Kala itu bermain di halaman rumah seperti biasanya dia yang baru dari luar kota baru saja pulang dengan memakai topi dan kacamata hitam. Tetangga yang melihat bertanya “Siapa itu?” Menjawab seperti ayam berkokok “PAPAKU! PAPAKU! PAPAKU!” Ucapan itu terus terulang tanpa henti. Berlari ke arahnya memeluk dirinya, badan yang masih kecil mungil ini di angkat olehnya yang telah lelah bekerja dan digantikan dengan senyumannya. Dia membawa tubuh kecil yang masih polos ini untuk masuk ke dalam rumah. Di dalam
rumah ia memberikan mainan berbulu yang bisa berbunyi dan bisa menempel. Ya itu hanya boneka kuncung mainan yang bisa bersuara dan menempel yang seharusnya menjadi hiasan mobil. Penasaran dengan barang baru yang dapat menempel, kemudian menempelkannya di mana-mana hingga pada akhirnya kesal karena mulai tidak menempel. Lalu membuangnya begitu saja.
Malam hari, tidak bisa tidur diajaknya untuk berjalan jalan dengan mobil. Ingin sekali dekat dengannya memaksakan diri untuk duduk di pangkuannya. Duduk di kursi pengemudi dengan di pangku dan berjanji bahwa tidak akan membuat masalah. Duduk diam dan tenang, saat itu melihat beda berputar yang digerakkan olehnya yang menjadi kunci sebuah mobil bergerak. Ya, itu adalah setir, melihat dengan penasaran kemudian menumpangkan tangan kecil mungil ini ke atas tangannya. Ia menaruh tangan kecil ini di bawah tangannya
yang mengendalikan setir itu. Suasana malam di jalan raya dengan mobil dan sepeda motor yang sama-sama sama bergerak. Melihat banyak lampu jalan yang bersinar untuk menerangi para pengendara. Pada malam berikutnya kembali mengajak berkeliling dengan
menggunakan mobil tetapi dengan sesuatu yang berbeda. Di kursi penumpang depan telah diberikan mainan setir, bahagianya wajah ini dan memutar-mutar setir itu ketika mobil itu
bergerak.
Ia memang sering pergi keluar kota tetapi ia mempercayainya untuk di rawat oleh wanita yang ia cintai. Ia adalah sosok yang selalu menjaga tubuh dan jiwa ini yang masih polos. Tidak kenal dunia luar, yang diketahui hanyalah bermain dan bermain bersama anak-anak lain di komplek lingkungan tempat tinggal. Dia yang selama ini yang memasakkan makanan yang lezat dan bergizi. Dia juga yang memperhatikan jadwal imunisasi agar tidak terlambat. Walaupun mungil tetapi saat melihat jarum suntik memberontak itu sudah biasa baginya untuk membantu perawat memegang diriku. Malam harinya, ia selalu mengajak untuk melihat bintang-bintang dan bulan. Selalu penasaran dengan benda-benda langit, setiap malam wanita itu selalu berkata “itu bintang” benda langit yang sering di lihat berbentuk sabit hingga lingkaran yaitu bulan. Wanita itu selalu mengajak melihat bulan juga terutama saat terjadinya gerhana bulan. Tubuh ini terlalu pendek dan kecil terkadang untuk melihat gerhana bulan yang tertutup pepohonan. Dengan tangannya wanita itu mengangkat tubuh ini agar dapat melihat gerhana bulan yang sedang terjadi. Ya, walaupun melihat gerhana bulan terkadang harus membangunkan saat tengah malam.
Selalu ada ketika sedang sakit, saat berada di rumah sakit dialah satu satunya yang menjaga. Dia yang menjadi penghubung dari semua hal penting maupun saat sedang darurat kepadanya yang sedang bekerja di luar kota. Suatu ketika, ia mendengar kabarku sedang sakit di rumah dia bergegas untuk pulang. Ia rela meninggalkan semua pekerjaannya
dan terbengkalai hanya demi membantu tubuh ini agar bisa sembuh. Ia sampai di rumah kemudian menemani hingga malam saat sedang sakit, semakin memburuk sakit tak kunjung sembuh. Ia dan wanita kesayangannya bergegas membawa tubuh kecil nan lemah ini ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit dokter menyatakan untuk rawat inap. Anak kecil yang selalu ceria ini harus bertemu dengan yang namanya jarum untuk infus. Ketakutan saat melihat jarum infus. Karena itu pula, saat pemasangan infus badan ini harus di tidurkan dengan posisi tengkurap. Tentu saja, dengan salah satu tangan di pegang oleh perawat yang akan memberi infus yaitu tangan kiri dan tangan kanan di pegang oleh wanita itu serta kedua
kaki di tahan oleh dia yang selama ini mencari nafkah. Semua ini dilakukan demi
kesembuhan tubuh ini.Selama di rumah sakit wanita itu yang menjagaku dialah yang menjaga. Wajahnya selalu tersenyum untuk menutupi kesedihan dan rasa khawatir yang ada
dalam hatinya. Wanita itu berjaga siang dan malam untuk menemani jika membutuhkan sesuatu. Dialah yang mengantarkan ke kamar mandi, menyuapi makanan, walaupun tubuh kecil itu tidak nafsu makan dan merasa lemas.
Dia yang selalu bekerja termasuk saat tubuh ini sedang sakit, itu semua dia lakukan demi kesembuhanku. Tak pernah terbayang kan pada saat itu, betapa lelahnya bila setiap hari harus berangkat subuh dan pulang tengah malam. Terkadang ia bisa pulang cepat dan
terutama pada saat di rumah sakit ia selalu datang menemani waktu malam saat ingin tidur. Semuanya merasa lega dan senang setelah beberapa saat dinyatakan oleh dokter bisa
pulang dari rumah sakit.
Tentu saja pada saat pulang anak kecil mungil ini sangat senang, terdapat plester di tangan untuk menutupi bekas infus agar tidak berdarah. Dengan polosnya ia menatap ke langit rumah dan melihat awan. Padahal, hanya beberapa hari saja di rumah sakit seperti merasakan kerinduan yang amat sangat dalam terhadap rumah maupun langit yang sering di pandang walaupun lebih suka memandangi langit malam.
Kenakalan seorang anak kecil nan polos tentu saja tidak bisa di hindari. Sering keluar rumah untuk bermain dengan anak tetangga tanpa izin walaupun terkadang terhalang pintu yang di kunci oleh tetangga, malas beres-beres jika habis bermain sehingga terkena marah itu sungguh hal yang biasa. Kebiasaan jika bosan menonton maupun memutar film kartun di televisi. Tak lupa pula karena masih anak-anak wanita itu memutarkan beberapa lagu nasional dan daerah untuk menumbuhkan rasa cinta terhadap tanah air. Seperti Gundul-Gundul Pacul, Kicir-Kicir, Mariam Tomong, Indonesia pusaka, Gugur bunga, Rayuan pulau kelapa dan lain sebagainya.
Kartun-kartun yang di tonton adalah animasi yang menyenangkan. Walaupun, kebanyakan tanpa sadar wanita itu memberikan tontonan kartun edukasi. Seperti, “Apa yang harus di lakukan saat terjadi kebakaran”, “Apa yang harus di
lalukan saat bertemu orang asing” dan masih banyak lagi. Menontonnya bersama teman-teman satu komplek adalah hal yang menyenangkan. Terkadang juga wanita itu mengajarkan permainan tradisional baru selain hal-hal yang biasa di mainkan seperti engklek, petak umpet, benteng-bentengan, congkak dan lain sebagainya.
Saat itu kami sedang ingin bermain keluar namun, wanita itu menahan kami dan
mengajak kami bermain permainan tradisional yang baru yaitu bekel... Bola yang memiliki pasangan besi-besi mungil yang harus cepat di ambil besinya secara satu persatu saat bola di pantulkan dan harus sekali pantulan.
Awalnya dan jika sudah berhasil di lemparkan dan terambil seluruh besinya harus di lempar kembali dan bola kembali di pantulan dengan pengambilan di tambah 1 besi yang harus di ambil. Begitu terus sampai permainan berakhir.
Anak kecil itu dan teman-temannya tertarik untuk mencobanya namun, tidak semudah yang di lihat. Wanita itu seperti sudah terbiasa memainkan bola bekel itu. Anak kecil itu dan teman temannya kesal karena bermain bekel sulit di mainkan dan wanita itu berkata “tenanglah dan fokus, perbanyak latihan”.
Anak kecil dan teman-temannya itu pun tenang dan akhirnya ada satu anak di sana yang lancar memainkan bola bekel tersebut. Yang lain ikut senang, dan masa-masa ini takkan terulang kembali.