Aula Grand Shinta sudah penuh.
Gaun putih Farah sudah sempurna. Makeup flawless. Di pelaminan, namanya sudah berdampingan: Farah & Aril.
Tapi jam 09.00, Aril tidak ada di ruang akad.
Ibu Farah mondar-mandir menelpon. Ayah Farah sudah berkeringat dingin menyalami tamu yang terus bertanya, "Mempelai prianya mana?"
Lalu pintu aula terbuka dengan kasar.
Aril masuk, masih dengan baju koko yang seharusnya untuk akad, tapi bukan menghampiri Farah. Dia menarik tangan Tari — sahabat Farah sendiri, yang duduk di baris bridesmaid.
"Maafkan aku, Farah," suara Aril gemetar tapi jelas terdengar sampai mikrofon yang belum dimatikan panitia. "Aku nggak bisa. Yang aku cinta Tari. Dari dulu."
Sepersekian detik, dunia Farah runtuh.
Tangisan ibunya. Bisik-bisik 300 tamu. Tari yang hanya menunduk sambil digandeng Aril keluar aula. Meninggalkan Farah sendirian di pelaminan, dengan gaun pengantin yang tiba-tiba terasa seperti kostum paling memalukan di dunia.
Farah mau pingsan. Kakinya lemas.
Saat itulah seorang pria naik ke pelaminan dengan langkah tenang. Bukan Aril.
Hendra.
Paman Aril. 34 tahun, pengusaha konstruksi, yang selama ini hanya Farah kenal sebagai "Om Hendra" yang pendiam di setiap pertemuan keluarga.
Dia tidak banyak bicara. Dia hanya melepas jasnya, menyampirkannya di bahu Farah yang bergetar, lalu mengambil mic dari MC yang kebingungan.
"Assalamualaikum. Saya Hendra, paman dari Aril. Mewakili keluarga, saya mohon maaf sebesar-besarnya atas kekacauan ini. Acara hari ini tetap keluarga besar Farah. Tolong tetap menikmati hidangannya. Untuk urusan Farah, biar saya yang bertanggung jawab."
Semua mata tertuju padanya.
Dia lalu menatap Farah, suaranya hanya cukup didengar Farah, "Kamu aman sekarang. Tarik napas sama Om."
Pengakuan yang Bikin Kaget
Di ruang rias, setelah tamu mulai ditenangkan keluarga, Farah menangis sejadi-jadinya.
"Kenapa harus aku, Om? Kenapa Tari? Dia sahabatku..."
Hendra hanya menyodorkan tisu, tidak menyentuh berlebihan. Dia duduk dengan jarak yang sopan.
"Farah, Om tau ini gila. Dan Om tau waktunya nggak tepat. Tapi Om nggak bisa lihat kamu dipermalukan seperti tadi lalu selesai begitu saja."
Farah mengangkat wajahnya yang berantakan.
"Aril keponakan Om. Kesalahannya adalah tanggung jawab keluarga kami. Kalau kamu izinkan, biar Om yang gantiin posisi dia. Bukan karena kasihan. Om sudah lama memperhatikan kamu. Cara kamu bicara sama orang tua Om, cara kamu sabar ngadepin Aril yang kekanak-kanakan. Om serius sama kamu, Farah. Nikahi Om."
Farah kaget. Mulutnya terbuka.
"Om? Om Hendra serius? Kita... kita terpaut jauh. Om kan belum menikah karena..."
"Karena belum nemu yang bikin Om mau berhenti kerja dan pulang jam 6 sore. Sampai ketemu kamu."
Tidak ada rayuan gombal. Tidak ada lutut yang ditekuk. Hanya tatapan dewasa yang jujur dan tenang. Itu yang membuat Farah — yang barusan dihancurkan oleh cinta yang meledak-ledak — justru luluh.
Dengan restu ayah Farah yang sudah tidak tahan melihat putrinya dipermalukan di depan orang sekampung, akad itu tetap terjadi. Bukan Farah & Aril.
Tapi Farah & Hendra.
Malam Pertama
Kamar hotel yang sudah disiapkan untuk honeymoon Farah dan Aril kini terasa canggung.
Farah duduk di tepi ranjang, masih dengan gaun putihnya, tapi riasannya sudah dihapus. Dia memeluk lutut. Syoknya belum hilang. Antara marah, malu, sedih, dan bingung karena sekarang statusnya adalah istri dari paman mantan calon suaminya.
Hendra keluar dari kamar mandi sudah dengan kaos dan celana santai. Melihat Farah seperti itu, dia tidak mendekat ke ranjang.
Dia malah mengambil bantal dan selimut tambahan, lalu duduk di sofa sudut kamar.
"Farah," panggilnya lembut.
"Om nggak akan sentuh kamu sampai kamu siap. Bahkan sampai kamu minta sendiri. Malam ini, kamu tidur di ranjang. Om di sini. Kamu masih syok, dan itu wajar."
"Tap... tapi kita sudah sah..." bisik Farah.
"Sah di agama dan negara tidak berarti kamu harus ngasih semuanya malam ini juga. Pernikahan itu bukan cuma malam pertama. Pernikahan itu setiap pagi setelahnya."
Hendra mematikan lampu utama, menyisakan lampu tidur temaram.
"Kalau kamu mimpi buruk, bangunin Om. Kalau mau cerita, Om dengerin. Kalau mau diam, Om juga akan diam di sini. Kamu aman."
Untuk pertama kalinya hari itu, Farah menangis bukan karena sakit, tapi karena merasa aman. Dia terisak pelan, lalu akhirnya tertidur karena lelah.
Di sofa, Hendra menjaganya semalaman.
Dan Farah tahu, mungkin cinta yang dikhianati hari ini, justru diganti oleh Allah dengan cinta yang jauh lebih dewasa.
---
Oke, kita ambil jalur 1 & 3. Slow burn + konflik rumah tangga.
KETIKA CINTA DIKHIANATI - Lanjutan
BAB 2 : Pagi Pertama
Farah terbangun karena aroma roti bakar.
Dia masih di atas ranjang hotel yang kebesaran, gaun pengantinnya sudah tergantung rapi di hanger — bukan dia yang menggantungnya.
Di meja kecil dekat jendela, Hendra sudah rapi dengan kemeja. Di depannya ada dua piring. Satu nasi goreng hotel, satu roti bakar dengan selai stroberi dan teh hangat.
"Selamat pagi, istri Om," sapanya tanpa canggung, tapi sopan. "Om nggak tau kamu suka sarapan apa, jadi Om pesan dua. Kalau nggak suka, kita bisa pesan lagi."
Farah duduk, rambutnya berantakan. "Om nggak pulang?"
"Kontraknya Om jaga kamu semalaman, ingat? Kontraknya sudah selesai pagi ini. Sekarang kontrak barunya, Om jaga kamu seumur hidup. Jadi Om di sini."
Farah yang kemarin merasa jadi wanita paling memalukan sedunia, pagi ini untuk pertama kalinya merasa... diperhatikan dengan benar. Aril bahkan tidak pernah ingat Farah alergi udang. Hendra, yang baru semalam jadi suaminya, ingat memesan teh tanpa gula karena kemarin di ruang rias Farah bilang, "pusing kalau kebanyakan manis".
Itu hal kecil. Tapi bagi wanita yang baru dikhianati, hal kecil terasa besar.
BAB 3 : Pulang Bukan ke Rumah Mertua
Konflik pertama dimulai bukan dari luar, tapi dari dalam keluarga Hendra sendiri.
Rumah Hendra bukan rumah keluarga besar. Rumahnya minimalis, bersih, tenang di daerah dataran tinggi — jauh dari hiruk pikuk keluarga Aril.
"Ini rumah kita mulai sekarang," kata Hendra sambil membukakan pintu. "Kamar utama buat kamu. Om pakai kamar kerja dulu sampai kamu nyaman berbagi."
Farah melongo. "Om... Mas Hendra serius kasih aku kamar sendiri?"
Hendra tersenyum. Baru kali ini senyumnya terlihat lepas. "Panggil Mas aja. Om itu untuk Aril. Kamu kan istri Mas sekarang. Dan iya, Mas serius. Mas mau kamu jatuh cinta sama Mas karena kamu mau, bukan karena kamu terjebak satu kamar sama Mas."
Slow burn-nya dimulai dari situ.
Minggu pertama: Mas Hendra selalu pulang jam 6 sore, seperti janjinya. Tidak pernah menuntut dilayani. Dia cuci piring sendiri. Dia ajarin Farah cara urus tagihan rumah.
Minggu kedua: Farah mulai masak. Awalnya gosong. Hendra makan tanpa komplain, malah bilang, "Enak, mirip barbeque."
Minggu ketiga: Farah demam. Hendra panik seperti bapak-bapak baru. Kompres, bubur, obat, semua disiapkan. Tengah malam Farah mengigau manggil "Ibu", Hendra hanya usap kepalanya, "Ibu di sini, Farah, tidur aja."
Tanpa sentuhan yang memaksa, tanpa kata cinta yang dipaksa, Farah pelan-pelan melihat sosok suami yang tidak pernah dia bayangkan.
BAB 4 : Konflik Rumah Tangga Dimulai
Konflik meledak di acara syukuran keluarga Hendra, 2 minggu setelah pernikahan.
Ibu Aril — Kak Rina, kakak kandung Hendra — datang dengan wajah merah.
"Hendra! Kamu gila ya! Kamu nikahi bekas calon istri keponakanmu sendiri! Apa kata orang? Kamu mempermalukan keluarga!"
Semua keluarga besar diam. Farah menunduk, tangannya dingin langsung dicari Hendra di bawah meja dan digenggam erat.
Hendra berdiri, tetap tenang. Itu yang bikin Farah makin kagum. Dia tidak meledak.
"Kak, yang mempermalukan keluarga itu Aril, bukan Farah. Aril yang tinggalkan wanita di pelaminan demi sahabatnya sendiri. Kalau hari itu Mas tidak maju, keluarga kita yang akan dicap tidak bertanggung jawab. Farah itu korban, Kak."
"Tapii... Aril itu masih cinta sama Farah! Dia cuma khilaf sama Tari!"
Farah akhirnya angkat bicara, suaranya bergetar tapi jelas.
"Tante, maaf. Aril tidak khilaf. Dia pergi di hari H, dengan gaun saya sudah dipakai. Kalau Mas Hendra tidak ada, saya mungkin sudah jadi bahan tertawaan seumur hidup. Mas Hendra menyelamatkan saya."
Hendra menguatkan genggaman, "Dan mulai hari ini, siapapun yang menyakiti Farah, berurusan sama Mas. Termasuk keluarga Mas sendiri."
Di perjalanan pulang, di mobil, Farah menangis lagi. Tapi kali ini di bahu Hendra.
"Mas, aku bikin Mas musuhan sama keluarga Mas..."
Hendra menghentikan mobil di pinggir jalan, memandang Farah dalam-dalam.
"Farah, dengerin Mas. Keluarga itu memang penting. Tapi keluarga yang Mas pilih untuk dibangun sekarang adalah kamu. Biar Mas yang urus di luar. Tugas kamu cuma satu: belajar percaya lagi sama laki-laki. Belajar percaya sama Mas."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Farah tidak tidur di kamar utama sendirian. Dia mengetuk pintu kamar kerja Hendra sambil membawa bantal.
"Mas... boleh aku tidur di sofa kamar Mas aja? Aku nggak mau sendirian. Tapi aku janji, aku belum siap lebih dari ini..."
Hendra menggeser, memberi ruang di lantai dengan karpet tebal, "Mas temenin kamu di bawah. Kamu di sofa. Kita sama-sama nggak sendirian, tapi kamu tetap aman."
Dan di bawah temaram lampu kamar, dengan jarak satu meter yang terasa paling aman di dunia, Farah tertidur sambil mendengar Hendra bercerita tentang proyek bangunannya, sampai dia terlelap.
Perlahan, ruang yang Hendra kasih, justru membuat Farah ingin mendekat sendiri.
---BAB 5 : Boleh, Tapi Mas Anter
Malam itu, setelah kejadian di rumah Kak Rina, Farah masih kepikiran.
Di atas sofa kamar kerja Hendra — dia di sofa, Hendra di bawah beralaskan karpet dan selimut tebal — Farah memberanikan diri.
"Om?" panggilnya pelan. Kebiasaan itu belum hilang.
"Hmm?" Hendra yang tadinya pura-pura tidur, langsung melek.
"Besok saya masuk kerja lagi ya?"
Hendra langsung duduk.
Di rumah sakit, Farah itu admin rawat jalan. Cuti menikah yang harusnya 3 hari, jadi cuti paling memalukan seumur hidup. Dia malu, tapi dia butuh sibuk. Kalau di rumah terus, pikirannya balik ke Aril dan Tari.
"Boleh," jawab Hendra cepat. "Tapi Mas anter."
Farah langsung bangun dari sofanya. "Ta-pi Om? Rumah sakit kan jauh. Mas kan ada proyek jam 7 pagi. Aku bisa naik angkot kayak biasa kok."
Hendra berdiri, mematikan laptop kerjanya. Nada suaranya bukan marah, tapi tegas. Tegasnya bapak-bapak yang sudah memutuskan.
"Nggak boleh nolak. Kamu itu sekarang istri saya, Farah."
Farah diam.
Hendra menghela napas, suaranya melunak lagi. Dia jongkok biar sejajar dengan Farah yang duduk di sofa.
"Farah, dengerin Mas. Mas tau kamu mandiri. Mas tau kamu bisa berangkat sendiri dari dulu. Tapi sekarang beda."
"Bedanya apa, Mas?"
"Bedanya, sekarang kalau kamu kenapa-kenapa di jalan, yang jantungnya copot itu Mas. Aril sudah bikin kamu jadi omongan satu rumah sakit, kan? Mas nggak mau kamu berangkat dengan kepala nunduk naik angkot sendirian. Mas mau semua orang di rumah sakit itu lihat, kamu dianter suami kamu. Dengan kepala tegak."
Farah matanya berkaca-kaca lagi. Laki-laki ini...
"Jadi besok jam 6 Mas berangkat. Kamu ikut. Titik. Nggak ada tapi-tapian. Oke, istri Mas?"
Akhirnya Farah mengangguk kecil. "Oke... Mas."
---
BAB 6 : Istri Siapa?
Jam 06.15 pagi. Parkiran RSUD Harapan Medika.
Semua mata tertuju pada mobil double cabin hitam yang tidak pernah terlihat di parkiran motor karyawan.
Hendra turun dulu, membukakan pintu penumpang seperti sopir pribadi. Farah turun dengan seragam adminnya: kemeja putih, rok hitam, jilbab abu-abu. Wajahnya masih pucat, tapi tidak sembab lagi.
"Mas udah, aku masuk sendiri aja. Malu dilihatin," bisik Farah.
Hendra malah dengan sengaja merapikan jilbab Farah yang agak miring, di depan satpam, di depan suster-suster yang lagi ngerumpi.
"Siang nanti Mas jemput jam 3. Jangan pulang sendiri. Kalau ada yang nanya macam-macam, suruh tanya Mas," katanya cukup keras biar kedengeran.
Di dalam ruang admin, seperti yang diduga.
"Farahhh! Ya ampun kamu masuk??" Siska, teman adminnya langsung meluk.
"Kamu nggak apa-apa? Di grup WA rumah sakit udah heboh tau! Katanya calonmu kabur sama Tari?"
"Terus yang nganter tadi siapa? Ganteng banget. Mobilnya gede!"
Farah menarik napas. Ini bagian tersulit.
"Tadi suami aku."
Hening.
"SUAMI? Bukannya batal nikah?"
Farah menatap layar komputernya, lalu tersenyum kecil — senyum pertama yang tulus setelah seminggu.
"Nggak batal. Akadnya tetap jadi. Tapi bukan sama Aril. Sama pamannya. Namanya Hendra."
Seharian itu Farah kerja dengan perasaan aneh. Ada yang nyinyir, ada yang kasihan. Tapi setiap kali dia insecure, HP-nya bergetar.
Mas Hendra: Sudah makan?
Mas Hendra: [Foto bekal] Mas titip di satpam ya. Ada ayam sama sayur. Jangan makan mie instan lagi.
Mas Hendra: Semangat ya, istri Mas hebat.
Puncaknya jam 3 sore. Farah baru beres shift, di lobi sudah ada Hendra duduk dengan dua es teh. Seragam proyeknya masih kotor debu semen. Dia tidak malu.
Semua perawat lewat berbisik, "Itu suaminya Farah yang baru itu ya? Yang katanya pengusaha itu?"
Hendra berdiri, menyerahkan es teh dan bekal kosongnya.
"Capek?"
Farah menggeleng. Matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini beda.
"Mas, kenapa Mas baik banget sama aku? Padahal aku masih manggil Mas Om... masih kagok..."
Hendra tertawa. Untuk pertama kalinya Farah dengar tawanya lepas.
"Karena kamu istri Mas. Sesimpel itu. Ayo pulang, Sayang. Hari ini Mas pulang jam 3 demi kamu."
Kata "Sayang" itu...
Farah yang tadinya dipanggil "Beb" sama Aril dengan nada main-main, baru kali ini dipanggil "Sayang" dengan nada yang berat, serius, dan penuh tanggung jawab.
Dan di mobil dalam perjalanan pulang, tanpa sadar, tangan Farah tidak lagi memeluk tasnya sendiri. Tangannya pelan-pelan memegang ujung kemeja Hendra.
Hendra melirik, tersenyum, tapi tidak melepas. Dia biarkan Farah yang atur jaraknya sendiri.
Slow burn yang sesungguhnya baru mulai.
---
BAB 7 : Kupu-Kupu dan Kripik Singkong
Jam 21.40.
Rumah Hendra yang biasanya sepi dan rapi, malam itu berantakan oleh Farah.
Di ruang tengah, Farah masih di depan laptop rumah sakit. Laporan admin bulanan yang ketinggalan karena dia cuti. Rambutnya yang biasanya diikat rapi, malam ini dijepit asal pakai jepit kupu-kupu kuning yang sudah dari SMA. Kacamata bulatnya yang minus 2, yang jarang dia pakai di luar, nangkring di hidung.
Mukanya super serius. Bibirnya manyun.
Hendra baru selesai mandi setelah seharian di proyek. Rambutnya masih basah, pakai kaos oblong dan sarung. Di tangannya ada toples bening.
Kripik singkong. Pedas. Kesukaan Farah — yang dia sebut sekilas waktu di mobil kemarin.
"Belum selesai, Sayang?" suaranya pelan, takut ngagetin.
Farah kaget, kacamatanya melorot. "Eh Mas! Belum. Laporan BPJS-nya berantakan. Ibu Siska tadi nge-WA minta tolong dibenerin malam ini. Maaf ya rumah jadi berantakan."
Hendra tidak jawab. Dia malah naruh toples itu di sebelah laptop Farah, lalu duduk di karpet, di bawah, bukan di sebelahnya. Biar Farah tetap nyaman di sofa.
Dia buka toplesnya.
"Mas belinya di warung depan. Ibu warungnya bilang yang pedesnya nampol. Makan dulu, nanti laptopnya error kalau yang punya kurang gula."
Farah ngakak kecil. "Mas Hendra, aku lagi diet loh."
"Siapa yang suruh diet? Kamu sudah kurus. Kalau kurus lagi, nanti terbang kebawa angin Malang."
Hendra ngambil satu keping, nyodorin ke depan mulut Farah.
"Nih, suapin. Tangan Mas bersih, habis cuci."
Farah bengong. Jaraknya dekat. Untuk pertama kalinya dia lihat Hendra tanpa kacamata formalnya. Matanya ternyata ada kerutan halus kalau senyum.
"Om... Mas... aku bisa sendiri..." bisik Farah, tapi akhirnya nganga juga.
Kriuk.
"Pedas!" Farah langsung batuk kecil.
Hendra panik langsung ngambil air putih di meja. "Eh pelan-pelan! Makanya jangan galak-galak kalau makan."
Sambil Farah minum, Hendra tanpa sadar ngerapihin jepit kupu-kupu Farah yang miring.
Tangan Hendra berhenti sepersekian detik di rambut Farah. Lembut banget.
Farah yang pakai kacamata bulat itu mendongak. Mata mereka ketemu.
"Mas?"
"Maaf," Hendra langsung narik tangannya. Wajahnya yang biasanya kalem, merah. "Jepitnya miring. Mas... Mas benerin aja."
Hening. Cuma suara AC dan kriuk kripik.
Farah tiba-tiba nyeletuk, suaranya kecil banget, "Aku kelihatan jelek ya Mas, pakai kacamata gini? Aril dulu bilang aku kelihatan kayak ibu-ibu kalau pakai kacamata..."
Hendra menatapnya lama. Serius.
"Farah."
"Ya?"
"Aril buta."
Farah: "Hah?"
"Kalau dia bilang kamu jelek pakai kacamata ini, dia buta. Kamu kelihatan..."
Hendra mencari kata yang paling aman dan paling jujur.
"...kamu kelihatan kayak Farah. Farah yang Mas nikahin. Farah yang pinter, yang rajin, yang di rumah aja masih mikirin kerjaan. Dan Mas suka lihatnya. Suka banget."
Bukan gombal. Bukan "cantik" atau "sexy". Tapi "Mas suka lihatnya".
Itu lebih dari cukup buat Farah yang seminggu lalu merasa dibuang.
Farah nunduk, pipinya merah di balik kacamata bulatnya. Dia ngambil kripik lagi, tapi kali ini nyodorin balik ke Hendra.
"Gantian. Mas juga belum makan kan dari sore?"
Malam itu laporan BPJS selesai jam 11 malam. Ditemani dua orang, satu toples kripik singkong yang habis setengah, dan satu jepit kupu-kupu kuning yang akhirnya pindah dari rambut Farah ke atas laptop sebagai hiasan.
Hendra yang tadinya tidur di karpet, ketiduran dengan kepala nyender di ujung sofa tempat kaki Farah. Farah tidak membangunkan. Dia malah pelan-pelan menyelimuti Hendra.
Untuk pertama kalinya, dia yang kasih ruang, dia yang jaga.
---BAB 8 : Pamit Tiga Hari
Jam 05.10 pagi.
Farah masih pakai piyama dinasnya — kaos oversize dan celana pendek selut — rambutnya masih berantakan bekas jepit kupu-kupu semalam. Kacamata bulatnya masih nangkring karena semalam ketiduran di sofa sambil nungguin laporan ke-upload.
Di depannya, Hendra sudah rapi. Kemeja hitam, celana bahan, sepatu boots proyek. Tas ransel besar di punggung. Di tangannya ada helm proyek.
Beda banget. Satu masih ngantuk, satu sudah siap jadi bos lapangan.
"Farah," Hendra pelan bangunkan. "Mas berangkat ya."
Farah langsung duduk tegak. Ngantuknya hilang.
"Hah? Berangkat kemana Mas? Kok pagi banget?"
"Keluar kota. Surabaya. Proyek tol. Ada masalah di lapangan, Mas harus cek langsung. Tiga hari."
Tiga hari.
Kata itu menggema aneh di kepala Farah.
Seminggu ini, rumah yang besar itu terasa sempit karena ada Hendra terus. Ada yang bikinin teh, ada yang nanya "sudah makan?", ada yang tidur di karpet bawah sofa-nya.
Sekarang tiba-tiba mau kosong tiga hari, dada Farah malah sesak.
"Tiga hari? Lama banget?" celetuknya tanpa sadar.
Hendra tersenyum. Senyum tipis yang nahan sesuatu.
"Baru tiga hari aja udah mau ditinggal udah manyun gitu? Gimana kalau Mas tinggal seminggu?"
"Bukan gitu..." Farah nunduk, mainin ujung kaosnya. "Terus aku gimana? Di rumah sendirian?"
"Nggak sendirian. Nanti siang Bu Lastri — ART langganan Mas — datang buat bersih-bersih dan masakin kamu. Malamnya Mas sudah suruh Siska temenin kamu kalau kamu takut. Dan..."
Hendra jongkok biar sejajar sama Farah yang duduk di sofa. Seperti biasa, dia jaga jarak.
"Tiap malam Mas video call ya? Jam 9. Boleh?"
Farah ngangguk.
"Terus uang belanja Mas taruh di laci meja kerja ya. PIN ATM Mas ulang tahun Mas, 1507. Kalau kurang, bilang. Jangan jajan sembarangan."
Farah mengangguk lagi.
Hendra berdiri, mau ambil kunci mobil. Tapi langkahnya berhenti di pintu.
Dia balik lagi.
"Farah."
"Ya, Mas?"
Hendra kelihatan ragu. Untuk pertama kalinya sejak menikah, dia kelihatan tidak se-tenang biasanya.
"Mas boleh... pamit dengan benar nggak?"
Farah bingung. "Pamit dengan benar gimana?"
Hendra menunjuk keningnya sendiri, lalu menunjuk kening Farah, dengan isyarat malu-malu.
"Biasanya... suami istri kan... kalau suami mau pergi lama..."
Farah langsung paham. Mukanya merah sampai ke telinga. Jantungnya jedag-jedug. Selama ini Hendra bahkan tidak pernah sentuh tangannya lama-lama, apalagi...
Tapi ini Hendra. Yang seminggu ini jaga dia tanpa minta apa-apa.
Farah memejamkan mata, mengangguk pelan. "Boleh, Mas."
Hendra mendekat. Pelan sekali. Tidak buru-buru. Dia menunduk, dan dengan sangat hati-hati, mengecup kening Farah yang masih tertutup jepit kupu-kupu miring itu.
Ciuman pertama mereka. Bukan di bibir. Di kening. Hangat, singkat, tapi berat.
"Jaga diri baik-baik ya, istri Mas," bisiknya tepat di atas kening Farah.
Farah membuka mata. Matanya berkaca-kaca.
"Mas juga. Jangan ngebut. Jangan lupa makan."
Hendra tersenyum, mengusap ujung kacamata bulat Farah yang berembun.
"Mas pergi ya. Tiga hari aja. Habis itu Mas pulang, kita beresin sisa kripik singkong kemarin sama-sama."
Pintu tertutup.
Mobil double cabin hitam itu mundur dari garasi.
Farah masih berdiri di ruang tengah, memegang keningnya yang baru dicium. Rumah itu mendadak sepi. Sepi banget.
Dia melihat ke sofa — tempat Hendra biasa tidur di karpet bawahnya. Selimutnya masih terlipat rapi.
Baru tiga jam Hendra pergi, Farah sudah bolak-balik cek HP.
Mas udah sampai mana?
Belum sempat dia kirim, HP-nya bergetar duluan.
Mas Hendra: Baru sampai Lawang. Kangen rumah.
Mas Hendra: Eh, maksudnya kangen suasana rumah.
Farah senyum-senyum sendiri seperti orang bodoh. Membalas cepat sambil masih memegang keningnya.
Farah: Hati-hati, Mas. Rumahnya juga kangen Mas.
Di Surabaya, di rest area, Hendra membaca balasan itu. Dia senyum lebar sampai supir truk sebelahnya bingung.
Tiga hari terasa lama untuk dua orang yang baru belajar jatuh cinta.
---
BAB 9 : Video Call Jam 9
Jam 20.58.
Farah sudah mandi. Pakai piyama yang sama — kaos oversize gambar kucing. Rambutnya masih basah, dijepit lagi pakai jepit kupu-kupu kuning yang kemarin. Kacamata bulatnya sudah dilap bersih.
Laptop laporan sudah mati. TV mati. Rumah besar itu hening.
Di atas sofa, HP Farah dipegang dengan dua tangan. Layarnya masih hitam. Dia cek jam lagi.
20.59.
Kok Mas belum nge-call? Jangan-jangan Mas capek banget di proyek? Jangan-jangan sinyal di Surabaya jelek?
Pikiran Farah kemana-mana. Baru sehari ditinggal, dia sudah jadi overthinker.
Tepat jam 21.00.
TING TONG — Video Call dari Mas Hendra
Farah kaget sampai hampir jatuh dari sofa. Langsung diangkat, tapi suaranya ditahan biar tidak kelihatan kangen banget.
"Halo?"
Di layar, Hendra kelihatan capek. Helm proyeknya sudah dilepas, rambutnya berantakan kena keringat. Di belakangnya tembok hotel yang putih polos. Dia pakai kaos oblong yang sama kayak di rumah.
"Hai," suara Hendra serak. "Maaf telat 10 detik. Tadi Mas berantem sama sinyal hotel."
Farah ngakak. "Berantem gimana?"
"Mas ancam, kalau sinyalnya nggak bagus, Mas nggak bakal kasih bintang 5."
Farah ketawa lagi. Ketawa yang lepas. Hendra di layar diam, merhatiin.
"Kenapa Mas liatin aku gitu?" Farah jadi salting, benerin kacamatanya.
"Mas kangen lihat pemandangan itu," kata Hendra pelan.
"Pemandangan apa?"
"Kupu-kupu kuning sama kacamata bulat di sofa Mas."
Farah langsung merah. Nunduk.
"Mas Hendra... di sana gimana? Capek ya?"
Hendra menghela napas, nyender ke headboard hotel. "Capek. Panas. Mandornya bikin pusing. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Tapi tadi di lapangan, Mas lihat warung jual kripik singkong. Langsung inget kamu ngomong 'pedas!' sambil batuk kemarin. Jadi capeknya hilang."
Farah menggigit bibir. Hatinya anget.
"Mas..."
"Hmm?"
"Aku... rumah sepi banget Mas. Biasanya ada yang nanya 'sudah makan?' Ada selimut di bawah sofa. Sekarang nggak ada."
Hendra di layar tersenyum. Senyum yang beda. Lebih lembut.
"Mas juga. Kamar hotel ini gede, dingin. Nggak ada suara laptop. Nggak ada yang manyun gara-gara laporan BPJS. Sepi."
Hening beberapa detik. Cuma saling lihat lewat layar.
Terus Farah iseng. Dia ambil toples kripik singkong yang sisa setengah kemarin, dia tunjukin ke kamera.
"Sisa segini Mas. Aku nggak berani habisin sendirian. Nungguin Mas pulang."
"Jangan dihabisin. Itu tugas negara. Kita harus habisin berdua," jawab Hendra serius, padahal ngomongin kripik.
Terus Hendra tiba-tiba mendekatkan wajahnya ke kamera.
"Farah, deketin HP-nya."
Farah nurut, deketin HP sampai mukanya full di layar, kacamata bulatnya kelihatan jelas.
Hendra di seberang, mengecup layar HP-nya. Cup.
Farah bengong.
"Mas ngapain?!"
"Cium kening. Versi online. Soalnya yang offline jatahnya sudah Mas pakai pagi tadi. Jadi ngutang dulu yang online."
Farah ngakak sambil nangis kecil. Campur aduk.
"Mas Hendra genit ya ternyata?"
"Genitnya cuma sama istri Mas yang pakai jepit kupu-kupu."
Jam 21.47. Hampir satu jam video call. Tidak ada yang mau matiin duluan.
Sampai akhirnya Hendra yang ngalah.
"Udah ya Sayang, kamu tidur. Besok kamu kerja pagi kan? Mas anter nggak ada, kamu jangan naik angkot sendirian, pesen taksi online ya, biar Mas tenang. Uangnya pakai yang di laci."
"Mas cerewet," Farah manyun, tapi manyun manja.
"Memang. Cerewetnya cuma sama kamu."
"Mas..."
"Ya?"
"Selamat malam, Mas."
"Selamat malam, istri Mas yang cantik pakai kacamata bulat."
Call berakhir.
Farah masih pegang HP, masih di sofa yang sama. Tapi kali ini dia tidak merasa sepi. Di layar HP-nya, foto screenshot tadi — wajah Hendra yang capek tapi senyum — dia jadikan wallpaper.
Di Surabaya, Hendra rebahan, menatap langit-langit hotel. Di sampingnya, toples kripik singkong kecil yang baru dia beli siang tadi, belum dibuka.
Nunggu pulang. Habisin berdua.
---
BAB 10 : Om-Om
Hari ke-3. Harusnya Hendra baru pulang besok.
Farah jaga sore di RS. Jam 16.30, dia baru keluar dari ruang admin mau ke apotek, nitip laporan.
Di lobi depan IGD, dia berhenti.
Aril berdiri di sana. Pakai kemeja putih yang dulu Farah yang setrikain buat lamaran. Di sebelahnya tidak ada Tari.
"Farah."
Farah kaku. Tangannya langsung dingin megang map laporan.
"Aril? Ngapain kamu di sini?"
Aril senyum. Senyum yang dulu bikin Farah luluh, sekarang bikin Farah mual.
"Aku nungguin kamu. Aku denger kamu udah masuk kerja lagi. Aku mau ngomong."
"Ngomong apa lagi, Ril? Kemarin kamu ninggalin aku di pelaminan. Di depan 300 orang. Kurang apa lagi?"
Aril mendekat, suaranya pelan tapi menusuk.
"Aku tau kamu marah. Tapi... Farah, please. Jangan ngelawak deh. Kamu nikah sama Om Hendra? Om ku sendiri? Yang umurnya beda 10 tahun sama kamu?"
Farah mundur selangkah.
"Aril, jaga mulut kamu."
"Jaga gimana? Farah, aku tau kamu. Kamu tuh gengsi. Kamu nikah sama Om Hendra cuma karena malu kan? Karena nggak ada yang mau sama kamu setelah aku tinggalin? Kamu sampai mau sama Om-om?"
Kata "Om-om" itu keluar dengan nada jijik.
"Om Hendra itu kaku, tua, membosankan! Dia nggak bakal bisa bikin kamu bahagia kayak aku! Dia nikahin kamu cuma karena kasihan! Karena tanggung jawab!"
Itu meledak.
Farah yang selama ini diam, yang seminggu ini coba kuat, matanya langsung berkaca-kaca. Tapi bukan sedih. Marah.
"CUKUP, ARIL!"
Semua orang di lobi IGD nengok. Suster, satpam, pasien.
"Kamu yang ninggalin aku! Kamu yang pergi sama Tari, sahabatku sendiri! Sekarang kamu hina suami aku? Mas Hendra nggak pernah bikin aku malu di depan orang! Mas Hendra nggak pernah bilang aku kayak ibu-ibu pakai kacamata! Mas Hendra ada pas aku butuh! Kamu di mana?!"
Aril ketawa sinis. "Alah, bela Om-om mu itu. Paling juga sebulan kamu diceraiin. Lihat aja."
Dia mau narik tangan Farah.
Tangannya belum sempat nyentuh.
BRAK.
Sebuah dorongan keras dari samping.
Aril terhuyung ke belakang, hampir jatuh nabrak kursi tunggu IGD.
Semua orang kaget.
Hendra berdiri di sana.
Masih pakai sepatu boots proyek yang berdebu, kemeja hitamnya basah keringat. Tas ransel besarnya masih di punggung. Jelas baru turun dari mobil Surabaya-Malang tanpa pulang ke rumah dulu. Langsung ke RS.
Nafasnya ngos-ngosan. Matanya merah.
Dia tidak pukul. Dia dorong Aril menjauh dari Farah, lalu langsung berdiri di depan Farah, jadi tameng.
"JANGAN PERNAH SENTUH ISTRI SAYA LAGI."
Suara Hendra pelan. Tapi semua orang di lobi diam. Itu suara bos proyek yang biasa teriak di lapangan. Dingin, dewasa, mengintimidasi tanpa harus teriak.
"Aril," Hendra menatap keponakannya sendiri. "Om didik kamu dari kecil. Om ajarin kamu tanggung jawab. Ini yang kamu sebut tanggung jawab? Tinggalin wanita di pelaminan, terus balik hina dia karena dia mau bangkit?"
"Om... Om nggak tau apa-apa! Farah itu..."
"Farah itu ISTRI OM sekarang," potong Hendra. "Dan kalau kamu hina istri Om sekali lagi dengan kata Om-om, tua, kasihan... Om lupa kamu itu keponakan Om."
Hendra tidak mukul. Dia tidak perlu.
Dia balik badan, lihat Farah yang sudah gemetaran, kacamata bulatnya berkabut karena nangis ditahan.
Tanpa peduli dilihat satu lobi IGD, Hendra buka ranselnya, ambil sesuatu.
Jepit kupu-kupu kuning cadangan. Yang kemarin dia beli diam-diam di minimarket Surabaya karena ingat Farah.
Dia pasangin pelan di rambut Farah yang berantakan.
"Udah, Sayang. Nggak usah dengerin. Kamu cantik. Bahkan pas nangis pakai kacamata bulat gini, kamu tetap cantik. Ayo pulang. Mas sudah pulang."
Farah yang tadinya nahan tangis, jebol. Dia langsung peluk Hendra. Pelukan pertama yang Farah kasih duluan. Erat. Di depan Aril. Di depan satu rumah sakit.
Aril cuma bisa diam. Mukanya pucat. Baru kali ini dia lihat Farah dipeluk seperti itu — dilindungi, bukan dipermalukan.
Hendra mengelus punggung Farah, sambil menatap Aril untuk terakhir kalinya.
"Pulang, Ril. Urusan kamu sama Tari, urus sana. Urusan Farah, sudah jadi urusan Mas."
Hendra gandeng tangan Farah keluar dari lobi. Tidak naik angkot. Tidak naik taksi online. Menuju double cabin hitamnya yang parkir di depan IGD dengan hazard menyala — tanda buru-buru.
Di dalam mobil, Farah masih sesenggukan.
"Mas kok udah pulang? Katanya besok?"
Hendra menyalakan AC, menyodorkan tisu dan toples kripik singkong baru yang masih segel dari Surabaya.
"Tadi video call, Mas lihat mata kamu sembab. Mas nggak tenang. Jadi Mas kebut dari Surabaya jam 4 pagi. Tugas Mas kan jaga kamu. Nggak boleh bolong tiga hari."
Farah memeluk toples kripik itu seperti memeluk sesuatu yang berharga.
"Mas... makasih udah belain aku..."
Hendra menyalakan mobil, tapi sebelum jalan, dia kecup kening Farah lagi. Kali ini lebih lama dari yang di pagi hari itu.
"Bukan belain. Itu memang tugas Mas. Sekarang dan selamanya."
Mobil itu jalan pelan meninggalkan RS, meninggalkan Aril yang masih berdiri kaku di lobi.
Untuk pertama kalinya sejak akad itu, Farah tidak duduk di pinggir. Dia duduk dekat, kepalanya nyender di bahu Hendra yang masih bau debu proyek.
Dan Hendra, membiarkannya.
---
BAB 11 : Malam Kepulangan
Perjalanan dari RS ke rumah itu hening. Bukan hening yang canggung. Hening yang lega.
Farah masih nyender di bahu Hendra, toples kripik singkong baru dari Surabaya dipeluk di dada. Kacamata bulatnya agak miring, bekas nangis.
Hendra nyetir dengan satu tangan, tangan satunya sesekali ngusap kepala Farah, benerin jepit kupu-kupu kuningnya yang baru dia pasang.
Sampai di rumah, jam 17.20. Rumah yang tiga hari kosong itu langsung hidup lagi.
Hendra langsung ke kamar mandi, bilas debu proyek. Farah ke dapur, manasin air, bikin teh seperti biasa. Seperti tidak ada kejadian Aril di lobi tadi. Seperti suami istri yang memang sudah bertahun-tahun.
Tapi malamnya beda.
Jam 21.30. Biasanya jam segini Farah sudah di sofa ruang tengah dengan laptop, Hendra di karpet bawahnya. Ritual kripik dan laporan.
Malam ini, Farah tidak bawa laptop. Dia berdiri di depan pintu kamar kerja Hendra, masih pakai piyama kucingnya, rambutnya sudah tidak dijepit, digerai. Kacamata bulatnya dilepas, jadi matanya kelihatan sembab tapi jernih.
Hendra yang lagi lipat kaos proyek, kaget.
"Farah? Kok belum tidur? Capek kan tadi di RS?"
Farah meremas ujung kaosnya. Gugup. Ini pertama kalinya dia yang minta duluan.
"Mas..."
"Ya, Sayang?"
"Boleh... boleh aku pindah ke kamar utama? Tapi... Mas juga di sana ya?"
Hendra berhenti melipat. Menatap Farah lama.
Kamar utama itu besar. Ranjang king size. Selama ini Farah tidur di sana sendirian, Hendra di kamar kerja yang kecil dengan karpet tipis.
Farah buru-buru menjelaskan, takut disalahpahami.
"Maksud aku... aku nggak mau sendirian lagi, Mas. Tiga hari Mas nggak ada, aku tidur nggak enak. Tadi di RS juga... habis ketemu Aril... aku takut. Bukan takut Aril-nya, tapi takut... sepi lagi. Kalau Mas di kamar kerja, aku di kamar utama, jaraknya jauh."
Suaranya makin kecil.
"Lagipula... ranjangnya kebesaran buat aku sendiri, Mas."
Hendra mendekat. Pelan. Dia jongkok lagi, biar matanya sejajar dengan Farah. Kebiasaannya kalau mau ngomong serius.
"Farah, Mas tanya sekali aja, kamu yakin?"
Farah mengangguk. Anggukannya mantap, bukan karena dipaksa.
"Yakin, Mas. Aku mau Mas di sana. Aku... nyaman kalau ada Mas."
"Kalau Mas di sana, Mas tidur di sisi sebelah sini ya," Hendra menunjuk sisi pinggir ranjang. "Kamu di sisi dekat jendela, yang biasa kamu pakai. Kita kasih guling di tengah kalau kamu mau. Mas nggak akan nyentuh kamu kalau kamu nggak mau. Janji."
Farah malah yang jawab, "Nggak usah pakai guling, Mas."
Hendra melongo. "Hah?"
"Pakai guling, nanti jatuh, Mas. Kan ranjangnya gede," Farah berusaha bercanda biar tidak terlalu tegang, tapi pipinya merah.
Akhirnya mereka pindah. Dua bantal, dua selimut terpisah, tapi satu ranjang.
Lampu utama dimatikan. Lampu tidur kuning dinyalakan.
Farah tiduran menghadap langit-langit, kaku. Hendra tiduran di sisi sebelahnya, juga kaku, menatap langit-langit. Jarak di antara mereka cuma satu jengkal, tapi terasa seperti janji yang dijaga.
Lima menit hening.
"Mas," bisik Farah.
"Hmm?"
"Mas masih capek ya? Habis nyetir Surabaya-Malang?"
"Capek badannya hilang pas lihat kamu tadi di RS," jawab Hendra jujur. "Tapi ngantuknya masih ada."
Farah miring, menghadap Hendra. Hendra ikut miring, menghadap Farah.
Tanpa kacamata, tanpa jepit kupu-kupu, wajah Farah kelihatan polos banget. Mata sembabnya kelihatan jelas di lampu temaram.
"Mas, makasih ya udah pulang cepet."
"Mas yang harusnya makasih," kata Hendra. "Makasih udah bolehin Mas pindah kamar. Kamar kerja itu punggung Mas sakit semua tidur di karpet."
Farah ngakak kecil. "Makanya, Mas. Sudah Om-om, tidur di karpet."
"Om-om lagi?" Hendra pura-pura manyun.
Farah memberanikan diri. Pelan-pelan, tangannya menarik ujung selimut Hendra, menyatukan dengan selimutnya sendiri di tengah.
"Mas... boleh aku pegang tangan Mas nggak? Buat tidur?"
Hendra tidak jawab pakai kata. Dia langsung ulurkan tangannya, telapaknya terbuka di tengah ranjang.
Farah menaruh tangannya di atasnya. Kecil, dingin, sedikit gemetar.
Hendra menggenggamnya. Hangat. Besar. Menenangkan.
Tidak ada ciuman. Tidak ada pelukan yang berlebihan. Hanya dua tangan yang saling menggenggam di tengah ranjang king size yang kebesaran.
"Selamat malam, istri Mas," bisik Hendra.
"Selamat malam, Mas suami aku," bisik Farah, dan untuk pertama kalinya dalam sebulan, dia tertidur bukan karena lelah menangis, tapi karena merasa pulang.
Di luar, Malang dingin. Di dalam kamar utama, dua selimut terpisah akhirnya jadi satu di tengah, karena dua tangan yang bergandengan.
---
BAB 12 : Kekepan Pagi
Jam 05.40 pagi. Malang masih berkabut.
Farah kebangun duluan karena alarm RS-nya belum dimatiin. Biasanya jam segini dia sudah rempong cari jilbab.
Tapi pagi ini... nggak bisa gerak.
Selimut yang kemarin dua, sekarang jadi satu. Dan dia... sudah tidak di sisi jendela lagi.
Dia ada di tengah. Tepat di pelukan Hendra.
Hendra tidur miring, satu tangannya jadi bantal di bawah kepala Farah, satu tangannya lagi melingkar di pinggang Farah, nge-kep. Erat. Seperti anak kecil meluk guling kesayangan.
Nafas Hendra teratur, masih terlelap. Wajahnya yang biasanya tegas, kalau tidur kelihatan jauh lebih muda. Rambutnya berantakan.
Farah bengong. Pipinya langsung panas.
Lho? Lho kok bisa di sini? Perasaan tadi malam pegangan tangan aja? Kok sekarang...
Dia coba gerak pelan. Nggak bisa. Kekepan Hendra itu... kuat. Kuatnya kuli proyek.
"Mas... Mas Hendra..." bisik Farah kecil, nyoba bangunin.
Hendra malah, dalam tidur, makin ngeratin pelukannya. Dagunya nempel di atas kepala Farah.
"Hmm... Sayang... jangan kemana-mana... masih pagi..." ngigau.
Farah: "..."
Jantung Farah jedag-jedug kayak habis lari keliling RS. Mau bangun nggak bisa. Mau teriak, takut Hendra kaget. Mau diem, malah makin salting karena wangi sabun Hendra kecium jelas.
Akhirnya Farah nyerah. Dia diem aja dalam pelukan itu. Kacamata bulatnya ada di nakas, jadi pandangannya blur, cuma lihat kaos Hendra dari dekat.
Lama-lama... nyaman.
Tanpa sadar, Farah malah ngelus pelan lengan Hendra yang melingkar itu.
Detik itu juga, Hendra kebangun.
Matanya buka, langsung ketemu mata Farah yang melek duluan, jaraknya cuma 20 cm.
Hening 3 detik.
Hendra kaget. Langsung lepas pelukannya kayak kesetrum.
"ASTAGHFIRULLAH! FARAH!"
Dia duduk tegak, panik, mukanya merah padam sampai ke leher.
"Maaf! Maaf ya Sayang! Mas nggak sengaja! Mas tidurnya ngelindur! Mas biasa kalau udah nyenyak ngerasa meluk guling! Sumpah Mas nggak sengaja kekep kamu! Kamu nggak apa-apa? Mas nyakitin kamu nggak?"
Farah yang tadinya mau marah, jadi ngakak lihat Hendra panik kayak maling ketahuan.
"Mas... Mas Hendra..."
"Ya Allah, Mas minta maaf ya. Mas ke kamar kerja lagi aja ya malam ini? Mas kebangetan..."
Farah langsung narik lagi tangan Hendra yang mau pergi.
"Mas mau kemana?"
"Ke... ke kamar kerja..."
"Jangan," kata Farah pelan, tapi jelas. Masih dengan muka merah.
"Kenapa?"
"Soalnya..." Farah nunduk, mainin ujung selimut yang jadi satu itu. "Soalnya anget, Mas. Kekepan Mas anget. Aku... tadi mau bangun nggak bisa, tapi lama-lama enak."
Sekarang giliran Hendra yang bengong.
Farah memberanikan diri ngangkat muka lagi, matanya nggak pakai kacamata jadi kelihatan sayu.
"Mas, boleh... kekep lagi nggak? Sebentar aja. Sebelum aku harus mandi dan Mas harus anter aku kerja lagi?"
Hendra yang 34 tahun, yang biasa ngadepin mandor-mandor galak di proyek tol, pagi itu kalah telak.
Dia pelan-pelan balik ke posisi semula. Kali ini tidak ngelindur. Kali ini sadar penuh.
Dia menarik Farah lagi ke pelukannya. Tidak erat seperti tadi yang kelepasan. Tapi pas. Dagu di kepala, tangan di pinggang, melindungi.
"Gini?" bisik Hendra di atas kepala Farah.
Farah mengangguk di dalam pelukannya. "Gini aja, Mas. Jangan dilepas dulu."
Jam 05.40 jadi jam 06.00. Alarm kedua bunyi. Tidak ada yang matiin.
Di kamar utama yang dulu terasa kebesaran, pagi itu terasa pas. Karena akhirnya tidak ada lagi sisi Mas dan sisi Farah.
Yang ada sisi kita.
---
BAB 13 : Bucinnya Hendra Nggak Ketolong
Sejak insiden "kekepan pagi" itu, Hendra resmi berubah status dari "Suami Green Flag" menjadi "Suami Green Flag TAPI Bucin Parah Nggak Ketolong".
Dan korbannya adalah satu RS.
---
Jam 07.00 - Sesi Anter
Biasanya Hendra cuma bukain pintu mobil.
Sekarang?
"Sayang, hati-hati turunnya," sambil pegangin tangan Farah, sambil pegangin tas, sambil pegangin bekal, sambil benerin jilbab Farah yang ketiup angin.
Satpam RS yang lihat cuma bisa bisik ke OB, "Itu suami Bu Farah yang Om-om itu ya? Kok sekarang kayak perangko, nempel terus?"
Farah malu. "Mas, udah. Aku bisa sendiri masuknya."
Hendra malah ngeluarin dari saku jaket proyeknya: jepit kupu-kupu kuning cadangan.
"Nih, Mas bawain. Tadi pagi Mas lihat yang di rambut kamu udah agak longgar. Ganti yang baru ya biar nggak jatuh pas kerja."
Farah: "...Mas bawa jepit kupu-kupu ke proyek?"
"Iya. Mas taruh di toolbox. Biar kalau kangen, Mas bisa lihat."
Satu lobi admin pingsan.
Jam 10.00 - Sesi Chat Teror
Farah lagi input data BPJS.
HP getar.
Mas Hendra: Sayang lagi apa?
Mas Hendra: Sudah minum?
Mas Hendra: [Foto selfie di lapangan, muka belepotan debu, tapi senyum] Mas lagi break. Kangen.
Farah balas: Lagi kerja Mas.
5 menit kemudian getar lagi.
Mas Hendra: Mas beliin es teh ya? Mas titip Gojek ke lobi.
10 menit kemudian, beneran ada Gojek datang bawa 2 es teh dan satu note tulisan tangan Hendra yang jelek:
"Buat istri Mas yang cantik pakai kacamata bulat. Jangan lupa senyum. - Mas yang bucin"
Siska, teman admin, sampai teriak, "FARAH! SUAMI LO NULIS SURAT CINTA PAKE TULISAN CAKAR AYAM?!"
Jam 12.00 - Sesi Makan Siang
Hendra izin setengah hari dari proyek. Datang ke RS bawa rantang.
"Mas, katanya ada meeting penting?" tanya Farah.
"Meetingnya Mas pending. Soalnya di otak Mas isinya cuma 'istri Mas udah makan belum ya?' Jadi nggak fokus."
Dia buka rantang di ruang admin, nyuapin Farah di depan semua suster.
"Sayang, a..."
"Mas! Malu dilihatin orang!" Farah mau nangis malu, tapi mangap juga.
"Benar kata orang-orang, Mas Om-om?" Hendra malah nanya keras, biar se-RS denger.
"Om-om tapi yang disuapin istrinya sendiri. Bukan istri orang. Bangga, Mas."
Satu ruangan admin: "AWWWWWW."
Jam 15.00 - Sesi Jemput
Ini yang paling parah.
Farah baru keluar dari pintu RS, Hendra sudah berdiri sandaran di mobil double cabin-nya. Kemeja proyeknya setengah dibuka, lengan digulung, topi proyek dipegang.
Gaya ala-ala drama Korea.
Begitu Farah deket, Hendra langsung ambil alih tas, lalu tanpa aba-aba, kecup kening Farah di depan satpam, OB, tukang parkir, dan Aril yang kebetulan lewat mau jenguk Tari yang ternyata opname DBD.
Aril cuma bisa melongo lihat Farah yang dulu dia tinggalin di pelaminan, sekarang pulang dijemput dengan kening dicium dan tangan digandeng erat.
Farah bisik, "Mas, Aril ada..."
Hendra malah makin erat gandengnya, dan ngomong cukup keras biar Aril denger,
"Oh iya, Sayang, tadi Mas beliin kripik singkong lagi 2 toples. Satu pedas, satu original. Nanti malam kita habisin sambil video call-an lagi ya? Walaupun udah serumah, Mas tetap mau video call-an sama kamu."
Bucin. Level akhir.
Di mobil, Farah akhirnya nyerah. Dia ngakak, mukul lengan Hendra pelan.
"Mas Hendra! Mas kenapa jadi alay gini sih?! Dulu kan kalem, cool, dewasa!"
Hendra nyetir sambil senyum, satu tangannya nggak lepas gandeng tangan Farah.
"Dulu Mas kalem karena belum punya yang bikin Mas mau alay, Sayang. Sekarang Mas punya kamu. Jadi semua cool-nya Mas habis. Tinggal bucinnya."
Farah menyandarkan kepalanya di bahu Hendra, kacamata bulatnya naik ke atas kepala.
"Ya udah, nggak apa-apa. Aku suka Mas yang bucin. Daripada yang cool tapi ninggalin aku di pelaminan."
Hendra langsung rem mendadak di pinggir jalan. Parkir.
"Sayang, ulangi."
"Ulangi apa?"
"Yang barusan. Kamu suka Mas."
Farah merah padam.
"Nggak mau. Tadi keceplosan."
"Ulangi, nanti Mas beliin seblak."
"...Aku suka Mas yang bucin."
Hendra langsung peluk Farah di dalam mobil. Peluk yang erat, yang bikin Farah susah napas, tapi nggak mau lepas.
"Alhamdulillah. Akhirnya. Mas tunggu kalimat itu dari hari pertama akad."
Dan sore itu, double cabin hitam itu lama parkir di pinggir jalan. Tidak jalan-jalan. Di dalamnya ada dua orang yang baru belajar, bahwa cinta yang dewasa itu kadang memang harus jadi bucin dulu, baru bisa jadi rumah.
--BAB 14 : Malam Pertama yang Sesungguhnya
Malam itu rumah hujan.
Malang hujan deras dari jam 7. Listrik sempat mati sebentar, lalu hidup lagi. Lampu kamar utama jadi temaram kekuningan.
Farah baru selesai sholat Isya. Mukena masih dipakai setengah, rambutnya masih basah habis wudhu. Kacamata bulatnya ditaruh di nakas. Di luar, suara hujan di atap seng garasi Hendra keras banget.
Hendra duduk di tepi ranjang, masih pakai kaos oblongnya, lagi lipat sajadah. Sejak pindah ke kamar utama, ritual mereka memang begitu. Sholat berjamaah kalau Hendra di rumah, lalu ngobrol ngalor-ngidul sampai ngantuk, dengan tangan yang tetap bergandengan.
Malam ini, Farah tidak langsung naik ke ranjang.
Dia berdiri di depan Hendra yang duduk.
"Mas," panggilnya pelan.
Hendra mendongak. "Ya, Sayang?"
Farah gugup. Jari-jarinya meremas ujung mukena. Pipinya merah, tapi matanya mantap. Tidak lagi sembab, tidak lagi takut.
"Mas masih inget nggak, malam pertama kita dulu?"
Hendra langsung duduk tegak. "Inget, Sayang. Waktu itu kamu syok. Mas janji kasih ruang."
"Iya. Mas tepati janji itu. Seminggu, dua minggu, sebulan. Mas nggak pernah maksa. Bahkan pas kekepan pagi itu, Mas langsung minta maaf."
Farah menarik napas panjang.
"Mas, aku mau bilang..."
Dia duduk di sebelah Hendra, pelan-pelan meraih tangan Hendra yang besar itu, menggenggamnya dengan dua tangannya yang kecil.
"Aku sudah siap, Mas."
Hening. Cuma suara hujan.
Hendra menatap Farah dalam-dalam. Tidak langsung mengangguk. Justru dia yang memastikan.
"Siap apa, Sayang? Mas mau denger dari kamu dengan jelas. Jangan karena kamu merasa hutang budi. Jangan karena kamu kasihan sama Mas yang bucin. Jangan karena hujan."
Farah tersenyum. Senyum yang paling berani yang pernah dia kasih sejak akad itu.
"Siap jadi istri Mas seutuhnya. Bukan karena hutang. Bukan karena kasihan. Karena aku... aku sudah cinta sama Mas, Mas Hendra."
Kata cinta itu akhirnya keluar. Bukan dari Hendra yang bucin, tapi dari Farah.
Hendra matanya berkaca-kaca. Laki-laki 34 tahun yang tegar di proyek tol itu, berkaca-kaca karena satu kalimat.
"Farah, kamu yakin? Mas bisa tunggu lebih lama lagi. Seumur hidup pun Mas tunggu."
"Aku yakin, Mas. Aku mau. Sama Mas."
Malam itu, untuk pertama kalinya, Hendra tidak tanya lagi. Dia mengangguk, mengusap air mata Farah yang jatuh, lalu mengecup keningnya — lama, dalam, penuh doa.
Lampu tidur kuning itu dimatikan oleh Farah sendiri.
Tidak ada yang perlu diceritakan detail setelahnya. Karena malam pertama yang sesungguhnya bukan tentang apa yang terjadi di atas ranjang. Tapi tentang dua orang yang akhirnya saling memilih dengan sadar.
Tentang Farah yang akhirnya menyerahkan rasa takutnya, dan Hendra yang akhirnya menerima rasa cintanya dengan tanggung jawab penuh.
---
PAGINYA.
Jam 06.30. Alarm tidak bunyi. Keduanya kesiangan.
Farah terbangun di pelukan yang sama seperti kemarin, tapi kali ini beda. Tidak ada jarak. Tidak ada selimut terpisah. Tidak ada guling.
Hanya Farah yang kepalanya di dada Hendra, mendengarkan detak jantungnya yang tenang.
Hendra sudah bangun duluan, mengelus rambut Farah yang berantakan tanpa jepit kupu-kupu.
"Pagi, istri Mas," bisiknya, suaranya serak bangun tidur.
Farah mengerjap, masih ngantuk, lalu senyum malu-malu.
"Pagi, Mas suami aku."
"Gimana tidurmu semalam? Nyenyak?"
Farah mengangguk, menyembunyikan wajahnya di dada Hendra.
"Nyenyak banget, Mas. Paling nyenyak sebulan ini."
Hendra tertawa kecil, mengecup puncak kepala Farah.
"Mas juga. Akhirnya Mas nggak perlu tidur di karpet lagi."
Di luar, hujan sudah reda. Matahari Malang muncul malu-malu.
Di dalam kamar utama itu, dua orang berpelukan lebih lama. Tidak buru-buru berangkat kerja. Tidak buru-buru jadi bucin di depan RS.
Karena pagi itu, mereka akhirnya benar-benar pulang — satu sama lain.
---
BAB 15 : Dua Garis
Dua bulan setelah malam hujan itu.
Farah telat 10 hari.
Awalnya dia kira kecapekan laporan BPJS. Tapi Siska yang di admin yang sadar duluan.
"Far, muka kamu pucet banget. Mual mulu. Jangan-jangan..."
Farah iseng beli testpack di apotek RS pas jam istirahat. Iseng. Karena dia pikir, ah mana mungkin secepat ini.
Sore itu, di kamar mandi kamar utama, dengan Hendra yang lagi di garasi cuci mobil double cabin-nya sambil bersenandung — karena sekarang hobi barunya adalah bersenandung kalau lagi bucin — Farah menunggu.
Dua garis. Jelas. Merah.
Tangan Farah gemetar. Kacamata bulatnya berkabut.
"MAS! MAS HENDRA!"
Hendra yang lagi pegang selang, langsung lempar selang. Lari masuk rumah dengan sandal jepit sebelah, kaos basah.
"Kenapa Sayang? Ada apa? Kamu jatuh?"
Farah keluar dari kamar mandi, nangis, ketawa, bingung, sambil nyodorin testpack itu.
Hendra diam. 5 detik. 10 detik.
Lalu...
"Ya Allah..." Dia jatuh duduk di lantai, tepat di depan kaki Farah. Bukan karena lemas. Karena sujud syukur, masih pakai kaos basah.
"Farah... ini... kita..."
Farah ikut jongkok, meluk Hendra yang masih di lantai.
"Mas, kita jadi orang tua, Mas."
Hendra yang biasanya kalem, yang biasanya cool pas dimarahin mandor, malam itu nangis. Nangis beneran di pelukan Farah.
"Mas... Mas mau jadi bapak, Sayang? Mas yang Om-om ini mau jadi bapak?"
"Bukan Om-om," Farah ngusap air mata Hendra, "Bapak. Bapak Hendra."
Sejak detik itu, level bucin Hendra naik ke level yang tidak ada di kamus.
---
BAB 16 : Bucin Level Bapak
Keesokan harinya, satu RS heboh lagi.
Pak Hendra, suami Bu Farah, datang bawa 3 rantang.
Rantang 1: bubur ayam tanpa lada.
Rantang 2: buah potong.
Rantang 3: susu hamil yang dia beli setelah nanya 3 apoteker.
"Sayang, kata apoteker harus makan asam folat. Mas sudah beliin. Nanti Mas suapin ya?"
Farah yang lagi mual-mualnya di trimester pertama, mau marah tapi nggak bisa. Karena Hendra ngomongnya sambil elus punggung Farah pelan.
Siska berbisik, "Far, suami lo bucinnya udah nggak ketolong, sekarang ditambah mode bapak-bapak siaga 1."
Malamnya, Hendra tidak lagi tidur meluk guling. Dia tidur dengan satu tangan di perut Farah yang masih rata.
"Mas ngomong apa sih?" tanya Farah.
"Mas ngobrol sama anak Mas," jawab Hendra serius. "Mas bilangin, 'Nak, jangan bikin Ibu mual ya. Ibu capek kerja. Nanti kalau lahir, Bapak yang begadang. Ibu tidur aja'."
Farah ngakak sampai mualnya hilang.
"Mas, anaknya masih sebesar biji kacang ijo, Mas."
"Kacang ijo Mas pun, Mas sayang," kata Hendra, lalu kecup perut Farah yang masih rata itu dengan hati-hati.
---
BAB 17 : Aril Kembali — Versi Paling Menyedihkan
Di sinilah konflik rumah tangga sesungguhnya datang.
Minggu ke-8 kehamilan Farah. Kandungan masih rahasia, baru keluarga inti yang tau.
Aril datang lagi ke rumah. Tapi kali ini tidak sendiri. Tidak dengan Tari.
Tari sudah tidak ada. Kabarnya, setelah tinggalin Farah di pelaminan, Tari dan Aril cuma bertahan 3 minggu. Berantem terus.
Aril datang dengan muka kuyu, bawa martabak — martabak kesukaan Farah dulu.
"Farah, aku bisa ngomong berdua nggak?"
Hendra yang bukain pintu, langsung berdiri di belakang Farah, tangan di bahu Farah. Tidak mengusir, tapi menjaga.
"Ngomong aja di sini, Ril. Farah lagi nggak enak badan," kata Hendra dingin.
Aril menatap perut Farah yang belum kelihatan, tapi seperti tau.
"Farah... aku denger kamu hamil?"
Farah kaget. Siapa yang kasih tau?
"Dari Tante Rina," lanjut Aril. "Farah, please. Aku nyesel. Aku khilaf. Tari itu cuma pelarian. Aku cinta sama kamu dari dulu. Kamu... kamu mau balik nggak sama aku? Kita bisa... kita bisa urus anak itu bareng. Om Hendra kan sudah tua, dia..."
Belum selesai kalimatnya.
Hendra tidak dorong lagi seperti di RS. Kali ini Hendra maju selangkah.
"Aril."
Satu kata itu bikin Aril diam.
"Kamu datang ke rumah Om, bawa martabak, mau ngajak istri Om yang lagi hamil — anak Om — buat balik sama kamu?"
Hendra suaranya pelan, tapi tangannya mengepal.
"Om tanya sekali, Ril. Waktu Farah nangis di pelaminan, kamu di mana? Waktu Farah mual tiap pagi karena hamil anak Om, kamu di mana? Waktu Farah butuh dianter, disuapin, ditemenin, kamu di mana? Sama Tari?"
Aril menunduk.
Farah yang dari tadi diam, akhirnya maju. Kali ini dia tidak nangis. Dia berdiri di samping Hendra, menggandeng tangan Hendra yang mengepal, membuka kepalan itu dengan lembut.
"Ril," kata Farah, suaranya tenang. Tenang yang dewasa.
"Dulu aku memang mau sama kamu. Tapi kamu yang pilih Tari. Sekarang aku sudah punya Mas Hendra. Dan Mas Hendra nggak pernah bilang aku mau sama Om-om. Mas Hendra bilang aku mau jadi Ibu."
Farah mengelus perutnya sendiri.
"Anak ini bukan anak yang bisa kamu urus bareng. Ini anak aku sama Mas Hendra. Anak yang ditunggu dengan doa, bukan dengan penyesalan."
"Farah..."
"Pulang, Ril. Martabaknya bawa pulang lagi. Aku sudah nggak suka martabak. Sekarang aku sukanya kripik singkong. Yang dibeliin suami aku."
Aril pergi. Dengan martabak yang tidak jadi dibuka.
Setelah pintu tertutup, Farah langsung lemas. Duduk di lantai.
Hendra langsung jongkok, meluk Farah dari belakang, tangannya langsung ngelus perut Farah.
"Sayang hebat. Sayang hebat banget," bisik Hendra berulang kali.
"Mas, aku takut..." Farah nangis di pelukan Hendra.
"Takut kenapa?"
"Takut anak kita nanti nanya, kenapa Bapaknya Om-om..."
Hendra tertawa, sambil nangis juga.
"Biar Mas yang jawab. Mas bakal jawab, 'Karena Bapaknya Om-om ini satu-satunya yang berani maju waktu Ibu kamu ditinggalin di pelaminan. Dan Bapak nggak pernah nyesel'."
Malam itu, Hendra bucinnya naik level lagi. Dia bacain Al-Qur'an, ditempel di perut Farah, sambil sesekali ngomong,
"Nak, ini Bapak. Bapak yang bucin. Bapak yang nggak ketolong."
Dan Farah tertidur di pangkuan Hendra, dengan perut yang mulai berisi, dan hati yang akhirnya penuh.
---