Ketika rindu disalahartikan, dan ketulusan akhirnya dipatahkan oleh kenyataan.
Malam itu, Ivy duduk sendirian sambil menatap layar ponselnya. Ada satu nama yang sejak tadi ingin ia sapa:
Didi.
Entah sejak kapan, pria itu menjadi seseorang yang kehadirannya selalu Ivy tunggu. Sebuah pesan sederhana darinya bisa membuat Ivy tersenyum, sementara balasan singkatnya sanggup merusak suasana hati Ivy sepanjang malam.
Ivy tahu Didi sudah memiliki istri dan anak. Ivy juga tahu bahwa kehidupan Didi bukan hanya tentang dirinya. Namun, entah mengapa, hati Ivy kadang lupa bahwa ia sedang menaruh perasaan pada seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi miliknya.
Malam itu, Ivy sebenarnya hanya rindu.
Ia ingin berbicara dengan Didi, ingin bercanda seperti biasanya, ingin merasakan sedikit perhatian yang belakangan semakin jarang ia dapatkan.
Tetapi, Ivy bukan perempuan yang pandai mengungkapkan kerinduan secara langsung. Ia lebih suka menyembunyikannya di balik candaan, sindiran kecil, dan kalimat-kalimat yang terdengar menyebalkan.
Maka, ia pun mengirim pesan.
Ivy: Dingin banget sih kamu. Kulkas aja kalah. 🥶
Didi membalas singkat.
Didi: Oh.
Ivy mengernyit. Ia mencoba lagi.
Ivy: Masih berasa ngomong sama tembok.
Didi: Iya.
Ivy menarik napas panjang. Ia menatap layar ponselnya dengan perasaan campur aduk.
Dalam hatinya, ia ingin berkata, “Didi, aku cuma kangen. Aku cuma ingin kamu sedikit lebih hangat sama aku.”
Namun, kalimat itu tidak pernah keluar.
Sebaliknya, Ivy malah semakin kesal.
Ivy: Aku ngomong panjang lebar, kamu cuma balas oh, iya. Kamu sebenarnya baca pesanku atau cuma lewat doang?
Didi: Gak.
Satu kata itu membuat Ivy terdiam sejenak.
Ia ingin marah, tetapi sebagian dirinya masih berharap Didi akan mengerti bahwa semua itu hanyalah cara Ivy mencari perhatian. Ia tidak sedang meminta Didi meninggalkan pekerjaannya, keluarganya, atau seluruh kesibukannya. Ia hanya ingin merasa bahwa dirinya masih dianggap ada.
Sayangnya, Ivy tidak tahu bahwa candaan kecilnya malam itu justru membuat Didi semakin kesal.
Percakapan mereka berakhir tanpa penyelesaian. Ivy tidur dengan perasaan kecewa, sementara Didi memilih diam.
Ivy mengira besok semuanya akan kembali seperti biasa.
Ternyata, ia salah.
Malam ketika semuanya berubah
Keesokan malamnya, Ivy membuka WhatsApp dan mencari nama Didi.
Ia ingin mengirim pesan, mungkin meminta maaf karena semalam terlalu banyak mengeluh. Atau mungkin, jauh di dalam hatinya, ia hanya ingin Didi menyapanya lebih dulu.
Namun, ada sesuatu yang berbeda.
Pesannya tidak terkirim seperti biasanya.
Ivy mencoba lagi. Tetap sama.
Ia membuka profil Didi, memeriksa beberapa hal, lalu menyadari kenyataan yang membuat dadanya mendadak sesak.
Didi telah memblokirnya.
Ivy terpaku menatap layar ponselnya.
“Serius, Di? Cuma gara-gara bercanda begitu, kamu sampai blokir aku?” gumamnya lirih.
Ia merasa marah, bingung, sekaligus terluka. Bukan semata-mata karena diblokir, melainkan karena ia tidak menyangka seseorang yang selama ini begitu dekat dengannya bisa memilih menghilang tanpa memberinya kesempatan untuk menjelaskan.
Setelah beberapa saat, Ivy mencoba menghubungi Didi melalui Messenger.
Pesan itu akhirnya terkirim.
Ivy:
Diblokir WhatsApp lagi, ya?
Percuma ngomong sama aku. Lebih baik ngomong sama tembok itu, kan? Katanya kamu lupa balas, Didi.
Abis aku chat panjang lebar, kamu cuma balas oh, iya, gak. Aku ini sebenarnya dianggap apa sama kamu? Aku cuma bercanda karena aku ingin ngobrol sama kamu, bukan mau cari masalah.
Kalau memang kamu sudah gak nyaman ngobrol sama aku, bilang saja. Gak perlu tiba-tiba memblokir seperti ini.
Ivy berhenti mengetik. Matanya mulai terasa panas, tetapi ia menahan air matanya.
Beberapa saat kemudian, balasan dari Didi muncul.
Dan kalimat pertama itu seolah menjadi pintu yang membuka kenyataan yang selama ini tidak ingin Ivy lihat.
Didi:
“Aku punya istri, anak, kesibukan ku di rumah mana kau tahu.”
Ivy membaca kalimat itu berkali-kali.
Ia tahu. Tentu saja ia tahu.
Sejak awal, ia tidak pernah lupa bahwa Didi adalah seorang suami dan ayah. Ia tidak pernah meminta Didi meninggalkan keluarganya. Ia hanya berharap mereka masih bisa berbicara dengan baik, tanpa harussaling menyakiti.
Namun, Didi belum selesai.
Didi:
“Tolong mengerti kalau berhubungan dengan suami orang.”
Dunia Ivy seakan berhenti sesaat.
Ia membaca kalimat itu sekali lagi. Kemudian sekali lagi.
Suami orang.
Dua kata sederhana yang terasa jauh lebih menyakitkan daripada ratusan kalimat kasar.
Bukankah sejak awal Didi tahu siapa dirinya? Bukankah Didi juga ikut membangun kedekatan itu? Lalu, mengapa sekarang seolah-olah hanya Ivy yang harus diingatkan tentang batasan?
Ivy ingin membalas. Ada begitu banyak kalimat yang berdesakan di kepalanya.
Ia ingin bertanya mengapa Didi membiarkannya merasa dekat jika pada akhirnya kedekatan itu justru dianggap sebagai kesalahan Ivy seorang diri.
Ia ingin mengatakan bahwa dirinya juga punya perasaan.
Bahwa di balik semua candaan menyebalkan itu, ada seorang perempuan yang diam-diam menunggu kabarnya.
Bahwa kalimat “kulkas aja kalah dingin” sebenarnya hanyalah cara lain untuk mengatakan, “Aku kangen kamu, Didi.”
Namun, setelah membaca pesan itu, Ivy kehilangan keinginan untuk menjelaskan apa pun.
Ia hanya mengetik:
Ivy: “Oke, fine. Makasih.”
Dua kata yang tampak sederhana, tetapi menyimpan begitu banyak luka yang tidak sanggup lagi ia jelaskan.
Setelah itu, Ivy meletakkan ponselnya.
Malam terasa begitu panjang.
Untuk pertama kalinya, ia tidak menangis karena Didi tidak membalas pesannya. Ia menangis karena akhirnya menyadari bahwa selama ini ia mungkin sedang berharap terlalu jauh kepada seseorang yang tidak pernah benar-benar menyediakan tempat untuknya.
Perempuan yang akhirnya memilih pergi
Malam itu, Ivy tidak lagi mencari alasan untuk membenarkan sikap Didi.
Ia tidak lagi berkata kepada dirinya sendiri bahwa Didi hanya sedang sibuk. Ia tidak lagi mencoba mengartikan balasan singkat sebagai tanda bahwa Didi sebenarnya masih peduli.
Ia mulai memahami sesuatu yang menyakitkan: perhatian yang pernah diberikan seseorang tidak selalu berarti ia mencintai kita dengan sungguh-sungguh.
Bisa jadi, seseorang datang ketika ia kesepian. Ia mencari teman bicara ketika sedang membutuhkan kehangatan. Ia menikmati perhatian yang kita berikan, tetapi tidak pernah berniat menanggung perasaan yang tumbuh karenanya.
Dan ketika keadaan berubah, kita baru menyadari bahwa bagi kita, hubungan itu memiliki arti yang jauh lebih besar daripada bagi dirinya.
Ivy tidak bisa memastikan seluruh isi hati Didi. Ia tidak tahu apakah Didi pernah memiliki perasaan yang tulus atau hanya membutuhkan tempat singgah ketika hidupnya terasa melelahkan.
Namun, satu hal kini terasa jelas baginya: hubungan itu telah membuatnya berharap, sementara ia tidak mendapatkan kepastian dan kejelasan yang ia butuhkan.
Ivy tidak ingin lagi menjadi seseorang yang menunggu pesan dari pria yang selalu bisa membuatnya merasa bersalah hanya karena merindukan perhatian.
Ia juga tidak ingin terus berada dalam hubungan yang membuatnya merasa harus meminta maaf karena memiliki perasaan.
Malam itu, Ivy membuka media sosialnya.
Satu per satu, ia menghapus pertemanan mereka. Foto, jejak percakapan, dan segala hal yang membuatnya mudah kembali mengingat Didi perlahan ia jauhkan.
Terakhir, Ivy membuka WhatsApp.
Nama Didi masih ada di sana.
Ia menatapnya cukup lama, lalu menekan tombol blokir.
Kali ini, bukan Didi yang meninggalkannya lebih dulu.
Kali ini, Ivy sendiri yang memilih menutup pintu.
Bukan karena ia sudah tidak memiliki perasaan. Justru karena perasaannya masih ada, ia tahu bahwa menjauh adalah satu-satunya cara agar luka itu tidak semakin dalam.
Ia tidak mengirim pesan terakhir. Tidak meminta penjelasan. Tidak menunggu Didi mencari dirinya melalui akun lain.
Ia tidak mengirim pesan terakhir. Tidak meminta penjelasan. Tidak menunggu Didi mencari dirinya melalui akun lain.
Ivy memilih diam.
Bukan diam karena kalah, melainkan karena ia akhirnya mengerti bahwa tidak semua hal harus diperjuangkan sampai hati sendiri hancur.
Epilog:
Beberapa hari kemudian, Ivy mulai membiasakan diri menjalani hari tanpa memeriksa apakah Didi sedang online.
Sesekali, kenangan itu masih datang. Ia masih mengingat percakapan mereka, candaan-candaan kecil, dan saat-saat ketika perhatian Didi pernah membuatnya merasa istimewa.
Ada malam ketika Ivy ingin sekali membuka kembali blokir itu.
Hanya untuk melihat apakah Didi mencarinya.
Hanya untuk mengetahui apakah kepergiannya berarti sesuatu.
Namun, setiap kali keinginan itu muncul, Ivy mengingat kembali kalimat Didi.
“Aku punya istri, anak, kesibukan. Kamu tahu.”
Kini, Ivy memahami bahwa Didi memang memiliki kehidupan yang harus ia utamakan. Dan Ivy pun memiliki kehidupan serta harga diri yang harus ia jaga.
Ia tidak perlu membenci Didi. Ia juga tidak perlu membuktikan bahwa Didi telah kehilangan seseorang yang berharga.
Cukup berhenti menempatkan dirinya di tempat yang membuatnya terus terluka.
Pada suatu malam, Ivy duduk di dekat jendela sambil memandangi langit. Ia tersenyum kecil ketika teringat candaan yang pernah ia kirimkan.
Dingin banget sih, kulkas aja kalah,” gumamnya.
Dulu, kalimat itu ia ucapkan agar Didi tertawa dan kembali hangat kepadanya.
Sekarang, ia justru tertawa getir sendirian.
Ternyata, bukan hanya balasan Didi yang dingin. Harapan Ivy selama ini juga perlahan membeku, sampai akhirnya ia sendiri yang harus mencairkannya dengan air mata.
Ivy mengusap pipinya, lalu berbisik kepada dirinya sendiri.
Aku cuma rindu, Di. Aku cuma ingin merasa bahwa aku juga berarti. Tapi sekarang aku mengerti, tidak semua orang yang membuat kita merasa istimewa benar-benar ingin mempertahankan kita.”
Ia menarik napas panjang.
“Mungkin aku memang pernah menjadi tempatmu singgah ketika kamu membutuhkan teman. Mungkin aku pernah membuatmu nyaman. Tapi aku tidak mau lagi menjadi pelarian seseorang, sementara hatiku sendiri berharap untuk dicintai dengan sungguh-sungguh.”
Malam itu, Ivy tidak lagi menunggu.
Ia membiarkan rindunya pergi tanpa harus sampai kepada Didi.
Sebab akhirnya ia mengerti, kehilangan seseorang yang tidak pernah benar-benar menjadi milik kita memang menyakitkan. Namun, kehilangan diri sendiri demi mempertahankan seseorang yang tidak memberi kepastian jauh lebih menyakitkan.
Dan sejak malam itu, Ivy memilih dirinya sendiri.
Bukan karena ia tidak lagi mampu mencintai.
Melainkan karena ia akhirnya sadar bahwa dirinya juga pantas mendapatkan cinta yang jelas, tulus, dan tidak membuatnya merasa seperti orang asing setiap kali ia membutuhkan sedikit perhatian.
Tamat. 🌹