Pagi itu, kabar kematian datang lebih cepat daripada matahari menghangatkan halaman rumah.
Aku baru saja bangun ketika suara orang-orang di luar terdengar ramai. Ada yang berbicara dengan nada tinggi, ada yang berbisik-bisik, ada pula yang sibuk menelepon seseorang sambil berjalan mondar-mandir di depan rumah. Suasana kampung yang biasanya dipenuhi suara ayam dan motor berangkat kerja mendadak terasa berbeda.
Awalnya kupikir ada kecelakaan.
Sampai seseorang mengatakan bahwa seorang perempuan yang tinggal tidak jauh dari rumahku ditemukan meninggal dunia. Bukan karena sakit, bukan pula karena kecelakaan. Dia diduga menjadi korban pembunuhan.
Aku terdiam.
"Siapa?" tanyaku, memastikan telingaku tidak salah menangkap kabar.
"Si anu. Yang beberapa hari ini dicari keluarganya."
Aku mengenalnya. Tidak terlalu dekat, tetapi cukup sering melihatnya lewat. Perempuan muda itu sedang mempersiapkan pernikahan. Beberapa waktu sebelumnya, orang-orang masih membicarakan rencana bahagianya. Sebuah keluarga akan segera mengadakan hajatan, seorang perempuan akan mengenakan pakaian pengantin, dan dua orang yang saling mencintai akan memulai kehidupan baru.
Siapa yang menyangka, beberapa hari kemudian, namanya justru menjadi bahan pembicaraan karena sebuah kematian?
Yang lebih membuatku sulit percaya, orang yang diduga terlibat adalah sepupunya sendiri.
---
Menurut cerita yang beredar, perempuan itu sedang membutuhkan uang untuk membeli berbagai keperluan pernikahan. Calon suaminya telah mentransfer sekitar dua puluh juta rupiah untuk keperluan tersebut.
Bagi sebagian orang, angka itu mungkin tidak terlalu besar. Namun, bagi mereka yang mengumpulkannya sedikit demi sedikit, dua puluh juta rupiah bukan uang yang bisa dianggap sepele. Ada waktu yang dikorbankan, pekerjaan yang dijalani, dan harapan yang disimpan di dalamnya.
Uang itu bukan sekadar angka dalam rekening. Ada sebuah pernikahan yang sedang dipersiapkan di baliknya.
Perempuan itu kemudian meminta sepupunya mengantarnya untuk mengambil uang tersebut. Mereka masih keluarga. Tidak ada alasan yang cukup kuat baginya untuk mencurigai sesuatu yang buruk akan terjadi.
Bukankah begitulah cara kepercayaan bekerja?
Kita tidak selalu mempercayai seseorang karena telah mengenalnya sampai ke dasar hati. Kadang-kadang, kita percaya hanya karena orang itu tumbuh di lingkungan yang sama, menghadiri acara keluarga yang sama, dan dipanggil dengan sebutan yang sama oleh orang tua kita.
Kita mengira hubungan darah cukup untuk menjamin keselamatan.
Padahal, darah yang menghubungkan dua manusia tidak selalu membuat keduanya memiliki hati yang serupa.
Hari berlalu, tetapi perempuan itu tidak kunjung pulang.
Keluarga mulai gelisah. Telepon tidak memberikan jawaban yang mereka harapkan. Orang-orang bertanya ke sana kemari. Ada yang mencari ke rumah kerabat, ada yang mencoba menghubungi teman-temannya, dan ada pula yang berharap perempuan itu hanya sedang pergi tanpa sempat memberi kabar.
Namun, harapan memiliki batas ketika waktu terus berjalan tanpa kepastian.
Hari pertama berlalu.
Hari kedua menyusul.
Kemudian hari-hari berikutnya datang dengan kecemasan yang semakin sulit disembunyikan.
Keluarganya mulai membayangkan berbagai kemungkinan. Mungkin terjadi sesuatu di perjalanan. Mungkin teleponnya rusak. Mungkin dia sedang berada di tempat yang tidak memiliki jaringan.
Manusia memang pandai menciptakan kemungkinan ketika kenyataan belum memberikan jawaban. Terkadang, kita memilih kemungkinan yang paling baik bukan karena memiliki bukti, melainkan karena kita belum sanggup menerima kemungkinan yang paling buruk.
Sementara itu, sepupunya mulai diperiksa.
Ada pertanyaan yang harus dijawab, ada keterangan yang perlu dicocokkan, dan ada bagian-bagian dari kejadian tersebut yang belum menemukan penjelasan. Orang-orang mulai memperhatikan gerak-geriknya. Kecurigaan tumbuh, tetapi kebenaran belum sepenuhnya terungkap.
Lalu, pada suatu hari, kabar lain datang.
Mayat perempuan itu ditemukan di sebuah gorong-gorong.
---
Aku tidak tahu bagaimana perasaan keluarga ketika pertama kali mendengar kabar tersebut. Aku hanya bisa membayangkan betapa beratnya menerima kenyataan bahwa seseorang yang mereka cari selama berhari-hari ternyata tidak akan pernah pulang dengan caranya sendiri.
Perempuan itu ditemukan dengan kedua tangannya terikat. Ada luka di bagian belakang kepalanya. Tubuhnya disembunyikan di tempat yang tidak seharusnya menjadi tempat peristirahatan terakhir seorang manusia.
Di tengah kesibukan orang-orang mendatangi lokasi penemuan, perhatian mendadak terpecah. Sepupu yang sebelumnya sedang diperiksa dilaporkan melarikan diri.
Aku tidak tahu persis bagaimana keadaan pemeriksaan ketika itu. Aku juga tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka. Namun, kabar pelarian tersebut membuat kejadian ini semakin mengundang pertanyaan.
Bagaimana seseorang yang sedang diperiksa bisa melarikan diri?
Apakah pengawasan ketika itu memang tidak memadai? Apakah ada keadaan tertentu yang tidak diketahui masyarakat? Atau ada bagian dari peristiwa tersebut yang belum terungkap kepada publik?
Aku tidak ingin menuduh siapa pun hanya berdasarkan cerita yang beredar. Dalam perkara pidana, dugaan harus dibuktikan dan setiap orang berhak menjalani proses hukum yang semestinya.
Tetapi aku memahami mengapa orang-orang bertanya-tanya.
Sebab ketika seseorang menghilang selama berhari-hari, kemudian ditemukan meninggal dalam keadaan yang mencurigakan, lalu orang yang diduga mengetahui kejadian tersebut melarikan diri, masyarakat tentu menginginkan jawaban.
Bukan jawaban yang dibuat untuk meredakan kegaduhan sesaat, melainkan jawaban yang benar-benar menjelaskan apa yang terjadi.
Sementara itu, menurut kabar yang beredar, sepupu tersebut juga diduga terlibat dalam penyalahgunaan narkotika. Barang yang diduga sabu disebut-sebut ditemukan dalam perkara ini.
Aku tidak tahu apakah narkotika memiliki hubungan langsung dengan kematian perempuan tersebut. Itu urusan penyelidikan dan pembuktian. Namun, kabar itu menambah panjang daftar persoalan yang harus dihadapi.
Betapa banyak hal yang belum kita ketahui tentang kehidupan seseorang, bahkan ketika orang itu tinggal tidak jauh dari rumah kita.
Kita melihatnya duduk di warung, tertawa bersama kerabat, atau melintas di jalan kampung. Kita mengetahui namanya, mengenali wajahnya, bahkan mungkin pernah makan bersama dengannya. Namun, apakah semua itu berarti kita benar-benar mengetahui isi pikirannya?
Ternyata tidak.
---
Sejak mendengar kabar tersebut, aku terus memikirkan uang dua puluh juta rupiah itu.
Bukan karena uang lebih penting daripada nyawa, melainkan karena uang tersebut memiliki cerita di belakangnya.
Ada seorang perempuan yang sedang menyiapkan pernikahan. Ada calon suami yang mengirimkan uang untuk keperluan mereka. Ada keluarga yang mungkin telah membicarakan hari bahagia itu. Mungkin sudah ada pakaian yang dipilih, daftar tamu yang disusun, atau barang-barang yang mulai dibeli sedikit demi sedikit.
Di suatu tempat, mungkin ada seseorang yang masih menyimpan rencana untuk hari pernikahan mereka.
Lalu, dalam hitungan hari, semua rencana itu berubah menjadi kenangan yang menyakitkan.
Undangan yang belum sempat dibagikan tidak lagi memiliki arti seperti sebelumnya. Persiapan yang semula membawa kegembiraan mendadak terasa seperti sesuatu yang berasal dari kehidupan orang lain. Masa depan yang telah dibayangkan bersama kini menyisakan pertanyaan yang tidak mudah dijawab.
Dan orang-orang yang ditinggalkan harus belajar menerima kenyataan yang tidak pernah mereka minta.
Aku membayangkan calon suaminya. Aku tidak tahu apa yang ia rasakan atau bagaimana ia menghadapi kejadian tersebut. Namun, kehilangan seseorang yang sedang kita persiapkan untuk menjadi pasangan hidup tentu menyisakan luka yang berbeda.
Seseorang bisa kehilangan orang yang dicintainya karena penyakit, kecelakaan, atau usia yang telah sampai pada batasnya. Semua kehilangan itu menyakitkan.
Namun, ketika seseorang diduga direnggut oleh tindakan manusia lain, kesedihan sering kali datang bersama pertanyaan yang terus berulang.
Mengapa harus dia?
Mengapa dengan cara seperti itu?
Mengapa seseorang yang dipercaya justru diduga menjadi orang yang membahayakan?
Pertanyaan-pertanyaan tersebut tidak selalu memiliki jawaban yang mampu menghilangkan kesedihan.
Sebab ada peristiwa yang bisa dijelaskan melalui penyelidikan, tetapi akibatnya tetap tidak bisa diperbaiki. Pelaku dapat ditemukan, perkara dapat dibawa ke pengadilan, dan hukuman dapat dijatuhkan. Namun, semua itu tidak akan mengembalikan seseorang yang telah meninggal kepada keluarganya.
Hukum dapat menegakkan pertanggungjawaban. Hukum tidak dapat memutar waktu.
---
Pagi itu, aku kembali melihat kampung seperti biasanya.
Orang-orang masih pergi bekerja. Kendaraan tetap melintasi jalan. Warung masih buka, anak-anak masih berangkat sekolah, dan kehidupan terus berjalan sebagaimana hari-hari sebelumnya.
Dunia memang memiliki kebiasaan yang terkadang terasa kejam. Ketika kehidupan seseorang berhenti, kehidupan orang lain tetap berjalan.
Matahari tidak berhenti terbit hanya karena sebuah keluarga sedang berduka. Jalanan tidak mendadak kosong hanya karena seseorang kehilangan masa depannya. Bahkan, beberapa hari kemudian, orang-orang mungkin akan kembali membicarakan hal lain.
Tetapi bagi keluarga yang ditinggalkan, kejadian itu tidak sesederhana berita yang lewat di layar telepon.
Mereka akan mengingatnya ketika melihat barang-barang milik korban. Mereka akan teringat ketika melewati tempat yang pernah dikunjungi bersama. Mereka mungkin akan terdiam ketika mendengar nama yang dahulu biasa dipanggil setiap hari.
Ada kehilangan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain, tetapi terus hidup dalam keseharian mereka yang mengalaminya.
Dan aku, yang hanya mendengar kabar dari kejauhan, merasa tidak pantas menjadikan penderitaan itu sebagai bahan hiburan.
Aku hanya bisa berharap kebenaran segera terungkap, proses hukum berjalan sebagaimana mestinya, dan keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan untuk menghadapi hari-hari berikutnya.
Sebab kematian seseorang bukan tontonan. Bukan pula sekadar cerita untuk membuat orang terkejut selama beberapa menit sebelum beralih ke berita berikutnya.
Di balik setiap nama yang muncul dalam kabar kriminal, ada kehidupan yang pernah berjalan seperti kehidupan kita. Ada orang yang menunggu kepulangannya, ada keluarga yang menyebut namanya dengan penuh kasih, dan ada masa depan yang pernah dibayangkan.
Perempuan itu mungkin pernah membayangkan hari ketika ia berdiri di hadapan orang-orang yang dicintainya, mengenakan pakaian pengantin, lalu memulai kehidupan baru bersama seseorang yang telah dipilihnya.
Ia mungkin pernah memikirkan hal-hal sederhana setelah menikah. Rumah yang akan ditempati, makanan yang akan dimasak, dan hari-hari biasa yang akan dijalani bersama.
Kita tidak tahu semua impiannya.
Namun, kita tahu satu hal: ia berhak menjalani hidupnya tanpa harus menjadi korban kekerasan.
Dan jika benar kepercayaan kepada kerabatnya telah dikhianati, peristiwa ini mengingatkan kita bahwa hubungan keluarga semestinya menjadi tempat seseorang merasa aman, bukan alasan bagi siapa pun untuk merasa bebas menyakiti.
Dua puluh juta rupiah mungkin bisa dicari kembali. Barang-barang yang hilang mungkin bisa diganti. Utang mungkin bisa dilunasi, dan harta mungkin bisa dikumpulkan lagi dari awal.
Tetapi nyawa manusia tidak memiliki harga pengganti.
Itulah yang paling sulit kupahami dari kejadian ini. Bagaimana sesuatu yang bisa dicari dengan bekerja, menabung, dan bersabar dapat menyeret manusia ke dalam perbuatan yang akibatnya tidak bisa diperbaiki?
Pagi itu, aku akhirnya mengerti mengapa sebuah kabar kematian bisa membuat suasana kampung berubah dalam sekejap.
Bukan semata-mata karena seseorang telah meninggal dunia, melainkan karena orang-orang yang mendengarnya mendadak menyadari bahwa bahaya tidak selalu datang dari tempat yang jauh.
Kadang-kadang, orang yang kita percaya adalah orang yang paling dekat dengan kita. Kita mengenalnya sejak kecil, mengetahui nama keluarganya, dan tidak pernah membayangkan bahwa suatu hari namanya akan dikaitkan dengan sebuah tragedi.
Tentu saja, kita tidak boleh hidup dengan mencurigai semua orang. Dunia akan menjadi tempat yang melelahkan jika setiap hubungan dipenuhi prasangka.
Namun, kepercayaan juga tidak seharusnya membuat kita menutup mata terhadap tanda-tanda bahaya. Kita boleh menyayangi keluarga, tetapi perbuatan yang salah tetap harus dipertanggungjawabkan. Kita boleh menghormati hubungan darah, tetapi hukum dan keselamatan manusia tidak boleh dikorbankan demi melindungi nama keluarga.
Sebab pada akhirnya, yang membuat seseorang layak dipercaya bukan sekadar nama yang sama di belakang namanya.
Melainkan perbuatannya.
Dan pada pagi yang penuh kabar duka itu, ketika matahari terus naik seolah tidak mengetahui apa yang terjadi, aku hanya bisa berdoa semoga keadilan menemukan jalannya.
Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.
Semoga kebenaran tidak terkubur bersama korban.
Dan semoga kita semua tidak pernah lupa bahwa di balik uang, amarah, dan segala urusan dunia, ada satu hal yang tidak boleh dirampas oleh siapa pun: hak manusia untuk hidup.