Rumah tangga yang seharusnya tidak pernah bercerai, akhirnya berakhir di meja hijau.
Siang itu sidang putusan terakhir di pengadilan, aku udah mantap.
"Kania, kamu yakin?" tanya hakim, suaranya menggema di ruangan ber-AC yang dinginnya kebangetan.
Aku menatap lurus ke depan. Tidak ke hakim. Tidak ke pengacara. Tapi ke dia. Laki-laki yang 8 tahun lalu kujanjikan sehidup semati di depan penghulu dengan mahar seperangkat alat sholat.
"Yakin, Yang Mulia," jawabku. Suaraku tidak gemetar sama sekali. Aneh. Padahal semalam aku muntah-muntah karena asam lambung naik.
"Lagian kita nggak punya anak! Dan kamu mau nikah sama Maryatun!"
Kalimat itu akhirnya keluar juga. 8 tahun kutahan.
Dia kaget. Mukanya yang biasanya datar itu langsung merah.
"Kania, jangan bawa-bawa nama orang lain di sini," bisik pengacaranya, panik.
Aku malah ketawa kecil.
Bebas.
Akhirnya kata itu terasa nyata. Aku bisa bebas dari suami yang nyebelin itu. Yang kalau aku masak keasinan dibilang "dasar istri nggak becus, pantes nggak punya anak". Yang kalau ibunya datang, aku harus jadi pembantu yang nggak boleh duduk kalau mertua belum duduk.
Keluarganya juga toxicnya kebangetan. Nikah hampir 8 tahun belum punya anak, yang dipojokin aku terus. Seolah-olah rahimku ini pabrik yang rusak. Padahal hasil cek dokter 3 tahun lalu jelas, masalahnya bukan di aku. Tapi mana berani dia bilang ke ibunya?
"Kamu tuh mandul, Kania!"
"Kamu tuh nggak bisa kasih keturunan buat keluarga kami!"
Padahal tiap malam aku yang disuruh minum jamu pahit. Aku yang disuruh pijat dukun sampai lebam. Aku yang disuruh puasa mutih 7 hari.
Dia? Dia sibuk. Sibuk dengan Maryatun di kantornya itu. Janda anak satu yang katanya "lebih subur dan lebih penurut".
Hakim ketuk palu.
TOK.
Sah.
8 tahun selesai dalam satu ketukan.
Aku berdiri. Dia masih duduk, menunduk.
Aku jalan duluan keluar ruang sidang. Di luar, panas Malang siang itu menyengat. Tapi anehnya, napasku untuk pertama kalinya dalam 8 tahun terasa lega. Plong.
Di parkiran, aku buka HP. Ada chat dari ibu: "Gimana nak, sidangnya?"
Aku balas: "Udah selesai, Bu. Kania pulang. Kania bebas."
Kania mulai hidup sendirian.
Tapi bukan sendirian yang kesepian. Sendirian yang merdeka.
Begitu palu hakim diketuk, dia nggak langsung nangis di toilet pengadilan kayak istri-istri lain. Dia langsung pulang ke rumah bapaknya di daerah Blimbing. Rumah kayu yang catnya udah ngelupas, tapi halamannya luas dan ada pohon mangga.
Di teras, Bapak udah nunggu. Nggak pakai batik sidang, cuma pakai kaos oblong dan sarung. Ngopi.
"Uwes mari, Nduk?"
Kania naruh tasnya. Duduk. Napasnya masih ngos-ngosan habis naik angkot.
"Uwes, Pak."
Bapak nggak nanya "kamu nyesel nggak". Nggak nanya "gimana nanti omongan tetangga". Bapak cuma nyeruput kopinya terus ngomong pelan:
"Alhamdulillah. Bapak lega. Akhire lepas soko Paijo kui."
Kania kaget, terus ketawa sampai keluar air mata. Baru kali ini dalam 8 tahun dia denger bapaknya ngomong jujur.
"Tak kiro bapak ngamuk Kania cerai, Pak."
"Lha ngamuk piye? Bapak delok dewe, tiap kamu pulang rono kae pipimu tambah kempot. Baju dastermu itu-itu tok. Paijo kui arek males, Nduk. Kerjone mek nggantengno wong wedok kantor. Keluargane pisan, lambene luwih tajem timbang peso."
Itu pertama kalinya Kania merasa pulang beneran pulang.
Malamnya, Kania bongkar gudang.
Di pojok ada mesin jahit Butterfly peninggalan almarhumah ibu. Mesin hitam yang dulu sering dipakai ibu bikin kebaya buat orang-orang kampung. Berdebu. Minyaknya kering.
Kania lap. Dia kasih minyak. Dia injak pedal pelan.
ceklek... ceklek... ceklek...
Suara itu masih sama kayak 15 tahun lalu pas ibu ngajarin dia jahit pertama kali.
Kania ini memang wanita mandiri. Dari gadis dia bisa jahit, bisa desainer. Cuma selama nikah sama Paijo, semua itu dilarang.
"Buat apa kamu jahit? Nggak usah sok jadi desainer. Urus aja suami. Fokus punya anak!"
Mesin jahitnya dijual Paijo diam-diam buat servis motornya.
Sekarang, di lantai gudang itu, Kania gelar kain-kain perca sisa ibu. Dia mulai gambar lagi. Di buku tulis bekas yang dia temuin.
Hari pertama: satu rok lilit.
Hari ketiga: dua gamis simple buat tetangga depan.
Minggu kedua: Ibu-ibu PKK Blimbing udah antre di teras rumah bapak.
"Kania, bisa bikinin seragam arisan nggak? Modelnya kayak punya Syahrini itu lho."
"Kania, jahitno kebaya wisudane anakku yo."
Upahnya nggak seberapa. Tapi tiap lembar uang 20 ribuan yang dia pegang, itu uang hasil tangannya sendiri. Bukan uang belas kasihan dari suami yang kalau ngasih sambil ngomel.
Sebulan setelah cerai, Paijo datang.
Naik motor barunya. Pakai kemeja rapi. Mungkin mau pamer sama Maryatun.
"Kania, mesin cuci yang di rumah kemarin itu kan punyaku—"
Belum selesai ngomong, Bapak udah keluar bawa sapu lidi.
"Heh, Jo! Ngopo rene? Barangmu wes tak bakar kabeh! Kono mulih! Ngurusi Maryatun-mu kae!"
Paijo kabur. Kania ngakak dari dalam rumah, sambil tangannya masih sibuk ngobras.
Dia tau, hidupnya baru bener-bener mulai. Bukan sebagai istri Paijo yang mandul. Tapi sebagai Kania, si penjahit Blimbing.
3 bulan kemudian.
Sore-sore pas Kania lagi nyetrika gamis pesenan 12 biji buat walian murid SD, ada motor berhenti depan rumah. Tukang pos.
"Bu Kania? Ada undangan."
Amplopnya mengkilap warna emas. Ada tulisan arab-araban. Di bawahnya:
Turut mengundang ke pernikahan Paijo & Maryatun
Kania nggak kaget. Nggak nangis. Malah ngakak sampai Bapak yang lagi ngopi kesedak.
"OWALAH JO, PAIJONGKONG!"
Bapak ikut ngakak. "Lha cepet men! Wingi cerai, saiki rabi. Jangan-jangan wes meteng disik Maryatun-e?"
Kania lipat undangannya, dipakai kipas-kipas.
"Dateng ah, Pak. Kania penasaran."
Bapak melotot. "Lho ngopo? Arep gawe kisruh?"
"Ndak. Kania mau show off."
---
Hari H.
Balai Desa. Dekorasinya heboh, bunga plastik warna ngejreng. Maryatun, anak Pak Kades itu duduk di pelaminan. Pakai kebaya merah menyala yang kebesaran di bagian dada, riasannya tebal kayak topeng kuda lumping. Di sebelahnya Paijo, pakai beskap yang kekecilan, keringetan.
Tamu-tamu bisik-bisik. Maklum, nikahnya kesannya buru-buru banget.
Terus...
Semua kepala nengok ke pintu masuk.
Kania dateng.
Kali ini bukan Kania yang dasteran lusuh, rambut diikat karet gelang, muka kusam karena disuruh minum jamu terus.
Kania pakai dress satin warna sage green rancangannya sendiri. Potongannya pas di badan, lehernya sabrina, nunjukin tulang selangkanya yang dulu dibilang Paijo "kurus kayak triplek". Rambutnya di-blow wavy, lipstiknya merah maroon. Sepatunya heels 7cm. Tas mungilnya matching.
Cantik. Feminim. Modis. Kelasnya beda langit dan bumi sama pengantinnya.
Jauh.
"Subhanallah... itu Kania ta?" ibu-ibu langsung heboh.
Maryatun yang di pelaminan sampai bengong. Senyumnya kaku.
Paijo? Paijo yang dari tadi sok gagah, langsung berdiri. Matanya nggak bisa lepas.
"K-Kania? Kamu... kamu dateng?"
Kania senyum. Senyum paling manis yang pernah dia kasih ke Paijo selama 8 tahun.
"Dateng dong, Jo. Kan kamu yang undang. Selamat ya. Semoga langgeng. Semoga cepet dapat anak. Kan kamu pengen banget anak, to?"
Satu balai desa langsung hening. Karena semua orang tau, Maryatun itu udah janda anak satu. Dan semua orang juga tau cerita Kania yang dulu dipojokin mandul terus.
Kania jalan mendekat ke pelaminan. Nggak salaman. Dia cuma naruh amplop kecil di meja kado. Di dalamnya bukan uang. Tapi kwitansi.
Kwitansi mesin jahit Butterfly yang dulu dijual Paijo. Yang bulan lalu Kania tebus lagi di tukang loak dengan uang hasil jahitannya sendiri seharga 2,5 juta.
Dia bisik pelan cuma buat Paijo denger:
"Mesin jahitku udah tak tebus, Jo. Makasih ya, berkat kamu jual itu, aku jadi bisa beli 3 mesin baru yang high-speed. Laris manis."
Terus Kania balik badan. Heels-nya cetak-cetak di lantai balai desa.
Keluar dengan kepala tegak.
Di luar, Bapak udah nunggu di atas motor Supra-nya.
"Piye, Nduk? Puas?"
Kania naik ke boncengan, ketawa puas.
"Puas pol, Pak. Ayo pulang. Jahitan Kania masih numpuk."
Dan motor Supra itu ngebut ninggalin balai desa, ninggalin Paijo yang masih bengong ngeliatin mantan istrinya yang sekarang jauh lebih bersinar tanpa dia.
Lanjut.
9 bulan nikah sama Maryatun, hidup Paijo nggak seperti yang dia bayangin.
Dulu waktu masih sama Kania, dia ngebayangin: kalau nikah sama Maryatun, hidupnya bakal enak. Maryatun kan anak Pak Kades, janda tapi "subur" - udah terbukti punya anak satu. Pasti langsung bisa kasih dia anak laki-laki. Pasti penurut, nggak kayak Kania yang sekarang pinter ngelawan. Pasti masakannya enak.
Realitanya?
Maryatun dianggurin.
Bukan Kania yang nganggurin. Paijo yang nganggurin Maryatun.
Gimana nggak dianggurin, wong tiap malam yang dipikirin Paijo itu Kania.
Awalnya cuma kepikiran pas liat Kania dateng kondangan waktu itu. Cantiknya kebangetan. Wanginya masih nempel di balai desa.
Lama-lama kepikiran itu jadi racun.
Paijo mulai stalking.
Dari Facebook. Foto Kania sekarang di butiknya. Butiknya udah nggak di teras lagi. Udah sewa ruko kecil di pinggir jalan raya Blimbing. Namanya "KANIA ATELIER". Tulisannya estetik. Di dalamnya ada 4 mesin jahit high-speed, 2 karyawan.
Kania pakai kemeja putih oversized, rambutnya dicepol, lagi ngukur badan customer. Kelihatan sibuk, kelihatan hidup.
Lalu dia liat istrinya sendiri di rumah.
Maryatun duduk main HP, dasteran, ngomel karena token listrik habis. Anaknya Maryatun yang dari suami pertama nangis terus karena minta jajan. Rumah berantakan. Bau.
"Kamu tuh jadi istri nggak becus! Masak aja nggak bisa!" bentak Paijo suatu malam. Kalimat yang persis dulu sering dia lempar ke Kania.
Maryatun nggak kayak Kania yang diam. Maryatun anak Kades, mulutnya lebih pedes.
"Lha kamu sendiri becus apa, Jo? Kerja serabutan! Gaji nggak jelas! Dulu kamu bilang mantanmu itu mandul, nggak bisa kasih anak! Lah aku? Aku udah kasih tau dari awal, aku KB spiral! Aku nggak mau punya anak lagi! Kamu yang maksa nikah!"
Paijo kaget.
Selama ini dia kira Maryatun subur dan siap kasih anak. Ternyata Maryatun emang sengaja nggak mau punya anak lagi. Fokus sama anak pertamanya. Paijo cuma dijadiin ATM berjalan sama status "suami anak Kades".
Malam itu Paijo keluar rumah. Nggak pulang.
Motornya otomatis belok ke arah rumah Bapak.
Jam 10 malam. Lampu teras rumah kayu itu masih nyala. Kania masih jahit, ditemenin Bapak yang nonton TV tabung.
Tok tok tok.
Bapak bukain pintu. Liat Paijo. Muka Bapak langsung asem.
"Lho, Paijongkong? Ngopo rene maneh? Maryatun-mu lo ngidam rujak?"
Kania keluar dari dalam, masih bawa pita meteran di lehernya. Liat Paijo.
Nggak ada lagi rasa deg-degan. Nggak ada lagi rasa sakit. Adanya cuma... capek.
"Ngapain, Jo?"
Paijo langsung berlutut. Drama banget di teras itu.
"Kania, aku nyesel. Aku kangen. Aku salah. Maryatun ternyata nggak kayak kamu. Aku kangen masakanmu. Aku kangen omelanmu. Aku kangen... kamu. Balik yo, Nduk? Kita rujuk. Kita coba lagi punya anak. Aku janji, aku berubah."
Bapak udah siap ngambil sapu lidi lagi.
Tapi Kania angkat tangan. Nyuruh Bapak berhenti.
Dia jongkok, biar sejajar sama Paijo yang berlutut.
Terus dia ngomong pelan, tapi jelas banget.
"Jo, kamu tau bedanya aku sama Maryatun apa?"
Paijo diem.
"Aku dulu tak anggurin. Tak diemin. Tak salahin terus-terusan. Tapi aku tetep jahit. Aku tetep hidup. La Maryatun? Baru 9 bulan tak anggurin, dia udah bikin kamu kelimpungan."
Kania berdiri. Buka pintu lebih lebar, biar Paijo bisa liat ke dalam. Mesin jahitnya nyala, kain-kain bagus numpuk, sertifikat kursus desainer dari Malang Kota nempel di dinding.
"Maryatun tak anggurin, dia masih punya Bapak Kades. Lah aku dulu tak anggurin kamu dan keluargamu, aku cuma punya Bapakku tok. Tapi aku bisa berdiri, Jo. Sekarang kamu ngerti rasanya dianggurin? Nggak enak, to?"
Paijo masih berlutut. Malu.
Kania senyum. Bukan senyum manis kayak di kondangan dulu. Senyum lega.
"Mulih, Jo. Ujeni istrimu sing saiki. Aku wes bahagia. Mesin jahitku wes lunas kabeh. Atiku yo wes lunas soko kowe."
Pintu kayu itu ditutup pelan. Bukan dibanting. Ditutup pelan, kayak nutup buku yang udah tamat.
Di dalam, Bapak tepuk tangan.
"Mantap, Nduk!"
Di luar, Paijo masih jongkok di teras, dengerin suara mesin jahit Butterfly yang dulu dia jual, sekarang bunyinya lagi. Ceklek... ceklek... ceklek... Jahit hidup baru Kania, tanpa dia.
Dan di rumah.
Paijo pulang jam 11 malam dengan muka kucel habis ditolak Kania di teras. Dikira rumah bakal sepi. Dikira Maryatun udah tidur ngambek.
Ternyata lampu ruang tengah nyala.
Maryatun duduk di karpet. Di depannya ada dua gelas teh anget. Nggak main HP. Nggak dasteran berantakan. Pakai daster yang rapi. Rambutnya disisir.
Anaknya udah tidur di kamar.
"Jo, maaf ya," Maryatun ngomong duluan. Suaranya pelan. Nggak nyolot kayak biasanya.
Paijo bengong. Ini Maryatun yang tadi siang ngamuk-ngamuk karena token listrik?
"Aku denger dari tetangga, kamu tadi ke rumah Kania ya?"
Paijo langsung panik. "Lho, enggak, aku cuma—"
"Uwes, nggak apa-apa," Maryatun motong. "Aku ngerti. Kamu pasti malu. Diomongin orang sekampung kalau kamu cerai sama istri mandiri terus nikah sama aku tapi nggak jadi punya anak juga. Gengsi, to?"
Maryatun narik napas panjang.
"Jo, aku minta maaf. Tadi aku jahat. Aku emang KB spiral. Karena aku trauma punya anak pertama dulu susah. Tapi kalau kamu bener-bener pengen anak, aku janji... aku lepas KB. Kita coba lagi. Ya?"
Mata Paijo langsung MELEK. Sumringah pol.
Tenan!
Inilah yang dia tunggu-tunggu 9 tahun! 8 tahun sama Kania dipojokin nggak punya anak, 9 bulan sama Maryatun juga nggak punya anak karena KB!
"Tenan, Tun? Tenan kamu mau lepas KB?" Paijo langsung duduk, megang tangan Maryatun kenceng.
"Tenan. Tapi janji, jangan banding-bandingin aku sama Kania terus. Aku capek, Jo."
"Iyo! Janji! Aku janji!"
Malam itu Paijo nggak bisa tidur. Bukan karena mikirin Maryatun. Tapi karena mikirin Kania.
Di otaknya udah ngebayangin skenario balas dendam paling indah:
Nanti kalau Maryatun hamil, aku bakal dateng ke butik Kania. Bawa bukti testpack. Aku bakal bilang, "Nih, Kania, deloken! Aku iso duwe anak! Sing mandul kuwi dudu aku, tapi kowe! Saiki aku wes dadi Bapak tenanan! Nyesel kan kowe cerai karo aku?"
Dia ketawa sendiri di kamar mandi. Ngaca. Sok gagah lagi.
Besoknya, Maryatun beneran ke bidan. Lepas spiral. Katanya agak sakit, agak nyeri.
Paijo makin semangat. Tiap hari ngitung kalender. Tiap hari pijitin kaki Maryatun. Tiap hari bilang ke tetangga: "Doain ya, Maryatun lagi program hamil."
Satu bulan. Dua bulan. Tiga bulan.
Garis dua nggak muncul-muncul.
Paijo mulai panik lagi. Mulai nyalahin lagi.
"Kamu tuh piye sih, Tun? Udah lepas KB kok nggak hamil-hamil?"
Maryatun yang udah sabar 3 bulan, meledak lagi.
"LHO KAMU TUH YANG PIYE, JO? KAMU UDAH PERIKSA BELUM? JANGAN-JANGAN SING BERMASALAH KAMU! KANIA KAN DULU UDAH PERIKSA, KATANYA SEHAT! KAMU KAPAN PERIKSANE?"
Dan disitulah Paijo diem.
Karena seumur hidup, 8 tahun nikah sama Kania + hampir setahun sama Maryatun, Paijo belum pernah sekalipun periksa ke dokter.
Dia yang nuduh Kania mandul 8 tahun, ternyata takut periksa dirinya sendiri.
Sementara di Blimbing...
Kania lagi fitting baju pengantin. Bukan baju pengantinnya sendiri. Baju pengantin customer ke-20 bulan itu.
Bapak teriak dari depan: "Nduk! Ada undangan lagi! Dari... Paijo maneh!"
Kania nggak kaget. Nggak ketawa. Cuma bilang:
"Buang ae, Pak. Kania lagi sibuk. Jahitan orang mau nikah. Bukan jahitan orang yang takut periksa.
Setahun nikah.
Kania Atelier sekarang bukan lagi ruko kecil di pinggir jalan Blimbing.
Udah jadi 2 ruko. Karyawannya 6. Antrean jahitnya 2 bulan. Instagramnya @kania.atelier followers-nya 18 ribu. Isinya bukan cuma kebaya wisuda, tapi udah merambah ke bridesmaid series, seragam kantor, sampai dress kondangan yang modelnya kayak punya Bunga Citra Lestari.
Banyak yang antre.
Antre jahitannya iya. Antre ngelamarnya juga iya.
Ada duda pemilik toko kain di Pasar Besar, tiap minggu ngirim kain gratis. Ada dosen muda UM yang langganan bikin kemeja, tiap ambil baju ngajak ngopi. Ada juga mantan teman SMA yang sekarang jadi polisi.
Tapi Kania nggak mau buru-buru.
Tiap ditanya Bapak, "Piye, Nduk, ndang rabi maneh? Umurmu wes 32 lho."
Kania cuma jawab sambil ngobras, "Alon-alon, Pak. Kania mau nikmatin jadi Kania dulu. Jadi penjahit. Jadi anaknya Bapak. Nggak mau buru-buru jadi istrinya orang lagi. Traumae jahitane rung mari."
Bapak manggut-manggut. Lega. Anaknya sekarang kelihatan waras.
Sementara di rumah satunya...
Setahun nikah sama Maryatun. Program hamil jalan terus. Jamu, madu, pijat, doa ke makam. Tapi garis dua itu nggak pernah dateng.
Sampai akhirnya Maryatun ngamuk beneran.
"Uwes, Jo! Cukup! Saiki kita periksa bareng! Aku wes capek disalahno terus! Nek aku sing salah, aku tompo! Nek kowe sing salah, kowe kudu tompo!"
Paijo nggak bisa nolak. Karena Pak Kades bapaknya Maryatun udah mulai ikut cawe-cawe. "Paijo, kamu itu laki-laki, harus tanggung jawab!"
Siang itu mereka ke Laboratorium Klinik di Kepanjen. Tes sperma. Sesuatu yang harusnya Paijo lakuin 9 tahun lalu pas masih sama Kania.
Hasilnya keluar 3 hari kemudian.
Di ruang dokter yang AC-nya dingin, dokter buka map.
"Maaf ya, Pak Paijo, Bu Maryatun. Dari hasil analisa sperma Pak Paijo... jumlah spermanya sangat-sangat rendah, dan pergerakannya hampir tidak ada. Istilah medisnya azoospermia berat. Kemungkinan untuk punya anak secara alami... hampir nol persen."
Sunyi.
Maryatun nangis. Bukan nangis sedih. Nangis marah.
Paijo? Dunia kayak runtuh.
Jadi...
8 tahun dia maki-maki Kania mandul.
8 tahun dia nyuruh Kania minum jamu pahit, pijat dukun sampai lebam, puasa mutih.
8 tahun dia biarin keluarganya ngatain Kania di depan arisan keluarga.
8 tahun Kania yang dipojokin...
Ternyata yang bermasalah... dia.
Paijo lah yang mandul.
Paijo pulang naik motor sempoyongan. Nggak pulang ke rumah Maryatun. Otomatis lagi, belok ke Blimbing.
Sore itu Kania baru selesai tutup butik. Lagi nyapu teras.
Lihat Paijo berhenti depan rumah. Muka pucat. Map hasil lab masih di tangannya, diremas-remas.
"Kania..."
Kania liat map itu. Liat muka Paijo.
Dia udah tau. Tanpa harus dikasih tau.
Paijo nangis. Nangis beneran untuk pertama kalinya. Bukan drama kayak dulu waktu berlutut.
"Kania... maaf... aku... aku sing salah... 8 tahun... aku salah, Nduk..."
Kania nggak ngomel. Nggak maki balik. Nggak ngakak kayak waktu dapat undangan.
Dia cuma ngambil sapu-nya lagi. Terus ngomong pelan:
"Uwes, Jo. Aku wes ngapuro suwe. Makane aku iso antri jahitane akeh saiki. Nek aku isek dendam, tanganku kaku, Jo, nggak iso jahit alus."
Dia masuk ke dalam, ambil satu goodie bag kecil. Isinya kain sisa sage green yang dulu dia pakai ke kondangan Paijo.
"Nih. Buat anakmu Maryatun yang pertama. Kemarin dia tak ukur waktu main ke sini sama ibunya. Tak bikinin rok sekolah. Gratis. Bilang sama Maryatun, yang sabar ya jadi ibumu."
Paijo makin sesenggukan. Malu seumur hidup.
Kania nutup pintu pagarnya yang sekarang udah dicat putih bersih.
Di dalam, Bapak teriak: "Sopo, Nduk?"
Kania jawab lantang: "Tukang minta sumbangan, Pak! Uwes mulih!"
Terus suara mesin jahitnya nyala lagi.
Ceklek... ceklek... ceklek...
Kali ini jahitannya lebih kencang, lebih pasti. Jahit masa depan, bukan masa lalu.
Ini nih yang bikin Kania deg-degan kalau disuruh Bapak nganterin rantang ke sawah.
Bukan karena sawahnya jauh. Bukan karena panas.
Tapi karena di sawah sebelah, ada anaknya Pak Ustadz Rizal.
Namanya Rifa'i. Seumuran sama Kania, 32 tahun. Baru balik dari kota - katanya habis 6 tahun jadi guru ngaji plus kerja IT di Surabaya. Sekarang balik ke Malang, bantu bapaknya ngurus TPQ.
Masih lajang.
Katanya pernah mau nikah tahun lalu sama cewek Surabaya, udah lamaran, udah sebar undangan, tapi nggak jadi. Gara-gara ceweknya minta Rifa'i tetep di Surabaya, nggak mau diajak pulang kampung ngurus sawah dan TPQ. Rifa'i nggak mau. Putus.
Kania tau cerita itu dari ibu-ibu pengajian. Lengkap dengan bumbu-bumbunya.
"Nduk, anterin rantang Bapak yo, di sawah lor. Bapak durung mangan awan," kata Bapak pagi itu.
Kania langsung kaku pas lagi motong kain.
"Pak... kan bisa nanti sore aja sekalian..."
"Lho piye? Bapak luwe, Nduk. Noh, Rifa'i anak e Pak Ustadz yo neng sawah kono. Bapak mau ngobrol. Sekalian kenalan."
Kania ngerti. Bapak mode mak comblang on.
Dengan berat hati, Kania pakai caping, bawa rantang besi 3 susun isi sayur lodeh, tempe goreng, sama sambel terasi kesukaan Bapak. Jalan setapak ke sawah. Jantungnya dug-dug.
Sampai di pematang, Bapak lagi duduk sama Pak Ustadz Rizal dan... Rifa'i.
Rifa'i pakai kaos lengan panjang digulung, celana training, topi capingnya dimiringin. Kulitnya nggak putih kota banget, udah agak eksotis kena matahari sawah. Lagi benerin diesel.
Beda sama Paijo yang kalau kena panas dikit ngeluh.
"Eh, Kania! Sini, Nduk!" Bapak manggil.
Kania nunduk. Malu. Padahal biasanya kalau sama customer cowok dia berani ngukur lingkar dada pakai meteran tanpa deg-degan.
"Ini Rifa'i, Nduk. Anak e Pak Ustadz. Pinter IT, pinter ngaji."
Rifa'i berdiri, senyum. Senyumnya... nggak sok ganteng. Manis. Ada lesung pipit satu.
"Mbak Kania ya? Yang punya Kania Atelier? Saya follow Instagramnya lho. Bagus-bagus karyanya," kata Rifa'i. Suaranya pelan, nggak ngegas kayak Paijo.
Kania makin merah. "Eh... iya... makasih..."
Bapak sama Pak Ustadz saling lirik-lirikan. Kode bapak-bapak.
"Uwes, ayo Pak Ustadz, kita mangan neng gubuk kono. Ben arek nom iki ngobrol," kata Bapak, narik Pak Ustadz pergi ninggalin rantang.
Tinggal Kania sama Rifa'i di pematang. Angin sawah semilir. Bau padi.
Hening 2 menit yang rasanya 2 jam.
Akhirnya Rifa'i buka suara duluan.
"Mbak Kania, maaf ya... saya denger cerita Mbak dari Bapak. Soal... yang dulu."
Kania langsung nunduk lagi. Takut dihakimi lagi. Takut dibilang mandul lagi.
Tapi Rifa'i lanjut:
"Bapak cerita, Mbak kuat banget. Bisa bangkit, bisa buka butik sendiri. Saya malah salut. Saya aja yang gagal nikah kemarin rasanya dunia runtuh sebulan. Mbak 8 tahun disalahin, masih bisa jahit sebagus itu. Hebat."
Kania kaget. Matanya agak berkaca-kaca. Baru kali ini ada laki-laki yang bilang dia hebat, bukan mandul.
"Makasih, Mas..."
Rifa'i jongkok, ngambil padi, terus iseng bikin anyaman padi kecil bentuk cincin. Jelek, tapi lucu.
"Nih, buat Mbak. Cincin sawah. Nggak kayak berlian, tapi kalau dipake jahit nggak nyangkut di mesin," katanya sambil ketawa kecil, nyodorin ke Kania.
Kania ngakak. Ngakak beneran sampai capingnya miring.
"Jelek banget, Mas!"
"Iyo, jelek. Makanya jangan diterima kalau dilamar pakai ini. Tunggu yang bagus."
Kania ngambil cincin padi itu. Dipasang di jari manisnya. Pas.
Jantungnya deg-degan lagi. Tapi deg-degan yang enak. Bukan deg-degan takut kayak dulu disuruh Bapak nganter rantang.
Dari jauh, Bapak sama Pak Ustadz ngintip dari balik gubuk sambil ngacungin jempol.
Karena sering ketemu...
Awalnya cuma di sawah. Kania nganter rantang, Rifa'i benerin diesel.
Lama-lama ketemu di mushola. Kania datang pengajian ibu-ibu sore, Rifa'i yang jadi ustadz mudanya yang ngisi kultum. Kalau Kania datang, suara Rifa'i yang biasanya kalem jadi agak grogi.
Kadang ketemu di pengajian Akbar di balai desa. Kania jadi seksi konsumsi, Rifa'i seksi sound system.
Ibu-ibu Blimbing paling cepet baca kode.
"Wes jodo, iku. Tukang jahit karo tukang ngaji. Pas!"
Bapak nggak perlu mak comblang lagi. Bapak tinggal nunggu.
6 bulan setelah cincin padi jelek itu...
Rifa'i datang resmi ke rumah kayu Bapak. Nggak bawa motor sport, bawa gerobak. Gerobak isinya bukan bunga mawar kayak lamaran orang kota.
Isinya: satu karung beras hasil panen sawahnya sendiri, satu mesin jahit portable baru merk Janome, dan satu kotak kayu kecil.
Di dalam kotak kayu, ada cincin. Bukan cincin padi lagi. Cincin perak ukir bunga kecil, pesenan dari pengrajin Kota Gede.
"Pak, Mbak Kania... saya mau serius. Saya nggak punya banyak. Saya cuma punya sawah sepetak, TPQ, dan insyaAllah bisa jadi imam yang baik. Boleh saya nikah sama Mbak Kania?"
Bapak nangis. Beneran nangis. Pertama kalinya Kania liat Bapak nangis sejak Ibu meninggal.
Kania? Kania nangis juga. Tapi kali ini nangisnya beda. Bukan nangis karena dipojokin mandul. Nangis karena akhirnya ada yang ngelamar dia sebagai Kania, si penjahit, bukan sebagai "calon pemberi anak".
Nikahnya sederhana. Di KUA, terus syukuran di teras Kania Atelier yang sekarang dipasang tenda. Nggak mewah kayak nikahan Paijo-Maryatun dulu di Balai Desa. Tapi semua yang datang tulus senyum.
2 bulan kemudian...
Kania telat haid.
Awalnya dikira kecapekan. Jahitan lagi rame, lagi bikin 30 seragam TPQ-nya Rifa'i gratis.
Tapi Rifa'i yang panik duluan. Belin testpack 3 biji di apotek.
Hasilnya...
Dua garis. Dua garis semua.
Kania hamil.
Di kamar kecil belakang butik, Kania duduk lemas di lantai sambil pegang testpack, nangis sesenggukan. Rifa'i meluk dari belakang.
"Mas... aku... aku hamil... beneran hamil, Mas..."
Selama 8 tahun dibilang mandul. Selama 8 tahun minum jamu pahit. Selama 8 tahun doanya cuma satu: "Ya Allah, kasih aku anak biar aku nggak dihina lagi."
Dan sekarang, Allah kasih. Bukan sama orang yang 8 tahun menghina. Tapi sama orang yang 6 bulan lalu kasih cincin padi jelek.
Sementara...
Di rumah satunya, di rumah Maryatun.
Tiap hari ribut terus.
"Jo! Kamu tuh gimana sih! Aku udah lepas KB, tapi kamu nggak usaha!"
"Lha aku usaha piye! Dokter wes bilang aku yang bermasalah!"
"Terus ngapain kamu nikahin aku! Biar aku sengsara kayak Kania dulu!"
Piring melayang. Pintu dibanting. Pak Kades bapaknya Maryatun sampai capek jadi penengah.
Sampai suatu sore, Maryatun denger kabar dari ibu-ibu arisan:
"Eh, Maryatun, kamu tau nggak? Kania... Kania hamil lho! 2 bulan! Katanya anaknya Rifa'i!"
Maryatun pulang. Banting pintu.
Paijo lagi tiduran main HP.
"Jo! Denger! Kania hamil!"
Paijo bangun. Pucat.
Hari itu, untuk pertama kalinya, Paijo nggak bisa tidur karena nyesel beneran. Bukan karena gengsi. Tapi karena dia akhirnya sadar...
Yang mandul itu bukan rahim. Tapi kelakuannya.
Dan Kania?
Kania lagi di sawah, sore-sore. Bukan nganter rantang lagi. Lagi jalan pelan sama Rifa'i. Rifa'i gandeng tangannya hati-hati, takut istrinya yang lagi hamil muda kepeleset di pematang.
Di perutnya, ada calon penjahit kecil. Atau calon ustadz kecil. Entah.
Yang jelas, hidup Kania baru bener-bener mulai berjahit rapi.
TAMAT.