# PEMBUNUHAN DI KAMAR SEBELAH
Pulang kerja, Yoko berjalan menuju kontrakannya dengan langkah lambat. Sebungkus roti dan sebotol air mineral terayun lemah di tangan kanannya. Wajahnya tetap datar; bahunya merosot, dan setiap kali berpapasan dengan orang, kepalanya otomatis menunduk.
Sesampainya di kamar, ia meletakkan roti dan air di atas kasur. Belum lapar. Pandangannya lebih dulu tertarik pada lubang kecil di dinding.
Yoko mendekat, lalu mengintip.
Kosong.
Kamar Hikaru gelap dan tak berpenghuni.
Yoko mengerutkan kening. “Ke mana Hikaru?”
Ia menunggu beberapa saat, seolah-olah gadis itu mungkin muncul jika ia bertahan cukup lama. Namun tak ada suara atau gerakan. Akhirnya Yoko mundur dan merebahkan diri.
“Hikaru…”
Nama itu terlepas lirih dari bibirnya.
Beberapa menit kemudian, Yoko duduk bersandar pada dinding. Pandangannya menyapu kamar: botol dan kaleng alkohol berserakan di lantai, sebagian terguling dekat kasur.
“Gila. Kamar gue kayak tempat sampah.”
Ia bangkit dengan enggan, memunguti botol dan kaleng satu per satu, lalu memasukkannya ke kantong plastik. Setelah mengikat kantong itu, ia membawanya keluar.
Kamar itu tampak sedikit lebih rapi saat ia kembali. Sedikit saja.
Yoko tetap melangkah ke lubang di dinding dan mengintip sekali lagi.
Masih kosong.
Ia mengembuskan napas, lalu bersandar di dekatnya. Kelopak matanya terasa berat. Tak lama kemudian, ia tertidur.
Dalam tidurnya, suara Hikaru memanggil dari kejauhan.
“Yoko…”
Yoko membuka mata. Hikaru berdiri di hadapannya, tersenyum lembut.
“Iya?”
“Sini.”
Yoko mendekat. “Kenapa?”
“Peluk gue.”
Yoko terdiam sejenak, lalu merangkulnya dengan ragu. Hikaru membalas pelukan itu.
“Lo suka?”
“Iya.”
“Nyaman?”
“Wangi.”
Hikaru tertawa kecil. “Gue dingin.”
“Benarkah?”
“Lihat wajah gue.”
Yoko mengangkat kepala. Wajah Hikaru pucat sekali—lebih pucat daripada yang pernah ia lihat.
“Pucat sekali.”
Hikaru tertawa. Tawanya terdengar terlalu ringan untuk wajah sepucat itu.
“Kenapa lo tertawa?”
Hikaru tak menjawab. Ia hanya tersenyum.
Lalu suasana berubah.
Sesuatu yang tajam berkilat di tangannya.
Cres!
Tubuh Yoko tersentak. Rasa hangat mengalir di tubuhnya.
“Darah…”
Hikaru tersenyum tipis. “Darah siapa?”
“Darah lo.”
Yoko menatapnya, nyaris tanpa rasa takut. “Lo bunuh gue?”
“Iya.”
Anehnya, Yoko tersenyum.
“Terima kasih.”
Yoko terbangun dengan sentakan.
Bruk!
Suara benda jatuh datang dari kamar Hikaru. Yoko duduk tegak. Sesaat kemudian, suara laki-laki menyusul dari balik dinding.
“Lo nggak bisa nolak gue.”
Yoko menoleh ke lubang. Ia merangkak mendekat dan mengintip.
“Anjir…”
Seorang pria bertubuh kekar berdiri di kamar Hikaru. Tato memenuhi lengannya dan sebagian dadanya. Yoko mengamatinya dengan kening berkerut.
“Cowok Hikaru?” gumamnya. “Kenapa nggak pakai baju?”
Hikaru berdiri beberapa langkah di hadapan pria itu. Ia mengenakan hoodie hitam panjang. Sebuah buku ada di tangan kanannya; cutter tergenggam di tangan yang lain.
Yoko menyipitkan mata.
“Loh…”
Hikaru melempar buku ke atas kasur. Pria bertato itu tersenyum, lalu memeluknya dari belakang.
“Gue akan bikin lo puas malam ini.”
Yoko menempelkan mata lebih dekat ke lubang. Ada sesuatu yang terasa janggal, tetapi ia belum sempat memahami apa.
Hikaru tersenyum.
Tangannya bergerak.
Cutter itu terangkat.
“Loh, kok Hikaru bawa cutter?”
Gerakan berikutnya berlangsung begitu cepat hingga Yoko hanya sempat melihat Hikaru menarik lengan pria itu, memutar tubuhnya, lalu—
Cres!
Cutter menghunjam. Darah menyembur ke dinding. Sebagiannya memercik sampai ke lubang tempat Yoko mengintip.
Yoko membekap mulut.
“Aw…”
Ia mundur beberapa senti, tapi matanya tak lepas dari kamar sebelah.
“Anjay…”
Pria itu ambruk. Hikaru menjatuhkan tubuhnya ke kasur, lalu menoleh ke arah lubang. Tatapannya tepat bertemu dengan mata Yoko.
Hikaru tersenyum manis.
Yoko membeku.
Hikaru bergerak tenang, seolah-olah tak ada sesuatu yang baru saja terjadi. Ia membersihkan darah dari tubuh dan pakaiannya, lalu memeriksa cutter yang berlumuran merah. Setelah itu, ia melakukan sesuatu yang membuat Yoko segera memalingkan wajah. Sesaat kemudian, rasa penasaran mengalahkan jijiknya; Yoko mengintip lagi dan melihat Hikaru menari dengan gerakan ganjil di sisi tubuh korbannya.
Kaki Yoko mulai gemetar.
“Hikaru membunuh orang.”
Ia menelan ludah. “Ini pasti halusinasi. Atau syuting film.”
Namun noda merah di dinding tetap ada. Begitu pula senyum Hikaru.
Yoko kembali menatap wajahnya.
“Wow…” bisiknya. “Senyumnya manis sekali.”
Ia menggeleng pelan, mencoba meyakinkan diri sendiri.
“Nggak mungkin. Gue lagi depresi.”
Namun Hikaru tak tampak panik, tak berteriak, tak menunjukkan rasa takut sedikit pun. Ia bergerak dengan ketenangan yang justru membuat pemandangan itu semakin sulit dipercaya.
Yoko mundur dari lubang, lalu kembali mengintip.
“Pembunuh…”
Ia terdiam, menelan ludah sekali lagi.
“Hikaru ternyata pembunuh.”
Punggungnya menempel ke dinding. Tiba-tiba terdengar langkah kaki di luar.
Srek… srek… srek…
Yoko menoleh cepat. Ia mengendap-endap menuju pintu, menggenggam gagangnya, lalu membukanya sedikit.
Seorang perempuan berkacamata berdiri di lorong. Rambutnya diikat ke atas; tatapannya dingin.
Yoko berbisik, “Hantu?”
Perempuan itu memandangnya dari ujung kepala sampai kaki.
“Orang aneh.”
Yoko buru-buru bersembunyi di balik pintu. Di luar, hujan mulai turun. Langkah perempuan itu menjauh, lalu lenyap.
Yoko mengintip lagi. Lorong sudah sepi.
“Nggak ada orang.”
Ia menutup pintu dan merangkak kembali ke kasur.
Tok! Tok! Tok!
“Yoko?”
Suara Hikaru terdengar lembut dari luar. Yoko membeku.
“Gue masuk, ya.”
Sebelum Yoko sempat menjawab, pintu terbuka. Hikaru masuk membawa nampan.
Yoko menatapnya tanpa berkedip. Hikaru membalas tatapan itu dengan senyum kecil.
“Eh, tunggu.”
“Kenapa?”
“Gue nyalain lilin dulu.”
Hikaru menyalakan lilin kecil di meja, lalu meletakkan nampan. Dua mangkuk mi mengepul di atasnya.
“Gue bawa makanan. Duduk sini.”
Ia menunjuk lantai di hadapannya. Yoko duduk perlahan, masih dengan tubuh tegang.
Hikaru memperhatikan wajahnya. “Kok lo keringetan?”
“Gue lapar,” jawab Yoko datar.
Hikaru tak memaksanya menjelaskan. Ia hanya menyodorkan sumpit.
“Ayo makan.”
Yoko mengambilnya. Ia berusaha fokus pada mi, tetapi pandangannya terus kembali ke wajah Hikaru.
“Udah, jangan liatin gue terus,” kata Hikaru, setengah menggoda.
Ia bangkit dan memandang sekeliling kamar.
“Kamar lo bersih.”
Yoko teringat lubang di dinding. Sendok sumpitnya berhenti di udara.
“Apa?” tanya Hikaru.
Yoko menunjuk dinding. “Gue ngintip elo.”
“Ngintip apa?”
“Lo.”
Hikaru mendekati lubang dan menempelkan mata ke sana.
“Ya ampun…” Ia tertawa kecil. “Benar-benar kelihatan semuanya.”
“Iya.”
“Sejak kapan?”
Yoko menjawab tanpa ragu, “Tiap hari.”
“Lo lihat apa?”
“Semuanya.”
Hikaru menatapnya, tak yakin. “Bohong.”
Yoko tetap datar. “Tanda lahir lo.”
Hikaru terdiam sesaat, lalu tertawa kecil.
“Wow, Yoko.”
“Apa?”
“Lo kreatif.”
“Lo nggak marah?”
“Kenapa gue harus marah? Kita kan teman.”
Yoko menunduk ke mangkuknya. Kata ‘teman’ terdengar sederhana saat diucapkan Hikaru, tetapi terasa asing di telinganya.
“Tapi gue lihat lo bunuh orang,” katanya.
Tawa Hikaru mereda. Ia duduk kembali di hadapan Yoko.
“Lo nggak takut?”
“Nggak.”
“Terus, apa yang lo rasain?”
Yoko mengangkat mata. “Lo cantik.”
Hikaru tersenyum tipis. “Benarkah?”
“Iya.”
Hikaru mengeluarkan cutter dan mendekatkannya ke leher Yoko.
“Kalau begitu, lo mau gue bunuh?”
Yoko tak mundur. Ia merogoh tas, mengeluarkan cutter miliknya sendiri, lalu meletakkannya di antara mereka.
“Tunggu. Ini.”
Hikaru melirik benda itu. “Buat apa?”
“Bunuh gue.”
Hikaru tertawa lirih, tetapi tatapannya tetap mengamati Yoko.
“Lo unik.”
“Biasa aja.”
“Orang lain melihat gue membunuh saja sudah histeris.” Hikaru mendekat sedikit. “Lo malah minta dibunuh.”
Yoko menatapnya tanpa berkedip.
“Gue suka elo.”
Hikaru terdiam. “Suka apanya?”
“Semuanya.”
“Termasuk kalau gue membunuh?”
“Iya.”
Yoko menunduk sebentar. Suaranya mengecil ketika ia berkata, “Gue mau lo bunuh gue.”
Hikaru tak langsung menjawab. Senyumnya menghilang, digantikan tatapan yang lebih serius.
Yoko mengangkat wajah.
“Gue mau mati di pelukan lo.”
Ujung cutter Hikaru menyentuh kulit lehernya. Yoko tidak bergerak.
“Lo benar-benar nggak takut sama gue?”
Yoko menggeleng. “Bukan di situ.”
Ia menggeser lehernya sedikit mendekati mata pisau.
Hikaru tertawa lembut, tetapi kali ini tawanya terdengar lebih hati-hati.
“Menarik sekali.”
“Apanya?”
Hikaru memandang Yoko lama, seakan berusaha membaca sesuatu di balik wajahnya yang datar.
“Yoko.”
“Iya?”
“Kita pacaran, yuk.”
Yoko terdiam. “Pacaran?”
“Iya.” Senyum tipis kembali muncul di wajah Hikaru. “Gue belum pernah pacaran.”
“Gue juga.”
“Kalau begitu…” Hikaru menarik cutter menjauh dari leher Yoko dan meletakkannya di meja. “Kita coba saja.”
Untuk pertama kalinya, Yoko tersenyum. Kecil, kaku, nyaris tak terlihat.
Senyum itu bukan tanda bahwa ia telah menemukan alasan untuk hidup. Luka dan kehampaannya masih ada, tak mungkin lenyap hanya karena satu malam dan semangkuk mi.
Namun untuk pertama kalinya, ada seseorang yang duduk di hadapannya dan tidak menyuruhnya pergi.
Dan Yoko, yang sudah lama tak mengharapkan apa-apa dari manusia, menemukan satu alasan untuk tetap berada di sana sedikit lebih lama.