Pagi ini aku telat ke sekolah, selain grasak-grusuk mencari kunci motor, masih harus menunggu ibu yang berdandan. Macet berkepanjangan membuatku semakin di Landa gemetaran, bukan karena kelaparan, tapi Jam yang sudah menunjukkan pukul 06:52.
Bayangkan saja aku seharusnya sudah sampai dua puluh menit yang lalu, oh... Tapi ini murni karena leha-leha ku, di tambah ibuku yang akhhhh entahlah...
"Ayo cepat... Masuk" ujar seorang satpam, saat aku sudah berada di area parkiran, Aku menoleh kesana kemari membawa alamat... Eh bukan... Mencari apa ada selainku yang juga telat, huhuhu...
Dan syukurlah Aku bertemu dengan wangi, anak PAI.
Kita berlari bersama sebelum gerbang di tutup rapat, kini... upacara sudah di mulai, semua telah rapi melakukan baris berbaris di lapangan utama.
Tasku sudah seperti orang mau camping, berisi kertas besar seperti peta dunia... Hahaha tidak-tidak itu adalah tugas akidah yang ku kerjakan semalam suntuk.
"Ai..."
"Apa?" Jawabku malas, mood ku sedang tidak baik-baik saja saat ini.
Bukannya menjawab ismie malah cengar-cengir, membuatku semakin kesal saja.
"Fokus, hadap ke depan" Pak Aryan, tiba-tiba berceletuk tepat di belakangku. Aku pura-pura tak melihat, menghadap ke depan namun dapat kurasakan. Azekkk enggak ya... Bukan indigo, tapi firasat saja.
Rasanya kakiku sudah pegal-pegal mengikuti upacara, kapan... Upacara ini akan segera selesai, oh Tuhan...
Aku terduduk,saat melihat tali sepatuku lepas,kubenahi tali sepatuku itu, baru saja aku selesai mengikat tali sepatu seorang guru menoyor kepalaku dari belakang.
Akhhh rasanya akhhhh
"Upacara selesai, Barisan di bubarkan" mendengar kalimat itu aku merasa lega, buru-buru ku berlari menuju kelas, angin menerpa dari jendela yang terbuka. Panas itu lambat Laun meninggalkan tubuhku, berganti dengan sejuk yang seolah mencium pipiku.
"Assalamualaikum" tak lama sebuah salam menyapa diruang kelas ini, serentak seluruh isi kelas menjawab.
"Waalaikumussalam" gema suara bersahut-sahutan memberikan jawaban dari salam seorang guru di depan kelas.
"Baik... Hari ini kalian akan ada sesi potret, untuk foto ijazah. Jadi tunggu panggilan setiap kelas berurut ya... Hal ini di sampaikan agar kalian bisa bersiap, dan rapi-rapi, apalagi anak cewek itu kan suka terlihat cantik" ujar pak har dengan nada jenaka.
Sebagian sudah sibuk mencari kaca, sedang aku masih biasa saja terduduk sembari mendengarkan hal-hal lain yang di sampaikan, seperti... Minggu depan ujian akhir misalnya. Bukankah itu lebih penting?? Eaaaa.
"Aida..."
"Emmm" Zahra memanggilku dengan berbisik, sedang aku masih fokus kedepan menatap seksama, dan merekam apa yang di sampaikan.
"Punya kaca gak?" Tanganku merogoh tas mencari-cari apa yang Zahra tanyakan, dengan tubuh yang tetap menghadap ke depan.
Setelah di rasa aku menyentuh kaca, aku mengeluarkannya dari tasku, menyodorkannya tepat di depan wajah si penanya.
"Nihhh_"
"Maaciwww"
"Baik, hanya itu yang ingin bapak sampaikan__"
"Pak, free pelajaran gak pak?" Tanya salah seorang siswa yang memotong percakapan.
"Free khusus kamu, tapi lap jendela dari kelas satu mau?" Tanya pak har
"Yah..." Siswa yang ku taksir adalah Raka, menghembuskan nafas frustasi.
"Kalian ini di sekolah hanya di minta belajar nak, agar kalian mendapat pemahaman, pandangan yang luas, sedangkan orang tua kalian bekerja untuk melihat kalian menjadi anak yang bermanfaat, yang memiliki ilmu... Jangan malas untuk belajar!, hidup akan terus berjalan dan kalian tidak akan berhenti di sini saja, setelah lulus kalian akan ke jenjang yang lebih tinggi, pelajarannya akan lebih sulit. Terlebih jika kalian sudah menjadi lulusan, lalu akan berada di fase dunia kerja, lalu menjadi orang tua... Itu akan lebih sulit dan melelahkan dari pada hanya membuka buku, lalu memahami apa yang ada di dalamnya."
Prok, prok, prok...
Suara tepuk tangan begitu meriah memenuhi ruang kelas yang tadi sempat hening dan hanya terdengar jelas apa yang di sampaikan oleh pak Hartono.
"Assalamualaikum..." Suara salam itu terdengar bersamaan dengan tiga kali ketukan di ambang pintu, terlihat pak Aryan dengan kamera yang sudah siap di tangannya.
"Waalaikumussalam warahmatullah" jawab pak har, dan di ikuti oleh kami.
"Izin pak, pinjam muridnya sebentar"
"Kok cepet pak?, bukannya masih giliran kelas Progresif ya??"
"Iya pak makanya ke sini untuk meminjam salah satu muridnya" tukas pak Aryan, lalu telunjuknya menunjuk tepat ke arahku.
"Aidah, ikut saya sebentar" uluh-uluh... Jangan sampai aku menjadi seperti hari itu, plotwist banget malah di suruh bawain es balok ke kopsis... Mantappp
"Saya pak???" Aku menunjuk diri sendiri, untuk memastikan aku tak salah dengar.
"Iya sebentar." Ujar pak Aryan singkat,
ohhh... Hari yang benar-benar membagongkan, akhirnya aku hanya bisa pasrah mengikutinya, berjalan dengan sisa tenaga yang meronta-ronta ingin di beri pijatan.
"Kenapa saya sih pak, saya gak bisa motret tahu..." Ujarku yang berusaha mengejar langkahnya yang seperti orang berlari, bayangin... Dia jalan tapi cepet Weh... Kek gimana yaaa
"Bukan untuk memotret" aku mengernyitkan kening, gunanya gua di bawa buat apa woy...
"Kamu kan bisa dandan, jadi kamu bantu saya, agar anak-anak kelas kepintaran, eh anak-anak progresif tidak kusam"
"Ihhh kenapa saya, gak manggil MUA saja pak" pak Aryan hanya geleng-geleng kepala mendengar saranku. Memang dia sok cool ges, pengen tak heh... Masak ya pas ketemu di parkiran ku senyumin malah bikin raut wajah judes, udah gitu nyebelin lagi... Gua senyum karena dia guru ya... Biasanya juga perengat-perengut, sampai-sampai alis tebalku ini seolah menyatu kalau sudah ngamok.
"Pak, serius saya sendiri???, ya kali pak per kelas itu kan ada lebih dari tiga puluh siswa, masak saya sendirian sih" ujarku
"Kamu tidak perlu mendadani mereka seperti pengantin Ai... Kamu hanya perlu makeup tipis-tipis, sudah jangan banyak bantah, nanti saya traktir."
"Seriusan pak, makan apa???"
"Makan terus pikiran kamu ya... Badan udah gembul" ujar pak Aryan, sembari mencuri pandang lewat ekor mata.
"Enak aja... Saya gak jadi bantu nih"
"Ck, iya-iya, sudah jangan banyak bicara, apa pun yang kamu mau nanti saya kasih." Asekkk ... Pak Arkan mulai membuka ruang foto yang berada tepat di sebelah barat ruang guru di bawahnya ruang komputer.
Pak Aryan, memotret para siswa terlebih dahulu, memberiku waktu untuk mendandani satu persatu siswi yang sekitar duapuluh satu orang.
"Kepalamu jangan miring, sedikit dongak" pak Aryan mengarahkan, tak ayal dia juga membenahi langsung kepala itu dengan tangan kekarnya.
Ada juga diantara mereka yang kliyengan karena terkena sinar lampu dari jepretan kamera.
Setelah selesai membantu pak Aryan, rasanya tenggorokanku kering kerontang.
"Heummm..." Aku bersandar di kursi tepat di depan layar komputer.
"Minum" ujar pak Arkan menyodorkan sebotol air.
"Terima kasih pak_" aku meminum air itu, setelah beberapa kali tegukan, kembali aku angkat suara
"Saya balik ya pak, sudah kan?"
"Eh tunggu, kamu kan mau saya traktir"
"Akh saya udah gak laper pak..."
"Ya sudah kalau begitu mau beli apa, saya yang bayarin"
"Ya udah beli emas yuk" dengan nada jenaka aku menimpalinya, tapi malah di tanggapi serius Weh...
"Selepas pulang sekolah kita ke toko emas terdekat"
"Eh... Serius???, tapi saya bercanda pak"
"Iya atau tidak sama sekali"
"Ehhh... Enggak pak, gak nolak" huhuhu lagian siapa yang nolak emas coy... Infestasi itu...
"Tapi bapak serius kan, ntar saya ditinggal di suruh bayar sendiri lagi_"
"Memangnya kamu pernah lihat saya bohong?" Dari kata-katanya jujur sihhh, "moga aja serius ni orang." Celetukku dalam hati.
Saat semua sudah rumpun, dan bel pulang sudah berbunyi aku berjalan santai dengan Mila juga Amel, siapa sangka pak Aryan sudah ada di depan gerbang dengan mobilnya yang sudah siap jalan.
"Masuk" aku melongo mendengar penuturannya, apa dia ini tidak lihat masih banyak orang di sana, lebih ketimu kek, di tempat yang gak terlalu ramai, dan menyita perhatian. Etdah...
"Saya pak?" Tanyaku kek orang dongo Weh...
"Siapa lagi... Aida ..." Aku tersenyum canggung sembari menggaruk tengkuk, berjalan perlahan lalu masuk ke pintu penumpang. Mobil ini mulai berjalan, sesaat setelah jauh dari keramaian pak Aryan berkata, "PINDAH" Aku mengernyitkan kening, bertanya dengan polos dan dongonya.
"Ke mana pak?" Pak Aryan mengembuskan nafas kasar, "ke depan ai, saya bukan supir kamu... Paham?!" Aku cemberut mendengar penuturannya, tapi di pikir-pikir bener juga, dia bukan sopirku.
"Pak, bentar, ibuk saya takut jemput saya telepon dulu ya ..."
"Hemmm" aku menghubungi ibu, untung dia langsung menjawab, kadang lamaaaa banget kek apa ya... Kek artis yang sibuk banget gitu apasih namanya...
Sesudah memberi tahu ibu aku akan pulang sendiri, aku berpindah ke depan melangkah dari dalam. Membuat pak Aryan beristighfar berkali-kali.
"Pak seriusan mau beliin saya? Emas mahal loh pak"
"Itung-itung sedekah" mendengar perkataannya, widihhh kaya nih, sedekahnya emas donggg...
Tak lama berkendara, akhirnya mobil ini berhenti di parkiran yang tak jauh dari toko emas, di sana cukup ramai... Tapi kapan lagi kan dapet emas sedekah wkwkwk
"Hati-hati Ai, lihat kanan kiri" mendengar ucapannya rasanya ingin sekali aku memakannya, kek... Apa dia menganggapku sebagai anak kecil yang tidak tahu apa-apa??? Oh God...
Sesampainya di depan etalase, mataku tercuci melihat emas-emas yang berkilau. Pengen rasanya kalap ngambil semua...
"Bak coba saya lihat yang ini" ujar pak Aryan, yang menunjuk salah satu kalung dengan liontin huruf "A" dengan hiasan permata...
"Coba"
"Pak, ini gak berlebihan?"
"Tidak, sini coba" pak Aryan memasangkannya untukku, meski di luar hijab, tapi yang namanya muahal, ya bagus lah ya... Apalagi gratis, wkwkwk.
"Mau ini?"
"Pasti mahal pak, cincin aja gak sih pak?!" Meski dalam hati gak nolak, tapi gua sadar diri woy...
"Bak lihat yang ini" tunjuk pak Aryan, pada cincin yang sederhana, dengan satu permata dengan sedikit ukiran yang membuatnya terlihat elegan.
"Coba" pak Aryan memberikan cincin itu, saat ku coba "pas" pas sedompet-dompetnya.
"Bagus pak, nihhh__" aku memperlihatkan jemari lentikku pada pak Aryan, jemari manisku kini di tenggeri emas Bestie....
"Oke"
"Berapa semua bak"
"Hah? Semua???"
"Untuk kalung di sepuluh juta limaratus ribu rupiah, di tambah cincin di dua juta lima ratus ribu rupiah pak... Jadi total tiga belas juta ya bapak" aku menelan ludah susah payah
"Pak, udah pak gak jadi aja pak, jantung saya gak aman ini... Atau gak cincinnya aja, itu udah banyakkkk banget" bisikku, bener-bener malu gua woy...
"Sudah saya ini memegang kata-kata saya, tidak pernah mengingkari." Aku menepuk jidat, aaa bayangin dia ngabisin tiga belas juta untuk sekali sedekah!