Pada malam yang sama, ketika sebuah konser megah berlangsung di sebuah kota besar, ribuan orang mungkin sedang berdiri di bawah cahaya lampu yang begitu terang hingga malam seakan kehilangan gelapnya.
Di atas panggung, seorang penyanyi tampil di hadapan puluhan ribu manusia.Layar raksasa menyala, kembang api meledak, musik menggema, dan orang-orang membayar mahal untuk berada di sana.Di antara penonton mungkin terdapat pengusaha besar, konglomerat, bahkan orang-orang yang bagi sebagian besar manusia tidak perlu lagi memikirkan harga makanan esok pagi.
Bagi mereka, hiburan dapat menjadi sesuatu yang besar.
Sebuah perjalanan ke negara lain.Sebuah konser.Sebuah festival film.
Sebuah meja makan di restoran mewah.Sebuah pertunjukan yang hanya berlangsung beberapa jam, tetapi menghabiskan uang yang bagi orang lain mungkin setara dengan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun penghasilan.
Namun pada waktu yang hampir bersamaan, di tempat yang jauh dari gemerlap itu, mungkin ada seseorang yang baru saja pulang dari kebun.
Tangannya masih berbau tanah.
Ia membersihkan diri, makan malam bersama keluarganya, lalu berjalan menuju surau ketika matahari telah tenggelam.Tidak ada karpet merah.Tidak ada lampu panggung. Tidak ada tiket.Tidak ada layar raksasa.
Mungkin hiburannya hanyalah berbincang dengan tetangga setelah salat, mendengar suara anak-anak bermain, atau duduk di depan rumah sambil memandang malam.
Dan yang menarik adalah: kedua orang itu mungkin sama-sama merasa hidupnya normal.
Orang di kota mungkin tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya bekerja di kebun setiap hari.
Orang di desa mungkin tidak pernah membayangkan bagaimana rasanya duduk di dalam stadion raksasa dan menyaksikan puluhan ribu manusia bernyanyi bersama.
Bahkan ketika orang desa melihat sebuah festival mewah di layar televisi, mungkin pertanyaan pertamanya bukanlah, “Bagaimana caranya aku bisa pergi ke sana?”
Mungkin ia justru bertanya,
“Acara apa itu?”
Bukan karena ia tidak memiliki keinginan.
Bukan pula karena ia tidak mampu memahami kesenangan.
Tetapi karena ada begitu banyak bentuk kehidupan yang tidak pernah diperkenalkan kepadanya.
Di situlah kesenjangan menjadi lebih dalam daripada sekadar perbedaan jumlah uang.
Kesenjangan adalah perbedaan tentang apa yang bahkan dapat dibayangkan seseorang sebagai bagian dari hidupnya.
Ada manusia yang sejak kecil mengetahui bahwa dunia begitu luas.Ia tumbuh dengan pesawat, hotel, konser, museum, festival, restoran, perjalanan, dan berbagai pengalaman yang menunggu untuk dicoba.
Ada pula manusia yang dunianya hanya sejauh jarak antara rumah, sekolah, kebun, pasar, dan surau.
Yang satu mungkin bertanya, “Mau pergi ke mana akhir pekan ini?”
Yang lain mungkin bertanya, “Besok kebunnya mau dikerjakan bagian mana?”
Keduanya hidup dalam tahun yang sama.
Mereka melihat matahari yang sama.
Mereka mungkin bahkan melihat bulan yang sama.
Tetapi kehidupan yang mereka alami hampir seperti berasal dari dua zaman yang berbeda.
Dan mungkin inilah hal yang paling jarang kita pikirkan ketika membicarakan kemiskinan.
Kita sering menghitungnya melalui angka: pendapatan, harga rumah, jumlah tabungan, biaya makanan.
Padahal ada bentuk kemiskinan lain yang jauh lebih sulit dihitung:
kemiskinan kesempatan untuk mengalami dunia.
Bukan berarti kehidupan sederhana tidak memiliki kebahagiaan.
Justru sebaliknya.
Seseorang dapat merasa sangat bahagia dengan keluarga, tanah, pekerjaan, tetangga, dan tempat ibadah yang ia miliki.
Tetapi tetap saja ada sebuah pertanyaan yang mengganggu:
Berapa banyak kemungkinan kehidupan yang tidak pernah sempat ia ketahui?
Sementara itu, orang yang memiliki kekayaan luar biasa mungkin telah melihat begitu banyak hal hingga dunia terasa seperti sebuah katalog pengalaman yang dapat dibeli.
Dan mungkin ironinya, semakin luas dunia yang dapat dimasuki seseorang, semakin besar pula kemungkinan ia merasa tidak ada lagi yang istimewa.
Sedangkan seseorang yang hidup sederhana mungkin dapat menemukan kebahagiaan dari sesuatu yang bagi orang lain tampak sangat kecil.
Jadi, ketika sebuah konser megah berlangsung di satu sisi dunia dan seseorang sedang berjalan menuju surau setelah bekerja di kebun di sisi dunia lainnya, kita sebenarnya sedang menyaksikan sesuatu yang lebih besar daripada sekadar perbedaan kelas sosial.
Kita sedang melihat dua bentuk kehidupan yang berlangsung pada waktu yang sama.
Dua manusia.
Dua dunia.
Dua cara memandang kebahagiaan.
Dan mungkin, tanpa pernah saling mengetahui keberadaan satu sama lain, keduanya sedang menjalani malam yang mereka anggap biasa.
Barangkali itulah hal paling aneh tentang kehidupan:
dunia tidak pernah benar-benar hanya memiliki satu kehidupan.
Pada detik yang sama ketika seseorang sedang membeli pengalaman seharga jutaan rupiah, seseorang lain sedang mencuci kakinya setelah bekerja di sawah.
Ketika satu orang sedang menyaksikan lampu panggung menyala di hadapan puluhan ribu manusia, orang lain sedang menyalakan lampu kecil di rumahnya.
Ketika satu orang bertanya, “Konser apa yang akan kita datangi bulan depan?”
orang lain mungkin bahkan belum pernah bertanya,
“Seperti apa rasanya berada di sana?”
Dan mungkin kita tidak akan pernah tahu:
berapa banyak dunia yang ada di dunia kita sendiri,
yang berjalan berdampingan,
tetapi tidak pernah benar-benar saling bertemu.
Tamat.