Tokoh Tetap:
1. Sumire - 150cm, Trance Medium, Reiki, Oracle. Jawa-Belanda, hazel. 2. Takio Amamiya - 175cm, Aktor/Model, gift vision, cakra ajna kebuka paksa.
Sinopsis Final:
Janji 400 tahun sudah diingat. Sekarang waktunya menepati bagian keduanya: hidup sebagai manusia biasa, dengan akar yang tetap melilit di bawah tanah, meski di atas terlihat berjauhan.
🌹CERITA FINAL
Pagi setelah rooftop itu, Takio tidak pergi ke lokasi syuting.
Untuk pertama kalinya dalam 15 tahun karirnya sebagai model cilik sampai aktor top, ia menelpon Sato-san dan bilang, "Sato-san, aku izin sakit 1 hari lagi. Bukan sakit fisik. Aku sedang grounding."
Sato-san di seberang telepon diam lama. Biasanya ia akan marah. Tapi setelah press conference jujur kemarin, ia hanya menjawab, "Baik, Takio. Jaga dirimu baik-baik."
Sumire yang mendengar itu dari dapur kecil apartemen Takio tersenyum. Ia sedang membuat teh jahe, bukan dupa. Tangannya tidak bergetar lagi.
"Bagaimana rasanya bilang tidak?" tanya Sumire.
"Seperti melepas armor hitam yang beratnya 20 kilo," jawab Takio sambil duduk di meja makan. Tanpa hoodie, tanpa masker. Hanya Takio yang rambutnya masih berantakan bangun tidur.
Pagi itu mereka tidak melakukan ritual besar. Sumire hanya menarik satu kartu oracle terakhir untuk mereka berdua, tanpa niat bertanya apa-apa.
Kartu itu jatuh.
Gambarnya: Dua pohon yang berbeda jenis, tumbuh di dua bukit yang berjauhan. Di atas tanah, mereka terlihat tidak berhubungan. Tapi di bawah tanah, akarnya melilit menjadi satu akar besar yang kuat.
Tulisannya: The Root - Pulang.
"Ini kartu yang sama seperti yang aku kasih ke kamu di penginapan Ainokura malam pertama," kata Sumire pelan. "Soul Contract. Bedanya, dulu tulisannya 'Sudah Ditulis'. Sekarang tulisannya 'Pulang'."
Takio mengambil kartu itu dan menyimpannya di dompetnya, di sebelah KTP-nya.
"Tiga bulan lalu nenekku di Aomori bilang gift-ku bangun dan akan mencarikan gurunya sendiri," kata Takio. "Aku kira gurunya akan mengajarkan cara mematikan gift ini agar aku bisa jadi aktor normal lagi."
Sumire menggeleng. "Aku tidak mematikan gift-mu. Aku hanya mengajarkan cara memeluknya."
"Aku juga," Takio menatap Sumire. "Dulu aku pikir aku butuh seseorang untuk menyembuhkan pusingku. Ternyata aku butuh seseorang yang mau duduk di sampingku saat pusing itu datang, tanpa harus menyembuhkan apa-apa."
Siang itu, mereka kembali ke Ainokura. Bukan karena panggilan gaib, tapi karena mereka ingin mengembalikan sesuatu.
Di pelataran kuil kecil Ainokura, mereka bertemu kakek desa yang dulu bilang "Amamiya ga kaette kita". Sumire memberikan deck oracle Soul Contract-nya kepada kakek itu.
"Ini untuk kuil ini," kata Sumire. "Karena janji kami sudah selesai."
Kakek itu tersenyum mengerti. "Hujan tanpa mendung sudah tidak turun lagi sejak kalian pergi kemarin. Artinya jiwa yang ditunggu sudah pulang."
Takio menatap langit Ainokura yang cerah. Tidak ada hujan. Tidak ada panggilan. Untuk pertama kalinya, desa ini terasa seperti desa biasa, bukan tempat keramat.
"Sumire," panggil Takio pelan saat mereka berjalan turun dari tangga batu kuil.
"Hm?"
"Kalau nanti gift-mu memanggilmu ke tempat lain, dan gift-ku memanggilku ke panggung lain, kita bagaimana?"
Sumire berhenti, menatap Sungai Sho yang mengalir di bawah.
"Kita seperti akar itu," jawabnya. "Di atas terlihat berjauhan, di bawah tetap melilit. Kamu di panggungmu yang terang, aku di ruanganku yang sepi. Tapi kita pulang ke tanah yang sama."
Takio meraih tangannya. Bukan dengan canggung seperti di Tokyo. Tapi dengan mantap, seperti samurai yang akhirnya boleh meletakkan pedangnya.
Dan seperti miko yang akhirnya boleh meletakkan doanya.
Mereka berjalan pulang bergandengan tangan di jalan setapak Ainokura. Tidak ada hujan tanpa mendung. Tidak ada vision. Hanya suara kayu gassho-zukuri berderit dan suara dua manusia biasa yang akhirnya boleh lelah bersama.
Karena janji 400 tahun itu bukan untuk menjaga kuil selamanya.
Tapi untuk belajar, bahwa setelah menjaga dunia, mereka juga berhak dijaga.
TAMAT.
.
.
.
.
.
.
.
TAMAT - PENJELASAN LENGKAP KUIL HUJAN (Part 1-6)
Terima kasih sudah mengikuti Sumire & Takio sampai akhir. Untuk yang baca loncat, ini rangkuman lengkap biar selaras:
TOKOH INTI:
1. Sumire: 150cm, sintal, kacamata, hazel Jawa-Belanda. Trance Medium, Reiki, Oracle Reader. Gift dianggap kutukan, sering dibilang cantik tapi juga dibully. 2. Takio Amamiya: 175cm, aktor/model top Jepang, ganteng pahatan. Gift vision aktif 3 bulan setelah lampu jatuh. Dibilang burnout. Marga Amamiya = Kuil Hujan.
LOKASI: Desa Ainokura, Toyama - UNESCO, 20 rumah gassho-zukuri 100-350 tahun, Sungai Sho, power spot bersih.
ALUR 6 PART:
Part 1 Pertemuan Takdir - Oracle kosong, panggilan Ainokura, hujan tanpa mendung pertama, Destined Meeting.
Part 2 Benih dan Masa Lalu - Nginap, Reiki grounding, vision sama miko & samurai, Past Life.
Part 3 Pulang Ke Dunia Berisik - Press conference Tokyo, Reiki jarak jauh, janji kalau kuil hancur bertemu lagi.
Part 4 Janji Di Kuil Yang Terbakar - Regression 1582, sumpah miko: "Carilah aku saat nama Amamiya masih ada tapi kuilnya sudah tidak ada. Kita cukup jadi manusia biasa."
Part 5 Pulang Sebagai Manusia Biasa - Janji bukan bangun kuil lagi, tapi berhenti jadi pahlawan. Gift dipeluk bukan dimatikan.
Part 6 Final Akar Yang Melilit - Berani bilang tidak, kembali ke Ainokura kembalikan deck, hujan berhenti, pulang sebagai manusia biasa.
SIMBOL:
• Hujan Tanpa Mendung 4x = jiwa Amamiya pulang • Gassho-zukuri = doa yang jadi atap • Oracle: Hermit, The Eye, Past Life, Soul Contract, The Root • Reiki = penyembuhan dari 1582 sampai sekarang • Amamiya = bukan beban, tapi penanda janji ditepati
PESAN UTAMA:
Gift bukan kutukan. Cinta sejati bukan pandangan pertama, tapi jiwa yang ingat janji 400 tahun untuk boleh menjadi manusia biasa dan saling menjaga.
TAMAT.
Terima kasih sudah jadi bagian dari akar Kuil Hujan ini 🌹
Selly Agtus WP
IG: @javawitch13 @poembyselly