Sejak kecil, Ara sudah terbiasa hidup berpindah-pindah. Ketika anak-anak seusianya tumbuh dengan kamar sendiri, tidur di rumah yang sama setiap malam, dan menghabiskan waktu bersama keluarga, Ara justru tumbuh dengan kenangan tentang rumah-rumah yang berbeda.
Kadang ia tinggal bersama neneknya, kadang bersama bibinya, terkadang pula bersama saudara jauh yang bahkan tidak terlalu dikenalnya. Seiring bertambahnya usia, tempat tinggalnya pun semakin jauh, hingga suatu hari ia harus meninggalkan pulau tempat ia dilahirkan untuk tinggal bersama orang lain.
Anehnya, semua itu sudah menjadi hal biasa bagi Ara.
Ia tidak pernah benar-benar menganggap satu tempat sebagai rumahnya sendiri.
Bukan karena ia tidak memiliki orang tua. Ayah dan ibunya masih ada. Rumah mereka pun masih berdiri, dengan pintu, jendela, dan ruang keluarga yang seharusnya menjadi tempat Ara tumbuh. Namun, sejak kecil, Ara tidak pernah benar-benar merasakan kedekatan dengan keluarganya sendiri.
Ia tidak tahu kapan semuanya bermula. Yang ia ingat hanyalah bahwa sejak kecil, ia lebih sering mendengar kalimat, “Nanti Ara tinggal di rumah Tante dulu, ya,” daripada mendengar, “Ayo, kita pulang ke rumah.”
Awalnya, Ara tidak pernah mempertanyakan apa pun.
Ketika masih kecil, ia hanya mengikuti ke mana orang dewasa membawanya. Ia mengemasi beberapa potong pakaian ke dalam tas kecil, memeluk boneka kesayangannya, lalu pergi tanpa benar-benar memahami mengapa ia harus meninggalkan tempat yang baru saja mulai terasa nyaman.
Setiap kali seseorang menjemputnya, Ara akan bertanya dengan suara polosnya.
“Bu, Ara mau tinggal di sini sampai kapan?”
Ibunya biasanya menjawab singkat, “Sementara saja, Nak.”
Namun, sementara bagi Ara sering kali berarti berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun.
Ketika ia mulai menyukai halaman rumah bibinya, ia harus pindah. Ketika ia mulai akrab dengan teman-teman di sekitar rumah neneknya, ia kembali dibawa pergi. Dan ketika ia akhirnya merasa nyaman dengan sebuah keluarga yang memperlakukannya dengan baik, ia harus belajar mengucapkan selamat tinggal sekali lagi.
Lama-kelamaan, Ara berhenti bertanya.
Ia mulai memahami bahwa tidak semua tempat yang membuatnya bahagia bisa ia tinggali selamanya.
Saat memasuki usia remaja, Ara mulai menyadari sesuatu yang selama ini sulit ia jelaskan.
Ia merasa asing ketika berada di rumah orang tuanya sendiri.
Setiap kali pulang berkunjung, ia tidak tahu harus bersikap bagaimana. Ia canggung ketika duduk bersama ayahnya, kehabisan kata-kata saat berbicara dengan ibunya, dan merasa seperti tamu ketika berada di antara anggota keluarganya sendiri.
Pernah suatu sore, Ara duduk sendirian di teras rumah orang tuanya. Ia memperhatikan anak-anak tetangga yang tertawa bersama keluarga mereka. Ada seorang anak perempuan yang berlari menghampiri ibunya, lalu memeluknya erat sambil bercerita tentang kejadian di sekolah.
Ara memandangi mereka cukup lama.
Ia mencoba membayangkan bagaimana rasanya pulang ke rumah dan langsung mencari ibu untuk menceritakan hal-hal kecil yang terjadi sepanjang hari.
Menceritakan bahwa ia mendapat nilai bagus.
Mengeluh karena temannya menyebalkan.
Atau sekadar bercerita bahwa hari itu ia merasa sedih tanpa alasan yang jelas.
Hal-hal sederhana yang mungkin dianggap biasa oleh orang lain justru terasa begitu jauh baginya.
“Ara, kenapa duduk sendirian?” tanya ibunya ketika keluar ke teras.
Ara menoleh. “Nggak apa-apa, Bu.”
“Kalau nggak ada kegiatan, masuk saja. Jangan melamun terus.”
“Iya, Bu.”
Ibunya kemudian kembali masuk ke rumah.
Percakapan itu hanya berlangsung beberapa detik, tetapi cukup untuk membuat Ara kembali menyadari betapa sedikitnya hal yang bisa ia bicarakan dengan ibunya sendiri.
Bukan berarti ia membenci keluarganya.
Ia hanya tidak tahu bagaimana caranya menjadi dekat dengan mereka.
Bagaimana mungkin seseorang merasa akrab dengan orang-orang yang seharusnya paling mengenalnya, sementara sebagian besar masa kecilnya justru dihabiskan jauh dari mereka?
Pertanyaan itu terus tumbuh dalam pikirannya, tetapi tidak pernah benar-benar ia sampaikan kepada siapa pun.
Waktu terus berjalan, dan kehidupan membawa Ara semakin jauh dari tempat kelahirannya.
Kali ini, ia harus tinggal di sebuah pulau yang berbeda.
Perjalanan itu menjadi salah satu pengalaman yang tidak pernah ia lupakan. Ia masih ingat suasana pelabuhan, suara orang-orang yang berlalu-lalang, dan angin laut yang menerpa wajahnya ketika ia berdiri sambil memegang tas.
Di hadapannya terbentang lautan luas.
Untuk pertama kalinya, Ara menyadari bahwa jarak antara dirinya dan keluarganya bukan lagi sekadar perjalanan beberapa jam. Ada laut yang memisahkan mereka, ada kota-kota yang tidak dikenalnya, dan ada kehidupan baru yang harus ia jalani bersama orang-orang yang belum tentu bisa membuatnya merasa nyaman.
Namun, seperti yang sudah-sudah, Ara berusaha menyesuaikan diri.
Ia belajar menghafal jalan menuju rumah barunya, mengenali lingkungan sekitar, dan memahami kebiasaan orang-orang yang tinggal bersamanya.
Ia selalu berusaha menjadi anak yang tidak merepotkan.
Tidak banyak meminta.
Tidak banyak mengeluh.
Dan sebisa mungkin, tidak menunjukkan kesedihan ketika harus pergi.
Sebab, tanpa disadarinya, Ara telah belajar menyimpan perasaannya sendiri sejak kecil.
Ia takut terlalu menyukai sebuah tempat, karena mungkin suatu hari ia harus meninggalkannya.
Ia takut terlalu dekat dengan seseorang, karena perpisahan selalu terasa seperti sesuatu yang menunggunya di depan mata.
Bahkan ketika seseorang bertanya, “Kamu betah tinggal di sini?”
Ara selalu tersenyum dan menjawab, “Betah, kok.”
Padahal, jauh di dalam hatinya, ia tidak pernah benar-benar tahu apa arti betah.
Baginya, bertahan di sebuah tempat bukan berarti merasa bahagia. Terkadang, bertahan hanyalah satu-satunya pilihan yang ia miliki.
Ada malam-malam ketika Ara merindukan sesuatu yang bahkan tidak pernah benar-benar ia miliki.
Ia merindukan rumah yang tidak mengharuskannya bersiap untuk pindah.
Ia merindukan seseorang yang akan mencarinya ketika ia pulang terlambat.
Ia merindukan percakapan sederhana di meja makan, suara anggota keluarga yang saling bercerita, dan perasaan bahwa keberadaannya memang ditunggu.
Kadang, ketika melihat teman-temannya mengeluh karena harus membantu pekerjaan rumah atau mendengar nasihat orang tua, Ara diam-diam merasa iri.
Bukan karena ia ingin memiliki masalah yang sama.
Ia hanya ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi bagian dari sebuah keluarga, bukan sekadar seseorang yang dititipkan dari satu rumah ke rumah lainnya.
Pada suatu malam, ketika sedang merapikan barang-barangnya, Ara menemukan sebuah foto lama. Foto itu memperlihatkan dirinya ketika masih kecil, berdiri di antara ayah dan ibunya.
Wajahnya tersenyum lebar.
Ia tidak ingat kapan foto itu diambil. Ia juga tidak ingat apa yang mereka bicarakan hari itu.
Yang ia tahu, anak kecil di dalam foto itu terlihat begitu bahagia.
Ara duduk di tepi tempat tidur sambil memandangi foto tersebut.
“Dulu aku sebahagia itu, ya?” gumamnya pelan.
Jarinya menyentuh permukaan foto yang mulai menguning.
Ia mencoba mengingat lebih banyak hal tentang masa kecilnya bersama orang tuanya. Namun, ingatannya justru dipenuhi potongan-potongan kejadian yang tidak utuh: sebuah perjalanan, sebuah tas kecil, rumah nenek, rumah bibi, dan wajah-wajah yang perlahan menjadi bagian dari masa lalu.
Air matanya jatuh tanpa ia sadari.
Bukan karena ia ingin menyalahkan siapa pun.
Ia hanya sedih memikirkan bahwa sebagian besar kenangan masa kecilnya bukan tentang tumbuh bersama keluarga, melainkan tentang belajar menyesuaikan diri di tempat-tempat baru.
“Aku sebenarnya punya rumah, kan?” bisiknya.
Pertanyaan itu menggantung di udara.
Tidak ada yang menjawab.
Malam itu, Ara menangis dalam diam. Ia menangisi dirinya yang kecil, yang dahulu selalu menurut ketika diminta pergi, yang tidak pernah cukup mengerti untuk bertanya mengapa ia tidak bisa tinggal bersama ayah dan ibunya, dan yang mungkin selama ini hanya ingin mendengar bahwa ia tidak perlu pergi ke mana-mana lagi.
Meski hidupnya tidak selalu mudah, Ara tumbuh menjadi seseorang yang mandiri.
Ia terbiasa mengurus dirinya sendiri, terbiasa menghadapi lingkungan baru, dan terbiasa memulai percakapan dengan orang-orang yang belum dikenalnya.
Ia tahu bagaimana cara bertahan di tempat asing.
Namun, ada satu hal yang belum pernah benar-benar ia pelajari: bagaimana caranya merasa aman tanpa takut kehilangan.
Terkadang, orang-orang menganggap Ara sebagai pribadi yang kuat.
Mereka melihatnya sebagai seseorang yang mudah beradaptasi, tidak manja, dan tidak banyak menuntut.
Mereka tidak tahu bahwa di balik sikap tenangnya, ada seorang anak yang terlalu sering belajar melepaskan sesuatu sebelum sempat benar-benar memilikinya.
Mereka tidak tahu bahwa Ara juga ingin dimanja sesekali.
Ingin didengarkan tanpa harus terlebih dahulu mengatakan bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja.
Ingin memiliki seseorang yang bisa ia datangi ketika dunia terasa terlalu melelahkan.
Dan lebih dari semuanya, Ara ingin berhenti merasa seperti orang asing dalam kehidupannya sendiri.
Suatu hari, seseorang pernah bertanya kepadanya, “Ara, sebenarnya kamu ingin tinggal di mana?”
Ara terdiam cukup lama.
Dulu, mungkin ia akan menjawab nama kota atau pulau tempat ia ingin menetap. Mungkin ia akan menyebut sebuah rumah kecil dengan halaman luas, kamar yang nyaman, dan jendela yang menghadap matahari pagi.
Namun, setelah melewati begitu banyak perpindahan, ia akhirnya memahami bahwa yang ia cari bukan sekadar tempat.
“Aku ingin tinggal di tempat yang membuatku merasa diterima,” jawabnya pelan.
Orang itu menatapnya, seolah menunggu penjelasan lebih lanjut.
Ara tersenyum tipis.
“Tempat yang kalau aku pulang, aku nggak perlu merasa seperti tamu. Tempat yang membuatku tahu kalau aku memang punya tempat di sana.”
Untuk pertama kalinya, Ara berani mengakui apa yang selama ini ia pendam.
Ia tidak membutuhkan rumah yang besar.
Ia tidak membutuhkan kehidupan yang sempurna.
Ia hanya ingin sebuah tempat yang membuatnya merasa bahwa kehadirannya berarti.
Kini, Ara masih menjalani kehidupannya, membawa kenangan dari setiap tempat yang pernah ia tinggali.
Ada rumah yang mengajarkannya tentang kesabaran.
Ada orang-orang yang memberinya kebaikan meski mereka bukan keluarganya sendiri.
Ada perpisahan yang membuatnya lebih berhati-hati dalam menyayangi seseorang.
Dan ada kesepian yang perlahan mengajarkannya untuk memahami dirinya sendiri.
Ara tidak tahu berapa kali lagi ia harus berpindah. Ia juga tidak tahu apakah suatu hari nanti hubungannya dengan keluarganya akan menjadi lebih dekat.
Namun, untuk pertama kalinya, ia mulai memahami bahwa masa kecilnya yang penuh perpindahan tidak harus menentukan seluruh masa depannya.
Ia boleh membangun kehidupan yang berbeda.
Ia boleh memilih untuk menetap.
Ia boleh belajar mempercayai seseorang tanpa terus-menerus mempersiapkan diri untuk ditinggalkan.
Dan yang terpenting, ia boleh mengakui bahwa dirinya juga pantas mendapatkan kasih sayang.
Sebab, meskipun sejak kecil Ara selalu tinggal di rumah orang lain, bukan berarti ia tidak layak memiliki rumahnya sendiri.
Rumah yang bukan hanya memiliki dinding dan atap, melainkan juga kehangatan, penerimaan, dan rasa aman.
Rumah tempat ia tidak perlu berpura-pura kuat.
Rumah tempat ia bisa menangis tanpa takut dianggap merepotkan.
Rumah tempat ia bisa pulang setelah hari yang panjang, lalu mendengar seseorang berkata, “Kamu sudah pulang, Ara. Istirahatlah. Kamu nggak perlu pergi ke mana-mana lagi.”
Mungkin rumah seperti itu belum ia temukan.
Mungkin perjalanan Ara masih panjang.
Namun, jauh di dalam hatinya, ia masih menyimpan harapan kecil bahwa suatu hari nanti ia akan menemukannya.
Atau mungkin, perlahan-lahan, ia akan membangunnya sendiri.
Bukan dengan batu bata, bukan dengan kayu, melainkan dengan keberanian untuk menerima dirinya sendiri dan kasih sayang yang selama ini begitu ia rindukan.
Karena pada akhirnya, Ara bukan hanya seorang anak yang selalu berpindah dari satu rumah ke rumah lainnya. Ia adalah seorang anak yang sejak kecil terus mencari tempat untuk merasa pulang.
Dan kali ini, ia ingin percaya bahwa pencariannya tidak akan berlangsung selamanya.