Air sungai itu dingin seperti biasanya. Tapi pagi ini, ada sesuatu yang berbeda. Tangan tua Marzuki merasakannya sebelum matanya melihatnya—getaran halus di antara kerikil, seperti denyut nadi yang tertidur.
Ia berhenti menyekop. Lututnya yang sudah enam puluh tahun menekuk perlahan, membawanya lebih dekat ke air. Di bawah lapisan pasir dan batu kecil, ada sesuatu yang hijau. Bukan hijau lumut. Bukan hijau daun. Hijau yang dalam, seperti warna hutan saat senja.
Marzuki mengeluarkannya dengan kedua tangan. Batu itu sebesar buah jeruk, dengan serat-serat putih yang berkelok seperti akar. Ia menimbangnya. Berat. Lebih berat dari batu biasa.
"Giok Sojol," bisiknya.
Ia sudah menambang di sungai ini selama empat puluh tahun. Ayahnya juga. Kakeknya juga. Tapi selama itu, ia tidak pernah menemukan batu seperti ini. Batu ini tidak seperti giok yang biasa ia jual ke tengkulak. Batu ini... hidup.
Marzuki membungkus batu itu dengan kain dan membawanya pulang. Ia tidak menjualnya. Ia meletakkannya di atas meja kayu di rumahnya, di samping foto istri yang sudah meninggal lima tahun lalu.
Malam itu, ia bermimpi. Ia melihat perempuan-perempuan berdiri di tepi sungai. Mereka memakai kain panjang, rambut terurai, dan tangan mereka menggenggam batu hijau. Mereka tidak berbicara. Mereka hanya menatap Marzuki.
"Kalian siapa?" tanya Marzuki dalam mimpi.
Salah satu perempuan maju. Wajahnya tua, keriput, tapi matanya muda.
"Kami adalah penambang," katanya. "Kami menambang di sungai ini sebelum kamu lahir. Kami meninggal di sungai ini. Dan batu-batu kami... masih di sana. Menunggu."
"Menunggu apa?"
"Menunggu seseorang yang mau mendengarkan."
Marzuki terbangun. Keringat membasahi punggungnya. Di atas meja, batu giok itu bersinar lembut. Ia bangkit, mengambil batu itu, dan menempelkannya ke telinga.
Ia mendengar suara air. Suara angin. Suara tawa perempuan. Suara tangis anak-anak. Suara-suara yang sudah lama hilang dari desa ini, tenggelam oleh mesin-mesin tambang modern yang datang lima tahun lalu.
Marzuki menangis. Ia tidak tahu kenapa. Tapi ia menangis.
Besoknya, ia pergi ke sungai. Ia tidak membawa sekop. Ia hanya membawa batu giok itu dan meletakkannya di atas batu besar di tepi air.
"Aku dengar kalian," katanya pada sungai. "Aku akan menjaga tempat ini."
Sejak hari itu, Marzuki tidak menambang lagi. Ia menjadi penjaga sungai. Setiap pagi, ia duduk di tepi air, memegang batu giok, dan mendengarkan. Orang-orang menganggapnya gila. Tapi Marzuki tidak peduli.
Karena ia tahu, batu itu bukan untuk dijual. Batu itu adalah pesan. Dan pesan itu harus disampaikan.