Lanjut pas mereka ketiduran Rika kasih masker ke bapaknya dan Ilham.
"Bener-bener klop aku kayak anak tiri!"
---
Jam 10.30 malem. Aku abis bilas masker, balik ke ruang tamu niatnya mau ngambil piring kerupuk.
Lah, pemandangan di depan aku:
Bapak sama Ilham ketiduran di karpet.
Papan catur masih berantakan, Bapak ngorok pelan, sarungnya melorot dikit. Ilham tidurnya nyender ke sofa, kepala miring, kaos oblongnya ketarik, keliatan perut dikit. Dua-duanya pules. Capek abis catur + gorengan kebanyakan.
Aku ngeliatin. Ngeliatin lagi.
Ide nyebelin ku kumat.
Oke. Tadi aku diledekin Shrek. Sekarang giliran aku.
Aku lari pelan ke kamar, ngambil maskerku yang sisa banyak — masker ijo lumpur tadi — sama dua bandana.
Satu bandana kelinci pink punyaku, satu bandana kelinci biru punya Bapak yang biasanya buat kerokan.
Aku balik ke ruang tamu jinjit-jinjit kayak maling.
Pertama, korban pertama: Bapak.
Aku olesin masker ijo pelan-pelan ke muka Bapak. Bapak cuma ngorok "hrrr... skak... hrrr..." Nggak bangun. Aku pasangin bandana biru di kepalanya. Jadi Bapak Shrek versi biru.
Kedua, korban utama: Ilham.
Aku jongkok di depan dia. Mukanya deket banget. Alisnya tebel, bulu matanya panjang — pantesan kalau marah di kantor serem.
Aku olesin masker ijo ke pipinya. Dingin.
Dia ngerengek dikit, "hmm..." Aku kaget, berhenti. Dia tidur lagi.
Aku lanjutin. Oles ke jidat, ke hidung, ke dagu. Sisa dikit aku olesin ke tangannya juga biar total.
Terus aku pasangin bandana pink kelinci punyaku di kepalanya. Agak kekecilan, kuping kelincinya berdiri tegak.
Dua Shrek. Satu biru, satu pink. Klop banget.
Aku mundur, ngambil HP, cekrek cekrek foto buat barang bukti.
Terus aku teriak dari dapur:
"BENER-BENER KLOP AKU KAYAK ANAK TIRI!"
Dua-duanya kebangun kaget.
Bapak bangun: "Wah! Ada gempa?!"
Ilham bangun: "Ada apa?!"
Terus mereka saling liat.
Bapak liat Ilham: "ILHAM?! KAMU KENAPA JADI IJO?!"
Ilham liat Bapak: "PAK HAJI KENAPA BIRU?!"
Mereka berdua lari ke kaca di ruang tamu. Ngeliat pantulan.
Dua bapak-bapak, satu sarungan satu kaos oblong, muka ijo semua, pake bandana kelinci.
Aku ngakak guling-guling di karpet.
"HAHAHAHA! SEKARANG SIAPA YANG SHREK?! SEKARANG SIAPA?!"
Ilham ngeliat aku, muka ijo + bandana pink, langsung ngerti.
"RIKA!"
Bapak juga ngerti, tapi Bapak malah ketawa ngakak.
"HAHAHA! Bagus! Jadi kita sekeluarga Shrek! Cocok!"
"Pak! Ini Shrek bapak-anak! Aku anak tiri soalnya aku doang yang udah bilas!"
Ilham jalan ke arah aku, muka ijo kelinci pink. Niatnya mau balas dendam.
Aku lari keliling meja.
"Pak jangan gitu! Kita ini atasan sama bawahan loh! Nggak boleh ngotorin bawahan!"
Ilham malah makin jadi. Dia ngambil sisa masker di mangkok, ngejar aku.
"Sini, Bu Shrek. Biar klop sekalian, maskeran lagi!"
"ENGGAK! UDAH GLOWING TADI!"
Bapak jadi wasit: "Udah-udah! Jangan lari-larian! Nanti maskernya netes ke karpet! Karpet Bapak baru!"
Akhirnya kita bertiga duduk lagi, muka masih ijo, ngakak bareng.
Bapak: "Gini dong, rumah rame. Biasanya sepi, Rika di kamar terus."
Ilham, dengan muka ijo dan bandana kelinci pink, noleh ke aku, bisik pelan biar Bapak nggak denger:
"Balas dendamnya berhasil, Bu Bos?"
"Berhasil! Makanya jangan ledekin aku lagi!"
"Berani ledekin lagi? Sekarang ada foto kamu jadi Shrek pink. Kalau besok di kantor kamu profesional-profesional lagi, fotonya saya jadiin wallpaper kantor."
"ILHAM! HAPUS!"
"Ogah. Siapa juga yang mau hapus foto Shrek cantik."
Bapak teriak dari dapur sambil bawa air buat bilas: "Udah! Bilas semua! Kalau nggak, besok pagi-pagi satpam komplek kira rumah kita kemasukan genderuwo ijo!"
Malam itu, rumah berisik sama suara bilas-bilas + ketawa.
Dan foto dua Shrek biru-pink itu, sampai sekarang masih ada di HP Ilham. Jadi senjata rahasia dia tiap aku bilang "Pak jangan gitu, kita ini atasan sama bawahan loh!"
Lanjut paginya bapak ngajak kondangan.
"Lah nungguin siapa lagi pak?".
"Nungguin calon mantu bapak" ujarnya bangga.
"Dihh!".
Ngga lama kemudian Ilham beneran dateng pake baju batik rapi.
---
Jam 8 pagi. Aku udah rapi, pake dress coklat susu + jilbab cream, mau kondangan saudara Bapak. Kirain cuma berdua sama Bapak.
Aku udah di depan pintu pake sepatu, Bapak masih di teras, nggak naik-naik motor.
"Lah nungguin siapa lagi Pak?"
Bapak dengan bangganya, pake batik sama peci, sambil ngerapiin kerah:
"Nungguin calon mantu Bapak."
"Dihhh! Pak! Siapa sih calon mantu? Ngarang!"
"Calon mantu yang kemaren mukanya ijo bareng Bapak."
Aku langsung mau balik masuk rumah.
Belum sempet balik, dari ujung gang...
Ting ting! Motor gede dateng.
Ilham. Beneran dateng. Pake baju batik coklat rapi, lengan digulung pas, rambut klimis lagi, sepatu pantofel mengkilap. Beda banget sama Ilham kaos oblong maskeran ijo semalem.
Aku bengong.
"Pak Haji, maaf telat. Tadi nyari peci dulu."
Bapak langsung nepuk pundak Ilham: "Wah, ganteng! Cocok! Ayo berangkat! Motor Bapak biar di rumah, kita naik mobil Ilham aja!"
"MOBIL?!"
Ilham noleh ke aku, senyum.
"Pagi, Bu Shrek. Udah bilas?"
"PAGI, PAK ILHAM! Kok Bapak ada di sini?!"
"Kan disuruh calon mertua. Katanya kondangan nggak enak kalau nggak ada pasangan. Biar nggak ditanya 'Rika kapan nikah?' terus."
Bapak: "Betul! Strategi!"
Aku terjebak. Di antara dua bapak-bapak batik yang kompak.
Akhirnya berangkat bertiga. Aku di belakang, Bapak di depan sebelah Ilham yang nyetir. Aku kayak anak yang dianterin dua bapaknya kondangan.
Di lokasi kondangan, rame banget. Tenda gede, musik dangdut.
Baru masuk, Tante-tante langsung nyerbu.
"Wah Pak Haji! Ini sama siapa?"
Bapak dengan lantang, BANGGA BANGET:
"Ini Ilham, calon mantu saya! Bosnya Rika di kantor!"
Satu tenda noleh.
Aku pengen masuk ke dalem es buah.
"PAK! Bukan calon mantu!"
Ilham malah makin jadi. Salim ke tante-tante, senyum sopan.
"Iya Tante, mohon doanya. Rika di kantor memang galak, tapi di rumah rajin maskeran ijo kok."
"ILHAM!"
Tante-tante langsung heboh: "Wah! Cocok! Batiknya couple lagi! Rika dress coklat, Ilham batik coklat!"
Aku baru nyadar, batik kita senada. Jebakan lagi!
Kita duduk makan. Aku di tengah, Bapak kiri, Ilham kanan. Kayak pengantin.
Bapak sibuk ngobrol sama saudara. Tinggal aku sama Ilham.
Aku bisik ngomel: "Pak jangan gitu! Kita ini atasan sama bawahan loh! Masa kondangan bareng! Orang ngira beneran!"
Dia nyendok sate, ngasih ke piringku.
"Makan dulu, Bu Doraemon. Dari tadi manyun terus. Kalau di kondangan manyun, dikira nggak setuju saya jadi calon mantu."
"Emang nggak setuju!"
"Ya udah, nggak setujunya sambil makan sate dulu. Satunya 5 ribu lho."
Aku ngambil sate-nya saking laparnya, tapi tetep ngomel.
"Di kantor gimana nanti? Orang kantor kalau tau kita kondangan bareng?"
"Di kantor saya tetep Pak Iman. Di kondangan saya Ilham yang lagi bantuin calon mertua biar nggak ditanya kapan nikah mulu. Beda jobdesk."
Aku diem. Satenya enak.
Terus dia nambahin pelan:
"Lagipula... tadi Bapak kamu bilang, kalau saya temenin kondangan, motor maticnya yang bocor kemaren bakal dibenerin gratis."
"JADI BAPAK NYUAP BAPAK PAKAI MOTOR?!"
"Shhh, Bu Bos. Jangan keras-keras. Namanya negosiasi antar calon mertua dan calon mantu."
Aku nyerah. Makan aja.
Pas pulang, di mobil, Bapak ketiduran di belakang gara-gara kenyang. Tinggal aku di depan sama Ilham nyetir.
Jalan sore, lampu mulai nyala.
Ilham ngomong tanpa noleh, sambil nyetir:
"Rika."
"Apa."
"Tadi tante kamu bilang batik kita couple. Menurut kamu gimana?"
"Menurut aku Bapak sama Bapak yang couple! Batiknya sama-sama coklat!"
Dia ketawa.
"Ya udah, besok saya beli batik pink kelinci biar couple sama bandana kamu."
Aku lempar tisu lagi ke dia.
"Pak! Fokus nyetir!"
"Iya, Bu Calon."
"CALON APA!"
"Calon... yang nggak pusing lagi kalau ketemu tiap hari."
Aku diem, pura-pura liat jendela. Tapi senyumku ketahan di kaca mobil.
Dari belakang, Bapak yang pura-pura tidur ngoroknya kekencengan, padahal nguping.
---
Lanjut.
Abis kondangan, jam 9 malem.
Sampai rumah, Bapak langsung tumbang. Kekenyangan sate + es buah + ngobrol sama 30 tante. Langsung masuk kamar, ngorok.
"Kalian berdua di teras aja ya, Bapak tidur dulu! Jangan berisik! Jangan pacaran di teras!"
"PAK!"
Pintu kamar Bapak ditutup. Klik.
Tinggal aku sama Ilham di teras. Lampu teras kuning temaram. Motor dan mobil udah diparkir. Angin malem adem.
Aku masih pake dress coklat kondangan, dia masih batik rapi. Duduknya jaga jarak. Satu kursi kosong di tengah. Canggung.
Dari tadi pagi kondangan, siang jadi calon mantu bohongan, sekarang... sepi.
Ilham buka duluan.
"Capek?"
"Capek. Tadi disangka beneran calon mantu."
"Berat ya jadi calon mantu bohongan?"
"Berat! Apalagi calon mertuanya nyebelin, calon mantunya lebih nyebelin!"
Dia ketawa pelan.
"Rika."
"Apa."
"Yang tadi pagi Bapak bilang di teras, nungguin calon mantu... kamu 'Dihh' nya kenapa?"
Aku mainin ujung dressku.
"Ya Dihh aja. Masa tiap hari dibilang calon mantu. Aku kan..."
"Aku kan apa?"
"Pak jangan gitu! Kita ini atasan sama bawahan loh!"
Itu lagi. Senjata andalanku tiap panik.
Kali ini Ilham nggak makin jadi. Dia malah nyender ke kursi, ngeliatin langit.
"Iya. Kita atasan bawahan. Di kantor saya Pak Iman. Kamu Rika staf yang telat 5 menit, pake koyo di jidat, sama daster Doraemon kebalik."
Aku ngangguk.
"Terus di luar kantor?"
Aku diem.
"Di luar kantor saya Ilham. Yang nemenin Bapak main catur sampe ketiduran, yang mukanya diolesin masker ijo sama kamu, yang dipaksa kondangan pake batik couple."
Aku masih diem.
"Rika, kalau di luar kantor kita masih atasan bawahan terus, saya capek juga. Masa tiap mau deketin kamu harus pake alasan 'disuruh Bapak' terus?"
Jantungku langsung lari lagi.
"De... deketin? Siapa yang mau dideketin!"
"Ya kamu. Siapa lagi. Masa Bapak kamu."
Aku berdiri, panik. Mau masuk rumah.
"Pak! Jangan ngomong gitu!"
Dia juga berdiri, tapi nggak narik aku. Cuma berdiri jaga jarak.
"Oke, saya nggak akan ngomong gitu lagi kalau kamu nggak siap."
Nada suaranya... beda. Nggak nyebelin. Serius.
"Maaf ya kalau tiap hari ketemu bikin kamu pusing sampe pake koyo. Saya cuma... nggak tau cara lain biar bisa deket sama kamu selain lewat Bapak sama lewat kantor. Soalnya kalau saya diem, kamu kabur jam 5 pagi."
Aku yang tadinya mau masuk, balik badan.
Ngeliat Ilham. Batik rapi, tapi muka capek juga.
Aku pelan-pelan duduk lagi. Dia duduk lagi.
"Ilham..."
"Ya, Bu Bos?"
"Aku bukan nggak sanggup ketemu tiap hari. Aku... pusing karena aku nggak tau kita ini apa. Di kantor dimarahin, di warung ditraktir, di mall dicemburuin, di rumah malah jadi Shrek bareng Bapak."
Dia ngangguk. Dengerin.
"Kalau atasan bawahan terus, aku nggak enak. Kalau bukan... aku juga nggak tau harus gimana."
Ilham ngeliatin aku lama.
"Ya udah. Kita bikin perjanjian baru ya?"
"Perjanjian apa?"
"Di kantor, jam 8 sampai jam 5, kita atasan bawahan. Profesional. Saya galak, kamu ngomel. Setuju?"
"Setuju!"
"Di luar jam kantor... jam 5 lewat 1 menit... kita bukan atasan bawahan. Kita... Ilham sama Rika aja. Yang boleh jalan pagi bareng kalau mau, yang boleh kondangan bareng kalau disuruh Bapak, yang boleh maskeran bareng..."
"Yang maskeran ijo itu kecelakaan!"
"Iya, kecelakaan yang cantik."
Aku melempar sandal teras ke arah dia. Nggak kena.
"Pak!"
"Ilham. Udah lewat jam 5 tadi. Sekarang jam 9 malem. Panggil Ilham."
Aku manyun. Tapi akhirnya nyerah.
"...Ilham."
"Nah gitu."
Hening lagi. Tapi hening enak. Bukan hening canggung.
Terus dari dalam rumah, suara Bapak ngorok kedengeran, plus teriak ngigau:
"RIKA... JANGAN LUPA... CALON MANTU... BATIKNYA DICUCI..."
Kita berdua langsung ngakak bareng sampe perut sakit.
Ilham berdiri, ngambil helm.
"Saya pulang ya, Rika."
"Eh, udah?"
"Udah. Kalau kelamaan di teras, nanti status atasan bawahannya jadi nggak jelas lagi. Besok di kantor saya harus galak lagi."
Aku nganter sampe pagar.
Pas dia mau naik motor, dia balik.
"Oh iya. Besok pagi jam 5?"
Aku pura-pura mikir, padahal udah kangen jalan pagi.
"Ogah! Siapa juga yang mau jalan sama Bapak!"
Dia udah hafal.
"Ilham."
"Ogah sama Ilham! Tapi kalau kebetulan ketemu di warung nasi uduk... ya... yaudah deh... aku traktir balik. Pake duit sendiri. Bukan duit bos."
Senyumnya... menang banyak.
"Oke. Warung nasi uduk jam 6. Jangan pake koyo lagi. Pake bandana kelinci aja biar saya kenal."
"ILHAM!"
Dia kabur naik motor, batiknya berkibar. Aku di teras masih pake dress kondangan, ngomel-ngomel sendiri, tapi senyumnya nggak bisa ilang.
Dari kamar, Bapak teriak lagi ngigau: "SAH! SAH!"
Sah apanya Pak, orang belum jadian.
3 bulan kemudian Ilham ngajak serius dan Rika pelan-pelan nerima dan endingnya mereka nikah.
---
3 bulan kemudian.
Banyak yang berubah, tapi banyak juga yang nggak.
Di kantor, tetep.
"Rika, slide-nya salah lagi!"
"Ya elah Pak, salah dikit doang!"
"Telat 3 menit!"
"Macet Pak! Bapak aja yang rumahnya deket kantor!"
Anak finance udah hafal: oh, drama pagi dimulai.
Tapi di luar kantor...
Jam 5.10 pagi, jalan pagi bareng beneran. Nggak kebetulan-kebetulan di warung lagi. Ilham jemput depan rumah, Bapak udah siapin dua gelas air putih di teras kayak panitia.
Jam 6, nasi uduk Bude. Sekarang Bude udah nggak nanya "mau pisah atau satu meja?" Langsung siapin dua piring, paha bawah semua.
Malem minggu, ganti main catur bertiga, tapi sekarang aku udah pinter, nggak pernah jadi Shrek lagi — gantian Bapak yang kena masker.
Sampai suatu malem, hari Jumat abis Isya.
Aku lagi lipet baju di ruang tamu, Bapak lagi nonton bola. Tiba-tiba ada motor dateng.
Ilham. Nggak pake kaos oblong, nggak pake batik kondangan. Pake kemeja putih rapi, celana bahan, bawa kotak kecil sama... Bapaknya Ilham sama Ibunya.
Aku langsung berdiri, dress daster Doraemon lagi. Mau lari ke atas.
"Pak! Kok nggak bilang mau dateng!"
Ilham panik liat aku mau kabur.
"Rika! Jangan kabur dulu!"
Bapaknya Ilham sama Ibunya senyum. Bapakku langsung matiin TV, salaman.
Aku diem di tangga, persis kayak pertama kali Ilham liat aku maskeran.
Bapak berbisik: "Rik, masuk kamar ganti baju dulu sana!"
Aku ganti cepet, pake dress coklat yang dulu buat kondangan, jilbab cream.
Turun lagi, ruang tamu udah rame. Kopi, teh, gorengan.
Bapaknya Ilham ngomong: "Pak Haji, tujuan kami kesini baik..."
Jantungku mau copot. Ini kayak di sinetron.
Ilham duduk di depan aku. Tangannya keringetan. Nggak ada mode nyebelinnya sama sekali.
"Rika."
"Ya..."
"3 bulan yang lalu Bapak kamu bilang nungguin calon mantu. Waktu itu saya cuma ketawa, kamu 'Dihh'."
Aku ngangguk, mata udah berkaca-kaca.
"Terus 3 bulan ini, kita udah coba jadi atasan bawahan di kantor, jadi Ilham sama Rika di luar kantor. Tiap hari ketemu, tiap hari berantem, tiap hari pake koyo, pake bandana kelinci, pake masker ijo..."
Ibunya Ilham ketawa pelan.
"Saya capek kalau harus pura-pura jadi atasan terus. Saya mau jadi... yang boleh jemput tiap pagi beneran, bukan kebetulan. Yang boleh bayarin nasi uduk selamanya, bukan cuma sampe jam 5. Yang boleh nemenin Bapak main catur sampe tua."
Dia buka kotak kecil. Bukan kalung, bukan gelang. Cincin simpel.
"Pak jangan gitu, kita ini atasan sama bawahan loh! — kamu masih mau ngomong gitu?"
Aku nangis. Bukan karena cincinnya, tapi karena kalimat andalanku dipake balik.
"Pak... Ilham..."
"Ilham aja. Udah lewat jam kantor."
Aku liat Bapak. Bapak nangis juga, lap mata pake sarung.
"Rika, Bapak setuju. Dari dulu Bapak tau Ilham orangnya baik. Dari dia rela jadi ojek pasar malem sampe jadi Shrek ijo bareng Bapak."
Aku pelan-pelan angguk. Pelan banget.
"Iya... aku nerima... pelan-pelan ya? Aku masih belajar nggak manggil Pak terus..."
Ilham langsung pasangin cincinnya, tangannya gemeter. Kekecilan dikit, tapi masuk.
"Pas. Kayak bandana kelinci kamu."
"ILHAM!"
Semua ketawa.
---
Endingnya mereka nikah.
Sebulan kemudian, nikahnya sederhana di halaman rumah. Tenda putih, bukan tenda kondangan gede kemaren, tapi rame.
Aku pake kebaya putih, Bapak nangis dari akad sampe resepsi. Ilham pake beskap putih, gantengnya beda.
Pas ijab kabul, Bapak jadi saksi, suaranya geter: "SAH!"
Yang dulu sering diucapin pas ngigau, sekarang beneran SAH.
Di pelaminan, Hana bisik: "Rik, akhirnya lu nggak pake koyo lagi di jidat pas nikah!"
Aku bisik balik: "Pake, di dalem kebaya. Pusing soalnya dari pagi ditanya kapan punya anak!"
Malam pertama di rumah — bukan apa-apa — kita berdua duduk di teras lagi, masih pake baju pengantin, makan nasi uduk Bude yang sengaja dibeliin Bude 2 porsi paha bawah.
Ilham noleh:
"Bu Shrek, sekarang status kita apa?"
Aku nyender ke pundaknya, capek tapi bahagia.
"Di kantor tetep atasan bawahan, Pak."
"Di rumah?"
"Di rumah... suami istri yang tiap hari berantem rebutan gorengan."
Dia ketawa, ngambil kerupuk terakhir, ngasih ke aku.
"Oh, mau keluar ya?"
Aku jawab, kalimat pertama kita dulu:
"Iya Pak, mau cari angin, suntuk."
"Anginnya udah di samping kamu sekarang."
"Dihhh!"
Dan Bapak dari dalem rumah teriak: "WOY! PENGANTIN BARU! JANGAN PACARAN DI TERAS! MASUK! MALEM!"
Kita berdua kompak teriak: "IYA PAK!"
TAMAT.