Hujan baru saja berhenti ketika Abimanyu tiba di sebuah situs batu kuno yang berada jauh di dalam hutan.
Ia datang bukan untuk mencari pusaka atau hal-hal mistis. Sejak kecil, Abimanyu memang tertarik pada peninggalan sejarah, dan tempat itu baru ditemukan setelah warga membuka jalur menuju kawasan hutan yang sebelumnya sulit dijangkau.
Di antara pepohonan yang masih basah, berdiri beberapa batu besar dengan ukiran yang hampir tertutup lumut.
Abimanyu berjalan mendekat.
Salah satu batu terlihat berbeda.
Di permukaannya terdapat gambar seorang pendekar yang memegang keris, dikelilingi tulisan kuno yang tidak bisa ia baca.
Ia mengusap lumut yang menempel pada ukiran tersebut.
Tiba-tiba terdengar suara dentingan logam dari bawah tanah.
Abimanyu berhenti.
Ia kembali menyentuh batu itu.
Kali ini tanah di bawah kakinya bergetar pelan.
Sebuah celah muncul di antara dua batu besar. Dari dalamnya terlihat cahaya kemerahan yang sangat samar.
Abimanyu menelan ludah.
Rasa penasaran mengalahkan rasa takutnya.
Ia memasukkan tangan ke dalam celah tersebut dan menemukan sebuah benda panjang yang terbungkus kain hitam.
Saat kain itu dibuka, terlihat sebilah keris tua.
Anehnya, keris tersebut sama persis dengan gambar yang terukir di batu.
Begitu Abimanyu menggenggamnya, seluruh hutan mendadak sunyi.
Tidak ada suara burung.
Tidak ada suara angin.
Bahkan tetesan air dari dedaunan seolah berhenti.
Kemudian terdengar suara seorang lelaki.
“Jangan bawa pusaka itu pergi.”
Abimanyu langsung menoleh.
Tidak ada siapa-siapa.
“Siapa?”
Tidak ada jawaban.
Tiba-tiba keris di tangannya memancarkan cahaya merah.
Pandangan Abimanyu berkunang-kunang.
Pohon-pohon di sekelilingnya seperti bergerak semakin cepat. Tanah terasa menghilang dari bawah kakinya.
Dalam hitungan detik, tubuhnya seperti terseret oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Ketika akhirnya ia membuka mata, hutan yang sama sudah tidak ada.
Di hadapannya terbentang sebuah kerajaan besar.
Tembok batu menjulang mengelilingi kota. Pasukan berkuda keluar masuk melalui gerbang utama, sementara bendera kerajaan berkibar di atas menara.
Abimanyu terpaku.
Ia melihat orang-orang berjalan dengan pakaian tradisional, pedagang memenuhi jalan, dan suara pandai besi terdengar dari kejauhan.
Semua terasa begitu nyata.
“Ini tidak mungkin...” gumamnya.
Seorang prajurit yang sedang lewat tiba-tiba berhenti.
Matanya tertuju pada keris di tangan Abimanyu.
Wajahnya langsung berubah pucat.
“Dari mana kau mendapatkan pusaka itu?”
Abimanyu mundur.
“Aku menemukannya di hutan.”
Prajurit itu justru menghunus pedangnya.
“Bohong.”
“Aku tidak bohong!”
“Pusaka itu telah hilang selama tiga ratus tahun.”
Abimanyu terdiam.
Tiga ratus tahun?
Belum sempat ia bertanya lebih jauh, suara terompet perang tiba-tiba menggema dari atas menara.
Para prajurit berlarian.
Gerbang kota ditutup.
Orang-orang mulai panik.
Seorang lelaki tua yang mengenakan jubah gelap berjalan mendekati Abimanyu. Tatapannya tajam, seolah sudah mengetahui siapa yang berdiri di hadapannya.
“Jadi akhirnya kau datang juga.”
Abimanyu mengernyit.
“Kita pernah bertemu?”
Lelaki tua itu menggeleng.
“Tidak. Tapi aku sudah menunggumu sejak tiga ratus tahun yang lalu.”
Abimanyu semakin tidak mengerti.
Lelaki itu menunjuk keris di tangannya.
“Pusaka itu tidak membawamu ke masa lalu secara kebetulan.”
“Lalu kenapa aku dibawa ke sini?”
Lelaki tua itu menatap ke arah pasukan musuh yang mulai terlihat di balik bukit.
“Karena kerajaan ini akan jatuh malam ini.”
Ia kemudian menatap Abimanyu.
“Dan hanya seseorang dari masa depan yang memiliki kesempatan untuk mengubah sejarah.”
Abimanyu menggenggam keris tersebut lebih erat.
Untuk pertama kalinya ia sadar, perjalanan yang membawanya ke zaman kejayaan bukanlah sebuah petualangan biasa.
Ia datang ke masa lalu bukan untuk melihat sejarah, tetapi untuk mengubahnya.