Kas-kus menatap dengan rasa penasaran apel yang jatuh dari pohon sebelum matahari tertidur, ia kembali ke bawah tanah nan di atasnya tumbuh bunga violet dalam pekarangan halaman desa yang sudah lama di telantarkan.
Aroma nastar tercium di balik salah satu lubang tempat keluar masuk terowongan tikus yang bercambang-cabang di bawah tanah tinggal sekumpulan tikus. Para tikus bewarna hitam atau abu-abu namun hanya 1 warna kecoklatan muda, yaitu bernama kas-kus.
Tidak ada percakapan di antara tikus, semua lupa atas bahasa mereka. Kembali ke aroma nastar berasal dari sarang lebah menggantung di pohon, kerumunan tikus sebut saja kaum buruh sedang berusaha memindahkan nastar ke sarang untuk di makan sesama spesies sebelum sang beruang menyadari keberadaan mereka.
Kas-kus sibuk mengamati bunga matahari tertanam di belakang salah rumah nan hampa, ia membayangkan kupu-kupu biru yang dulu hinggap kembali ada. Kas-kus ia tak memiliki kewajiban apa-apa karna masih terlalu muda, rutinitasnya sebatas menikmati estetika alam.
Suara aungan dari sesosok beruang grizli menggelegar membelah hutan. Para kaum buruh tetikus berbondong kembali ke sarang, mereka berhasil mendapat hasil makanan cukup. Kas-kus membatu ketika merasa takut
Ia di gendong kembali oleh ayahnya.
Dalam tanah pembagian makanan yang dilalukan oleh ketua tikus. Kas-kus dapat sepotong apel secara harfiah.
Ibu Kas-kus menyisakan sedikit nektar bagiannya untuk di kasih ke anaknya. Kas-kus ingin tersenyum namun raut mukanya selalu datar bagaikan batu yang tidak bisa melunakan diri. Para tikus lain menggapnya anomaly maupun anak kecil yang lahir prematur.
Keseharian mereka bagaikan naktar yang tertes lambat namun pasti akan habis sewaktu-waktu. Isi markas semakin lama semakin sunyi begitu pula dengan cacing dan nyamuk justru semakin banyak.
Anehnya mereka membersikan diri dengan lumpur, karna tidak ada satu pun tikus yang suka air.
Mereka kotor tapi tidak pernah memutuskan untuk kotor.
Bulan bangun dari tidur panjangnya, itu perasaan para tikus karna mereka lebih sering melihat matahari ketimbang bulan. Malam nan hening sebelum datangnya pasukan semut menyerang tikus.
Sang semut hutan yang merah merona.
Semut salah satu tantangan yang mudah di atasi namun kalau banyak, banyak yang meninggal. Ada tikus penjaga yang lebih besar dan kuat dari tikus pekerja, mereka berkelahi. Jika semut pakai taring, tikus pakai tangan dan ekornya. Kaskus dan beberapa tikus lain bersumbunyi ke ruangan bawah tanah yang jauh dari area pertempuran. Kas-kus lagi-lagi membatu karna ketakutan. Tidur. Sesak. Hening. Tikus dewasa bergantian berjaga.
Kas-kus bermimpi ia menaiki rusa untuk pergi ke sungai menatap ikan berenang, itu keinginannya dari dulu namun apalah daya, laut jauh dari tempat ia berpijak. Suara dentuman ledakan seakan sang alam telah marah, membuat kas-kus terbangun secara berbarengan. Salah satu tikus tua gemetaran hebat sampai muntah, tanpa sepatah kata ia terkapar tak sadarkan diri. Mereka khawatir tapi lebih memprioritaskan memeriksa keadaan. Pertempuran berubah menjadi pembataian ketika seluruh penjaga tikus meninggal namun anehnya semua masih banyak.
Semut seakan berbicara namun tiada yang memahami bahasa mereka. Ternyata ada sekumpulan ular yang membantu mereka, ular predator utama tikus.
Lagi-lagi kas-kus membatu para tikus kocar kacir berlarian, tak ada yang mengendong kas-kus termasuk Ayah dan ibunya, mereka memprioritaskan keselamatan diri sendiri, itu perilaku hampir pasti dalam kehewanan terutama jika situasi benar-benar mengancam nyawa.
Ular-ular mengejar para tikus, semua menghiraukan kas-kus termasuk semut hutan memutuskan pergi.
Lagi-lagi suara dentuman ledakan keras itu lagi, sampai mengetarkan tanah sehingga kas-kus kembali lunak
Dia langsung menyusuri lorong mengikuti bau orang tuanya. Sampai pada titik, titik sangat amat bahaya ular yang ada di depan namun para tikus termasuk...
Kas-kus hanya bisa diam, membatu, bayangkan jika kamu sama sekali tidak bisa berekspresi bahkan untuk sekedar menangis,berteriak,marah dan.....senyum? Mereka aman karna berhasil membuat jurang dan tanah basah, Tak bisa di lewati oleh ular. Kas-kus membantu bersama kebiasaanya yang melamun dan berimajinasi.
Sebelum semesta membiarkan tikus kecil ini untuk tiada dalam dunia yang tak pernah lelah menyiksa mahkluk bertahan hidup. Lava dari gunung merapi, membumi hangusan para ular dari celah lubang menjulur sampai ke pemurkaan tanah. Bulan ikut mengawasi mereka.
Apalah daya kas-kus membatu, ia tak bergeming, tak berlari, tak akan bisa selamat. Lava membakar sebarang dan sebarang adalah keadilan sekaligus Kemalangan.
Untuk pertama kalinya Kas-kus berpikir: ia ada maka ia merasa, ia merasa maka ia hidup, ia hidup maka ia berkehendak. Ada batas antara Keajaiban dongeng dan keajaiban yang nyata. Jika kas-kus adalah nyata maka ia tragis. Secara ajaib ada batu putih kecil, yang muncul dari bawah tanah tempat kas-kus berpijak, batu itu terbang membawa kas-kus menghidari Malapetaka.
Batu bersinar menerbangkan kas-kus sampai membentang di antara Cakrawala, Mentari belum menampak diri. Dalam kelamnya malam nan pilu. Kas-kus terpenga-ngah Oleh erupsi gunung merapi, lava pijar mengalir merusak hutan beserta esensinya, mahkota asap menjular di atasnya. Batu putih melaju lurus, si tikus kecil hanya bisa pasrah menyerahkan raganya di bawa entah kemana. Sutra putih menyelimuti kas-kus.
Laju terhenti kala ketika kembali membumi. Batu terpecah bagaikan serpihan vas bunga yang terjatuh.
Terpincang-pincang ia melangkah-merintih, pasir adalah pijakan halus yang menipu. Di kala tenang ada masalah, kepiting mendekati dan mencubit kas-kus, ia belari tak membatu tak mengrengek.
Laju yang sama melambat ketika letih, ia berhenti di dekat samudra nan berombak-ombak membelah Cakrawala laut. Kas-kus bersandar pada batang pohon terseret ombak di terima pesisir
Akhirnya keinginan kas-kus terwujud, ia melihat ikan berenang namun bukan rasa gembira yang ia rasakan melainkan nestapa yang sangat amat pait.
Tamat