Sebulan setelah kontrak diperpanjang seumur hidup, hidup Doni dan Clara masih boncengan.
Bedanya sekarang Doni sudah bukan tukang ojek pangkalan biasa. Dia *Panglima Ojek.*
Gara-gara bapaknya Jenderal bintang 3, semua ojek se-Bekasi segan sama Doni. Kalau ada razia, ojek lain ditilang, Doni disalamin: "Siap, anak Jenderal!"
Motor Supra X spion dua-nya sekarang sudah di-mods. Jok tidak sobek lagi, sudah ganti kulit baru tulisan: *"Supra Bapak Jenderal - Anti Razia."*
Clara juga masih dokter bedah. Tapi sekarang kalau jaga malam, tidak naik Gojek lagi. Naik Supra X suaminya. Helmnya sudah dua, wangi semua.
Masalah baru datang dari Pak Mamat.
Pak Mamat, mertua Doni, maling motor tobat yang sekarang marbot masjid, kumat lagi. Bukan maling motor. Maling... kotak amal masjid.
Bukan buat foya-foya. Buat berobat. Pak Mamat kena usus buntu. Sakit perut 3 hari tidak bilang siapa-siapa karena malu. Malu sama anaknya yang dokter.
Sampai pingsan di masjid pas lagi adzan Subuh.
Dibawa ke RS Tentara tempat Clara kerja.
Clara yang jaga UGD pagi itu lihat pasien masuk. Wajah ditutup kain. Pas dibuka...
"BAPAK?!"
Pak Mamat pucat, keringat dingin, pegang perut.
"Nak... Bapak... sakit..."
Clara langsung jadi dokter, bukan anak. "Suster! USG! Ini appendicitis akut! Harus operasi sekarang!"
Yang jadi masalah: Dokter bedah yang jadwal operasi hari itu cuma 1: *Dokter Clara sendiri.*
Tidak boleh dokter operasi bapaknya sendiri. Itu aturan RS. Karena kalau panik, bisa salah potong.
Clara panik beneran. Tangannya gemetar.
Dia telpon Doni yang lagi mangkal di pangkalan.
"Don! Bapak usus buntu! Harus operasi! Aku nggak boleh yang operasi!"
Doni datang ngebut pakai Supra X. Masuk UGD pakai helm.
"Terus siapa yang operasi, Dok?"
"Dr. Hendra, tapi dia lagi cuti! Dr. Susi lagi operasi caesar!"
Sisa 1 dokter jaga: Dokter magang baru, masih koas, namanya *Dr. Bowo*, umur 23, kalau lihat darah pingsan.
Pak Mamat kesakitan, "Nak... biar Bapak mati aja... Bapak malu... Bapak maling kotak amal..."
Doni yang tukang ojek, yang biasanya cuma bisa benerin rantai motor, dapat ide gila. Ide ojek.
"Clara, gimana kalau aku yang operasi?"
Clara: "KAMU GILA?!"
"Bukan! Aku jadi asisten kamu! Kamu yang operasi, aku yang pegangin alat! Kayak kalau aku benerin motor, kamu yang kasih kunci!"
Clara mikir. Aturan RS bilang dokter tidak boleh operasi keluarga. Tapi tidak ada aturan yang bilang suami tukang ojek tidak boleh jadi asisten operasi bapak mertua maling motor.
Akhirnya, di ruang operasi jam 9 pagi, terjadi sejarah pertama di RS Tentara Bekasi:
*Operasi usus buntu Pak Mamat, maling motor tobat, dioperasi oleh anaknya sendiri Dokter Clara, dibantu suaminya tukang ojek Doni yang pakai baju operasi tapi masih pakai sendal swallow karena sepatunya ketinggalan di pangkalan.*
***
Lampu operasi terang.
Clara pakai sarung tangan. Doni pakai sarung tangan juga, kebesaran.
Clara: "Don, kasih gunting!"
Doni: "Gunting yang mana, Dok? Yang kayak gunting kuku apa gunting rumput?"
Clara: "Yang tajam!"
Doni kasih gunting operasi. Salah. Kasih gunting perban.
Clara: "Bukan itu!"
Pak Mamat yang setengah sadar karena bius lokal, ngigo, "Jangan... jangan maling lagi... Mamat... tobat..."
Doni bisik ke mertuanya, "Pak, tenang Pak, ini saya Doni, mantu Bapak, bukan polisi."
Pak Mamat: "Doni... jangan kasih tau Clara... Bapak maling kotak amal... 200 ribu..."
Clara dengar. Nangis di balik masker. Tapi tangannya tetap stabil. Profesional.
"Don, tarik!"
Doni tarik usus. "Tarik kemana, Dok? Kayak tarik gas motor?"
"Tarik pelan!"
Operasi berjalan 1 jam. Seharusnya 30 menit. Karena asistennya tukang ojek.
Pas usus buntu sudah dipotong, Clara mau jahit.
Doni lihat jahitan, "Dok, jahitnya kayak jahit jok motor saya ya? Yang sobek ditambal lakban?"
Clara ngakak di dalam ruang operasi. Pertama kalinya ada dokter ngakak pas operasi.
"Don, diem! Ini perut bapak saya!"
Jahitan selesai. Rapi. Clara memang dokter hebat.
Pak Mamat selamat.
***
Jenderal Hendri Wijaya datang pakai seragam lengkap. Mak Ijah datang bawa jamu.
Jenderal lihat Doni keluar ruang operasi masih pakai baju operasi dan sendal swallow.
"Anakku! Kamu operasi?!"
Doni: "Bukan Pak, saya cuma pegangin gunting. Kayak pegangin kunci T pas maling motor."
Pak Mamat yang sudah sadar di ranjang, lihat Jenderal, langsung mau bangun, "Jenderal! Saya maling kotak amal!"
Jenderal duduk di samping ranjang Pak Mamat.
"Mamat, kamu maling kotak amal masjid saya ya? Kotak amal yang saya sumbang 10 juta minggu lalu?"
Pak Mamat nangis, "Iya Jenderal... buat berobat... saya nggak punya BPJS..."
Jenderal ketawa, "Mamat, kotak amal itu memang buat orang sakit kayak kamu! Kamu nggak maling! Kamu ngambil hak kamu!"
Pak Mamat bengong.
Jenderal telpon ajudannya, "Kasih BPJS gratis buat Pak Mamat sekeluarga! Dan kasih juga motor dinas baru! Honda Win yang baru! Biar nggak maling lagi!"
Pak Mamat nangis lagi. Kali ini nangis tobat beneran.
Clara peluk Doni di depan ruang operasi. Masih pakai baju operasi berdarah.
"Don, makasih ya..."
"Buat apa, Dok?"
"Buat tadi nggak pingsan lihat usus Bapak."
Doni: "Aku juga makasih, Dok. Buat tadi nggak marah aku salah kasih gunting."
Pasien-pasien lain yang lihat dokter cantik peluk tukang ojek pakai sendal swallow di depan ruang operasi, pada foto-foto.
Caption IG mereka: _"Cinta sejati: Dokter bedah + Tukang ojek jadi tim operasi mertua maling motor."_
Viral lagi.
***
Seminggu kemudian, Pak Mamat sembuh. Pulang ke masjid. Tidak jadi marbot lagi. Naik pangkat jadi *Ketua DKM Masjid Al-Ikhlas Pangkalan Ojek.* Tugasnya jaga kotak amal biar tidak dimaling orang lain.
Motor dinas baru Honda Win dari Jenderal, dipajang di masjid, tidak dipakai. Ditulis: *"Motor Tobat - Dulu Hasil Maling, Sekarang Buat Antar Jenazah Gratis."*
Doni? Sekarang buka usaha baru di pangkalan ojek: *"Bengkel & Jahit Luka - Luka Motor Dijahit, Luka Usus Juga Bisa - Konsultasi Gratis, Operasi Bayar Pakai Gorengan Mak Ijah."*
Clara jadi dokter bedah yang terkenal karena operasi usus buntu pakai asisten tukang ojek. Banyak TV undang.
Ditanya wartawan, "Dokter Clara, gimana rasanya operasi bareng suami tukang ojek?"
Clara jawab, "Enak. Kalau saya salah potong, suami saya bilang, 'Dok, salah jalur, kayak salah masuk gang.' Jadi saya nggak tegang."
Doni ditanya wartawan, "Mas Doni, gimana rasanya jadi asisten dokter bedah?"
Doni jawab, "Enak, Pak. Ternyata jahit perut orang sama kayak jahit jok Supra. Bedanya, kalau jok sobek ditambal lakban, kalau perut sobek ditambal doa mertua."
Malam itu, di kontrakan petak yang sekarang sudah jadi rumah permanen, Doni, Clara, Mak Ijah, Jenderal Hendri, dan Pak Mamat makan malam bersama. Makan jamu dan gorengan.
Di atas meja, ada 2 helm. Helm Supra X Doni yang sekarang spionnya dua, dan helm Gojek hijau yang dulu hilang dicuri Pak Mamat, sekarang sudah balik dan dicuci bersih.
Pak Mamat lihat helm Gojek itu, tangannya gatel lagi. Mau ngambil.
Clara pukul tangan bapaknya pakai sumpit.
"Bapak! Tobat!"
Pak Mamat ketawa ompong, "Iya iya, Dokter galak! Bapak cuma mau lap helmnya! Biar wangi!"
Dan malam itu, di Bekasi yang macet dan berisik, ada satu keluarga paling aneh sedunia makan malam bareng:
Jenderal bintang 3, tukang jamu, maling motor tobat ketua DKM, dokter bedah cantik, dan tukang ojek panglima pangkalan yang sendal swallow-nya masih hilang satu di ruang operasi.
Keluarga yang disatukan bukan karena darah. Tapi karena helm yang hilang, motor yang dimaling, dan usus buntu yang dijahit bareng-bareng.