, Pak. Saya yang nggak sopan, datang tiba-tiba. Seharusnya saya tanya dulu jam kerja Fika."
Ibu malah jadi curhat: "Dia tuh gitu, Tio. Dari dulu. Susah ditebak. Dibilangin A, jawabnya Z. Makanya dulu waktu sekolah sering dimarahin Bapak kan?"
Pak Tio ketawa, tapi ketawanya getir.
Pak Tio: "Justru itu, Bu. Dulu saya marahin dia terus karena... saya nggak tau cara merhatiinnya gimana. Kalau saya diemin, dia malah makin nggak kelihatan. Kalau saya jahilin, minimal dia ngelirik saya, kesel juga nggak apa-apa."
Bapak: "Wah, jadi dari dulu udah?"
Pak Tio: "Dari kelas 12 semester 2, Pak. Tapi kan nggak mungkin waktu itu. Dia masih murid saya. Jadi saya tahan. Saya tunggu dia lulus, kuliah, kerja... saya kira kalau udah 22, saya udah pantes buat datang."
Ibu nghela napas: "Pantes anaknya kaget. Lah wong dia nganggep Bapak masih jadi guru killer-nya."
Di dalam kamar, kamu udah ganti kaos oblong, duduk di lantai, punggung nempel ke pintu. Kedengeran samar-samar suara mereka ngobrolin kamu.
Kamu denger Pak Tio bilang pelan: "Saya nggak maksa kok, Bu, Pak. Kalau Fika nggak mau, saya nggak akan ganggu lagi. Saya cuma mau dia tau aja... kalau yang dulu nyebelin itu, sekarang nungguinnya beneran."
Hening lagi.
Terus Bapak kamu nyeletuk, kocak bapak-bapak banget:
Bapak: "Nungguin sih nungguin, Tio. Tapi anak saya itu kalau lapar, lebih galak dari kamu waktu ngajar. Kamu udah siap?"
Pak Tio: "..."
Pagi. Jam 6.45.
Fika buru-buru, rambut masih agak basah, kemeja kerja belum masuk semua, sambil nyari kunci motor di tas.
Di depan gerbang kosan - eh, rumah - ada motor NMAX hitam yang udah standby dari tadi.
Pak Tio. Pakai kemeja kotak-kotak, bukan kemeja guru. Di tangannya ada kotak bekal bening, masih anget. Ada embunnya.
Fika langsung ngerem langkah. Senyum kecutnya auto kepasang lagi.
Fika: "Lah. Pak guru piket pagi?"
Pak Tio: "Nggak. Ngantar bekal."
Fika: "Buat siapa?"
Pak Tio nyodorin kotak itu: "Buat kamu. Tadi Ibu kamu bilang kamu sering nggak sempet sarapan. Ini Ibu kamu yang masak ding, tapi Bapak yang-"
Fika nggak ambil. Mundur selangkah.
Fika: "Pak, jangan gitu lah. Cari yang lain aja yang seumuran!"
Nada kamu setengah bercanda, setengah serius. Capek.
Pak Tio diem. Kirain bakal nyerah, bakal bilang "oh ya udah maaf".
Enggak.
Dia malah buka tutup bekalnya di depan muka kamu.
Ayam goreng, telur balado, nasi masih ngebul, plus sambel dipisah plastik kecil.
Pak Tio: "Yang seumuran nggak bisa masakin ayam goreng seenak Ibu kamu jam 5 pagi, Fik. Tadi Bapak bantuin ngulek sambel."
Fika: "Ih apaan sih!"
Pak Tio: "Terus yang seumuran mana ada yang tahan dimarahin kamu tiap hari? Bapak udah pengalaman. Dua tahun di kelas, diacuhin, dicemberutin, dilempar penghapus papan tulis juga pernah - sama kamu."
Fika: "Itu kepeleset, Pak!"
Pak Tio senyum, senyum jahilnya balik. Senyum guru killer yang dulu bikin kamu sebel.
Pak Tio: "Makanya. Kalau kamu suruh Bapak cari yang lain, Bapak nggak mau. Yang lain nggak se-ngeselin kamu. Nggak seru."
Dia nggak maksa bekalnya ditaruh di tangan kamu. Dia taruh aja di atas jok motor kamu.
Pak Tio: "Bapak taruh sini ya. Kalau kamu nggak mau, kasih aja ke kucing. Tapi sayang, ayamnya dua."
Terus dia naik motornya, helmnya belum dikunci.
Pak Tio: "Hati-hati di jalan, Fika. Jangan ngebut. Nanti telat, dihukum lagi lho."
Fika: "BAPAK!!"
Pak Tio udah ngegas pelan-pelan, sambil ngakak. Kocak. Ngeselin. Dulu jadi guru nyebelin, sekarang jadi tukang nganter bekal yang lebih nyebelin.
Kamu ngeliatin kotak bekal itu. Masih anget.
Diambil nggak ya?
Siang di kantor.
Kotak bekal itu akhirnya kamu bawa. Gengsi sih, tapi sayang ayam gorengnya. Masih anget pas kamu taruh di tas.
Jam istirahat, di pantry.
Temen kamu, Dita, ngeliatin bekal kamu: "Wih Fik, bekal sultan? Ayamnya dua!"
Fika dengan muka tanpa dosa: "Nih buat kamu aja, Dit. Aku lagi diet."
Dita: "Serius?!"
Fika: "Serius. Ambil."
Dita heboh buka bekal kamu, foto dulu buat story. Kamu dengan santainya ngambil bekal Dita yang isinya cuma nasi + nugget + mie goreng.
Dita: "Loh kamu makan apa?"
Fika sambil nyuap nugget Dita: "Ini. Punya kamu. Tukeran nasib."
Dita: "Kamu aneh banget deh!"
Kamu ngunyah sambil senyum kecut. "Enak kok nuggetnya."
Padahal di hati kecil, ayam goreng tadi... wangi banget.
---
Sore. Jam 5.30.
Langit Malang tiba-tiba hitam. Pas kamu baru keluar gerbang kantor, BYUR.
Hujan deres. Deres banget yang sampai jarak 3 meter aja nggak kelihatan.
Kamu nggak bawa jas hujan. Motor kamu kehujanan di parkiran.
Akhirnya kamu neduh di halte kecil dekat perempatan Suhat. Udah penuh sama tukang ojek sama anak sekolah.
Kamu meluk tas, kedinginan.
Terus dari ujung halte, ada suara yang udah hafal banget.
"Dituker ya bekalnya?"
Kamu noleh.
Pak Tio. Jas hujannya basah setengah, rambutnya berantakan kena hujan. Di tangannya ada dua teh anget plastik.
Fika: "ASTAGFIRULLAH PAK TIO LAGI?! Bapak ngikutin saya ya?!"
Pak Tio: "Ngikutin gimana? Bapak dari tadi neduh di sini. Rumah Bapak lewat sini. Bapak lihat motor kamu tadi lewat ngebut, eh mogok neduh di sini."
Dia nyodorin satu teh anget.
Pak Tio: "Nih. Biar nggak masuk angin. Nanti kalau kamu sakit, Ibu kamu nyalahin Bapak lagi."
Fika mau nolak, tapi tangan kamu udah dingin banget. Akhirnya diambil, tapi tetep ngeselin.
Fika: "Pak, tau nggak? Ayam Bapak tadi dimakan Dita."
Pak Tio: "Tau."
Fika: "Kok tau?!"
Pak Tio: "Dita nge-story. Di-tag ke kamu. Caption-nya 'dapat rezeki ayam dari calon'."
Fika langsung pengen ngilang ditelan bumi.
Fika: "Terus Bapak nggak marah?"
Pak Tio duduk di sebelah kamu, jaraknya dijaga, nggak nempel. Dia ngeliatin hujan.
Pak Tio: "Ngapain marah? Berarti bekal Bapak kepake. Kalau kamu makan nugget Dita sampai habis, berarti kamu kenyang. Itu aja udah cukup."
Hujan makin deres. Angkot nggak ada yang lewat. Halte makin sepi, tinggal kalian berdua sama bapak tukang cilok di ujung.
Fika tarik napas. Kali ini nggak panjang, cuma pelan.
Fika: "Pak, Fika tuh masih bingung. Dulu Bapak galak banget sama Fika. Sekarang kok gini."
Pak Tio nggak langsung jawab. Dia mainin teh angetnya.
Pak Tio: "Dulu Bapak galak karena Bapak guru. Sekarang Bapak begini karena Bapak bukan guru kamu lagi, Fik. Sekarang cuma Tio. Yang lagi coba deketin kamu, dengan cara yang paling nggak pinter."
Kamu diem. Hujan masih deres. Tehnya anget di tangan.
Hujan masih deres. Suara airnya keras banget di atap halte seng.
Teh anget tinggal setengah.
Pak Tio ngeliatin jalanan yang banjir tipis-tipis, terus ngomong pelan. Terlalu pelan buat ukuran orang yang biasanya ngomong lantang di kelas.
Pak Tio: "Fik."
Fika: "Apa lagi Pak."
Pak Tio: "Bapak 33."
Fika: "Tau."
Pak Tio: "Kamu 22."
Fika: "Tau juga."
Pak Tio: "Jadi Bapak nggak punya waktu banyak buat main-main lagi. Kalau suka, ya Bapak maunya serius."
Fika langsung manyun. Manyun yang bibirnya maju 2 senti.
Fika: "Tuh kan. Tuh kan mulai."
Pak Tio bingung: "Mulai apa?"
Fika: "Mulai ngomongin nikah. Pasti abis ini ngomongin nikah kan? Aku hafal. Bapak-bapak kalau udah umur segini ngomongnya gitu terus."
Pak Tio: "Loh, Bapak belum ngomong nikah-"
Fika motong, manyunnya makin jadi: "Pasti mau ngomong 'Bapak udah siap nikah, Bapak cari istri yang blablabla'. Pak, aku tuh baru 22 lho Pak. Kerja aja baru 7 bulan. Ngekos aja belum pernah, masih numpang orang tua. Disuruh nikah?"
Kamu nyilangin tangan. Teh angetnya kamu taruh.
Pak Tio panik. Yang tadinya mau keliatan dewasa dan siap, malah jadi salah ngomong.
Pak Tio: "Bukan! Bukan maksa nikah sekarang, Fika. Astaga. Bapak tuh-"
Fika manyun: "Terus apa?"
Pak Tio garuk kepala yang basah: "Maksud Bapak... Bapak kalau deketin orang, nggak buat pacaran lama-lama putus-putus gitu. Bapak tuh kalau udah suka, mikirnya langsung jauh. Mikirnya... bisa nggak ya orang ini diajak hidup bareng nanti. Gitu."
Fika: "Ya itu nikah namanya Pak!"
Pak Tio: "Iya tapi bukan besok! Bukan minggu depan! Ya ampun Fika."
Kamu masih manyun. Tapi manyun kamu tuh bukan marah beneran, manyun ngeselin.
Fika: "Aku nggak mau dengerin soal nikah-nikah. Pusing. Aku aja milih makan siang aja masih bingung antara nugget sama ayam goreng."
Pak Tio diem sebentar. Terus dia ketawa. Akhirnya ngerti.
Pak Tio: "Ya udah."
Fika: "Ya udah apa?"
Pak Tio: "Ya udah nggak usah bahas nikah. Kita bahas nugget aja. Tadi nuggetnya Dita enak?"
Fika kaget ditanya gitu. Manyunnya kendor dikit.
Fika: "Enak. Agak keasinan sih."
Pak Tio: "Besok Bapak bikinin nugget yang nggak keasinan. Nggak usah mikirin nikah. Mikirin besok sarapan apa aja."
Kamu ngelirik dia.
Fika: "Pak Tio tuh ya..."
Pak Tio: "Apa?"
Fika: "Ngeselin. Tetep ngeselin kayak dulu. Cuma sekarang versi beda."
Hujan udah agak reda. Jadi gerimis.
Pak Tio berdiri, ngibasin jas hujannya.
Pak Tio: "Ayo, Bapak anterin sampai motor kamu. Nanti kamu kehujanan lagi, manyunnya makin panjang."
Fika berdiri juga, masih manyun tapi udah nggak sejutek tadi. Malah ngedumel kecil:
Fika: "Jangan anterin. Nanti dikira bapakku lagi."
Pak Tio: "Biarin. Biar dikira bapak kamu beneran."
Fika: "PAK!!"
Dan kalian jalan berdua di bawah satu jas hujan kebesaran, rebutan jalan biar nggak kecipratan genangan, masih adu mulut terus sampe ke parkiran.
Gerimis. Jalanan becek. Jas hujan Pak Tio yang kebesaran itu cuma satu, dipaksa buat berdua. Alhasil bahu kamu basah sebelah.
Fika ngedumel sepanjang jalan, nggak berhenti.
Fika: "Dibilangin jangan nganterin ngeyel! Ngeyel banget sih jadi orang!"
Pak Tio jalan santai aja di sebelah kamu, sejajar. Nggak di depan, nggak di belakang. Pas di sebelah.
Pak Tio: "Ngeyel itu bakat, Fik."
Fika: "Bakat apaan!"
Pak Tio: "Bakat dari dulu. Muridnya juga ngeyel. Gurunya ketularan."
Fika manyun lagi: "Aku tuh bisa sendiri, Pak. Motor aku di situ tuh, deket. Ngapain dianterin."
Pak Tio: "Iya tau bisa sendiri. Tapi jalannya licin. Kalau kepeleset gimana?"
Fika: "Ya nggak bakal kepeleset!"
Baru ngomong gitu, sandal kamu selip genangan. Sreett.
Fika: "WOAH-"
Pak Tio langsung nahan lengan kamu, cepet. Nggak narik kenceng, cuma nahan biar nggak jatuh.
Hening sedetik. Tangan dia masih di lengan kamu.
Kamu sama dia sama-sama diem.
Terus kamu langsung tepis, ngeselin lagi.
Fika: "Tuh kan! Makanya jangan jalan sejajar! Ganggu!"
Pak Tio malah ngakak, lepasin tangannya.
Pak Tio: "Salahin jalan dong, jangan Bapak. Jalanannya yang licin, bukan Bapak yang licin."
Fika: "Bapak yang licin mulutnya!"
Pak Tio: "Ya udah maaf, mulut licin."
Kalian udah sampai di parkiran motor. Motor kamu basah kuyup. Joknya masih ada bekas kotak bekal tadi pagi yang udah kosong.
Pak Tio ngeliatin motor kamu, terus ngeliatin kamu yang masih ngedumel sambil ngelap jok pakai tisu yang udah lecek.
Pak Tio: "Fika."
Fika: "Apa lagi sih Pak!"
Pak Tio: "Kamu kalau ngedumel terus gitu capek nggak?"
Fika berhenti ngelap jok, noleh: "Capek lah!"
Pak Tio: "Ya udah, jangan dipaksain ngedumel terus. Sekali-sekali diem aja juga nggak apa-apa. Bapak dengerin kok."
Kamu diem. Kunci motor kamu masih di tangan, belum dicolok.
Hujannya tinggal rintik-rintik kecil.
Fika suaranya akhirnya kecil, nggak ngedumel lagi, cuma ngedumel versi low battery:
Fika: "Pak Tio tuh... kalau dibilangin jangan, malah dilakuin. Ngeselin."
Pak Tio senyum. Senyum yang udah nggak jaim jadi guru lagi.
Pak Tio: "Soalnya kalau Bapak nurut kata 'jangan' kamu terus, Bapak nggak bakal pernah jalan di sebelah kamu kayak gini."
Dia mundurin langkah satu, ngasih ruang.
Pak Tio: "Udah, sana pulang. Hati-hati. Sampai rumah kabarin Ibu kamu, jangan kabarin Bapak. Bapak nggak mau dimanyunin lagi malam ini."
Fika: "Ih siapa juga yang mau ngabarin Bapak!"
Padahal helm kamu udah kepasang, tapi kamu masih berdiri di situ. Nggak langsung ngegas.
Kamu nggak kuat. Langsung muter balik, bawa Yumna masuk kamar.
Tek pintu kamar kamu tutup. Nggak dikunci, tapi ditutup kenceng.
Di dalam, kamu duduk di pinggir kasur, Yumna masih di gendongan, matanya udah ngantuk-ngantuk. Kamu goyang-goyangin pelan.
Minggu pagi. Jam 9.
Matahari Malang lagi enak-enaknya. Depan rumah kamu lagi rame.
Fika lagi berdiri depan pagar, daster rumahan, rambut diikat asal, gendong Yumna.
Yumna, ponakan kamu, anaknya Mbak Sari. Umur baru 4 bulan, pipinya bulet, baru bisa bubbling "a... a..." sambil ngemut jari. Kamu gendongnya masih kaku, takut salah.
Mbak Sari di dalam lagi bikin susu, teriak dari dapur: "Fik, jangan diguncang-guncang!"
Fika: "Iya iya, nggak!"
Kamu goyang-goyangin Yumna pelan-pelan.
Terus dari ujung gang, ada motor NMAX hitam yang udah hafal banget suaranya.
Pak Tio.
Pakai kemeja batik, celana bahan, bawa tentengan plastik gede isinya buah-buahan. Apel, jeruk, anggur. Buat Bapak Ibu kamu.
Dia ngerem depan rumah. Liat kamu.
Kamu: bengong. Langsung bengong. Yumna aja ikut bengong ngeliatin Pak Tio.
Belum sempet kamu ngomong, pintu rumah langsung kebuka.
Bapak: "Eh Tio! Masuk, masuk!"
Ibu: "Wah repot-repot bawa buah!"
Mbak Sari keluar sambil lap tangan: "Loh Pak Tio!"
Kakak ipar kamu, Mas Bayu, juga ikut keluar, salaman.
Semua orang nyambut. Salaman, ketawa, heboh ngobrolin buahnya.
Cuma kamu yang masih berdiri di depan pagar, gendong Yumna, bengong. Dastermu masih ada bekas gumoh Yumna di bahu.
Pak Tio salaman sama semua orang, terus dari kejauhan, matanya ngelirik kamu yang lagi gendong Yumna yang pipinya bulet itu.
Terus dia nyeletuk, pelan tapi semua orang denger:
Tio: "Cocok."
Fika: "Hah?"
Satu gang langsung hening sedetik.
Bapak kamu langsung batuk: "Uhuk!"
Mbak Sari langsung: "HAH? Cocok apa Pak Tio?"
Mas Bayu udah senyum-senyum godain.
Pak Tio santai banget, naruh buahnya di meja teras, terus ngomong sambil senyum jahilnya keluar lagi:
Tio: "Cocok digendong. Yumna-nya anteng kalau digendong Fika. Nggak nangis."
Padahal jelas-jelas semua orang tau maksud "cocok" yang satunya.
Fika langsung manyun, pipinya merah. Yumna yang di gendongan malah ketawa "ahehehe" nggak ngerti apa-apa.
Fika ngedumel kenceng, biar semua denger:
Fika: "Cocok apanya! Orang gendongnya aja masih kaku kayak bawa bom! Mbak, nih anakmu ambil lagi! Aku nggak cocok!"
Mbak Sari ngakak: "Loh katanya tadi mau belajar jadi tante siaga? Sekarang udah ada yang nilai cocok tuh!"
Fika: "MBAK!!"
Kamu mau masuk rumah, tapi Yumna di gendongan kamu malah makin anteng, kepalanya nempel di bahu kamu yang ada bekas gumohnya.
Pak Tio duduk di teras, ngobrol sama Bapak, tapi matanya nggak bisa bohong, ngelirik kamu terus.
Fika: "Yumna, jangan dengerin om-om di depan itu ya. Om-omnya ngeselin."
Yumna: "A... bu..."
Belum ada 10 detik, pintu kamar diketok.
Mbak Sari nyelonong masuk.
Mbak Sari: "Fikaaa..."
Fika: "Mbak jangan mulai deh!"
Mbak Sari langsung duduk di sebelah kamu, senyumnya udah mode kakak yang mau godain adiknya sampe nangis.
Mbak Sari: "Ih, cocok tau. Sumpah."
Fika: "Apanya yang cocok!"
Mbak Sari ngelirik Yumna yang udah merem di gendongan kamu: "Lihat tuh, Yumna aja betah. Biasanya digendong orang baru 5 menit nangis. Ini sama kamu anteng."
Fika manyun: "Soalnya aku diem, Mbak. Kalau aku ngomong, dia juga nangis."
Mbak Sari makin deket: "Terus tadi Pak Tio bilang cocok. Kamu manyunnya sampe merah gitu. Kenapa? Salting ya?"
Fika: "Enggak! Siapa yang salting! Orang dia tiba-tiba dateng bawa buah kayak mau lamaran!"
Mbak Sari: "Ya emang mau lamaran kali?"
Fika langsung melotot: "MBAK SARI!!"
Mbak Sari ngakak pelan biar Yumna nggak bangun: "Hehehe. Eh tapi serius, Fik. Mas Bayu aja tadi di depan bilang, Pak Tio tuh sopan lho. Tadi ngobrol sama Bapak, katanya nggak maksa apa-apa. Cuma bilang mau kenal lebih deket aja. Bapak kamu malah suka."
Fika diem. Ngelus punggung Yumna pelan.
Fika: "Tapi cepet banget, Mbak. Aku masih bingung."
Mbak Sari suaranya jadi pelan, nggak godain lagi: "Ya nggak usah buru-buru dipikirin nikah-nikahnya. Dipikirin aja orangnya enak diajak ngobrol nggak. Kalau ngeselinnya masih kayak guru dulu, ya tinggalin. Tapi kalau ngeselinnya udah beda..."
Fika: "Beda gimana?"
Mbak Sari: "Ngeselin yang bikin kangen. Kayak Mas Bayu dulu."
Di luar, di teras depan.
Tio duduk di antara Bapak kamu sama Mas Bayu. Buahnya udah dikupas Ibu.
Bapak: "Jadi, Tio, kamu serius sama Fika?"
Mas Bayu nyamber, iseng: "Serius dong Pak, buktinya tiap minggu kesini terus. Kemarin bawa bekal, sekarang bawa buah. Besok bawa apa Pak Tio? Bawa KUA sekalian?"
Tio keselek jeruk.
Tio: "Mas Bayu... jangan gitu. Saya malu."
Bapak ketawa: "Nggak apa-apa. Bapak liat aja dulu. Anak saya itu susah, Tio. Kamu harus sabar."
Tio ngelirik ke arah kamar kamu yang pintunya ketutup.
Tio: "Saya tau, Pak. Makanya saya di depan aja. Biar Fika di dalam yang tenang dulu sama Yumna. Saya nggak mau ganggu."
Mas Bayu bisik-bisik: "Cocok lho Pak, tadi Fika gendong Yumna. Cocok jadi..."
Bapak langsung timpuk kacang ke Mas Bayu: "Kamu jangan manas-manasi!"
Di dalam kamar, kamu masih gendong Yumna yang udah bobo pules. Mbak Sari udah keluar lagi, ninggalin kamu sendiri.
Di luar ada Pak Tio yang masih nungguin di teras, nggak berani ngetok kamar kamu.
Jam 11 siang. Matahari udah agak nyengat.
Mbak Sari sama Mas Bayu pamit pulang. Yumna yang udah bangun tidur, dibedong lagi sama Mbak Sari, masih ngantuk.
Mbak Sari sempet bisik ke kamu pas salaman di teras:
Mbak Sari: "Fik, jangan digalakin terus. Kasihan buahnya."
Fika: "Mbak ah!"
Mas Bayu salaman sama Pak Tio, sempet bisik juga: "Semangat Pak Guru!"
Pak Tio cuma senyum kaku. Salting.
Motor Mbak Sari pergi. Rumah jadi sepi lagi. Bapak lagi di belakang bantu Ibu beresin piring buah.
Di ruang tamu, tinggal Fika sama Tio.
Fika udah ganti baju. Daster tadi udah diganti kaos putih rapi sama celana panjang. Rambut udah disisir. Nggak mau keliatan berantakan depan Pak Tio, gengsi.
Kamu keluar dari kamar, duduk di sofa seberang. Jaga jarak.
Hening.
Pak Tio yang dari tadi nungguin di teras, sekarang masuk, duduk. Tangannya ngeremas lutut sendiri. Gugup.
Tio: "Udah ganti baju?"
Fika: "Iya. Masa mau ngobrol sama tamu pakai daster ada gumohnya."
Tio: "Bagus. Rapi."
Fika langsung senyum kecutnya balik lagi.
Fika: "Pak jangan gitu deh. Ngomongnya kayak Bapak lagi nilai kerapian seragam."
Tio ketawa kecil: "Kebiasaan. Maaf."
Hening lagi.
Tio ngeliatin kamu, kamu ngeliatin kipas angin muter.
Tio: "Fika."
Fika: "Apa."
Tio: "Tadi Mbak Sari bilang Bapak nggak boleh nyerah."
Fika melotot: "Tuh kan! Makanya jangan dengerin Mbak Sari!"
Tio malah makin jadi. Bukan makin nyerah, malah makin berani geser duduknya agak maju. Nggak nempel, tapi nggak sejauh tadi.
Tio: "Bapak nggak nyerah, Fik. Dari dulu Bapak ngajarin kamu, kalau ada soal susah, jangan ditinggal. Dikerjain terus sampe bisa. Kamu tuh soal susah Bapak."
Fika: "Enak aja aku disamain sama soal matematika!"
Tio: "Bukan matematika. Soalnya Fika. Soalnya paling susah, paling ngeselin, paling bikin Bapak mikir terus sampe jam 2 pagi."
Fika manyun, tapi manyunnya udah nggak sejutek tadi pagi. Kupingnya merah.
Fika: "Pak Tio tuh ya, kalau ngomong makin lama makin nggak jelas."
Tio: "Ya makanya Bapak di sini. Biar jelas. Fika mau Bapak gimana? Bapak disuruh nunggu, Bapak tunggu. Disuruh jangan nganterin, Bapak masih pengen nganterin. Disuruh cari yang lain, Bapak nggak mau."
Dia ngomongnya pelan, tapi jelas. Nggak maksa, nggak ngegas.
Tio: "Bapak cuma mau satu kesempatan aja. Nggak usah dipanggil Pak. Panggil Tio aja. Ngobrol kayak dua orang biasa. Boleh?"
Kamu diem. Kipas angin masih muter.
Fika, yang biasanya langsung nyaut ngeselin, kali ini diem agak lama. Nggak langsung nolak.
Suasana yang tadinya agak cair, langsung berubah.
Sekejap itu juga, otak Fika muter balik ke 2 tahun lalu.
Papan tulis. Kapur. Suara Pak Tio: "Fika, maju! Kerjain soal nomor 3!"
Satu kelas ngeliatin. Kamu salah, diketawain. Kamu bete seharian.
Semua memori nyebelinnya balik.
Fika langsung berdiri dari sofa.
Fika: "Nggak, nggak! Nggak bisa!"
Tio kaget: "Kenapa?"
Fika: "Bapak itu guru saya dulu, Pak! Nggak bisa! Aku tuh murid Bapak! Nggak bisa kayak gini!"
Suara kamu agak keras. Bapak sama Ibu di dapur langsung diem, ngintip dari pintu dapur.
Fika yang biasanya ngeselin dan kocak, sekarang beneran panik. Matanya berkaca-kaca, tapi ditahan biar nggak keliatan nangis.
Fika: "Aku tuh kalau liat Bapak ingetnya dimarahin, dihukum, disuruh hafalan. Nggak bisa tiba-tiba Bapak di sini bawa buah ngomongin cocok-cocokan!"
Tio diem. Nggak nyela.
Dia ngerti. Ini yang bikin Fika nggak berkutik dari tadi. Bukan karena nggak suka, tapi karena kotaknya belum keganti. Di kepala Fika, dia masih "Pak Tio guru killer", bukan "Tio".
Tio ikut berdiri, tapi dia mundurin langkahnya. Ngasih jarak paling jauh.
Tio ngomongnya serius. Dewasa. Nggak ada bercandanya sama sekali. Dan justru itu yang bikin omongannya kayak ngunci, nggak bisa dibantah.
Tio: "Iya. Bapak guru kamu dulu. Bapak ngaku, Bapak dulu nyebelin. Bapak marahin kamu karena Bapak nggak tau cara lain."
Fika diem, masih manyun tapi dengerin.
Tio: "Dan Bapak nggak akan minta kamu lupain itu. Kalau kamu inget Bapak sebagai guru yang nyebelin, ya udah, nggak apa-apa. Itu bagian dari Bapak."
Tio narik napas.
Tio: "Tapi Fika, Bapak udah bukan guru kamu lagi. Udah dua tahun. Kamu udah kerja. Bapak udah bukan wali kelas kamu. Di luar pagar sekolah itu, Bapak cuma Tio. Laki-laki umur 33 yang lagi suka sama perempuan umur 22 yang namanya Fika. Bukan muridnya."
Fika: "Tapi-"
Tio motong, pelan: "Bapak nggak maksa kamu harus ganti panggilan. Kalau kamu nyamannya masih manggil Bapak, ya panggil Bapak. Kalau kamu nggak bisa lihat Bapak sebagai Tio, ya nggak apa-apa. Bapak terima."
"Yang Bapak nggak terima kalau kamu ngerasa nggak enak di rumah kamu sendiri gara-gara Bapak dateng."
Dia ambil plastik buahnya yang tadi, dirapiin.
Tio: "Bapak pulang dulu ya hari ini. Biar kamu tenang. Bapak nggak akan kesini lagi kalau kamu nggak mau. Kamu chat aja Ibu, bilang kalau kamu nggak mau, Bapak nggak bakal ganggu lagi. Janji."
Fika bengong. Tadi dia siapin mental buat debat kusir lagi, buat ngedumel, buat diserang omongan gombal. Malah dikasih pintu keluar.
Fika yang tadi ngerasa kekunci, sekarang malah dikasih kuncinya.
Bapak sama Ibu di dapur saling lirik, nggak berani masuk.
Fika ngeliatin Tio yang udah ambil kunci motornya. Mukanya serius, tapi matanya... sedih.
Motor NMAX hitam itu udah nyala. Tio udah pakai helm setengah, mau naik.
Dari dapur, Bapak sama Ibu cuma bisa ngeliatin. Nggak berani nahan, nggak berani nyuruh pulang juga.
Fika masih berdiri di tengah ruang tamu, kaos putihnya agak lecek karena diremes-remes tangannya sendiri.
Ngerasa bersalah. Pertama kalinya.
Selama ini Fika yang ngeselin, yang nyolot, yang senyum kecut. Tio yang selalu minta maaf, yang selalu ngalah.
Sekarang kebalik.
Fika: "Pak... Pak Tio!"
Tio noleh. Helmnya dibuka lagi.
Tio: "Iya?"
Fika jalannya pelan ke teras. Nggak berani natap mata Tio lama-lama, nunduk liat sandal.
Fika: "Maaf ya Pak."
Suaranya kecil. Kecil banget, beda sama Fika yang tadi ngedumel kenceng.
Fika: "Maaf kalau tadi aku keras. Aku... aku bingung aja. Bukan nggak suka Bapak dateng. Aku cuma... kaget. Tiap Bapak ngomong serius gitu aku malah inget Bapak lagi marahin aku di kelas, jadi aku takut."
Yumna yang tadi udah dibawa pulang, tapi gumohnya masih ada di ingatan. Tio nggak nyangka Fika yang biasanya ngeselin bisa ngomong gini.
Fika: "Maaf ya Pak, aku ngusir Bapak secara halus. Padahal Bapak udah bawa buah, udah bantuin Ibu masak, udah... udah nungguin aku yang nyebelin ini."
Matanya udah berkaca-kaca beneran sekarang. Nggak ditahan lagi.
Tio langsung turun dari motor. Helm ditaruh di jok.
Tio: "Eh, Fika, jangan nangis."
Fika: "Nggak nangis! Masuk angin aja matanya!"
Padahal jelas mau nangis.
Tio jalan pelan, nggak langsung deket, berhenti satu meter di depan Fika. Tangannya pengen ngusap kepala, tapi ditahan. Jadi cuma di sakuin.
Tio: "Nggak apa-apa. Bapak ngerti. Bapak yang harusnya minta maaf. Bapak yang dateng terus, bikin kamu nggak nyaman di rumah kamu sendiri."
Fika geleng cepet: "Nggak! Bapak nggak salah. Aku yang salah. Aku yang kekanak-kanakan."
Ini pertama kalinya Fika minta maaf beneran ke Pak Tio. Dulu waktu sekolah, disuruh minta maaf aja nggak mau, malah manyun 3 hari.
Tio senyum. Senyumnya bukan senyum guru killer, bukan senyum gombal. Senyum lega.
Tio: "Ya udah, kita impas ya. Bapak maafin Fika yang ngeselin, Fika maafin Bapak yang nyebelin dulu."
Fika masih nunduk: "Impas..."
Tio: "Jadi Bapak boleh pulang dengan tenang? Nggak dimanyunin lagi?"
Fika akhirnya ngelirik naik, matanya merah dikit, tapi senyum kecutnya balik lagi, versi yang lebih halus.
Fika: "Boleh pulang. Tapi... buahnya jangan dibawa pulang lagi. Udah dikupas Ibu."
Tio ngakak. Ngakak beneran sampe Bapak di dalam ikut ngakak juga dengernya.
Tio: "Nggak Bapak bawa pulang. Bapak titip di perut kamu aja."
Fika: "Ih!"
Suasana cair lagi. Nggak kekunci lagi.
Senin pagi. Jam 7.30.
SMA tempat Pak Tio ngajar lagi rame. Ada spanduk gede di gerbang:
SEMINAR KESEHATAN REMAJA - RS SEHAT MEDIKA x SMA NEGERI
Di lapangan, anak-anak udah duduk rapi. Di panggung, ada Pak Tio lagi jadi moderator, pakai seragam PGRI rapi, bawa mic.
Dan di samping panggung, di meja panitia kesehatan...
Fika.
Pakai seragam putih nakes, name tag: FIKA - Asisten Dr. Fadil. Rambut diikat rapi, bawa map, bawa kotak P3K. Beda banget sama Fika yang dasteran gendong Yumna kemarin.
Fika kerja jadi asisten dokter. Ikut Dokter Fadil yang jadi pembicara seminar hari ini.
Dokter Fadil lagi jelasin soal anemia remaja di atas panggung. Fika sibuk bagiin brosur ke anak-anak.
Terus mata Fika sama mata Pak Tio ketemu.
Dari panggung.
Fika: langsung senyum kecut mode on.
Pak Tio yang lagi pegang mic: langsung keselek.
Pak Tio: "Uhuk! Eh, terima kasih Dokter Fadil atas... atas penjelasannya yang sangat..."
Anak-anak bingung. Kok Pak Tio grogi.
Sesi tanya jawab.
Anak kelas 12 angkat tangan: "Pak, kalau sering pusing pas upacara itu anemia ya Dok?"
Dokter Fadil jawab panjang lebar. Fika di sampingnya nyatetin.
Pak Tio bukannya dengerin Dokter Fadil, malah ngelirik Fika terus. Fika pura-pura sibuk banget sama brosurnya.
Selesai seminar, anak-anak bubar ke kelas. Tinggal panitia beres-beres.
Dokter Fadil, cowok umur 30an, ramah, nyamperin Pak Tio salaman.
Dokter Fadil: "Terima kasih banyak Pak Tio, sekolahnya kooperatif sekali."
Pak Tio: "Sama-sama Dok. Terima kasih juga udah-"
Matanya ngelirik ke Fika yang lagi beresin kotak P3K di belakang Dokter Fadil.
Dokter Fadil ngeh: "Oh iya, ini asisten saya, Fika. Rajin banget dia."
Fika berdiri, salaman sama Pak Tio. Formal.
Fika: "Pagi, Pak Tio."
Pak Tio: "Pagi... Bu Fika?"
Fika manyun kecil: "Pak!"
Dokter Fadil bingung: "Loh, kenal?"
Fika cepet: "Nggak! Nggak kenal Dok! Ini... ini guru BK saya dulu. Galak."
Pak Tio: "Saya wali kelasnya dulu Dok. Murid paling... rajin."
Fika melotot.
Dokter Fadil ketawa: "Wah pantesan Fika rajinnya kebangetan, didikan Pak Tio."
Fika ngedumel dalam hati: Duh, kenapa harus satu panggung sama dia sih.
Pak Tio tiba-tiba nyeletuk ke Dokter Fadil, tapi matanya ke Fika:
Pak Tio: "Dok, asistennya kalau jam istirahat boleh saya traktir es teh nggak? Sebagai terima kasih karena udah bantu seminar. Di kantin sekolah aja."
Dokter Fadil: "Oh boleh, silakan Pak. Fika, istirahat dulu gih."
Fika bengong. Kejebak.
Kantin sekolah. Jam istirahat.
Meja pojok. Dua es teh manis. Satu gorengan tempe yang masih anget.
Fika duduk dengan seragam nakes putihnya, masih nenteng map. Di depan dia, Pak Tio duduk dengan seragam PGRI-nya, dasinya agak miring.
Satu kantin ngeliatin.
Anak kelas 11 bisik-bisik: "Eh itu kak Fika kan? Alumni tahun lalu? Kok sama Pak Tio?"
Anak kelas 12: "Waduh, Pak Tio ditikung?"
Fika denger, langsung manyun.
Fika: "Pak, lihat tuh, jadi gosip kan! Makanya tadi aku bilang nggak usah di kantin!"
Pak Tio santai nyeruput es tehnya: "Biarin. Biar mereka tau rasanya jadi murid Bapak yang paling ngeselin, sekarang malah minum es teh bareng Bapak."
Fika: "Aku tuh di sini kerja lho Pak, jadi asisten dokter. Profesional. Nanti Dokter Fadil ngira aku pacaran sama guru!"
Pak Tio: "Ya nggak apa-apa kan? Asisten dokter pacaran sama guru, cocok. Sama-sama ngurusin orang yang bandel. Kamu ngurusin pasien bandel, Bapak ngurusin murid bandel."
Fika nyedot es tehnya kenceng: "Siapa juga yang pacaran!"
Pak Tio senyum. Dari tadi senyumnya beda. Bukan senyum guru, tapi senyum Tio.
Pak Tio: "Fika."
Fika: "Apa lagi."
Pak Tio ngedorong satu gorengan tempe ke piring Fika: "Tadi waktu seminar, Bapak liat kamu bagiin brosur. Cara kamu ngomong sama anak-anak, sabar banget. Beda sama kamu yang di rumah yang tiap 5 menit ngedumel."
Fika diem. Gorengannya diambil.
Pak Tio: "Bapak bangga lho. Serius. Dulu kamu yang diomelin karena nggak bawa buku, sekarang kamu yang ngasih tau orang cara hidup sehat."
Fika pipinya merah. Ditutupi sama es teh.
Fika pelan: "Ya... kan diajarin Pak Tio dulu suruh rajin. Walaupun galak."
Pak Tio: "Jadi sekarang masih manggil Pak?"
Fika ngelirik ke sekeliling kantin yang masih ngintip, terus balik lagi ke Pak Tio.
Fika manyun, tapi manyun manja, bukan manyun jutek: "Tergantung. Kalau di sekolah, ya Pak Tio. Kalau di rumah... pikir-pikir dulu."
Pak Tio ketawa. Lega.
Tiba-tiba dari jauh Dokter Fadil manggil: "Fika! Ayo siap-siap balik!"
Fika langsung berdiri buru-buru, mapnya hampir jatuh. Pak Tio sigap nahanin.
Fika: "Eh makasih Pak!"
Pak Tio: "Sama-sama... Bu Fika."
Fika: "Pak!!"
Dan Fika lari kecil ke arah Dokter Fadil, seragam putihnya berkibar, ninggalin es teh yang tinggal setengah dan Pak Tio yang masih duduk di kantin pojok, diliatin satu sekolah, senyum-senyum sendiri kayak orang menang lotre.
Sore. Jam 4.30.
Parkiran klinik udah sepi. Dokter Fadil udah pulang duluan.
Fika berdiri depan motornya, helm di tangan, muka manyun level maksimal.
Bannya kempes. Kempes beneran, bukan kempes dikit. Kayak abis dudukin 3 orang.
Fika: "Ya ampun... hari ini kenapa sih..."
Ditendang pelan bannya: "Bangunnn..."
Nggak bangun.
Tukang tambal ban depan klinik udah tutup. Ojek online lagi surge price karena jam pulang kerja.
Akhirnya, dengan seragam nakes yang udah diganti kaos oblong + celana panjang, tas kerja digendong, Fika jalan kaki.
Jalan kaki dari klinik di daerah Soekarno-Hatta ke rumahnya di daerah Suhat. Lumayan jauh.
Baru jalan 5 menit, keringetan.
Fika ngedumel sepanjang jalan, kayak biasa: "Motor kempes, es teh tadi cuma setengah, Pak Tio ngeselin, hidup ngeselin..."
Terus dari belakang, ada klakson pelan.
Tin! Tin!
NMAX hitam.
Kaca helmnya dibuka. Pak Tio. Masih pakai seragam PGRI tapi dasinya udah dilepas, kemejanya digulung lengannya.
Pak Tio: "Bu Fika jalan kaki? Kemana pasiennya?"
Fika kaget, langsung manyun lagi: "Pak Tio lagi! Ya Allah Pak, di mana-mana ada Bapak!"
Pak Tio minggirin motornya, sejajar sama kamu yang jalan kaki: "Bapak habis dari sekolah, mau pulang. Liat ada asisten dokter cantik jalan kaki sendirian. Motornya kenapa?"
Fika: "Kempes! Di klinik!"
Pak Tio: "Terus kamu mau jalan kaki sampe rumah?"
Fika: "Ya mau gimana lagi! Masa mau digendong!"
Pak Tio diem sebentar, terus matiin motornya. Turun.
Fika panik: "Eh ngapain turun Pak?!"
Pak Tio buka jok motornya, ngeluarin jas hujan, terus ngeluarin... pompa mini elektrik yang biasa buat motor.
Pak Tio: "Bapak bawa pompa. Di sekolah tadi ada yang kempes juga. Sini, Bapak anterin balik ke klinik, Bapak pompa-in."
Fika bengong: "Bapak bawa pompa?"
Pak Tio: "Bapak bawa macem-macem di jok. Pompa, P3K, teh kotak, tisu. Buat jaga-jaga kalau ada murid Bapak yang paling ngeselin motornya kempes pas pulang kerja."
Fika mau nolak, tapi kaki udah pegel. Dan pompa itu keliatan meyakinkan.
Fika: "Nggak usah deh Pak, aku bisa-"
Pak Tio udah nyalain motornya lagi: "Naik. Nggak usah ngedumel dulu. Capek tau Bapak dengerin kamu ngedumel sambil jalan kaki."
Fika manyun, tapi akhirnya naik. Jaraknya dijaga, pegangan di besi belakang, bukan di jaket Tio.
Motor jalan pelan balik ke arah klinik.
Di jalan, angin sore, Fika yang dari tadi ngedumel terus, kali ini diem.
Pak Tio ngomong dari depan, pelan biar kedengeran walau pakai helm:
Tio: "Fik, kalau motornya udah nggak kempes, nanti pulangnya Bapak kawal dari belakang ya. Biar nggak kempes lagi di jalan."
Fika yang di belakang, nggak keliatan mukanya karena helm, tapi suaranya akhirnya kecil, nggak ngedumel:
Fika: "Pak... makasih ya."
Pak Tio senyum di balik helm.
Parkiran klinik. Sepi.
Motor Fika udah distandarin tengah. Pak Tio jongkok di sebelah ban belakang, kemeja PGRI-nya udah agak lecek, lengan digulung sampe siku, keringetan.
Pompa mini elektriknya bunyi ngiiiiing...
Fika berdiri di samping, pegangin helm, ngeliatin.
Awalnya ngeliatin biasa.
Lama-lama ngeliatin beneran.
Tio yang biasanya rapi, jaim, jadi guru killer di kelas, sekarang jongkok, keringetan, ngotak-atik ban motor muridnya yang ngeselin. Tangannya kotor debu.
Fika salting sendiri.
Fika diem. Nggak ngedumel. Ini langka.
Pak Tio noleh: "Kok diem? Biasanya berisik."
Fika langsung buang muka, pura-pura ngeliatin tukang sate di seberang: "Apaan sih! Orang lagi ngawasin takut salah mompanya!"
Pak Tio ketawa, balik lagi mompa: "Iya Bu Pengawas."
Angin sore lewat.
Pompa berhenti. Bip. Ban udah keras lagi.
Pak Tio berdiri, lap tangan pakai tisu, tangannya masih agak hitam.
Pak Tio: "Udah. Coba cek."
Fika jongkok, pencet-pencet bannya. Keras.
Fika: "Udah keras Pak... makasih ya."
Suaranya kecil lagi. Suara Fika yang abis minta maaf kemarin itu.
Pak Tio ngeluarin botol minum dari jok motornya, minum.
Fika masih jongkok, terus ngomong pelan, nggak berani natap:
Fika: "Pak Tio tuh... kalau kayak gini nggak ngeselin tau."
Pak Tio: "Kayak gini gimana?"
Fika: "Kayak gini. Keringetan, kotor, nggak jaim jadi guru. Kayak... Tio aja."
Tio diem. Botol minumnya ditutup pelan.
Itu pertama kalinya Fika manggil "Tio aja" tanpa "Pak" di depannya. Tanpa disuruh. Keluar sendiri.
Fika baru sadar dia keceplosan, langsung berdiri, muka merah.
Fika: "Eh! Maksudnya- maksudnya Pak Tio! Tetep Pak!"
Pak Tio senyum. Senyum yang dari tadi ditahan, sekarang lepas.
Tio: "Nggak apa-apa. Panggil Tio aja kalau lagi berdua kayak gini. Bapak suka."
Fika makin merah: "Nggak! Nggak mau! Pokoknya Pak Tio!"
Tio ngedeketin, ngasih tisu buat tangan Fika yang ikutan kotor gara-gara tadi megang ban: "Ya udah, Pak Tio. Tapi versi yang lagi mompain ban Fika, bukan yang marahin Fika di kelas."
Fika ngambil tisunya, manyun tapi senyumnya nggak bisa disembunyiin lagi.
Fika: "Ya udah deh... makasih ya, Pak... Tio."
Setengah-setengah. Masih malu-malu.
Motor udah siap. Jalan pulang masih panjang. Tio udah janji mau ngawal dari belakang.
Malam. Jam 8 lewat.
Kamar Fika lampunya udah dimatiin, cuma lampu belajar yang kuning nyala remang-remang. Fika udah rebahan, pakai kaos oversize, rambut masih agak basah abis keramas. HP di cas di sebelah, motornya udah aman di garasi.
Di luar kamar, di ruang tamu, ada suara yang udah hafal banget.
Pak Tio lagi.
Lagi ngobrol sama Bapak.
Fika yang tadinya udah mau merem, langsung melek. Duduk. Telinganya ditempelin ke pintu kamar yang nggak rapet nutupnya.
Suara Bapak: "Jadi gimana Tio, ban motor Fika tadi aman?"
Tio: "Aman Pak. Udah Bapak pompa, Bapak kawal sampe gang depan. Nggak kempes lagi."
Bapak ketawa: "Repot-repot kamu. Padahal Fika itu bisa manggil saya."
Tio: "Nggak apa-apa Pak. Saya seneng."
Hening sebentar. Terus Bapak mancing.
Bapak: "Tio, Bapak mau tanya jujur. Kamu sama Fika ini gimana? Bapak lihat kamu tuh serius. Tapi Fika masih labil. Masih kayak anak kecil."
Fika di kamar langsung manyun: "Siapa yang labil?!" batinnya.
Tio suaranya kedengeran serius lagi. Suara dewasa yang ngunci itu.
Tio: "Saya serius, Pak. Saya nggak main-main sama Fika. Saya tau Fika masih 22, masih pengen main, masih ngeselin, masih gampang manyun. Saya nggak minta dia langsung berubah."
Fika napasnya ditahan. Dengerin.
Tio: "Saya cuma mau Bapak tau, kalau saya di sini bukan karena kasian, bukan karena iseng. Saya nungguin Fika dari dia lulus. Saya nunggu dia kerja dulu, biar dia tau rasanya mandiri. Baru saya berani dateng ke sini bawa buah. Kalau Fika bilang nggak, ya saya nggak akan maksa, Pak. Saya mundur."
Bapak: "Kalau Fika bilang iya?"
Tio: "Kalau Fika bilang iya... saya jaga, Pak. Saya nggak janji muluk-muluk. Saya janji kalau Fika masih ngedumel, saya dengerin. Kalau Fika motornya kempes, saya yang mompa. Kalau Fika capek abis jadi asisten dokter, saya yang ngawal pulang. Sesimpel itu."
Fika di dalam kamar, yang tadinya manyun, sekarang diem. Bantalnya dipeluk kenceng.
Matanya berkaca-kaca lagi. Kedua kalinya dalam 2 hari.
Fika pelan banget, hampir nggak kedengeran, ngomong ke bantalnya sendiri:
Fika: "Ih... ngomongnya kok gitu sih... bikin orang..."
Bapak di luar ketawa: "Ya udah, Bapak restuin kalau Fika-nya mau. Tapi kamu harus ngomong sendiri sama anaknya. Jangan lewat Bapak terus."
Tio: "Siap, Pak."
Fika nggak kuat dengerin lagi. Pintu kamar dibuka pelan-pelan.
Kriet...
Fika keluar pakai kaos oversize, rambut berantakan, bantal masih dibawa.
Fika berdiri di depan ruang tamu, ngeliatin Bapak sama Tio yang langsung diem.
Fika, dengan suara ngantuk + manyun + malu jadi satu:
Fika: "Bapak sama Pak Tio tuh kalau ngomongin orang, pelanin dikit bisa nggak sih! Kedengeran sampe kamar!"
Bapak: "Loh, kamu belum tidur?"
Tio langsung salah tingkah, berdiri: "Fika, maaf, Bapak nggak-"
Fika motong, masih meluk bantal, jalan ke sofa, duduk di sebelah Bapak, bukan di sebelah Tio:
Fika: "Aku denger semua ya! Jangan dikira aku nggak denger!"
Tio: "Denger apa?"
Fika manyun ke Bapak: "Bapak tuh jangan asal restu-restu aja! Tanya dulu anaknya!"
Bapak ngakak: "Lah ini Bapak tanya, kamu malah keluar!"
Suasana ruang tamu yang tadinya serius banget, jadi kocak lagi gara-gara Fika yang keluar pakai bantal.
Kopi di meja udah setengah. Jangkrik di luar makin kenceng.
Tio naruh gelasnya pelan. Nggak main-main lagi. Mukanya balik ke mode serius yang bikin Fika nggak bisa berkutik itu.
Fika yang di karpet langsung ngerasa hawanya beda.
Tio: "Fika."
Fika: "Iya Pak?"
Tio: "Tadi Bapak ngomong sama Bapak kamu di ruang tamu. Nggak semuanya kamu denger kan? Ada yang belum Bapak omongin."
Fika ngangkat kepala: "Apa?"
Tio narik napas panjang.
Tio: "Bapak nggak mau cuma dateng bawa buah terus. Nggak mau cuma ngawal motor kempes terus. Bapak capek jadi tamu."
Fika bengong.
Tio: "Bapak mau ngelamar. Serius."
Ruang tamu langsung hening. Bahkan suara kompor Ibu di belakang kayak ilang.
Fika matanya bulat.
Fika: "La-lamar?!"
Tio ngangguk. Nggak bercanda.
Tio: "Iya. Bapak udah ngomong sama Bapak kamu minggu lalu. Bapak bilang, kasih Bapak waktu sampe Fika siap. Bapak nggak mau maksa Fika sekarang. Bapak mau Fika selesai dulu kerja, nabung dulu, puas dulu jadi asisten Dokter Fadil."
Fika masih megang ujung kaosnya kenceng.
Tio lanjut, suaranya lebih pelan:
Tio: "Tadi liat Yumna digendong Mbak Sari, terus kamu gendong Yumna... Bapak kepikiran terus. Bapak pengen juga."
Fika: "Pengen apa?"
Tio: "Pengen punya Yumna versi kita. Versi kamu yang ngeselin, manyun, senyum kecutnya nurun ke anaknya. Yang nanti Bapak gendong, Bapak ajarin naik sepeda, Bapak omelin kalau bandel, tapi Bapak sayang."
Fika langsung merah. Merah banget sampe ke kuping.
Fika: "Pak Tio!!! Ngomongnya jangan langsung gitu dong!!!"
Tio: "Loh kan Bapak ngomongin masa depan. Bukan sekarang."
Fika nutup muka pakai kedua tangan: "Aku masih 22 Pak! Masih... masih kerja jadi asisten! Masih ngedumel!"
Tio ketawa kecil, tapi matanya tetep serius:
Tio: "Makanya Bapak bilang, Bapak tunggu. Setahun, dua tahun, Bapak tunggu. Asal Fika kasih jawaban, bukan gantungin Bapak terus. Kalau Fika bilang 'Pak, aku belum siap nikah tapi aku mau coba jalan sama Tio dulu' ya Bapak jalan. Kalau Fika bilang nggak, ya Bapak udah janji sama Bapak kamu, Bapak mundur."
Fika ngintip dari sela-sela jari: "Beneran nunggu?"
Tio: "Beneran. Bapak kan guru. Paling jago nungguin murid yang lama ngertinya. Apalagi murid yang paling ngeselin sekelas."
Fika nggak manyun kali ini. Senyumnya keluar, malu-malu.
Fika pelan: "Kalau Yumna versi aku ngeselinnya double gimana? Kan bapaknya juga ngeselin."
Tio: "Ya nggak apa-apa. Nanti rumahnya rame. Bapak ngajarin matematika, kamu ngajarin ngedumel."
Fika ngakak pelan di balik tangannya.
Dari belakang, Bapak ngintip dari gorden dapur, ngacungin jempol ke Tio diam-diam.
Fika yang masih nutup muka, akhirnya ngomong pelan, suaranya hampir nggak kedengeran:
Fika: "Ya udah... coba jalan dulu aja... jangan langsung lamar... Tio..."
Fika narik napas. Bungkus dagingnya ditaruh dulu.
Fika berdiri, tangannya masih bau daging, kerudungnya agak miring.
Fika: "Masuk dulu, Pak."
Tio: "Hah?"
Fika: "Masuk dulu. Jangan di teras. Ngomongin gini jangan di teras."
Tio berdiri, bingung: "Mau ngomongin di dalam?"
Fika ngangguk. Mukanya udah nggak manyun. Serius. Seriusnya Fika yang jarang keluar. Mirip seriusnya Tio kalau lagi ngunci.
Fika jalan duluan masuk rumah, Tio di belakang, masih bawa pecinya.
Di dalam, Bapak baru pulang dari masjid, pecinya masih dipakai, Ibu lagi ngaduk rendang daging kurban di dapur, wangi.
Bapak: "Loh, udah selesai bungkusin dagingnya?"
Fika: "Udah, Pak. Pak, Bu, sini dulu."
Ibu keluar dari dapur, lap tangan.
Fika narik Tio biar berdiri di sebelahnya, di tengah ruang tamu. Dua-duanya masih pakai baju lebaran.
Fika ngeliatin Bapak sama Ibu, terus ngeliatin Tio.
Tangannya dingin, tapi dia pegang ujung baju koko Tio biar nggak kabur.
Fika: "Pak, Bu... tadi di teras, Pak Tio nanya kepastian."
Bapak sama Ibu langsung saling lirik.
Tio kaget, mau ngomong: "Fika, Bapak-"
Fika motong, suaranya agak getar, tapi jelas:
Fika: "Aku yang dari Lebaran kemarin bilang mau jalan dulu. Pak Tio udah nungguin. Udah ngawal motor kempes, udah mompain ban, udah bikinin aku bangga jadi asisten dokter, udah dengerin aku ngedumel tiap hari."
"Kemarin pas Idul Fitri orang nanya kapan tunangan, aku yang jawab belum. Bukan Pak Tio."
Fika nengok ke Tio:
Fika: "Pak Tio, kalau cincinnya masih ada di lemari... boleh dibawa kesini sekarang?"
Tio bengong. Bapak bengong. Ibu langsung nutup mulut.
Tio: "Fika... kamu serius?"
Fika manyun, tapi manyunnya nangis: "Iya! Masa aku yang ngelamar! Kan harusnya Bapak! Aku udah ngajak masuk, masa Bapak masih diem!"
Tio langsung jongkok, nggak pakai lutut satu kayak di film, jongkok beneran kayak orang mau ambil koin jatuh, karena grogi.
Dari saku koko putihnya, dia keluarin kotak bludru kecil. Ternyata udah dibawa dari tadi. Dari Idul Fitri kemarin dibawa terus kemana-mana.
Dibuka. Cincin silver kecil, sederhana.
Tio suaranya getar banget sekarang, nggak bisa ngunci lagi:
Tio: "Fika... mau nggak jadi... Yumna versi kita... sama Bapak? Eh, sama Tio?"
Fika ketawa sambil nangis: "Iya mau! Pakai Bapak atau Tio terserah! Pokoknya mau!"
Ibu langsung nangis. Bapak tepuk jidat: "Alhamdulillah..."
Yumna yang lagi digendong Mbak Sari di ruang tengah, tiba-tiba nangis juga, kayak ikut rame.
Fika di tengah ruang tamu, akhirnya nggak ngeselin. Nggak manyun. Nangis, senyum, salting, semua jadi satu.
Cincinnya dipasangin Tio, tangannya gemeteran dua-duanya.
Seminggu menjelang nikah.
Rumah Fika udah kayak kapal pecah. Tenda setengah jadi di depan, Ibu ngitung piring, Bapak ngitung kursi, Mbak Sari gendong Yumna sambil nempel-nempelin stiker nama di souvenir.
Fika? Fika di kamar, lagi fitting kebaya. Kebaya putih, kerudung putih. Cantik banget, tapi manyunnya masih ada.
Di depan kaca, Pak Tio — eh, calon suami — lagi benerin dasi. Pakai batik lamaran. Dateng buat cek dekor.
Fika keluar dari kamar, muter dikit.
Fika: "Tio, lihat deh, kebaya aku kesempitan nggak?"
Tio noleh, langsung bengong, terus...
Tio: "Tio lagi. Tio lagi."
Fika: "Kenapa?"
Tio: "Udah seminggu lagi nikah. Masih manggil Tio."
Fika: "Terus manggil apa?"
Tio nyamperin, benerin kerudung Fika yang agak miring. Jaraknya deket banget.
Tio, dengan suara pelan tapi protes berat:
Tio: "Mas."
Fika: "Hah?"
Tio: "Panggil Mas. Bukan Pak Tio, bukan Tio. Mas."
Fika melotot: "Ih nggak mau! Geli!"
Tio: "Geli gimana? Besok kamu jadi istri Mas. Masa manggil Tio terus kayak manggil temen sekelas."
Fika: "Kan emang dulunya guru! Ya panggil Pak Tio!"
Tio: "Guru kalau udah nikah jadi Mas. Pak Tio itu di sekolah. Di rumah, Mas."
Fika masih nolak: "Nggak! Aku manggilnya Tio aja! Udah enak!"
Tio manyun. Sekarang gantian Tio yang manyun. Langka banget.
Tio: "Ya udah, kalau masih Tio, nggak jadi nikah."
Fika langsung panik, narik batiknya Tio: "Eh jangan gitu dong! Ya udah... ya udah..."
Fika manyun, muka merah, ngeliat ke kanan kiri takut didengerin Ibu, terus pelan banget, hampir kayak bisikan:
Fika: "...Mas..."
Pelan banget. Kayak takut salah.
Tio: "Hah? Nggak denger."
Fika makin merah: "Mas!"
Agak kenceng dikit.
Tio senyum lebar. Senyum menang lotre lagi, kayak pas Fika bilang mau tunangan kemarin.
Tio: "Nah gitu dong. Sekali lagi."
Fika nutup muka pakai kebaya: "Mas Tio! Udah! Geli tau!"
Tio ketawa, ngerangkul pundak Fika dari belakang, ngeliatin di kaca berdua, Fika pakai kebaya putih, Tio pakai batik.
Tio: "Cantik banget istri Mas."
Fika yang tadinya protes, sekarang diem. Di kaca, senyum kecutnya ilang, ganti senyum yang malu-malu tapi bahagia.
Fika pelan, masih malu, tapi udah berani:
Fika: "Mas... nanti Yumna versi kita... hidungnya jangan kayak Mas ya, mancungnya kebangetan..."
Tio: "Kalau ngeselinnya kayak Mamanya gimana?"
Fika: "Mas!!!"
Dan dari luar, suara Ibu teriak: "Fika! Tio! Jangan mesra-mesraan di depan kaca! Souvenirnya belum kelar!"
Hari akad.
Masjid deket rumah Fika penuh. AC dingin, tapi Tio keringetan juga.
Ijab kabul lancar. Sekali. Nggak ngulang.
Tio: "Saya terima nikahnya Fika binti Bapak dengan mas kawin tersebut..."
Sah.
Fika yang di ruang tunggu pengantin perempuan, pakai kebaya putih, kerudung putih, nangis. Bukan manyun. Nangis beneran. Mbak Sari yang ngusapin air mata, Yumna yang digendong di sebelah ikutan diem ngeliatin.
Pas salaman pertama sebagai suami istri, Fika masih grogi manggil Mas.
Fika: "Mas..."
Tio: "Iya, istri Mas."
Fika langsung nangis lagi.
---
Hari kedua.
Pagi-pagi, Fika pamit dari rumah Bapak Ibu. Ibu nangis, Bapak salaman lama sama Tio.
"Mbak Sari, Yumna, aku pulang dulu ya ke rumah Mas Tio..." Fika ngomongnya masih belum lancar manggil Mas.
Tio bawa mobil, bukan NMAX. Di belakang mobil penuh seserahan, koper, dan satu kardus gede isinya souvenir yang belum kebagi.
Perjalanan 20 menit ke rumah Tio.
Sampai depan rumah Tio.
Fika bengong.
Rumahnya lumayan besar. Nggak megah kayak rumah orang kaya, tapi besar, halaman luas, ada pohon mangga, garasi muat dua mobil, catnya krem bersih. Rumah guru yang nabung lama.
Fika: "Mas... ini rumah Mas?"
Tio: "Rumah kita."
Tio bukain pintu. Kuncinya masih baru, gantungan kuncinya ada tulisan "Fika & Tio".
Di dalam, ruang tamunya udah ditata. Ada sofa baru, ada foto nikah mereka yang dicetak buru-buru semalem, masih agak miring nempelnya.
Di pojok ruang tamu, ada satu kamar yang pintunya dicat warna kuning pastel. Belum ada isinya, cuma ada kasur bayi kecil dan stiker bintang-bintang di dinding.
Fika noleh: "Mas, itu kamar apa?"
Tio dari belakang ngerangkul pundak Fika, dagunya di atas kerudung Fika:
Tio: "Kamar Yumna versi kita. Bapak siapin dari sebelum lebaran haji kemarin. Pas Bapak bawa cincin terus."
Fika diem. Matanya berkaca-kaca lagi. Kebiasaan.
Fika pelan: "Mas..."
Tio: "Iya?"
Fika balik badan, meluk Tio. Pertama kalinya meluk tanpa malu-malu, tanpa bantal di tengah.
Fika: "Mas... rumahnya besar, tapi kalau nggak ada yang ngedumel sepi tau."
Tio ketawa, meluk balik:
Tio: "Makanya ada kamu. Tugas kamu ngedumel tiap hari di rumah ini, biar rame."
Fika manyun di dada Tio: "Mas!"
Tio: "Iya, istri Mas yang ngeselin?"
Dan di rumah besar yang tadinya sepi itu, sore pertama Fika sebagai istri, udah rame lagi sama suara Fika ngedumel nyariin sendal yang hilang, sama suara Tio yang manggil "Mas ada di sini, sayang, jangan manyun."
Akhir cerita.
5 tahun kemudian.
Rumah besar yang dulu sepi itu sekarang rame-nya bukan main.
Sore jam 4, halaman depan penuh sepeda kecil, sandal jepit bertebaran.
Di teras, Tio — sekarang bukan Pak Tio, bukan Mas Tio, tapi Ayah — duduk pakai kaos oblong, masih ganteng, tapi ubannya udah mulai ada satu dua, lagi ngajarin anak lanang umur 3 tahun nulis angka 1.
"Mas Yuma, ini angka 1 kayak tiang listrik ya," kata Tio.
Anak lanang, Yuma, mirip Tio banget. Mancungnya kebangetan, alisnya tebel, tapi ngeselinnya... nurun dari mamanya.
Yuma: "Ayah, kalau angka 1 capek dia duduk dong!"
Tio ketawa: "Ya Allah mirip mamanya..."
Dari dalam rumah, kedengeran suara ngedumel yang udah 5 tahun nggak berubah.
Fika, pakai daster, kerudungnya diikat asal, gendong anak cewek umur 1.5 tahun, rambutnya dikuncir dua.
Namanya Yumna. Yumna versi Fika dan Tio beneran.
Yumna kecil, cantik, senyum kecutnya... plek ketiplek kayak Fika waktu disuruh bikin kopi dulu.
Fika keluar bawa dua es teh manis, sama gorengan tempe anget. Menu yang sama kayak di kantin dulu.
Fika: "Mas! Mas Yuma! Masuk! Udah sore, jangan ngajarin angka terus! Nanti kayak mamanya dulu nggak bawa buku!"
Tio: "Ini istri Mas yang ngeselin udah keluar."
Fika manyun: "Mas!"
Yuma lari ke Fika: "Mama manyun lagi!"
Yumna yang digendong Fika ikutan manyun, niruin mamanya. Persis.
Fika duduk di teras, di tengah-tengah Tio dan dua anaknya. Yuma di pangkuan Tio, Yumna di pangkuan Fika.
Dua es teh manis ditaruh di tengah. Kayak dulu di kantin sekolah, meja pojok.
Tio ngeliatin keluarga kecilnya. Dulu dia cuma guru killer yang nungguin muridnya yang paling ngeselin lulus.
Sekarang muridnya yang paling ngeselin itu jadi istri, jadi mama dari dua anak yang satu mancung kebangetan, satu senyum kecutnya kebangetan.
Tio: "Fik."
Fika: "Apa Mas?"
Tio: "Makasih ya udah mau coba jalan dulu waktu itu."
Fika senyum. Senyum yang udah nggak malu-malu lagi manggil Mas.
Fika: "Makasih juga ya Mas, udah mau mompain ban aku yang kempes. Sampai sekarang."
Yuma: "Ban apa Mah?"
Yumna: "Ba!"
Dan di rumah besar itu, sore itu, rame lagi. Bukan karena motor kempes, bukan karena kopi, tapi karena ada Yuma yang nanya angka 1 bisa capek apa nggak, dan ada Yumna kecil yang belajar manyun kayak mamanya.
Tamat.
Pas banget kayak doa Tio di teras pas Idul Adha dulu.
Punya Yumna versi mereka. Malah dapet bonus satu jagoan.
Dan mereka foto berempat