Lonceng di atas pintu toko jam milik Pak Tua Idris berdenting pelan, sebuah suara yang jarang terdengar di sore yang lembap itu. Kota ini, yang oleh penduduknya disebut sebagai "Kota Senyap", memang tidak pernah menyukai kebisingan. Namun, bagi Idris, setiap denting lonceng adalah tanda bahwa takdir sedang mengetuk pintunya.
Seorang pemuda berdiri di ambang pintu. Pakaiannya tampak asing—setelan jas abu-abu yang terlalu rapi untuk kota yang dipenuhi debu tambang tua. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak kayu kecil yang dibalut kain beledu hitam.
"Apakah Anda Idris?" tanya pemuda itu. Suaranya datar, tanpa emosi, seolah-olah ia telah melatih kalimat itu ribuan kali di sepanjang jalan.
Idris tidak mengangkat wajah dari lensa pembesar yang menempel di mata kanannya. Ia sedang berkutat dengan roda gigi sekecil butiran pasir dari sebuah jam saku buatan tahun 1800-an. "Tergantung siapa yang bertanya, dan jam berapa sekarang," jawab Idris pendek.
Pemuda itu melangkah masuk. Lantai kayu toko yang sudah tua berderit di bawah sepatunya yang mengkilap. "Nama saya Elian. Saya membawa sesuatu yang... tidak bisa lagi berjalan."
Idris akhirnya meletakkan pinsetnya. Ia mendongak, menatap Elian dengan mata yang sudah mulai keruh namun masih menyimpan ketajaman elang. Ia memberi isyarat agar kotak itu diletakkan di atas meja kerja yang berantakan.
Saat kain beledu itu dibuka, udara di dalam toko seakan-akan tersedot keluar. Suhu ruangan turun beberapa derajat. Di dalam kotak itu terdapat sebuah jam pasir yang aneh. Bukan pasir yang ada di dalamnya, melainkan gumpalan cahaya perak yang bergerak lambat, berputar-putar seperti galaksi kecil yang terperangkap dalam kaca kristal.
"Ini bukan jam biasa," bisik Idris. Tangannya yang gemetar mendekat, tapi ia ragu untuk menyentuhnya.
"Jam ini berhenti pagi ini," kata Elian. "Dan saat jam ini berhenti, matahari di kota saya tidak pernah terbit lagi. Kami terjebak dalam malam yang abadi selama empat puluh delapan jam terakhir."
Idris terdiam. Ia tahu legenda tentang *Chronos Argentum*—Jam Perak yang mengatur ritme waktu di tempat-tempat yang tak terpetakan oleh peta manusia. Sebagai penjaga jam terakhir dari ordo yang sudah punah, ia tahu bahwa jam pasir ini bukan rusak karena jatuh atau usia. Ia rusak karena ada seseorang yang mencoba mencuri waktu dari dalamnya.
"Siapa yang menyentuhnya?" tanya Idris tajam.
Elian ragu sejenak. "Ayah saya. Sebelum dia menghilang ke dalam kegelapan."
Idris menghela napas panjang, asap keluar dari mulutnya meskipun tidak ada api. Ia mengambil sebuah alat kecil berbentuk kunci berlian dan mulai memeriksa segel di bawah jam pasir tersebut.
"Dengar, Nak. Memperbaiki jam ini berarti kita harus masuk ke dalam mekanismenya. Dan mekanisme jam ini bukan terdiri dari besi atau kuningan, melainkan dari ingatan dan kemungkinan. Jika aku gagal, bukan hanya kotamu yang akan terjebak dalam kegelapan, tapi seluruh waktu yang kita kenal bisa melipat dirinya sendiri menjadi ketiadaan."
Elian tidak mundur. "Saya tidak punya pilihan lain."
Idris berdiri, punggungnya yang bungkuk tampak sedikit lebih tegak. Ia berjalan menuju bagian belakang toko, di mana sebuah jam dinding raksasa setinggi tiga meter berdiri tegak. Jam itu tidak memiliki angka, hanya simbol-simbol kuno yang terus berubah posisi.
"Kita butuh bahan bakar untuk memulai perjalanan ini," kata Idris sambil membuka pintu rahasia di balik jam raksasa itu. "Kita butuh setetes waktu dari masa lalumu yang paling menyakitkan. Apakah kau bersedia memberikannya?"
Elian tertegun. Ia tahu ini bukan sekadar perbaikan mekanis. Ini adalah transaksi jiwa. Di luar toko, langit Kota Senyap yang biasanya jingga mulai berubah menjadi hitam pekat, seolah-olah kegelapan dari kota Elian mulai merayap mengikuti jam pasir itu.
Idris memegang tangan Elian saat mereka melangkah melewati pintu rahasia di balik jam raksasa. Dunia di sekitar mereka melumer. Dinding kayu toko berubah menjadi kabut kelabu, dan lantai berubah menjadi hamparan air jernih yang tidak membasahi kaki.
Mereka kini berada di dalam *Chronos Argentum*. Di sini, waktu tidak mengalir lurus; ia menggantung di udara seperti ribuan gelembung sabun. Di dalam setiap gelembung, terdapat potongan kejadian: seorang bayi menangis, sebuah perang berkecamuk, dan setangkai bunga yang mekar lalu layu dalam sekejap.
"Cari memori ayahmu," perintah Idris. "Itu adalah jangkar yang menahan cahaya perak ini agar tidak mengalir."
Elian melihat ke sekeliling dengan panik. Ia melihat ayahnya di dalam sebuah gelembung, sedang menggenggam jam pasir itu dengan wajah penuh ketamakan. Ayahnya tidak ingin mencurinya untuk kekayaan, melainkan untuk memutar balik waktu demi menghidupkan kembali ibunya yang telah tiada. Itulah retakan pertamanya: keinginan manusia yang melawan kodrat alam.
Tiba-tiba, bayangan hitam muncul dari dasar air. Itu bukan monster, melainkan manifestasi dari "Waktu yang Terbuang". Sosok itu menyerupai ayah Elian, namun dengan mata yang kosong dan tangan yang berubah menjadi jarum jam tajam.
"Dia tidak menghilang, Elian," bisik Idris sambil mengangkat kunci berliannya yang kini bersinar terang. "Dia menjadi bagian dari kerusakan ini. Dia adalah 'Pencuri Detik' yang menghentikan rotasi dunia."
Pertempuran terjadi bukan dengan senjata, melainkan dengan kehendak. Sosok bayangan itu mencoba menyeret Elian ke dalam masa lalu, membujuknya dengan bayangan masa kecil yang bahagia. Elian hampir menyerah, air matanya jatuh ke permukaan air di bawah kakinya.
Namun, Idris berteriak, "Waktu bukan untuk dimiliki, Elian! Waktu adalah untuk dilepaskan! Jika kau menahannya, kau membunuhnya!"
Idris menyadari bahwa kunci berliannya tidak cukup kuat untuk menyegel kembali jam pasir itu. Dibutuhkan sebuah pengorbanan besar—seseorang harus tetap tinggal di dalam mekanisme jam untuk memutar roda gigi secara manual selamanya.
"Pergilah, Nak," kata Idris pelan. Wajahnya tampak lebih tenang dari sebelumnya. "Tugas penjaga jam memang berakhir di sini. Aku sudah terlalu lama melihat waktu dari luar. Sekarang, aku akan menjadi detaknya."
"Tidak, Pak Tua! Harus ada cara lain!" seru Elian.
Idris tersenyum, lalu mendorong Elian ke arah pusaran cahaya yang muncul di langit-langit labirin. "Bawa jam ini kembali ke kotamu. Saat matahari terbit, lupakan aku, tapi jangan lupakan berharganya setiap detik yang kau miliki."
### **Bagian Akhir: Fajar yang Kembali**
Elian tersentak bangun di lantai toko jam. Suasana sunyi. Kotak kayu di depannya terbuka, dan jam pasir itu kini kembali berfungsi. Cahaya perak di dalamnya mengalir dengan tenang, jatuh butir demi butir dengan irama yang merdu.
Ia berlari keluar toko. Di cakrawala Kota Senyap, garis warna emas mulai membelah kegelapan. Matahari terbit dengan megahnya, menghangatkan kulitnya yang dingin. Orang-orang mulai keluar dari rumah, bingung namun lega karena malam abadi telah berakhir.
Elian kembali ke dalam toko untuk berterima kasih pada Idris, namun toko itu kosong. Tidak ada meja kerja, tidak ada jam-jam dinding yang berdetak. Ruangan itu hanyalah sebuah bangunan tua yang sudah ditinggalkan puluhan tahun. Di tengah ruangan, hanya ada satu jam saku kecil yang tergeletak di lantai.
Elian memungutnya. Di balik tutup jam saku itu tertulis sebuah ukiran halus:
*"Untuk mereka yang menghargai hari ini, waktu tidak akan pernah habis."*
Elian tersenyum tipis. Ia menyimpan jam itu di sakunya dan melangkah keluar menuju kota yang kini hidup kembali. Penjaga gerbang itu telah tiada, namun waktu—untuk pertama kalinya dalam hidup Elian—terasa benar-benar miliknya.
**TAMAT.**