### MYSTERY AND DESTINY
( penggalan bab dari judul novel diatas)
### Pertemuan Zaky dan Pak Rahmat
Setelah keluar dari kamar Ardy, Zaky berjalan menuju lift. Namun, saat hendak menekan tombol lift, tiba-tiba ia teringat ucapan Zahra beberapa waktu lalu.
“Aku di SMA 1.”
Zaky terdiam sesaat, lalu segera menepis pikiran itu. Entah mengapa, gadis itu belakangan sering muncul dalam benaknya.
Sejak menolong Zahra dari para preman beberapa hari lalu, gadis itu semakin sering berusaha mendekatinya. Zaky sendiri belum sepenuhnya memahami apa yang membuat Zahra begitu ingin mengenalnya.
Tiba-tiba, sebuah pikiran terlintas di benaknya.
Ayahnya Zahra dirawat di rumah sakit ini, bukan?
Tanpa banyak berpikir, Zaky berbalik dan melangkah menuju ruang perawatan kelas III.
Setibanya di sana, ia menghampiri seorang perawat yang sedang bertugas.
“Permisi, saya ingin bertanya. Di mana kamar pasien bernama Pak Rahmat? Beliau ayah dari seorang siswi SMA bernama Zahra.”
Perawat itu menunjuk ke arah ujung koridor.
“Silakan lurus sampai ujung, lalu belok kanan. Kamar beliau ada di sana.”
“Terima kasih.”
Zaky mengikuti petunjuk tersebut. Namun, begitu sampai di depan kamar yang dimaksud, langkahnya justru terhenti.
Ia menatap pintu di hadapannya dengan ragu.
Sebenarnya, untuk apa aku kemari? Mau bicara apa dengannya?
Zaky menghela napas pelan. Ia merasa tindakannya sendiri tidak masuk akal. Ia bahkan tidak memiliki urusan penting dengan ayah gadis itu.
Akhirnya, ia memutar badan, berniat kembali ke lift.
Namun, baru beberapa langkah, ia berhenti lagi.
Zaky menoleh ke arah pintu kamar Pak Rahmat.
Beberapa detik kemudian, ia kembali berbalik dan berdiri di depan pintu itu.
Benar-benar membingungkan. Entah apa yang sebenarnya ingin ia lakukan.
Setelah ragu beberapa saat, akhirnya Zaky memutuskan untuk masuk.
Kamar perawatan kelas III itu cukup berbeda dari kamar tempat Ardy dirawat. Satu ruangan ditempati oleh empat pasien. Tidak ada sofa untuk keluarga yang menunggu, apalagi fasilitas mewah seperti yang tersedia di kamar VVIP. Di sana hanya terdapat beberapa tempat tidur dan sebuah kursi sederhana tanpa sandaran.
Zaky menyapu ruangan dengan pandangan matanya, mencari nama pasien yang hendak ia temui.
Setelah memastikan tempat tidur Pak Rahmat, ia melangkah mendekat.
“Permisi, Pak.”
Pria yang terbaring di tempat tidur itu menoleh. Begitu melihat wajah Zaky, raut mukanya berubah menjadi terkejut.
“Eh, kamu Zaky, kan?”
Zaky mengangguk sopan.
“Iya, Pak. Saya Zaky.”
Pak Rahmat tampak senang melihat kedatangannya.
“Zahra sering bercerita tentang kamu, Nak.”
Zaky sedikit terkejut. Ia tidak menyangka gadis itu sampai menceritakan dirinya kepada sang ayah.
“Oh, begitu, Pak.”
Pak Rahmat tersenyum tipis sebelum melanjutkan ucapannya.
“Saya berterima kasih sekali karena kamu sudah menolong Zahra dari para penjahat itu. Saya tidak tahu harus bagaimana kalau sampai terjadi sesuatu pada putri saya.”
“Tidak perlu berterima kasih, Pak. Saya hanya kebetulan berada di sana.”
“Tetap saja, Nak. Saya sangat berterima kasih.”
Pak Rahmat menghela napas, lalu memandang putrinya yang tidak berada di ruangan itu.
“Zahra itu sebenarnya jarang punya teman dekat. Sejak dulu, dia lebih banyak menyimpan masalahnya sendiri. Saya kadang khawatir melihatnya seperti itu.”
Zaky mendengarkan tanpa menyela.
“Namun, akhir-akhir ini dia sering bercerita kepada saya. Katanya, dia bertemu dengan seorang gadis manis yang dirawat di kamar VVIP. Namanya Kak Hana, dan suaminya bernama Ardy.”
Mendengar nama itu, Zaky terdiam sesaat.
Entah mengapa, ada perasaan tidak nyaman yang tiba-tiba muncul di dalam hatinya. Ekspresinya tidak banyak berubah, tetapi ia berusaha mengalihkan pandangan agar Pak Rahmat tidak menyadari perubahan kecil tersebut.
Hana dan Ardy lagi.
Zaky menahan napas sejenak, kemudian kembali menatap Pak Rahmat seolah tidak terjadi apa-apa.
“Oh, begitu, Pak,” jawabnya singkat.
Ia datang ke kamar itu hanya karena teringat Zahra dan ayahnya.
_________________&&&____________________
### MYSTERY AND DESTINY
### Bab: Kepedulian yang Tak Terduga
Pak Rahmat terdiam sejenak sebelum kembali bercerita. Wajahnya tampak lelah, tetapi ada kegelisahan yang sulit ia sembunyikan.
“Sejujurnya, Nak, ada satu hal yang terus mengganggu pikiran saya,” ucapnya lirih. “Saya tidak tahu siapa yang akan merawat Zahra kalau suatu hari nanti saya sudah tidak ada.”
Kedua mata Zaky membesar. Ia menatap Pak Rahmat dengan serius.
“Maksud Bapak, bagaimana?”
Pak Rahmat menarik napas panjang sebelum melanjutkan.
“Saya mengidap kanker paru-paru stadium akhir. Setiap kali batuk, darah sering keluar. Obat-obatan yang diberikan pun sudah tidak banyak membantu. Bahkan, dokter sepertinya sudah tidak berani memberikan harapan lebih kepada saya.”
Zaky terdiam. Ia tidak menyangka keadaan ayah Zahra separah itu.
“Namun, yang paling saya khawatirkan bukanlah diri saya sendiri, melainkan Zahra.” Suara Pak Rahmat terdengar bergetar. “Setiap kali dia pergi sekolah, saya selalu takut. Saya khawatir suatu hari nanti dia pulang dan mendapati saya sudah tidak ada.”
Pria itu menunduk, berusaha menyembunyikan kesedihannya.
“Dia masih muda, Nak. Saya tidak tega membayangkan dia harus menjalani hidup sendirian.”
Zaky mengembuskan napas perlahan. Ada rasa sesak yang muncul saat mendengar cerita tersebut.
“Lalu, bagaimana dengan istri Bapak? Apa Bapak tidak memiliki saudara dari pihak keluarga Bapak atau istri Bapak yang bisa membantu?”
Pak Rahmat menggeleng pelan.
“Istri saya sudah pergi bersama laki-laki lain ketika Zahra masih kecil. Sejak saat itu, saya membesarkannya sendiri.”
Ia berhenti sejenak, kemudian melanjutkan dengan suara yang semakin lirih.
“Dulu, saya dan Zahra sempat menumpang di rumah saudara. Namun, mereka tidak suka kami tinggal di sana. Saya mengerti, itu rumah mereka. Saya tidak bisa memaksa mereka menerima kami selamanya.”
Zaky mengernyitkan dahi.
“Lalu, rumah Bapak sendiri bagaimana?”
“Sudah saya jual.”
Pak Rahmat tersenyum tipis, meskipun matanya mulai berkaca-kaca.
“Uangnya saya gunakan untuk biaya pengobatan dan sekolah Zahra. Saya hanya ingin memastikan dia tetap bisa belajar dan memiliki masa depan yang lebih baik. Saya tidak ingin penyakit saya membuatnya kehilangan kesempatan untuk meraih cita-citanya.”
Pak Rahmat berusaha menahan air matanya. Namun, kesedihan yang selama ini ia pendam perlahan terlihat jelas di wajahnya.
Zaky tidak segera menjawab.
Ia memandang pria di hadapannya, mencoba memahami bagaimana seseorang yang sedang berjuang melawan penyakit berat masih memikirkan masa depan anaknya lebih daripada dirinya sendiri.
Selama hampir satu jam, Zaky menemani Pak Rahmat berbincang. Ia mendengarkan cerita tentang kehidupan mereka, perjuangan membesarkan Zahra, dan harapan sederhana seorang ayah yang ingin melihat putrinya hidup dengan baik.
Tanpa terasa, waktu berlalu.
Zaky akhirnya berdiri.
“Kalau begitu, saya pamit dulu, Pak. Bapak harus beristirahat.”
Pak Rahmat mengangguk.
“Terima kasih sudah meluangkan waktu untuk menemui saya, Nak. Saya senang bisa berbicara denganmu.”
Zaky membalas dengan anggukan kecil sebelum melangkah menuju pintu.
Namun, sesampainya di ambang pintu, ia berhenti sejenak.
Tangannya masih memegang gagang pintu, sementara pikirannya kembali tertuju pada perkataan Pak Rahmat.
Siapa yang akan merawat Zahra kalau suatu hari nanti saya sudah tidak ada?
Zaky mengembuskan napas, lalu keluar dari kamar.
Langkahnya berlanjut menyusuri koridor rumah sakit menuju ruang perawat. Sesampainya di sana, ia menghampiri seorang perawat yang sedang bertugas.
“Suster, saya ingin meminta bantuan.”
Perawat itu menoleh.
“Ada yang bisa saya bantu, Pak?”
“Tolong urus pemindahan pasien bernama Pak Rahmat ke kamar VVIP. Semua biaya pengobatan dan perawatannya akan saya tanggung.”
Perawat itu tampak sedikit terkejut.
“Bapak ingin menanggung seluruh biaya pengobatan pasien tersebut?”
Zaky mengangguk tegas.
“Ya. Saya ingin beliau mendapatkan pengobatan terbaik yang tersedia. Tolong pastikan beliau mendapatkan perawatan yang layak dan obat-obatan sesuai rekomendasi dokter.”
“Baik, Pak. Kami akan membantu mengurus prosesnya.”
“Kalau ada persyaratan administrasi yang harus diselesaikan, segera beri tahu saya.”
Setelah memberikan instruksi, Zaky mengurus seluruh keperluan administrasi yang diperlukan. Ia memastikan proses pemindahan Pak Rahmat dapat dilakukan tanpa menyulitkan pasien tersebut.
Beberapa saat kemudian, semua urusan selesai.
Zaky duduk sendirian di salah satu kursi di koridor rumah sakit. Kedua tangannya bertaut di depan tubuhnya, sementara pandangannya menerawang tanpa benar-benar memperhatikan orang-orang yang berlalu-lalang.
Ia sendiri tidak mengerti mengapa melakukan semua itu.
Ia baru mengenal Zahra beberapa hari lalu. Hubungannya dengan Pak Rahmat pun tidak lebih dari sekadar pertemuan singkat.
Namun, tanpa banyak pertimbangan, ia justru bersedia menanggung biaya pengobatan pria itu.
Zaky mengusap wajahnya, lalu menyandarkan punggung pada kursi.
Apa yang sebenarnya terjadi denganku?
Ia terdiam cukup lama.
Kenapa aku sampai melakukan semua ini untuk mereka?
Zaky menggeleng pelan, seolah ingin mengusir kebingungan yang memenuhi pikirannya.
Namun, semakin ia mencoba mencari jawaban, semakin ia merasa tidak memahami dirinya sendiri.
Untuk pertama kalinya, Zaky bertanya-tanya tentang alasan di balik tindakannya sendiri.
_______________________________________
### MYSTERY AND DESTINY
### Bab: Tawaran yang aneh!!
Dua hari kemudian, setelah melalui berbagai pertimbangan, Pak Rahmat akhirnya dipindahkan ke kamar VVIP. Kamar barunya tidak jauh dari kamar tempat Ardy dan Hana dirawat.
Zahra baru mengetahui kepindahan ayahnya setelah pulang sekolah. Begitu mendapat kabar bahwa ayahnya kini dirawat di lantai yang berbeda, ia segera bergegas menuju kamar tersebut.
Langkahnya terhenti ketika melewati lorong kamar VVIP.
Di depan kamar Ardy, Zaky sedang duduk bersama Edy. Zahra sempat melihat mereka, tetapi ia tidak berhenti untuk menyapa. Dengan tergesa-gesa, ia langsung masuk ke kamar ayahnya.
Zaky yang sejak tadi duduk di kursi koridor memperhatikan gadis itu dari kejauhan.
Beberapa menit kemudian, Zahra keluar dari kamar Pak Rahmat.
Kali ini, langkahnya berbeda. Ia berjalan tanpa terlihat ragu atau merasa canggung, sementara sorot matanya tertuju lurus kepada Zaky. Alis Zaky sedikit terangkat ketika menyadari gadis itu sedang menuju ke arahnya.
Kenapa dia menatapku seperti itu?
Zaky mulai merasa tidak nyaman.
Jangan-jangan dia marah karena aku ikut campur dalam urusan keluarganya.
Ia bersiap menghadapi teguran. Namun, begitu Zahra berdiri tepat di hadapannya, ekspresi gadis itu justru berubah. Tatapan seriusnya melembut, kemudian bibirnya membentuk senyuman.
“Kak Zaky.”
Zaky mendongak.
“Ya?”
“Terima kasih karena sudah membantu ayah saya. Saya sudah tahu semuanya dari Ayah, termasuk biaya pengobatan yang Kakak tanggung.”
Zaky mengangguk kecil.
“Kalau cuma itu, tidak perlu dipikirkan.”
“Tentu saja harus dipikirkan!” sahut Zahra cepat.
Zaky sedikit terkejut melihat kesungguhannya.
Zahra kemudian menarik napas, seolah sedang mempersiapkan diri untuk menyampaikan sesuatu yang sangat penting.
“Saya juga sudah meminta izin kepada Ayah untuk membantu pekerjaan Kak Zaky.”
Zaky mengernyit.
“Pekerjaan apa?”
“Menjadi pengawal Kakak.”
Hening sesaat.
Edy yang duduk di samping Zaky spontan menoleh kepadanya. Zaky pun menatap Edy.
Keduanya saling berpandangan dengan ekspresi yang hampir sama.
Pengawal? Dari mana gadis ini mendapatkan kesimpulan seperti itu?
Edy menahan senyum, sedangkan Zaky mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Kamu bilang apa tadi?” tanya Zaky, memastikan ia tidak salah dengar.
“Menjadi pengawal Kakak.” Zahra mengulang jawabannya dengan yakin. “Saya sudah memikirkannya baik-baik. Dengan begitu, saya bisa membalas bantuan Kakak.”
Zaky mengusap keningnya.
“Zahra, kamu tidak perlu membalas apa pun. Aku membantu ayahmu karena aku memang ingin membantu. Tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.”
“Tapi saya tidak bisa menerima bantuan sebanyak itu tanpa melakukan apa-apa.”
“Sudah kubilang, tidak perlu.”
“Kali ini harus!”
Zahra mengatakannya dengan tegas hingga Zaky terdiam sejenak.
Gadis itu kemudian duduk di kursi kosong di sebelahnya.
“Saya sudah menghitung semuanya, Kak. Biaya pengobatan Ayah, kamar VVIP, dan semua kebutuhan yang Kakak bantu. Kalau dijumlahkan, uang sebanyak itu bahkan cukup untuk membeli rumah lengkap dengan isinya dan sebuah mobil.”
Zaky menatapnya dengan wajah sulit dijelaskan.
“Terperinci sekali hitunganmu.”
“Memang harus begitu. Saya tidak mau berutang budi seumur hidup tanpa melakukan apa-apa.”
“Siapa yang menyuruhmu menghitung sampai sejauh itu?”
“Tidak ada. Saya menghitungnya sendiri.”
Zaky menghela napas panjang.
Gadis ini benar-benar berbeda dari yang ia bayangkan.
Zahra menunduk sebentar, memainkan ujung tali tas sekolahnya. Ketika kembali mengangkat wajah, ia justru menggeser duduknya sedikit lebih dekat kepada Zaky.
“Lagipula, Kakak boleh meminta lebih dari itu kalau memang masih merasa kurang.”
Zaky menoleh tajam.
“Apa maksudmu?”
Pipi Zahra sedikit merona, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.
“Kalau Kakak mau lebih dari sekadar bantuan pekerjaan, saya juga tidak keberatan.”
Edy yang mendengar percakapan itu langsung membeku.
Ia melirik Zaky, lalu Zahra, kemudian kembali menatap Zaky.
Sepertinya ia baru saja menemukan hiburan gratis di tengah kesibukan rumah sakit.
Namun, demi keselamatan dirinya sendiri, Edy memilih berdiri.
“Sepertinya aku harus masuk menemui Ardy.”
Zaky menoleh kepadanya.
“Duduk saja di sini.”
“Tidak bisa. Aku mendadak teringat kalau ada urusan penting.”
“Urusan apa?”
Edy merapikan bajunya dengan wajah dibuat seserius mungkin.
“Urusan rumah tangga.”
Tanpa menunggu jawaban Zaky, ia segera membuka pintu kamar Ardy dan masuk.
Zaky menatap punggungnya dengan kesal.
Pengkhianat!
Di dalam kamar, Hana sedang menyuapi Ardy yang duduk bersandar di tempat tidur. Ardy baru saja hendak membuka mulut ketika pintu terbuka dan Edy masuk dengan wajah yang tampak menahan tawa.
Ardy meliriknya.
“Kenapa wajahmu seperti orang baru menemukan gunung emas?”
Edy menarik kursi, lalu duduk dengan santai.
“Karena di luar ada tontonan menarik.”
Hana menghentikan gerakan tangannya.
“Tontonan apa?”
Edy mengarahkan ibu jarinya ke pintu.
“Zaky dan Zahra.”
Ardy mengangkat alis.
“Oh?”
“Bayangkan saja, di luar sana ada seorang gadis yang baru saja menawarkan diri menjadi pengawal Zaky. Bukan hanya itu, dia juga sepertinya sedang menawarkan sesuatu yang jauh lebih menarik.”
Hana spontan menoleh.
“Edy!”
“Apa? Aku hanya menyampaikan fakta.”
Ardy menyandarkan punggungnya, mulai tertarik.
“Ceritakan dari awal.”
Edy pun menceritakan pertemuan Zaky dengan Pak Rahmat, bantuan biaya pengobatan, hingga percakapan Zahra yang baru saja ia dengar.
Hana mendengarkan dengan ekspresi terkejut.
“Jadi, Zaky yang membayar semua biaya pengobatan ayah Zahra?”
Edy mengangguk.
“Benar. Dia bahkan mengurus pemindahan kamar dan meminta agar Pak Rahmat mendapatkan perawatan terbaik.”
Hana terdiam sejenak.
“Berarti dia benar-benar peduli kepada Zahra.”
“Bisa jadi,” jawab Edy sambil tersenyum jahil. “Atau mungkin dia sendiri belum tahu kenapa dia melakukannya.”
Ardy melirik Edy.
“Kalau begitu, jangan ikut campur. Biarkan Zaky menyelesaikan urusannya sendiri.”
Edy mengangkat kedua tangan.
“Aku tidak ikut campur. Aku cuma menjadi saksi.”
Ardy mendengus kecil.
“Wajahmu tidak menunjukkan kalau kamu berniat menjadi saksi yang baik.”
Hana kembali menyuapi Ardy, tetapi kali ini ia tersenyum kecil.
“Kasihan Zaky. Sepertinya dia sedang menghadapi masalah yang tidak bisa diselesaikan dengan uang.”
Edy tertawa pelan.
“Benar sekali. Dan sepertinya masalah itu baru saja dimulai.”
Tiba-tiba, dari luar kamar terdengar suara Zaky.
“APA-APAAN KAMU?!”
Hana tersentak hingga sendok di tangannya berhenti di depan mulut Ardy.
Edy langsung menutup mulut, menahan tawanya.
Ardy memandang pintu, kemudian menatap Edy.
“Sepertinya pertunjukannya semakin menarik.”
Di luar kamar, Zaky sudah berdiri di hadapan Zahra dengan ekspresi yang sulit disembunyikan. Gadis itu masih duduk di kursi, menatapnya dengan wajah polos seolah tidak merasa telah mengatakan sesuatu yang mengejutkan.
“Apa maksudmu dengan semua ucapanmu tadi?” tanya Zaky.
Zahra mendongak.
“Yang mana, Kak?”
“Jangan pura-pura tidak tahu.”
“Oh, yang soal menjadi pengawal?”
“Bukan hanya itu!”
Zahra mengerjap, kemudian tersenyum kecil.
“Kalau begitu, yang soal membalas kebaikan Kakak?”
Zahra semakain dekat kearah wajah Zaky
" Maksudku bisa melakukan hal lain bukan kerjaan, menjadi teman dekat Zaky teman ngobrol. "
Zaky " Tidak usah, aku tidak ingin. "
Zaky memejamkan mata sejenak, berusaha menahan kesabarannya.
Ya ampun, gadis ini benar-benar membuatku kehilangan kata-kata.
“Zahra, dengarkan aku baik-baik. Aku tidak membutuhkan pengawal. Apalagi pengawal yang masih harus memikirkan sekolahnya sendiri.”
“Tapi saya bisa membagi waktu.”
“Kamu bahkan belum tahu apa pekerjaanku sebenarnya.”
Zahra terdiam sesaat, lalu menjawab dengan yakin.
“Bukankah Kakak bekerja sebagai pengawal?”
Zaky menatapnya tidak percaya.
“Siapa yang mengatakan itu kepadamu?”
“Tidak ada. Saya hanya menyimpulkan sendiri.”
“Lalu, kenapa kamu begitu yakin?”
“Karena Kakak terlihat seperti orang yang terbiasa menjaga orang lain.”
Jawaban itu membuat Zaky kehilangan kata-kata selama beberapa detik.
Ia memang tidak menyangka Zahra akan menjawab seperti itu.
Namun, sebelum ia sempat menanggapi, gadis itu kembali berbicara.
“Lagi pula, kalau saya bekerja untuk Kakak, saya bisa membantu membayar semua kebaikan Kakak sedikit demi sedikit.”
“Sudah kubilang, aku tidak meminta uangmu.”
“Tapi saya ingin membalasnya.”
“Kalau begitu, belajarlah dengan baik. Itu sudah cukup.”
Zahra menggeleng.
“Tidak bisa.”
Zaky menatap langit-langit koridor seolah sedang meminta kesabaran tambahan.
“Kenapa tidak bisa?”
“Karena saya tidak mau terus merasa berutang kepada Kakak.”
“Zahra, aku tidak pernah menganggapmu berutang.”
“Tapi saya menganggapnya begitu.”
Zaky terdiam. Untuk sesaat, ia bisa memahami alasan gadis itu. Zahra mungkin tidak ingin terus bergantung pada kebaikan orang lain, terlebih setelah mengetahui betapa besar bantuan yang telah diberikan kepada ayahnya.
Namun, ia tetap tidak habis pikir dengan cara Zahra menyelesaikan masalah tersebut.
“Kamu bisa membalasnya dengan cara lain. Tidak perlu menjadi pengawalku.”
Zahra mengangguk perlahan, seolah mempertimbangkan perkataannya.
“Baiklah.”
Zaky akhirnya merasa sedikit lega.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
Zahra tiba-tiba berdiri. Ia merapikan seragam sekolahnya, lalu menatap Zaky dengan mata berbinar.
“Kalau begitu, saya akan mencari cara lain.”
“Bagus. Dan jangan membuat keputusan aneh lagi.”
Zahra tersenyum lebar.
“Kalau begitu, kelak saya bisa menjadi istri Kak Zaky yang baik. Saya akan menurut dan tidak merepotkan Kakak.”
Zaky membeku.
Beberapa detik berlalu sebelum ia benar-benar memahami perkataan gadis itu.
“Apa?!”
Zahra justru semakin tersenyum.
“Saya serius, Kak.”
“Siapa yang membicarakan pernikahan?!”
“Tidak ada. Saya hanya memikirkan kemungkinan yang paling baik.”
Zaky menatapnya dengan wajah semakin jengkel.
“Kamu ini kalau bicara bisa berpikir dulu tidak?”
Zahra memiringkan kepala.
“Kenapa? Bukankah menjadi istri Kakak bisa membuat saya membalas semua kebaikan Kakak?”
“Pernikahan bukan cara untuk membayar utang budi!”
Suara Zaky terdengar lebih keras daripada yang ia maksudkan.
Zahra terdiam.
Senyum di wajahnya sedikit memudar, tetapi ia tidak langsung membantah.
Zaky menghela napas, berusaha menurunkan nada suaranya.
“Dengarkan aku. Kamu masih sekolah. Pikirkan masa depanmu sendiri. Jangan sembarangan mengatakan ingin menikah hanya karena seseorang membantumu.”
Zahra menunduk sebentar.
“Saya tahu saya masih sekolah, Kak. Tapi saya juga tahu apa yang saya katakan.”
“Benarkah? Kamu bahkan belum mengenalku dengan baik.”
“Kalau begitu, saya akan mengenal Kakak lebih jauh.”
Zaky mengusap wajahnya.
“Bukan begitu maksudku!”
“Lalu bagaimana?”
Zaky membuka mulut, tetapi tidak segera menemukan jawaban yang tepat.
Zahra menatapnya lagi.
“Saya tidak meminta Kakak menikahi saya sekarang. Saya hanya mengatakan kalau suatu hari nanti Kakak membutuhkan seseorang yang bisa menemani Kakak, saya bersedia.”
Zaky terdiam.
Kali ini, ia tidak langsung membalas. Kesungguhan dalam suara Zahra membuatnya sulit menganggap ucapan itu sekadar gurauan.
Namun, ia tetap tidak ingin gadis itu mengambil keputusan besar hanya karena merasa berutang budi.
“Zahra, jangan menjanjikan sesuatu yang belum kamu pahami. Kamu tidak tahu bagaimana kehidupanku sebenarnya.”
“Kalau begitu, biarkan saya mengenalnya.”
“Dasar keras kepala.”
Zahra tersenyum kembali.
“Berarti Kakak sudah mengenal saya sedikit.”
Zaky menatapnya lekat-lekat, lalu mengembuskan napas panjang.
Ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa lagi kepada gadis itu.
Dari balik pintu kamar Ardy, Edy yang rupanya mengintip diam-diam segera menarik kepalanya saat melihat Zaky menoleh ke arahnya.
Namun, sebelum pintu tertutup, suara Edy masih sempat terdengar.
“Selamat, Zaky! Aku belum pernah melihat orang dilamar sebelum sempat menyatakan cinta!”
“EDY!”
Tawa Edy langsung meledak dari dalam kamar.
Zaky mengepalkan tangan, sementara Zahra justru tertawa kecil di sampingnya.
“Kak Edy lucu juga.”
Zaky menoleh tajam.
“Jangan ikut-ikutan!”
Zahra menutup mulutnya, berusaha menahan tawa.
“Baik, Kak.”
Namun, senyum di wajahnya tidak juga menghilang.
Sementara itu, Zaky kembali duduk dengan wajah kusut. Ia memandang lurus ke depan, berusaha mengabaikan gadis yang kini duduk di sebelahnya dengan begitu tenang.
Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Awalnya, ia hanya ingin membantu seorang ayah yang sedang berjuang melawan penyakitnya.
Sekarang, ia malah mendapatkan seorang gadis yang terang-terangan ingin menjadi istrinya.
Zaky mengembuskan napas panjang.
Benar-benar di luar dugaan.
Dan yang paling membuatnya kesal, ia mulai merasa bahwa urusannya dengan Zahra tidak akan selesai hanya dengan mengatakan tidak.
________________________________________
### MYSTERY AND DESTINY
### Bab: Salah Memilih Lawan
Udara dingin dari pendingin ruangan memenuhi kamar VVIP itu. Namun, hawa sejuk tersebut tidak mampu meredakan ketegangan yang menyelimuti orang-orang di dalamnya.
Dimas berdiri berhadapan dengan Zaky. Rahangnya mengeras, sementara sorot matanya menunjukkan ketidaksenangan yang semakin sulit disembunyikan.
Di hadapannya, Zaky tampak jauh lebih tinggi dan tegap. Ia berdiri dengan tenang, kedua tangan di sisi tubuh, tanpa sedikit pun menunjukkan rasa gentar.
Dimas mendekat satu langkah.
“Aku benci orang yang ikut campur urusanku,” katanya dengan suara rendah.
Zaky tidak bergeming.
“Kalau begitu, jangan membuat urusanmu menjadi masalah orang lain.”
Wajah Dimas seketika menegang.
“Apa katamu?”
“Kau dengar sendiri.”
Suasana mendadak hening.
Pak Rahmat yang masih berada di sisi ranjang menahan napas. Sementara itu, Zahra berdiri di dekat ayahnya dengan jantung berdebar. Ia belum pernah melihat seseorang berani berbicara kepada Dimas seperti itu, apalagi dengan sikap setenang Zaky.
Dimas menyipitkan mata, lalu melirik kedua pengawalnya.
Sebuah isyarat kecil diberikan.
Kedua pria bertubuh besar itu segera bergerak mendekati Zaky.
“Keluar,” perintah salah seorang dari mereka. “Jangan membuat masalah di sini.”
Zaky melirik pria itu sekilas.
“Aku tidak punya urusan dengan kalian.”
“Tapi kami punya urusan denganmu.”
Belum sempat Zaky menjawab, pria bertato di lengan kanan langsung mencengkeram lengannya.
“Berjalanlah kalau tidak ingin kami seret!”
Zaky menunduk, memandangi tangan besar yang mencengkeram lengannya. Kemudian, perlahan, ia mengangkat wajah.
Senyum tipis muncul di bibirnya.
Namun, senyum itu justru membuat tatapannya terlihat semakin mengintimidasi.
“Kau yakin ingin melakukan ini?”
Pria itu mendengus.
“Jangan banyak bicara!”
Ia menarik lengan Zaky sekuat tenaga.
Namun, tubuh Zaky sama sekali tidak bergeser.
Kedua kakinya menapak kokoh di lantai. Bahunya tetap tegak, sementara otot lengannya menegang di balik pakaian yang dikenakannya. Tarikan sekuat apa pun tidak mampu membuatnya bergerak bahkan satu inci pun.
Pria bertato itu mengernyit. Ia mencoba menarik sekali lagi, kali ini menggunakan seluruh tenaganya.
Tetap tidak berhasil.
“Apa-apaan ini?” gerutunya.
Zaky menatapnya datar.
“Sudah selesai?”
Sebelum pria itu sempat bereaksi, Zaky memutar lengannya dengan gerakan singkat, melepaskan cengkeraman tersebut dengan mudah.
Ia kemudian menepis tangan pria itu hingga terlepas sepenuhnya.
“Jangan pancing aku.”
Suaranya rendah, tetapi cukup membuat kedua pria itu saling berpandangan.
Dimas yang menyaksikan kejadian tersebut mulai kehilangan kesabarannya.
“Kenapa kalian hanya berdiri saja? Keluarkan dia!”
Kedua pengawal itu kembali bergerak.
Kali ini, mereka mendekati Zaky dari arah berbeda. Pria pertama berusaha meraih bahunya, sedangkan pria kedua mencoba mencengkeram tangan kirinya.
Zaky mengamati gerakan mereka sekilas.
Saat tangan pertama hampir menyentuh bahunya, ia segera bergeser ke samping. Serangan itu meleset, membuat pria bertato tersebut kehilangan keseimbangan sesaat.
Pada saat yang sama, pria kedua berhasil meraih tangan Zaky.
Namun, sebelum sempat menariknya, Zaky memutar tubuh dan mengibaskan lengannya dengan gerakan cepat.
“Ah!”
Pria itu meringis ketika genggamannya terlepas. Tekanan pada pergelangan tangannya membuatnya spontan mundur sambil mengusap bagian yang terasa nyeri.
Zaky melepaskannya tanpa melanjutkan gerakan.
Tatapannya menyapu kedua pria tersebut.
“Kalian salah memilih lawan.”
Kalimat itu membuat wajah keduanya memerah karena marah.
Mereka merasa dipermalukan di hadapan Dimas. Tanpa menunggu aba-aba berikutnya, keduanya kembali menyerang secara bersamaan.
Pria pertama melayangkan pukulan ke arah kepala Zaky.
Zaky memiringkan tubuhnya sedikit. Pukulan itu melintas di depan wajahnya tanpa mengenai sasaran.
Pria kedua mencoba menyerang dari samping, tetapi Zaky kembali menghindar dengan satu langkah ringan. Tubuh besarnya bergerak lincah, sama sekali tidak seperti orang yang baru saja menghindari dua serangan sekaligus.
Kedua pria itu terus menyerang.
Pukulan demi pukulan meleset. Mereka mulai terengah-engah, sementara Zaky masih berdiri dengan napas yang relatif teratur.
Bahkan, ia sempat mengangkat alis ketika salah satu dari mereka kembali kehilangan keseimbangan.
“Sudah?” tanyanya santai.
“Diam kau!”
Pria bertato itu mengayunkan tangannya lagi.
Zaky menunduk, menghindari pukulan tersebut, lalu bergeser ke samping.
Ia menatap kedua lawannya yang mulai kehabisan napas.
“Tubuh kalian besar, tapi gerakan kalian lambat sekali.”
“Kurang ajar!”
Ejekan itu membuat keduanya semakin kalap.
Mereka kembali menyerbu, kali ini tanpa memikirkan posisi atau menjaga keseimbangan. Salah seorang mengayunkan pukulan ke arah wajah Zaky, sementara yang lain berusaha menghantam tubuhnya dari samping.
Zaky tidak lagi menghindar.
Dalam satu gerakan cepat, ia melayangkan pukulan keras ke perut pria pertama.
“Ugh!”
Pria itu membungkuk spontan, kedua tangannya memegangi perut.
Sebelum pria kedua sempat bereaksi, Zaky berbalik dan melayangkan satu pukulan tepat ke wajahnya.
Buk!
Pria itu terhuyung mundur hingga hampir menabrak meja di belakangnya.
Ruangan seketika hening.
Kedua pengawal itu berdiri sempoyongan. Rasa sakit tampak jelas di wajah mereka. Darah mengalir dari sudut mulut keduanya, sementara napas mereka terdengar berat.
Zaky merapikan lengan bajunya seolah baru saja menyelesaikan gangguan kecil.
Ia menatap mereka bergantian.
“Masih ingin mencoba lagi?”
Tidak ada yang menjawab.
Dimas yang sejak tadi menyaksikan perkelahian itu akhirnya melangkah maju. Wajahnya berubah serius. Ia tidak menyangka kedua pengawalnya bisa dibuat tidak berdaya dalam waktu sesingkat itu.
Tatapannya beralih dari Zaky kepada Zahra, kemudian kembali kepada Zaky.
Tiba-tiba, sesuatu tampak terlintas dalam pikirannya.
Dimas tersenyum tipis.
“Sekarang aku mengerti.”
Zaky tidak menanggapi.
Dimas menunjuk ke sekeliling kamar VVIP.
“Jadi, kaulah orang yang membiayai pengobatan dan semua fasilitas mewah Paman Rahmat?”
Zaky hanya menatapnya tanpa menjawab.
Dimas mengamati wajah Zaky lebih saksama, seolah berusaha mengingat setiap detailnya.
“Pantas saja kau berani ikut campur. Rupanya kau punya cukup uang untuk merasa bisa melakukan apa saja.”
Zaky tetap diam.
“Aku tidak tahu siapa dirimu sebenarnya,” lanjut Dimas, “tapi jangan mengira masalah ini selesai sampai di sini.”
Ia menoleh kepada kedua pengawalnya.
“Pergi.”
Kedua pria itu tidak membantah. Salah seorang masih memegangi perutnya, sedangkan yang lain menyeka darah di sudut mulut sebelum mengikuti Dimas menuju pintu.
Sesampainya di ambang pintu, Dimas berhenti dan menoleh sekali lagi.
Tatapannya mengunci wajah Zaky.
“Kita mungkin akan bertemu lagi.”
Zaky memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
“Kalau memang itu yang kau inginkan.”
Dimas menyipitkan mata, kemudian melangkah keluar bersama kedua pengawalnya.
Pintu tertutup.
Suasana kamar yang sebelumnya dipenuhi ketegangan perlahan kembali tenang, meskipun sisa ketakutan masih terlihat di wajah Pak Rahmat dan Zahra.
Zaky mengembuskan napas pelan.
Ia sebenarnya tidak berniat mencari masalah. Namun, melihat seseorang memperlakukan Zahra seperti barang yang bisa dimiliki, ditambah ancaman terhadap Pak Rahmat, membuatnya sulit untuk sekadar duduk diam.
Zaky menoleh ke arah ranjang.
“Pak, Anda tidak apa-apa?”
Pak Rahmat mengangguk perlahan.
“Saya tidak apa-apa, Nak. Tapi kamu...” Pandangannya tertuju pada Zaky. “Kamu juga tidak terluka?”
“Tidak, Pak. Mereka tidak berhasil menyentuh saya.”
Zaky menjawab singkat, kemudian memalingkan wajah.
Saat itulah Zahra mendekatinya.
“Kak Zaky...”
Zaky menoleh.
Gadis itu berdiri tepat di hadapannya. Wajahnya tampak cemas, sementara matanya bergerak menyusuri tubuh Zaky dari atas ke bawah, seolah memastikan tidak ada bagian yang terluka.
“Kamu kenapa?” tanya Zaky.
Zahra tidak segera menjawab. Ia justru maju selangkah lagi, memperhatikan lengan dan bahu Zaky dengan saksama.
“Kakak tidak terluka, kan?”
Zaky mengernyit.
“Tidak.”
“Benar?”
“Memangnya aku harus berbohong?”
Zahra masih belum puas. Ia memperhatikan kedua tangan Zaky, lalu kembali menatap wajahnya.
“Kakak tadi dipukul mereka. Aku takut Kakak terluka karena melindungiku.”
Zaky terdiam sesaat.
Jarak mereka kini begitu dekat. Ia bahkan bisa melihat dengan jelas mata Zahra yang masih menyimpan sisa ketakutan, juga pipinya yang sedikit memerah setelah berlari dan menghadapi kejadian menegangkan tadi.
Entah mengapa, perhatian gadis itu membuat Zaky merasa aneh.
Biasanya, setelah menghadapi orang seperti Dimas dan kedua pengawalnya, ia tidak akan memikirkan apa pun lagi. Baginya, kejadian semacam itu hanyalah masalah yang harus diselesaikan.
Namun, sekarang ia justru memperhatikan wajah Zahra.
Terlalu lama, mungkin.
Zaky segera mengalihkan pandangan.
Ada apa denganku?
Ia berdeham pelan.
“Aku sudah bilang tidak terluka. Kamu tidak perlu memeriksaku seperti itu.”
Zahra mendongak.
“Aku hanya khawatir.”
“Tidak perlu.”
“Tapi aku tetap khawatir.”
Zaky menatapnya lagi. Gadis itu mengucapkannya dengan begitu tulus, tanpa sedikit pun berusaha menyembunyikan perasaannya.
Untuk sesaat, Zaky kehilangan kata-kata.
Ia akhirnya menghela napas.
“Sudahlah. Periksa keadaan ayahmu. Beliau tadi hampir turun dari ranjang.”
Zahra seolah baru teringat. Ia segera menoleh kepada Pak Rahmat.
“Ayah!”
Ia bergegas menghampiri ranjang, membantu ayahnya kembali bersandar dengan nyaman.
Zaky memperhatikan mereka beberapa saat. Setelah memastikan keadaan Pak Rahmat cukup baik, ia melangkah menuju pintu.
Namun, sebelum keluar, ia sempat mendengar suara Zahra.
“Kak Zaky!”
Ia berhenti dan menoleh.
“Terima kasih.”
Zaky menatapnya sekilas.
“Jangan berterima kasih terus. Aku hanya melakukan apa yang seharusnya dilakukan.”
Setelah berkata demikian, ia keluar dari kamar.
Zahra masih memandang pintu yang telah tertutup. Tangannya menggenggam ujung selimut ayahnya, sementara senyum kecil perlahan muncul di wajahnya.
Di dalam hati, ia semakin yakin bahwa Zaky bukan pria biasa.
Dan tanpa disadarinya, perasaannya terhadap pria itu mulai tumbuh lebih dalam.
Tidak jauh dari kamar Pak Rahmat, pintu kamar Ardy terbuka.
Edy baru saja hendak keluar ketika melihat tiga orang berjalan menyusuri koridor. Ia langsung mengenali Dimas dan kedua pria bertubuh besar yang mengikutinya.
Namun, langkah Edy terhenti ketika melihat kondisi kedua pengawal tersebut.
Salah seorang berjalan sambil memegangi perutnya. Yang lain tampak kesakitan, dengan darah masih terlihat di sudut mulutnya.
Edy mengangkat alis.
“Wah...”
Ia memperhatikan mereka sampai menghilang di ujung koridor.
“Sepertinya ada yang baru saja mendapatkan pelajaran.”
Rasa ingin tahunya muncul seketika.
Edy segera kembali masuk ke kamar Ardy.
Di dalam, Hana sedang mengeringkan rambut suaminya menggunakan handuk. Ardy duduk bersandar di tempat tidur, membiarkan istrinya merawatnya setelah kondisinya berangsur membaik.
Melihat Edy masuk dengan wajah penuh rasa ingin tahu, Ardy mengangkat pandangan.
“Ada apa lagi?”
Edy menarik kursi dan duduk.
“Sepertinya Zaky baru saja berkelahi.”
Tangan Hana yang sedang mengusap rambut Ardy berhenti sejenak.
“Berkelahi? Dengan siapa?”
“Entahlah. Aku baru melihat tiga orang keluar dari kamar Pak Rahmat. Dua di antaranya babak belur.”
Hana menatap Edy dengan heran.
“Bukankah Zaky sedang duduk di depan kamar kita tadi?”
“Benar. Dan sekarang dua orang itu keluar dengan wajah berdarah. Menurutmu, apa yang terjadi?”
Hana mengerutkan kening.
“Jangan-jangan Zaky mencari masalah lagi.”
Edy langsung tertawa.
“Kalau Zaky sampai mendengar ucapanmu, mungkin dia akan marah.”
“Aku hanya mengatakan apa yang kupikirkan.”
Ardy yang sejak tadi mendengarkan akhirnya angkat bicara.
“Zaky bukan orang yang sembarangan mencari masalah.”
Edy menoleh kepadanya.
“Kau yakin?”
“Aku mengenalnya.”
Ardy menjawab singkat, tetapi tegas.
“Kalau dia sampai menggunakan kekerasan, berarti ada sesuatu yang membuatnya bertindak demikian. Dia tidak akan menyerang orang tanpa alasan.”
Edy menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Berarti kita perlu mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.”
Ardy meliriknya.
“Kau mau mencari tahu atau hanya ingin bergosip?”
Edy tersenyum lebar.
“Keduanya tidak harus saling bertentangan.”
Hana menggeleng kecil sambil kembali mengeringkan rambut Ardy.
“Kalian berdua sama saja.”
Ardy menoleh kepada istrinya.
“Apa maksudmu?”
“Kalian selalu ingin tahu urusan orang lain, tetapi kalau ditanya tentang diri sendiri, jawabannya selalu singkat.”
Edy langsung tertawa.
“Benar juga. Ardy, kau dengar itu?”
Ardy menghela napas, lalu menarik tangan Hana dengan lembut agar istrinya duduk di sampingnya.
“Sudah, jangan membahas Zaky lagi. Lebih baik kau lanjutkan mengeringkan rambutku.”
Hana menatapnya.
“Bukankah sudah hampir kering?”
“Belum.”
Edy memandang mereka bergantian, kemudian menggeleng seolah tidak habis pikir.
“Di luar ada orang berkelahi, di dalam ada pasangan yang sibuk bermesraan. Sepertinya hanya aku yang tidak punya hiburan.”
Ardy menatapnya datar.
“Kalau iri, pulanglah dan temui istrimu.”
Edy langsung berdiri sambil tertawa.
“Baiklah, baiklah. Aku pergi. Daripada terus berada di sini dan menjadi saksi kemesraan kalian.”
Ia berjalan menuju pintu, tetapi sebelum keluar, ia sempat menoleh.
“Namun, aku tetap penasaran dengan apa yang dilakukan Zaky.”
Ardy tidak menjawab.
Tatapannya beralih ke arah pintu kamar, pikirannya mulai menebak-nebak apa yang mungkin terjadi di luar sana.
Ia mengenal Zaky cukup lama untuk mengetahui bahwa pria itu memiliki kendali diri yang kuat.
Jika Zaky sampai kehilangan kesabaran dan melayangkan pukulan, pasti ada seseorang yang telah melewati batasnya.
Dan Ardy merasa, cepat atau lambat, ia akan mengetahui siapa orang itu.
( lanjutan ada di novel " ISTRIKU ANAK SMA."segera)