Pagi itu adalah pertama kalinya aku bekerja di pabrik garmen, banyak karyawan yang udah di sana.
Hingga suatu hari Bos Garmen yaitu Yanuar Stefanus Yonif 38 tahun, atau lebih akrab dipanggil Bapak Yo, atau Bos Yanuar.
Dia memeluk agama kristen sementara aku Islam.
Maura itu namaku, biasa dipanggil Rara 24 tahun.
Hingga suatu hari aku yang sedang buru-buru berangkat ke pabrik mesti telat 15 menit karena nolong nenek-nenek yang hampir ketabrak mobil.
---
Lanjutannya ya, Rara...
Hari itu aku masuk dengan napas ngos-ngosan. Rambut berantakan, jilbabku miring.
Di depan mesin jahit, semua mata lihat ke aku.
"Maura!"
Suara itu. Bapak Yo.
Semua orang di ruangan langsung diam. Dia berdiri di depan mejaku, kemejanya rapi, jam tangannya mahal, tapi mukanya dingin.
"Kamu tau jam berapa sekarang? Di pabrik ini, telat 1 menit aja kain bisa numpuk. Telat 15 menit, pesanan bisa telat."
Aku nunduk. "Maaf, Pak. Tadi di jalan ada nenek-nenek hampir ketabrak, saya tolong dulu..."
"Kamu pikir saya peduli alasan?"
Aku ngerasa malu banget. Pengen nangis di tempat. Tiba-tiba dia narik napas panjang.
"Ikut saya ke ruangan."
Jantungku mau copot. Hari pertama kerja udah dipanggil ke ruangan bos. Teman-teman sebelah udah bisik-bisik, "mati lo, Ra."
Di dalam ruangannya yang dingin ber-AC, dia duduk. Dia nggak marah-marah lagi.
"Duduk."
Aku duduk di ujung kursi.
"Tangan kamu kenapa?" tanya dia.
Aku baru sadar, lutut dan telapak tanganku lecet, berdarah sedikit karena tadi jatuh pas narik nenek itu.
Dia buka laci, ngeluarin kotak P3K. Tanpa ngomong apa-apa, dia jongkok depan aku, bersihin lukanya pakai alkohol.
Perih. Aku meringis.
"Tahan," katanya pelan. Suaranya beda banget sama yang di luar tadi.
Itu pertama kalinya aku lihat mata dia dari dekat. Tenang. Tapi capek.
"Kalau lain kali nolong orang, hati-hati juga sama diri sendiri," katanya sambil nempelin plester. "Lain kali kalau telat karena alasan kayak gini, bilang aja dari awal. Jangan nunduk terus."
Sejak hari itu, semuanya berubah.
Bapak Yo jadi sering mampir ke bagianku. Kadang cuma naruh botol air minum. Kadang nanya, "Udah sholat? Mushola belakang udah aku betulin AC-nya."
Aku bingung. Bos kristen kok perhatianin mushola?
Sampai suatu sore lembur. Pabrik udah sepi, tinggal aku sama dia. Hujan gede banget di luar.
"Rara, kamu nggak takut sama saya?" tanya dia tiba-tiba.
"Takut, Pak. Awalnya."
Dia ketawa kecil. "Panggil Yo aja kalau nggak ada orang. Bapak Yo itu berasa tua banget."
Aku diem. Jarak kami kejauhan. Umur. Jabatan. Dan yang paling nyakitin... agama.
"Yo... kok baik banget sama saya?"
Dia natap hujan di luar jendela.
"Karena pas kamu telat 15 menit demi nenek-nenek itu, saya tau kamu orang baik, Ra. Dan orang baik itu langka di pabrik ini. Saya cuma... pengen jagain orang baik."
Malam itu, dia nganterin aku pulang pakai mobilnya karena hujan nggak berhenti. Di mobil, tidak ada yang ngomong. Hanya suara hujan dan lagu rohani pelan dari tape mobilnya. Aku dengerin adzan Isya dari masjid kejauhan, dari dalam mobil dia.
Di depan gang rumahku, aku mau turun.
"Rara," dia panggil.
Aku nengok.
"Kalau saja kita ketemu dalam keadaan yang berbeda ya?"
Aku nggak jawab. Karena aku tau jawabannya akan bikin nyesek.
Aku turun, lari ke dalam hujan, dengan plester di lutut yang masih dia pasang pagi itu.
Dan sejak malam itu, aku tau. Aku jatuh cinta sama orang yang tidak mungkin aku miliki seutuhnya.
---
Pagi itu di rumah Yanuar, jam 7.
Yanuar lagi sarapan buru-buru. Oma Martha masih gemetaran.
"Tadi pagi Oma hampir mati, Yo. Hampir ketabrak mobil putih di perempatan pasar. Ditolong anak perempuan cantik berjilbab biru. Dia yang jatuh berdarah, tapi tetep nolong Oma sampai pinggir. Dia lari buru-buru katanya takut telat kerja di pabrik garmen."
Jilbab biru. Pabrik garmen. Telat.
Yanuar langsung inget Maura. Anak baru yang telat 15 menit yang dia bentak pagi tadi. Yang lututnya lecet.
Tanpa pikir panjang, dia ngebut ke pabrik.
---
Di pabrik jam 9.
Aku lagi jahit, tangan masih perih.
Tiba-tiba Bu Sumi nyamperin, "Rara, dipanggil Bos ke ruangan. Sekarang."
Jantungku drop lagi. "Aku dimarahin lagi ya, Bu?"
Bu Sumi cuma geleng, mukanya bingung.
Aku masuk ruangan itu dengan takut. Yanuar udah berdiri dekat jendela, punggungnya menghadap aku. Jasnya berantakan.
"Tutup pintunya, Rara."
Aku tutup pelan.
Dia balik. Matanya merah, bukan marah.
"Yang tadi pagi kamu tolong di perempatan pasar, nenek pakai kebaya coklat, kacamata tebal?"
Aku kaget. "Iya, Pak Yo... Bapak tau dari mana?"
Dia jalan mendekat. Jaraknya cuma satu meja.
"Itu Oma saya. Martha. Satu-satunya keluarga saya."
Aku langsung lemes, pegangan kursi.
"Pak... sumpah saya nggak tau..."
"Rara," suaranya pelan banget, beda sama yang pagi tadi bentak aku di luar. "Pagi tadi saya bentak kamu di depan banyak orang tanpa dengerin alasan kamu. Saya malu sama diri saya sendiri."
Dia nunduk. Dalam. Di ruangan itu, cuma ada aku dan dia.
"Maafin saya, ya. Dan... terima kasih. Terima kasih udah selamatin Oma saya. Kalau bukan karena kamu, saya nggak tau jadi apa Oma tadi."
Aku nangis. Nggak bisa nahan.
"Bukan apa-apa, Pak... siapa aja pasti nolong..."
"Nggak," dia potong. "Nggak semua orang mau berdarah demi orang lain yang nggak dikenal, sampai rela telat dan dimarahin bosnya."
Dia ngambil kotak P3K lagi, sama kayak pagi tadi. Dia buka plester di tanganku yang udah kotor darah kering, ganti dengan yang baru. Pelan-pelan banget.
Tangannya yang besar, yang biasa tanda tangan cek miliaran, lagi ngobatin tangan buruh jahit baru.
"Perih?" tanya dia.
Aku geleng sambil nangis.
Di ruangan yang dingin itu, cuma ada suara AC dan suara aku nahan tangis.
"Rara," katanya sambil masih pegang tanganku, "mulai hari ini, jangan panggil saya Bapak lagi kalau cuma berdua. Panggil Yo aja."
"Ngga berani, Pak..."
"Yo," dia ulangi. "Coba."
Aku lirih, "Yo..."
Dia senyum. Pertama kalinya aku lihat senyumnya nggak dingin.
"Cakep."
Aku langsung nunduk, jilbab biruku nutupin muka yang merah.
"Nanti sore Oma mau ke sini. Dia pengen ketemu kamu langsung. Boleh ya?"
Aku angguk.
Pas aku mau keluar dari ruangan, dia nahan pintu.
"Rara, yang kejadian di ruangan ini... biar di sini aja ya. Di luar, saya tetep Bos kamu. Kamu tetep karyawan saya. Saya nggak mau orang ngomongin kamu yang nggak-nggak."
Aku ngerti. Jarak itu harus tetep ada.
Di luar ruangan, aku karyawan Islam 24 tahun.
Di dalam ruangan, aku... entah apa.
Dan justru karena nggak ada yang tau apa yang terjadi di dalam ruangan itu, rasanya jadi makin nyesek.
Lanjut...
Jam pulang, Rara nggak jadi nemuin Oma-nya Yanuar. Maura ke restoran bantuin pamannya, kalau rame dipersen juga. Disitu ketemu lagi Yanuar dan Maura. Yanuar sampai kaget, salut juga.
---
Jam 5 sore. Bel pabrik bunyi.
Bu Sumi teriak, "Rara! Kamu jangan pulang dulu! Bos bilang Oma-nya mau kesini jam setengah 6!"
Aku panik. Bajuku masih bau oli mesin jahit, jilbabku udah lepek keringetan seharian.
"Bu, bilangin maaf ya Bu, aku nggak bisa. Aku harus ke tempat paman," bisikku.
"Rara! Ini Oma-nya Bos loh!"
"Maaf ya Bu, beneran nggak bisa."
Aku lari keluar gerbang pabrik sebelum Yanuar keluar dari ruangannya. Aku nggak mau dia ngeliat aku dalam keadaan kayak gini. Aku nggak mau Oma-nya ngeliat aku sebagai karyawan yang dikasihani.
Aku naik angkot ke arah Jalan Ijen.
Tempat Paman Karim. Warung Sate Gule "Cak Karim" — kecil, tapi rame-nya minta ampun kalau malam. Paman satu-satunya keluarga yang aku punya di kota ini.
"Rara! Telat kamu!" teriak Paman dari dapur.
"Maaf, Man, pabrik lembur," kataku sambil langsung gulung lengan baju, pakai celemek. Jilbab biruku aku ganti sama jilbab hitam yang ada di warung.
Tugasku kalau di sini jadi pelayan. Angkat piring, catat pesanan, beres-beres meja. Kalau rame, Paman kasih persenan 10%. Lumayan buat kos.
Jam 7 malam, warung full. Hujan rintik-rintik, orang-orang pada neduh sambil makan gule panas.
Aku lagi angkat 3 piring sate sekaligus, keringetan, celemek belepotan kuah.
"Rara, meja 4 tambah sate 20 tusuk!" teriak Paman.
"Iya Man!"
Aku balik badan —
Dan di meja 4, duduk dua orang.
Yanuar. Sama Oma Martha.
Aku hampir jatohin piringnya.
Yanuar juga kaget. Matanya membesar. Dia liat aku dari atas sampai bawah. Dari jilbab hitam sederhana, celemek kotor, tangan yang masih ada plester yang dia pasang pagi tadi.
"Rara?" katanya pelan.
Oma Martha langsung berdiri, "Ya Tuhan! Anak jilbab biru pagi tadi! Kamu!"
Satu warung langsung lihat ke meja kami.
Oma langsung meluk aku. Erat. Di depan semua pelanggan sate.
"Nduk, Oma dari tadi nunggu kamu di pabrik! Kata cucu Oma kamu udah pulang! Ternyata kamu di sini!"
Aku nggak bisa ngomong. Malu. Di pabrik aku buruh jahit, di sini aku pelayan warung sate.
Yanuar berdiri. Dia masih natap aku, tapi tatapannya beda. Bukan kasihan.
Salut.
"Jadi ini alasan kamu nggak bisa ketemu Oma tadi?" tanya Yanuar pelan, biar cuma aku yang denger.
Aku angguk, nunduk. "Maaf, Pak Yo... saya bantuin Paman. Soalnya Paman udah tua, kalau sendirian nggak kuat..."
Yanuar senyum. Senyum yang bikin nyesek itu lagi.
Dia ngambil tisu, ngelap keringet di jidatku. Di depan Oma-nya. Di depan warung rame.
"Pak Yo jangan..." aku mundur.
"Kamu itu," katanya, suaranya pelan tapi tegas, "pagi jadi pahlawan buat Oma saya. Siang jadi buruh jahit terbaik di pabrik saya. Malam jadi pelayan sate yang nggak malu kerja keras. Kamu istirahatnya kapan, Rara?"
Aku diem. Mau nangis lagi.
Oma Martha malah nyahut, "Yo, kamu ini gimana sih jadi bos! Karyawan kayak gini kok dibiarin kerja dua kali! Kamu harus kasih dia bonus!"
Yanuar ketawa kecil, tapi matanya masih di aku.
"Siap, Oma. Besok saya kasih bonus."
Terus dia duduk lagi, narik kursi.
"Rara, kami pesan sate 20 tusuk lagi ya. Yang nganterin kamu. Kami tunggu di sini."
Malam itu, aku bolak-balik nganterin sate ke meja mereka. Setiap aku taruh piring, tangan Yanuar sengaja nyenggol tanganku pelan.
Oma Martha makan lahap sambil cerita, "Nduk Rara, kamu tau nggak, cucu Oma ini susah jatuh cinta lho. Umur 38 belum nikah-nikah. Milih-milih terus."
Aku batuk. "Oma..."
Yanuar langsung salah tingkah, "Oma! Makan aja, Ma!"
Oma ketawa, "Lho, bener kan? Tapi Oma liat, kayaknya sekarang udah nggak milih-milih lagi. Udah nemu."
Aku nggak berani natap Yanuar. Aku pura-pura sibuk beresin meja sebelah.
Jam 9 malam, warung mulai sepi. Mereka mau pulang. Oma udah masuk mobil.
Yanuar masih di luar, ngasih uang ke Paman. Lebih. Jauh lebih.
"Pak Yo kebanyakan!" kata Paman.
"Buat Rara. Persenan ramenya hari ini," kata Yanuar.
Dia jalan ke aku yang lagi cuci piring di belakang.
"Rara."
Aku nengok. Tangan masih busa sabun.
Dia ngeluarin sesuatu dari saku jasnya. Plester. Satu kotak plester baru, yang bermotif lucu.
"Tangan kamu yang tadi pagi belum sembuh. Jangan lupa ganti," katanya sambil naruh kotak itu di atas meja cuci piring. "Dan... makasih ya, udah bikin Oma saya ketawa lagi malam ini. Udah lama Oma nggak se-happy ini."
Aku mau bilang makasih, tapi dia udah balik badan, masuk mobil.
Dari balik ember cuci piring, aku liat mobilnya hilang di tikungan hujan.
Paman datang, nepuk pundakku.
"Ra, itu Bos Garmen tempat kamu kerja ya? Baik orangnya. Beda agama sama kita ya?"
Aku angguk pelan, sambil megangin kotak plester itu erat-erat.
"Iya, Man. Beda."
Dan di situ nyeseknya makin jadi.
Karena orang sebaik itu, yang menghargai kerja kerasku, yang nggak malu ngelap keringetku di depan orang banyak...
kenapa harus dia yang doanya beda arah sama aku?
Lanjut...
Maura jam 9 udah pulang, kosannya deket restoran pamannya.
Nangis kangen Ayah, Ibu yang udah nggak ada, dan Maura punya adik di kampung yang berkebutuhan khusus.
Paginya seperti biasa, Maura berangkat pakai sepeda listrik punya paman biar nggak capek katanya.
Hari itu Maura kelewat fokus sampai nggak kepikiran kemarin, Yanuar sejak kemarin juga profesional tapi penasaran juga.
---
Jam 9 malam, warung udah tutup.
Aku jalan kaki ke kos. Cuma 3 menit dari warung Paman. Kos petakan kecil, 3x3 meter, catnya udah ngelupas.
Aku kunci pintu, nyalain lampu kuning yang redup.
Di atas meja, ada foto.
Foto Ayah, Ibu, aku umur 17 tahun, sama Adik. Adikku, Ilham, umur 10 tahun sekarang. Di foto itu dia senyum lebar, peluk aku erat. Ilham berkebutuhan khusus, autis, nggak bisa ngomong lancar.
Ayah sama Ibu udah nggak ada 2 tahun lalu. Kecelakaan.
Sejak itu, Ilham tinggal sama Budhe di kampung. Aku yang kirim uang tiap bulan dari hasil pabrik sama persenan warung sate.
Malam itu, aku nggak kuat.
Aku duduk di lantai, peluk foto itu, nangis kejer. Nggak ada suara, cuma bahu naik turun.
"Kangen... Rara kangen Ayah, Ibu..."
"Rara capek, Yah..."
Plester di tanganku yang dikasih Yanuar tadi masih aku pegang. Kotak plester motif beruang kecil itu basah kena air mataku.
"Kenapa hidup Rara harus sesusah ini sih, Bu? Kerja pagi sampai malam, tapi tetep ngerasa sendirian..."
Aku nangis sampai ketiduran di lantai.
---
Pagi jam 5.30.
Aku kebangun karena alarm. Mata bengkak.
Aku wudhu, sholat Subuh di sajadah tipis. Doaku panjang pagi itu. Minta kuat. Minta Ilham sehat.
Selesai sholat, ada ketukan pintu.
Paman.
"Rara, ini sepeda listrik Paman pakai aja. Biar nggak capek jalan ke pabrik. Ngecasnya di warung aja nanti malam."
"Man, nggak usah..."
"Pakai aja! Kamu itu kayak anak Paman sendiri. Daripada kamu pingsan di jalan."
Akhirnya pagi itu aku berangkat pakai sepeda listrik butut warna biru milik Paman. Pelan, tapi nggak bikin kaki pegel.
Jam 7.30 aku udah di pabrik. Lebih awal dari biasanya.
Aku langsung fokus. Hari itu pesanan gamis lebaran banyak banget. Aku jahit nonstop, sampai lupa kalau kemarin ada kejadian apa.
Aku lupa pernah ditolong Yanuar. Lupa pernah nangis di ruangan. Lupa pernah ngasih sate ke dia. Aku cuma pengen fokus biar dapat bonus, biar bisa kirim uang lebih buat Ilham.
Di sisi lain...
Dari balik kaca ruangannya di lantai 2, Yanuar ngeliatin aku dari tadi.
Sejak kemarin dia profesional. Nggak manggil aku ke ruangan. Nggak ngasih perhatian lebih di depan karyawan. Dia takut aku nggak nyaman.
Tapi dia penasaran.
Kenapa anak perempuan umur 24 tahun sekuat ini?
Kenapa pagi jadi pahlawan, siang jadi buruh jahit, malam jadi pelayan sate, tapi nggak pernah ngeluh?
Jam 12 siang, jam istirahat. Semua karyawan pada ke kantin.
Aku masih di meja jahit, buka bekal dari kos. Nasi sama telur dadar doang.
Tiba-tiba ada bayangan di depan mejaku.
Yanuar. Pakai kemeja putih, bawa dua kotak makan.
"Boleh duduk?" tanya dia.
Aku kaget, hampir keselek. "Pak Yo!"
"Di sini aja, di luar jam kerja kita bukan bos dan karyawan," katanya sambil duduk di kursi mesin jahit sebelah. Dia ngedorong satu kotak makan ke aku.
"Ini punya Oma. Oma yang masak. Oma maksa saya kasih ke kamu. Katanya kamu kurus, harus makan banyak."
Aku buka kotaknya. Isinya ayam woku, sayur, nasi banyak. Enak banget baunya.
"Pak Yo, nggak usah..."
"Yo," dia koreksi.
"Yo... nggak usah repot-repot..."
"Makan aja, Rara. Anggep aja bonus karena kemarin nolong Oma."
Kami makan berdua di ruangan jahit yang sepi. Nggak ada yang ngomong.
Sampai dia nanya pelan, "Bekal kamu cuma telur dadar terus ya? Saya perhatiin dari kemarin."
Aku diem.
"Rara, kamu ngirim uang ke kampung ya?"
Aku langsung nengok. "Kok... kok tau?"
Dia nggak jawab. Dia cuma ngeluarin HP, nunjukin foto sepeda listrik biru yang aku pakai tadi pagi.
"Pagi tadi satpam bilang, ada karyawan baru pakai sepeda listrik biru. Saya tau itu punya warung sate Cak Karim. Paman kamu kan?"
Aku angguk pelan.
"Rara, kamu nggak harus sekuat itu terus di depan saya."
Kalimat itu...
Kalimat itu yang bikin pertahanan aku yang aku bangun seharian buat fokus, jebol lagi.
Mataku langsung berkaca-kaca.
Aku nggak nangis kejer kayak semalam. Cuma air mata netes satu-satu ke nasi.
"Maaf..." bisikku.
Yanuar panik. Dia nggak tau harus ngapain. Bos umur 38 tahun yang biasa ngatur ratusan karyawan, bingung ngeliat aku nangis.
Dia cuma geser kursinya lebih deket, ngasih tisu.
"Kalau capek, bilang capek. Kalau kangen rumah, bilang kangen. Nggak usah diumpetin terus."
Aku ngusap air mata, "Aku kangen Ayah Ibu ku, Yo. Dan adikku... adikku di kampung... aku takut nggak bisa bahagiain dia..."
Dan untuk pertama kalinya, aku cerita semuanya ke dia. Tentang Ayah Ibu yang nggak ada. Tentang Ilham yang berkebutuhan khusus. Tentang kos kecilku.
Yanuar dengerin. Nggak motong. Nggak menghakimi.
Pas aku selesai cerita, dia cuma bilang satu kalimat yang bikin nyeseknya sampai ke tulang.
"Rara, kalau Tuhan ngasih kita jalan yang beda untuk berdoa, apa Dia juga ngelarang kita buat saling jaga?"
2 bulan kemudian.
2 bulan kemudian, Yanuar makin suka. Tapi temboknya terlalu tinggi.
Nggak tau apa yang akan terjadi.
Setiap hari Minggu Yanuar ke gereja minta petunjuk dan sesekali denger motivasi.
Sementara Maura cuma bisa diem, mikir gimana masa depannya.
Sampai suatu hari Oma-nya Yanuar hampir kesasar, ya karena udah faktor usia juga kadang lupa, dan kebetulan ketemu Maura.
Maura langsung telepon Yanuar, Yanuar cepet banget gas ke tempat yang udah di-share lock Maura.
Di situ Yanuar ngajak pertama kali ke rumahnya.
---
2 bulan.
2 bulan itu lama, Ra.
Selama 2 bulan, Yanuar jadi bos yang paling profesional di dunia. Di pabrik, dia nggak pernah lagi manggil kamu ke ruangan sendirian. Nggak pernah lagi ngasih kotak makan siang. Kalau lewat depan mejamu, cuma angguk kecil. "Pagi, Maura. Gimana target hari ini?"
Dingin. Terlalu profesional.
Tapi setiap karyawan pulang, satpam cerita ke kamu — "Mbak Rara, Bos Yo itu pulangnya jam 9 malam terus lho, padahal pabrik udah sepi dari jam 6."
Dan setiap hari Minggu, Yanuar duduk paling belakang di gereja. Bukan di depan kayak biasanya. Dia nunduk lama.
"Tuhan, saya suka sama dia. Saya tau ini salah di mata banyak orang. Tapi kenapa rasanya damai kalau deket sama dia? Kasih saya petunjuk. Kalau memang bukan dia, tolong ambil rasa ini."
Tapi setiap selesai berdoa, yang keinget malah wajah kamu pas nangis sambil makan telur dadar itu.
Sementara kamu, Maura.
Kamu cuma bisa diem. Setiap malam di kos petakan itu, habis bantuin Paman, kamu ngitung uang.
Buat kos, buat makan, buat kirim ke Budhe untuk Ilham. Sisa berapa?
Kamu mikir, gimana masa depan kamu? Kamu umur 24, kerja serabutan, punya adik berkebutuhan khusus yang harus kamu tanggung. Laki-laki mana yang mau sama kamu? Apalagi bos garmen, kristen, kaya, umur 38, yang kalau ke gereja aja pakai jas.
Temboknya terlalu tinggi, Yo.
---
Hari Selasa. Jam 3 sore. Kamu lagi istirahat, beli es teh di warung depan pabrik.
Di seberang jalan, kamu liat nenek-nenek pakai kebaya bingung, muter-muter. Tasnya jatuh, isinya berantakan.
Oma Martha.
"OMA!" kamu lari nyebrang.
Oma natap kamu dengan mata kosong. "Lho... kamu siapa ya, Nduk? Oma mau pulang... tapi Oma lupa jalan pulang... rumah Oma di mana ya?"
Jantung kamu drop. Oma pikunnya kumat.
Kamu langsung peluk Oma, tuntun ke warung es teh biar duduk dulu.
"Oma di sini dulu ya, jangan kemana-mana."
Kamu langsung telepon Yanuar. Tangan gemetaran.
Di seberang, Yanuar lagi meeting sama buyer dari Jakarta. HP-nya getar. Nama: Rara Maura.
Dia langsung angkat, padahal di depan buyer penting.
"Yo! Oma... Oma ada di depan pabrik, di warung es teh! Oma lupa jalan pulang, Yo! Cepet kesini!"
Tanpa ngomong apa-apa ke buyer-nya, Yanuar berdiri, ngambil kunci mobil, lari.
"Meeting cancel! Ada keluarga saya!"
5 menit. Cuma 5 menit, mobil Alphard hitamnya udah ngerem mendadak di depan warung es teh.
Yanuar turun, masih pakai kemeja meeting, keringetan.
"Oma!" dia langsung meluk Oma Martha erat banget.
Oma masih bingung, "Yo? Ini siapa? Kok Oma di sini?"
Yanuar natap kamu. Matanya merah, panik, tapi lega karena ada kamu.
"Rara... makasih... makasih banyak..."
Kamu cuma angguk, "Oma dari tadi di sini, Yo, untung aku liat."
Yanuar bantu Oma berdiri, mau masukin ke mobil. Tapi Oma nahan tangan kamu.
"Nduk, kamu ikut ya? Temenin Oma pulang? Oma takut..."
Kamu liat Yanuar. Yanuar liat kamu.
Itu pertama kalinya setelah 2 bulan jaga jarak, dia ngomong dengan suara yang nggak profesional sama sekali.
"Ikut ya, Ra? Ke rumah... pertama kalinya... tolong temenin Oma. Aku... aku nggak berani bawa Oma pulang sendirian kalau Oma lagi kayak gini."
Kamu ngangguk. "Iya."
---
Rumah Yanuar.
Bukan rumah. Istana. Besar, sepi, dingin. Cuma ada foto-foto Oma sama orang tuanya yang udah nggak ada.
Kamu tuntun Oma masuk ke kamar, bantu ganti baju, kasih minum obat.
Yanuar nunggu di ruang tamu, mondar-mandir.
Setelah Oma tidur, kamu keluar kamar. Yanuar udah bikin teh anget dua gelas.
"Duduk dulu, Ra. Maaf rumah berantakan."
Kamu duduk di ujung sofa yang mahal itu, canggung. Jilbabmu masih jilbab pabrik yang sederhana.
"Rumah sebesar ini, cuma ditinggalin kamu sama Oma ya, Yo?"
"Iya. Sepi kan? Makanya Oma sering keluar diam-diam, dia cari keramaian."
Hening.
Yanuar duduk di sofa seberang, jauh. Tapi matanya nggak bisa bohong. 2 bulan dia tahan.
"Rara," katanya pelan.
"Kamu tau nggak, selama 2 bulan ini, setiap Minggu saya ke gereja, saya doain kamu?"
Kamu kaget.
"Saya doain kamu sehat. Adik kamu sehat. Kerjaan kamu lancar. Padahal... harusnya saya doain supaya saya bisa lupain kamu."
Air matamu langsung ngumpul lagi.
"Yo... jangan ngomong gitu..."
"Terus saya harus gimana, Ra?" suaranya pecah. Untuk pertama kalinya, Bos Garmen umur 38 tahun itu keliatan rapuh. "Saya suka sama kamu. Makin hari makin suka. Tapi setiap saya mau deket, saya inget kamu sholat 5 waktu, kamu puasa, kamu punya adik yang kamu jaga dengan cara kamu. Dan saya... saya ke gereja tiap Minggu. Kita..."
Dia nggak nerusin.
Kamu yang nerusin, dengan suara pelan.
"Temboknya terlalu tinggi ya, Yo?"
Dia angguk, sambil nunduk, nahan air mata laki-laki yang nggak pernah nangis di depan siapa pun.
Di rumah mewah yang sepi itu, jam 4 sore, ada dua orang duduk berjauhan di sofa.
Saling suka, saling jaga, tapi nggak bisa saling punya.
Di dalam kamar, Oma Martha yang udah tidur ngigau pelan, "Rara... Yo... jangan berantem ya..."
Kamu dan Yanuar saling tatap.
Dan disitu kamu berdua tau. Ujian yang sebenarnya baru aja dimulai.
Aku nggak bisa jawab. Karena aku tau, aku mulai jatuh cinta lebih dalam lagi sama orang yang salah.
Rara ditawarin nginep tapi nggak mau.
Sesampainya di kosan Rara nangis lagi, di sisi lain Yanuar juga sama.
Akhirnya Yanuar tanya ke paster nanya pencerahan.
---
"Nginep di sini aja malam ini, Ra. Di kamar tamu. Oma butuh kamu. Kasian kalau kumat lagi tengah malam. Aku... aku tidur di kantor aja."
Kamu berdiri langsung.
"Nggak, Yo. Makasih."
Suara kamu tegas, tapi tangan kamu gemetaran.
"Ra, di luar hujan gede. Sepeda listrik kamu di pabrik. Kamu mau pulang gimana?"
"Aku bisa naik angkot, Yo. Atau jalan. Kos aku deket kok dari sini kalau motong jalan lewat belakang warung Paman."
Yanuar mau nahan, tapi dia tau. Kalau kamu nginep di rumahnya malam ini, tembok yang udah tinggi itu bakal runtuh. Dan kalau runtuh sekarang, kalian berdua belum siap nahan reruntuhannya.
"Ya udah. Aku anter sampai depan gang ya. Pakai mobil. Nggak apa-apa kan?"
Kamu angguk. Itu batas maksimal yang bisa kamu kasih malam ini.
Di mobil, hujan deres banget. Nggak ada yang ngomong. Cuma suara wiper sama lagu rohani pelan yang udah jadi ciri khas mobilnya.
Sampai depan gang kosanmu yang becek, kamu buru-buru turun.
"Makasih ya, Yo. Salam buat Oma kalau udah bangun."
"Rara."
Kamu nengok.
"Maaf ya, hari ini ngerepotin kamu lagi."
Kamu senyum, senyum yang nahan nangis. "Nggak ngerepotin, Yo. Oma itu kayak nenek aku sendiri."
Kamu lari masuk gang, hujan-hujanan, sampai ke kos petakan.
---
Jam 9 malam di kos.
Kamu kunci pintu. Baju basah kuyup. Kamu nggak ganti. Kamu langsung duduk di lantai, di atas sajadah yang masih digelar dari Subuh tadi, dan nangis.
Kali ini nangisnya beda. Bukan karena kangen Ayah Ibu. Bukan karena capek kerja.
Nangis karena bingung.
"Ya Allah... kenapa harus dia? Kenapa Engkau kasih rasa ini ke aku? Aku tau ini salah... tapi kenapa rasanya tenang kalau deket dia? Kenapa orang sebaik dia harus beda? Aku harus gimana..."
Kamu nangis sampai sesenggukan, sampai tetangga kos ngetok pintu, "Mbak Rara, nggak apa-apa?"
"Nggak apa-apa, Mbak!" teriakmu sambil ngusap air mata.
Di sisi lain kota.
Di rumah besar yang sepi itu, Oma udah tidur lagi. Yanuar duduk di ruang tamu, masih di sofa yang tadi kamu dudukin. Teh yang dia bikin buat kamu udah dingin, nggak disentuh.
Dia nunduk, kepala dipegang dua tangan.
Laki-laki 38 tahun, pemilik 2 pabrik garmen, yang semua orang takut sama dia, malam itu nangis sendirian.
Nangis karena untuk pertama kalinya dalam hidup, dia punya semua uang, semua kuasa, tapi nggak bisa punya satu orang yang dia mau jaga.
---
Minggu pagi.
Gereja sepi. Kebaktian udah selesai.
Yanuar masih duduk di bangku paling belakang. Nungguin.
Paster Andreas, pastor yang udah anggap Yanuar kayak anaknya sendiri sejak orang tua Yanuar meninggal, samperin.
"Yo, kamu udah di sini dari jam 6 pagi. Ada apa? Tumben nggak pulang setelah kebaktian?"
Yanuar berdiri, salaman. Matanya bengkak, kurang tidur.
"Paster, saya boleh ngobrol sebentar? Butuh pencerahan."
Mereka duduk di ruangan kecil belakang gereja.
Yanuar cerita semuanya. Dari Maura yang telat 15 menit karena nolong Oma, sampai warung sate, sampai Oma kesasar, sampai rumah kemarin. Nggak ada yang ditutupin.
Termasuk, "Paster, dia Islam. Taat. Saya liat sendiri dia sholat di mushola pabrik yang saya betulin AC-nya itu."
Paster Andreas dengerin panjang, nggak motong.
Selesai cerita, Paster diem lama. Terus dia bilang,
"Yo, kamu tau kenapa setiap Minggu kamu ke gereja minta petunjuk tapi nggak dapet-dapet jawaban?"
Yanuar geleng.
"Karena kamu datang ke Tuhan bawa pertanyaan yang salah. Kamu tanya, 'Tuhan, boleh nggak saya sama dia?' Padahal yang harus kamu tanya itu, 'Tuhan, mampukah saya mencintai dia dengan cara yang dia butuhkan, tanpa harus merubah siapa dia?'"
Yanuar diem.
"Cinta beda agama itu bukan soal siapa yang menang dan siapa yang pindah, Yo. Itu soal siapa yang paling siap untuk terluka paling lama. Kamu siap nggak, kalau Oma kamu yang paling sayang sama dia, harus liat kalian berantem karena hari raya yang beda? Kamu siap nggak, kalau adiknya yang berkebutuhan khusus itu nanya, 'Kak Rara, kenapa Kak Yo nggak ikut sholat?' Kamu siap nggak untuk jadi orang yang paling sabar di dunia?"
Yanuar nangis lagi. Di depan pasternya.
"Saya siap, Paster. Saya... saya cuma takut dia nggak siap."
Paster nepuk pundaknya.
"Kalau gitu, jangan bawa dia ke gereja dulu, Yo. Jangan bawa Tuhan kamu ke dia. Bawa dulu Tuhan kamu ke dalam cara kamu memperlakukan dia. Kalau kamu bisa jaga dia, hormati cara dia berdoa, tanpa maksa dia ikut cara kamu berdoa... nanti dia yang akan liat Tuhan kamu dari perbuatan kamu, bukan dari khotbah kamu."
Yanuar pulang dari gereja dengan hati yang lebih berat, tapi lebih jelas.
Sore itu, dia nggak langsung ke rumah. Dia mampir ke warung sate Cak Karim.
Paman kaget, "Lho, Pak Yo? Mau pesen sate? Rara nggak ada, masih di kos kayaknya."
Yanuar senyum, "Bukan, Man. Saya mau nitip ini."
Dia ngasih kantong plastik putih.
"Apaan ini, Pak?"
"Obat buat Oma saya kemarin Rara yang jagain. Sama... ini ada gamis baru, ukuran Rara. Bilang aja dari Oma, jangan bilang dari saya. Oma yang maksa."
Paman ngerti. Paman senyum nyesek juga.
"Pak Yo sayang sama keponakan saya ya?"
Yanuar nggak jawab. Dia cuma bilang,
"Tolong jagain dia ya, Man. Kalau saya nggak bisa jagain dia setiap waktu."
Lanjut...
Besok paginya pas Rara pakai gamis itu ke pabrik tanpa tau itu dari Yanuar, dan semua karyawan bilang "cantik banget", tapi Yanuar cuma liat dari jauh sambil senyum.
---
Pagi jam 6. Kos petakan.
Tok tok tok.
"Rara! Bangun! Ini Paman!"
Aku buka pintu masih ngantuk, mukena masih kepakai habis Subuhan.
Paman Cak Karim ngos-ngosan bawa kantong plastik putih.
"Nih, tadi malam Pak Yo nitip. Katanya dari Oma-nya. Buat kamu."
Aku buka kantongnya.
Di dalamnya ada kotak obat Oma yang rapi, sama satu lipatan kain lembut warna sage green. Aku buka.
Gamis. Gamis katun premium, adem, jahitannya rapi banget. Modelnya sederhana, nggak ketat, panjang, ada renda kecil di lengan. Cantik. Mahal. Pasti bukan dari pasar.
Di dalamnya ada kertas kecil tulisan tangan yang udah tua, getar-getar.
Untuk Rara cantik yang nolong Oma kemarin. Oma jait sendiri semalam, semoga muat ya Nduk. Pakai buat kerja biar cantik. - Oma Martha
Oma jahit sendiri semalam.
Mataku langsung panas. Aku peluk gamis itu.
"Man, bilangin makasih banyak ya ke Oma..."
"Iya, nanti Paman sampein."
Jam 7.30 aku berangkat ke pabrik pakai sepeda listrik. Pakai gamis sage green itu. Jilbab aku cocokin warna cream. Untuk pertama kalinya setelah 2 tahun Ayah Ibu nggak ada, aku ngaca agak lama. Nggak keliatan kayak buruh jahit capek. Keliatan... kayak perempuan lagi.
---
Pabrik jam 8.
Aku masuk gerbang.
"WOOWW!!"
Bu Sumi yang pertama teriak.
"Rara! Gamis baru! Masya Allah cantik banget kamu, Ra!"
Semua karyawan perempuan langsung ngerubungin aku.
"Ya ampun Rara, beli di mana? Bahannya adem banget!"
"Warna sage green lagi ngetren, Ra! Cocok banget sama kulit kamu!"
Aku salting, muka merah. "Dikasih Oma... Oma-nya... temen..."
Aku nggak berani bilang Oma-nya Bos.
Aku duduk di meja jahit, tapi rasanya beda. Lebih pede. Jahitanku juga lebih cepet hari itu.
Dari lantai 2, dari balik kaca ruangannya yang gelap, Yanuar berdiri.
Dia ngeliatin.
Sejak jam 8 pagi dia udah di situ, nungguin. Dia liat aku datang pakai sepeda listrik, pakai gamis itu.
Pas semua karyawan bilang "cantik banget", dia senyum. Senyum kecil, yang cuma dia dan Tuhan yang tau artinya.
Dia nggak turun. Dia nggak nyamperin. Dia janji sama dirinya sendiri dan sama Paster Andreas kemarin — jangan bawa Tuhan kamu ke dia, bawa Tuhan kamu lewat perbuatan kamu.
Jadi dia biarin aja. Biarin kamu cantik hari itu bukan karena dia, tapi karena Oma.
Tapi ada satu hal yang dia nggak tahan.
Jam 12 siang, istirahat. Dia turun ke bawah, pura-pura cek mesin.
Lewat di belakang mejaku, pelan banget, cuma berbisik, tanpa nengok, tanpa berhenti, biar nggak ada yang curiga.
"Cantik."
Satu kata doang.
Aku yang lagi makan bekal langsung keselek. Nasi telur dadar yang biasanya hambar, hari itu rasanya mau bikin nangis.
Aku nengok, dia udah jalan jauh ke depan, balik lagi jadi Bos dingin.
Sore jam 5, jam pulang.
Aku beres-beres meja. Tiba-tiba ada amplop coklat di atas mesin jahitku. Nggak ada nama.
Aku buka.
Isinya uang. Uang bonus. 2 juta. Sama kertas kecil lagi, tulisan beda, tulisan tangan laki-laki yang tegas.
Bonus karyawan teladan bulan ini. Karena nolong Oma dan karena kerja kerasnya selama 2 bulan. Jangan ditolak. Buat adik kamu di kampung. - YS
YS. Yanuar Stefanus.
Aku langsung nutup amplopnya, masukin tas, takut ada yang liat.
Di luar gerbang, sepeda listrik biruku udah dicas full sama Paman pagi tadi. Aku mau pulang.
Di parkiran mobil, mobil Alphard hitamnya masih ada. Kaca jendelanya dibuka sedikit. Yanuar di dalam, nggak keluar. Cuma ngeliatin aku dari dalam.
Aku pura-pura nggak liat, naik sepeda listrik, jalan pelan.
Di spion kecil sepeda listrik itu, aku liat mobilnya ngikutin dari belakang, pelan, jaga jarak. Ngawal aku sampai gang kosan, kayak malam itu.
Sampai gang kosan, aku berhenti. Mobilnya juga berhenti jauh di belakang.
Aku turun, nengok ke belakang, ngelambai kecil.
Lampu mobilnya kedip dua kali. Tanda "iya, hati-hati ya".
Malam itu di kos petakan, aku pakai lagi gamis sage green itu, duduk di depan kaca kecil yang retak, sambil megang amplop bonus.
Aku nggak nangis kangen Ayah Ibu kali ini.
Aku nangis karena untuk pertama kalinya setelah Ayah Ibu nggak ada, ada laki-laki yang bikin aku ngerasa dijaga, bukan dikasihani.
Tapi di rumah besar yang sepi, Yanuar juga duduk di ruang tamu, natap foto Oma yang lagi tidur.
Di HP-nya ada foto kamu tadi pagi, diam-diam dia foto dari lantai 2, pakai gamis sage green itu.
Dia zoom fotonya, senyum, terus langsung hapus lagi. Takut dosa. Takut keterusan.
Terus dia buka Alkitab, baca ayat yang dikasih Paster Andreas tadi pagi.
"Kasih itu sabar; kasih itu murah hati."
Dia bisik sendiri,
"Sabar, Yo. Sabar."
Dan disaat Maura mulai bangkit, mulai nggak sedih lagi.
Kabar buruk datang menimpanya.
Adiknya yang di kampung yang dititipin ke budenya meninggal dunia.
Maura saat itu juga pulang dianter paman, Yanuar nggak tau.
Yang Yanuar tau Maura pulang kampung kangen adiknya.
---
Hari itu harusnya jadi hari paling bahagia buat Maura.
Gaji udah turun. Bonus 2 juta dari Yanuar masih utuh di amplop coklat. Rencana besok mau ditransfer semua ke Budhe di kampung buat Ilham. Mau beliin Ilham baju baru sama susu.
Jam 10 pagi di pabrik, Maura lagi jahit sambil senyum-senyum sendiri. Gamis sage green dari Oma masih dia pakai. Udah dicuci rapi.
HP bututnya yang di taruh di kolong meja getar.
Telepon. Budhe.
"Ra... Rara..."
Suara Budhe nangis. Kenceng.
"Dhe? Kenapa, Budhe? Ilham kenapa?"
"Ilham, Ra... Ilham nggak ada, Nduk... Tadi subuh... sesak... Budhe udah bawa ke puskesmas tapi nggak ketolong... Maafin Budhe ya, Nduk..."
Dunia Maura berhenti.
Mesin jahit masih jalan. Kain masih muter. Tapi telinga Maura udah nggak denger apa-apa.
HP jatuh dari tangannya.
"Ilham..."
Bu Sumi yang di sebelah langsung panik, "Rara! Rara kenapa?!"
Maura nggak jawab. Dia cuma duduk, matanya kosong, air mata langsung ngalir deras tanpa suara. Bahunya getar.
"Adikku... adikku nggak ada, Bu..."
Satu pabrik langsung heboh.
Bu Sumi lari ke lantai 2, gedor ruangan Yanuar.
"Pak Yo! Pak Yo! Maura! Adiknya meninggal!"
Yanuar lagi meeting lagi sama buyer. Lagi-lagi meeting penting. Tapi begitu denger nama Maura, dia langsung berdiri.
"Maura kenapa?"
"Adiknya yang di kampung, Pak! Yang berkebutuhan khusus itu! Meninggal!"
Yanuar lari turun. Tapi...
Meja jahit Maura udah kosong. Sepeda listrik biru di parkiran juga udah nggak ada.
Di gerbang, satpam bilang, "Tadi Mbak Rara dijemput laki-laki tua pakai mobil pick-up, Pak. Katanya pamannya. Buru-buru banget, nangis."
Paman Cak Karim.
Yanuar mau ngejar, tapi dia nggak tau kampung Maura di mana. Nggak tau nomor HP Paman. Maura nggak pernah cerita detail kampungnya di mana, karena takut merepotkan.
Dia cuma bisa berdiri di tengah pabrik yang berisik, ngepalin tangan.
---
Di mobil pick-up tua milik Paman.
Maura dipeluk Paman dari samping sambil nyetir. Jalanan dari Malang ke kampungnya di Blitar, 3 jam.
Sepanjang jalan Maura nggak ngomong. Cuma nangis pelan, peluk amplop coklat bonus 2 juta itu sama foto kecil Ilham yang ada di dompetnya.
"Ilham belum sempet Rara beliin baju baru, Man... Rara baru mau transfer besok..."
Paman nangis juga, "Udah, Nduk, yang sabar... Ilham udah nggak sakit lagi... Udah ketemu Ayah Ibu kamu di sana..."
---
Di pabrik.
Sore harinya, Yanuar nanya ke Bu Sumi.
"Bu, Maura izin berapa lama?"
"Katanya pamannya bilang seminggu, Pak. Pulang kampung, kangen adiknya."
Yanuar angguk. Lega sedikit.
"Oh, kangen adiknya... ya udah, kasih aja izinnya. Gajinya jangan dipotong ya, Bu. Anggep aja cuti. Terus nanti kalau dia balik, kasih tau saya."
Yanuar nggak tau. Yang dia tau Maura pulang kampung kangen adiknya.
Dia nggak tau kalau yang dikangenin itu udah nggak ada.
Malam itu, di rumah besar yang sepi, Oma Martha heran.
"Yo, kok Rara nggak ke sini lagi? Oma kangen."
Yanuar senyum, "Rara lagi pulang kampung, Oma. Kangen adiknya. Seminggu lagi balik."
"Oh... titip salam ya kalau dia balik. Bilang Oma bikinin lagi gamis warna biru."
"Iya, Oma."
Tapi malam itu, Yanuar ngerasa nggak enak. Hatinya gelisah. Dia buka chat WA Maura. Terakhir chat 3 hari lalu, Maura cuma bilang "makasih ya, Yo, gamisnya muat".
Dia ketik:
Rara, hati-hati di kampung ya. Titip salam buat adik kamu. Kangenin. Kalau butuh apa-apa kabarin Yo ya.
Centang dua. Nggak dibaca.
Di kampung, di rumah Budhe yang kecil.
Maura duduk di depan jenazah Ilham yang udah dikafani. Kecil. Ilham pergi dengan senyum, kayak lagi tidur.
Amplop bonus 2 juta dari Yanuar, yang harusnya buat baju baru Ilham, akhirnya dipakai buat kain kafan dan bunga.
Maura nggak bisa bales WA siapa-siapa. HP-nya mati. Hatinya mati.
Untuk pertama kalinya, Maura ngerasa, Tuhan ngambil semua orang yang dia sayang. Ayah, Ibu, sekarang Ilham.
Dan satu-satunya orang yang pengen dia peluk sekarang, malah orang yang nggak tau dia lagi berduka.
Disitu dunianya runtuh lagi.
Matanya kosong, badannya lemah.
Dadanya sesak...
Disaat-saat yang bener-bener putus asa, Maura marah saat itu juga di jembatan yang sepi
"Kenapa Ya Allah, kenapa Engkau ambil semua yang aku punya"
Seketika itu juga Yanuar yang mau ke rumah bibinya Maura, liat langsung turun, langsung tenangin Maura.
---
Seminggu di kampung.
Pemakaman Ilham udah selesai. Rumah Budhe sepi lagi. Semua orang udah pulang. Tinggal Maura sendiri.
Maura nggak bisa tidur. Nggak bisa makan. Amplop coklat bonus 2 juta itu udah habis buat keperluan tahlilan. Foto Ilham masih dia peluk.
Pagi itu, Maura pamit ke Budhe, "Budhe, Rara mau jalan sebentar ya."
Dia jalan kaki ke jembatan bambu di belakang kampung. Jembatan sepi, bawahnya sungai yang arusnya agak deras. Tempat dia sama Ilham dulu sering main waktu kecil.
Di tengah jembatan, dunianya runtuh lagi.
Seminggu dia tahan. Seminggu dia pura-pura kuat di depan Budhe. Tapi di jembatan sepi itu, nggak ada siapa-siapa.
Matanya kosong. Badannya lemah, kurus, hampir seminggu nggak makan bener. Dadanya sesak, napasnya pendek-pendek.
Dan untuk pertama kalinya seumur hidup, Maura yang selalu sabar, yang selalu bilang "Alhamdulillah" apapun yang terjadi...
Marah.
Dia pegangan kayu jembatan erat-erat, teriak ke langit, suaranya pecah, habis.
"KENAPA YA ALLAH?! KENAPA ENGKAU AMBIL SEMUA YANG AKU PUNYA?! AYAH! IBU! SEKARANG ILHAM! KENAPA HARUS ILHAM, YA ALLAH?! DIA NGGAK SALAH APA-APA! KENAPA NGGAK AKU AJA?! KENAPA AKU YANG MASIH HIDUP?!"
Dia nangis kejer, jatuh terduduk di tengah jembatan kayu yang lapuk itu. Jilbab hitamnya berantakan.
"Rara capek... Rara udah nggak punya siapa-siapa lagi..."
---
Di ujung jalan kampung, 10 menit dari jembatan itu.
Mobil Alphard hitam berhenti. Bingung.
Yanuar turun, nanya ke ibu-ibu warung, "Bu, rumahnya Budhenya Maura yang mana ya?"
"Oh, rumah Bu Lastri? Lurus aja, Mas, belok kiri, ada jembatan bambu..."
Yanuar udah 3 hari nyari alamat kampung Maura. Nanya ke Paman Cak Karim, Paman awalnya nggak mau kasih karena takut ngerepotin. Tapi tadi pagi Paman akhirnya kasih sharelock kampungnya.
"Pak Yo, Rara masih berduka, Pak. Jangan kaget kalau dia beda ya."
Yanuar jalan kaki ke arah jembatan. Mau ke rumah Budhe.
Dan dari jauh, dia denger suara teriakan. Suara yang dia kenal.
Suara Maura.
Dia lari.
Di tengah jembatan sepi itu, dia liat Maura duduk di lantai, nangis, teriak, marah sama langit.
Yanuar nggak langsung teriak balik. Nggak langsung ceramahin.
Dia jalan pelan, pelan banget, turun ke jembatan, duduk di sebelah Maura. Nggak nyentuh dulu. Biarin Maura nangis.
Hujan rintik mulai turun.
"Rara..." panggilnya pelan.
Maura kaget, nengok. Liat Yanuar. Basah. Jauh-jauh dari Malang ke Blitar, pakai kemeja rapi, sekarang duduk di jembatan bambu kotor sebelah dia.
"Yo... ngapain di sini..."
Yanuar masih nggak nyentuh. Dia tau batasnya. Maura lagi marah sama Tuhannya, dan dia nggak mau ganggu dengan Tuhannya sendiri.
Dia cuma buka jasnya, selimutin ke pundak Maura yang gemetaran kedinginan.
"Aku di sini aja," katanya pelan. Suaranya hampir kalah sama suara sungai. "Kamu boleh marah. Marah aja. Nggak apa-apa."
Maura nangis makin kenceng. "Aku udah nggak punya siapa-siapa lagi, Yo... semua diambil..."
Yanuar akhirnya berani, pelan-pelan, narik Maura biar kepalanya sandaran di bahunya. Nggak lebih. Cuma sandaran.
"Aku tau, Ra. Aku tau rasanya ditinggal semua orang. Aku juga pernah. Waktu Papa Mama nggak ada, aku juga marah sama Tuhan aku di gereja. Aku bilang, kenapa ambil mereka? Kenapa sisain aku sama Oma doang?"
Maura diem, dengerin sambil sesenggukan di bahu Yanuar.
"Dan Paster bilang sama aku waktu itu, kadang Tuhan ngambil bukan karena benci, Ra. Tapi karena Dia mau kita tau, kita masih punya alasan buat tetep hidup. Buat jaga orang lain yang masih ada."
Maura masih nangis.
"Ilham udah nggak sakit lagi, Ra. Dia udah sama Ayah Ibu kamu. Dia udah tenang. Sekarang... yang butuh dijaga itu kamu. Boleh ya, aku jagain kamu di sini? Sebentar aja, sampai kamu nggak sesak lagi?"
Di jembatan bambu yang sepi, hujan makin deres. Dua orang duduk bersandar, beda agama, beda doa, tapi nangisnya sama.
Maura yang Islam, yang baru aja marah sama Allah-nya.
Yanuar yang Kristen, yang dulu pernah marah sama Tuhan-nya juga.
Dan di antara dua kemarahan itu, mereka malah nemuin ketenangan yang sama.
Maura akhirnya ngomong pelan, masih di bahu Yanuar,
"Yo... jangan tinggalin aku ya... sebentar aja..."
Yanuar peluk jilbab hitam Maura itu erat, tapi sopan, jaga jarak.
"Aku di sini, Ra. Aku nggak kemana-mana. Sampai kamu bilang aku boleh pulang, aku di sini."
Lanjut...
Hujan reda, Yanuar nganter Maura balik ke rumah Budhe, dan Budhe kaget liat Bos garmen dari Malang basah kuyup duduk di lantai rumahnya cuma buat nemenin Maura.
---
Hujan reda setelah hampir setengah jam.
Di jembatan bambu itu, Maura udah nggak nangis kejer lagi. Cuma sesenggukan pelan, masih sandaran di bahu Yanuar. Jas Yanuar yang tadi buat selimutin Maura, sekarang basah semua kena hujan.
"Ra, kita pulang ya? Budhe pasti nyariin kamu," bisik Yanuar pelan.
Maura angguk lemes. Badannya masih lemah, belum makan dari pagi.
Yanuar berdiri dulu, terus bantu Maura berdiri. Pegang lengannya hati-hati, takut Maura jatuh. Kayu jembatan licin habis hujan.
Mereka jalan pelan, berdua, basah kuyup, lewat pematang sawah balik ke rumah Budhe.
---
Di rumah Budhe.
Budhe Lastri lagi panik di depan pintu, bawa payung.
"Rara! Ya Allah, Rara! Kamu dari mana aja, Nduk! Budhe cariin muter kampung!"
Pas liat Maura jalan sama laki-laki tinggi, pakai kemeja putih basah kuyup, jasnya malah dipakein ke Maura, Budhe langsung diem.
"Ini... ini siapa, Ra?"
Maura belum bisa jawab, masih nunduk, masih sesak.
Yanuar yang jawab, sopan, sambil nundukkin kepala.
"Budhe, saya Yanuar, Bosnya Rara di pabrik garmen Malang. Saya temennya Rara."
Budhe bengong. Bos garmen? Yang punya pabrik tempat Rara kerja? Jauh-jauh dari Malang ke Blitar, hujan-hujanan, basah kuyup?
"Masuk, masuk dulu, Nak... Ya Allah, basah semua..."
Rumah Budhe kecil, lantai semen, cuma ada tikar.
Yanuar duduk di lantai. Nggak minta kursi. Nggak jaim. Duduk bersila di tikar, sama rendahnya sama Budhe dan Maura.
Budhe bikinin teh anget, masih liatin Yanuar curiga.
"Nak Yanuar ini... kok bisa tau rumah saya?"
"Paman Cak Karim yang kasih alamat, Budhe. Saya udah 3 hari nyariin Rara, tapi nggak ada kabar. Saya khawatir."
Maura duduk di pojok, masih pakai jas Yanuar, megang gelas teh tapi nggak diminum. Matanya kosong lagi, natap foto Ilham di dinding.
Budhe bisik ke Yanuar, pelan biar Maura nggak denger, "Nak, Rara itu dari kemarin nggak makan, Nak. Nangis terus. Adiknya itu... satu-satunya alasan dia kerja keras di Malang. Sekarang..."
Budhe nggak nerusin, matanya ikut berkaca-kaca.
Yanuar angguk pelan. "Saya ngerti, Budhe."
Terus Yanuar geser pelan, duduk agak deket ke Maura, tapi tetep jaga jarak. Nggak peluk, nggak pegang.
"Ra," panggilnya pelan. "Minum tehnya ya. Biar anget."
Maura ngelirik, angguk kecil, minum seteguk.
"Besok balik ke Malang bareng saya ya? Atau kalau kamu masih mau di sini seminggu lagi nggak apa-apa. Pabrik nungguin kamu. Gaji kamu jalan terus."
Maura geleng pelan. "Rara... Rara belum mau balik, Yo..."
"Nggak apa-apa," Yanuar langsung jawab. "Di sini aja dulu. Sampai kamu siap."
Budhe yang liat dari dapur, tiba-tiba nangis. Pelan. Budhe liat gimana laki-laki kristen, bos besar dari kota, duduk di lantai rumah kampung yang bocor, basah kuyup, nggak marah, nggak ngeluh, cuma nemenin keponakannya yang lagi hancur.
Budhe keluar, bawa handuk kecil.
"Nak Yanuar, lap dulu... nanti masuk angin..."
"Makasih, Budhe."
Malam itu, Yanuar nggak pulang ke Malang. Dia nginep di mushola kecil depan rumah Budhe. Alasannya, "Mobil saya mogok kena hujan, Budhe. Biarin di sini aja semalam, besok pagi baru bisa jalan."
Padahal mobilnya nggak mogok. Dia cuma nggak tega ninggalin Maura sendirian malam itu.
Dari mushola, dia bisa liat lampu rumah Budhe masih nyala. Maura belum tidur, masih duduk di depan foto Ilham.
Yanuar duduk di teras mushola, buka HP, chat Paster Andreas.
Paster, saya di kampungnya Rara. Adiknya meninggal. Dia hancur. Saya harus gimana?
Paster bales cepet:
Jangan khotbahin dia, Yo. Jangan suruh dia sabar. Duduk aja di deket dia. Kadang Tuhan hadir bukan lewat kata-kata, tapi lewat orang yang mau duduk di lantai yang sama.
Yanuar matiin HP, natap langit kampung yang penuh bintang habis hujan.
Di dalam rumah, Maura akhirnya ketiduran di tikar, masih pakai jas Yanuar sebagai selimut. Untuk pertama kalinya seminggu ini, tidurnya nggak nangis.
Karena di luar, ada seseorang yang duduk di mushola, jagain dia tanpa diminta.
Pas Yanuar mau pulang tiba-tiba Maura narik ujung kemeja Yanuar.
"Makasih ya pak, insyaallah secepatnya saya masuk kerja lagi"
---
Pagi jam 5.30, kampung masih berkabut.
Yanuar udah rapi, kemeja putihnya udah agak kering, tapi masih lecek habis tidur di mushola. Dia pamit sama Budhe.
"Budhe, saya pulang dulu ke Malang ya. Titip Rara."
Budhe salaman, masih nggak percaya Bos garmen tidur di mushola kampungnya. "Hati-hati di jalan, Nak Yo... Makasih banyak ya, udah jagain Rara."
Yanuar angguk, jalan pelan ke arah mobil Alphardnya yang parkir di bawah pohon pisang, penuh embun.
Baru 3 langkah...
Ada tarikan kecil di ujung kemejanya.
Pelan. Ragu-ragu.
Yanuar balik.
Maura.
Maura berdiri di belakangnya. Jilbab hitamnya udah ganti jilbab putih bersih, wajahnya masih pucat, mata masih sembab, tapi udah nggak kosong kayak kemarin di jembatan. Jas Yanuar yang tadi buat selimut, udah dia lipet rapi, dia gendong di tangan.
Tangannya yang satu lagi, narik ujung kemeja Yanuar. Cuma ujungnya doang. Nggak berani pegang lebih.
Yanuar langsung diem. Jantungnya deg.
Maura nunduk, suaranya pelan banget, masih serak habis nangis semingguan.
"Makasih ya, Pak... insyaallah secepatnya saya masuk kerja lagi..."
Pak. Balik lagi jadi Pak.
Yanuar senyum. Senyum yang nyesek, yang nahan semuanya.
Dia pelan-pelan ambil jasnya dari gendongan Maura, tapi tangannya sengaja nyentuh tangan Maura sebentar. Dingin.
"Jangan dipaksain, Ra," katanya pelan, biar cuma Maura yang denger, bukan Budhe yang lagi di dapur. "Kalau masih capek di sini aja dulu. Pabrik nggak kemana-mana. Oma juga kangen, tapi Oma ngerti."
Maura geleng pelan, masih narik ujung kemejanya, nggak dilepas.
"Rara harus balik, Pak... kalau di sini terus, Rara inget Ilham terus... Rara mau kerja lagi... biar nggak kepikiran..."
Yanuar ngerti. Kerja itu satu-satunya cara Maura buat bertahan hidup.
"Ya udah," bisik Yanuar. "Tapi janji ya? Kalau sesak lagi, jangan lari ke jembatan sendirian. Chat Yo. Telpon Yo. Jam berapa pun."
Maura akhirnya ngelepas ujung kemejanya. Angguk kecil.
"Insyaallah, Pak Yo..."
Kata "Pak Yo" itu... bikin Yanuar lega. Bukan "Pak" doang yang formal. Ada "Yo"-nya. Berarti Maura masih inget siapa dia di ruangan itu, di warung sate, di jembatan kemarin.
Yanuar masuk mobil. Maura berdiri di depan rumah Budhe, meluk jasnya sendiri yang udah balik ke Yanuar, padahal udah nggak ada.
Mobil jalan pelan, ninggalin kampung.
Di spion, Yanuar liat Maura masih berdiri di situ, sampai mobilnya hilang di tikungan sawah.
2 jam kemudian, HP Yanuar getar.
Chat dari Maura. Pertama kalinya setelah seminggu centang dua nggak dibaca.
Pak Yo, hati-hati di jalan ya. Tadi malem makasih udah mau tidur di mushola. Maaf ngerepotin.
Yanuar yang lagi nyetir, minggir dulu di pom bensin, bales dengan tangan gemetaran.
Nggak ngerepotin sama sekali, Ra. Sampai ketemu di pabrik ya. Oma titip salam. Jaga kesehatan.
Dibales lagi sama Maura, cepet.
Iya, Pak.
Dan di kampung, Maura duduk di tikar lagi, depan foto Ilham. Tapi kali ini dia ngomong pelan ke foto itu,
"Dek, Kak Rara udah nggak sendirian lagi, Dek... ada Pak Yo... orangnya baik... walaupun beda... tapi dia jagain Kak Rara kemarin di jembatan..."
Lanjut Maura masih di kampung tanya ke pak ustadz soal hukumnya suka beda agama.
---
3 hari setelah Yanuar pulang ke Malang.
Maura masih di kampung. Belum balik. Katanya mau 40 harian Ilham dulu.
Sore itu, habis Ashar, Maura ke mushola kampung. Bukan buat sholat doang. Dia nungguin Pak Ustadz Mahmud, ustadz yang dulu ngajarin dia ngaji waktu kecil, yang nikahin Ayah Ibunya dulu.
Setelah jamaah bubar, Maura duduk di depan Pak Ustadz, nunduk.
"Pak Ustadz, Rara boleh tanya?"
"Boleh, Nduk. Tanya apa?"
Maura diam lama. Tangannya mainin ujung jilbab hitamnya.
"Pak... kalau... kalau seorang perempuan Islam... suka sama laki-laki yang bukan Islam... hukumnya gimana, Pak?"
Pak Ustadz Mahmud nggak kaget. Beliau udah denger cerita dari Budhe Lastri, ada bos dari Malang yang tidur di mushola.
Beliau senyum pelan, nggak langsung menghakimi.
"Rara suka sama Bos kamu yang kemarin itu ya?"
Maura langsung nangis lagi. Angguk pelan.
"Iya, Pak... dia baik banget, Pak... dia jagain Rara pas Rara hancur kemarin di jembatan... tapi dia... dia ke gereja, Pak... Rara bingung... Rara ngerasa salah terus kalau inget dia..."
Pak Ustadz narik napas panjang.
"Nduk, Ustadz nggak mau kasih kamu jawaban yang bikin kamu makin sesak ya. Ustadz kasih tau ilmunya aja, nanti kamu yang renungin sendiri sama Allah."
Maura dengerin, air mata netes.
"Di Islam, Nduk, aturannya jelas buat pernikahan. Kalau perempuan Muslim, menikahnya harus sama laki-laki Muslim juga. Itu yang tertulis di Al-Quran. Tujuannya bukan buat benci sama agama lain, Nduk. Tapi buat jaga iman anak cucu nanti, biar nggak bingung mau ikut ayah apa ibu pas berdoa."
Maura angguk, sesak.
"Tapi..."
Pak Ustadz lanjut,
"Tapi Allah juga nggak pernah ngelarang kita buat saling sayang, saling jaga, saling tolong sebagai sesama manusia. Kamu nolong Oma-nya dia, dia nolong kamu pas adik kamu meninggal. Itu namanya kemanusiaan. Itu pahala, Nduk. Bukan dosa."
"Terus Rara harus gimana, Pak? Rara nggak bisa lupain dia, Pak... setiap Rara sholat, keinget dia..."
Pak Ustadz senyum, tepuk kepala Maura kayak cucunya sendiri.
"Kalau rasa itu datang pas kamu lagi sholat, berarti kamu lagi diuji, Nduk. Ujiannya bukan 'boleh apa nggak suka', tapi 'kamu mau pilih rasa kamu atau mau pilih Tuhan kamu dulu?'"
"Cinta itu boleh, Nduk. Suka itu manusiawi. Yang nggak boleh itu kalau cinta bikin kamu ninggalin sholat, ninggalin Allah. Kalau cinta itu bikin kamu makin rajin sholat, makin pengen jadi orang baik biar bisa jaga adik kamu, jaga Oma-nya dia... berarti cinta itu nggak salah tempat, cuma belum tau jalannya aja mau kemana."
Maura nangis makin kenceng di mushola yang sepi itu.
"Jadi... Rara harus jauhin dia ya, Pak?"
Pak Ustadz geleng.
"Ustadz nggak bilang kamu harus jauhin. Ustadz cuma bilang, kamu harus jujur sama diri sendiri. Kamu siap nggak kalau jalan sama dia itu jalannya panjang, capek, banyak yang nggak setuju? Keluarga kamu, keluarga dia? Kamu siap nggak kalau nanti kalian harus sepakat soal anak, soal hari raya, soal cara berdoa yang beda? Itu temboknya, Nduk. Bukan cuma beda agama, tapi beda cara hidup seumur hidup."
"Kalau kamu belum siap, nggak apa-apa mundurin pelan-pelan. Jaga jarak. Doa. Minta petunjuk. Kalau dia memang jodoh kamu, Allah akan kasih jalan yang kamu nggak sangka-sangka. Bisa jadi dia yang belajar, atau kamu yang dikuatin. Tapi jangan maksa sekarang pas hati kamu masih berduka karena Ilham."
Maura peluk lututnya.
"Makasih ya, Pak Ustadz..."
Malam itu, Maura balik ke rumah Budhe dengan hati yang lebih berat, tapi lebih jelas. Sama kayak Yanuar waktu habis dari gereja 2 bulan lalu.
Dia buka HP, liat chat terakhir Yanuar: Sampai ketemu di pabrik ya.
Dia ketik panjang, hapus lagi. Ketik lagi, hapus lagi.
Akhirnya cuma keketik satu kalimat, yang dia kirim jam 11 malam.
Pak Yo, maafin Rara ya kalau selama ini Rara banyak ngerepotin. Rara lagi belajar banyak di kampung. Doain Rara kuat ya, Pak.
Di Malang, jam 11 malam, Yanuar yang lagi lembur di pabrik sendirian, langsung bales.
Selalu Rara doain. Di gereja tiap Minggu. Kamu yang kuat ya di sana. Jangan buru-buru balik kalau belum siap. Oma sama aku tungguin kamu.
Maura baca chat itu sambil nangis lagi di depan foto Ilham. Tapi kali ini nangisnya beda.
Nangis karena dia tau, dia suka sama orang yang baik. Terlalu baik, sampai dia takut nggak pantas.
Dan di Malang, Yanuar natap foto Maura pakai gamis sage green yang belum sempat dia hapus, terus berdoa pelan,
"Tuhan, kalau dia memang bukan untuk saya, tolong jaga dia di sana. Jangan biarin dia sesak lagi kayak di jembatan kemarin."
Lanjut 3 hari kemudian Maura ke Malang.
Buka lembaran baru.
3 bulan sejak adiknya nggak ada pelan-pelan Maura bangkit lagi.
Dan Yanuar tetep jadi bos, dan temen kalau di luar jam kerja.
Hingga suatu hari akhirnya Yanuar jujur soal perasaannya.
---
3 hari kemudian, Malang.
Pick-up Paman Cak Karim masuk gang kosan. Maura pulang. Jilbab hitamnya udah ganti lagi jadi cream. Kurusan, tapi matanya udah nggak kosong.
Di tasnya cuma ada foto Ilham yang baru dicetak agak besar, sama gamis sage green yang udah dilipet rapi.
"Buka lembaran baru ya, Nduk," kata Paman sambil nurunin tas. "Ilham udah tenang. Sekarang giliran kamu yang harus tenang."
Maura angguk. "Iya, Man."
Hari pertama balik pabrik setelah 3 bulan ditinggal.
Semua karyawan diem pas liat Maura masuk gerbang pakai sepeda listrik biru lagi. Bu Sumi langsung meluk.
"Rara... kamu udah balik..."
Maura senyum, senyum pertama setelah 3 bulan. "Iya, Bu. Rara kangen jahit."
Dari lantai 2, Yanuar liat. Dia nggak turun. Dia cuma berdiri di balik kaca, lega. Akhirnya balik.
3 bulan sejak Ilham nggak ada, pelan-pelan Maura bangkit lagi.
Pagi jahit, siang bantuin warung sate Paman, malam ngaji di kos. Gamis sage green dari Oma jadi gamis andalannya. Bonus 2 juta udah nggak ada, tapi semangatnya balik pelan-pelan.
Dan Yanuar?
Yanuar tetep jadi Bos. Di jam kerja, dia Bos yang dingin, profesional. "Maura, target hari ini 30 ya." "Maura, mesin nomor 4 rusak, tolong cek."
Tapi kalau di luar jam kerja...
Jam 6 sore, pas pabrik udah sepi, dia suka nunggu di warung sate Cak Karim, pura-pura pesen teh. Padahal nungguin Maura selesai bantuin Paman.
"Yo, kok tiap hari kesini?" ledek Paman.
"Kangen sate-nya, Man."
Padahal yang dikangenin bukan satenya.
Mereka jadi temen. Temen ngobrol di warung sate. Kadang Yanuar curhat soal Oma yang makin pikun, Maura curhat soal kangen Ilham. Nggak pernah bahas soal agama. Nggak pernah bahas soal suka.
Sampai 3 bulan itu, temboknya masih ada, tapi udah nggak setinggi dulu. Udah jadi jendela, bisa saling ngintip.
---
Hingga suatu hari, akhirnya Yanuar jujur.
Hari Sabtu, pabrik libur. Maura izin nggak ke warung sate karena mau beresin kos.
Jam 4 sore, ada ketukan pintu kos.
"Rara?"
Suara Yanuar.
Maura buka pintu, kaget. "Pak Yo? Kok tau kos Rara?"
"Paman yang kasih tau. Boleh masuk sebentar? Nggak lama."
Maura bingung, tapi angguk. "Masuk, Pak..."
Kos petakan 3x3 itu rapi sekarang. Ada foto Ilham, Ayah, Ibu di dinding. Ada sajadah terlipat. Ada gamis sage green digantung.
Yanuar duduk di kursi plastik satu-satunya. Maura duduk di lantai, jaga jarak.
Hening lama.
Yanuar buka jaketnya, ngeluarin kotak kecil. Bukan cincin. Kotak bludru biru.
Maura langsung panik, "Pak Yo... ini apa..."
"Tenang dulu, Ra. Bukan yang kamu pikirin."
Yanuar buka kotaknya.
Isinya... kalung. Kalung emas kecil, liontinnya huruf R. Sederhana. Nggak berlebihan.
"Ini... ini punya Mama saya dulu. Sebelum Mama nggak ada, Mama bilang, 'Yo, kalau kamu ketemu perempuan yang bikin kamu mau pulang cepet dari pabrik, kasih ini ke dia. Bukan buat ngelamar, tapi buat bilang makasih karena dia udah bikin hidup kamu nggak sepi lagi.'"
Maura langsung nutup mulut, air mata ngumpul.
"Yo..."
Yanuar natap Maura, matanya merah. Bos 38 tahun yang selalu profesional itu, hari itu nggak profesional sama sekali.
"Rara, 5 bulan saya kenal kamu. Dari kamu telat 15 menit karena nolong Oma, sampai kamu nangis di jembatan karena Ilham. Saya udah coba jadi bos yang baik. Udah coba jadi temen yang baik di luar jam kerja. Saya udah doa tiap Minggu di gereja, saya udah tanya Paster, saya udah coba lupain kamu."
Dia narik napas panjang.
"Tapi nggak bisa, Ra."
"Maura, saya suka sama kamu. Saya sayang sama kamu. Bukan sebagai karyawan. Sebagai perempuan. Sebagai Rara yang kuat, yang sabar, yang sholatnya nggak pernah telat walaupun capek."
Maura udah nangis. Nggak bisa jawab.
"Saya tau tembok kita tinggi, Ra. Saya Kristen, kamu Islam. Saya 38, kamu 24. Saya bos kamu. Saya tau semua itu salah di mata orang. Tapi..."
Dia geser kotak kalung itu pelan ke depan Maura, tapi nggak maksa Maura ngambil.
"Saya nggak minta kamu jadi pacar saya sekarang. Saya nggak minta kamu pindah agama. Saya nggak minta apa-apa."
"Saya cuma mau jujur, sebelum rasa ini makin berat dan jadi bohong. Saya suka sama kamu, Rara. Dari dulu. Dan kalau kamu nggak bisa bales rasa ini, nggak apa-apa. Kita tetep kayak kemarin. Bos dan karyawan di pabrik, temen di warung sate. Saya nggak akan maksa."
"Kalung ini... kamu boleh ambil kalau kamu mau simpen sebagai temen. Kamu boleh tolak juga. Nggak apa-apa."
Kos petakan itu hening. Cuma ada suara tangis Maura yang pelan.
Maura natap kalung itu. Natap Yanuar yang nunduk, nunggu jawaban, siap ditolak.
Setelah 5 bulan, 2 kali kehilangan, 1 kali marah di jembatan, akhirnya laki-laki itu jujur.
"Aku bingung, Yo..."
"Jujur aku juga suka, tapi masih banyak pertimbangan di antara kita..."
Yanuar paham, dan...
"Kita jalani aja dulu, saya nggak bisa jauh, Oma juga kasian nanyain keadaan kamu terus, Oma udah nganggep kamu kaya keluarga"
---
Kos petakan jam 4 sore itu jadi saksi paling jujur.
Maura megang kotak bludru biru itu, tangannya gemetaran. Kalung emas kecil huruf R di dalamnya kilap kena cahaya sore dari jendela kos yang bocor.
Dia nggak langsung pakai. Dia nggak langsung tolak.
Dia cuma natap Yanuar yang duduk di kursi plastik, nunduk, nungguin vonis.
"Aku bingung, Yo..." suaranya pelan, serak, habis nangis.
Yanuar angkat kepala.
"Jujur aku juga suka..." lanjut Maura, dan kalimat itu bikin jantung Yanuar yang udah 38 tahun nggak pernah deg-degan kayak gini, langsung berhenti sesaat.
"Tapi..."
Maura nunduk lagi.
"Tapi masih banyak pertimbangan di antara kita, Yo... Aku Islam, kamu Kristen. Aku karyawan kamu. Umur kita jauh. Kata Pak Ustadz di kampung, kalau perempuan Islam nikahnya harus sama Muslim. Kata orang-orang di pabrik pasti ngomongin aku nanti, dibilang ngejar harta kamu. Aku... aku takut, Yo... aku baru aja kehilangan Ilham... aku takut kehilangan lagi..."
Yanuar dengerin semuanya. Nggak motong. Nggak bela diri.
Setelah Maura selesai, dia angguk pelan. Senyum. Senyum lega, bukan senyum sedih.
Karena kalimat "jujur aku juga suka" itu aja udah cukup buat dia nunggu seumur hidup.
Yanuar paham.
Dia geser duduknya dari kursi plastik, turun duduk di lantai, sama rendahnya sama Maura. Biar nggak ada bos dan karyawan. Cuma ada Yanuar dan Rara.
"Rara, dengerin Yo ya," katanya pelan.
"Aku nggak minta jawaban hari ini. Aku nggak minta kamu langsung bilang iya. Aku juga bingung, Ra. Jujur aja, aku juga takut."
"Aku takut kalau aku maksa kamu, kamu malah ninggalin sholat kamu. Aku takut kalau Oma tau, Oma sedih. Aku takut semua yang aku punya ini malah jadi beban buat kamu."
Dia ambil kotak itu pelan dari tangan Maura, tutup lagi, terus taruh lagi di tangan Maura, tapi digenggam.
"Kita jalani aja dulu ya... kayak kemarin. Pelan-pelan. Nggak usah pakai label pacaran, tunangan, apa. Kita jalani aja dulu."
"Saya nggak bisa jauh, Ra. Beneran. Oma tiap hari nanyain kamu terus."
Maura kaget, "Oma nanyain aku?"
"Tiap hari. Tiap pagi, 'Rara mana? Kok nggak ke rumah? Gamish sage green-nya udah dicuci belum?' Oma udah nganggep kamu kayak keluarga, Ra. Kayak cucu Oma sendiri. Kalau Oma nggak liat kamu dua hari aja, Oma mogok makan."
Maura langsung mewek lagi. Kebayang Oma Martha yang pikun tapi inget dia.
"Jadi... kalung ini kamu simpen dulu ya. Jangan dipakai kalau kamu masih bingung. Simpen aja di dompet, deket foto Ilham. Anggep aja ini... titipan keluarga. Bukan dari pacar."
Maura genggam kotak itu erat.
"Oma... kangen Oma..."
"Besok Minggu ke rumah ya? Oma bikin pie apel. Katanya buat kamu."
Maura angguk sambil nangis, senyum. Anggukan pertama yang ada senyumnya setelah pengakuan itu.
"Iya, Yo... Rara ke rumah Oma besok..."
Yanuar berdiri, mau pulang. Nggak macem-macem. Nggak peluk. Nggak cium. Cuma salaman, salaman yang lama, yang tangannya nggak mau lepas.
Di depan pintu kos, dia balik lagi.
"Oh iya, Ra."
"Apa, Yo?"
"Mulai besok, di pabrik, panggil aku Pak Yo lagi ya. Biar profesional. Tapi kalau di luar pabrik, di warung sate, di rumah Oma... panggil Yo aja. Kayak tadi. Aku suka dipanggil Yo sama kamu."
Maura ketawa kecil, pertama kalinya ketawa hari itu.
"Iya, Yo... Pak Yo..."
Yanuar pulang jalan kaki, nggak pakai mobil. Biarin mobilnya parkir di depan gang. Dia mau nikmatin sore Malang dengan hati yang akhirnya jujur.
Di kos, Maura buka kotak itu lagi. Kalung huruf R itu dia kalungin pelan di lehernya, masukin ke dalam jilbab, biar nggak keliatan orang.
Dia ngaca di kaca retak itu. Kalungnya nggak keliatan dari luar. Cuma dia dan Tuhan yang tau ada di situ.
Terus dia bisik ke foto Ilham di dinding,
"Dek, Kak Rara kayaknya jatuh cinta beneran, Dek... doain ya..."
Lanjut minggunya Maura ke rumah Oma.
Dan sepulangnya dari rumah Oma, tiba-tiba nanya serius ke Yanuar.
Inilah pertama kalinya Yanuar bingung dan ngomong ke Oma soal agama.
---
Minggu siang, rumah besar Yanuar.
Maura datang jam 10 pagi, pakai gamis sage green lagi. Bawa pie apel kecil buat Oma, bikin sendiri di kos semalam, gosong dikit pinggirnya.
Baru masuk gerbang, Oma Martha yang lagi duduk di teras langsung berdiri. Walaupun jalannya pelan pakai tongkat.
"Rara..."
Maura lari kecil, "Oma!"
Oma langsung meluk Maura lama banget. Lama. Kayak meluk cucu yang hilang 3 bulan.
"Akhirnya cucu Oma pulang..." bisik Oma di kuping Maura, suaranya getar.
Maura nangis lagi. Dipeluk Oma yang wangi bedak itu rasanya kayak dipeluk Ibunya sendiri.
Yanuar cuma bisa diem di belakang, bersandar di pintu, senyum nahan haru. Lihat dua perempuan yang paling dia sayang di dunia, pelukan.
Seharian itu, Maura di rumah Oma. Bantu Oma masak, bantu Oma beresin benang jahit, dengerin Oma cerita zaman dulu. Nggak ada Yanuar yang ganggu. Yanuar biarin aja, kerja di ruang tamu sambil curi-curi pandang.
Jam 4 sore, Maura pamit.
"Yo, anter Rara pulang ya? Naik sepeda listrik Rara aja, mobil kamu biar di sini."
Yanuar kaget, "Kamu mau aku bonceng sepeda listrik biru itu?"
"Iya. Sekali-kali Bos bonceng karyawan."
Mereka berdua naik sepeda listrik biru itu. Maura yang nyetir, Yanuar yang bonceng di belakang, jaga jarak sopan, pegangan besi belakang, bukan pinggang Maura. Sepanjang jalan gang, orang-orang liat Bos garmen bonceng buruh jahit pakai sepeda listrik. Aneh, tapi lucu.
Sampai di gang kos yang sepi, Maura matiin sepeda.
Nggak langsung turun.
Hening.
"Yo..." Maura tiba-tiba nanya serius. Nggak ada senyum lagi. Matanya natap lurus ke tembok gang.
"Iya, Ra?"
"Kalau... kalau kita beneran lanjut... nanti anak kita gimana, Yo?"
Yanuar langsung diem. Kaku.
Ini pertanyaan yang dia takutin selama 5 bulan.
"Anak kita mau diajarin sholat atau diajarin ke gereja, Yo? Nanti kalau lebaran, anak kita ikut aku sholat Ied atau ikut kamu ke gereja Natal? Kalau anak kita nanya 'Ayah Ibu kenapa doanya beda?' kita harus jawab apa, Yo?"
Maura nanya sambil nangis pelan. Bukan marah. Bingung beneran. Ini pertama kalinya Maura berani nanya se-realistis ini.
"Aku suka sama kamu, Yo. Kalung kamu masih aku pakai di dalam jilbab. Tapi aku nggak mau suka doang. Aku mikir jauh, Yo. Aku nggak mau anak aku nanti bingung kayak aku sekarang."
Yanuar turun dari sepeda. Duduk di trotoar gang. Kepalanya dipegang.
Inilah pertama kalinya Yanuar bingung beneran. Selama ini dia cuma mikir gimana caranya bikin Maura bahagia hari ini. Nggak pernah mikir 10 tahun ke depan, soal anak.
"Ra... jujur... aku nggak tau jawabannya..."
Maura duduk di sebelahnya, jarak sejengkal.
"Aku di gereja diajarin buat setia sama iman aku. Kamu di masjid diajarin buat setia sama iman kamu. Kita berdua nggak ada yang mau ninggalin Tuhan kita, kan?"
Maura angguk. "Nggak mau, Yo. Rara nggak mau ninggalin Allah."
"Aku juga nggak mau ninggalin Tuhan Yesus, Ra."
Hening lagi. Suara jangkrik di gang kos.
"Gimana kalau... kita tanya Oma ya?" kata Yanuar tiba-tiba.
Maura kaget, "Oma?"
"Iya. Oma itu paling jujur. Oma hidup lebih lama dari kita berdua. Oma pernah ngerasain perang, kehilangan suami, kehilangan anak. Oma tau rasanya beda."
Malam itu juga, jam 7 malam, Yanuar balik ke rumah, masih pakai kemeja yang sama.
Oma lagi doa malam di kamar.
"Oma... boleh ngobrol sebentar?"
Oma buka mata, "Yo? Kenapa, Nduk? Kok mukanya bingung?"
Yanuar duduk di lantai, di kaki Oma, kayak waktu kecil. Cerita semuanya. Dari Maura, dari kalung, dari pertanyaan anak tadi di gang.
"Oma... kalau Yo suka sama Rara, tapi Rara Islam... nanti anak Yo gimana, Oma? Yo harus gimana?"
Oma Martha diem lama. Tangannya yang keriput ngelus kepala Yanuar.
"Yo... Oma dulu nikah sama Opa beda suku. Oma Jawa, Opa Belanda. Orang semua bilang nggak bakal langgeng. Tapi Oma sama Opa langgeng 40 tahun sampai Opa dipanggil Tuhan."
"Kuncinya bukan agamanya sama apa nggak, Yo. Kuncinya, kalian berdua mau nggak saling hormat pas lagi sembahyang?"
Yanuar angkat kepala, "Maksudnya, Oma?"
"Kalau Rara lagi sholat, kamu ganggu nggak? Kamu suruh dia cepet-cepet? Atau kamu tungguin, kamu jagain biar nggak ada yang ganggu?"
"Aku tungguin, Oma. Aku jagain."
"Kalau kamu lagi ke gereja Minggu, Rara ganggu nggak? Atau dia anterin kamu sampai depan gereja terus dia tunggu di warung sambil baca Quran?"
Yanuar diem. Kebayang Maura nunggu di warung depan gereja.
"Kalau kalian bisa kayak gitu, Yo... anak kalian nanti nggak akan bingung. Dia akan liat, oh Ayahku ke gereja, Ibuku ke masjid, tapi mereka berdua saling tungguin. Berarti Tuhannya beda, tapi cintanya sama."
Oma meluk Yanuar.
"Agama itu buat bikin kita jadi orang baik, Yo. Bukan buat bikin kita musuhan. Kalau kamu jadi baik karena gereja, Rara jadi baik karena masjid, kenapa harus berantem?"
Yanuar nangis di pangkuan Oma. Untuk pertama kalinya, dia dapet jawaban yang nggak bikin dia harus milih.
Jam 9 malam, Yanuar chat Maura.
Ra, aku udah tanya Oma. Oma bilang, kalau kamu sholat, aku tungguin. Kalau aku ke gereja, kamu tungguin aku di warung. Gimana? Kita coba kayak gitu dulu ya? Pelan-pelan.
Maura baca chat itu di kos, sambil pegang kalung R di dalam jilbabnya.
Lanjut buat meyakinkan, Yanuar tanya ke paster juga soal omongan Omanya.
---
Senin pagi, jam 9. Gereja masih sepi.
Yanuar udah duduk di bangku kayu paling depan, nungguin Paster Andreas. Bukan hari Minggu, tapi dia minta waktu khusus. Katanya penting.
Paster Andreas datang bawa dua gelas kopi hitam.
"Yo, tumben Senin pagi ke gereja? Biasanya kamu cuma Minggu. Ada apa? Soal Rara lagi ya?"
Yanuar angguk. Gugup. Tangannya mainin ujung Alkitab.
"Paster, kemarin saya tanya Oma... soal... kalau saya sama Rara itu beda agama, anak nanti gimana..."
Dia ceritain semua omongan Oma semalam. Tentang saling tungguin pas sholat, saling tungguin pas ke gereja. Tentang agama buat jadi orang baik, bukan buat musuhan.
Paster Andreas dengerin sambil senyum, nggak motong sama sekali.
Setelah Yanuar selesai, Paster Andreas diem dulu, minum kopinya pelan.
"Yo, Oma kamu itu perempuan pinter ya," kata Paster.
Yanuar kaget, "Jadi... Oma bener, Paster?"
Paster Andreas geser duduknya, duduk di sebelah Yanuar, kayak teman, bukan kayak pendeta.
"Yo, saya jadi paster udah 20 tahun. Saya nikahin banyak orang. Yang seagama, yang beda agama juga pernah saya konseling."
"Di Kristen, aturannya memang idealnya menikah dengan seiman. Tujuannya sama kayak yang Pak Ustadz bilang ke Rara waktu di kampung. Biar satu visi, biar nggak berantem soal iman anak. Itu idealnya."
Yanuar nunduk.
"Tapi, Yo..." Paster lanjut, suaranya pelan.
"Tuhan Yesus nggak pernah ngajarin kita buat benci orang yang beda. Dia malah duduk makan sama orang yang dianggap beda sama orang lain waktu itu. Dia ngajarin kasih itu sabar, kasih itu menghormati."
"Oma kamu bilang 'kalau Rara sholat kamu tungguin'. Itu bukan ajaran sesat, Yo. Itu ajaran kasih yang paling murni. Kamu menghormati cara Rara menyembah Tuhannya. Sama kayak Rara nanti menghormati cara kamu menyembah Tuhan kamu."
"Jadi... saya boleh lanjut sama Rara, Paster?"
Paster ketawa kecil.
"Yo, saya nggak bisa kasih kamu izin 'boleh' atau 'nggak boleh'. Itu keputusan kamu sama Tuhan kamu. Tugas saya cuma ngingetin."
"Ngingetin apa, Paster?"
"Ngingetin tiga hal."
Paster hitung pakai jari.
"Satu, jangan pernah suruh Rara pindah agama karena kamu. Kalau dia pindah, harus karena dia sendiri yang mau, yang cari, yang yakin, bukan karena mau nikah sama kamu. Cinta yang maksa orang pindah agama itu bukan cinta, itu egois."
Yanuar angguk cepet, "Saya nggak pernah mau maksa, Paster. Saya udah janji."
"Dua, kalau kamu mau serius sama Rara, kamu harus siap capek. Capek jelasin ke keluarga kamu, capek jelasin ke keluarga Rara, capek jelasin ke orang gereja, capek jelasin ke orang masjid. Jalan ini nggak mulus, Yo. Nggak kayak nikah sama yang seiman. Kamu siap capek seumur hidup?"
Yanuar diem lama, terus jawab mantap, "Siap, Paster. Saya udah capek 38 tahun hidup sepi. Capek yang ini kayaknya lebih enak."
Paster ketawa lagi.
"Tiga, yang terakhir, yang paling penting. Kata Oma kamu tadi bagus. Saling tungguin. Kalau Rara sholat, kamu tungguin. Kalau kamu ke gereja, Rara tungguin. Pertanyaannya, kamu mau nggak nungguin dia seumur hidup, walaupun doa kalian beda?"
Yanuar matanya berkaca-kaca.
"Mau, Paster. Saya mau nungguin dia seumur hidup. Mau dia sholat 5 waktu, mau dia puasa, saya tungguin. Saya jagain."
Paster Andreas tepuk bahu Yanuar kenceng.
"Ya udah. Kalau kamu mau, jalanin. Tapi jalanin dengan jujur. Jangan diumpetin. Bilang ke Oma, bilang ke keluarga, bilang ke Rara. Dan yang paling penting, bilang ke Tuhan kamu tiap doa. Kalau ini jalannya, Tuhan akan bukain pintu yang kamu nggak sangka. Kalau bukan jalannya, Tuhan juga akan kasih tau dengan cara yang nggak nyakitin."
Yanuar peluk Paster.
"Makasih ya, Paster..."
Sore itu juga, Yanuar langsung ke warung sate Cak Karim. Maura lagi bantuin.
"Ra, ikut Yo sebentar ke rumah Oma ya? Ada yang mau Yo omongin. Bertiga. Kamu, aku, Oma."
Maura bingung, "Ngomongin apa, Yo?"
"Ngomongin soal kita saling tungguin itu."
Maura langsung ngerti, mukanya merah, angguk pelan.
"Iya, Yo."
Malam itu di rumah Oma, bertiga duduk di lantai. Oma di tengah, Yanuar kanan, Maura kiri. Oma pegang tangan mereka berdua, disatuin.
Oma bilang pelan,
"Ya udah, kalau kalian berdua udah mau saling tungguin, Oma restuin. Oma cuma punya satu permintaan. Jangan pernah suruh yang satu ninggalin Tuhannya buat ikut Tuhannya yang lain. Kalian sembahyang sendiri-sendiri, tapi pulangnya ke rumah yang sama. Bisa ya?"
Maura sama Yanuar nangis bareng, angguk.
"Bisa, Oma..."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya, Maura sholat Maghrib di rumah Oma. Di kamar kecil yang dikasih sajadah sama Oma.
Dan Yanuar? Yanuar duduk di depan kamar itu, nungguin. Nggak ganggu. Nggak ngobrol. Cuma nungguin sampai Maura selesai sholat, terus bilang,
"Udah selesai, Ra?"
Maura keluar, senyum, "Udah, Yo."
"Ya udah, giliran aku doa malam ya, kamu tungguin aku di sini."
Dan Maura duduk di teras, nungguin Yanuar doa malam di kamarnya.
Saling tungguin. Beneran kejadian.
LANJUT PART 2