Hujan turun deras ketika Alina tiba di rumah peninggalan neneknya.
Rumah kayu itu berdiri di ujung desa, dikelilingi pohon-pohon tua yang rantingnya bergoyang liar diterpa angin. Cat putih pada dindingnya telah mengelupas, sementara beberapa genting tampak bergeser. Halamannya dipenuhi rumput liar yang tumbuh setinggi lutut.
Sudah dua belas tahun Alina tidak menginjakkan kaki di sana.
Ia kembali setelah menerima kabar kematian neneknya tiga hari lalu. Tidak ada keluarga lain yang bersedia mengurus rumah tersebut, sehingga tanggung jawab itu akhirnya jatuh ke tangannya.
"Besok pagi aku bereskan semuanya," gumam Alina sambil meletakkan koper di ruang tamu.
Listrik rumah itu masih menyala, meskipun beberapa lampu berkedip-kedip. Setelah menyalakan lampu ruang tengah, Alina berjalan menyusuri lorong yang menghubungkan tiga kamar tidur.
Kamar pertama adalah kamar neneknya.
Kamar kedua merupakan kamar yang dahulu ditempatinya setiap kali berkunjung semasa kecil.
Sementara itu, kamar ketiga berada di ujung lorong.
Pintunya terbuat dari kayu jati berwarna cokelat gelap. Sebuah gembok tua menggantung pada kait besi di bagian luarnya.
Alina berhenti di depan pintu tersebut.
Ingatan masa kecilnya mendadak muncul. Ia masih ingat pernah berdiri di tempat yang sama ketika berusia tujuh tahun. Saat itu, neneknya menarik tangannya dengan kasar setelah mengetahui ia mencoba menyentuh gagang pintu.
"Jangan pernah mendekati kamar ini, Alina!"
Alina masih bisa mengingat wajah pucat perempuan tua itu.
"Kenapa, Nek?"
Neneknya mencengkeram bahunya erat-erat.
"Karena apa pun yang kamu dengar dari dalam, jangan pernah menjawabnya. Mengerti?"
Alina kecil hanya mengangguk ketakutan.
Dahulu, ia mengira neneknya sengaja menakut-nakutinya agar tidak bermain di kamar tersebut. Namun, setelah bertahun-tahun berlalu, ingatan itu perlahan terlupakan.
Setidaknya, sampai malam ini.
---
Pukul dua belas lewat tiga belas menit, Alina terbangun karena mendengar suara ketukan.
Tok.
Ia membuka mata.
Tok.
Suara itu terdengar dari lorong.
Tok.
Seperti seseorang mengetuk pintu kayu menggunakan ujung jarinya.
Alina meraih ponsel dan menyalakan senter. Cahaya putih menerangi kamar yang gelap.
"Mungkin ranting pohon," gumamnya.
Ia turun dari ranjang, lalu membuka pintu kamar.
Lorong itu kosong.
Tidak ada siapa pun.
Namun, ketika hendak kembali, langkah Alina terhenti.
Suara ketukan tadi berasal dari kamar ketiga.
Tok.Tok.Tok.
Kali ini, ketukan itu terdengar jelas dari balik pintu.
Alina menelan ludah.
"Siapa di dalam?"
Pertanyaan itu terucap begitu saja.
Sesaat, semuanya hening.
Kemudian terdengar suara perempuan.
"Alina..."
Tubuh Alina menegang.
Suara itu begitu pelan, seolah berasal dari seseorang yang sedang berbicara dari dasar sumur.
"Alina, Sayang. Buka pintunya."
Ponsel di tangannya hampir terlepas.
Ia mengenali suara itu.
Suara tersebut adalah suara ibunya, perempuan yang meninggal dalam kecelakaan mobil ketika Alina berusia lima tahun.
"Mama?" bisiknya.
Terdengar isakan dari balik pintu.
"Mama kedinginan, Sayang."
Air mata menggenang di mata Alina. Selama bertahun-tahun, ia hanya menyimpan sedikit kenangan tentang ibunya. Wajah perempuan itu bahkan mulai kabur dalam ingatannya.
Namun, suaranya masih sama.
Sama persis.
"Alina, buka pintunya. Mama ingin memelukmu."
Alina melangkah mendekat.
Tangannya terangkat, hendak menyentuh gembok tua itu.
Namun, sebelum jarinya menyentuh besi yang dingin, ia teringat pesan neneknya.
Apa pun yang kamu dengar dari dalam, jangan pernah menjawabnya.
Alina segera menarik tangannya.
"Kalau kamu benar ibuku, kenapa kamu ada di dalam kamar ini?"
Tangisan di balik pintu mendadak berhenti.
Beberapa detik berlalu.
Kemudian terdengar suara tawa kecil.
Bukan tawa ibunya.
Suara itu serak, berat, dan membuat bulu kuduk Alina berdiri.
"Anak pintar."
Lampu lorong padam.
Alina menjerit dan berlari kembali ke kamarnya. Ia membanting pintu, menguncinya, lalu duduk di sudut ranjang sambil memeluk lutut.
Sepanjang malam, ia tidak tidur.
Dari balik dinding, terdengar suara langkah kaki menyusuri lorong.
Kemudian muncul suara ketukan yang berpindah-pindah dari satu pintu ke pintu lainnya.
Sampai akhirnya, semuanya berhenti tepat di depan kamarnya.
Tok.Tok.Tok.
"Alina," bisik suara ibunya.
"Kamu lupa mengunci pintu, Sayang."
Alina menatap gagang pintu.
Perlahan-lahan, gagang itu bergerak turun.
Padahal, ia yakin telah menguncinya.
Lalu terdengar suara kuku menggaruk permukaan kayu.
Kriiit.Kriiit.Kriiit.
Alina membekap mulutnya agar tidak menjerit.
Suara itu berlangsung selama beberapa menit sebelum akhirnya berhenti.
Namun, tepat ketika ia mulai merasa lega, sesuatu berbisik dari balik pintu.
"Mama tahu kamu ada di dalam."
Alina memejamkan mata.
"Besok kita bertemu, Sayang."
Setelah itu, lorong kembali sunyi.
---
Pagi harinya, Alina keluar kamar dengan wajah pucat dan mata sembap.
Ia tidak berani melewati kamar ketiga sendirian. Setelah memastikan pintunya masih terkunci, ia segera menghubungi Pak Wiryo, tetangga neneknya yang telah mengenal keluarganya sejak lama.
Lelaki tua itu datang sekitar pukul sembilan.
"Pak, saya mau tanya sesuatu."
Pak Wiryo mengangguk.
"Tentang kamar ketiga itu," kata Alina. "Apa sebenarnya yang disimpan nenek saya di dalamnya?"
Senyum di wajah lelaki tua itu langsung menghilang.
"Kamu mendengar sesuatu tadi malam?"
Alina terdiam.
Pak Wiryo menghela napas panjang.
"Seharusnya kamu tidak tidur sendirian di rumah ini."
"Kenapa?"
Lelaki itu melirik pintu kamar ketiga dari kejauhan.
"Dulu, ibumu meninggal bukan karena kecelakaan."
Dunia seakan berhenti berputar.
"Apa maksud Bapak?"
Pak Wiryo menundukkan kepala.
"Ibumu ditemukan meninggal di kamar itu. Lehernya terlilit kain, dan kedua tangannya penuh luka. Nenekmu bilang ibumu bunuh diri. Tapi, tidak ada seorang pun yang pernah melihat jasadnya dibawa keluar dari rumah."
Alina merasa lututnya kehilangan tenaga.
"Itu tidak mungkin. Saya masih ingat pemakaman Mama."
"Yang dikuburkan waktu itu bukan ibumu."
Air mata jatuh dari mata Alina.
Ia mundur beberapa langkah, berusaha menerima perkataan yang terdengar tidak masuk akal itu.
Pak Wiryo melanjutkan dengan suara gemetar.
"Sejak malam ibumu meninggal, nenekmu mengunci kamar tersebut. Setiap malam Jumat, selalu terdengar suara tangisan dari dalamnya. Nenekmu percaya ada sesuatu yang meniru suara orang-orang yang sudah meninggal."
Alina menatap lelaki itu dengan ngeri.
"Kenapa nenek tidak pernah melaporkannya?"
"Karena nenekmu takut sesuatu itu akan keluar."
"Memangnya apa yang ada di dalam kamar itu, Pak?"
Pak Wiryo tidak langsung menjawab.
Wajahnya terlihat semakin pucat.
"Saya tidak tahu. Dan saya tidak ingin tahu."
Ia segera berdiri.
Sebelum meninggalkan rumah, lelaki tua itu berbalik dan menatap Alina dengan sorot mata serius.
"Dengarkan saya baik-baik. Jangan buka kamar itu, apa pun yang terjadi. Kalau kamu mendengar suara ibumu lagi, jangan menjawab. Jangan mendekat. Dan yang paling penting, jangan biarkan apa pun yang ada di dalamnya menyentuhmu."
Setelah mengatakan itu, Pak Wiryo pergi tanpa menoleh lagi.
Alina berdiri terpaku di ruang tamu.
Semakin banyak pertanyaan muncul di kepalanya.
Jika ibunya benar-benar meninggal di kamar itu, mengapa neneknya menyembunyikan kebenaran? Lalu, siapa yang dikuburkan dalam pemakaman yang ia ingat?
Dan jika sosok yang memanggilnya tadi malam bukan ibunya, lantas apa sebenarnya makhluk tersebut?
Alina tahu seharusnya ia pergi meninggalkan rumah itu.
Namun, ia tidak bisa pergi sebelum mengetahui kebenarannya.
---
Siang harinya, Alina mulai mencari kunci kamar ketiga.
Ia memeriksa lemari, laci, dan beberapa kotak peninggalan neneknya. Setelah hampir satu jam, ia menemukan sebuah kotak jahit tua di bawah ranjang.
Di dalamnya terdapat sebuah kunci kecil berwarna hitam.
Ada pula secarik kertas yang dilipat menjadi empat bagian.
Alina membukanya dengan tangan gemetar.
Tulisan tangan neneknya memenuhi permukaan kertas tersebut.
Alina, jika kamu membaca surat ini, berarti Nenek sudah tidak ada.
Maafkan Nenek karena menyembunyikan kebenaran darimu.
Jangan buka kamar ketiga. Apa yang ada di dalamnya bukan ibumu.
Jika sesuatu itu sudah mengetahui namamu, jangan biarkan ia menyentuh darahmu.
Apa pun yang terjadi, jangan percaya pada wajah yang kamu lihat di dalam cermin.
Alina membaca surat itu berulang kali.
Dadanya terasa sesak.
Mengapa neneknya menyebut cermin?
Apa hubungan cermin dengan makhluk yang berada di dalam kamar tersebut?
Seharusnya ia membuang kunci itu dan segera meninggalkan rumah. Namun, rasa takutnya kini bercampur dengan kemarahan dan keinginan untuk mengetahui kebenaran.
Ia menggenggam kunci tersebut.
Lalu berjalan menuju kamar ketiga.
Gembok tua itu terbuka dengan sekali putaran.
Klik.
Alina menahan napas, kemudian perlahan mendorong pintunya.
Bau busuk langsung menyergap hidungnya.
Ia menutup hidung dengan telapak tangan sambil menyorotkan cahaya ponsel ke dalam ruangan.
Di sana terdapat ranjang besi, lemari tua, dan meja kecil yang dipenuhi lilin mati. Dindingnya dipenuhi coretan hitam yang menyerupai nama-nama orang.
Sebagian tulisan terlihat sudah sangat tua.
Sebagian lainnya tampak baru, seolah seseorang baru saja menuliskannya.
Alina mendekat.
Di antara puluhan nama itu, ia menemukan namanya sendiri.
ALINA.
Tulisan tersebut berada tepat di tengah dinding.
Di bawahnya terdapat sebuah tanggal yang membuat napasnya tercekat.
Tanggal hari ini.
Tiba-tiba, terdengar bunyi pintu berderit di belakangnya.
Alina berbalik.
Pintu kamar itu tertutup sendiri.
Ia berlari mendekat dan mencoba membukanya, tetapi gagangnya tidak bergerak sedikit pun.
"Jangan bercanda!"
Alina mengguncang pintu dengan panik.
Namun, sebelum ia sempat mencoba lagi, terdengar suara dari sudut ruangan.
Suara perempuan yang menangis.
Alina perlahan menoleh.
Di sana berdiri sebuah cermin besar yang ditutupi kain putih.
Ia teringat pesan neneknya.
Jangan percaya pada wajah yang kamu lihat di dalam cermin.
Alina seharusnya segera menjauh.
Namun, sesuatu dalam dirinya mendorongnya untuk mendekat.
Ia meraih ujung kain putih itu, kemudian menariknya.
Cermin tersebut memperlihatkan pantulan dirinya.
Rambut hitamnya tergerai berantakan. Wajahnya pucat karena kurang tidur, sementara kedua matanya terlihat sembap.
Semuanya tampak normal.
Sampai Alina menyadari satu hal.
Dalam pantulan itu, kepalanya tertunduk.
Padahal, ia sedang menatap lurus ke depan.
Jantungnya berdetak semakin cepat.
Perlahan-lahan, sosok dalam cermin mengangkat kepala.
Wajahnya sama persis dengan wajah Alina.
Namun, kulitnya pucat kebiruan, bibirnya menghitam, dan kedua matanya kosong seperti lubang yang tidak memiliki dasar.
Sosok itu tersenyum.
Alina mundur.
"Siapa kamu?"
Sosok dalam cermin mengangkat tangan, lalu menempelkan telapak tangannya ke permukaan kaca.
Bibirnya bergerak tanpa suara.
Alina tidak bisa mengalihkan pandangan.
Kemudian, sebuah bisikan terdengar tepat di belakangnya.
"Terima kasih sudah membukakan pintu."
KRAAAK!
Cermin itu retak dari dalam.
Alina menjerit dan berlari menuju pintu, tetapi sesuatu mencengkeram pergelangan kakinya.
Jari-jari itu dingin seperti es.
Ia terjatuh dengan keras.
Ketika menoleh, ia melihat seorang perempuan berambut panjang merangkak keluar dari bawah ranjang.
Wajahnya tertutup rambut kusut, sementara lehernya miring dengan sudut yang tidak wajar.
"Alina..."
Perempuan itu mengangkat wajah.
Itu ibunya.
Namun, lehernya terlilit kain putih yang basah oleh darah.
"Mama sudah menunggumu lama sekali."
Alina menangis sambil berusaha melepaskan cengkeraman itu.
"Mama, lepaskan aku!"
Perempuan itu tersenyum lebar.
"Kamu bukan anak Mama."
Cengkeramannya semakin kuat.
"Kamu adalah pintu yang selama ini kami tunggu."
Alina menggeleng sambil meronta.
"Apa maksudmu?"
Perempuan itu mendekatkan wajahnya.
Dari balik rambut kusutnya, terdengar suara tawa yang bertumpuk-tumpuk. Seolah puluhan orang sedang tertawa melalui satu mulut.
"Kami membutuhkan darah keturunanmu untuk keluar."
Alina membeku.
Sebelum ia sempat memahami perkataan itu, makhluk tersebut menarik tubuhnya ke arah cermin yang retak.
Alina menjerit dan menendang sekuat tenaga.
Tiba-tiba, seluruh lampu rumah menyala bersamaan.
Dari luar kamar, terdengar suara neneknya.
"Alina! Jangan biarkan dia menyentuh darahmu!"
Alina menendang tangan yang mencengkeram kakinya, lalu merangkak menuju pintu.
Cengkeraman itu terlepas.
Ia segera memutar gagang pintu yang kini terbuka dengan mudah, kemudian berlari keluar.
Pintu terbanting menutup tepat di belakangnya.
Alina tidak berhenti berlari sampai tiba di ruang tamu. Ia meraih tasnya, lalu menerjang pintu depan.
Namun, sebelum berhasil keluar, ia mendengar suara dari belakang.
"Alina, Sayang."
Suara itu bukan berasal dari kamar ketiga.
Suara itu terdengar tepat di belakang telinganya.
Alina membeku.
Seseorang mengembuskan napas dingin ke lehernya.
"Kenapa kamu meninggalkan Mama?"
Ia berbalik dengan mata terbelalak.
Tidak ada siapa pun di sana.
Hanya sebuah foto keluarga yang tergantung di dinding.
Foto itu memperlihatkan nenek, ibu, dan Alina ketika masih kecil.
Namun, sekarang ada sesuatu yang berbeda.
Di antara mereka berdiri seorang perempuan berwajah pucat dengan senyum lebar.
Wajahnya persis seperti Alina.
Perempuan itu mengenakan pakaian putih yang berlumuran darah. Lehernya terlilit kain, dan kedua matanya menatap lurus ke arah Alina.
Gambar tersebut bergerak.
Perempuan di dalam foto perlahan mengangkat tangannya, kemudian menempelkan telapak tangan ke permukaan bingkai.
Alina menjerit dan mundur.
Di bawah foto itu, muncul tulisan hitam yang sebelumnya tidak pernah ada.
ANAK KETIGA TELAH PULANG.
Tiba-tiba, pintu depan terbuka sendiri.
Angin dingin menerobos masuk.
Alina tidak menyia-nyiakan kesempatan itu. Ia berlari keluar rumah dan terus berlari menuju jalan desa tanpa berani menoleh.
Ia tidak peduli pada hujan yang kembali turun.
Ia hanya ingin pergi sejauh mungkin dari rumah tersebut.
Ketika akhirnya tiba di rumah tetangga, Alina terjatuh di halaman dengan napas tersengal-sengal.
Pak Wiryo yang kebetulan berada di sana segera menghampirinya.
"Alina? Ya Tuhan, apa yang terjadi?"
Alina mencengkeram lengan lelaki tua itu.
"Kamar itu, Pak! Ada sesuatu di dalamnya!"
Wajah Pak Wiryo langsung pucat.
"Kamu membukanya?"
Alina mengangguk sambil menangis.
Pak Wiryo memejamkan mata.
"Sudah terlambat."
"Apa maksud Bapak?"
Lelaki tua itu menatap Alina dengan ketakutan yang belum pernah dilihatnya.
"Selama ini, nenekmu bukan mengunci makhluk itu agar tidak keluar."
Alina menahan napas.
"Lalu?"
Pak Wiryo menelan ludah sebelum menjawab.
"Nenekmu menguncinya agar tidak menemukanmu."
Darah Alina terasa membeku.
Dari kejauhan, rumah neneknya tampak berdiri sunyi di balik tirai hujan.
Namun, di jendela lantai depan, terlihat seorang perempuan berdiri sambil tersenyum.
Wajahnya sama persis dengan wajah Alina.
Perempuan itu mengangkat tangan dan melambaikan jari-jarinya perlahan.
Kemudian, ia menghilang dari balik jendela.
Alina menutup mulutnya, menahan jeritan yang hampir keluar.
"Pak, apa yang harus saya lakukan?"
Pak Wiryo tidak menjawab.
Ia hanya menarik Alina masuk ke dalam rumah dan mengunci semua pintu.
Namun, ketika mereka melewati cermin di ruang tamu, Alina melihat sesuatu yang membuat seluruh tubuhnya lemas.
Pantulan Pak Wiryo terlihat normal.
Pantulan dirinya juga terlihat normal.
Tetapi di belakang pantulan Alina, berdiri seorang perempuan berambut panjang dengan leher terlilit kain putih.
Perempuan itu tersenyum.
Alina berbalik seketika.
Tidak ada siapa pun di belakangnya.
Ia kembali menatap cermin.
Kali ini, pantulan perempuan itu sudah berdiri tepat di sampingnya.
Bibirnya bergerak perlahan.
Sekarang giliranmu.
---
Malam itu, rumah tua di ujung desa kembali sunyi.
Pintu kamar ketiga tertutup rapat.
Gemboknya tergantung di tempat semula.
Namun, dari balik pintu, terdengar suara seorang perempuan menangis.
Disusul suara lain yang berbisik lembut.
"Tenang saja, Mama."
"Kali ini, aku yang akan keluar."
Beberapa detik kemudian, terdengar suara langkah kaki menjauh dari kamar ketiga.
Langkah itu menyusuri lorong, melewati ruang tamu, lalu berhenti di depan pintu utama.
Klik.
Kunci pintu terbuka dari dalam.
Dan ketika matahari terbit keesokan paginya, rumah itu sudah kosong.
Tidak ada Alina.
Tidak ada Pak Wiryo.
Tidak ada siapa pun.
Hanya sebuah foto keluarga yang tergeletak di lantai ruang tamu.
Di dalam foto itu, nenek dan ibu berdiri berdampingan.
Sementara di tengah mereka, Alina tersenyum lebar.
Di belakang tubuhnya, tampak puluhan wajah pucat mengintip dari kegelapan.
TAMAT