Ketika sang bad boy akhirnya bertekuk lutut pada satu gadis.
Bel masuk baru saja berbunyi ketika Keisya Anindita berlari menyusuri koridor SMA Garuda. Rambutnya sedikit berantakan, sementara napasnya tersengal akibat terlambat bangun.
"Sial! Gara-gara alarm nggak bunyi, aku jadi terlambat!"
Keisya mempercepat langkahnya. Namun, begitu berbelok di ujung koridor, tubuhnya menabrak seseorang hingga buku-buku yang dibawanya berjatuhan.
"Kalau jalan pakai mata, dong!"
Keisya mendongak. Tatapannya langsung bertemu dengan sepasang mata tajam milik Alvaro Mahendra.
Cowok itu berdiri dengan kedua tangan di saku celana, mengenakan seragam yang sengaja tidak dikancingkan sampai atas. Rambutnya sedikit berantakan, tetapi justru membuat penampilannya semakin menarik.
Sayangnya, bagi Keisya, wajah tampan Alvaro tidak cukup untuk menghapus kebiasaannya yang menyebalkan.
"Kamu juga punya mata, kan? Kenapa nggak minggir?" balas Keisya sambil memunguti bukunya.
Alvaro mengangkat sebelah alis. "Berani banget ngomong begitu sama gue."
"Memangnya kamu presiden?"
Alvaro terdiam sesaat.
Dari belakang, Dimas dan Revan yang baru datang langsung tertawa terbahak-bahak.
"Gila, Var! Baru kali ini ada cewek yang nggak takut sama lo!" seru Revan.
Alvaro melirik tajam kedua sahabatnya sebelum kembali menatap Keisya.
"Nama lo siapa?"
"Keisya. Kenapa? Mau masukin aku ke daftar orang yang harus kamu ganggu?"
"Menarik."
"Apanya yang menarik? Minggir, aku mau masuk kelas!"
Keisya melewati Alvaro tanpa menunggu jawaban. Cowok itu hanya menatap punggungnya dengan ekspresi sulit diartikan.
Sejak saat itu, Alvaro menganggap Keisya sebagai gadis paling menyebalkan yang pernah ditemuinya.
Atau setidaknya, itulah yang dia pikirkan.
---
Seminggu kemudian, guru Bahasa Indonesia mengumumkan tugas kelompok yang harus dikerjakan selama dua minggu.
"Setiap kelompok terdiri dari dua orang. Ibu sudah menentukan pasangannya, jadi tidak ada yang boleh protes."
Keisya sibuk mencatat ketika namanya disebut.
"Keisya Anindita dengan Alvaro Mahendra."
Pulpen di tangannya langsung berhenti bergerak.
"Bu, saya keberatan!" Keisya mengangkat tangan.
Di sisi lain kelas, Alvaro justru tersenyum lebar.
"Loh, kenapa, Bu? Saya setuju banget."
Keisya menoleh tajam. "Aku nggak setuju!"
"Sayangnya, gue setuju," jawab Alvaro santai.
"Bu, bisa ditukar nggak?"
"Tidak bisa, Keisya. Kalian harus belajar bekerja sama."
Keisya mengembuskan napas panjang. Sementara itu, Alvaro menyandarkan tubuhnya di kursi dengan senyum kemenangan.
"Tenang aja, Sayang. Gue bakal jadi partner terbaik lo."
Keisya memutar bola mata.
"Mending kamu jadi patung aja. Setidaknya patung nggak banyak omong."
Dimas yang duduk di belakang sampai tersedak minumannya.
Alvaro malah tertawa.
Aneh.
Biasanya, dia akan langsung membalas siapa pun yang berani menghinanya. Namun, entah mengapa, setiap kali Keisya melawannya, dia justru merasa terhibur.
---
Hari-hari berikutnya membuat Alvaro menemukan fakta baru.
Keisya bukan gadis yang mudah terpesona oleh ketampanan atau kekayaan seseorang. Dia juga tidak pernah berusaha mencari perhatian Alvaro seperti siswi-siswi lainnya.
Saat Alvaro sengaja datang terlambat, Keisya memarahinya.
Saat Alvaro tidak mengerjakan bagian tugasnya, Keisya mengancam akan melaporkannya kepada guru.
Bahkan ketika Alvaro membelikannya minuman dingin, gadis itu menolak mentah-mentah.
"Gue traktir," kata Alvaro sambil menyodorkan minuman.
"Nggak mau."
"Kenapa?"
"Aku punya uang sendiri."
"Ya, ampun. Dikasih minum doang ribet banget."
"Kalau kamu mau traktir cewek, cari yang lain. Aku nggak tertarik."
Alvaro terdiam.
Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, dia merasa ditolak dengan begitu mudah.
Dan anehnya, penolakan itu justru membuatnya semakin penasaran.
---
Semuanya berubah pada suatu sore ketika Keisya harus pulang sendirian.
Hujan turun deras. Gadis itu berdiri di depan gerbang sekolah sambil menatap jalanan yang mulai tergenang.
Dia baru saja hendak memesan ojek ketika sebuah motor berhenti di hadapannya.
Alvaro membuka kaca helmnya.
"Naik."
Keisya menggeleng. "Nggak usah."
"Hujan deras begini. Lo mau berdiri sampai besok?"
"Aku bisa pesan ojek."
"HP lo mati, kan?"
Keisya terdiam.
Cowok itu ternyata memperhatikan ketika ponselnya mati saat mereka mengerjakan tugas tadi.
"Naik, Keisya. Gue antar pulang."
Keisya masih ragu.
Alvaro menghela napas, lalu turun dari motornya dan menyerahkan helm cadangan.
"Gue nggak akan minta bayaran. Gue juga nggak bakal macam-macam. Kalau lo nggak nyaman, gue bisa berhenti di tempat umum dan lo lanjut naik kendaraan lain."
Keisya menatapnya beberapa saat.
Untuk pertama kalinya, Alvaro tidak memaksanya dan tidak menggunakan sikap tengilnya untuk mendapatkan sesuatu.
Akhirnya, Keisya menerima helm itu.
Sepanjang perjalanan, Alvaro mengendarai motornya dengan hati-hati. Dia bahkan berhenti di minimarket ketika melihat Keisya menggigil.
"Lo tunggu di sini."
Alvaro kembali beberapa menit kemudian dengan dua minuman hangat dan sebungkus roti.
"Lo belum makan, kan?"
Keisya menatap makanan di tangannya.
"Kamu tahu dari mana?"
"Dari tadi perut lo bunyi."
Wajah Keisya langsung memerah.
"Alvaro!"
Cowok itu tertawa puas.
"Nah, gitu dong. Kalau marah, pipi lo merah. Lucu."
Keisya memukul pelan lengannya.
"Nyebelin!"
Namun, diam-diam, sudut bibirnya terangkat.
Dan Alvaro melihatnya.
Senyuman kecil itu ternyata mampu membuat jantungnya berdetak lebih cepat daripada ketika dia memacu motor kesayangannya.
---
Dua minggu kemudian, tugas mereka selesai dengan nilai tertinggi di kelas.
Keisya merasa lega karena tidak perlu lagi menghabiskan waktu bersama cowok menyebalkan itu.
Sayangnya, Alvaro justru merasakan hal sebaliknya.
Sejak tugas mereka berakhir, dia mulai mencari-cari alasan untuk mendekati Keisya.
Pagi-pagi, dia datang ke kelas hanya untuk meletakkan roti cokelat di meja gadis itu.
Saat istirahat, dia sengaja duduk di sebelah Keisya meskipun Dimas dan Revan sudah memanggilnya berkali-kali.
Bahkan, dia mulai rajin mengerjakan tugas dan jarang terlambat masuk sekolah.
Perubahan itu membuat kedua sahabatnya curiga.
"Var, lo sakit?" tanya Dimas suatu pagi.
Alvaro mengerutkan kening. "Kenapa?"
"Lo datang pagi."
"Terus?"
"Lo ngerjain PR."
"Terus?"
"Dan tadi gue lihat lo nolak ajakan jalan sama tiga cewek sekaligus."
Revan menepuk bahu Alvaro dengan ekspresi prihatin.
"Bro, jujur aja. Lo kerasukan?"
Alvaro melemparkan penghapus ke arah mereka.
"Berisik!"
Dimas menyeringai. "Jangan-jangan lo jatuh cinta."
Alvaro hendak membantah, tetapi pandangannya tanpa sengaja tertuju pada Keisya yang sedang tertawa bersama teman-temannya.
Senyuman gadis itu membuat semua bantahan di ujung lidahnya menghilang.
Sial.
Sepertinya dia memang jatuh cinta.
---
Masalah muncul ketika Keisya melihat Alvaro berbicara dengan seorang gadis cantik di depan kelas.
Gadis itu bahkan sempat merangkul lengan Alvaro, sementara cowok tersebut hanya tersenyum tipis.
Keisya tidak tahu mengapa dadanya terasa sesak.
Dia tidak punya hak untuk cemburu. Alvaro bukan pacarnya, dan sejak awal dia selalu menegaskan bahwa dirinya tidak tertarik kepada cowok itu.
Jadi, Keisya memilih pergi tanpa menyapa.
Namun, Alvaro menyadarinya.
Sore harinya, dia menemukan Keisya sedang duduk di bangku taman sekolah.
"Keisya."
Gadis itu menoleh sekilas. "Apa?"
"Lo kenapa?"
"Nggak kenapa-kenapa."
"Lo menghindari gue."
"Nggak."
"Seharian lo nggak ngomong sama gue."
Keisya menutup bukunya. "Memangnya kita harus ngobrol setiap hari?"
Alvaro terdiam.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi entah mengapa terasa menyakitkan.
"Ya, nggak harus," jawabnya pelan. "Tapi gue suka ngobrol sama lo."
Keisya kehilangan kata-kata.
Alvaro duduk di sampingnya, menjaga jarak agar gadis itu tidak merasa terganggu.
"Cewek tadi siapa?" tanya Keisya sebelum sempat menahan diri.
Alvaro menoleh cepat.
"Lah, lo cemburu?"
"Nggak!"
Senyuman lebar langsung muncul di wajah Alvaro.
"Keisya Anindita cemburu sama gue?"
"Geer banget!"
"Berarti lo peduli sama gue?"
"Alvaro, sumpah, kalau kamu nggak diam—"
"Oke, oke. Gue diam."
Alvaro mengangkat kedua tangannya, tetapi senyumnya tidak menghilang.
Beberapa detik kemudian, dia berkata, "Dia sepupu gue. Baru pindah ke kota ini."
Keisya membeku.
"Oh."
"Cuma oh?"
"Terus aku harus bilang apa?"
"Nggak tahu. Minimal bilang kalau lo lega."
Keisya berdiri dan meraih tasnya.
"Aku pulang!"
Alvaro buru-buru mengikutinya sambil tertawa.
Untuk pertama kalinya, dia menikmati kecemburuan seseorang.
Terutama karena orang itu adalah Keisya.
---
Hari Jumat, Alvaro melakukan sesuatu yang membuat seluruh sekolah gempar.
Dia datang membawa sebuket bunga matahari dan sekotak cokelat.
Bukan untuk mantan pacarnya.
Bukan untuk siswi populer yang mengaguminya.
Melainkan untuk Keisya Anindita.
Saat gadis itu memasuki kelas, Alvaro langsung berdiri di hadapannya.
"Keisya, gue mau ngomong."
Keisya menatap bunga di tangannya dengan bingung.
"Apa ini?"
"Bunga."
"Aku tahu. Maksudku, buat apa?"
"Buat lo."
Keisya memandangnya curiga.
"Kamu habis bikin masalah?"
"Nggak."
"Disuruh guru?"
"Nggak."
"Terus kenapa?"
Alvaro menarik napas panjang.
Untuk pertama kalinya, cowok yang selalu percaya diri itu terlihat gugup.
"Gue suka sama lo."
Kelas yang tadinya ramai mendadak sunyi.
Beberapa detik kemudian, teriakan teman-teman mereka memenuhi ruangan.
Keisya membelalakkan mata.
"Kamu bercanda?"
"Gue serius."
"Alvaro, jangan main-main."
"Gue nggak pernah seserius ini sama siapa pun."
Keisya terdiam.
Alvaro menyodorkan bunga itu, tetapi tidak memaksanya untuk menerima.
"Gue tahu gue bukan cowok sempurna. Gue punya banyak kebiasaan buruk dan gue nggak bisa janji bakal berubah dalam semalam. Tapi gue mau berusaha jadi lebih baik."
Tatapannya tidak lagi menyiratkan kesombongan seperti biasanya.
"Gue nggak minta lo langsung suka sama gue. Gue cuma minta kesempatan buat buktiin kalau perasaan gue beneran."
Keisya menatapnya lama.
Kemudian, perlahan, dia menerima bunga matahari itu.
"Aku belum bisa jawab sekarang."
Alvaro tersenyum lega.
"Nggak apa-apa. Gue tunggu."
"Jangan ganggu aku terus."
Alvaro mengangguk patuh.
"Oke."
"Jangan bikin masalah di sekolah."
"Oke."
"Jangan tebar pesona ke cewek lain."
Alvaro terdiam sejenak.
Kemudian, senyuman jahilnya kembali muncul.
"Berarti gue boleh tebar pesona ke lo?"
Keisya langsung memukul lengannya dengan buket bunga.
"ALVARO!"
Tawa cowok itu memenuhi kelas.
Namun, di balik tawanya, dia merasa jauh lebih bahagia daripada yang pernah dibayangkannya.
---
Tiga minggu berlalu.
Alvaro benar-benar menepati janjinya.
Dia tidak lagi sengaja membuat Keisya kesal demi mendapatkan perhatian. Dia mulai belajar dengan serius, membantu teman-temannya, dan berhenti mempermainkan perasaan gadis-gadis yang menyukainya.
Tentu saja, sifat jahilnya tidak hilang sepenuhnya.
Dia masih suka mencuri tempat duduk Keisya, mengiriminya pesan tidak penting, dan menggodanya setiap kali mereka berpapasan.
Bedanya, sekarang dia juga menjadi orang pertama yang dicari Keisya ketika membutuhkan bantuan.
Sampai suatu sore, setelah kegiatan sekolah selesai, Keisya menemukan Alvaro duduk sendirian di tribun lapangan.
"Kok belum pulang?" tanyanya.
Alvaro mengangkat kepala.
"Nungguin lo."
"Aku nggak minta ditungguin."
"Gue tahu."
"Terus?"
"Ya, gue pengin aja."
Keisya duduk di sebelahnya.
Untuk beberapa saat, mereka menikmati suasana sore tanpa berbicara.
Kemudian, Keisya mengulurkan tangan dan menyentuh jemari Alvaro.
Cowok itu langsung menoleh, nyaris tidak percaya.
"Keisya?"
Gadis itu menghindari tatapannya.
"Aku sudah memikirkan permintaanmu."
Jantung Alvaro berdebar kencang.
"Terus?"
Keisya menarik napas.
"Aku mau kasih kamu kesempatan."
Alvaro terdiam selama beberapa detik sebelum senyuman paling lebar yang pernah Keisya lihat muncul di wajahnya.
"Serius?"
Keisya mengangguk kecil.
Belum sempat dia mengatakan apa-apa lagi, Alvaro sudah berdiri dan berseru, "DIMAS! REVAN! GUE DITERIMA!"
Keisya spontan menutup wajahnya karena malu.
"ALVARO! KAMU MAU BIKIN AKU MALU, YA?"
Cowok itu tertawa, lalu kembali duduk di sampingnya.
"Maaf, Sayang. Gue terlalu bahagia."
Keisya langsung menoleh.
"Siapa yang kamu panggil sayang?"
"Pacar gue."
"Kita baru jadian!"
"Makanya gue lagi latihan."
Keisya berusaha memasang wajah galak, tetapi gagal ketika Alvaro menggenggam tangannya dengan lembut.
"Keisya?"
"Hm?"
"Makasih udah kasih gue kesempatan."
Kali ini, tidak ada godaan dalam suaranya.
Hanya ketulusan.
Keisya membalas genggaman itu.
"Jangan bikin aku menyesal."
"Nggak akan."
Alvaro mengangkat tangan mereka, lalu mengecup punggung tangan Keisya singkat.
Wajah gadis itu seketika memerah.
Sementara Alvaro hanya tersenyum puas.
Cowok yang dahulu terkenal tidak pernah serius dalam urusan cinta itu akhirnya menemukan seseorang yang membuatnya ingin bertahan.
Dan sejak hari itu, kehidupan Keisya berubah drastis.
Dia harus menghadapi Alvaro yang mengirim pesan selamat pagi setiap hari, menjemputnya ketika pulang sekolah, membawakan makanan kesukaannya, dan selalu mencari alasan untuk menggenggam tangannya.
Bahkan, ketika Keisya tidak membalas pesannya selama sepuluh menit, Alvaro bisa mengirim lima pesan berturut-turut.
Alvaro: Sayang, lagi apa?
Alvaro: Udah makan belum?
Alvaro: Kok nggak dibalas?
Alvaro: Kamu marah sama aku?
Alvaro: Keisyaaa, aku kangen.
Keisya yang membaca pesan-pesan itu hanya bisa menggeleng sambil tertawa.
Siapa sangka cowok yang dahulu membuatnya kesal setengah mati justru menjadi orang yang paling sering membuatnya tersenyum?
Ketika mereka berjalan bersama di koridor sekolah, Dimas dan Revan tidak pernah melewatkan kesempatan untuk menggoda Alvaro.
"Var, dulu lo bilang nggak bakal bucin!"
Alvaro merangkul bahu Keisya dan menjawab tanpa malu-malu, "Dulu gue belum ketemu dia."
"Terus sekarang?"
Alvaro menunduk, menatap Keisya yang sedang tersenyum kecil.
"Sekarang, kalau dunia nyuruh gue memilih antara harga diri dan dia, gue bakal pilih dia."
Keisya mencubit pinggangnya.
"Lebay!"
Alvaro tertawa, kemudian menggenggam tangannya lebih erat.
"Biarin. Gue cuma bucin sama lo."
Dan untuk pertama kalinya, Keisya tidak keberatan menjadi satu-satunya gadis yang berhasil menaklukkan sang bad boy.
Sebab, ternyata cinta tidak selalu datang dari seseorang yang sempurna.
Terkadang, cinta datang dari seseorang yang bersedia memperbaiki dirinya, belajar memahami kita, dan membuktikan bahwa perasaan bukan sekadar kata-kata.
Alvaro Mahendra mungkin tetap menjadi bad boy di mata seluruh sekolah.
Namun, di hadapan Keisya Anindita, dia hanyalah seorang cowok yang jatuh cinta terlalu dalam dan tidak pernah malu menunjukkannya.
TAMAT.