Aku nggak langsung minum air itu. Aku pakai jaketku yang masih agak kotor itu lagi, ambil tasku, dan keluar kamar. Pria itu beneran nunggu di sofa ruang tengah, jauh dari kamar.
"Ayo, aku temenin ke bawah. Kita tanya sekuritinya bareng," katanya pelan.
Aku jalan agak di belakangnya. Masih pusing, tapi aku usahain tetap fokus.
Sampai di lobi bar, bar-nya udah tutup, tinggal lampu remang dan 2 orang staff lagi beres-beres.
"Mas, maaf, bisa cek CCTV lorong toilet jam 1-an tadi malam nggak?" aku nanya, suara masih serak.
Staff sekuriti ngeliat aku sama pria itu gantian.
"Loh, mbak yang tadi malam hampir jatuh di lorong itu ya?"
Jantungku berdegup kenceng.
"Iya mas, saya."
Sekuriti itu muter rekaman di monitor kecil.
Keliatan di rekaman — aku jalan sempoyongan dari meja ultah, mau ke toilet. Terus di tikungan lorong, kakiku kelipat, kepala hampir kebentur dinding.
Pria yang tadi itu yang nahan. Di rekaman keliatan jelas dia nahan pundakku biar nggak jatuh. Dia coba bangunin, manggil-manggil temenku di meja, tapi temen-temenku udah pada teler semua dan musik kenceng banget.
Terus dia ngomong sama sekuriti yang jaga malam. Sekuriti di rekaman cuma geleng-geleng.
"Oh, mas yang di apartemen atas itu ya yang bawa mbaknya tadi?" kata staff yang lagi nonton bareng.
Pria itu angguk. "Iya. Tadi saya bilang ke mas sekuriti mau bawa ke atas dulu biar aman, karena nggak ada temennya yang sadar. Saya tinggal di unit 3B."
Sekuriti yang tadi malam jaga nimpalin, "Iya mbak, tadi mas ini izin dulu ke kita. Kita catat di buku tamu juga. Kita lihat mbaknya muntah, jadi kita kasih izin."
Aku diem. Nonton rekaman itu lagi. Nggak ada tarikan kasar seperti yang aku takutin dalam keadaan pusing. Yang ada aku yang beneran hampir ambruk.
Pusingku bukan karena dipaksa sesuatu yang lain, tapi karena alkohol yang tadi aku minum sedikit itu ternyata nggak cocok di badanku yang capek.
Pria itu natap aku, bukan dengan tatapan aneh, tapi cemas.
"Maaf ya, aku tau kamarmu berantakan itu bikin kamu kaget. Tadi kamu muntah di jaket, jadi kamu lepas sendiri. Aku nggak enak mau beresin takut kamu salah paham. Makanya aku biarin aja dan tunggu di luar."
Aku akhirnya bisa napas agak lega, tapi tetep lemes.
"Terus kenapa bilang mau tanggung jawab?" tanyaku pelan.
"Ya... tanggung jawab nganterin kamu pulang dengan selamat. Bukan yang aneh-aneh. Aku tau rasanya bangun di tempat asing itu nggak enak banget. Aku punya adik perempuan, kalau dia digituin aku pasti marah."
Aku ngerogoh hp lagi. Sinta udah di depan bar.
"Udah, aku dijemput temenku. Makasih... buat tadi malam."
Dia cuma angguk, jaga jarak. "Hati-hati ya. Lain kali kalau ke bar jangan dipaksa minum ya, apalagi kalau temen-temen udah pada teler. Nggak aman buat kamu."
---Oke, lanjut dari situ —
Setelah kejadian itu
Nama lengkapnya ternyata Ricko. Dan namaku Nayla.
Anehnya, setelah malam di bar itu, kita jadi sering banget nggak sengaja ketemu.
Di kampus:
Ternyata Ricko itu dosen tamu sekaligus pembimbing magang di fakultasku. Bukan dosen tetap kelasku, tapi dia yang ngoreksi laporan PKL.
Hari pertama bimbingan, aku masuk ruangannya udah tegang banget.
"Loh, kamu?" dia kaget juga.
Aku cuma bisa angguk. "Iya, Pak."
Sejak itu dia jadi super profesional. Nggak pernah lagi bahas kejadian bar. Kalau bimbingan, pintunya selalu dibuka, ngomongnya to the point.
"Nayla, bab 2 kamu kurang data. Coba revisi ini. Kalau bingung tanya aja, jangan begadang terus."
Kadang nyebelin, karena revisinya banyak banget.
Di luar kampus:
Nah di luar, dia berubah jadi mode Om-Om protektif yang agak ngeselin.
Pernah aku lagi nunggu ojek malem-malem abis ngerjain tugas di perpus, dia lewat.
"Nayla, ngapain sendirian jam segini? Udah pesen ojek? Share live location ke Sinta gih, jangan bengong di pinggir jalan."
Atau pas aku cerita mau ikut lomba tapi minder.
"Ya dicoba dulu. Kamu kan yang kemarin aja bisa survive bangun di tempat asing dan masih berani minta cek CCTV. Masa presentasi 10 menit takut?"
Lama-lama aku yang awalnya takut dan canggung, jadi agak enakan. Karena dia jelas banget ngejaga batas.
Nggak pernah chat di atas jam 9 malam kecuali soal bimbingan. Nggak pernah ngajak jalan berdua. Kalau ketemu di luar pun dia selalu jaga jarak.
Sampai suatu sore abis bimbingan.
"Nayla," dia bilang sambil nutup laptop. "Boleh aku jujur sedikit?"
Aku langsung siaga.
"Sejak kejadian bar itu, aku ngerasa bersalah terus. Aku takut kamu ngerasa nggak aman di kampus karena ada aku. Kalau kamu mau ganti pembimbing, aku bisa aturin. Beneran nggak apa-apa. Kenyamanan kamu yang utama."
Aku diem agak lama.
"Justru karena kejadian itu aku tau Bapak orangnya gimana, Pak. Bapak bisa aja nggak peduli malam itu, tapi Bapak malah izin sekuriti, catat di buku tamu, dan nunggu di luar. Jadi... nggak usah ganti. Aku lanjut sama Bapak aja, tapi yang profesional aja ya, Pak."
Dia senyum lega. "Siap. Profesional. Itu yang paling bener."
---Lanjut 2 tahun kemudian —
---
Bandara Juanda rame banget.
Aku baru landing dari Jerman. 2 tahun S2 di sana, rambut udah beda, gayanya udah beda, bawaan 2 koper gede dan 1 ransel yang beratnya minta ampun.
Di pintu kedatangan, aku udah liat Bapak — Pak Harno — lambaian tangan lebar.
Di sebelah Bapak, ada... Pak Ricko. Pakai kemeja batik rapi, kumis tipisnya masih sama, tapi sekarang keliatan lebih dewasa.
"Loh, Bapak kok sama Pak Ricko?" aku langsung bengong, nyeret koper.
Bapak ketawa. "Loh kamu kenal Ricko? Dunia sempit ya! Ini, Ricko itu anaknya sahabat Bapak, yang dulu Bapak ceritain mau kenalin ke kamu."
Ricko juga bengong. Matanya dari tadi ngeliatin aku, kayak berusaha nyocokin.
"Nayla?" dia nanya pelan.
"Pak Ricko?"
Detik itu juga dia paham.
Dia langsung nengok ke Pak Harno. "Pak Harno... cewek yang Bapak ceritain kemarin... yang baru pulang dari Jerman... yang mau Bapak kenalin ke saya... itu... Nayla?"
Pak Harno bingung. "Loh iya. Kenapa? Kalian udah pernah ketemu?"
Aku sama Ricko saling pandang. Canggungnya maksimal.
"Pak Harno, boleh saya ngobrol sama Nayla dulu sebentar berdua? Lima menit aja," kata Ricko akhirnya, sopan tapi serius ke Bapak.
Bapak angguk. "Ya sana, Bapak tunggu di mobil."
Kita minggir ke dekat pilar bandara.
Ricko ngacak-ngacak rambutnya, yang jarang aku liat dia lakukan.
"Nayla, sumpah aku nggak tau. Beberapa bulan lalu Bapakmu emang ngomong ke aku, 'Ko, umur kamu udah 33, kapan nikah? Saya punya anak perempuan baru selesai sekolah di Jerman, coba kenalan ya'. Aku bilang aku mau nikah, tapi aku bingung sama siapa, karena aku nggak mau asal comot. Aku pikir Bapakmu mau ngenalin anak yang nggak aku kenal sama sekali."
Aku nyengir kecut. "Aku juga nggak tau, Pak. Bapak cuma bilang 'nanti ada kenalan, anaknya baik, kerja di kampus dulu'. Aku kira dosen lain."
Sunyi sebentar. Suara pengumuman bandara berisik di atas.
"Kalau kamu nggak nyaman, bilang aja ya, Nay. Kita bisa bilang ke Bapakmu kalau kita nggak cocok. Aku nggak mau kamu ngerasa dijodohin paksa gara-gara kejadian bar dulu atau karena Bapakmu maksa. Kamu baru pulang, kamu berhak milih," katanya.
Aku ngeliat dia. Dua tahun lalu dia yang jagain jarak pas bimbingan. Dua tahun lalu dia yang bilang "kalau mau ganti pembimbing nggak apa-apa". Orangnya tetep sama.
"Pak Ricko masih inget nggak? Dulu Bapak bilang profesional aja. Sekarang kok mau dijodohin?" godaku.
Dia ketawa kecil. "Justru karena kamu udah nggak mahasiswaku lagi. Kamu udah lulus, udah S2 dari Jerman, udah kerja. Sekarang kalau aku deketin kamu sebagai Nayla, bukan sebagai mahasiswi bimbinganku, itu baru fair."
"Jadi... sekarang Pak Ricko nggak bingung lagi mau nikah sama siapa?"
Dia jadi salting. "Ya... kalau yang dimaksud Pak Harno itu kamu... aku jadi nggak bingung lagi. Tapi balik lagi ke kamu. Kamu mau kenalan ulang dari nol nggak? Bukan sebagai Pak Ricko pembimbing, tapi sebagai Ricko aja? Nggak ada paksaan nikah. Kita ngobrol dulu aja."
Aku ngulur tangan. Formal, kayak mau salaman kerja.
"Kenalin, Nayla. 26 tahun, baru pulang dari Jerman, belum mau nikah buru-buru, maunya kenalan dulu pelan-pelan.
Ricko ngeliat aku yang udah ngantuk berat, mata sembab karena jetlag 18 jam, koper masih aku peluk.
Dia langsung lepasin salaman, mundur selangkah.
"Yaudah Nay, besok kita ngobrol lagi, jangan sekarang," katanya pelan.
"Hah?"
"Kamu capek banget. Mukamu udah kayak orang yang habis revisian 3 bab langsung. Kalau ngobrol sekarang yang ada kamu nggak dengerin aku, yang ada kamu ketiduran di troli koper."
Aku ngakak, padahal emang ngantuk.
"Di mobil nanti Bapak pasti interogasi kita berdua kayak sidang skripsi. Jadi simpen energinya buat itu aja dulu ya."
Dia bantuin dorongin satu koperku yang paling gede, tapi nggak maksa bawain semua — dia tau aku paling nggak suka dibaikin berlebihan.
Pas jalan ke parkiran, Bapak udah buka bagasi.
"Gimana? Cocok?" bisik Bapak ke aku sambil masukin koper.
Aku melirik Ricko yang lagi sibuk nata koper di bagasi biar muat.
"Pak, Nayla baru landing, masih bau pesawat. Besok aja kenalannya," jawab Ricko duluan, sebelum aku jawab.
Bapak ngambek. "Yah, Bapak udah siapin restoran lho malam ini."
Ricko geleng sopan. "Besok aja, Pak Harno. Kasih Nayla istirahat dulu. Kalau dipaksa ngobrol malam ini, kesan pertamanya ke saya malah jadi om-om yang nggak peka. Rugi saya."
Aku di jok belakang langsung ketiduran, setengah denger Bapak masih ngedumel.
"Anak zaman sekarang diajak kenalan aja pakai jadwal..."
Ricko cuma ketawa dari jok depan.
"Nggak apa-apa, Pak. Yang pelan-pelan biasanya yang lama."
Mobil jalan keluar bandara.
Dan untuk pertama kalinya setelah 2 tahun, aku ngerasa pulang ke Malang itu nggak seseram dulu lagi.
Besoknya.
Aku baru bangun jam 11 siang. Jetlag.
Hp udah rame.
[ Bapak: Nayla, Ricko udah di bawah dari jam 9. Bapak bilangin besok, dia beneran dateng besok. ]
[ Bapak: Jangan lama-lama mandinya ]
[ Ricko: 09:12 - Selamat pagi. Bapakmu udah nyuruh aku sarapan 2 kali. Aku tunggu di teras aja ya, santai aja, nggak usah buru-buru. ]
Aku panik, mandi kilat, turun dengan daster dan rambut masih berantakan.
Ricko udah di teras, ngobrol sama Bapak sambil minum teh. Pakai kaos polos sama celana jeans aja, bukan batik kayak kemarin. Keliatan lebih... seusia.
"Nah, anaknya udah bangun," kata Bapak.
"Morning," kataku ngantuk.
Ricko langsung berdiri. "Mau sarapan dulu? Atau mau langsung jalan? Bapakmu tadi mau ikut, tapi aku bilang..."
Bapak langsung nyaut, "IYA IYA BAPAK NGGAK IKUT! Bapak ke kebun aja! Kalian aja yang jalan!"
Akhirnya kita berdua aja, jalan kaki ke warkop dekat rumah. Tempat yang sama dulu aku sering nugas.
Pesen dua es teh, duduk hadap-hadapan. Canggungnya balik lagi.
"Jadi..." aku mulai duluan.
"Jadi..." dia barengan. Kita ketawa.
"Kamu duluan deh, Nay," katanya.
"Pak Ricko — eh, Ricko — waktu Bapak bilang mau nikah tapi bingung sama siapa, emang kenapa?"
Dia muterin es tehnya.
"Umurku 33, Nay. Temen-temen udah pada nikah. Bapakku sahabatan sama Bapakmu, tiap ketemu ditanya terus. Aku tuh bukan nggak mau nikah, aku cuma takut salah orang. Aku nggak mau nikah karena didesak umur. Aku mau nikah karena emang ketemu orang yang bisa diajak ngobrol, yang mandiri, yang kalau aku lagi protektif berlebihan dia berani bilang 'nggak usah'."
Dia ngeliat aku.
"Kayak kamu waktu di kampus dulu. Waktu aku revisi kamu kebanyakan, kamu berani bilang 'Pak, cukup, saya capek'. Aku suka itu."
Aku jadi agak merah.
"Kalau kamu gimana? Kamu baru pulang dari Jerman, S2, karir bagus. Kenapa mau dikenalin?"
Aku nghela napas.
"Jujur? Aku nggak mau dijodohin. Aku ke Jerman biar bisa mandiri, biar nggak diatur Bapak terus. Tapi Bapak bilang 'kenalan aja, nggak harus nikah'. Dan pas tau itu kamu... aku jadi mikir, oh, kalau sama orang yang dulu aja udah jaga jarak dan nggak manfaatin aku pas aku lagi pusing di bar, mungkin orang ini bisa dipercaya buat kenalan pelan-pelan."
Ricko angguk serius.
"Yaudah, kita bikin perjanjian ya."
"Perjanjian apa?"
"Pertama, nggak ada target nikah bulan depan. Kita kenalan dulu. Kedua, kalau salah satu nggak nyaman, bilang. Ketiga, Bapak-bapak kita nggak boleh ikut campur ngatur tanggal lamaran. Deal?"
Aku ketawa. "Deal. Tapi ada tambahan."
"Apa?"
"Jangan panggil aku 'Nay' terus-terusan kayak manggil anak kecil. Aku udah 26."
Dia mikir sebentar. "Gimana kalau Nayla aja?"
"Nah, itu baru."
Kita tos es teh.
Dari warkop, Bapak ngintip dari balik pagar kebun sambil pura-pura nyiram tanaman.
Ricko bisik, "Bapakmu ngintip tuh."
Aku bisik balik, "Biarin. Om protektif ketemu Bapak protektif. Cocok."
Dan untuk pertama kalinya, ngobrol sama Ricko nggak berasa kayak ngobrol sama dosen pembimbing atau om-om bar.
Rasanya kayak ngobrol sama... calon temen yang mungkin bisa jadi lebih. Pelan-pelan.
Oke — ini bagian yang berat, jadi aku lanjutin dengan serius ya.
---
Warkop udah agak sepi. Es teh kita udah cair.
Ricko tiba-tiba diem lama. Tangannya ngeremas gelas.
"Nay, ada yang belum pernah aku omongin jujur dari malam di bar itu," katanya pelan.
Aku langsung siaga.
"Waktu itu aku bilang kamu lepas jaket sendiri karena muntah. Itu bener. Tapi... bukan cuma jaket."
Aku kaku.
"Kaosmu juga kena muntah banyak. Kamu kedinginan, gemetaran. Aku panik. Aku pikir kalau kamu tidur pakai baju kotor itu kamu bakal sakit. Jadi... aku gantiin kaosmu pakai kaos bersihku yang ada di apartemen. Aku... aku nggak minta izin kamu dulu karena kamu udah nggak sadar."
Dunia kayak berhenti sebentar.
"Nayla, aku minta maaf," suaranya beneran gemetar. Bukan gaya Om protektif lagi. "Aku tau alasan 'mau nolong' nggak bikin itu jadi bener. Harusnya aku nggak nyentuh kamu sama sekali pas kamu nggak sadar. Harusnya aku panggil sekuriti cewek, atau perawat, atau biarin aja baju kotor itu sampai kamu bangun dan ganti sendiri. Yang aku lakuin itu nglewatin batas kamu. Aku salah."
Aku ngerasa perutku mual lagi. Bukan karena inget muntahnya, tapi karena kaget.
"Kenapa baru bilang sekarang?" suaraku kecil.
"Karena aku pengecut," dia jawab jujur. "Waktu itu aku takut kalau aku jujur, kamu bakal laporin aku, bakal benci aku. Terus pas di kampus jadi pembimbing kamu, aku makin takut. Aku pikir kalau aku jadi dosen yang baik, itu bisa nutupin salahku dulu. Padahal nggak."
"Dan kemarin di bandara pas Bapak mau ngenalin kita, aku beneran panik. Aku hampir bilang nggak ke Pak Harno. Karena aku ngerasa aku nggak pantes dikenalin ke kamu dengan niat baik, kalau aku masih nyimpen bohong itu."
Dia nggak pegang tanganku. Dia jaga jarak. Dia cuma nunduk.
"Aku nggak minta kamu maafin sekarang. Atau maafin sama sekali. Aku cuma mau kamu tau yang sebenarnya, sebelum kamu mutusin mau lanjut kenalan atau enggak. Kalau kamu mau berhenti di sini dan nggak mau ketemu aku lagi, aku paham banget. Aku akan bilang ke Bapakmu kalau akunya yang nggak siap."
Aku diem lama. Es tehku udah nggak enak.
"Ricko," akhirnya aku bilang.
"Iya?"
"Waktu itu kamu beneran gantiin cuma kaosnya aja? Nggak lebih dari itu?"
"Cuma kaos luarnya aja, Nay. Sumpah. Aku pakai selimut buat nutupin, aku nggak liat apa-apa sengaja, tanganku gemetaran. Setelah itu aku langsung keluar dan tidur di luar. Tapi tetep aja, harusnya aku nggak lakuin tanpa izin kamu."
Aku napas panjang.
"Aku marah, Ko. Marah banget. Harusnya malam itu kamu nggak ngambil keputusan buat badanku."
"Aku tau."
"Tapi makasih udah jujur sekarang. Daripada aku tau nanti pas udah jauh."
Dia angguk, masih nunduk.
"Untuk sekarang... aku butuh waktu. Jangan hubungin aku dulu beberapa hari ya. Aku butuh mikir. Bukan berarti aku benci, tapi aku butuh beresin perasaan aku dulu."
"Siap. Aku nggak akan chat duluan. Terserah kamu kapan mau ngobrol lagi. Atau kalau nggak sama sekali pun nggak apa-apa."
Kita pulang jalan kaki, kali ini agak berjauhan. Nggak kayak berangkat tadi yang bisa ketawa bareng.
Di pagar kebun, Bapak masih nyiram tanaman yang itu-itu aja dari tadi.
---Seminggu setelah obrolan di warkop itu.
Ricko beneran nggak ngechat sama sekali. Sesuai janji.
Sampai suatu sore, hp Ricko bunyi.
Pak Harno: "Ko, Nayla dirawat. Tipes. Di RS Lavalette. Dari kemarin panas nggak turun."
Ricko langsung berdiri dari kursinya.
---
RS Lavalette jam 8 malam.
Aku di kamar rawat, infus di tangan, pucat. Baru dari Jerman belum sempet adaptasi makanan Malang, kecapekan jetlag + kepikiran terus, langsung drop. Tipes.
Bapak lagi keluar beli bubur. Di kamar cuma Ibu.
Terus pintu kebuka pelan.
Ricko. Pakai jaket, bawa tas kecil, mukanya khawatir banget. Tapi dia nggak langsung masuk.
Di depan pintu, dia ngetok pelan.
"Tante, boleh masuk?" tanya dia ke Ibuku dulu, bukan ke aku.
Ibuku angguk. "Masuk, Ko. Dari tadi Bapaknya nungguin kamu."
Aku melek, kaget. "Loh..."
Ricko cuma berdiri agak jauh dari ranjang, nggak langsung duduk di sampingku.
"Hai," katanya pelan. "Boleh aku di sini sebentar? Kalau kamu nggak nyaman aku di luar aja. Aku cuma denger dari Pak Harno kamu dirawat."
Aku suaranya serak. "Nggak apa-apa... masuk aja."
Dia baru duduk di kursi tamu, yang paling jauh dari ranjang. Bukan di pinggir ranjangku.
"Aku janji minggu lalu nggak akan chat duluan. Aku tepati. Tapi pas Pak Harno telpon, aku nggak bisa nggak dateng. Maaf kalau ini ngelanggar batas waktu mikirmu itu."
Aku geleng pelan. "Nggak apa-apa."
Ibuku bisik, "Tante tinggal dulu ya, mau ke apotek. Ricko temenin sebentar ya, Ko."
Tinggallah kita berdua. Sunyi, cuma suara infus tetes.
"Gimana rasanya?" dia tanya.
"Panas, pusing, nggak enak semua," jawabku jujur.
Dia nggak langsung pegang jidatku. Dia nanya dulu.
"Boleh aku bantu kompres? Atau panggil suster aja?"
"Boleh... kompres aja. Susternya lagi keliling."
Dia ambil baskom kecil, isi air hangat, peras handuk kecil. Gerakannya hati-hati banget, kayak takut salah lagi. Dia cuma kompres di pergelangan tanganku dan leher, nggak asal-asalan. Setiap mau nyentuh, izin dulu.
"Maaf ya, aku dateng pas kamu lagi sakit gini, jadi ngerepotin," katanya sambil meres handuk.
"Justru pas sakit gini aku jadi kepikiran omongan kamu kemarin," kataku pelan.
"Hmm?"
"Waktu kamu minta maaf soal ganti baju itu... aku marah. Tapi seminggu ini aku mikir. Kalau kamu orangnya nggak bener, kamu nggak bakal jujur. Kamu bisa aja bohong terus sampai nikah. Tapi kamu milih jujur padahal tau resikonya aku bakal menjauh."
Ricko diem, dengerin.
"Aku belum bilang aku maafin sepenuhnya ya. Luka kagetnya masih ada. Tapi aku liat cara kamu minggu ini — kamu beneran nggak ngechat, kamu jaga jarak, sekarang pun kamu masuk nunggu izin Ibu dulu, duduk jauh, tiap mau nyentuh izin dulu... itu beda."
"Karena aku belajar, Nay," dia bilang pelan. "Dulu aku mikir nolong itu harus cepet bertindak. Sekarang aku belajar, nolong itu harus tanya dulu maunya orangnya gimana."
Aku senyum tipis, pucat.
"Ya udah, untuk malam ini... boleh nggak kamu tungguin sampai infusku habis? Bapak masih lama."
"Boleh. Aku di sini aja di kursi ini. Kalau kamu mau tidur, tidur aja. Nggak usah ngobrol."
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah kejadian bar 2 tahun lalu, aku bisa tidur nyenyak di RS dengan orang yang dulu bikin aku takut, sekarang duduk jaga jarak di kursi tamu, cuma mastiin infusku jalan dan sesekali ganti kompres — tanpa nyentuh lebih dari yang aku izinin.
Di luar, Pak Harno ngintip dari kaca pintu, ngacungin jempol ke Ricko.
Ricko cuma geleng pelan sambil senyum, isyarat: "Jangan berisik, Pak, anaknya tidur."
---Dua hari setelah dari rumah sakit.
Aku udah di rumah, masih cuti sakit. Nggak boleh makan pedes, nggak boleh capek-capek dulu. Rambutku diiket asal, muka masih pucet.
Sore itu Bapak sama Ibu sengaja pergi — katanya sih "beli buah", tapi aku tau mereka ngasih waktu buat kita ngobrol berdua.
Ricko dateng jam 4, bawa tentengan — bukan bunga, tapi bubur hambar RS dan oralit, sama satu plastik jeruk.
"Katanya dokter nggak boleh yang asem-asem dulu ya, jadi aku bawa yang manis aja," katanya, naruh di meja. Tetep duduknya di kursi tamu, bukan di kasurku.
"Nayla, gimana? Udah enakan?"
"Udah. Tinggal lemes aja."
Sunyi sebentar. Kemarin di RS kita nggak sempet ngobrol serius karena aku ketiduran terus.
"Ko, aku udah mikir seminggu ini," aku mulai duluan.
Dia langsung duduk tegak, dengerin beneran. Nggak nyela.
"Pas kamu cerita soal ganti baju itu, aku marah, takut, jijik, semua campur. Rasanya kayak... badanku diambil keputusan sama orang lain lagi. Kayak malam di bar dulu."
Dia angguk pelan. "Iya. Aku ngerti."
"Tapi aku juga inget, kamu yang di RS kemarin nggak asal main pegang. Mau kompres aja nanya dulu. Duduk aja nunggu izin Ibu. Itu... bikin aku ngerasa beda."
Aku tarik napas.
"Aku belum bisa bilang 'aku udah maafin 100%'. Jujur aja masih ada nganjel. Tapi aku mau coba maafin pelan-pelan. Bukan karena kamu nungguin aku di RS, tapi karena kamu berani jujur padahal bisa aja bohong seumur hidup."
Ricko matanya agak merah.
"Makasih, Nay. Serius, makasih. Aku nggak minta kamu buru-buru maafin. Kalau kamu butuh waktu berbulan-bulan pun nggak apa-apa. Aku yang salah, aku yang harus nunggu."
"Jadi... ada satu syarat kalau kita mau lanjut kenalan," kataku.
"Apa aja, sebutin."
"Pertama, jangan pernah lagi ngambil keputusan buat badanku tanpa izin aku. Sekecil apa pun. Mau itu ganti baju, mau itu kompres, mau itu sekedar nyelimutin. Tanya dulu. Kalau aku bilang nggak, ya nggak."
"Catet," katanya serius.
"Kedua, kalau nanti kita emang deket beneran, aku nggak mau dijodohin karena kasihan. Aku mau kamu suka sama aku karena Nayla yang sekarang — yang cerewet, yang abis dari Jerman, yang lagi tipes gini — bukan karena rasa bersalah dari malam bar itu."
Dia senyum, untuk pertama kalinya agak lega.
"Justru itu. Aku suka Nayla yang cerewet yang berani bilang 'jangan sekarang, besok aja' di bandara. Yang berani bilang 'aku butuh waktu' di warkop. Itu yang bikin aku... ya, nggak bingung lagi mau nikah sama siapa."
Aku lempar bantal kecil ke dia. "Ih, jangan gombal dulu. Aku masih tipes."
Dia ketawa, tangkep bantalnya, taruh lagi rapi di kasur.
"Terakhir," kataku, "kita jalan pelan-pelan ya. Nggak usah keburu nikah karena Bapak-bapak kita udah jodoh-jodohin. Aku mau S2-ku kepake dulu, kerja dulu."
"Pelan-pelan," dia angguk. "Aku 33, kamu 26. Kita punya banyak waktu. Nggak usah lari."
Sore itu kita nggak ngobrol soal nikah. Kita ngobrol soal Jerman dinginnya kayak gimana, soal bubur RS yang nggak enak, soal Bapak yang ngintip dari balik gorden dapur.
Dan pas Ricko pamit, dia nggak salaman lama, nggak peluk. Dia cuma bilang dari pintu,
"Nayla, istirahat ya. Kalau butuh apa-apa chat aja, tapi kalau nggak dibales cepet nggak apa-apa, aku ngerti kamu masih butuh space. Besok aku nggak kesini dulu biar kamu istirahat total. Lusa aku cek lagi boleh?"
"Boleh," jawabku.
Akhirnya, setelah 2 tahun, setelah bar, kampus, bandara, rumah sakit — untuk pertama kalinya aku ngerasa, Om protektif ini akhirnya belajar jadi pelindung yang bener: yang nanya dulu, bukan yang langsung bertindak.
---Seminggu setelah sembuh total.
Dokter udah bilang: "Boleh aktivitas normal, tapi jangan capek."
Bapak langsung manfaatin.
"Ricko, ajak Nayla jalan lah! Masa di rumah terus!" teriak Bapak dari dapur.
Padahal aku udah janjian sama Ricko duluan — tanpa campur tangan Bapak.
Kencan pertama yang beneran. Bukan di warkop deket rumah yang ada Bapak ngintip.
Kita janjian di Museum Brawijaya Malang. Alasannya simpel: tempatnya rame, terang, banyak orang, dan nggak ada yang bisa ngintip dari balik pot tanaman.
Ricko dateng duluan. Pakai kemeja flanel kotak-kotak, bukan batik. Keliatan gugup.
Aku pakai sweater tebal — masih agak takut masuk angin abis tipes.
"Hai," katanya.
"Hai," jawabku.
Jalan berdua di museum, ngeliatin tank sama foto-foto lama. Awalnya canggung banget.
"Jadi... ini tank..." kata Ricko, baca tulisan di depannya.
"Iya, tank," jawabku. Kita ketawa bareng karena saking nggak ada bahan obrolan.
Akhirnya aku yang buka duluan.
"Ko, boleh aku jujur? Aku deg-degan."
Dia langsung lega. "Lah, aku juga! Aku tadi di parkiran latihan ngomong 3 kali. 'Hai Nayla, kamu cantik hari ini' — ah enggak, terlalu gombal. 'Hai Nayla, udah sehat?' — kayak dokter."
Aku ngakak. "Untung nggak jadi ngomong yang pertama."
Kita duduk di bangku kayu di tengah museum.
"Nay, aku mau nanya," katanya, kali ini serius tapi santai. "Sekarang kamu udah nggak lihat aku sebagai Pak Ricko yang di bar dulu kan?"
Aku mikir sebentar.
"Masih ada bayangannya, Ko. Jujur aja. Tapi sekarang lebih banyak lihat kamu sebagai Ricko yang nungguin di kursi RS, yang tiap mau kompres nanya dulu. Yang minggu lalu nggak ngechat karena aku minta jangan dihubungin. Itu yang bikin aku mau dateng hari ini."
Dia angguk. "Makasih udah dateng."
"Terus kamu? Nggak nyesel kenalan sama cewek yang ribet, abis tipes, abis marah-marah soal baju?"
Dia ketawa. "Justru aku butuh yang ribet. Biar ada yang ngerem aku kalau aku balik jadi Om protektif yang asal bertindak lagi."
Kita jalan lagi, kali ini lebih enak. Ngobrolin Jerman — katanya dia pengen ke sana tapi takut kedinginan. Ngobrolin kerja — aku mau coba daftar jadi dosen muda, dia bilang "jangan jadi dosen kayak aku yang revisinya kebanyakan."
Pas mau pulang, di parkiran museum, dia berhenti.
"Nayla, boleh aku... gandeng tasmu aja? Bukan tanganmu. Tasmu berat kayaknya."
Aku liat ranselku yang emang berat isinya buku museum.
"Boleh. Tasnya aja ya."
Dia bawa ranselku sampai ke motor. Nggak maksa gandeng tangan, nggak maksa peluk.
Sebelum naik motor masing-masing — kita masih naik motor sendiri-sendiri, belum berani boncengan — dia bilang:
"Besok ngobrol lagi ya? Jangan sekarang. Kamu baru sembuh, jangan capek."
Aku ketawa. Itu kalimatku di bandara dulu yang sekarang dia balikin.
"Yaudah, besok kita ngobrol lagi, jangan sekarang," jawabku.
Dan kita pulang ke arah berlawanan, dengan janji kencan kedua minggu depan — masih di tempat rame, masih terang, masih pelan-pelan.
Tanpa buru-buru nikah. Tanpa Bapak-bapak yang ngatur tanggal.
Pelan-pelan, tapi jelas.
3 bulan kemudian.
Rutinitas baru kita: tiap Selasa dan Jumat ngobrol, kadang di perpus kampus, kadang di taman Kota Malang. Nggak pernah malem-malem. Selalu di tempat rame.
Bapak udah nyerah ngatur. Sekarang tiap Ricko dateng, Bapak cuma bilang, "Jangan lama-lama, Nayla gampang capek," terus masuk rumah lagi. Udah nggak ngintip dari gorden.
Hari itu Selasa. Aku lagi pusing nyusun modul ajar — iya, akhirnya aku keterima jadi asisten dosen muda, nggak di fakultas Ricko biar nggak satu atap.
Ricko dateng bawa dua kopi, taruh di meja perpus. Satu kopi hitam tanpa gula buat dia, satu kopi susu buat aku.
"Nay, aku mau cerita," katanya.
"Apa?"
"Inget nggak dulu aku pernah bilang ke Pak Harno aku mau nikah tapi bingung sama siapa?"
"Iya, yang di bandara itu."
Dia ngaduk kopinya lama.
"Waktu itu aku bingung karena aku takut nikah sama orang yang cuma 'cocok di atas kertas'. Pinter, baik, disetujui orang tua. Tapi nggak bisa diajak berantem yang sehat."
"Berantem yang sehat?"
"Iya. Kayak kita kemarin — kamu marah soal baju itu, aku minta maaf, kamu bilang butuh waktu seminggu, aku nunggu. Nggak ada yang banting pintu, nggak ada yang ngilang. Itu berantem yang sehat buatku."
Aku diem, dengerin.
"3 bulan ini aku nggak bingung lagi, Nay. Aku tau aku mau nikah sama orang yang kalau aku kelewat batas, dia berani bilang 'Ko, stop'. Yang kalau sakit tipes masih bisa ngomel 'jangan gombal'. Yang kalau aku jadi Om protektif berlebihan, dia lempar bantal."
Aku pura-pura cuek, padahal jantungku deg-degan.
"Terus?" tanyaku pelan.
"Terus... boleh nggak aku mulai nabung buat serius? Bukan ngelamar sekarang. Nabung. Belajar jadi suami yang nanya dulu sebelum bertindak. Kalau kamu suatu saat — entah tahun depan, dua tahun lagi — ngerasa siap, baru kita omongin lagi sama Bapak-Bapak. Kalau kamu nggak siap juga nggak apa-apa. Kita tetep jalan pelan-pelan kayak gini."
Aku ngeliat dia. Nggak ada cincin, nggak ada lutut ditekuk ala film. Cuma kopi yang udah dingin dan modul ajar yang berantakan.
"Ricko," kataku.
"Iya?"
"Kalau nabung aja boleh. Tapi nabungnya jangan diam-diam. Nabungnya sambil ajarin aku juga gimana caranya jadi pasangan yang berani ngomong batasan. Deal?"
Dia senyum lega, senyum yang dulu pernah aku liat waktu dia nungguin infusku habis di RS.
"Deal. Pelan-pelan aja ya, Nay? Besok kita ngobrol lagi, jangan sekarang. Modulmu belum selesai."
"Yaudah, besok kita ngobrol lagi, jangan sekarang," jawabku, persis kalimat andalan kita berdua.
Di luar perpus, hujan Malang turun pelan. Kita berdua masih duduk di dalam, ngerjain modul masing-masing, sesekali tukeran contekan kopi.
Nggak buru-buru. Nggak dipaksa. Tapi jelas arahnya kemana.
---
8 bulan kemudian. Lamaran versi mereka.
Nggak ada dekorasi bunga segede gaban. Nggak ada fotografer dengan lampu sorot.
Cuma di ruang tamu rumah Pak Harno. Lesehan. Tikar, teh hangat, dan piring pisang goreng yang Ibu goreng sendiri.
Yang dateng cuma keluarga inti. Bapak, Ibu, Ricko sama Ibunya Ricko — Tante Rina.
Nayla udah bukan mahasiswi bimbingan lagi. Udah jadi dosen muda, ngajar kelas pagi. Ricko juga udah nggak jadi dosen tamu di kampusku — dia pindah ngajar di kampus lain biar bener-bener nggak ada cerita "dosen nikahin mahasiswi bimbingan".
Ricko dateng pakai batik yang sama kayak waktu di bandara dulu. Grogi.
"Nay, boleh aku ngomong duluan?" bisiknya sebelum acara mulai.
"Boleh."
"Kalau nanti di dalem kamu ngerasa nggak enak, kedip 2 kali ya. Kita batalin. Nggak usah sungkan sama Bapak."
Aku ketawa kecil. "Kalau kamu yang ngerasa nggak enak, kamu yang kedip 2 kali."
"Deal."
Di dalem, Pak Harno buka obrolan.
"Jadi gini, maksud kedatangan Ricko dan Tante Rina..."
Tante Rina senyum ke aku. "Nayla, Tante udah denger cerita dari Ricko. Dari yang di bar dulu — iya, dia cerita semua ke Tante, yang soal baju itu juga — sampai yang tipes, sampai yang di perpus. Tante bilang ke Ricko, kalau kamu mau, Tante seneng. Kalau kamu nggak mau, Tante juga paham."
Aku kaget Ricko cerita semuanya ke Ibunya. Nggak ditutupin.
Ricko ngeliat aku. "Nay, aku di sini nggak mau ngelamar karena Bapakmu sahabat Bapakku. Atau karena umurku udah 33."
Dia tarik napas panjang.
"Aku di sini karena 8 bulan terakhir, kamu yang ngajarin aku caranya minta izin dulu. Cara jadi pelindung yang nggak asal gendong. Aku mau nikah sama kamu karena kamu berani bilang 'besok aja, jangan sekarang' pas aku keburu-buru. Boleh nggak?"
Semua mata ke aku.
Aku nggak langsung jawab "iya".
Aku jawab kayak perjanjian kita dulu di warkop.
"Ko, aku mau. Tapi ada syarat terakhir."
"Apa?"
"Nikahnya pelan-pelan juga ya. Nggak usah mewah. Akad aja dulu, resepsinya nanti kalau tabungan kita cukup. Aku nggak mau nikah karena gengsi."
Ricko langsung angguk. "Justru itu yang aku tabung 8 bulan ini. Bukan buat pesta, tapi buat kita bisa tinggal sendiri nanti tanpa numpang."
Pak Harno yang dari tadi mau nangis, malah nyeletuk, "Yaudah sah! Besok kita ngobrol lagi soal tanggal, jangan sekarang! Pisang gorengnya keburu dingin!"
Semua ketawa.
Malam itu nggak ada cincin yang dipaksa masuk ke jari. Ricko cuma nyodorin kotak kecil, buka pelan, dan nanya dulu:
"Boleh aku pasangin?"
"Boleh," jawabku.
Dan untuk pertama kalinya, sentuhan itu — pasang cincin — bener-bener terasa beda. Karena ditanya dulu.
Di luar, hujan Malang turun lagi. Sama kayak waktu di perpus dulu.
Tapi kali ini kita nggak buru-buru pulang.
6 bulan setelah lamaran. Akadnya beneran pelan-pelan.
Nggak di gedung. Di masjid dekat rumah, Jumat pagi. Cuma 30 orang.
Aku pakai kebaya simpel pinjaman Ibu, Ricko pakai beskap yang agak kebesaran karena itu punya Bapaknya dulu.
Ijabsnya cepet. Ricko grogi, suaranya agak getar pas bilang kabul. Aku yang di ruang sebelah denger dari speaker, ikut getar juga.
Pas sah, nggak ada yang teriak sah berisik. Cuma Pak Harno yang bisik pelan di kuping Ricko, "Yaudah Ko, besok kita ngobrol lagi, jangan sekarang," — kalimat andalan keluarga kita yang sekarang jadi joke.
Habis akad, kita nggak langsung honeymoon.
Kita pulang ke kontrakan petak 2 kamar yang udah kita cat sendiri minggu lalu. Catnya masih bau.
Malam pertama di kontrakan, bukan yang kayak di film-film.
Aku masih masuk angin karena seharian akad, Ricko sibuk beresin kipas angin yang bunyi.
"Nay, boleh aku duduk di sini?" dia nanya, nunjuk pinggir kasur.
"Boleh."
"Boleh aku pegang tanganmu?"
Aku ketawa, "Udah sah, Ko. Boleh."
"Tetep harus nanya," katanya. "Kebiasaan baru. Biar nggak balik ke Ricko yang dulu asal ganti baju."
Kita duduk bersandar, masih pakai baju akad yang belum sempet ganti, ngobrolin besok mau beli gas di mana, sampahnya buang jam berapa.
"Ko, nyesel nggak nikah pelan-pelan gini? Nggak ada pesta gede," tanyaku.
Dia geleng. "Justru karena pelan-pelan ini aku nggak takut salah lagi. Dulu di bar aku bertindak cepet karena panik. Sekarang aku belajar, yang cepet itu nggak selalu bener. Yang pelan, yang nanya dulu, itu yang lama."
Aku nyender di bahunya.
"Besok kita ngobrol lagi ya, jangan sekarang. Aku ngantuk."
"Siap," dia jawab, matiin lampu, tapi kipas angin yang bunyi itu tetep dibiarin nyala — karena aku bilang nggak apa-apa berisik, asal jangan dimatiin, aku gerah.
Di luar kontrakan, Pak Harno dan Tante Rina udah pulang. Nggak ada yang ngintip lagi dari gorden.
Akhirnya, setelah 2 tahun dari bar, kampus, bandara, tipes, perpus, dan lamaran pisang goreng — Nayla dan Ricko beneran jadi sering nggak sengaja ketemu.
Tapi sekarang ketemunya di dapur kontrakan yang sempit, rebutan siapa yang cuci piring.
Dan tiap mau cuci piring, Ricko masih nanya dulu,
"Boleh aku yang cuci?"
Dan aku jawab,
"Boleh. Tapi besok aku yang cuci. Jangan sekarang."
---
-