Jangan pernah membuka pintu yang seharusnya sudah terkunci sejak kematian terakhir.
Hujan mengguyur Kota Arunika ketika Nadia Prameswari tiba di Hotel Angsana, bangunan tua yang berdiri di pinggir kota. Dindingnya kusam, jendelanya berdebu, dan sebagian lampu di lobi berkedip seperti hampir mati.
Perempuan berusia dua puluh lima tahun itu datang untuk mencari Kirana, sahabatnya yang menghilang tiga minggu lalu.
Pesan terakhir Kirana masih tersimpan di ponselnya.
Kalau sesuatu terjadi padaku, cari kamar nomor 13. Jangan percaya kepada siapa pun di hotel ini.
Setelah mengirim pesan tersebut, Kirana tidak pernah menghubunginya lagi.
Nadia sudah melaporkan kehilangan sahabatnya kepada polisi, tetapi penyelidikan belum membuahkan hasil. Karena itulah, ia memutuskan mencari petunjuk sendiri.
Di meja resepsionis, seorang lelaki tua berkacamata menyambutnya dengan tatapan aneh.
"Saya mau menginap satu malam," kata Nadia.
Lelaki itu menyerahkan kunci kamar nomor 12 setelah mencatat identitasnya.
Sebelum pergi, Nadia bertanya, "Pak, kamar nomor 13 ada di lantai berapa?"
Senyuman lelaki itu menghilang.
"Kamar itu tidak tersedia."
"Kenapa?"
"Sudah lama tidak digunakan."
"Kalau begitu, kenapa masih ada nomornya?"
Lelaki tua itu menatapnya tajam.
"Saran saya, Nona. Jangan terlalu banyak bertanya kalau ingin tidur dengan tenang."
Nadia merasakan tengkuknya meremang. Namun, ia tidak datang sejauh ini hanya untuk menuruti peringatan seorang resepsionis.
Ia membawa kopernya ke lantai dua.
Lorong hotel terasa sepi. Karpet merah yang membentang di sepanjang koridor tampak lembap, sementara bau anyir samar tercium dari ujung lorong.
Nadia menemukan kamar nomor 12. Tepat di sebelahnya terdapat pintu dengan angka 13 yang hampir terkelupas.
Pintu itu terkunci dan dililit rantai besi.
Ketika Nadia mendekat, terdengar suara ketukan dari dalam.
Tok. Tok. Tok.
Ia membeku.
"Siapa di dalam?" tanyanya pelan.
Tidak ada jawaban.
Nadia menempelkan telinganya ke pintu.
Kemudian terdengar suara perempuan berbisik.
"Nadia ..."
Darahnya terasa membeku.
Itu suara Kirana.
"Nadia, tolong aku."
Nadia buru-buru menarik diri. Ia mencoba membuka rantai pintu, tetapi suara langkah kaki terdengar dari belakangnya.
Seorang perempuan berseragam pelayan berdiri di ujung lorong. Wajahnya pucat, rambutnya tergerai menutupi sebagian pipi.
"Jangan buka pintu itu," katanya.
"Siapa kamu?"
"Namaku Sari. Aku bekerja di sini."
"Suara siapa yang ada di dalam?"
Sari menatap pintu nomor 13 dengan ketakutan.
"Kalau kamu mendengar seseorang memanggil namamu dari kamar itu, jangan pernah menjawab."
"Kenapa?"
"Karena orang yang ada di dalam sudah meninggal."
Nadia menelan ludah.
"Kalau sudah meninggal, kenapa dia bisa bicara?"
Sari tidak menjawab. Ia justru menarik lengan Nadia dan membawanya menjauh.
"Malam ini, tidurlah di kamar lain. Besok pagi, tinggalkan hotel ini."
Namun, Nadia tidak mengindahkan peringatan tersebut.
Malam semakin larut. Hujan belum berhenti ketika Nadia duduk di tepi ranjang, memeriksa kembali pesan-pesan terakhir Kirana.
Pukul 00.13, terdengar ketukan dari pintu kamarnya.
Tok. Tok. Tok.
Nadia mengintip melalui lubang pintu.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia membuka pintu sedikit. Lorong kosong, tetapi sebuah benda tergeletak di depan kamarnya.
Sebuah ponsel dengan layar retak.
Nadia langsung mengenalinya.
Itu ponsel milik Kirana.
Dengan tangan gemetar, ia mengambil benda tersebut. Layarnya menyala sendiri, menampilkan sebuah video berdurasi sebelas detik.
Video itu memperlihatkan lorong hotel yang sama. Kirana berdiri di depan kamar nomor 13 sambil menangis.
Kemudian, seseorang muncul dari belakangnya dan menutup mulutnya dengan kain.
Sebelum video berakhir, Kirana sempat menoleh ke arah kamera.
Bibirnya membentuk satu kata.
Lari.
Tiba-tiba terdengar suara benda jatuh dari kamar nomor 13.
Nadia berlari ke sana. Rantai besi yang sebelumnya melilit pintu kini tergeletak di lantai.
Pintunya terbuka sedikit.
Dari celahnya, mengalir cairan merah gelap yang merayap di atas karpet.
Nadia mendorong pintu itu.
Bau busuk langsung menyergapnya.
Di tengah kamar yang gelap, seorang perempuan terbaring di lantai dengan leher terlilit kabel. Wajahnya pucat, matanya terbuka lebar, dan bibirnya membiru.
Nadia mengenali pakaian yang dikenakan mayat itu.
Itu pakaian Kirana pada hari terakhir mereka bertemu.
Namun, sebelum Nadia sempat mendekat, lampu kamar menyala.
Mayat tersebut menghilang.
Sebagai gantinya, seorang lelaki terbaring di lantai dengan pisau menancap di dadanya.
Nadia menjerit.
Lelaki itu adalah resepsionis yang menerimanya tadi.
Darah menggenangi lantai. Di samping tubuhnya terdapat secarik kertas bertuliskan:
SATU KEMATIAN UNTUK SATU RAHASIA.
Nadia mundur ketakutan. Ia segera menghubungi polisi.
Namun, sebelum panggilannya tersambung, seseorang memukul kepalanya dari belakang.
Semuanya menjadi gelap.
---
Ketika Nadia membuka mata, ia sudah berada di sebuah ruangan bawah tanah. Kedua tangannya terikat pada kursi, sementara lampu redup bergoyang di atas kepalanya.
Di hadapannya berdiri Sari, perempuan berseragam pelayan yang memperingatkannya tadi.
"Kamu seharusnya pergi ketika aku menyuruhmu," kata Sari.
Nadia berusaha melepaskan ikatan tangannya.
"Apa yang kamu lakukan kepada Kirana?"
Sari tersenyum getir.
"Aku tidak membunuhnya."
"Lalu siapa?"
Sebelum Sari menjawab, terdengar suara langkah kaki menuruni tangga.
Seorang lelaki muncul dari balik pintu.
Nadia terbelalak.
Lelaki itu adalah kepala polisi yang menangani laporan hilangnya Kirana.
"Selamat malam, Nadia," sapanya santai.
Nadia menatapnya tidak percaya.
"Kenapa Bapak ada di sini?"
Lelaki itu menarik kursi, lalu duduk di hadapannya.
"Karena kamu terlalu dekat dengan sesuatu yang seharusnya tetap menjadi rahasia."
Ia mengeluarkan sebuah foto lama dan meletakkannya di atas meja.
Foto itu memperlihatkan lima orang berdiri di depan Hotel Angsana, termasuk sang kepala polisi, resepsionis yang baru saja ditemukan tewas, dan seorang perempuan yang wajahnya sangat mirip Sari.
Di belakang foto terdapat tulisan tahun 2018.
"Delapan tahun lalu," ujar lelaki itu, "seorang tamu hotel ditemukan meninggal di kamar nomor 13. Kasusnya ditutup sebagai bunuh diri."
Nadia menatap foto itu dengan napas tertahan.
"Siapa perempuan ini?"
Sari menjawab dengan suara bergetar.
"Kakakku. Namanya Maya."
"Kakakmu meninggal di kamar itu?"
Sari mengangguk.
"Dia dibunuh. Dan orang yang membunuhnya adalah lelaki yang sekarang duduk di depanmu."
Kepala polisi tertawa kecil.
"Perempuan ini sudah lama kehilangan akal sehatnya. Jangan percaya kepadanya."
Sari menatap Nadia.
"Kakakku bekerja di hotel ini. Dia mengetahui bahwa beberapa tamu kaya diperas oleh pemilik hotel menggunakan rekaman rahasia. Ketika kakakku mengancam akan melaporkannya, dia dibunuh."
"Dan polisi menutup kasusnya," sambung Nadia.
"Benar. Aku bekerja di sini untuk mencari bukti. Sampai akhirnya Kirana datang tiga minggu lalu."
Nadia menahan napas.
"Kirana tahu semuanya?"
"Iya. Dia seorang jurnalis lepas. Dia menemukan bukti pembunuhan Maya dan hendak menyerahkannya kepada polisi."
"Tapi dia menghilang."
Sari menunduk.
"Dia dibunuh sebelum sempat melakukannya."
Air mata mengalir di pipinya.
Nadia merasa dadanya sesak. Sahabatnya telah dibunuh, sementara orang yang seharusnya menegakkan hukum justru melindungi pelaku.
Kepala polisi berdiri.
"Cukup. Aku tidak punya waktu untuk drama kalian."
Ia mengeluarkan pistol dari balik jaketnya.
"Setelah kalian mati, semuanya akan berakhir."
Namun, sebelum ia sempat mengangkat senjata, terdengar suara perempuan tertawa dari sudut ruangan.
Tawa itu begitu lirih, tetapi membuat semua orang membeku.
Lampu berkedip.
Satu kali.
Dua kali.
Lalu padam.
Dalam kegelapan, terdengar suara rantai diseret di lantai.
Kepala polisi mengumpat dan menyalakan senter ponselnya.
Cahayanya menyapu dinding, meja, dan wajah Nadia.
Kemudian berhenti pada sosok perempuan yang berdiri tepat di belakangnya.
Perempuan itu mengenakan gaun putih berlumuran darah. Lehernya miring dengan posisi yang tidak wajar, sementara rambut panjang menutupi wajahnya.
"Maya ...?" bisik Sari.
Sosok itu mengangkat kepala.
Wajahnya pucat membiru. Ada luka menganga di lehernya, dan dari kedua matanya mengalir cairan hitam.
Kepala polisi mundur dengan wajah ketakutan.
"Tidak mungkin! Kau sudah mati!"
Maya tersenyum.
"Benar. Tapi kau lupa satu hal."
Suaranya terdengar seperti bisikan dari dalam kubur.
"Orang mati tidak bisa disuap."
Teriakan kepala polisi menggema ketika sosok itu menerjangnya.
Pistol terlepas dari tangannya. Ia terjatuh dan berusaha merangkak menuju pintu, tetapi tangan pucat mencengkeram pergelangan kakinya.
Nadia memanfaatkan kekacauan itu untuk melepaskan ikatan tangannya dengan pecahan kaca yang tergeletak di lantai.
Ia segera membebaskan Sari.
Mereka berlari menuju tangga.
Di belakang mereka, terdengar jeritan yang perlahan berubah menjadi suara cekikan.
Sesampainya di lobi, Nadia menemukan pintu depan terbuka. Sirene polisi terdengar mendekat dari kejauhan.
Ia berlari keluar bersama Sari.
Beberapa menit kemudian, polisi lain memasuki hotel dan menemukan kepala polisi tergeletak tak sadarkan diri di kamar nomor 13. Pistolnya ditemukan beberapa meter dari tubuhnya.
Anehnya, tidak ada mayat perempuan di ruangan tersebut.
Hanya ada bekas darah yang membentuk jejak kaki menuju dinding.
Ketika dinding itu diperiksa, petugas menemukan sebuah ruang tersembunyi.
Di dalamnya terdapat beberapa barang milik korban, rekaman video, dan sebuah koper berisi tulang belulang manusia.
Salah satu benda yang ditemukan adalah kalung milik Kirana.
Kasus yang selama bertahun-tahun ditutup akhirnya terbongkar.
Kepala polisi ditangkap setelah rekaman dan bukti-bukti yang ditemukan mengungkap keterlibatannya dalam pembunuhan Maya, Kirana, dan sejumlah korban lainnya.
Namun, hingga penyelidikan selesai, tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana resepsionis yang ditemukan tewas di kamar nomor 13 ternyata masih tercatat hidup ketika polisi memeriksa identitasnya.
Sebab, menurut catatan resmi rumah sakit, lelaki itu sudah meninggal dua hari sebelum Nadia tiba di hotel.
---
Dua minggu kemudian, Nadia kembali ke Hotel Angsana bersama seorang petugas untuk mengambil barang-barangnya.
Hotel itu telah ditutup. Garis polisi membentang di pintu masuk, dan seluruh kamar sedang diperiksa.
Sebelum pergi, Nadia berdiri di depan kamar nomor 13.
Pintunya kini terbuka lebar.
Ruangan itu kosong.
Tidak ada darah. Tidak ada mayat. Tidak ada jejak yang tersisa dari kejadian malam itu.
Nadia menatap lantai untuk terakhir kalinya sebelum berbalik.
Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara yang sangat dikenalnya.
"Nadia ..."
Ia perlahan menoleh.
Kirana berdiri di ujung lorong dengan pakaian yang sama seperti dalam video terakhirnya.
Wajahnya pucat, tetapi senyumnya lembut.
"Kirana?"
Air mata langsung memenuhi mata Nadia.
Ia berlari menghampiri sahabatnya.
Namun, tepat sebelum mereka bersentuhan, tubuh Kirana menghilang seperti kabut.
Di lantai, tertinggal sebuah ponsel.
Nadia memungutnya dengan tangan gemetar.
Layarnya menyala.
Ada satu pesan baru dari nomor Kirana.
Terima kasih sudah menemukan kebenaran. Sekarang aku bisa pergi.
Nadia menangis dalam diam.
Untuk pertama kalinya sejak kehilangan sahabatnya, ia merasa Kirana benar-benar telah mendapatkan ketenangan.
Ia memasukkan ponsel itu ke dalam tas dan berjalan menuju pintu keluar.
Namun, ketika melewati meja resepsionis, ia melihat buku tamu yang terbuka.
Di halaman terakhir terdapat sebuah nama yang ditulis dengan tinta merah.
NADIA PRAMESWARI — KAMAR 13.
Tanggal di samping namanya adalah tanggal tiga minggu sebelum ia datang ke hotel.
Nadia membeku.
Ia tidak pernah menginap di sana sebelumnya.
Tiba-tiba, dari balik meja resepsionis yang kosong, terdengar suara lelaki tua berbisik.
"Selamat datang kembali, Nona."
Lampu lobi padam.
Dan pintu hotel menutup sendiri.
TAMAT.