Doni. Umur 28. Ojek pangkalan Stasiun Bekasi. Motor Supra X 125 tahun 2008. Jok sobek ditambal lakban hitam. Spion cuma satu, yang kiri. Yang kanan hilang dicuri maling 2 tahun lalu.
Tiap hari penghasilan 80 ribu kotor. Bersih 30 ribu setelah bensin dan setor pangkalan dan rokok.
Tinggal sama ibunya, Mak Ijah, di kontrakan petak belakang rel Bekasi. Mak Ijah jualan jamu gendong.
Doni tidak pernah tau bapaknya siapa. Mak Ijah kalau ditanya cuma bilang, "Bapakmu tentara. Gagah. Tapi hilang waktu perang. Perang melawan mantan."
Doni pikir bapaknya sudah mati di medan perang.
Sampai suatu hari, ada razia tentara beneran di pangkalan ojeknya.
Turun 2 orang pakai seragam loreng, baret merah, sepatu boots mengkilap.
"Doni bin Ijah?"
Doni kaget, helmnya jatuh. "Iya pak... saya nggak mangkal di trotoar pak... saya di got..."
Tentara itu kasih foto. Foto Mak Ijah muda, gendong bayi, foto bareng laki-laki gagah pakai seragam jenderal bintang 1. Masih muda.
"Ini Bapak kamu. Jenderal Hendri Wijaya. Bintang 3 sekarang. Panglima Kodam."
Doni pingsan. Beneran pingsan di atas motor Supra jok sobeknya.
Pas bangun, dia sudah di dalam mobil Fortuner TNI.
"Pak Jenderal mau ketemu kamu. Beliau sakit. Mau cari ahli waris. Karena anak satu-satunya dari istri sahnya... perempuan."
Di Markas Kodam yang AC-nya dingin kayak kutub, Doni ketemu bapaknya. Jenderal Hendri. Umur 58, masih gagah, kumis tebal.
Jenderal lihat Doni dari atas sampai bawah. Celana jeans sobek, sendal swallow, kaos oblong tulisan "Ojek Online Anti Mahal".
Jenderal nangis.
"Anakku... 28 tahun bapak cari kamu... ibumu dulu bapak tinggal karena disuruh negara tugas rahasia ke Timor Timur... bapak balik, ibumu sudah hilang dibawa juragan jamu..."
Doni masih bengong. "Jadi... saya... anak jenderal?"
"Iya. Dan kamu harus nikah."
"Hah?"
Jenderal kasih map. Isinya foto cewek cantik pakai jas dokter, kacamata, rambut diikat.
"Namanya Dokter Clara. Umur 26. Dokter bedah di RS Tentara. Cantik, pinter, kaya. Dia butuh suami. Kamu butuh istri buat dapat warisan bapak 5 Miliar. Syarat warisan: harus sudah nikah."
Doni lihat foto Dokter Clara. Cantiknya kayak di sinetron. Putih, hidung mancung.
"Kenapa dokter secantik itu mau nikah sama tukang ojek kayak saya, Pak?"
Jenderal batuk, "Karena... bapaknya Clara itu... maling motor."
Doni: "HAH?"
***
Clara itu dokter bedah berprestasi. Umur 26 sudah bedah 100 pasien. Tapi dia punya masalah.
Bapak kandungnya, *Pak Mamat*, tukang maling motor legendaris Bekasi. Sudah maling 200 motor Supra X. Termasuk Supra X spion kanan Doni yang hilang 2 tahun lalu.
Pak Mamat sekarang tobat. Sudah 2 tahun jadi marbot masjid. Tapi dulu dia pernah maling motor dinas milik Jenderal Hendri Wijaya 20 tahun lalu. Motornya masih disimpan di gudang rumah Clara sebagai kenang-kenangan dosa.
Jenderal Hendri tau itu. Jenderal mau balas dendam dengan cara halus: Nikahkan anaknya si maling motor sama anaknya sendiri yang tukang ojek. Biar impas.
Clara butuh suami ojek miskin karena dia lagi dikejar-kejar pasien. Ada pasien kaya, anak pejabat, mau nikah sama Clara. Kalau Clara nolak, karirnya di RS Tentara hancur. Jadi Clara butuh suami dadakan yang miskin, yang bisa diajak kontrak: "Maaf, saya sudah nikah sama tukang ojek, jadi tidak bisa nikah sama anak pejabat."
Kontraknya: Nikah 6 bulan. Doni dapat 500 juta. Clara aman dari anak pejabat.
Doni tanda tangan. Tidak baca. Yang dipikirin cuma: 500 juta bisa beliin Mak Ijah rumah, bukan kontrakan petak.
***
Akad nikah di Masjid Al-Ikhlas dekat pangkalan ojek. Bukan di hotel bintang 5.
Kenapa? Karena permintaan Clara: "Kalau nikah di hotel mewah, nanti anak pejabat itu datang. Mending di masjid ojek biar dia jijik dan nggak datang."
Doni pakai jas pinjaman dari Pak RT yang kebesaran. Celana jasnya kepanjangan, jadi diinjak.
Clara pakai kebaya dokter? Nggak. Pakai gamis putih simple. Tetap cantik. Tapi muka datar kayak lagi mau operasi usus buntu.
Penghulu: "Doni bin Hendri Wijaya, saya nikahkan engkau dengan Clara binti Mamat... dengan mas kawin seperangkat alat ojek: Helm, Jaket, dan Motor Supra X Spion Satu dibayar tunai."
Jamaah ojek pangkalan tepuk tangan.
Sah.
Setelah akad, Clara langsung bisik ke Doni, "Dek, denger ya. Aturan kontrak:
1. Jangan pegang saya.
2. Jangan tidur sekamar. Kamu di kontrakan petak ibumu, saya di apartemen RS.
3. Jangan pakai motor Supra bututmu buat antar saya. Saya malu.
4. Helm saya jangan sampai hilang lagi!"
Doni angguk. Padahal helm Clara belum dia kasih.
Malam pertama? Tidak ada. Clara langsung jaga malam di RS. Operasi pasien sampai jam 3 pagi.
Doni pulang ke pangkalan ojek, ditanyain teman-teman.
"Don, gimana rasanya nikah sama dokter? Enak?"
Doni jawab jujur, "Enak, helmnya wangi."
***
Minggu pertama nikah kontrak, ada acara keluarga. Makan malam di rumah Jenderal.
Meja makan panjang. Jenderal Hendri di ujung, Mak Ijah di ujung satunya lagi (sudah pakai kebaya baru dibeliin Doni), Doni pakai batik pinjaman, Clara pakai dress dokter.
Dan ada 1 tamu tambahan: Pak Mamat, bapaknya Clara, maling motor tobat, sekarang marbot masjid.
Pak Mamat ketemu Jenderal Hendri. 20 tahun tidak ketemu sejak maling motor dinas Jenderal.
Suasana tegang.
Jenderal: "Mamat..."
Pak Mamat: "Jenderal..."
Doni sama Clara sudah siap mau pisahin kalau berantem.
Pak Mamat tiba-tiba nangis, sujud di kaki Jenderal.
"Jenderal! Maafkan saya! 20 tahun lalu saya maling motor dinas Jenderal yang Honda Win! Saya jual 2 juta buat berobat anak saya Clara yang sakit DBD!"
Jenderal kaget. Selama ini dia kira motornya dicuri musuh negara. Ternyata dicuri bapaknya calon menantu karena anaknya sakit DBD.
Jenderal angkat Pak Mamat.
"Mamat... kamu maling motor saya buat berobat Clara?"
"Iya Jenderal..."
Jenderal lihat Clara yang dokter bedah berprestasi sekarang.
"Kalau begitu... kamu bukan maling. Kamu bapak yang hebat."
Pak Mamat nangis lagi.
Doni yang lihat itu, bisik ke Clara, "Dok, bapak kamu maling motor bapak saya?"
Clara bisik balik, "Iya. Dan motor kamu yang spion kanannya hilang 2 tahun lalu? Itu juga bapak saya yang maling. Ada di gudang."
Doni: "HAH?!"
Clara: "Ssttt! Nanti aku balikin! Spionnya masih ada! Masih bagus!"
Makan malam yang harusnya tegang, jadi makan malam paling ngakak.
Mak Ijah yang jualan jamu, cerita kalau dulu jamunya pernah diminum Jenderal waktu tugas di Timor.
Pak Mamat cerita kalau dulu dia maling motor pakai kunci T buatan sendiri.
Jenderal cerita kalau dulu dia cari Mak Ijah keliling Bekasi pakai motor Win yang akhirnya dimaling Pak Mamat.
Lingkaran maling motor dan jenderal ini... muter di Bekasi doang.
***
Clara pulang jaga malam jam 2 pagi, naik Gojek. Helm Gojeknya dia bawa pulang karena lupa balikin.
Pagi-pagi, helm itu hilang dari teras apartemennya.
Clara panik. Itu helm Gojek, kalau hilang harus ganti 300 ribu.
Dia telpon Doni, suami kontrak tukang ojeknya.
"Don! Helm aku hilang!"
Doni datang pakai Supra X spion satu, dengan kecepatan 20 km/jam karena takut mogok.
"Helm yang mana, Dok?"
"Helm Gojek! Yang hijau!"
Doni cek CCTV apartemen. Pelakunya: Pak Mamat! Bapaknya Clara sendiri! Kebiasaan lama kambuh! Maling helm!
Pak Mamat ketahuan, ditangkap satpam apartemen. Diinterogasi anaknya sendiri yang dokter.
"Bapak! Bapak tobat katanya! Kenapa maling helm lagi!"
Pak Mamat nunduk, "Kebiasaan, Nak... lihat helm nganggur... tangan gatel..."
Doni yang tukang ojek, malah belain mertua malingnya.
"Udahlah Dok, namanya juga mantan maling. Kayak mantan pacar, kadang kangen."
Clara ngakak. Pertama kalinya Clara ngakak depan Doni. Ngakak sampai kacamata dokternya miring.
Doni lihat Clara ngakak, jantungnya... deg-degan. Bukan karena cinta kontrak. Tapi beneran.
"Don, makasih ya..."
"Buat apa, Dok?"
"Buat nggak malu punya mertua maling helm."
Doni senyum, "Aku juga makasih, Dok. Buat nggak malu punya suami tukang ojek spion satu."
Sore itu, Doni antar Clara ke RS pakai Supra X spion satu. Clara tidak malu. Malah pakai helm Supra yang lakban hitam itu. Helmnya wangi matahari.
Pasien-pasien di RS lihat Dokter Clara cantik dibonceng tukang ojek spion satu, pada bisik, "Itu suaminya Dokter Clara? Romantis banget!"
Anak pejabat yang ngejar-ngejar Clara, lihat itu, langsung mundur. "Ah, sudah nikah sama ojek, nggak level sama gue."
Misi Clara berhasil.
***
Kontrak 6 bulan habis.
Doni sudah dapat 500 juta. Sudah beliin Mak Ijah rumah petak permanen, bukan kontrakan.
Clara sudah aman dari anak pejabat.
Harusnya cerai.
Di Kantor Urusan Agama Bekasi, Doni dan Clara duduk depan penghulu yang dulu nikahin mereka di masjid ojek.
Penghulu: "Jadi mau cerai?"
Doni lihat Clara. Clara lihat Doni.
Doni: "Dok, jadi cerai?"
Clara: "Helm Gojek yang hilang kemarin sudah ketemu belum?"
Doni: "Sudah. Bapak kamu balikin. Sudah dicuci."
Clara: "Spion motor kamu yang kanan yang hilang 2 tahun lalu?"
Doni: "Sudah kamu balikin juga. Sudah dipasang. Sekarang spionku dua."
Clara diam.
Doni diam.
Penghulu: "Gimana?"
Clara: "Pak Penghulu, kalau kontraknya diperpanjang seumur hidup bisa nggak?"
Doni kaget, "Dok?"
Clara lepas kacamata dokternya. Matanya merah. Bukan karena operasi.
"Don, 6 bulan ini aku diantar pakai Supra spion dua, aku jadi tau rasanya dibonceng bukan karena mobilnya bagus, tapi karena orangnya nggak ugal-ugalan. Aku jadi tau rasanya punya suami yang kalau aku jaga malam sampai jam 3 pagi, dia tungguin di pangkalan ojek depan RS cuma buat mastiin aku pulang aman, padahal nggak dibayar ojeknya."
Doni nangis. Tukang ojek nangis di KUA.
"Clara... aku juga... 6 bulan ini aku tau rasanya punya istri dokter yang kalau aku batuk, langsung dikasih vitamin, bukan dikasih jamu pahit Mak Ijah."
Mak Ijah, Jenderal Hendri, dan Pak Mamat yang ngintip dari luar KUA, tepuk tangan.
Jenderal: "SAH! PERPANJANG SEUMUR HIDUP!"
Pak Mamat: "Alhamdulillah, akhirnya helm nggak hilang lagi, ada yang jagain!"
Mak Ijah: "Jamu saya laku, mantu saya dokter!"
Penghulu bingung, "Ini jadi cerai apa nggak?"
Doni dan Clara jawab bareng: "Nggak jadi, Pak! Kami mau pulang naik Supra X spion dua!"
Mereka pulang boncengan. Clara yang bawa motor, Doni yang dibonceng. Karena Clara bilang, "Sekali-sekali suami yang dibonceng, biar tau rasanya jadi penumpang yang deg-degan."
Di belakang motor, ada stiker baru ditempel Doni:
*"OJEK PANGKALAN BEKASI - ANTI MALING HELM - KECUALI MERTUA SENDIRI"*
Dan di helm Clara yang sekarang sudah dua-duanya ada, ada tulisan tip-ex:
*"Milik Dokter Clara & Tukang Ojek Doni - Hilang? Hubungi Bapak Mamat Marbot Masjid, Jangan Polisi."*