Istana Kepresidenan tidak pernah sesepi ini.
Arya Wijaya duduk di lantai paviliun Merpati jam 2 pagi. Kemeja putihnya ada gumoh bayi. Di gendongannya, bayi 2 hari, Langit, nangis tidak berhenti. Susu formula sudah 5 merek dicoba. Semua dimuntahkan.
Di luar, 270 juta rakyat nunggu presiden kerja. Di dalam, presiden tidak bisa bikin anaknya berhenti nangis.
Ajudan bisik: "Pak, Bank ASI sudah hubungi, ada 1 ibu."
***
Kirana umur 26. Kontrakan petak 3x4 belakang Stasiun Kereta. Anaknya meninggal 2 minggu lalu, pneumonia. ASInya masih deras. Tiap hari pompa, buang ke wastafel sambil nangis.
2 ibu dari Dinas Kesehatan datang: "Ada bayi butuh ibu susu, ibunya meninggal, bayinya tidak mau formula. Rahasia negara."
Kirana dibawa lewat gerbang belakang Istana. Paviliun Merpati. Kecil, bersih.
Malam pertama, Presiden datang kaos putih, mata sembab.
"Mbak Kirana ya? Panggil saya Mas Arya aja kalau di sini. Tolong anak saya."
Kirana gendong Langit, susuin. Langit yang nangis 2 hari, diam.
Arya nangis lihat itu. Presiden nangis di paviliun.
***
Jam 5 pagi: Presiden rapat kabinet.
Jam 7 pagi: Presiden mampir paviliun, lihat Langit mandi.
Jam 12 siang: Presiden izin rapat 15 menit, cek Langit pup.
Jam 9 malam: Presiden kerja bawa map ke paviliun, sambil lihat Kirana dongengin Langit.
Kirana tidak pernah ke istana utama. Hanya di paviliun.
Dia lihat Arya bukan presiden, tapi bapak yang panik kalau Langit gumoh.
Arya lihat Kirana bukan ibu susu, tapi ibu yang bangun jam 2 pagi duluan sebelum dia.
***
Kirana mulai sisain teh hangat di meja paviliun tiap jam 10 malam. Tanpa disuruh.
Arya mulai bawain Kirana gorengan Bekasi yang dia kangen, tiap pulang dari blusukan. "Mbak, ini tempe mendoan dekat stasiun, katanya enak."
Mereka tidak pacaran. Hanya 2 orang kehilangan pasangan yang saling jaga.
***
Bulan 4, akun gosip bocorin foto blur Kirana jemur baju Langit.
"WANITA SIMPANAN DI PAVILIUN MERPATI?"
Staf istana panik, suruh Kirana dikeluarkan.
Arya konferensi pers dadakan gendong Langit umur 4 bulan gembul.
"Langit hidup karena ibu susu bernama Kirana, anaknya baru berpulang. Kalau ini skandal, saya tanggung sebagai bapak. Jangan ganggu Kirana dan Langit."
Indonesia nangis. #TerimaKasihIbuSusu trending. Bank ASI kebanjiran donor.
Kirana nonton TV di paviliun, nangis. Pertama kalinya namanya disebut sebagai penyelamat, bukan janda miskin.
***
Kontrak 6 bulan habis. Langit sudah MPASI.
Kirana packing tas kain.
Arya datang tanpa Paspampres.
"Mau pulang?"
"Iya Mas, kontrak habis."
"Kalau Langit sudah kuat, bapaknya belum."
Arya kasih map, bukan uang. Isinya surat pengajuan nikah ke MK dan izin ke ibu Kirana.
"Saya tidak minta Mbak ganti Laras. Laras tidak terganti. Saya cuma minta boleh tidak kita berkabungnya bareng-bareng? Boleh tidak Langit punya 2 foto di kamarnya, Ibu Laras dan Ibu Kirana? Kalau tolak, tidak apa-apa. Langit tetap boleh ketemu Mbak kapan pun."
Kirana nangis.
***
Kirana jawab 3 hari kemudian, di dapur paviliun sambil cuci botol Langit.
"Mas Arya, saya mau. Tapi 2 syarat. Satu, nikah di KUA kecil, bukan pesta negara. Dua, saya tetap mau tinggal di paviliun Merpati, bukan kamar utama. Karena Langit kenalnya di sini."
Arya angguk. "Tiga, saya yang cuci botol tiap malam."
***
Kantor KUA. Batik dan kebaya pinjaman Suster Rina.
Mahar: seperangkat alat sholat dan 1 Rumah ASI gratis atas nama anak Kirana yang meninggal dan almarhumah Laras.
Saksi: ibu Kirana naik angkot dan Kepala Sekretariat Istana.
Setelah akad, wartawan tanya.
Arya jawab 1 menit: "Saya nikah bukan karena butuh Ibu Negara. Saya nikah karena Langit butuh ibu, saya butuh teman jaga Langit jam 2 pagi."
***
Malam pertama di paviliun Merpati, bukan kamar utama.
Langit demam 38.5. Kirana dan Arya tidak tidur semalaman kompres, gendong gantian. Telpon Suster Rina jam 2 pagi.
Tidak ada adegan ranjang. Adanya presiden belajar bikin bubur dan belepotan.
***
Kirana resmi Ibu Negara. Tapi tolak tinggal di istana utama.
"Saya Ibu Negara paviliun aja, Mas. Biar ibu-ibu donor ASI kalau mau ketemu tidak takut masuk istana utama."
Dia ubah paviliun Merpati jadi Posyandu Istana. Tiap Selasa dan Jumat, ibu-ibu dari kampung sekitar Istana Bogor boleh periksa hamil gratis di paviliun.
Paspampres bingung, jaga posyandu.
***
Menteri lawan politik serang: "Presiden menikahi ibu susu untuk pencitraan!"
Arya tidak jawab pakai konferensi pers. Jawab dengan bawa Langit dan Kirana blusukan ke pasar, tempat Kirana dulu cuci piring.
Foto Arya gendong Langit, Kirana beli tempe, viral tanpa settingan.
Rakyat: "Ini baru presiden bapak-bapak."
***
Kirana dirikan Rumah ASI Kirana, di tanah kontrakan petaknya dulu yang dibeli negara untuk dia.
Isinya: 3 freezer medis, 2 ruang pompa steril, 1 ruang konseling.
Semua gratis. Untuk ibu yang ASInya berlebih dan bayi yang ibunya tidak ada.
Papan namanya: "Dari 1 botol untuk Langit, untuk semua bayi."
Arya tiap minggu antar sendiri cooler box dari Istana ke Rumah ASI pakai mobil biasa.
***
Arya kasih Kirana kotak kayu milik Laras.
Isinya surat Laras sebelum meninggal: "Arya, kalau aku tidak ada saat Langit lahir, tolong jangan cari istri yang cantik atau pintar. Cari ibu yang bisa bikin Langit berhenti nangis jam 2 pagi. Itu saja."
Kirana nangis baca surat itu.
"Mas, Ibu Laras sudah pilihkan saya ya?"
Arya angguk.
***
Langit umur 1 tahun. Kata pertama: Mama. Kata kedua: Ibu.
Dia panggil Kirana "Ibu." Panggil foto Laras "Ibu Laras."
Kirana ajari Langit: "Itu Ibu Laras, Ibu yang lahirkan kamu, Ibu hebat. Ibu Kirana yang susuin kamu, Ibu juga."
***
17 Agustus, Upacara Kenegaraan. Presiden harus pidato 30 menit.
Arya pidato 5 menit saja.
"Rakyat Indonesia, tahun lalu saya kehilangan istri. Anak saya kehilangan ibu. Tahun ini saya dapat istri baru dan anak saya dapat ibu baru karena 1 ibu yang ikhlas jadi ibu susu. Negara ini butuh banyak ibu susu. Yang kasih tanpa minta balasan. Terima kasih."
Ibu-ibu se-lapangan upacara nangis.
***
Kontrakan Kirana direnovasi, tapi tidak digusur. Jadi Rumah ASI.
Kamar mandi tempat Kirana dulu buang ASI ke wastafel sambil nangis, sekarang jadi ruang pompa steril yang ada tulisannya: "Di sini dulu 1 ibu buang ASI karena tidak ada yang minum. Sekarang di sini 100 ibu donor ASI untuk 100 bayi."
***
Arya cemburu pertama kali bukan karena politik, tapi karena Langit lebih milih tidur di dada Kirana daripada di dada Arya.
"Bu, kok Langit kalau sama Ibu langsung tidur, sama Ayah malah main terus?"
Kirana ketawa: "Karena Ibu ada bau ASI, Ayah bau rapat kabinet."
Arya pura-pura ngambek, lalu ikutan tidur di lantai paviliun bertiga.
***
Ulang tahun Kirana ke-27, tidak ada pesta istana.
Arya masak sendiri, gosong. Langit bantu acak-acak.
Kado: bukan berlian. Kado: 1 kulkas ASI baru untuk Rumah ASI dan 1 foto USG anak Kirana yang meninggal yang sudah dicetak besar dan dibingkai, tulisan: "Kakak Langit - Penjaga Adik dari Surga."
Kirana nangis seharian.
***
Wartawan asing tanya: "Mrs. Kirana, how does it feel to marry a president?"
Kirana jawab pakai bahasa Indonesia, diterjemahkan ajudan: "Saya tidak menikahi presiden. Saya menikahi bapaknya Langit yang tidak bisa ganti popok. Presidennya bonus."
Arya yang di sebelah ketawa ngakak, pertama kalinya di depan media asing.
***
Aturan baru Istana: Paviliun Merpati tidak boleh dibongkar, bahkan setelah presiden ganti.
Harus tetap jadi Posyandu dan Rumah ASI.
Karena di situ, presiden belajar jadi bapak.
***
Jam 2 pagi, 2 tahun kemudian.
Langit umur 2 tahun, lari-lari di paviliun.
Tapi malam ini Langit sudah tidur. Yang bangun Aya? Bukan, anak baru.
Kirana hamil lagi. Anak Arya dan Kirana. Umur kandungan 7 bulan.
Arya terbangun karena Kirana mual.
Arya ambilkan teh hangat, seperti dulu Kirana ambilkan teh untuk dia.
Kirana elus perut: "Mas, kalau nanti anak kita lahir, ASI saya untuk siapa?"
Arya elus perut Kirana: "Untuk anak kita, untuk Langit kalau masih mau, dan untuk 1 bayi lagi di Rumah ASI yang butuh. Cukup. ASI Ibu kan berlebih terus."
Kirana ketawa, "Presiden kok ngomongin ASI berlebih."
Arya ketawa, "Presiden ini lulusan S3 Paviliun Merpati, jurusan cuci botol."
Di luar, Paspampres jaga. Di dalam, presiden, ibu susu yang jadi ibu negara, dan Langit yang tidur pegang tangan dua-duanya.
Istana akhirnya tidak sepi lagi jam 2 pagi.
Karena ada suara botol dikocok, ada suara Langit ngigau panggil "Ibu", dan ada suara presiden yang bisik, "Ibu, terima kasih sudah mau jadi ibu susu Langit dulu, sekarang jadi ibu untuk kita semua."
*****