“Ye Cangming, berlututlah dan serahkan Jantung Kaisar Abadi. Dengan begitu, aku akan membiarkan jiwamu bereinkarnasi dengan tenang.”
Di puncak Gunung Surgawi, seorang pria berambut putih berlutut di tengah genangan darahnya sendiri. Rantai hitam menembus kedua bahu dan kakinya, sementara sembilan pedang ilahi menyegel dantiannya, menghancurkan seluruh kultivasi yang telah ia bangun selama tiga puluh ribu tahun. Di hadapannya berdiri orang-orang yang paling ia percayai: murid pertamanya, Li Tianxuan; sahabat yang telah bertarung bersamanya selama sepuluh ribu tahun, Mo Wuchen; dan perempuan yang pernah ia anggap sebagai satu-satunya alasan untuk tetap hidup, Su Yueli. “Kalian semua...” Ye Cangming mengangkat wajahnya. Darah emas mengalir dari sudut bibirnya, tetapi matanya tetap setajam pedang. “Aku memberikan teknik tertinggiku kepada kalian, membagikan harta pusaka yang kukumpulkan selama ribuan tahun, bahkan mempertaruhkan nyawaku untuk menyelamatkan kalian dari Kesengsaraan Surgawi. Apakah semua itu masih belum cukup?” Su Yueli melangkah maju. Gaun putihnya berkibar tertiup angin, dan wajah cantiknya tidak menunjukkan sedikit pun rasa bersalah. “Cukup? Justru karena itulah kau harus mati. Selama kau masih hidup, kami akan selalu menjadi bayanganmu. Tak peduli seberapa tinggi kultivasi kami, dunia hanya akan mengenalmu sebagai Kaisar Abadi. Aku tidak ingin menjadi perempuan yang berdiri di belakang seorang pria selamanya.” Ye Cangming tertawa. Awalnya pelan, lalu semakin keras sampai darah kembali menyembur dari mulutnya. “Jadi, hanya karena ketenaran?” Li Tianxuan menggelengkan kepala. “Guru, jangan membuat kami terdengar seburuk itu. Dunia kultivasi memang kejam. Jika kami tidak membunuhmu hari ini, suatu hari nanti orang lain akan melakukannya. Kami hanya mengambil kesempatan yang tersedia.” “Kesempatan?” Ye Cangming memandang murid yang dahulu ia selamatkan dari tumpukan sampah di sebuah kota kecil. “Ketika kau hampir mati karena meridianmu hancur, siapa yang memberikan setetes darah Kaisar untuk menyelamatkanmu? Ketika seluruh sekte mengusirmu karena kau dianggap tidak berguna, siapa yang berdiri di hadapan para tetua dan menjadikanmu murid pertama? Ketika kau gagal menembus Alam Abadi, siapa yang mengorbankan seribu tahun kultivasinya untuk membantumu?” Li Tianxuan terdiam sejenak, kemudian menghunus pedangnya. “Karena itulah aku tidak ingin membunuh Guru secara langsung. Aku sudah menyiapkan kematian yang pantas untukmu.” Pedang itu menembus jantung Ye Cangming. Pada saat yang sama, Su Yueli menusukkan belati ke punggungnya, sementara Mo Wuchen mengaktifkan formasi pemusnah jiwa. Tubuh Kaisar Abadi mulai retak, berubah menjadi serpihan cahaya keemasan. Namun, tepat sebelum jiwanya hancur, Ye Cangming mendongak menatap langit dan mengucapkan sebuah sumpah. “Dengan darahku sebagai saksi, dengan Dao-ku sebagai hukum, jika aku memperoleh kesempatan kedua, aku akan mencabut akar kalian sampai tidak tersisa satu pun keturunan yang dapat meneruskan nama kalian. Li Tianxuan, Su Yueli, Mo Wuchen... ingatlah wajahku. Aku akan datang menjemput kalian.” Ledakan mengguncang Sembilan Alam. Kaisar Abadi pun lenyap dari dunia, dan jutaan kultivator bersorak merayakan kematiannya. Tidak seorang pun menyadari bahwa pada detik terakhir, sebuah hukum kuno yang bahkan ditakuti para dewa telah terbangun di dalam jiwanya: Samsara Terbalik.
Ketika Ye Cangming membuka mata, yang pertama ia lihat adalah langit-langit kayu yang berlubang. Bau obat murahan memenuhi hidungnya. Tubuhnya kurus, tangannya dipenuhi kapalan, dan rasa sakit berdenyut di setiap bagian tubuhnya. Ia segera duduk, meraih cermin retak di samping tempat tidur, lalu membeku. Wajah yang muncul di sana bukanlah wajah Kaisar Abadi yang telah hidup selama tiga puluh ribu tahun, melainkan seorang pemuda berusia enam belas tahun dengan rambut hitam berantakan dan bekas luka di dahi. “Ye Cangming...” Ia mengucapkan namanya sendiri perlahan. Kenangan asing membanjiri pikirannya. Ia telah kembali ke masa tiga puluh ribu tahun sebelumnya, ketika dirinya masih seorang murid luar Sekte Awan Biru yang dianggap sampah karena tidak mampu mengumpulkan qi spiritual. Dalam kehidupan pertama, ia meninggalkan sekte ini setelah dihina para tetua, lalu mengembara selama ratusan tahun sebelum akhirnya menemukan jalan menuju keabadian. Kini, ia kembali ke titik terendah hidupnya, tepat tujuh hari sebelum keluarganya dibantai oleh penguasa Kota Qinghe karena menolak menyerahkan tambang batu roh warisan leluhur. Ye Cangming mengepalkan tangannya. Dalam kehidupan sebelumnya, ia terlalu sibuk mengejar kekuatan sehingga gagal menyelamatkan keluarganya. Kali ini, semuanya akan berbeda. Ia turun dari tempat tidur, duduk bersila, lalu memejamkan mata. Energi spiritual di sekelilingnya berputar perlahan, memasuki tubuh melalui pori-pori dan mengalir menuju dantian. Bagi kultivator biasa, mengumpulkan qi pertama membutuhkan waktu berminggu-minggu. Bagi Ye Cangming, yang telah memahami hukum tertinggi langit dan bumi, proses itu hanya membutuhkan tiga tarikan napas. Namun, ketika energi spiritual mulai memenuhi dantiannya, ia menemukan sesuatu yang tidak pernah ada dalam kehidupan pertamanya. Di dalam lautan kesadarannya terdapat sebuah istana hitam dengan sembilan pintu tertutup. Pada pintu pertama terukir dua kata: Pemangsa Dao. Ye Cangming menyentuhnya, dan sebuah suara kuno bergema di dalam pikirannya. “Segala sesuatu yang pernah membunuhmu akan menjadi bahan bakarmu. Segala sesuatu yang pernah mengkhianatimu akan menjadi jalanmu. Bunuh musuh yang ditakdirkan membunuhmu, dan rebut kembali hukum yang mereka curi.” Ye Cangming tersenyum tipis. Rupanya, bahkan kematian pun tidak cukup untuk menghentikannya. Ia baru saja bangkit ketika suara ketukan terdengar dari pintu. “Ye Cangming! Keluar, dasar sampah! Serahkan batu rohmu kepada Kakak Senior Zhao, atau kami akan mematahkan kakimu!” Tiga murid luar masuk tanpa izin. Pemimpin mereka, Zhao Kun, adalah orang yang dahulu menghancurkan meridian Ye Cangming hanya karena pemuda itu menolak menyerahkan jatah batu rohnya. Dalam kehidupan sebelumnya, Ye Cangming membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membalas penghinaan tersebut. Kali ini, ia hanya membutuhkan satu tatapan. “Kalian datang tepat waktu.” Zhao Kun tertawa ketika mendengar perkataan itu. “Apa? Sampah sepertimu akhirnya belajar berbicara kasar?” Ia mengangkat tangan untuk menampar Ye Cangming, tetapi sebelum telapak tangannya mencapai sasaran, Ye Cangming menangkap pergelangan tangannya. Bunyi retakan terdengar. “Aaaakh! Lepaskan aku!” Zhao Kun menjerit, tetapi Ye Cangming tidak bergerak sedikit pun. “Dulu kau mematahkan meridianku, membuangku ke jurang, lalu mengatakan bahwa orang lemah tidak pantas hidup. Aku masih mengingat setiap kata itu.” “Kau... kau bukan lagi orang yang sama!” Zhao Kun mencoba melepaskan diri. “Benar,” jawab Ye Cangming. “Orang yang dahulu kau tindas sudah mati.” Ia memutar pergelangan tangannya. Tulang Zhao Kun hancur, dan tubuhnya jatuh berlutut. Dua murid lainnya buru-buru mencabut pedang, tetapi Ye Cangming hanya mengibaskan lengan bajunya. Gelombang qi menghantam mereka hingga terlempar menembus pintu. Zhao Kun gemetar, wajahnya pucat pasi. “Ampuni aku! Aku tidak akan mengganggumu lagi!” Ye Cangming menatapnya tanpa ekspresi. “Kau pernah memberikan kesempatan kepada orang-orang yang kau sakiti?” Zhao Kun tidak menjawab. “Kalau begitu, jangan meminta sesuatu yang tidak pernah kau berikan.” Satu jari menyentuh dahi Zhao Kun. Teknik Pemangsa Dao aktif. Energi spiritual yang susah payah dikumpulkan Zhao Kun selama bertahun-tahun tersedot habis dalam sekejap, meninggalkannya sebagai manusia biasa tanpa sedikit pun kultivasi. Ye Cangming tidak membunuhnya. Kematian terlalu murah untuk seseorang yang menghabiskan hidupnya menindas orang lain. Ia membiarkan Zhao Kun hidup dengan tubuh yang telah kehilangan seluruh kekuatannya, lalu berjalan keluar dari kamar tanpa menoleh lagi.
Tujuh hari kemudian, Kota Qinghe berubah menjadi lautan api. Penguasa kota, Han Wujue, datang bersama tiga ratus prajurit untuk merebut tambang batu roh keluarga Ye. Dalam kehidupan sebelumnya, ayah Ye Cangming mati mempertahankan gerbang, ibunya dibunuh di halaman rumah, dan adik perempuannya menghilang tanpa jejak. Kenangan itu membuat setiap langkah Ye Cangming terasa semakin berat. Ketika ia tiba, gerbang keluarga Ye telah hancur. Puluhan pelayan tergeletak di tanah, sementara ayahnya, Ye Tianhong, berdiri dengan pedang patah di tangan. “Ayah!” Ye Cangming berlari mendekat. Ye Tianhong menoleh dengan terkejut. “Cangming? Kenapa kau kembali? Bawa adikmu dan lari! Jangan pedulikan ayah!” Dari belakang, Han Wujue tertawa sambil mengangkat pedang. “Terlambat. Seluruh keluargamu akan mati hari ini!” Pedangnya turun menuju leher Ye Tianhong. Namun sebelum bilah itu menyentuh sasaran, sebuah tangan menangkapnya. Han Wujue tertegun. Pemuda kurus yang berdiri di hadapannya bahkan belum mencapai Alam Pengumpulan Qi tingkat tinggi, tetapi pedangnya sama sekali tidak dapat bergerak. “Kau...” Ye Cangming mengangkat wajah. Matanya yang semula hitam kini memancarkan cahaya merah gelap. “Aku sudah melihat bagaimana kau membunuh ayahku. Aku sudah melihat bagaimana kau membakar rumahku. Aku bahkan menghabiskan tiga puluh ribu tahun membenci diriku sendiri karena tidak mampu menyelamatkan mereka.” Ia meremas pedang itu hingga berubah menjadi serpihan besi. “Tapi kali ini, kaulah yang akan menyesal dilahirkan.” Han Wujue meraung dan melepaskan seluruh kultivasinya. Aura Alam Inti Emas menyapu halaman, membuat batu-batu retak dan para prajurit berlutut ketakutan. Ia adalah penguasa kota yang telah menguasai wilayah tersebut selama dua ratus tahun, sementara Ye Cangming hanyalah seorang pemuda yang baru saja memulai kultivasinya. “MATI!” Han Wujue melancarkan pukulan yang mampu meruntuhkan bangunan. Ye Cangming tidak menghindar. Ia hanya mengangkat satu jari dan berbisik, “Hukum pertama, Pemangsa Dao.” Dunia seakan berhenti. Pukulan Han Wujue membeku beberapa senti dari wajahnya, lalu seluruh qi spiritual di dalam tubuh sang penguasa berbalik arah. Meridiannya retak satu demi satu. Inti emas yang ia banggakan hancur menjadi debu. Dalam tiga tarikan napas, seorang penguasa Alam Inti Emas kehilangan seluruh kultivasinya. Han Wujue jatuh ke tanah sambil memuntahkan darah. “Tidak mungkin! Teknik apa itu? Siapa sebenarnya kau?” Ye Cangming berjongkok di hadapannya. “Aku hanyalah seseorang yang pernah membiarkanmu hidup terlalu lama.” Ia mengangkat tangan, dan ingatan Han Wujue tentang setiap kejahatan yang pernah dilakukannya terungkap di udara sebagai bayangan-bayangan bercahaya. Para prajurit menyaksikan pembantaian, pemerasan, dan pengkhianatan yang selama ini disembunyikan sang penguasa. Beberapa dari mereka menjatuhkan senjata. Yang lain berlutut memohon ampun. Ye Cangming berdiri dan berkata, “Aku tidak akan membunuh orang yang menyerah. Kalian boleh pergi, tetapi jika ada satu orang saja yang kembali mengangkat senjata terhadap keluargaku, aku akan datang sendiri untuk mengakhiri garis keturunannya.” Tidak seorang pun berani membantah. Ia lalu menatap Han Wujue, yang merangkak memohon belas kasihan. “Kau akan hidup. Kau akan menyaksikan semua kekuasaan yang kau bangun runtuh, dan kau akan mengingat nama keluarga yang pernah kau coba hapus.” Dengan satu tendangan, ia mengirim Han Wujue keluar dari gerbang kota. Setelah semuanya berakhir, Ye Cangming berbalik dan melihat ayahnya masih berdiri, sementara ibunya memeluk adik perempuannya yang menangis ketakutan. Mereka semua hidup. Untuk pertama kalinya setelah tiga puluh ribu tahun, air mata mengalir di wajahnya. Ye Tianhong mendekat dan memegang bahunya. “Cangming, apa yang sebenarnya terjadi kepadamu?” Ye Cangming menunduk, lalu memeluk ayahnya erat-erat. “Maafkan aku, Ayah. Aku terlambat sekali.” Ayahnya tidak memahami maksud perkataan itu, tetapi ia membalas pelukan putranya tanpa bertanya lebih jauh.
Malam itu, ketika keluarganya telah tidur dengan aman, Ye Cangming berdiri di puncak bukit di belakang rumah. Di kejauhan, sembilan bintang hitam muncul di langit, meskipun malam sebelumnya tidak ada satu pun yang terlihat. Istana hitam di dalam lautan kesadarannya bergetar. Pintu pertama terbuka sedikit, memperlihatkan sebuah takhta yang dipenuhi rantai dan sembilan nama terukir pada sandarannya. Li Tianxuan. Su Yueli. Mo Wuchen. Enam nama lainnya masih tertutup kabut. Ye Cangming menatap langit, dan senyumnya perlahan menghilang. Ia telah mengubah masa depan keluarganya, tetapi ia tahu ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang menunggunya. Dalam kehidupan sebelumnya, ia mengira pengkhianatan sembilan orang itu semata-mata karena keserakahan. Namun sekarang, setelah melihat simbol kuno pada pintu Pemangsa Dao, ia menyadari bahwa mereka mungkin hanya pion dalam permainan yang jauh lebih tua daripada Sembilan Alam itu sendiri. “Tidak masalah,” bisiknya. “Dewa, iblis, takdir, atau bahkan langit itu sendiri... siapa pun yang berdiri di belakang kalian, aku akan menemukan kalian.” Ia mengangkat tangan. Di telapak tangannya muncul nyala api hitam yang tidak memancarkan panas, melainkan menyerap cahaya bintang di sekelilingnya. “Kalian mengambil hidupku, menghancurkan keluargaku, dan mengubah kesetiaanku menjadi lelucon. Aku pernah menghabiskan tiga puluh ribu tahun untuk menjadi yang terkuat, tetapi masih terlalu bodoh untuk memahami dunia.” Nyala api itu membesar, membentuk bayangan seorang kaisar yang duduk di atas takhta dari tulang para dewa. “Kali ini, aku tidak akan mengejar keabadian demi hidup selamanya.” Matanya menatap sembilan bintang hitam di langit. “Aku akan menjadi sesuatu yang bahkan keabadian pun tak berani sentuh.” Di suatu tempat yang jauh di luar Sembilan Alam, seorang pria berjubah putih membuka matanya. Di belakangnya terbentang sungai waktu yang mengalir dari awal penciptaan hingga akhir kehampaan. Untuk pertama kalinya dalam jutaan tahun, pria itu berdiri dari tahtanya. “Samsara Terbalik telah aktif...” bisiknya. “Jadi, bidak yang seharusnya terhapus ternyata kembali.” Ia memandang ke arah dunia manusia, lalu tersenyum tipis. “Biarkan dia tumbuh. Biarkan dia membalas dendam. Pada akhirnya, dia akan menemukan kebenaran yang jauh lebih kejam daripada pengkhianatan.” Pria itu mengangkat satu jari, dan satu bintang hitam di langit Sembilan Alam padam. Pada saat yang sama, Ye Cangming merasakan sesuatu di dalam jiwanya hancur. Ia tidak tahu apa yang telah terjadi, tetapi ia memahami satu hal: pertempuran sesungguhnya baru saja dimulai.
Dan di atas bukit yang sunyi, Kaisar Abadi yang telah mati sekali lagi menutup matanya, bukan untuk beristirahat, melainkan untuk memulai kultivasi yang akan mengguncang seluruh alam semesta.
TAMAT.