Siang itu, matahari bersinar begitu terik. Langit membentang biru tanpa awan, tetapi bagi Kirana, dunia terasa gelap sejak seseorang yang paling ia cintai menghilang.
Namanya Arga.
Lelaki yang selama tiga tahun terakhir selalu menemaninya menatap bulan dari beranda rumah. Lelaki yang pernah berjanji akan mencintainya sampai bulan tak lagi muncul di langit.
Namun, hari ini, Arga pergi.
Bukan saat malam tiba. Bukan ketika hujan turun menyembunyikan air mata. Ia pergi tepat ketika matahari berada di atas kepala, meninggalkan sepucuk surat di meja dan cincin perak yang pernah Kirana berikan kepadanya.
Kirana membuka surat itu dengan tangan gemetar.
“Kirana, maafkan aku. Ada sesuatu yang harus kuselesaikan. Jangan mencariku. Jika suatu hari kau melihat bulan di siang hari, anggaplah itu sebagai tanda bahwa aku masih mengingatmu.”
Hanya itu.
Tidak ada penjelasan. Tidak ada alamat. Tidak ada janji kapan mereka akan bertemu lagi.
Kirana menatap langit melalui jendela. Ia tahu bulan terkadang terlihat di siang hari, samar di antara cahaya matahari. Tetapi mengapa Arga memilih bulan sebagai pesan terakhirnya?
“Kenapa harus pergi sekarang, Ga?” bisiknya.
Air matanya jatuh, membasahi surat yang ia genggam.
Sejak hari itu, Kirana selalu mencari bulan di siang hari. Ia menatap langit ketika berjalan ke pasar, ketika duduk di halte, bahkan ketika bekerja di toko bunga milik ibunya.
Orang-orang menganggapnya aneh.
Namun, Kirana tidak peduli. Ia percaya, selama bulan masih bisa terlihat di siang hari, masih ada bagian dari Arga yang tinggal bersamanya.
Tiga bulan berlalu.
Kirana mulai belajar menerima kehilangan. Ia kembali tersenyum, meski terkadang senyumnya terasa dipaksakan.
Suatu siang, ketika sedang merapikan bunga mawar di depan toko, seorang lelaki tua datang membawa sebuah kotak kayu kecil.
“Apakah ini toko milik Kirana?” tanyanya.
Kirana mengangguk.
Lelaki itu menyerahkan kotak tersebut.
“Pesan dari seseorang yang sudah lama menunggumu.”
Jantung Kirana berdegup kencang.
“Dari Arga?”
Lelaki tua itu tidak menjawab. Ia hanya tersenyum tipis, lalu pergi.
Dengan napas tertahan, Kirana membuka kotak itu.
Di dalamnya terdapat sebuah foto dirinya dan Arga saat duduk di tepi pantai. Di balik foto itu, tertulis kalimat yang membuat dadanya sesak.
“Jika kau membaca ini, berarti aku telah menemukan keberanian untuk mengatakan kebenaran.”
Di bawah tulisan itu terdapat sebuah alamat.
Kirana segera berangkat.
Alamat tersebut membawanya ke sebuah rumah sederhana di pinggir kota. Di halaman rumah, seorang perempuan paruh baya sedang menyiram tanaman.
“Maaf, apakah Arga tinggal di sini?” tanya Kirana.
Perempuan itu terdiam. Matanya menatap Kirana dengan penuh iba.
“Kamu Kirana?”
Kirana mengangguk.
Perempuan itu menarik napas panjang.
“Arga sering bercerita tentangmu. Dia ingin bertemu denganmu, tetapi kondisinya semakin memburuk.”
Dunia Kirana seakan berhenti berputar.
“Apa maksud Ibu?”
Perempuan itu mengajaknya masuk. Di atas meja, terdapat beberapa surat yang belum sempat dikirim.
Arga ternyata sedang menjalani pengobatan untuk penyakit serius yang selama ini ia sembunyikan. Ia memilih menjauh karena tidak ingin Kirana menyaksikan perjuangannya.
Namun, sebelum Kirana sempat membaca surat-surat itu, perempuan tersebut menyerahkan satu amplop terakhir.
“Dia menitipkan ini untukmu.”
Kirana membuka amplop itu.
“Kirana, aku tidak pergi karena berhenti mencintaimu. Aku pergi karena takut suatu hari kau harus melihatku kehilangan kekuatanku. Aku ingin kau mengingatku sebagai lelaki yang pernah membuatmu tertawa, bukan lelaki yang membuatmu menangis di ruang rumah sakit.”
Di akhir surat, Arga menulis:
“Besok, pukul dua belas siang, lihatlah bulan. Jika kau masih ingin bertemu denganku, datanglah ke tempat pertama kali kita bertemu.”
Kirana memeluk surat itu erat-erat.
“Di mana Arga sekarang?” tanyanya dengan suara nyaris tak terdengar.
Perempuan itu menunjuk sebuah rumah sakit di seberang kota.
Keesokan harinya, Kirana berdiri di tepi danau tempat ia pertama kali bertemu Arga. Matahari tepat berada di atas kepala. Orang-orang berlalu-lalang, tetapi Kirana hanya menatap langit.
Dan di sana, bulan terlihat samar.
Bulan yang selama ini ia cari.
Bulan yang menjadi saksi janji mereka.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.
“Aku melihat bulan yang sama denganmu. Maaf karena membuatmu menunggu.”
Kirana langsung menelepon nomor itu.
“Arga! Kamu di mana?”
Suara lemah terdengar dari seberang.
“Aku di rumah sakit, Kirana.”
“Aku akan datang sekarang!”
“Kirana, tunggu.”
Ia terdiam.
“Aku hanya ingin mengatakan sesuatu sebelum kau datang.”
Kirana menggigit bibir, menahan tangis.
“Aku mendengarkan.”
“Aku mencintaimu. Bahkan ketika aku memilih pergi, bahkan ketika aku tidak berani menatap matamu. Aku selalu mencintaimu.”
Kirana memandang bulan yang pucat di langit.
“Kalau begitu, jangan pergi lagi, Arga. Aku tidak membutuhkan janji yang sempurna. Aku hanya ingin berada di sampingmu.”
Di seberang telepon, terdengar napas Arga yang berat.
“Aku akan menunggumu.”
Kirana berlari menuju rumah sakit.
Namun, ketika ia tiba, lorong itu terasa begitu sunyi. Seorang perawat menghampirinya dan menyebut nama Arga.
Kirana berhenti.
“Dia baru saja tertidur,” kata perawat itu lembut. “Kondisinya sangat lemah.”
Kirana memasuki kamar dengan langkah pelan.
Arga terbaring di sana. Wajahnya pucat, tetapi ketika melihat Kirana, ia tersenyum.
“Kau datang,” bisiknya.
Kirana menggenggam tangannya.
“Aku sudah menemukan bulan itu, Ga.”
Arga menoleh ke jendela. Cahaya siang menyentuh wajahnya.
“Indah, bukan?”
Kirana mengangguk, air matanya jatuh di atas tangan Arga.
“Indah. Tapi aku lebih ingin melihatnya bersamamu.”
Arga tersenyum kecil.
Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan, Kirana tidak merasa sendirian.
Ia duduk di samping lelaki itu, menggenggam tangannya, sementara bulan perlahan memudar dari langit siang.
Dan ketika sore tiba, Kirana menyadari sesuatu.
Bulan memang bisa pergi dari pandangan, tetapi bukan berarti ia menghilang.
Seperti cinta.
Kadang ia tersembunyi di balik jarak, ketakutan, dan perpisahan. Namun, selama masih ada hati yang mengingat, cinta tidak pernah benar-benar pergi.
Tamat.