Di sebuah lembah hijau yang jauh dari hiruk-pikuk kota kerajaan, berdirilah sebuah desa bernama Valdoren.
Desa itu dikelilingi bukit-bukit rendah, hutan pinus, serta ladang gandum yang membentang sejauh mata memandang.Setiap musim semi, para petani menanam gandum dan jelai.Ketika musim gugur tiba, seluruh desa akan dipenuhi aroma roti yang dipanggang dari hasil panen.
Di desa itu tinggal seorang petani tua bernama Edmund bersama kedua putranya, Alden dan Lucien.
Kedua anak itu lahir dari keluarga yang sama.
Namun mereka seperti dua benih yang tumbuh dengan cara berbeda.
Alden, sang kakak, adalah anak yang dicintai tanah.
Sejak kecil, ia mampu mengetahui apakah tanah cukup subur hanya dengan menggenggamnya.Ia dapat mengenali penyakit tanaman dari perubahan warna daun dan mengetahui kapan hujan akan turun hanya dengan memperhatikan langit.
“Anak itu akan menjadi petani hebat,” kata para tetangga.
Edmund selalu tersenyum bangga mendengarnya.
Lucien berbeda.
Ia lebih suka duduk di bawah pohon tua sambil membaca buku daripada mencangkul tanah.
Meski begitu, Edmund tetap mengirimnya ke Akademi Pertanian Kerajaan di kota.
Ia berharap Lucien dapat menjadi ahli pertanian yang lebih hebat daripada dirinya.
Namun ternyata harapan itu justru menjadi awal penderitaan Lucien.
Di akademi, Lucien selalu gagal dalam praktik.
Ia salah menakar pupuk.
Tanaman percobaannya layu.
Benih yang ditanamnya tidak tumbuh.
Ketika murid lain mampu mengenali penyakit gandum hanya dengan melihat batangnya, Lucien harus membuka buku berkali-kali.
Suatu hari, gurunya memeriksa ladang percobaan miliknya.
“Tanamanmu mati lagi.”
Lucien menundukkan kepala.
“Maaf, Guru.”
Sang guru menghela napas.
“Lucien, kau anak petani.Bukankah seharusnya kau lebih memahami tanah daripada murid-murid lain?”
Lucien tidak mampu menjawab.
Kalimat itu terus terngiang di kepalanya.
Kau anak petani.
Seolah-olah karena ia lahir sebagai anak petani, ia diwajibkan memiliki kemampuan yang sama dengan ayah dan kakaknya.
Ketika pulang pada musim dingin, keadaan tidak lebih baik.
Alden telah berubah menjadi pemuda yang sangat terampil.
Ia mampu membantu ayahnya mengelola seluruh ladang.
Sementara Lucien bahkan tidak dapat membuat satu petak tanaman tumbuh dengan baik.
Suatu malam, Edmund akhirnya berkata,
“Jika kau tidak mampu menjadi petani, untuk apa Ayah membiayai sekolahmu?”
Lucien menggigit bibir.
“Aku sudah berusaha.”
“Berusaha?”
Suara Edmund meninggi.
“Kakakmu tidak perlu belajar bertahun-tahun untuk mengetahui bagaimana menanam gandum!”
Lucien terdiam.
Alden yang berada di dekat perapian ikut menundukkan kepala.
Ia sebenarnya kasihan kepada adiknya.
Namun ia tidak tahu bagaimana membelanya.
Malam itu Lucien masuk ke kamarnya.
Ia membuka buku pertanian yang selama ini selalu membuatnya merasa bodoh.
Kemudian ia melemparkannya ke lantai.
“Aku tidak berguna.”
Air matanya jatuh.
“Aku bahkan tidak bisa menjadi petani seperti mereka.”
Beberapa minggu kemudian, Lucien jatuh sakit.
Tubuhnya demam tinggi.
Ia menggigil sepanjang malam dan kesulitan bernapas.
Edmund panik dan memanggil tabib desa.
Namun tabib tua itu hanya menggeleng.
“Demamnya terlalu tinggi.”
Lucien yang setengah sadar memperhatikan semua yang dilakukan tabib tersebut.
Ramuan.
Nadi.
Pernapasan.
Warna kulit.
Bau napas.
Anehnya, sesuatu di dalam pikirannya mulai bekerja.
Ia teringat buku-buku tua yang pernah ia baca di perpustakaan akademi.
Bukan buku pertanian.
Melainkan buku tentang anatomi manusia.
Selama bertahun-tahun, Lucien diam-diam membaca buku kedokteran karena rasa ingin tahunya.
Ia tahu nama-nama tulang manusia.
Ia memahami cara kerja jantung.
Ia mengetahui bahwa beberapa jenis demam tidak boleh diperlakukan dengan cara yang sama.
Ia bahkan sering menghafalkan gambar organ manusia tanpa pernah merasa kesulitan.
Untuk pertama kalinya, Lucien menyadari sesuatu.
Ia tidak bodoh.
Ia hanya belajar sesuatu yang tidak pernah diminta keluarganya untuk pelajari.
Setelah sembuh, Lucien meninggalkan akademi pertanian.
Edmund mengira putranya menyerah.
Namun Lucien justru pergi ke sebuah biara tua di kota kerajaan.
Di sana para biarawan menyimpan ratusan manuskrip tentang pengobatan, anatomi, tanaman obat, dan penyakit.
Lucien meminta izin untuk belajar.
Hari demi hari ia membaca.
Bulan demi bulan ia berlatih.
Tahun demi tahun ia belajar dari para tabib.
Dan sesuatu yang mengejutkan terjadi.
Lucien yang dahulu selalu gagal dalam pertanian justru memiliki kecerdasan luar biasa dalam ilmu kedokteran.
Ia dapat mengingat isi manuskrip hanya setelah membacanya beberapa kali.
Ia mampu mengenali penyakit dari gejala yang tidak diperhatikan orang lain.
Ia bahkan menemukan hubungan antara beberapa penyakit dan kebersihan air yang belum dipahami banyak tabib desa.
Seorang tabib tua bernama Brother Matthias akhirnya berkata kepadanya,
“Lucien, kau memiliki pikiran yang jarang kulihat.”
Lucien tersenyum.
“Apakah itu berarti aku pintar?”
“Bukan.”
Sang tabib tertawa.
“Itu berarti kau menemukan tempat yang cocok untuk kepintaranmu.”
Bertahun-tahun kemudian, wabah demam menyebar di beberapa desa kerajaan.
Lucien ikut membantu para tabib.
Ia bekerja siang dan malam.
Ia merawat orang sakit.
Ia mengajari penduduk membersihkan sumber air.
Ia menemukan cara untuk mengurangi penyebaran penyakit.
Namanya akhirnya dikenal sampai ke istana.
Namun Lucien tidak ingin tinggal di kota kerajaan.
Ia ingin pulang.
Ke Valdoren.
Ke tempat yang dahulu membuatnya merasa tidak berguna.
Pada suatu sore, sebuah kereta berhenti di depan rumah Edmund.
Seorang pria turun dari dalamnya.
Ia mengenakan jubah dokter berwarna gelap dengan lambang kerajaan di dada.
Edmund yang sedang memperbaiki bajak memandangnya.
Matanya menyipit.
Kemudian wajahnya berubah.
“Lucien?”
Lucien tersenyum.
“Sudah lama, Ayah.”
Edmund menatap lambang di dadanya.
“Tabib kerajaan?”
Lucien mengangguk.
Alden keluar dari lumbung.
Begitu melihat adiknya, ia langsung berlari menghampirinya.
“Kau pulang!”
Keduanya berpelukan.
Edmund masih berdiri diam.
Kemudian lelaki tua itu menatap tangan Lucien.
Tangan yang dahulu ia anggap terlalu lembut untuk bekerja di ladang.
Kini tangan itu adalah tangan seorang dokter.
“Ayah dulu salah,” ucap Edmund.
Lucien terdiam.
“Ayah terlalu ingin melihatmu menjadi seperti Alden.”
Edmund menatap putranya.
“Ayah lupa bahwa kau adalah anak yang berbeda.”
Lucien menundukkan kepala.
“Dulu aku juga mengira aku gagal.”
Edmund menggeleng.
“Tidak.”
Ia tersenyum sedih.
“Kau tidak gagal menjadi petani.”
Edmund menepuk bahu putranya.
“Kau hanya bukan seorang petani.”
Sejak hari itu, Lucien mendirikan sebuah rumah pengobatan kecil di pinggir Valdoren.
Alden tetap mengurus ladang keluarga.
Ia menjadi salah satu petani terbaik di seluruh wilayah.
Lucien menjadi tabib yang dikenal hingga kota kerajaan.
Mereka tetap berbeda.
Tetapi untuk pertama kalinya, perbedaan itu tidak lagi menjadi alasan untuk membandingkan mereka.
Suatu pagi, Edmund duduk bersama kedua putranya di bawah pohon tua.
Di kejauhan, ladang gandum milik Alden bergoyang diterpa angin.
Di sisi lain desa, lonceng kecil rumah pengobatan Lucien berdenting.
Edmund tersenyum.
“Dulu Ayah mengira hanya ada satu cara untuk membuat seorang anak menjadi berhasil.”
“Ayah kira kau harus bisa melakukan apa yang bisa dilakukan kakakmu.”
Lucien tersenyum kecil.
“Ternyata tidak.”
Edmund menggeleng.
“Tidak ada dua benih yang tumbuh menjadi pohon yang sama.”
Alden tertawa.
“Kalau begitu, aku ini pohon gandum?”
Lucien ikut tertawa.
“Gandum bukan pohon.”
“Diamlah, Dokter.”
Mereka tertawa bersama.
Untuk pertama kalinya, Lucien tidak lagi merasa malu karena tidak mampu bertani.
Dan Alden tidak pernah merasa lebih hebat karena mampu.
Mereka akhirnya memahami sesuatu yang sederhana:
Seorang manusia tidak dapat dinilai hanya dari apa yang tidak mampu ia lakukan.
Ada yang dilahirkan dengan tangan untuk mengolah tanah.
Ada yang diberi pikiran untuk memahami ilmu.
Ada yang pandai menggunakan pedang.
Ada yang pandai menggunakan pena.
Ada yang mampu menyembuhkan tubuh.
Ada pula yang mampu menghidupkan kembali harapan seseorang.
Dan seperti benih di ladang Valdoren—
setiap manusia mempunyai tanah tempatnya sendiri untuk tumbuh.
Lucien hanya membutuhkan waktu lebih lama untuk menemukan tanahnya.
Tamat.