Langit umur 6,5 tahun. Masuk SD di SD Negeri di luar Istana. Bukan SD internasional. Maunya Kirana dan Arya.
"Kalau di SD Istana terus, Langit tidak tau rasanya jajan gorengan 2000," kata Kirana.
Hari pertama SD, Langit pakai seragam putih merah kebesaran, tas dinosaurus sudah sobek sedikit, tapi tetap dipakai. Diantar bukan pakai mobil RI-1, tapi pakai motor listrik Arya. Arya yang nyetir, Kirana bonceng belakang gendong Bumi umur 2 tahun.
Sampai gerbang SD, Paspampres pura-pura jadi tukang ojek nunggu di ujung gang.
Teman-teman baru Langit tanya: "Langit, rumah kamu di mana?"
Langit jawab jujur: "Di paviliun."
"Paviliun apa?"
"Paviliun Merpati. Di Istana Bogor. Tapi paviliunnya kecil, bukan istananya."
Teman-teman tidak percaya. Dikiranya Langit halu.
Sampai satu anak nyeletuk: "Ah bohong, kalau bapak kamu presiden, ibu kamu pasti Ibu Negara cantik pakai kebaya."
Langit diam. Di rumah, Ibu Kirana memang tidak pernah pakai kebaya mewah. Pakai daster cuci piring.
Pulang sekolah, Langit cemberut.
***
Di paviliun, Langit tidak mau peluk Kirana.
"Ibu, kenapa Ibu tidak kayak Ibu Negara di TV? Pakai kebaya cantik, rambut disasak? Ibu kok pakai daster terus sih?"
Kirana kaget. Bumi yang lagi main balok di lantai lihat kakaknya marah.
Arya yang lagi buka map APBN di sofa, tutup map.
"Langit, sini."
Langit datang, masih ngambek.
"Langit malu Ibu pakai daster?"
Langit angguk pelan. "Teman-teman bilang Ibu Negara harus cantik."
Arya jongkok.
"Langit inget dulu Langit nangis 2 hari tidak mau susu botol?"
"Ingat."
"Siapa yang kasih Langit susu sampai Langit diam?"
"Ibu Kirana."
"Ibu Kirana pakai apa waktu kasih susu Langit?"
Langit mikir. "Pakai... daster bunga. Yang basah."
"Iya. Daster bunga yang basah karena ASI bocor. Kalau waktu itu Ibu Kirana pakai kebaya cantik disasak, ASI-nya netes ke kebayanya, sayang kebayanya. Jadi Ibu pilih daster biar bisa kasih nyawa ke Langit."
Langit nangis.
Kirana peluk Langit.
"Langit, Ibu memang tidak cantik kayak Ibu Negara di TV. Ibu cuma ibu susu dari Bekasi yang dulu buang ASI ke wastafel. Tapi daster Ibu ini yang selamatkan Langit. Jadi Langit boleh malu, tapi Ibu tetap pakai daster ini ya, biar Bumi juga selamat."
Langit peluk Kirana kencang. "Langit tidak malu lagi, Bu. Besok Langit mau bilang ke teman-teman, Ibu Langit pahlawan pakai daster."
***
Tugas kelas 1 SD: Cerita tentang Ibu.
Anak-anak lain bawa foto ibu pakai seragam dokter, pilot, guru.
Langit bawa 2 foto: Foto Ibu Laras pakai kebaya di awan, dan foto Ibu Kirana pakai daster bunga gendong Bumi.
Bu Guru bingung.
Langit maju ke depan kelas, umur 6,5 tahun, cerita:
"Teman-teman, ini Ibu Laras, ibu yang lahirkan Langit terus pergi ke surga. Ini Ibu Kirana, ibu yang kasih Langit nyawa pakai susu Ibu Kirana. Dulu Langit hampir mati karena tidak mau susu botol. Ibu Kirana kasih susu Ibu Kirana, jadi Langit hidup. Ibu Kirana pakai daster, bukan kebaya, karena kalau pakai kebaya susunya tumpah. Jadi Ibu Kirana pahlawan daster."
Satu kelas diam. Bu Guru nangis.
Anak yang kemarin bilang Langit bohong, maju peluk Langit: "Langit, Ibu kamu keren banget!"
Pulang sekolah, Langit dapat bintang 10.
***
Sekarang giliran Bumi umur 2,5 tahun cemburu.
Bumi lihat Kakak Langit pergi SD tiap pagi pakai tas dinosaurus, tidak ajak dia.
Bumi nangis, gendong kaki Kirana: "Ibu... ikut!"
Kirana gendong Bumi, "Bumi masih kecil, belum SD."
Bumi tunjuk foto Ibu Laras di dinding: "Itu siapa? Kok Kakak punya 2 Ibu, Bumi cuma 1?"
Kirana dan Arya kaget. Bumi sudah mulai tanya.
Kirana jelasin pelan sambil gendong Bumi: "Itu Ibu Laras, Ibu yang lahirkan Kakak Langit. Ibu Kirana ibu yang susuin Kakak Langit dan lahirkan Bumi. Jadi Kakak Langit punya 2 Ibu di foto, Bumi punya 1 Ibu di rumah, tapi 1 Ibu lagi di surga yang jagain Bumi juga, Kakak dari anak Ibu Kirana yang dulu meninggal."
Bumi umur 2,5 tahun tidak paham, tapi angguk. Peluk foto itu.
Langit yang baru pulang SD lihat adiknya peluk foto Kakak dari ibunya yang meninggal, langsung peluk Bumi.
"Bumi, Kakak punya 2 Ibu, Bumi juga punya 2 Ibu kok. Ibu Kirana dan Ibu Laras. Kita bagi ya!"
***
Tahun ajaran baru, Langit naik kelas 2.
SD-nya mau bikin acara Hari Ibu, undang Ibu Negara.
Sekretariat Istana mau siapkan acara besar di Istana Negara.
Kirana tolak.
"Bu, acaranya di paviliun Merpati aja ya? Biar anak-anak SD Langit lihat paviliun kecil tempat presiden belajar ganti popok."
Akhirnya Hari Ibu diadakan di paviliun Merpati. 30 anak SD kelas 2 duduk lesehan di lantai paviliun, makan gorengan 2000, minum teh hangat.
Kirana pakai daster bunga yang sama, cerita tentang donor ASI.
Arya pakai kaos putih, bukan batik presiden, jadi tukang cuci piring.
Langit jadi pemandu: "Ini freezer nyawa, isinya ASI ibu-ibu pahlawan."
Bumi jadi penjaga pintu, teriak: "Jangan berisik, adik bayi lagi tidur!"
Wartawan yang datang tidak boleh masuk. Hanya Bu Guru dan anak-anak.
Karena Kirana bilang: "Ini bukan acara negara. Ini acara ibu-ibu daster."
***
Malam, setelah semua anak pulang, paviliun berantakan gorengan dan teh tumpah.
Arya peluk Kirana dari belakang, lihat Langit dan Bumi sudah tidur berpelukan di kasur kecil, tas dinosaurus jadi bantal.
"Bu, terima kasih ya, sudah jadi ibu susu Langit dulu, sekarang jadi ibu untuk semua anak di paviliun."
Kirana sandaran: "Mas, dulu saya buang ASI ke wastafel karena tidak ada yang minum. Sekarang saya punya 2 anak yang rebutan susu saya, dan 30 anak SD yang rebutan cerita saya."
Di atas kulkas paviliun, ada 3 stiker sekarang:
1. "BOTOL NYAWA - PUNYA LANGIT DAN BUMI"
2. Gambar Langit: "IBU KIRANA PAHLAWAN DASTER"
3. Tulisan baru dari Bumi, coretan crayon: "IBU BUMI JUGA"
Dan freezer masih berdengung pelan. Isinya tetap gratis. Untuk bayi yang ibunya tidak ada, dan untuk bapak yang tidak bisa bikin anaknya berhenti nangis jam 2 pagi.
*****