Raya menatap bill di tangannya sampai pandangannya buram.
Rp 87.450.000
Angka itu lebih besar dari seluruh tabungannya seumur hidup.
Di balik kaca ICU, Dito — adiknya satu-satunya, umur 12 tahun — terpasang selang di mana-mana. Usus buntu yang pecah dan jadi infeksi. Dokter bilang harus operasi malam ini juga, kalau tidak, sepsis.
"Raya... gimana?" suster menatap kasihan. "Keputusan operasinya ditunggu sejam lagi ya."
Raya cuma 20 tahun. Mahasiswi semester 4, kerja part-time jadi barista. Orang tua mereka sudah tidak ada sejak 3 tahun lalu. Sekarang dia benar-benar sendirian.
Air matanya jatuh tanpa suara.
Saat itulah seseorang berhenti di sampingnya.
Dr. Fadil Adibrata.
Dokter bedah muda di rumah sakit itu. 29 tahun, yang selama 2 minggu ini sering dilihat Raya mondar-mandir visit Dito. Gantengnya kebangetan, tapi dinginnya juga kebangetan. Pasien lain memanggilnya "Dokter Es Batu".
"Adik kamu harus segera dioperasi," katanya pelan, tapi tegas.
Raya mengangguk cepat, menyeka air mata. "Saya tahu, Dok. Tapi... biayanya. BPJS adik saya belum aktif lagi, saya..."
"Saya bisa tutup semua biayanya," potong Fadil.
Raya mendongak. Kaget.
"Tapi ada syaratnya."
Detak jantung Raya berhenti sepersekian detik.
"Syarat... apa, Dok?"
Fadil menarik napas panjang, seperti ragu dengan kalimatnya sendiri. Dia melihat ke arah ICU, lalu kembali ke Raya.
"Nikah sama saya. Kontrak 6 bulan."
Dunia Raya seperti berhenti berputar.
"Apa...?"
"Nenek saya sakit keras di kampung. Dia cuma punya satu permintaan sebelum meninggal — lihat saya nikah. Saya tidak punya waktu untuk pacaran, tidak punya pacar. Kamu butuh uang untuk operasi adik kamu, saya butuh istri kontrak. Kita sama-sama butuh," jelas Fadil, datar. Seolah sedang menjelaskan dosis obat.
"Selama 6 bulan, kamu tinggal di rumah saya, ikut kalau ada acara keluarga. Setelah nenek saya... tenang, kita cerai. Saya kasih kamu 150 juta, di luar biaya rumah sakit Dito. Kamu bisa lanjut kuliah dengan tenang. Adik kamu aman."
Raya gemetar. "Dok, ini... ini gila. Saya bahkan tidak kenal Dokter."
"Justru karena tidak kenal, lebih mudah. Ini bisnis, Raya. Tidak pakai perasaan."
"Kalau saya menolak?"
Fadil melirik jam tangannya. "Kamu punya 45 menit sebelum ruang operasi harus disiapkan. Kalau kamu tolak, saya tetap akan operasi Dito sebagai dokter. Tapi soal biaya... kamu urus sendiri dengan administrasi."
Itu bukan ancaman. Itu kenyataan. Dan kenyataan itu lebih kejam.
Raya melihat lagi ke dalam ICU. Dito, yang kemarin masih rewel minta dibelikan es krim coklat. Satu-satunya keluarga yang dia punya.
Kalau dia menerima, dia menjual dirinya.
Kalau dia menolak, dia bisa kehilangan adiknya.
Tangannya mengepal sampai kuku menancap di telapak.
"Bagaimana, Raya?" Suara Fadil lebih pelan sekarang. Untuk pertama kalinya, tidak sedingin es.
Raya menggigit bibirnya sampai hampir berdarah.
"Kalau saya setuju... Dokter janji adik saya akan selamat?"
"Saya janji sebagai dokter bedahnya."
Air mata Raya akhirnya tumpah lagi.
"Baik... saya setuju, Dok."SETELAH TANDA TANGAN ITU
Operasi Dito berhasil.
Raya pingsan di depan ruang operasi karena tidak tidur 2 hari. Saat bangun, dia sudah di ruang rawat inap VIP, selang infus terpasang di tangannya, dan Dito sudah melewati masa kritis di sebelahnya.
Dan di meja, ada map coklat.
Isinya: Kuitansi lunas Rp 87.450.000, Akta Nikah atas nama Raya Anindya & Fadil Adibrata, dan selembar cek 150 juta.
Tanggal nikahnya... kemarin. Saat dia pingsan.
Dia menikah tanpa ijab kabul yang dia ingat. Hanya tanda tangan yang dia bubuhkan setengah sadar di depan penghulu yang didatangkan Fadil ke rumah sakit.
"Kamu sudah bangun."
Fadil berdiri di pintu. Masih dengan jas dokter. Wajahnya lelah.
"Kenapa... secepat ini?" suara Raya serak.
"Nenek saya meninggal tadi malam, jam 2 pagi. Sebelum operasi Dito." Fadil menatapnya lurus. "Maaf."
Raya membeku. Jadi pernikahan ini...
"Jadi saya menikah untuk orang yang sudah meninggal?"
"Tidak. Nenek saya sempat video call lihat foto kamu. Dia bilang 'cantik, mirip almarhumah kakekmu'. Dia tenang setelah itu."
Fadil mendekat, menyodorkan kunci.
"Mulai hari ini kamu tinggal di apartemen saya. Lantai 17. Dito setelah pulih juga ikut. Itu bagian dari perjanjian. Saya tidak akan sentuh kamu."
Raya pikir ini akan selesai dalam 6 bulan. Ternyata, itu baru awal.
RAHASIA VERSI 2: KENAPA HARUS RAYA?
Hari ke-7 tinggal serumah.
Fadil ternyata tidak sedingin yang dikira. Dia pulang jam 9 malam, selalu bawa dua kotak makan. Satu ayam, satu vegetarian — karena dia ingat Raya tidak makan daging sapi dari catatan rekam medis Dito yang ada alergi keluarga.
Dia tidak pernah masuk kamar Raya. Tapi tiap pagi, seragam kuliah Raya sudah disetrika rapi di depan pintu.
Sampai suatu malam, Raya tidak sengaja dengar Fadil telepon di balkon.
"Mama, aku sudah nikah. Jadi tolong batalin perjodohan dengan Gisel. Aku nggak akan nikah sama anak pemilik RS itu cuma biar kamu tetap jadi direktur keuangan."
"Apa? Mama mau cek? Datang aja ke apartemenku. Istriku ada."
Klik. Telepon ditutup dengan kasar.
Raya mundur pelan. Jadi ini alasannya.
Fadil tidak butuh istri untuk neneknya saja. Dia butuh tameng. Mamanya, yang ambisius, mau menjodohkan Fadil dengan Gisel — putri pemilik RS tempat Fadil kerja — demi jabatan dan saham. Kalau Fadil menolak, karirnya akan dihancurkan.
Dan Raya... adalah tameng yang paling mudah dikontrol. Gadis miskin yang butuh uang.
Hati Raya perih. Jadi dia bukan pilihan. Dia adalah pelarian.
Malam itu Fadil menemukannya menangis di dapur.
"Kamu dengar, ya?" Fadil tidak mengelak.
"Kenapa harus saya, Dok? Kenapa bukan orang lain yang... yang lebih selevel sama Dokter?" isak Raya.
Fadil diam lama. Lalu dia membuka laci, mengeluarkan sesuatu.
Sebuah foto usang. Foto seorang gadis 17 tahun berseragam SMA, sedang menjadi relawan banjir di tahun 2022. Sedang menggendong anak kecil di punggungnya sambil bagi-bagi nasi bungkus. Wajahnya kotor lumpur, tapi senyumnya lebar.
Itu Raya. 3 tahun lalu.
"Aku jaga posko medis waktu itu. Kamu tidak ingat aku. Kamu cuma sibuk bilang ke semua orang 'adik saya masih di pengungsian, tapi tidak apa-apa, yang penting anak-anak ini makan dulu'," kata Fadil pelan.
"Sejak itu aku cari kamu. Kebetulan Dito masuk RS tempatku kerja. Aku lihat nama belakangmu."
Raya menutup mulutnya. Tidak percaya.
"Jadi... nenek dan perjodohan itu..."
"Nenek memang sakit, itu benar. Perjodohan itu juga benar. Tapi kalau ditanya kenapa harus kamu dari semua gadis di dunia yang bisa kubayar..." Fadil menatapnya, untuk pertama kalinya matanya tidak dingin.
"Karena dari 3 tahun lalu, cuma kamu satu-satunya yang aku mau nikahi, bahkan tanpa kontrak."
Ruangan jadi sunyi. Hanya ada suara kulkas berdengung.
Raya berdiri di antara dua kenyataan: dia adalah tameng, tapi juga... seseorang yang sudah lama ditunggu.
Kontrak 6 bulan itu masih ada di atas meja. Baru berjalan 7 hari.
Tapi kenapa rasanya, Raya tidak ingin waktu itu cepat habis?