Malam itu hujan turun deras, membasahi jalanan di pinggiran kota Bandung. Aku—Raka, seorang arsitek yang baru saja selesai proyek renovasi gedung tua di daerah Dago—terpaksa mencari penginapan karena banjir kecil menutup jalan pulang. Pilihan jatuh pada sebuah penginapan tua berlantai tiga yang tampak sepi.
Pintu utama terbuka sendiri saat aku mendekat. Di balik meja resepsionis duduk seorang wanita tua dengan wajah pucat. Dia tidak tersenyum, hanya menyerahkan kunci berwarna kuning tua dengan gantungan berbentuk kuno.
"Kamar nomor 307. Ingat... apa pun yang terjadi, jangan buka pintu kalau ketukannya tiga kali berturut-turut. Dan jangan lihat ke arah jendela saat jam menunjukkan pukul dua pagi."
Aku mengangguk menganggapnya sekadar kebiasaan lama pemilik penginapan. Langkahku berat menaiki tangga kayu yang berderit. Lorong lantai tiga panjang dan sunyi, lampunya redup. Saat sampai di depan pintu 307, aku berhenti. Ada aroma wangi bunga melati yang tiba-tiba menyengat—padahal di sekitar sini tidak ada tanaman sama sekali.
Malam berjalan tenang. Sampai jam menunjukkan pukul 01.55.
Suara ketukan terdengar pelan dari luar: tok... tok... tok...
Tiga kali. Tepat seperti yang dikatakan wanita tadi.
Jantungku berdebar kencang. Aku menahan napas, tidak bergerak sedikit pun. Lalu terdengar suara—suara seseorang memanggil namaku. Sangat jelas, seolah-olah orang itu berdiri tepat di belakang pintu. Itu suara kakak perempuanku. Tapi dia sudah meninggal lima tahun lalu.
Perlahan, aku melirik ke arah jendela. Bayangan seseorang berdiri di luar sana, di lantai tiga, tanpa memegang apa-apa. Rambutnya panjang menutupi wajah, dan dia berdiri diam... menatap tepat ke arahku.
Jam dinding berdetak pelan: 02.00.
Tiba-tiba semua benda di dalam kamar bergetar. Di dinding, terlihat samar-samar ada tulisan yang muncul seolah-olah ditulis dari dalam tembok:
"Mereka yang lupa jalan pulang... selalu menunggu sampai pintu dibuka."
Aku berlari ke pintu, menutupnya rapat-rapat, dan duduk di sudut kamar sambil memejamkan mata. Aku tidak tahu berapa lama aku diam di sana. Saat aku membuka mata, cahaya matahari sudah masuk melalui celah jendela. Semuanya sunyi.
Aku berlari turun ke lobi. Tapi meja resepsionis kosong. Tidak ada siapa-siapa. Di atas meja hanya ada selembar kertas tua berdebu. Aku membacanya:
"Penginapan ini tutup sejak tahun 1998. Pemiliknya dan tamu di kamar 307 hilang tanpa jejak pada malam hujan deras. Siapa pun yang membaca ini... segera pergi. Dan jangan pernah menoleh ke belakang sampai kamu keluar dari gerbang besi itu."
Aku berlari sekuat tenaga keluar dari sana. Saat aku menoleh sesaat, bangku itu sudah terlihat lebih tua, catnya lebih pudar, dan seketika seakan menghilang di balik kabut tebal.
Sejak hari itu, setiap kali hujan turun di malam hari, aku selalu teringat penginapan itu. Dan aku tahu—beberapa pintu, lebih baik tetap tertutup. 🌑💀