#Asusten Andalan Conny
Conny merebahkan tubuhnya di sofa yang berada di sudut ruang kantornya. Kepalanya masih terasa sedikit pusing setelah menemani beberapa klien minum.
Ia melonggarkan ikat pinggang dan dasinya, lalu memejamkan mata. Tubuhnya terasa lelah, sementara kepalanya masih berdenyut pelan.
Tak lama kemudian, pintu ruangannya terbuka. Siska, asisten pribadinya, masuk sambil membawa beberapa dokumen.
“ Siska, tolong ambilkan air hangat, ya. Kepala saya agak pusing,” ujar Conny tanpa membuka mata.
Siska menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah sang bos yang tengah berbaring di sofa.
“Maksud Bapak, air putih hangat?”
“Iya,” jawab Conny singkat.
“Baik, Pak.”
Siska segera menuju pantry. Tak lama kemudian, ia kembali membawa segelas air putih hangat dan menghampiri Conny.
“Ini, Pak, air hangatnya.”
Conny membuka matanya sedikit, kemudian menatap Siska dengan pandangan sayu.
“Siska, tolong bantu saya duduk.”
“Baik, Pak.”
Siska meletakkan gelas di atas meja kecil, lalu membungkuk untuk membantu Conny bangkit. Namun, tubuh pria itu tampak begitu lemas hingga ia harus menopangnya lebih lama. Akhirnya, Siska duduk di sampingnya agar lebih mudah membantu.
“Bantu gue minum, ya, Siska.”
Siska sempat terdiam mendengar perubahan cara bicara bosnya. Namun, ia segera meraih gelas dan membantu Conny meminumnya sedikit demi sedikit.
Setelah beberapa teguk, Conny mengambil gelas itu dengan tangan kirinya dan meletakkannya kembali di meja. Ia kemudian menyandarkan tubuhnya ke dada Siska, seolah-olah tak lagi memiliki tenaga untuk menegakkan badan.
Siska membeku.
Ia bisa merasakan hangat tubuh Conny yang bersandar begitu dekat dengannya. Jantungnya berdegup lebih cepat. Selama ini, ia memang diam-diam mengagumi pria yang menjadi atasannya itu. Namun, kedekatan seperti ini tak pernah benar-benar ia bayangkan akan terjadi.
“Jasmine...” gumam Conny tiba-tiba.
Siska menunduk, memperhatikan wajah pria itu.
“Kenapa napas lo kayak orang habis dikejar anjing?” bisik Conny dengan suara serak.
Siska terkejut.
“Saya Siska, Pak. Bukan Nona Jasmine.”
Namun, Conny seolah tak mendengar jawabannya. Ia justru kembali menyebut nama perempuan yang selama ini masih membekas dalam pikirannya.
“Jasmine...”
Siska menghela napas pelan.
“Sepertinya Bapak mabuk.”
Conny mengangkat wajahnya. Tatapannya tak fokus, seolah-olah ia sedang melihat seseorang yang berbeda di hadapannya.
“Jasmine, tubuh lo bagus sekali. Bikin gue bersemangat.”
“Pak, saya Siska. Asisten Bapak.”
“Jangan bohong lagi.”
Sebelum Siska sempat menjelaskan lebih jauh, Conny mendekat dan mengecup lehernya.
Siska terdiam. Ada keterkejutan dalam dirinya, tetapi juga perasaan lain yang selama ini ia pendam rapat-rapat. Ia mengagumi Conny sejak lama, bahkan sering kali harus menyembunyikan perasaannya setiap kali berada di dekat pria itu.
Namun, ia tahu Conny sedang mabuk. Pria itu bahkan tak mampu membedakan dirinya dari Jasmine.
“Pelan-pelan, Pak...” bisik Siska gugup. “Saya takut kehilangan kendali.”
Conny tak menjawab. Ia justru kembali meracau menyebut nama Jasmine, seakan-akan perempuan itulah yang berada dalam pelukannya.
“Jasmine, tubuh lo wangi sekali. Harumnya mengingatkan gue sama Siska.”
Kalimat itu membuat dada Siska terasa sesak oleh perasaan yang sulit ia jelaskan. Bahkan dalam keadaan mabuk, Conny masih mengingat aroma tubuhnya, meskipun ia tak menyadari siapa yang sedang berada di sisinya.
Ketika Conny kembali merengkuhnya, Siska mencoba menahan gerakannya.
“Pak, saya belum terbiasa dengan keadaan seperti ini.”
Namun, Conny tetap larut dalam kebingungannya. Gerakannya sesekali tak terarah, sementara Siska berusaha menenangkan pria itu agar tidak terjatuh dari sofa.
Malam itu berlangsung dalam suasana yang membingungkan. Siska sendiri tak sepenuhnya memahami apa yang sedang ia rasakan. Ada debaran yang sulit diabaikan, ada harapan yang selama ini hanya berani ia simpan dalam hati, tetapi ada pula kenyataan bahwa Conny tidak sedang memandangnya sebagai dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian, tubuh Conny mendadak melemas.
“Pak?”
Tak ada jawaban.
Conny telah kembali terkulai di sofa. Kepalanya bersandar pada lengan sofa, matanya terpejam, dan napasnya terdengar teratur. Hanya tangannya yang masih menggenggam jemari Siska.
Siska menatapnya tak percaya.
“Pak Conny?”
Ia menggoyangkan bahu pria itu pelan, tetapi Conny hanya menggeliat dan meluruskan kakinya.
Siska mengembuskan napas panjang.
“Ya ampun, Pak Bos. Bikin saya bingung saja.”
Ia memandang wajah Conny yang kini tampak tenang. Dalam keadaan seperti itu, pria tersebut terlihat jauh lebih muda dan tak berdaya dibandingkan sosok tegas yang biasa memimpin rapat dan mengendalikan seluruh isi kantor.
Siska merapikan pakaian Conny yang sedikit berantakan. Sesaat, ia terdiam memandangi wajah sang bos. Ada keinginan untuk tetap berada di dekatnya, tetapi ia segera mengurungkan niatnya.
Ia tak ingin memanfaatkan keadaan Conny yang sedang mabuk.
Akhirnya, Siska berdiri dan bergegas masuk ke kamar mandi untuk menenangkan diri.
Di bawah guyuran shower, ia memejamkan mata. Air mengalir membasahi rambut dan wajahnya, sementara pikirannya kembali pada kejadian beberapa menit sebelumnya.
“Ah, Pak Conny...” gumamnya pelan. “Bikin saya salah tingkah saja.”
Siska membuka mata dan menatap bayangan dirinya di cermin. Wajahnya masih menyimpan rona merah. Ia menggeleng kecil, mencoba mengusir berbagai pikiran yang berkelindan di kepalanya.
Namun, bayangan wajah Conny kembali muncul dalam benaknya.
Tanpa sadar, senyum tipis mengembang di sudut bibirnya.
Seandainya saja suatu hari nanti Conny benar-benar melihat dirinya sebagai seorang perempuan, bukan sekadar asisten pribadi.
Seandainya saja pria itu mendekatinya dalam keadaan sadar, menyebut namanya tanpa tertukar dengan nama perempuan lain, dan memandangnya dengan perasaan yang sama.
Siska menghela napas.
Ia tahu semua itu hanyalah angan-angan. Setidaknya, untuk malam ini.
Ia mengambil sabun mandi dan membersihkan tubuhnya, berusaha mengembalikan pikirannya pada kenyataan.
Beberapa saat kemudian, Siska keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sudah rapi. Ia kembali menuju sofa dan mendapati Conny masih terbaring di tempat yang sama.
Siska berhenti sejenak.
“Ganteng banget, sih, Pak Conny,” gumamnya lirih.
Ia segera mendekat, lalu mencoba membangunkan pria itu.
“Pak Conny, bangun, Pak.”
Conny hanya menggeliat sebelum akhirnya membuka mata perlahan.
“Pak, saya telepon Bu Sonya, ya?”
Mendengar nama itu, Conny mulai mengumpulkan kesadarannya. Ia bangkit sedikit dan menyandarkan punggungnya pada sofa.
“Iya, Siska. Tolong teleponin Sonya.”
“Baik, Pak.”
Siska tersenyum kecil. Ia kemudian duduk di samping Conny, mengambil ponselnya, dan mencari nomor Sonya.
Sambil menunggu panggilan tersambung, ia menarik napas panjang, berusaha menata kembali ekspresinya.
Di hadapan Conny, ia kembali menjadi Siska yang biasa: asisten pribadi yang sigap, tenang, dan selalu siap membantu atasannya.
Seolah-olah tak pernah terjadi apa-apa malam itu.
Sementara itu, Conny menyandarkan kepala dan memejamkan mata kembali.
Ia sama sekali tak menyadari bahwa malam itu, tanpa sengaja, ia telah meninggalkan sesuatu dalam hati Siska.