# 2005 — Sungai Way, Selangor
## Hostel 367, Bilik 15.
Bangunan tua itu sudah berdiri sejak tahun 1970-an. Dindingnya menyimpan jejak waktu, sementara lorong-lorong asramanya menjadi tempat beristirahat para pekerja yang datang dari berbagai tempat.
Kami sudah hampir satu tahun tinggal di sana. Bilik nomor 15 menjadi tempat kami melepas lelah setelah seharian bekerja di pabrik elektronik.
Ruangan itu kecil, hanya cukup untuk empat ranjang besi bertingkat. Setiap ranjang bisa ditempati dua orang, sehingga satu bilik menampung delapan penghuni. Ruang geraknya terbatas, apalagi jika semua orang sedang berada di dalam.
Selama berbulan-bulan, tidak pernah terjadi sesuatu yang aneh. Semuanya berjalan seperti biasa. Kami bekerja, pulang ke asrama, makan, mengobrol sebentar, lalu tidur untuk mengumpulkan tenaga sebelum kembali menjalani rutinitas keesokan harinya.
Sampai akhirnya, suatu malam, sesuatu yang tidak kami pahami mulai mengganggu ketenangan bilik kecil itu.
Malam itu, empat orang dari kami masih berada di kamar. Empat penghuni lainnya sedang menjalani sif malam di tempat kerja.
Kami tidur di ranjang bagian bawah. Lampu sudah dimatikan, menyisakan cahaya samar dari luar jendela.
Seperti malam-malam sebelumnya, Walkman Sony kecil milikku masih menyala. Suara radio mengalun pelan, memutar lagu-lagu permintaan dari para pendengar setia. Aku memang terbiasa mendengarkannya hingga larut malam.
Ketika waktu semakin mendekati tengah malam, siaran radio berganti dengan lantunan murattal Al-Qur'an. Suara qari yang lembut memenuhi ruang kecil itu, menghadirkan ketenangan setelah seharian tubuh kami dipaksa bekerja.
Satu per satu, kami terlelap.
Malam terasa biasa saja.
Setidaknya, sampai terdengar suara aneh dari ranjang di sudut kamar, dekat dinding.
"Ahh... khmm..."
Suara itu samar, seperti seseorang yang sedang menahan kesakitan.
Aku yang hampir terlelap membuka mata sedikit. Dari tempat tidurku, aku melihat Mbak Yani bergerak-gerak di balik selimutnya.
Awalnya, kukira dia hanya sedang bermimpi.
Namun, beberapa saat kemudian, gerakannya semakin tidak wajar.
Kakinya bergerak gelisah. Tubuhnya tampak menegang, sementara keringat mulai membasahi wajah dan lehernya. Tangannya meraba-raba udara, seolah berusaha meraih sesuatu untuk melepaskan diri.
Tiba-tiba, matanya terbuka lebar.
Mbak Yani bangkit terduduk dengan napas terengah-engah. Rambut bagian depannya basah oleh keringat hingga menempel di pipi. Baju tidurnya yang longgar juga tampak lembap.
Wajahnya pucat seperti seseorang yang baru saja mengalami ketakutan luar biasa.
Kami yang berada di kamar sempat terbangun.
"Kenapa, Mbak?" tanyaku dengan suara mengantuk.
Mbak Yani tidak langsung menjawab. Dia masih mengatur napas, sesekali menoleh ke arah kaki ranjangnya.
"Enggak apa-apa," katanya akhirnya, meski suaranya terdengar tidak meyakinkan.
Kami mengira dia hanya mengalami mimpi buruk. Karena tubuh masih lelah setelah bekerja, kami kembali memejamkan mata.
Beberapa menit berlalu.
Lalu suara itu terdengar lagi.
"Ahh...!"
Aku kembali membuka mata.
Kali ini, Mbak Yani bergerak lebih keras. Dia meronta di balik selimut, kemudian mendadak terduduk. Napasnya memburu, sementara kedua tangannya mencengkeram selimut erat-erat.
"Mbak Yani?" panggilku.
Dia menatap kami dengan wajah ketakutan.
"Aku enggak tahu kenapa," katanya terbata-bata. "Ada sesuatu..."
"Apa maksudnya?"
Mbak Yani menelan ludah. Matanya berkali-kali melirik ke arah tubuhnya sendiri.
"Ada sosok hitam besar. Rasanya seperti merayap dari kakiku, terus naik ke atas tubuhku."
Aku terdiam sejenak.
"Mungkin cuma mimpi buruk, Mbak. Coba tidur lagi."
Mbak Yani menggeleng cepat.
"Aku sudah coba! Berkali-kali aku coba tidur, tapi kejadian itu datang lagi. Sosok itu seperti enggak mau pergi."
Kali ini, nada suaranya membuatku benar-benar terjaga.
Dua temanku yang lain ikut bangun. Salah satunya, Ayu, mengusap wajah dengan mata yang masih setengah terpejam.
"Ada apa, sih? Kenapa kalian belum tidur?"
Belum sempat aku menjawab, Mbak Yani turun dari ranjangnya. Dengan langkah tergesa, dia menghampiri tempat tidurku yang berada di dekat pintu masuk.
"Yen, aku tidur di sini, ya."
Aku menggeser tubuh mendekati tembok, tepat di bawah jendela. Ranjang itu hanya ranjang tunggal, tetapi masih cukup untuk kami berdua karena tubuh Mbak Yani kurus.
"Ya sudah, Mbak. Tidur saja. Tapi jangan berisik, ya. Besok kita masih kerja."
Mbak Yani tidak menjawab. Dia langsung berbaring di sampingku, menarik selimut sampai ke dada.
Aku kembali menatap langit-langit kamar. Suara murattal dari Walkman masih terdengar lembut. Aku mencoba meyakinkan diri bahwa semua itu hanyalah mimpi buruk akibat kelelahan.
Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama.
Belum berapa lama Mbak Yani berbaring di sampingku, Ayu yang tadi sudah kembali ke tempat tidurnya mendadak bergerak gelisah.
Awalnya hanya kakinya yang bergerak di balik selimut.
Kemudian tubuhnya menegang.
Dia terduduk dengan napas tersengal-sengal, persis seperti yang dialami Mbak Yani sebelumnya.
Aku dan Mbak Yani langsung saling berpandangan.
Ayu mengusap wajahnya. Matanya bergerak ke sana kemari, seolah sedang mencari sesuatu yang tidak bisa dilihat oleh orang lain.
"Kenapa lagi, Yu?" tanyaku.
Ayu tidak menjawab. Dia hanya menatap tempat tidurnya sendiri dengan wajah pucat.
Mbak Yani yang berada di sampingku mengangkat alis. Meski masih ketakutan, dia sempat tersenyum tipis.
"Gimana? Sekarang kamu percaya, kan?"
Ayu menoleh kepadanya.
"Jangan bilang kamu juga mengalami hal yang sama?"
Mbak Yani mengangguk pelan.
Seketika wajah Ayu berubah. Dia turun dari ranjang dan berjalan cepat menghampiri tempat tidurku.
"Yen, aku tidur di sini juga."
Aku langsung mengangkat tubuh.
"Lho, kok di sini lagi? Tempatnya sudah sempit, Yu!"
"Aku enggak mau tidur di sana."
"Naik saja ke ranjang atas," kataku sambil menunjuk tempat tidur bertingkat di atas kami.
Ayu menggeleng keras.
"Enggak mau! Aku mau tidur di sini."
"Ini sudah sesak, tahu!"
Ayu memandangku, kemudian melirik Mbak Yani. Wajahnya tampak bimbang sebelum akhirnya dia mengajukan permintaan yang membuatku melongo.
"Mbak Yani, Yen... kalian tekuk kaki saja, ya. Aku bisa tidur di bagian bawah."
"Yang benar saja!" protesku spontan.
Bagaimana tidak? Ranjang itu saja sudah terasa sempit untuk dua orang. Sekarang Ayu ingin ikut bergabung.
Namun, Ayu tetap bersikeras.
Akhirnya, kami bertiga berdesakan di atas satu ranjang besi. Setiap kali salah seorang dari kami bergerak, kerangka besinya mengeluarkan bunyi berderit.
Kriiit...
Aku mendongak ke ranjang atas, takut kalau-kalau bunyi itu semakin keras.
"Sudah, jangan banyak bergerak. Nanti ranjangnya rusak," gumamku.
Ayu tidak menanggapi. Dia malah merapatkan tubuhnya, seakan takut ada sesuatu yang bisa menjangkaunya jika dia berada terlalu jauh dari kami.
Belum sampai setengah jam, kejadian serupa kembali terjadi.
Teman kami yang tidur tidak jauh dari ranjang Mbak Yani dan Ayu, yang sebelumnya sudah terlelap, mendadak mengalami hal yang sama.
Tubuhnya bergerak gelisah. Dia terbangun dengan napas memburu dan wajah ketakutan.
Kami bertiga langsung terdiam.
Tatapan kami bertemu.
"Jangan-jangan..." bisik Ayu.
"Mbak Yanti juga?" sambung Mbak Yani.
Aku menelan ludah.
"Jangan-jangan memang begitu."
Kami tidak berani melanjutkan kalimat masing-masing.
### Pukul 02.00 dini hari
Mbak Yanti duduk di ranjangnya yang berada agak jauh dari tempat tidurku. Wajahnya berubah pucat. Dia memandang sekeliling dengan tatapan bingung, kemudian menoleh ke arah kami.
Tanpa banyak bertanya, dia turun dari ranjang dan bergegas menghampiri kami.
"Geser! Aku ikut tidur di sini!"
Belum sempat kami menjawab, dia sudah naik ke ranjang.
Kriiiit...
Bunyi kerangka besi itu terdengar lebih keras daripada sebelumnya.
Aku hampir tidak bisa menggerakkan kaki.
Sekarang kami berempat berkumpul di satu ranjang kecil. Lutut saling bersentuhan, bahu berhimpitan, dan selimut yang kami gunakan tidak lagi cukup untuk menutupi tubuh semuanya.
Aku memandang mereka satu per satu.
Mbak Yani ketakutan. Ayu masih sesekali melirik ke belakang. Mbak Yanti duduk sambil memeluk lututnya.
Sementara aku sendiri mulai bertanya-tanya, sebenarnya apa yang sedang terjadi di kamar ini?
"Ini sudah level maksimum," gumamku. "Coba lihat, kita sampai berempat begini. Padahal ranjangnya cuma satu."
Tidak ada yang tertawa mendengar ucapanku.
Tatapan kami perlahan beralih ke tiga ranjang kosong di sudut kamar, tepat di dekat tembok.
Ketiga ranjang itu tampak biasa saja. Tidak ada siapa-siapa. Tidak ada gerakan. Tidak ada sesuatu yang bisa menjelaskan ketakutan kami malam itu.
Namun, justru karena semuanya tampak normal, suasana terasa semakin aneh.
Aku memandangi ranjang-ranjang kosong tersebut, berusaha mencari alasan yang masuk akal.
"Mbak," kataku pelan, "sebenarnya apa yang kalian lihat?"
Mbak Yani menggeleng.
"Aku cuma tahu ada sesuatu yang naik ke tubuhku. Aku enggak bisa melihat wajahnya dengan jelas."
Ayu segera menyahut, "Aku juga. Rasanya seperti ada yang menindih dan membuatku enggak bisa bergerak."
Mbak Yanti hanya mengangguk. Dia masih terlalu ketakutan untuk bercerita panjang.
Mbak Yani akhirnya menghela napas.
"Kita nyalakan lampu saja, ya?"
"Siap, Mbak," jawab kami hampir bersamaan.
Mbak Yani turun dari ranjang dengan hati-hati, lalu berjalan menuju sakelar di dekat pintu.
Klik!
Lampu menyala.
Cahaya putih memenuhi kamar. Ranjang-ranjang besi, lemari, pakaian yang tergantung, dan barang-barang kami kembali terlihat jelas.
Tidak ada sesuatu yang aneh.
Tidak ada sosok hitam.
Tidak ada siapa pun di antara ranjang-ranjang kosong itu.
"Sudah terang," kataku, berusaha terdengar tenang. "Sekarang kita kembali ke tempat tidur masing-masing, bagaimana?"
Mbak Yani menatapku ragu.
"Kamu yakin?"
"Memangnya kita mau duduk begini sampai pagi?"
Akhirnya, satu per satu mereka turun. Kami kembali ke ranjang masing-masing, tetapi kali ini tidak ada yang benar-benar merasa nyaman.
Lampu tetap menyala.
Aku berbaring sambil menatap Walkman kecil di samping bantal. Murattal Al-Qur'an masih terdengar. Suaranya lembut, mengisi kesunyian yang kini terasa berbeda.
Aku baru saja mulai memejamkan mata ketika terdengar suara dari ranjang Mbak Yani.
"Ahh...!"
Aku langsung membuka mata.
Belum sempat aku bergerak, suara serupa terdengar dari ranjang Ayu.
Kemudian dari ranjang Mbak Yanti.
Ketiganya kembali mengalami kejadian yang sama.
Aku bangkit terduduk.
Mereka juga bangun hampir bersamaan, lalu menatap ke arahku.
Tanpa perlu bersepakat, mereka turun dari ranjang masing-masing dan kembali menghampiri tempat tidurku.
Kriiit...
Kerangka besi itu kembali berderit ketika mereka naik.
Aku hanya bisa menatap mereka dengan mulut terbuka.
"Serius? Lagi?"
Tidak ada yang menjawab.
Mereka duduk berjejer di sampingku, terlalu takut untuk kembali ke tempat tidur masing-masing.
Aku menarik napas panjang.
"Jadi, sekarang kita tidur di sini sampai pagi?"
Mbak Yani mengangguk kecil.
Ayu merapatkan selimut ke tubuhnya.
Mbak Yanti hanya diam.
Aku memandangi mereka bergantian, lalu mengembuskan napas kesal.
"Kalau begini terus, kapan kita bisa tidur? Besok kita harus kerja!"
Mbak Yani menoleh kepadaku.
"Yen, kamu saja yang tidur di sana."
Aku terdiam.
"Maksudnya?"
Dia menunjuk ranjangnya sendiri.
"Kamu pindah ke tempat tidurku. Kami di sini saja."
Aku langsung mengernyit.
"Lho, enak saja! Kalian mengusirku dari tempat tidurku sendiri, lalu menyuruhku menggantikan kalian? Kalian mau mengorbankanku, ya?"
Ayu sempat melirik ke arah ranjang kosong sebelum menjawab dengan suara kecil.
"Bukan begitu, Yen. Tapi kamu dari tadi tidak mengalami apa-apa."
"Justru karena aku tidak mengalami apa-apa, kenapa aku yang harus pindah?"
Mbak Yanti menunduk. Mbak Yani tidak membantah lagi.
Aku melihat jam dinding yang tergantung di atas pintu.
Jarumnya terus bergerak.
Waktu sudah hampir menunjukkan pukul tiga pagi.
"Sudah, jangan macam-macam," kataku akhirnya. "Ini sudah hampir jam tiga. Bukan waktunya melakukan uji coba!"
Tidak ada yang tertawa.
Kami kembali duduk berjejer di atas ranjang kecil itu, menahan kantuk sekaligus rasa takut. Sesekali, mata kami masih melirik ke arah tiga ranjang kosong di sudut kamar.
Malam semakin larut.
Suara murattal dari Walkman tetap mengalun lembut, sementara detik jam dinding terdengar semakin jelas di sela-sela keheningan.
Tik...
Tik...
Tik...
Aku berusaha menenangkan diri. Saat itu, pemahamanku tentang gangguan jin masih sangat dangkal. Aku tidak tahu apa yang sebenarnya dialami teman-temanku, apalagi mengapa kejadian yang sama terus berulang kepada mereka.
Yang kutahu, kami semua kelelahan, tetapi tak seorang pun berani tidur sendirian di ranjangnya.
Maka malam itu kami bertahan dalam posisi yang sama, menunggu waktu berlalu sambil sesekali memandang ke arah sudut kamar.
Tidak ada yang tahu apakah kejadian itu akan berhenti sebelum fajar.
### Pukul 03.50
Malam hampir berakhir.
Namun, tidur kami tidak benar-benar nyenyak. Kami hanya sempat memejamkan mata sebentar, lalu terbangun lagi karena gerakan atau suara kecil dari salah seorang di antara kami.
Ketika jam menunjukkan pukul 03.50, kami akhirnya bersiap menghadapi pagi.
Kami harus bergantian menggunakan kamar mandi. Ada yang memilih mandi lebih dahulu sebelum salat, ada pula yang ingin salat terlebih dahulu baru mandi.
Biasanya, kami menjalani rutinitas itu tanpa banyak bicara. Pagi itu berbeda.
Wajah kami tampak kusut. Lingkaran gelap di bawah mata mulai terlihat. Tidak ada yang bisa menyembunyikan kelelahan setelah melewati malam yang begitu panjang.
Saat giliran mandi selesai dan kami bersiap berangkat, langit di luar masih gelap.
Kami berjalan menuju halte bus bersama para pekerja lainnya. Beberapa orang mulai terlihat menyusuri jalan, sebagian membawa bekal, sebagian lagi berjalan sambil menguap.
Udara pagi terasa dingin, tetapi pikiranku masih tertinggal di bilik nomor 15.
Aku berjalan di samping teman-temanku ketika salah seorang dari mereka tiba-tiba membuka suara.
"Menurut kalian, siapa yang membawa sosok itu ke kamar kita?"
Langkah kami melambat.
Aku menoleh kepada mereka. Mbak Yani, Ayu, dan Mbak Yanti juga saling berpandangan.
Tidak ada yang segera menjawab.
Pertanyaan itu terdengar sederhana, tetapi justru membuat kami kembali mengingat kejadian sepanjang malam.
Siapa yang membawa sesuatu ke kamar kami?
Apakah sesuatu itu memang sudah berada di sana sejak awal?
Atau justru kami tidak pernah menyadari kehadirannya selama hampir satu tahun tinggal di hostel tua tersebut?
Aku belum sempat mengutarakan pikiranku ketika Ayu menoleh kepadaku.
"Kamu lolos, Yen."
Aku mengerutkan kening.
"Lolos dari apa?"
Mbak Yani menjawab dengan wajah serius.
"Kamu bukan pelakunya."
Aku terdiam menatap mereka.
Di tengah jalan menuju halte bus, dengan para pekerja lain yang terus berlalu-lalang, aku tidak tahu harus tertawa atau merasa kesal.
"Memangnya kalian pikir aku melakukan apa?"
Tidak ada jawaban yang jelas.
Mereka hanya saling berpandangan sebelum kembali melanjutkan langkah.
Pagi itu, kami tetap berangkat bekerja seperti biasa.
Namun, sejak malam tersebut, bilik nomor 15 tidak lagi terasa sama bagiku.
Dan sampai sekarang, aku masih ingat bagaimana empat orang perempuan yang kelelahan setelah bekerja justru menghabiskan sebagian besar malam dengan berdesakan di satu ranjang besi, hanya karena tidak ada seorang pun yang berani kembali tidur sendirian.
Malam itu menjadi pengalaman yang tidak mudah kulupakan.