Di ruang ICU itu bau antiseptiknya nusuk banget.
Monitor di samping Ibu bunyi pelan, tit... tit... tit... teratur. Selang ada di mana-mana. Wajah Ibu pucat. Tanganku masih gemetar pegang kertas tagihan yang baru dikasih suster.
Biaya operasi: Rp 147.500.000
Uang darimana? Tabunganku bahkan nggak nyampe 2 juta.
Aku nunduk, nangisnya udah nggak bersuara lagi. Capek.
Terus ada bayangan tinggi berhenti di depan aku.
"Dinda?"
Aku dongak. Dokter Fadil.
Dokter jaga ICU yang dari kemarin merawat Ibu. Masih pakai jas putihnya, maskernya diturunin ke dagu. Matanya capek, tapi tatapannya tajem. Semua suster di sini bilang dia dokter paling muda, paling pinter, paling dingin.
Dia duduk di kursi sebelah aku tanpa nanya izin dulu.
"Ibu kamu harus operasi malam ini juga. Kalau lewat dari 12 jam, resikonya tinggi," katanya pelan.
Aku angguk. Aku tau. "Saya... saya lagi usahain dok..."
"Udah diusahain kemana aja?" Dia ngeliat kertas di tanganku. "BPJS Ibu kamu belum aktif. Asuransi nggak cover semua. Keluarga?"
Aku geleng.
Dia diam sebentar. Lama. Terus dia narik napas.
"Aku bisa lunasin semua. Operasinya, perawatan pasca operasi, obatnya, kamarnya. Aku yang tanggung jawab."
Jantungku kayak berhenti.
"Serius, Dok?"
"Serius. Tapi ada syaratnya."
Aku langsung siaga. Di otakku udah kemana-mana.
Dia natap aku lurus.
"Nikah kontrak sama saya. 6 bulan."
Dunia kayak dimute. Suara monitor ICU itu jadi kedengeran jauh banget.
"Apa?"
"Kakek saya sakit. Dia mau lihat saya nikah sebelum dia meninggal. Saya butuh istri. Cuma di atas kertas. Nggak ada hubungan lebih. Setelah 6 bulan kita cerai, kamu bebas. Ibu kamu sehat. Utang kamu lunas."
Tangannya nyodorin map coklat. Di dalemnya udah ada surat perjanjian.
Aku bingung. Ini orang gila apa gimana? Ini dokter, kok bisa nawarin kayak gini di depan ruang ICU?
Tapi dari balik kaca, aku lihat Ibu. Dadanya naik turun pelan. Kayak lagi nahan sakit bahkan dalam tidur.
Aku nggak punya pilihan lain.
Dengan tangan yang masih gemetar, aku ambil pulpen yang dia sodorin.
"Kalau... kalau aku setuju, Ibu saya langsung dioperasi malam ini juga kan, Dok?"
Fadil angguk. "Sekarang juga."
Dan aku tanda tangan.PART 2 - Lampu Merah Ruang Operasi
Begitu tanda tanganku selesai, Fadil langsung berdiri.
Dia nggak buang waktu sedetik pun.
"Tim, siapkan OK 2. Pasien Ny. Ratna, bedah akut. Sekarang," katanya ke teleponnya. Suaranya berubah total. Dingin, tegas, kayak komandan perang.
Nggak sampai 10 menit, brankar Ibu didorong keluar dari ICU. Perawat lari-lari.
Aku ikut lari di sampingnya, genggam tangan Ibu yang dingin.
"Bu... Ibu kuat ya Bu..."
Pintu besar ruang operasi kebuka. Aku nggak boleh ikut masuk. Pintu itu ketutup di depan mukaku. Lampu di atas pintu nyala merah. OPERASI BERLANGSUNG.
Kakiku lemes. Aku jatuh duduk di lantai depan pintu itu.
Baru sekarang nangisnya jebol.
Aku nangis sendirian di koridor sepi jam 2 pagi, masih pegang map coklat itu. Map yang isinya surat nikah kontrak.
Di dalamnya ada pasal-pasal yang baru aku baca:
Pasal 2: Pernikahan berlangsung 6 bulan.
Pasal 4: Tinggal serumah di apartemen pihak pertama.
Pasal 7: Tidak ada hubungan suami istri tanpa persetujuan kedua belah pihak.
Pasal 9: Tidak boleh jatuh cinta.
Pasal terakhir itu aku baca dua kali. Gila.
4 jam. 4 jam aku nunggu di depan lampu merah itu. Aku sholat di mushola kecil RS, doanya cuma satu. Ya Allah selamatkan Ibu saya.
Jam 05.17 pagi, lampu merah itu mati. Jadi hijau.
Pintu kebuka. Fadil keluar paling terakhir. Baju operasinya masih basah keringat, maskernya udah dilepas. Wajahnya capek banget.
Aku langsung berdiri. Nggak berani ngomong.
Dia natap aku, terus ngomong pelan, "Operasinya berhasil. Ibu kamu kuat. Pendarahannya bisa dihentikan."
Aku... aku langsung sesenggukan. Lututku mau jatuh lagi, tapi kali ini dia nahan bahuku.
"Terima kasih, Dok... terima kasih..."
"Jangan panggil Dokter lagi."
"Hah?"
Dia buka kancing jas operasinya. Dari sakunya dia keluarin satu kotak beludru kecil. Di dalamnya ada cincin polos.
"Dinda, mulai hari ini panggil saya Fadil. Atau Mas. Karena secara negara, 2 jam lagi kita akan sah di KUA. Berkasnya udah saya urus semalam."
Aku bengong. "Secepet itu?"
"Kakek saya dirawat di RS yang sama, lantai 7. Dia nanya kamu terus padahal belum pernah ketemu. Dia kira kamu beneran calon istri saya. Saya bilang kamu yang di ICU itu."
Dia nyodorin cincin itu. Tangannya ragu.
"Pakai dulu. Cuma formalitas. Nanti kalau di depan kakek saya, tolong aktingnya yang bagus ya. Dia sakit jantung, nggak boleh stres."
Aku liat cincin itu. Liat ke atas, ke wajah Fadil yang ternyata nggak sedingin yang orang-orang bilang. Matanya merah. Dia juga nggak tidur semalaman.
Pelan-pelan, aku ulurin tangan kiriku.
Dingin. Cincin itu pas banget di jariku.
Fadil narik napas lega. Terus dia ngeluarin kunci card dari saku celananya.
"Ini kunci apartemen saya. Lantai 12, tower B. Setelah Ibu kamu stabil, kamu pindah ke sana malam ini. Koper kamu biar supir saya yang ambil."
Jantungku berdegup kenceng lagi. Baru operasi Ibu selesai, sekarang aku harus serumah sama dokter asing yang 12 jam lalu bahkan aku nggak kenal.
Gila. Hidupku berubah dalam satu malam.
---
PART 3 - Apartemen Lantai 12
Aku baru masuk apartemennya jam 9 malam.
Koperku berat, mataku bengkak habis nangis seharian di RS. Ibu udah stabil, udah dipindah ke ruang rawat. Suster bilang besok baru boleh dijenguk.
Petugasnya bilang, "Unit 1208, Mbak Dinda ya? Kuncinya tap di sini."
Pintunya kebuka otomatis.
Apartemennya... gila. Bersih, wangi kayu, lampunya warm. Sepi banget. Kayak nggak ada orangnya.
"Fadil? Dok? Mas?" aku manggil pelan, masih berdiri di depan pintu. Nggak enak mau masuk.
Nggak ada jawaban. Aku pikir kosong. Yaudah aku tarik koperku masuk.
BARU DUA LANGKAH.
Pintu kamar mandi di ujung kebuka.
Dan Fadil keluar.
CUMA PAKE HANDUK PUTIH DI PINGGANG. Rambutnya masih netes air. Uap anget keluar dari kamar mandi.
Aku langsung FREEZE.
Otakku loading.
1 detik kemudian...
"ASTAGFIRULLAHHHHH!!!!"
Aku langsung banting badan, tutup muka pakai dua tangan, tas ku jatuh. "MAAF MAAF MAAF AKU NGGAK LIAT!!"
Aku beneran nggak liat! Sumpah! Tapi kenapa dia...
Fadil malah diem. Nggak panik sama sekali.
Dari sela-sela jariku aku denger dia jalan santai ke arah dapur. Kayak nggak ada apa-apa.
"Loh kamu udah dateng?" suaranya santai banget, abis mandi gitu. "Tadi kata satpam kamu masih di bawah."
"MAS FADIL PAKE BAJU DULU!!" aku teriak, mukaku masih ketutup. Panasnya udah sampe ke kuping.
"Ini apartemen saya juga, Dinda."
"YA TAPI SAYA DI SINI SEKARANG! PASAL 7! PASAL 7!"
Dia ketawa kecil. Akhirnya aku denger langkahnya menjauh ke kamar.
"Ya udah, saya ganti dulu. Jangan ngintip. Dosa."
"SIAPA YANG MAU NGINTIP!"
Pintu kamar ketutup.
Aku masih diem di depan pintu masuk, tutup muka, jantungku mau copot. Baru 12 jam jadi istrinya, udah liat yang kayak gini.
Nggak sampai semenit, dia keluar lagi. Udah pakai kaos hitam sama celana training. Rambutnya masih berantakan basah.
Dia nyodorin botol air putih ke aku.
"Minum. Kamu pucet."
Aku pelan-pelan buka jari. Ngintip. Oke, udah pakai baju. Aku ambil airnya.
"Maaf, saya nggak tau kamu secepet ini datangnya," katanya, duduk di sofa depanku. Jaraknya sengaja jauh. "Saya abis dari RS, mandi."
Aku masih nunduk, nggak berani natap. Cincin di jariku rasanya tiba-tiba berat banget.
Terus suasananya jadi serius lagi.
Fadil naruh hp nya di meja.
"Dinda."
"Hm?"
"Besok kita ketemu kakek."
Aku langsung dongak.
"Kakek... yang sakit itu?"
"Iya. Jam 10 pagi di lantai 7. Dia udah tau kamu dateng ke apartemen hari ini. Dia seneng banget. Dari tadi nanyain, 'Fadil mana istrinya?'."
Aku nelan ludah.
"Terus... aku harus ngomong apa?"
Fadil natap aku lama. Tatapannya beda dari yang di RS tadi. Lebih capek, lebih jujur.
"Bilang aja kamu sayang sama saya. Walaupun bohong. Itu terakhir yang mau dia denger sebelum dia operasi besar besok sore."
Ruangan jadi sepi lagi. Cuma suara AC.
Baru aku sadar, pernikahan kontrak ini bukan cuma aku yang butuh. Dia juga lagi mempertaruhkan orang yang dia sayang.
PART 4 - Terus Aku Tidur Dimana, Mas?
Aku baru sadar setelah mataku udah adaptasi.
Tadi dari pintu keliatannya gede karena lampunya terang. Pas aku liat sekeliling...
Ini apartemennya mini banget.
Beneran mini.
Ini tipe studio. Dapur sama ruang tengahnya nyambung. Kamarnya... cuma satu. Nggak ada sekat. Kasurnya satu, ukuran queen, di pojok. Sofanya? Sofa 2 dudukan yang kalau Fadil duduk, dengkulnya udah mentok meja.
Aku diem sambil masih pegang gagang koperku.
Fadil yang abis minum air, ngeliat aku bengong.
"Kenapa?"
"Mas..." aku muter pelan. "Kamarnya yang satunya mana?"
Dia ngernyitin dahi. "Apanya?"
"Kamar tidur satunya? Kan... kita berdua..."
"Ya cuma ini," dia jawab enteng. "Apartemen saya emang yang studio. Saya kan jarang pulang, lebih sering jaga di RS."
Aku nganga. "Terus aku tidur dimana?"
Dia nunjuk sofa kecil itu.
Aku nunjuk balik ke dia. "Terus Mas Fadil dimana?"
Dia nunjuk kasur.
Kita diem-dieman. Otakku nge-hang.
"Enggak enggak enggak," aku langsung geleng cepet. "Nggak bisa. Sofa itu kecil banget, kaki Mas pasti gantung. Saya aja yang di sofa."
"Kamu pasien... eh, istri saya. Kamu habis begadang di RS dua hari. Kamu yang di kasur."
"Mas yang punya apartemen!"
"Dan kamu tamu saya."
"Tamunya tidur di kasur yang punya rumah tidur di sofa kecil? Di mana adabnya, Mas?"
Fadil garuk kepala. Rambutnya yang masih basah jadi makin berantakan. Untuk pertama kalinya, dokter super tenang itu keliatan bingung juga.
Akhirnya dia buka lemari pojok. Dia tarik sesuatu.
Sebuah futon tipis sama selimut lipat.
"Biasanya kalau kakek nginep di sini, saya tidur di bawah," katanya.
Dia gelar futon itu di samping kasur. Tepat di bawah AC. Jaraknya cuma satu meter dari kasur.
Makin salah.
Sekarang aku di kasur, dia di lantai, cuma kepisah guling doang. Kalau aku ngelindur jatuh, jatuhnya di dia.
Aku masih berdiri kaku di samping koper.
Fadil udah duduk di futonnya, nyoba selonjor. Kakinya masih kepanjangan.
"Udah, Dinda. Kamu tidur di kasur. Saya di sini. Pasal 7 aman. Saya nggak akan naik ke kasur tanpa izin kamu. Janji."
Nada suaranya serius lagi. Kayak pas di depan ruang operasi tadi.
Aku pelan-pelan narik koperku ke pojok kamar. Aku ambil mukena sama baju ganti. Tanganku masih gemeteran.
"Oke... tapi lampu matiin ya?"
"Matiiin."
Aku masuk kamar mandi buat ganti baju. Pas keluar, lampunya udah dimatiin. Cuma lampu tidur kecil yang nyala oren.
Fadil udah rebahan di futon, pakai selimut sampai dada, mata merem. Keliatan capek banget.
Aku manjat pelan ke kasur. Kasurnya empuk, wanginya kayak dia. Aku tarik selimut sampai nutupin muka.
Sepi.
Cuma kedengeran napas kita berdua.
"Mas," bisikku pelan.
"Hm?"
"Besok ketemu kakek... aku takut."
Dari bawah, suaranya jawab pelan, ngantuk.
"Jangan takut. Kamu cuma perlu di samping saya. Sisanya biar saya yang ngomong. Sekarang tidur. Besok kamu resmi jadi menantu keluarga Wijaya."
Jantungku deg lagi.
Menantu.
Aku merem, tapi mata nggak bisa tidur. Di bawah, Fadil udah napasnya teratur. Tidur.
Dan aku, istrinya selama 6 bulan, masih melek natap langit-langit apartemen mini ini, bingung besok harus pura-pura sayang sama orang yang bahkan tadi pagi aku tutupin muka karena dia cuma pakai handuk.
PART 5 - Jam 2 Pagi Yang Nggak Bisa Tidur
Aku ngadep tembok.
Dari tadi posisiku gini terus. Ngadep tembok putih, selimut aku tarik sampai hidung. Mataku udah perih, tapi nggak bisa merem.
Di bawah, aku denger futonnya bunyi srek srek terus. Fadil bolak-balik.
Dia juga belum tidur.
Satu jam. Dua jam. Suara AC doang yang kedengeran.
Aku capek pura-pura tidur. Pelan-pelan aku balik badan. Mau ngintip.
Dan pas aku balik...
Fadil juga lagi ngadep ke aku. Melek. Matanya kebuka lebar natap langit-langit, terus kaget ngeliat aku balik.
Kita sama-sama kaget.
"Eh!"
"Eh!"
Aku langsung tarik selimut lagi. Dia langsung buang muka ke atas lagi.
Hening 3 detik yang awkwardnya minta ampun.
"Belum tidur?" dia nanya duluan, suaranya pelan.
"Belum," jawabku, masih ngadep dia tapi cuma keliatan matanya doang dari balik selimut. "Nggak bisa."
"Sama."
Aku beraniin buka selimut dikit. "Mas mikirin apa?"
Fadil napas panjang. Tangannya jadi bantal di belakang kepalanya. Futon tipis itu bikin dia keliatan tinggi banget, nggak muat.
"Mikirin kakek. Besok dia operasi jam 3 sore. Harus pasang ring jantung. Dokternya bilang resikonya gede karena umur," katanya lirih. "Makanya saya maksa nikah kontrak ini cepet. Saya pengen dia tenang dulu sebelum masuk ruang operasi."
Oh.
Baru sekarang aku ngerti. Jadi bukan cuma aku yang lagi mempertaruhkan Ibu. Dia juga.
"Mas sayang banget ya sama kakeknya?" bisikku.
"Iya. Cuma dia keluarga yang saya punya," dia jawab. Terus dia noleh lagi ke aku. "Kamu mikirin apa? Kok nggak bisa tidur?"
Aku gigit bibir. Malu mau bilang.
"Takut besok... aku nggak pinter akting, Mas. Kalau kakeknya tau kita bohong gimana? Kalau beliau kecewa gimana? Terus Ibu saya gimana..."
Fadil diem sebentar. Terus dia duduk. Bersila di futonnya, jadi sejajar sama kasurku. Jarak kita cuma semeter.
"Dinda, liat saya."
Aku liat.
Di bawah lampu tidur oren itu, muka dokter dingin itu nggak dingin sama sekali. Matanya capek, tapi lembut.
"Besok kamu nggak usah akting jadi istri yang sempurna. Kamu jadi diri kamu aja. Yang kemarin nangis di depan ICU karena takut ibunya kenapa-napa. Kakek saya pasti langsung sayang sama kamu."
Jantungku... kenapa jadi deg-degannya beda ya?
Aku angguk pelan. "Oke."
"Udah, sekarang tidur beneran. Besok kamu harus cantik. Kakek saya cerewet kalau liat menantunya pucet."
"Cantik apanya, orang habis nangis," aku ngedumel, tapi akhirnya senyum dikit. Pertama kalinya hari ini.
Dia ketawa kecil, terus rebahan lagi. "Cantik kok."
Aku langsung balik ngadep tembok lagi. Mukaku panas.
Hening.
Kali ini heningnya enak.
Nggak sampai 10 menit, napas Fadil udah teratur lagi. Kayaknya udah beneran tidur.
Aku masih melek, tapi nggak takut lagi. Ada suara napas orang lain di kamar mini ini. Nggak sepi.
Lama-lama mataku berat juga.
Hal terakhir yang aku inget sebelum ketiduran, selimutku yang tadi cuma sampai hidung, sekarang udah ditarik sampai bahu. Rapi.
Padahal aku nggak narik.
PART 6 - Pagi Pertama Jadi Nyonya Wijaya
Aku kebangun karena wangi kopi.
Jam 6 pagi. Lampu apartemen udah terang.
Aku ngelirik ke bawah. Futonnya udah dilipet rapi. Selimutnya juga. Fadil udah nggak ada di situ.
Aku duduk panik. "Mas Fadil?"
"Di sini," suaranya dari dapur mini itu.
Dia udah mandi. Udah pakai kemeja putih, celana bahan. Rambutnya rapi. Beda banget sama yang tadi malem cuma pakai handuk. Sekarang balik lagi jadi Dokter Fadil yang dingin itu.
Di meja ada dua piring roti bakar sama dua gelas kopi.
"Bangun jam 5 saya. Nggak tega bangunin kamu. Kamu ngorok pelan," katanya sambil nyodorin piring.
"AKU NGGAK NGOROK!" aku langsung duduk tegak, rambutku pasti berantakan banget.
Dia ketawa. "Ngorok dikit. Kayak kucing."
Aku manyun, ambil roti bakarnya. Perutku emang lapar banget. Dari kemarin belum makan bener.
"Jam 10 kita ke lantai 7 ya. Saya udah siapin baju buat kamu di tas kertas itu," dia nunjuk ke pojok. "Kakek suka warna pastel. Katanya biar keliatan lembut."
Aku liat tas kertas itu. Di dalemnya ada dress sage green, masih ada labelnya. Ukurannya pas.
Kok dia tau ukuran bajuku?
---
RS Harapan Sehat, Lantai 7 - Jam 10.05
Tangan aku dingin banget.
Di depan pintu kamar 705, Fadil berhenti. Dia liat aku.
"Siap?"
Aku angguk, tapi tangan aku gemeteran.
Tanpa ngomong apa-apa, Fadil langsung genggam tanganku. Erat. Hangat.
Aku kaget mau ngelepas, tapi dia bisik cepet, "Pura-pura. Inget, 6 bulan."
Pintu kebuka.
Di dalam, ada kakek-kakek kurus, pakai selang oksigen, rambutnya putih semua. Tapi matanya... matanya sama kayak Fadil. Tajem tapi baik.
Pas liat kita, matanya langsung berkaca-kaca.
"Fadil..."
Fadil nuntun aku masuk.
"Kek, ini Dinda. Istri saya."
Kakek itu langsung buka tangannya.
Aku yang tadinya udah nyiapin skenario bakal ditanya kapan nikah, di mana, kok cepet banget, malah disambut pelukan.
Kakek itu meluk aku. Erat banget, kayak udah kenal lama. Bau minyak kayu putih.
"Akhirnya kamu pulang, Nak..." bisiknya di telingaku, suaranya gemetar. "Kakek udah nunggu kamu lama."
Aku bengong. Pulang? Aku nggak pernah ketemu beliau seumur hidupku.
Aku liat Fadil dari balik pelukan kakek. Wajah Fadil juga sama bengongnya kayak aku. Dia nggak ngerti maksud kakeknya.
Kakek lepas pelukannya, pegang pipiku.
"Wajahmu... persis kayak yang di foto itu... persis ibumu..."
Darahku langsung berhenti ngalir.
Ibu? Foto apa? Kakek kenal Ibu aku?
Fadil langsung maju, "Kek, maksudnya foto apa?"
Kakek itu senyum, terus nunjuk ke meja samping ranjangnya. Di sana ada foto lama yang udah kuning.
Foto dua perempuan muda lagi pelukan di sawah.
Salah satunya... Ibu aku pas masih muda. Aku hafal banget foto itu, ada di dompet Ibu.
Dan perempuan di sebelahnya...
Aku merinding.
PART 7 - Foto 20 Tahun Lalu
Tanganku gemeteran megang foto itu.
Foto itu udah kuning, pinggirannya sobek. Dua perempuan muda pakai kebaya, rambut dikepang dua, ketawa lebar di tengah sawah.
Yang kiri itu Ibu. Ibu aku. Ratna. Waktu umur 20 tahunan, sebelum nikah. Aku hafal tahi lalat di pipinya.
Yang kanan... aku nggak kenal. Tapi senyumnya mirip banget sama Fadil. Hidungnya, matanya.
"Ini... siapa, Kek?" suaraku pelan.
Kakek yang masih di ranjang itu senyum, matanya berkaca-kaca lagi. Napasnya agak sesak karena selang oksigen.
"Ini Lastri. Istri saya. Neneknya Fadil."
Fadil yang di samping aku langsung maju. "Nenek?"
Kakek angguk pelan.
"Dulu, tahun 1998, Gunung Kelud meletus. Desa kami kebanjiran lahar dingin. Saya sama Lastri kejebak di balai desa. Ibu kamu, Ratna... dia yang masih gadis desa sebelah, yang berani nyeberangin sungai bawa tikar sama makanan buat kami. Kalau nggak ada Ratna, saya sama Lastri udah nggak ada hari itu."
Aku nutup mulut. Aku nggak pernah tau cerita ini. Ibu nggak pernah cerita.
"Lastri sama Ratna sahabatan. Kayak kakak adik. Sebelum Lastri meninggal 10 tahun lalu, dia pesen satu hal sama saya," kakek batuk pelan, Fadil langsung sigap benerin selangnya.
"Dia bilang, 'Pak, kalau nanti anak kita punya anak laki-laki, dan Ratna punya anak perempuan, jodohin ya. Biar persahabatan kita nggak putus'."
Ruangan itu sepi. AC-nya aja kedengeran.
Aku sama Fadil saling liat.
Jadi... ini bukan kebetulan?
"Selama 20 tahun saya cari Ratna. Pindah-pindah, alamatnya hilang. Sampai minggu lalu, Fadil cerita ada pasien namanya Ratna, dari Malang, umur 52, ada tahi lalat di pipi kiri. Saya langsung tau itu dia. Makanya saya suruh Fadil nikahin kamu," kakek itu genggam tangan aku sama Fadil jadi satu.
"Tapi saya nggak nyuruh dia pakai cara kontrak-kontrakan itu. Itu ide bodohnya dia sendiri. Saya cuma bilang 'bawa Dinda kesini'."
Aku langsung noleh ke Fadil. Mukanya merah padam. Kaget, malu, ketahuan bohong sama kakeknya sendiri.
"Kek, aku bisa jelasin..."
"Jelasin apa? Kamu pikir Kakek nggak tau kamu bayar operasi ibunya Dinda biar dia mau nikah sama kamu? Dokter kok jadi calo jodoh," kakek malah ngomel, tapi sambil ketawa kecil.
Aku bengong. Jadi Fadil... dari awal udah tau aku anaknya Ibu Ratna?
Fadil nunduk. Nggak berani natap aku.
"Dinda, maaf. Aku... aku emang baru tau dua hari lalu pas liat data pasien Ibu kamu. Alamatnya Desa Sumber. Aku inget cerita Nenek. Aku panik. Kakek udah sekarat, dia ngigau manggil nama Nenek sama Tante Ratna terus. Aku nggak ada cara lain biar kamu mau cepet..."
Jadi dia nggak asal pilih aku buat kontrak. Dia pilih aku karena...
Aku adalah janji neneknya.
Tangan aku yang masih digenggam kakek sama Fadil jadi satu, rasanya panas.
Kakek usap kepala aku kayak cucu beneran.
"Sekarang kamu udah pulang, Nak. Jangan pergi lagi ya. Kontrak 6 bulan itu sobek aja. Kalau mau cerai, cerai sama kakek dulu."
Aku nangis. Beneran nangis. Bukan karena bingung lagi. Karena untuk pertama kalinya sejak Ibu masuk ICU, aku ngerasa nggak sendirian.
Fadil masih nunduk, tapi genggaman tangannya ke tanganku makin erat. Bukan genggaman pura-pura kayak tadi di depan pintu. Ini erat beneran.
PART 8 - Jujur Jam 1 Malam
Pulang dari lantai 7 itu kita nggak ngomong sama sekali di lift.
Sampai apartemen mini ini pun sepi.
Fadil langsung masuk kamar, ganti baju. Aku duduk di sofa kecil itu, masih pakai dress sage green yang tadi Kakek bilang cantik. Foto kuning itu masih aku pegang.
Jam 11 malam. Lampu udah dimatiin lagi. Aku di kasur ngadep tembok. Fadil di futon bawah.
Tapi kali ini bukan karena nggak bisa tidur karena canggung. Karena kepala isinya rame banget.
Akhirnya aku nggak tahan.
"Mas."
"Hm?"
"Dari awal Mas udah tau aku anaknya Tante Ratna yang di foto itu, ya?"
Di bawah, futonnya bunyi. Fadil balik badan, ngadep ke kasurku. Walaupun gelap, aku tau dia melek.
"Enggak dari awal," jawabnya pelan. "Aku baru tau pas hari Ibu kamu masuk ICU. Di data pasien ada nama Ratna, alamat Sumber. Desa Nenek aku dulu juga Sumber. Aku iseng buka album foto Nenek, aku liat foto itu. Foto yang sama persis yang Kakek simpen."
Dia jeda.
"Aku panik, Din. Kakek udah dua minggu nggak mau makan. Nggak mau operasi ring jantung. Katanya buat apa sembuh kalau sendirian. Dia tiap malem ngigau manggil Nenek sama nama Ratna. Pas aku tau Ibu kamu itu Ratna yang dia cari, aku mikir... ini satu-satunya cara bikin Kakek mau hidup."
Aku balik badan juga. Sekarang kita hadap-hadapan. Aku di atas kasur, dia di bawah.
"Jadi Mas bantu operasi Ibu aku bukan karena kasian sama aku? Tapi karena mau pakai aku buat bujuk Kakek?"
Fadil langsung duduk. "Bukan! Bukan gitu!"
Suaranya agak keras, terus dia pelanin lagi.
"Awalnya iya. Aku akui. Awalnya aku mikirnya transaksi. Kamu butuh uang, aku butuh istri pura-pura buat Kakek. Tapi..."
Dia narik napas panjang.
"Dinda, kamu tau kenapa aku umur 31 belum pernah pacaran beneran? Semua suster di RS bilang aku dingin, angkuh."
Aku diem. Nungguin.
"Karena dari kecil aku liat Kakek. Sejak Nenek meninggal, Kakek nggak pernah senyum kayak tadi siang lagi. 10 tahun, Din. 10 tahun dia hidup kayak mayat hidup. Aku takut. Aku takut kalau aku sayang sama orang, terus orang itu pergi, aku jadi kayak Kakek. Jadi mending nggak usah sayang sama siapa-siapa sekalian."
Dia ketawa hambar.
"Terus kamu dateng. Nangis jelek di depan ICU, rambut berantakan, tapi nggak ninggalin Ibu kamu sedetik pun. Kamu yang kemarin nutup muka teriak-teriak cuma karena aku pakai handuk. Kamu yang tadi siang dipeluk Kakek langsung nangis kayak cucu beneran."
"Dan Kakek... Kakek yang udah 2 minggu nolak operasi, barusan suster WA aku. Dia bilang mau. Dia mau operasi besok sore. Katanya dia mau sembuh, mau liat cicitnya."
Jantungku berdegup kenceng banget. Ruangan mini ini rasanya sesak.
"Cicit?" bisikku.
Fadil nunduk, malu. Kupingnya merah keliatan bahkan dalam gelap.
"Ya... Kakeknya ngomong gitu. Maaf. Kecepetan."
Aku nggak bisa jawab. Air mataku netes lagi. Tapi bukan karena sedih.
Aku turun pelan dari kasur. Duduk di pinggir kasur, kakiku hampir nyentuh futonnya dia.
"Mas Fadil..."
"Hm?"
"Kalau kontraknya kita sobek kayak kata Kakek tadi... kita jadi apa?"
Fadil dongak. Mata kita ketemu. Dekat banget.
Untuk pertama kalinya, dia nggak jawab pakai pasal. Nggak jawab pakai logika dokter.
Dia jawab pelan banget, hampir nggak kedengeran.
"Jadi yang beneran, gimana? Kamu mau?"
Di luar, hujan mulai turun di Malang. Suaranya pelan di jendela apartemen mini lantai 12 ini.
Dan aku, yang 3 hari lalu nikah kontrak demi operasi Ibu, sekarang nggak tau harus jawab apa.
Aku langsung buang muka. Ngadep tembok lagi. Cepet.
"Aku masih syok mas, kalau beneran aku belum siap," ujarku. Suaraku kecil, hampir hilang sama suara hujan di luar jendela.
Jujur, dadaku sesak. Semuanya kecepetan. Tiga hari lalu aku masih nangis di depan ICU karena tagihan 147 juta. Terus tiba-tiba nikah. Terus tiba-tiba jadi cucu menantu yang dirinduin 20 tahun. Terus tiba-tiba dia nanya mau jadi yang beneran apa enggak.
Aku belum siap. Ibu aja belum sadar bener.
Di bawah, Fadil diem sebentar. Aku denger dia narik napas.
Terus suaranya pelan banget, nggak maksa sama sekali.
"Yaudah pelan-pelan aja ya."
Aku masih ngadep tembok, tapi mataku berkaca-kaca lagi.
"Maaf ya Mas..."
"Ngapain minta maaf," dia jawab cepet. "Yang harusnya minta maaf itu aku. Aku yang maksa kamu tanda tangan kontrak malem-malem. Aku yang bawa kamu ke sini. Kamu syok itu wajar, Din."
Futonnya bunyi. Dia geser agak menjauh. Sengaja ngasih jarak lebih jauh dari kasurku.
"Kita tetep kayak kemarin aja. Kontrak jalan. Kamu di kasur, aku di bawah. Besok ketemu Kakek kita akting lagi. Sampai kamu siap, sampai Ibu kamu sembuh, sampai kamu beneran mau... kita pelan-pelan aja. Nggak ada yang maksa."
Aku gigit bibir. Nahan nangis.
"Mas nggak marah?"
"Enggak. Sama sekali enggak."
Hujan di luar makin deres. Lampu tidur oren itu masih nyala.
Aku pelan-pelan balik badan lagi. Ngintip ke bawah.
Fadil udah rebahan lagi, selimutan, ngadep ke langit-langit. Bukan ngadep aku. Ngasih aku ruang.
"Mas..."
"Hm?"
"Makasih ya."
Dia senyum, matanya masih natap atas.
"Sama-sama, istri kontrak."
Kata istri kontrak itu sekarang kedengerannya nggak nyakitin lagi. Malah... lucu.
Malam itu kita tidur dengan jarak satu meter lagi. Nggak ada yang ngobrol. Tapi untuk pertama kalinya, aku tidur nggak ngadep tembok. Aku ngadep ke bawah, ke futonnya.
Dan dia, walaupun bilang ngasih jarak, tangannya keluar dari selimut, ngejaga jarak futonnya biar nggak geser deket ke kasurku. Kayak satpam.
Pelan-pelan aja. Katanya gitu.
PART 10 - Kepleset
Gara-gara ngomongin yang beneran tadi, aku jadi grogi sendiri.
Aku mau ngambil air putih di meja, biar nggak awkward. Buru-buru turun dari kasur, kaki masih selimutan.
Lantai apartemennya abis di pel Fadil sore tadi. Licin.
"Eh—"
Kepleset.
Beneran kepleset. Kakiku selip.
Dan jatuhnya...
Persis di pangkuan Fadil yang lagi duduk di futonnya.
BRUK.
" Aduh!"
Fadil kaget banget, langsung nahan bahuku biar aku nggak kebentur lantai. Tangannya cuma di bahu, nggak kemana-mana.
Aku... aku udah di pangkuannya. Posisi duduknya dia, aku jatuh duduk nyamping persis di atas futonnya.
Baju tidurku yang oversize itu ketarik ke atas dikit gara-gara jatuh. Aku langsung panik, cepet-cepet benerin bawahannya, narik ke bawah.
"Maaf mas lantainya licin banget," ujarku senyum kecut. Mukaku pasti merah kayak tomat. Malu pengen ngilang.
Fadil diem. Kaku. Kayak patung. Tangannya yang tadi nahan bahuku langsung dilepas, ditaruh di belakang, nempel tembok. Sengaja ngasih jarak.
"Kamu... kamu gak apa-apa? Keseleo enggak?" suaranya agak serak, tapi nadanya khawatir beneran, bukan yang lain.
"Gak apa-apa, gak apa-apa," aku langsung berdiri, buru-buru. Lututku agak perih. "Maaf ya mas, aku grogi jadi buru-buru."
Aku balik ke kasur, duduk di pinggirnya, nunduk terus benerin rambut yang berantakan.
Hening lagi. Tapi kali ini heningnya awkward pol.
Fadil batuk kecil.
"Din..."
"Hm?"
"Kamu kalau mau turun dari kasur pelan-pelan aja ya, kayak yang tadi aku bilang. Pelan-pelan aja. Nggak usah buru-buru."
Aku ngangguk cepet. Masih nunduk.
"Iya... pelan-pelan..."
Dia narik selimutnya lagi, terus balik ngadep tembok sebelah sana. Ngasih aku waktu buat tenang.
Padahal jantungku di atas kasur ini udah jedag-jedug nggak karuan. Bukan karena jatuh.
Karena pas aku jatuh tadi, aku ngerasa... aman. Nggak sakit. Karena ditahan.
PART 11 - Gantian
Paginya jam 6.30.
Aku bangun kesiangan. Semalem habis kepleset itu aku langsung pura-pura tidur.
Aku buru-buru mandi, masih ngantuk. Keluar kamar mandi cuma pakai tanktop putih sama celana pendek tidur. Gardigan / outer yang biasa aku pakai buat di rumah ketinggalan di koper, belum aku keluarin.
Aku baru inget pas udah di depan cermin kecil.
Di dapur, Fadil udah rapi. Kemeja biru muda, udah bikin dua gelas susu. Dia noleh...
"Din-"
Aku langsung panik.
"AH!"
Aku ambil handuk kecil yang ada di kursi, langsung lari nutupin matanya dari belakang. Tanganku nutupin mata dia.
Fadil kaget, diem.
"Aduhh, maaf ya mas, maaf," ujarku ketawa kecil, grogi setengah mati. "Aku lupa pakai luarannya, bentar bentar jangan liat dulu."
Handuk kecil itu nutupin mata dia. Aku bisa ngerasain bulu matanya kedip-kedip kena telapak tanganku.
Fadil malah santai banget. Nggak berontak. Tangannya masih pegang gelas susu.
"Din, kalau tiap hari kayak gini terus-"
Aku langsung panik lagi. Langsung pindahin tangan dari matanya ke mulutnya. Aku tutup mulutnya.
"Hussssh jangan diterusin mas, malu," bisikku pelan. Wajahku udah panas banget.
Hening 2 detik. Cuma kedengeran napas kita.
Terus Fadil... malah notice.
Dia notice tanganku dingin banget. Gemeteran.
Dia pelan-pelan lepasin tanganku dari mulutnya, tapi nggak buka handuk yang nutupin matanya.
"Tangan kamu dingin banget, Din. Kamu kedinginan ya?"
Aku diem. Iya, AC apartemen mini ini emang dingin banget paginya.
Tanpa buka handuk di matanya, dia raba pelan, ngambil gardigan sage green yang kemarin aku pakai, yang ada di sofa.
"Pakai ini dulu," katanya, nyodorin ke belakang, masih merem ketutup handuk. Nggak liat sama sekali. "Jangan masuk angin. Nanti siapa yang pura-pura jadi istri saya depan Kakek?"
Aku langsung ambil gardigannya, pakai cepet-cepet.
"Udah... udah mas, udah pakai," kataku pelan.
Baru dia lepas handuk kecil itu dari matanya. Matanya ngedip-ngedip, terus senyum.
"Udah cantik lagi," katanya enteng, terus nyodorin susu. "Minum dulu. Hari ini jadwalnya padat. Jenguk Ibu kamu, terus jenguk Kakek yang mau operasi sore."
Aku ambil susunya, masih nunduk. Malu, tapi... aman. Dia beneran nggak ngintip sama sekali.
"Mas Fadil..."
"Hm?"
"Makasih ya, udah... nggak ngintip."
Fadil ketawa kecil, balik ke kompor.
PART 12 - Usilnya Kumat
Aku masih pakai gardigan, masih malu, masih nunduk minum susu.
Fadil di depan kompor malah senyumnya usil. Senyum dokter dinginnya hilang, ganti senyum jail.
"Makasi apanya," katanya pelan, nadanya digodain. "Tadi liat sedi-"
Belum selesai ngomongnya!
Aku langsung panik, maju lagi, tutup mulutnya pakai tangan lagi.
"Mas!"
Handuk kecil yang tadi udah aku lepas, sekarang balik lagi nutupin mulutnya. Aku geleng-geleng kepala cepet.
"Jangan, jangan dilanjutin. Nggak lucu tau!"
Matanya Fadil ketawa. Di balik tanganku yang nutupin mulutnya, dia masih usil.
Dia lepasin pelan tanganku, tapi masih senyum.
"Ya udah ya udah, nggak jadi. Tadi liat sedikit..."
"MAS!"
"...sedikit gardigan kamu yang jatuh di lantai. Makanya aku ambilin," dia lanjutin, ketawanya pecah.
Aku bengong. Terus sadar aku dikerjain.
"Mas Fadil!"
Aku mukul pelan bahunya pakai handuk kecil itu. Dia ketawa makin kenceng, ngeles ke samping.
"Habis kamu ekspresinya lucu banget kalau panik. Kayak kemarin kepleset itu loh."
Aku geleng-geleng terus, tapi akhirnya ketawa kecil juga. Kesel, tapi lega. Ternyata dia nggak liat apa-apa dari tadi. Dia beneran merem terus pas aku suruh jangan liat.
"Udah ah, Mas usil banget pagi-pagi. Aku mau siap-siap ke RS. Ibu udah sadar katanya suster."
Fadil langsung stop ketawanya. Wajahnya balik serius, tapi lembut.
"Iya. Aku anter. Baju Ibu yang kemarin udah aku laundry-in, ada di tas. Nanti kamu ganti di RS."
Dia ngambil kunci mobil sama jas dokternya.
"Din."
"Apa lagi Mas? Mau ngledek lagi?"
"Enggak," dia jalan ke pintu, bukain pintu buat aku. "Tadi... maaf ya kalau godainnya kelewatan. Aku cuma pengen kamu nggak tegang terus. Dari kemarin tegang mulu."
Aku liat dia. Untuk dokter yang katanya paling dingin se-RS, dia ternyata hafal banget kapan aku tegang.
Aku angguk pelan, senyum kecutnya hilang, ganti senyum beneran.
"Iya, nggak apa. Tapi jangan sering-sering digodain gitu. Jantung aku masih kagetan."
"Siap, Nyonya," katanya, ngebungkuk dikit kayak butler.
"Mas!"
Dan pagi itu kita berangkat ke RS bareng. Masih canggung, masih kontrak, tapi godaan-godaan kecil kayak tadi bikin apartemen mini lantai 12 itu nggak sesepi kemarin.
PART 13 - Ibu Sadar
Ruang rawat Ibu di lantai 3 itu terang.
Pas aku buka pintu, Ibu udah duduk. Selangnya udah banyak yang dilepas. Wajahnya masih pucat, tapi matanya udah melek.
"Bu..."
Aku langsung lari, peluk Ibu pelan-pelan. Takut masih sakit bekas operasinya.
"Bu, Ibu udah sadar? Pusing enggak? Sakit enggak?"
Ibu malah diem. Matanya bukan liat aku. Matanya liat ke belakang aku.
Ke Fadil yang berdiri di pintu, masih gandeng tas aku, masih pakai jas dokternya. Tangan kami tadi gandengan di lift karena aku grogi, belum sempat dilepas.
Ibu natap Fadil lama banget. Terus matanya berkaca-kaca.
"Fadil...?" suaranya serak, habis bius.
Fadil kaget. "Iya Tante? Tante kenal saya?"
Ibu angguk pelan, air matanya netes.
"Anaknya Lastri... ya Allah... mirip banget... mirip ibumu pas muda..."
Aku bengong. Ibu kenal Nenek Lastri juga?
Fadil langsung maju, salim pelan ke Ibu. Sopan banget.
"Iya Tante, saya cucunya Lastri. Fadil Wijaya."
Ibu nangis. Beneran nangis. Tangannya yang masih infus itu megang tangan aku sama tangan Fadil jadi satu, kayak Kakek kemarin.
"Lastri... anak kita akhirnya ketemu ya..."
Aku sama Fadil saling liat. Jantungku deg-degan lagi.
"Bu, Ibu maksudnya apa?" bisikku.
Ibu usap air matanya, senyum ke aku. Senyum lega pertama setelah 3 hari di ICU.
"Dulu waktu Ibu masih gadis, Ibu janji sama Tante Lastri. Kalau Ibu punya anak cewek, anaknya Lastri punya anak cowok, kita jodohin. Ibu kira janji itu hilang karena desa kita kebanjiran, alamat Lastri hilang..."
Ibu liat cincin di jariku. Cincin polos yang dipasang Fadil di apartemen mini itu.
"Ternyata Allah pertemuin kalian dengan cara begini ya, Nak... di depan ruang ICU..."
Aku nggak bisa nahan tangis lagi. Jadi selama ini Ibu juga nunggu?
Fadil yang di samping aku, yang biasanya paling bisa ngomong, sekarang diem. Matanya merah. Dia jongkok biar sejajar sama ranjang Ibu.
"Tante, maaf ya saya pakai cara yang salah. Saya pakai kontrak buat nikahin Dinda. Saya panik..."
Ibu malah ketawa kecil, sambil batuk pelan.
"Kontrak? Kontrak apaan? Wong jodoh kok dikontrak-kontrak. Mulai hari ini nggak ada kontrak-kontrakan lagi, ya?"
Aku sama Fadil bengong.
Ibu genggam tangan kami makin erat.
"Kalian pelan-pelan aja. Ibu nggak minta cepet. Ibu cuma minta kalian jangan pisah lagi kayak Ibu sama Lastri dulu."
Di luar jendela ruang rawat, matahari Malang pagi itu terang banget.
Dan untuk pertama kalinya, gandengan tangan aku sama Fadil itu bukan gandengan pura-pura buat Kakek. Bukan gandengan panik di lift.
Ini gandengan yang direstuin Ibu.
PART 14 - Ruang Operasi Lantai 7
Jam 3 sore.
Lantai 7 sepi banget. Lampu operasi di depan kamar 705 udah nyala merah. OPERASI BERLANGSUNG.
Kakek udah masuk dari setengah jam lalu.
Di koridor, Fadil duduk di lantai. Persis kayak aku 3 hari lalu waktu nungguin Ibu.
Jas dokternya udah dilepas. Kemejanya lecek. Tangannya... tangannya gemeteran. Dari tadi diremas-remas tapi tetep gemeter.
Aku duduk di sebelahnya. Pelan.
"Mas..."
Fadil nggak jawab. Matanya natap lampu merah itu terus.
"Mas harusnya masuk kan? Kan Mas dokternya?"
Dia geleng. Suaranya serak.
"Nggak boleh. Aturannya dokter nggak boleh operasi keluarga sendiri. Tanganku... tanganku gemeter dari tadi pagi, Din. Aku nggak bisa pegang pisau. Aku takut."
Untuk pertama kalinya, aku liat Dokter Fadil Wijaya yang katanya paling dingin, paling pinter se-RS, nangis. Nggak bersuara. Air matanya netes aja.
"Kalau Kakek kenapa-napa gimana? Aku cuma punya dia, Din... cuma dia..."
Aku panik. Aku nggak pernah liat dia sehancur ini.
Tanpa mikir, aku geser duduk, genggam tangannya yang gemeteran itu pakai dua tanganku. Tanganku kecil, tangannya gede, dingin.
"Mas liat aku."
Dia noleh, mata merah.
"Napas sama aku ya. Pelan-pelan aja, kayak kemarin malem. Tarik... buang... tarik... buang..."
Aku ajarin kayak yang dia ajarin aku waktu aku nggak bisa tidur.
Tangan aku yang satu genggam tangannya, yang satu lagi usap punggungnya pelan. Kayak Ibu usap aku waktu kecil.
"Kakek itu kuat, Mas. Tadi pagi aja masih sempet godain aku katanya cucunya cantik. Orang sekuat itu nggak akan pergi cuma gara-gara ring satu. Dia janji mau liat cicitnya, inget?"
Fadil ketawa kecil di tengah nangisnya. Napasnya mulai teratur lagi. Gemeternya pelan-pelan berkurang.
"Din..."
"Hm?"
"Jangan lepas ya. Sampai lampunya ijo."
Aku angguk. "Nggak bakal lepas."
Dan kita duduk gitu. Di lantai koridor lantai 7 yang dingin. Aku pakai dress sage green, dia pakai kemeja lecek. Tangan gandengan, nungguin lampu merah itu mati.
Ibu yang udah agak baikan, duduk di kursi roda agak jauh, liatin kita sambil senyum. Nggak ngomong apa-apa. Kayak ngerti, ini bukan lagi akting kontrak.
Jam 5.17 sore, lampu merah itu mati.
Jadi ijo.
Pintu ruang operasi kebuka. Dokter senior keluar, lepas masker.
"Operasinya berhasil. Ringnya udah kepasang. Kakek kuat banget."
Fadil langsung berdiri. Lututnya lemes. Kalau nggak aku tahan, dia udah jatuh.
Dia peluk aku. Erat banget. Di depan dokter, di depan Ibu, di depan suster-suster yang lewat.
Bukan pelukan kontrak. Bukan pelukan pura-pura.
Pelukan orang yang baru aja diselamatin dunianya.
PART 15 - Futon Yang Nggak Digelar
Jam 9 malam kita baru balik ke apartemen mini lantai 12.
Capek banget. Seharian di RS. Dari ruang rawat Ibu ke ruang rawat Kakek yang masih bius.
Fadil buka pintu, nyalain lampu. Apartemennya masih berantakan kayak pagi tadi. Gardigan aku masih di sofa. Dua gelas susu pagi tadi belum dicuci.
Biasanya, hal pertama yang dilakuin Fadil abis masuk apartemen itu buka lemari, ngeluarin futon tipis itu, digelar di bawah.
Malam ini enggak.
Dia cuma taruh kunci di meja, lepas jam tangan, terus duduk di pinggir kasur. Diam. Mukanya capek banget, tapi lega.
Aku berdiri di depan pintu, masih gendong tas.
"Mas... futonnya?"
Fadil noleh ke aku. Senyumnya capek.
"Malam ini boleh enggak usah digelarin, Din?"
Aku langsung genggam tali tas ku kenceng. Jantungku jedag-jedug lagi.
"Mas... aku kan kemarin bilang..."
"Iya, aku inget," dia potong pelan. "Kamu bilang belum siap kalau yang beneran. Aku inget banget. Dan aku masih pegang omongan itu."
Dia tepuk kasur di sebelahnya. Jaraknya jauh. Masih ada guling gede di tengah.
"Aku cuma... abis hari ini, tanganku masih gemeteran, Din. Tadi di koridor kalau enggak ada kamu, aku udah jatuh. Malam ini aku cuma pengen enggak tidur sendirian di bawah. Boleh enggak kita tidur di kasur yang sama, tapi pakai guling ini? Aku enggak ngapa-ngapain. Janji. Pasal 7 masih jalan."
Matanya jujur banget. Nggak ada usilnya kayak pagi tadi. Cuma capek dan... butuh ditemenin.
Aku liat kasur queen itu. Guling gede di tengahnya. Futon yang biasanya jadi pembatas 1 meter, malam ini enggak ada. Tapi guling itu jadi temboknya.
Pelan-pelan, aku taruh tas ku. Aku naik ke kasur, di sisi kiri. Masih pakai baju lengkap. Gardigan masih aku pakai.
Fadil naik di sisi kanan. Jauh. Guling di tengah.
Lampu dimatiin. Lampu tidur oren itu lagi yang nyala.
Kita berdua rebahan, ngadep langit-langit. Nggak ngadep satu sama lain.
Hening.
Terus Fadil bisik.
"Din, makasih ya tadi di lantai 7."
Aku bisik balik. "Sama-sama, Mas."
"Besok Kakek sama Ibu udah boleh se ruangan. Katanya biar bisa ngobrolin masa lalu."
Aku ketawa kecil. "Terus kita disuruh dengerin cerita zaman perang lagi?"
"Iya. Kayaknya 5 jam."
Kita ketawa bareng. Pelan. Capek.
Lama-lama napas Fadil teratur lagi. Mau tidur.
Sebelum beneran merem, aku ngerasain ujung guling di tengah itu ketarik dikit. Bukan Fadil yang narik. Aku.
Aku geser gulingnya 2 senti ke arah dia. Jadi jaraknya nggak sejauh tadi.
Fadil notice. Dia nggak ngomong apa-apa. Cuma senyum di dalam gelap.
Malam itu, untuk pertama kalinya di apartemen mini ini, futonnya tetep dilipet rapi di lemari. Nggak kepake.
PART 16 - Gulingnya Jatuh
Jam 6 pagi.
Matahari Malang masuk dari jendela apartemen lantai 12. Terang banget.
Aku kebangun karena kedinginan. Selimutku melorot.
Aku mau narik selimut, tapi... kok berat?
Aku buka mata pelan.
Guling gede yang semalam jadi tembok Berlin di tengah kasur itu...
Udah di bawah. Jatuh di lantai. Rebahan sendirian di deket futon yang nggak digelar itu.
Terus aku di mana?
Aku ngadep samping. Hidungku hampir nempel kaos hitam Fadil.
Aku tidur miring, kepala aku di bantal dia. Tangan aku... megang ujung kaosnya. Dikit. Kayak anak kecil takut jatuh.
Fadil masih tidur. Napasnya teratur. Satu tangannya ada di atas kepala, satu tangannya... di pinggir kasur, nahan biar aku nggak jatuh ke bawah. Kayak satpam lagi.
Kita nggak pelukan. Nggak yang aneh-aneh. Tapi jarak 1 meter semalam sekarang jadi 10 senti. Gara-gara gulingnya jatuh.
Aku panik. Mau bangun pelan-pelan biar nggak bangunin dia.
Aku tarik tanganku pelan dari kaosnya.
Baru narik 2 senti, matanya kebuka.
Kita tatapan. Jarak 10 senti. Pagi-pagi. Rambut berantakan dua-duanya.
"Din..."
"Mas..."
Kita sama-sama diem 3 detik.
Terus aku langsung duduk, narik selimut nutupin muka.
"Gulingnya jatuh!" kataku kenceng, nadanya panik. "Aku nggak sengaja! Sumpah aku tidur ngadep tembok tadi!"
Fadil juga langsung duduk, garuk kepala. Kupingnya merah lagi.
"Iya, aku tau. Aku juga ngadep atas tadi. Mungkin kegeser pas mimpi."
Dia liat guling yang tergeletak di bawah itu, terus liat aku yang masih nutupin muka pakai selimut.
Dia nggak ngledek kayak kemarin. Nggak usil.
Dia cuma ambil guling itu dari bawah, taruh lagi di kasur, tapi kali ini di pinggir, nggak di tengah.
"Maaf ya, harusnya aku benerin gulingnya biar nggak jatuh," katanya pelan.
"Enggak, aku juga... maaf ya Mas, jadi... deket..."
"Enggak apa," dia senyum, masih ngantuk. "Nggak ngapa-ngapain kok. Malah... anget. Semalam AC nya dingin banget."
Aku ngintip dari balik selimut. Mukaku pasti merah.
Tiba-tiba HP Fadil bunyi keras.
VIDEO CALL - KAKEK & TANTE RATNA
Aku sama Fadil langsung panik liat-liaan. Rambut berantakan, satu kasur, guling di bawah, selimut berantakan.
Fadil pencet jawab dengan tangan gemeteran.
Di layar, Ibu sama Kakek udah duduk se ruangan, pakai kursi roda sebelahan. Senyum lebar.
Kakek langsung ngomong duluan,
"Nah, tuh kan bener kata saya, kalau gulingnya disingkirin pasti cepet punya cicit!"
Aku sama Fadil...
Freeze.
PART 17 - Sarapan Berempat
Jam 8 pagi, ruang rawat 705.
Untuk pertama kalinya, ranjang Ibu didorong masuk ke kamar Kakek. Jadi satu ruangan. Susternya sampai geleng-geleng, "Baru kali ini pasien minta sekamar gara-gara mau ngerumpi."
Di tengah ruangan ada meja kecil. Di atasnya ada 4 kotak nasi kuning, 4 gelas teh anget, sama kerupuk.
Aku duduk sebelah Ibu. Fadil duduk sebelah Kakek. Kita hadap-hadapan. Kayak sarapan keluarga beneran.
Kakek yang masih pakai selang oksigen, semangat banget makan.
"Dulu, Tante Lastri kalau bikin nasi kuning pasti kerupuknya 2," kata Ibu sambil ketawa, nyuapin Kakek dikit. "Katanya biar rame."
"Inget aja kamu, Rat," Kakek ketawa, batuk kecil. "Lastri dulu ngomel mulu kalau kamu datang ke rumah cuma buat minta kerupuk."
Aku sama Fadil cuma bisa liat-liatan. Kita nggak ngerti cerita zaman dulu, tapi liat Ibu sama Kakek ketawa bareng kayak gitu... rasanya hangat.
Fadil di bawah meja, pelan-pelan geser tangannya, genggam tanganku. Nggak erat, cuma sentuh ujung jari. Kayak minta tolong, "tolong aku nggak ngerti cerita kerupuknya".
Aku balas genggam. Dikit.
Ibu liat. Kakek liat. Mereka senyum-senyuman.
"Din," Ibu manggil.
"Iya Bu?"
"Cincinnya jangan dilepas lagi ya," Ibu nunjuk cincin polos di jariku. "Tadi malam Ibu mimpiin Lastri. Dia bilang cincinnya pas. Jangan dikontrak-kontrak lagi."
Aku langsung nunduk, malu. Fadil yang di depan aku malah keselek nasi kuning.
Kakek nimbrung, "Nah itu. Kontraknya mana? Sini Kakek sobek. Kemarin Fadil bilang 6 bulan. Kakek nggak setuju. Minimal 60 tahun."
Fadil batuk, "Kek..."
"60 tahun itu baru cicitnya 2, cicitnya 3 belum," Kakek lanjut, ngitung pakai kerupuk. "Nasi kuningnya aja 4, orangnya harus 6 dong nanti."
Aku yang lagi minum teh langsung keselek juga.
"KEK!"
"Bu!"
Kita teriak bareng. Ibu sama Kakek malah ketawa ngakak bareng. Sampai suster masuk nanyain ada apa berisik-berisik.
Di tengah berisiknya sarapan itu, Fadil bisik pelan cuma buat aku denger.
"Din, pelan-pelan yang 60 tahun itu ya?"
Aku ngelirik dia, mukanya masih merah habis keselek, tapi matanya... matanya nggak bercanda lagi.
Aku angguk pelan, senyum. Kali ini bukan senyum kecut.
"Iya Mas, pelan-pelan aja. Tapi sarapannya jangan pelan-pelan, keburu dingin."
Dan pagi itu, di ruang rawat yang bau antiseptik, untuk pertama kalinya aku ngerasa...
Aku pulang. Beneran pulang.
PART 18 - Petir Jam 10 Malam
Sore tadi kontraknya beneran di sobek Kakek. Di depan kita berempat. Kertas map coklat itu dirobek jadi 4 bagian, terus dibuang ke tempat sampah ruang rawat.
Kata Kakek, "Udah, sekarang nggak ada pasal-pasal lagi. Adanya pasal sayang-sayangan."
Aku sama Fadil cuma bisa melongo.
Jam 10 malam kita balik ke apartemen mini lantai 12.
Capek, tapi lega. Aku langsung mandi. Keramas. Pakai baju tidur paling wangi yang aku punya. Gardigan sage green lagi. Rambut masih basah dikit.
Fadil juga abis mandi, pakai kaos item lagi. Lagi duduk di sofa kecil itu, main HP, nungguin aku selesai.
Aku jalan ke dapur mini, mau ambil air minum. Lantai udah nggak licin lagi, aku jalan pelan-pelan kayak yang diajarin dia.
Baru buka kulkas...
JEDER!!!
Petir kenceng banget. Padahal di luar nggak hujan. Langit Malang tiba-tiba putih semua.
"AH!"
Aku kaget setengah mati. Gelas di tanganku hampir jatuh.
Reflek, aku langsung loncat ke depan. Dan di depan itu ada Fadil yang juga kaget berdiri.
Aku... pelukan. Beneran pelukan. Muka aku nempel di dadanya. Tanganku megang kaosnya erat.
Fadil juga kaget, tangannya otomatis nahan punggung aku biar nggak jatuh. Kita berdua diem 2 detik. Kaku.
Suara petirnya masih dengung di kaca jendela.
Terus kita saling liat. Wajahnya deket banget.
Dan... ngakak bareng.
"Ya Allah kaget banget," aku ketawa, masih meluk, belum lepas. Napas masih ngos-ngosan.
Fadil ketawa juga, lega. "Aku juga. Kirain apa. Ternyata kamu yang kesamber petir."
"Mas! Aku yang kaget malah diketawain!"
"Habis kamu larinya ke aku, bukan ke pintu keluar. Berarti kalau ada petir larinya ke suami ya?"
Aku langsung lepas pelukannya, mukul pelan dadanya.
"Suami kontrak!"
"Kontraknya kan udah di sobek Kakek tadi sore," dia bisik, masih senyum. Tangannya masih di punggung aku, belum dilepas total. Nggak maksa, cuma nahan.
Hujan akhirnya turun. Deres banget. Suara petirnya masih ada, tapi jauh.
Kita masih berdiri di tengah dapur mini itu. Pelukannya udah lepas, tapi tangannya masih gandengan.
"Din..."
"Hm?"
"Kalau nanti petir lagi, larinya ke sini lagi aja ya. Nggak apa."
Aku angguk pelan. Malu, tapi kali ini nggak buang muka.PART 19 - Mati Lampu
Abis pelukan gara-gara petir itu, hujan beneran turun. Deres banget. Anginnya kenceng, jendela apartemen mini ini geter-geter.
Aku masih gandengan tangan sama Fadil di dapur, belum sempet balik ke kasur.
Tiba-tiba...
CTEK.
Gelap.
Listrik mati. AC mati. Kulkas mati. Lampu tidur oren itu mati.
"Ah, mati lampu," kataku pelan.
Fadil langsung sigap, "Tunggu, aku ambil lilin."
Dia jalan meraba-raba ke laci dapur. Untung ada satu lilin kecil sisa tahun baru kemarin. Dia nyalain. Cahayanya kecil, oren, goyang-goyang kena angin dari jendela.
Apartemen mini ini jadi remang-remang. Cuma ada cahaya lilin di meja tengah.
Kita duduk berdua di pinggir kasur, ngadepin lilin itu. Hujan masih deres di luar.
Suasananya... jadi kayak di film. Hening. Cuma suara hujan sama lilin.
Aku baru mau ngomong, "Mas, jadi inget waktu kecil mati lampu di desa-"
TING TING TING TING TING!!!
HP ku yang di meja bunyi. Kenceng banget. Alarmnya. Aku setel jam 10.30 buat minum obat Ibu, aku lupa matiin.
Suaranya tuh alarm yang nging nging nging kenceng, bikin kaget.
Dan giliran Fadil yang kaget.
"WOAH!"
Dokter paling tenang se-RS itu langsung loncat dari kasur. Kakinya kesandung guling yang jatuh tadi pagi. Hampir kepleset lagi.
Dia langsung refleks peluk bantal guling yang ada di kasur, dipeluk erat kayak tameng.
Aku yang tadinya mau kaget gara-gara alarm, malah ngakak liat dia.
"MAS!"
Fadil masih meluk guling, napas ngos-ngosan. Mukanya kaget beneran.
"Apaan itu?! Kirain alarm kebakaran!"
Aku ngakak sambil matiin HP ku cepet-cepet.
"Alarm obat Ibu! Maaf mas, lupa aku matiin! Mukanya mas lucu banget!"
Dia masih meluk guling, terus sadar dia lagi meluk guling kayak aku kemarin. Dia langsung lepas gulingnya, malu.
"Din, jangan ketawa. Jantung mas masih kaget abis petir tadi."
Aku masih ketawa, perutku sakit. "Gantian ya Mas, tadi aku yang pelukan gara-gara petir, sekarang Mas yang pelukan guling gara-gara alarm aku."
Lilin di meja goyang-goyang. Cahayanya kena muka Fadil yang masih merah, masih meluk guling setengah.
Dia liat aku ketawa, akhirnya dia ikut ketawa juga. Pelan.
"Ya udah, impas," katanya. "Sekarang kita sama-sama pernah malu-maluin gara-gara kaget."
Hujan masih deres. Listrik belum nyala. Cuma ada kita berdua, satu lilin, satu guling yang jadi korban pelukan, sama HP ku yang masih geter pelan.
PART 20 - Lilinnya Mau Habis
Lilin kecil di meja itu udah pendek banget.
Tadi apinya gede, sekarang tinggal seujung kuku. Go yang-goyang kena angin dari jendela yang masih bocor hujan.
Apartemen mini ini makin gelap. AC mati, jadi agak gerah. Tapi hujan di luar bikin adem.
Aku sama Fadil masih duduk di pinggir kasur, ngadepin lilin itu. Guling yang tadi jatuh udah kita taruh lagi di tengah, tapi nggak setinggi tadi. Cuma simbolis.
Lilinnya pletik pletik mau mati.
Fadil liat lilin itu, terus liat aku.
"Din..."
"Hm?"
"Kalau lilinnya mati, boleh nggak aku tetep di sini, di sebelah kamu?"
Suaranya pelan banget. Nggak usil kayak tadi pagi. Nggak godain. Serius.
Aku liat lilin itu. Tinggal dikit banget. Kalau mati, gelap total. Cuma suara hujan.
Aku deg-degan lagi. Tapi bukan deg-degan takut. Deg-degan yang... anget.
Aku angguk pelan.
"Boleh Mas... tapi jangan jauh-jauh ya gulingnya. Tetep di tengah."
Fadil senyum. Senyum lega.
"Oke. Gulingnya tetep jadi satpam."
Pletik.
Lilinnya mati.
Gelap total. Cuma cahaya petir sesekali dari jendela yang bikin ruangan kedip putih sebentar.
Aku nggak liat muka Fadil lagi. Cuma denger napasnya di sebelah. Deket.
"Din, kamu takut gelap ya?" bisiknya.
"Dikit," bisikku balik. "Dulu di desa kalau mati lampu gini, aku tidur sama Ibu."
"Hm, sekarang sama aku aja ya. Pelan-pelan aja."
Tangannya di atas kasur, di atas guling, nyari tanganku. Nggak langsung genggam. Cuma sentuh ujung jarinya dulu. Nanya, boleh nggak.
Aku bales. Aku geser jari aku, genggam balik. Pelan.
Kita gandengan tangan di atas guling, di dalam gelap, di tengah hujan deres, listrik mati.
Nggak ada yang ngomong lagi. Cuma gandengan tangan.
Lama-lama napas Fadil teratur lagi. Ketiduran. Tangannya masih genggam tanganku.
Aku juga ngantuk. Untuk pertama kalinya sejak Ibu masuk ICU 5 hari lalu, aku tidur nggak mikirin tagihan, nggak mikirin kontrak, nggak mikirin guling jatuh.
Aku tidur sambil gandengan tangan.
Di apartemen mini lantai 12, mati lampu, hujan deres, tanpa futon, tanpa guling tinggi, tanpa pasal-pasal kontrak.
EPILOG - 3 Tahun Kemudian
Apartemen mini lantai 12 itu udah nggak mini lagi.
Sekarang ada dua box bayi di pojok. Ada stroller lipet di belakang pintu. Ada tumpukan baju kecil-kecil warna sage green sama biru muda di atas kasur queen yang dulu cuma ada guling.
Kontrak 6 bulan itu udah lama di sobek Kakek. Udah 3 tahun lalu.
Sekarang statusnya beneran. Bukan kontrak.
Pagi jam 6.30, aku kebangun bukan karena alarm obat lagi.
Tapi karena tangisan barengan.
Oek oek oek!
Dua suara. Kembar. Cowok cewek.
Fadil yang di sebelah aku langsung bangun duluan. Rambutnya masih berantakan, tapi tangannya udah hafal.
Yang cewek dulu, yang cowok dulu?
"Yang cewek dulu, Mas, yang cewek lapar," kataku ngantuk.
Fadil nggendong satu, aku nggendong satu. Kita duduk di pinggir kasur yang sama, yang dulu cuma ada guling jatuh.
Yang cewek aku kasih nama Lastri. Biar nama Nenek nggak hilang. Rambutnya tipis, matanya kayak Fadil.
Yang cowok namanya Raffa. Biar ada nama Ibu, Ratna, di dalamnya. Hidungnya kayak aku, mancung dikit.
Di luar, pintu diketuk.
Tok tok tok.
"Assalamualaikum, cucu-cucu Kakek bangun belum?"
Suara Kakek. Sama suara Ibu.
"Nenek Lastri sama Nenek Ratna bawa bubur!"
Fadil sama aku saling liat. Ketawa pelan. Masih pakai baju tidur, masih berantakan, masih gendong bayi kembar.
3 tahun lalu aku masuk apartemen ini cuma bawa koper sama map coklat isinya kontrak demi operasi Ibu.
Sekarang aku keluar dari kamar mandi wangi, nggak ada lagi yang perlu nutupin mata pakai handuk kecil. Nggak ada lagi futon di bawah. Nggak ada lagi guling yang jadi satpam.
Yang ada cuma Fadil yang bisik pelan sambil gendong Raffa,
"Din, kalau tiap hari kayak gini terus..."
Aku langsung tutup mulutnya pakai tangan, kayak dulu.
"Hussssh jangan diterusin Mas, anaknya denger!"
Fadil ketawa, terus lanjutin, pelan banget cuma buat aku denger,
"...Mas makin sayang sama kamu."
Dan kali ini, aku nggak geleng-geleng. Aku angguk.
TAMAT.