Tanggal 10 Oktober, aku merayakan hari kelahiranku.
Lilin-lilin menyala hangat di atas kue sederhana. Ucapan selamat berdatangan, doa-doa baik dipanjatkan, dan harapan baru kusimpan diam-diam di dalam hati. Aku tersenyum, mengaminkan setiap doa, dan berharap tahun ini membawa lebih banyak kebahagiaan.
Saat itu, aku membayangkan banyak hal yang ingin kucapai, cerita yang ingin kubagikan, dan momen yang ingin kunikmati bersama orang-orang yang kusayangi. Aku yakin, masa depan masih membentang sangat panjang.
Namun, kenyataan tidak selalu memberi kita waktu untuk bersiap.
Empat hari kemudian, tepatnya tanggal 14 Oktober, kabar buruk mulai berdatangan sejak sore hari ketika kondisi Opa dinyatakan unfal. Rasa cemas menyelimuti setiap detik yang berjalan, hingga akhirnya tepat pada pukul 23.00 malam, helaan napas terakhirnya membawa duka yang tak pernah ingin kudengar.
Opa pergi.
Malam itu, di penghujung hari ke-14, seseorang yang namanya selalu memiliki tempat istimewa di hatiku telah berpulang. Dunia terasa begitu hening, dan ada sesuatu dalam diriku yang mendadak runtuh.
Rasanya seperti baru saja menggenggam kebahagiaan di satu tangan, lalu menyadari tangan yang lain harus melepas seseorang yang sangat dicintai.
Betapa anehnya hidup. Beberapa hari lalu aku bersyukur karena diberi kesempatan bertambah usia dan berdoa untuk umur yang panjang. Namun malam itu, aku harus belajar menerima kenyataan bahwa Opa tidak lagi bisa melanjutkan perjalanannya di dunia ini.
Ada saat-saat di mana aku ingin berpura-pura kuat, tetapi air mata tetap menetes tanpa bisa ditahan. Ada waktu di mana aku ingin bercerita tentang betapa beratnya kehilangan ini.
Rasanya belum cukup waktu yang kuluangkan bersamamu, Opa. Seandainya waktu bisa diputar kembali, aku ingin lebih menghargai setiap detik kebersamaan kita.
Tapi aku mengerti, manusia sering mengira masih memiliki banyak waktu—sampai akhirnya kenyataan mengajarkan bahwa kesempatan tidak selalu datang dua kali.
Kini, aku belajar mengikhlaskan. Menerima kepergianmu bukan berarti menghapus tempatmu dari hati. Aku boleh kembali tersenyum, tetapi aku tidak akan pernah melupakan kenangan indah yang pernah kita lalui bersama.
Tanggal 10 Oktober akan selalu menjadi hari ketika aku dilahirkan, sementara malam 14 Oktober akan menjadi bagian dari hidupku yang mengajarkan arti perpisahan. Dua peristiwa yang begitu dekat, namun meninggalkan rasa yang jauh berbeda.
Untuk segala rindu dan kasih sayang yang belum sempat kuucapkan secara langsung, biarlah doa menjadi perantaranya. Semoga Tuhan mengampuni segala khilafmu, melapangkan tempat peristirahatanmu, dan memberimu kedamaian abadi.
Selamat jalan, Opa. Terima kasih telah menjadi bagian paling berharga dalam hidupku. Rindu ini akan selalu ada, dan namamu akan tetap hidup dalam setiap doaku. 🤍🥀