Aku bekerja di divisi komunikasi. Salah satu tugasku adalah mendokumentasikan kegiatan kantor: rapat besar, pelatihan, perayaan ulang tahun perusahaan, dan acara-acara kecil yang tidak penting tapi tetap harus ada fotonya. Aku bukan fotografer profesional. Aku hanya orang yang kebetulan bisa memegang kamera dan tidak keberatan berdiri di sudut ruangan selama acara berlangsung.
Dari balik lensa, aku melihat banyak hal. Aku melihat orang-orang berusaha tersenyum meski lelah. Aku melihat atasan yang menepuk bahu bawahan dengan ramah, lalu membicarakannya di belakang. Aku melihat rekan-rekan yang berpose canggung, lalu tertawa saat melihat hasilnya. Tapi ada satu orang yang selalu ingin kufoto tanpa diminta: Ratna.
Ratna bekerja di divisi hukum. Ia cantik dengan cara yang tenang. Tidak menonjol, tapi selalu terlihat rapi. Rambutnya selalu diikat, kemejanya selalu rapi, dan sepatunya selalu bersih. Kalau ia berjalan di lorong, orang akan menoleh. Bukan karena ia meminta, tapi karena ada sesuatu di dirinya yang menarik perhatian.
Aku mulai memperhatikannya sejak acara ulang tahun perusahaan tahun lalu. Saat itu, aku ditugaskan memotret seluruh karyawan. Ratna berdiri di barisan belakang, tersenyum tipis. Aku mengambil gambarnya. Lalu aku mengambil lagi. Dan lagi. Hingga aku sadar, aku punya dua puluh foto Ratna, dan hanya tiga foto orang lain.
Sejak itu, aku selalu mencari alasan untuk memotretnya. Kalau ada rapat, aku memastikan kamera diarahkan ke meja tempat ia duduk. Kalau ada acara, aku mengikuti ia dari jauh. Aku tidak pernah bicara banyak dengannya. Hanya sebatas “permisi, boleh foto sebentar?” dan ia akan tersenyum, mengangguk, lalu berpose. Setelah itu, aku akan pergi sebelum ia bertanya kenapa.
Aku tidak tahu statusnya. Aku sengaja tidak mencari tahu. Aku menikmati rasa kagum ini tanpa harus berurusan dengan kenyataan. Tapi kenyataan selalu punya cara untuk datang.
Suatu sore, aku diminta memotret acara keluarga karyawan. Acara ini diadakan di taman kantor, dengan anak-anak berlarian dan orang tua duduk di bawah tenda. Aku berjalan di antara kerumunan, memotret apa saja. Lalu aku melihat Ratna. Ia duduk di atas tikar, memangku seorang anak perempuan kecil. Di sebelahnya, seorang pria memegang kotak makan dan menyuapi anak itu. Ratna tertawa. Pria itu menatapnya dengan sayang. Anak itu memanggil Ratna “Mama”.
Aku menurunkan kamera. Jantungku berdebar aneh. Aku tidak merasa patah hati. Aku hanya merasa bodoh. Selama ini aku memotretnya seperti memotret sesuatu yang bebas. Ternyata ia sudah punya rumah.
Aku berbalik dan memotret orang lain. Tapi sepanjang acara, mataku terus kembali ke tikar itu. Ratna sedang bahagia. Dan aku tidak punya hak untuk mengganggu kebahagiaan itu.
Besoknya, aku mengunduh semua foto ke komputer. Aku membuka folder Ratna. Ada ratusan foto. Aku menatapnya satu per satu. Di setiap foto, Ratna tersenyum. Tapi tidak ada satu pun yang menatap kamera dengan cara yang sama seperti ia menatap suaminya di acara keluarga kemarin. Aku baru sadar, selama ini aku hanya memotret wajahnya. Aku tidak pernah benar-benar melihat hidupnya.
Aku memilih sepuluh foto terbaik, lalu menghapus sisanya. Bukan karena aku benci. Tapi karena aku ingin berhenti mengumpulkan sesuatu yang bukan milikku.
Beberapa minggu kemudian, Ratna menghampiriku di pantry. “Kamu fotografer acara keluarga kemarin, ya?”
Aku mengangguk. “Iya.”
“Bisa kirim fotoku dan keluargaku? Aku belum lihat.”
Aku menatapnya. “Bisa. Nanti kukirim.”
“Terima kasih.” Ia menatapku sebentar. “Kamu sering motret aku, ya?”
Aku tersentak. “Kelihatan ya?”
Ratna tersenyum. “Kelihatan. Tapi tidak apa-apa. Aku tidak keberatan. Asal fotonya bagus.”
Aku tertawa. “Bagus kok.”
“Syukurlah.” Ia menuang kopi, lalu pergi.
Aku mengirim foto itu sore harinya. Ratna membalas: “Bagus. Terima kasih. Anakku suka.”
Aku menatap pesan itu. Ada sesuatu yang hangat, tapi juga sesuatu yang menutup. Aku menyimpan ponselku, lalu membuka folder foto di komputer. Aku menatap foto Ratna yang terakhir. Ia sedang tersenyum, memeluk anaknya. Suaminya berdiri di samping, memegang payung.
Aku menutup folder itu. Tidak ada lagi foto Ratna di komputermu. Hanya satu, yang kukirim ke ponselku, lalu kuhapus. Aku tidak perlu menyimpan apa pun. Tatapan itu sudah cukup. Dan aku belajar, kadang mengagumi seseorang berarti tahu kapan harus berhenti memotret.
(Selesai.)