MENJADI AYAH DAN IBU
Awan membuka matanya perlahan. Dia menoleh ke sekeliling, tetapi pikirannya seketika teralihkan ketika mendengar suara berisik dari arah dapur.
Dia pun bangkit dan berjalan menuju ke sana.
Sesampainya di dapur, Awan melihat punggung seorang wanita yang sedang mencuci piring di wastafel. Wanita itu adalah Bulan, istrinya yang telah dinikahinya selama tujuh tahun.
Awan berjalan mendekat, lalu melingkarkan kedua tangannya di pinggang wanita itu.
Bulan menoleh dan tersenyum manis. Tanpa banyak bicara, mereka pun saling berciuman.
Namun, tiba-tiba—
PRANG!
Piring yang berada di tangan Awan terlepas dan membentur wastafel.
Dia tersentak. Kenangan indah bersama Bulan seketika buyar, menyadarkannya bahwa wanita itu sudah dua hari ini tidak pulang, sibuk dengan agenda sosialitanya.
Awan menggelengkan kepala, kemudian menarik napas panjang.
Dia kembali melanjutkan pekerjaannya. Piring-piring itu dibilas, dikeringkan, lalu ditumpuk di rak. Namun, sebelum selesai, terdengar suara siulan dari atas kompor.
Siuuuut...
Air di dalam ketel sudah mendidih.
Awan segera mematikan kompor, lalu menuangkan air panas ke dalam gelas yang sudah berisi kopi. Namun, belum sempat mengaduknya, terdengar suara tangisan dari kamar.
"Oeeee... oeeee..."
Awan terdiam sesaat sebelum akhirnya tersadar.
Astaga! Anaknya menangis!
Dia segera meninggalkan gelas kopinya dan bergegas menuju kamar.
Di sana, seorang bayi perempuan berusia dua bulan menangis kencang di atas tempat tidur, seolah memanggil-manggil dirinya. Awan memeriksa popoknya, tetapi ternyata masih kering. Botol susu yang sebelumnya berada di dekat bayi itu justru terjatuh di sampingnya.
Awan mengusap wajahnya sebentar, lalu mengambil botol tersebut dan kembali ke dapur.
Dia menuangkan air panas ke dalam botol, menambahkan air dingin, kemudian memasukkan susu formula. Setelah itu, dia mengocoknya beberapa kali.
Namun, air susu malah menyembur keluar dari bagian dot dan mengenai tangannya.
Awan terkejut.
"Astaga! Dotnya bocor!"
Dia segera mengambil botol susu baru yang masih tersegel dari atas lemari. Susu pun dipindahkannya ke botol tersebut.
Akan tetapi, saat kembali mengocoknya, air susu sekali lagi menyembur keluar.
Awan melotot menatap botol di tangannya.
"Ya ampun! Kenapa ini juga bocor?"
Sementara itu, tangisan bayinya semakin keras.
Dalam kepanikan, Awan menggendong anaknya dan berusaha menenangkannya. Pandangannya kemudian tertuju pada madu yang berada di atas kulkas.
Dia mengambil sedikit madu dengan ujung jarinya, lalu mengoleskannya ke bibir sang bayi.
Beberapa saat kemudian, bayi itu belum juga berhenti menangis. Lidah mungilnya justru tampak menjilat-jilat bibir yang terkena madu.
Awan kembali memandangi kedua botol susu tadi. Dia memeriksanya dengan lebih teliti, lalu mendadak menepuk dahinya sendiri.
"Ya ampun, gue lupa!"
Dia baru menyadari bahwa lubang kecil pada karet dot itu memang sengaja dibuat agar susu bisa keluar saat bayi mengisapnya. Bukan karena bocor seperti yang dia kira.
"Pantesan! Kalau nggak ada lubangnya, gimana anak gue mau minum susu?"
Awan hanya bisa menggelengkan kepala, menyesali kepanikannya sendiri.
Setelah menyiapkan susu dengan benar, dia memberikan botol itu kepada bayinya. Tangisan pun perlahan mereda hingga akhirnya si kecil tenang.
Awan mengembuskan napas lega. Dia kemudian meletakkan bayinya di kereta bayi, membelai pipinya, dan memandang wajah mungil itu selama beberapa saat.
Baru saja merasa lega, hidungnya tiba-tiba bergerak-gerak.
Ada aroma hangus yang tercium dari arah dapur.
Mata Awan membelalak.
"MASAKAN GUE!"
Dia baru ingat bahwa sejak tadi sedang menghangatkan makanan yang dibelinya semalam.
Tanpa membuang waktu, Awan bergegas kembali ke dapur.
Benar saja! Asap hitam mengepul dari atas kompor. Masakan di dalam wajan sudah berubah warna menjadi hitam.
Awan segera mematikan kompor, lalu menatap masakan itu dengan wajah pasrah.
"Ya ampun! Baru juga ditinggal sebentar!"
Dia menggeleng-gelengkan kepala sebelum mengangkat wajan dan meletakkannya di wastafel. Setelah itu, dia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri.
Namun, belum sempat menikmati ketenangan, terdengar suara seorang anak perempuan dari kamar mandi.
"AYAH! Zeline sudah selesai mandi!"
Awan langsung menoleh.
Benar juga! Dia hampir lupa kalau putrinya sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah.
Dia segera menyambar handuk dan bergegas menuju kamar mandi.
"Ayah, Zeline sudah wangi! Tadi habis pakai sampo!"
Awan tertegun begitu membuka pintu.
Busa sampo memenuhi sebagian kamar mandi. Bahkan, cermin dan beberapa pakaian yang sedang dijemur di bagian atas kamar mandi ikut terkena busa.
Awan memejamkan mata sejenak, kemudian menggelengkan kepala.
"Ya ampun, Zeline! Kamu keramas atau lagi bikin pesta busa, sih?"
Dia segera membantu putrinya membilas rambut dan tubuhnya. Namun, ketika hendak mengeringkannya, Awan baru menyadari bahwa beberapa bagian tubuh anak itu masih dipenuhi busa.
"Zeline! Kamu mandi gimana, sih? Kok masih banyak busanya?"
Alih-alih menurut, gadis berusia lima tahun itu malah berlari ke sana kemari sambil tertawa, menggoda ayahnya yang mulai kehilangan kesabaran.
"Hehehe! Tangkap Zeline, Yah!"
"Eh, jangan lari-lari! Lantainya licin!"
Awan akhirnya berhasil menangkap putrinya. Dia segera membungkus tubuh mungil itu dengan handuk, lalu menggendongnya keluar dari kamar mandi.
Namun, penderitaannya belum berakhir.
Seorang anak laki-laki berusia sekitar sepuluh tahun menghampirinya.
"Ayah, dasi sama ikat pinggangku nggak ada. Di mana, ya?"
Anak laki-laki itu bernama Azzel.
Awan menoleh dan memperhatikan penampilan putranya. Kemeja seragamnya sudah dikenakan, tetapi bagian kerahnya berantakan. Bahkan, salah satu sisi bajunya tampak lebih tinggi daripada sisi lainnya.
Awan hanya bisa menghela napas.
"Tunggu sebentar. Nanti Ayah cariin."
Dia melangkah ke kamar untuk mencari dasi dan ikat pinggang Azzel.
Namun, begitu melihat keadaan kamar, Awan kembali terdiam.
Bantal dan selimut berserakan di lantai. Pakaian menumpuk di sana-sini, sementara barang-barang lain tergeletak tidak pada tempatnya.
Awan memijat pelipisnya.
Sungguh, pagi itu terasa seperti ujian kesabaran yang tidak ada habisnya.
Sudah tiga bulan dia menjalani semua kesibukan ini sendirian, sejak Bulan pergi meninggalkannya.
Tiga bulan menjadi seorang ayah yang harus merangkap sebagai ibu bagi ketiga anaknya.
Dan pagi itu, Awan mulai menyadari satu hal.
Mengurus rumah dan membesarkan anak-anak ternyata jauh lebih sulit daripada yang pernah dia bayangkan.