Aku kenalkan, namaku Senja. Aku bekerja di laundry kiloan di Jalan Riau, Pekanbaru. Tiap hari tugasku menyortir baju, mencium bau deterjen, dan menemukan benda-benda tertinggal di saku pelanggan. Korek, struk Indomaret, uang 2 ribu, dan surat.
Ya, surat.
Sudah 2 tahun, setiap hari Selasa, selalu ada satu kemeja putih dengan tulisan di sakunya. Kertas dilipat kecil. Tulisan tangan laki-laki.
_Untuk Perempuan Laundry Jalan Riau,_
_Hari ini hujan lagi. Aku masih menunggu kamu bilang iya._
Awalnya aku kira iseng. Tapi surat itu datang terus. 104 surat dalam 2 tahun. Tidak pernah ada nama pengirim.
Aku membalasnya di minggu ke-50. Aku selipkan balasan di saku kemeja yang sudah bersih.
_Untuk Laki-laki Kemeja Putih,_
_Iya nya untuk apa?_
Minggu depannya, dia balas.
_Iya untuk jadi pacarku. Sudah 2 tahun aku titip baju di sini cuma untuk surat ini._
Sejak itu kami pacaran lewat saku kemeja. Tidak pernah ketemu. Aku tidak tahu wajahnya, dia tidak tahu wajahku. Laundry ku ramai, aku pakai masker terus. Aku hanya tahu kemeja putihnya selalu wangi kayu manis.
Dia bercerita dia kerja di gudang spare part, ibunya sakit, dia ingin resign dan buka kedai kopi. Aku bercerita aku ingin kuliah lagi tapi ijazahku ditahan tempat kerja lama.
Di surat ke-120, dia menulis:
_Minggu depan aku akan ambil baju terakhir. Aku mau ajak kamu ketemu di taman depan laundry jam 5 sore. Aku pakai kemeja putih itu. Kalau kamu mau, pakai pita kuning di rambutmu. Senja._
Namaku memang Senja. Aku tidak pernah kasih tahu namaku. Tiba-tiba aku takut.
Hari Selasa yang dijanjikan, aku pakai pita kuning. Aku tunggu sampai jam 6. Tidak ada yang datang. Kemeja putih itu juga tidak pernah datang lagi untuk laundry.
Aku marah. Merasa dibodohi. Aku berhenti membalas.
Satu bulan kemudian, seorang ibu tua datang ke laundry.
"Mbak, ini ada baju anak saya yang ketinggalan 2 bulan lalu. Kemeja putih."
Jantungku berhenti.
"Anak ibu kemana?"
Ibu itu tersenyum sedih. "Anak saya, Dimas, meninggal sebulan lalu. Kecelakaan kerja di gudang. Di sakunya, kami temukan banyak kertas. Surat-surat dari Mbak. Dia tulis di buku harian, dia malu ketemu Mbak karena dia sudah sakit paru-paru stadium akhir. Dia bilang, dia cuma berani cinta lewat surat."
Ibu itu menyerahkan sebuah kotak. Isinya 1 kemeja putih yang belum sempat di-laundry, dan satu surat terakhir yang belum sempat diselipkan.
_Senja,_
_Maaf aku tidak datang. Dokter bilang aku tidak boleh keluar hujan. Kalau aku sembuh, aku janji datang. Kalau tidak, tolong jangan pakai pita kuning untuk orang lain ya. Simpan untukku saja._
_- Dimas_
Aku menangis di depan mesin cuci yang berisik.
Sekarang, setiap hari Selasa, aku tetap menyetrika satu kemeja putih itu. Tetap wangi kayu manis. Dan aku tetap menyelipkan surat di sakunya.
_Untuk Laki-laki Kemeja Putih,_
_Hari ini hujan lagi. Aku masih pakai pita kuningnya. Iya._