Nama Salsa muncul di papan pengumuman. Juara Harapan II Lomba Membatik tingkat Kabupaten. Bukan juara satu.
Di sebelahnya, teman sekelasnya, Cinta, melompat kegirangan. Juara I. Gambar Batik Lasem milik Cinta memang bagus, warnanya berani, burung Hong-nya menyala.
Salsa menatap gambarnya sendiri. Burung Hong-nya pucat. Ia takut memakai merah yang terlalu terang. Kata ibunya, merah itu norak.
Di rumah, Eyang Putri sudah menunggu. Perempuan 70 tahun itu adalah pembatik tulis Lasem asli. Tangannya penuh bercak malam.
"Kok cemberut? Dapat juara toh?" tanya Eyang sambil menyeruput teh.
"Harapan II doang, Eyang. Kata juri warna Salsa kurang berani. Kurang Lasem," jawab Salsa lirih.
Eyang tertawa. "Sini, Eyang tunjukkan apa itu Lasem."
Eyang membuka lemari kayu jatinya. Di dalamnya ada kain batik tua yang dilipat rapi. Begitu dibuka, warna merahnya menyambar mata Salsa. Merah yang begitu dalam, begitu hidup, seperti darah yang segar.
"Ini warnanya apa, Eyang? Merah banget," kata Salsa.
"Orang Lasem bilang ini _Abang Getih Pitik_. Merah darah ayam. Warna ini pantang dibuat malu-malu. Harus berani," Eyang menjelaskan.
Eyang bercerita, dulu tahun 1970-an, Eyang adalah salah satu pembatik di Desa Karas Lor, Rembang. Batik Lasem hampir mati karena tidak laku. Orang-orang lebih suka batik printing yang murah. Warna merah darah ayam itu susah dibuat, harus pakai akar mengkudu yang direndam berbulan-bulan.
"Kenapa Eyang tetap bikin?" tanya Salsa.
"Karena itu identitas kita. Batik Lasem itu bukan cuma kain. Ia adalah cerita tentang orang Jawa dan orang Tionghoa yang hidup rukun di Lasem. Lihat burung Hong ini," Eyang menunjuk motif burung Phoenix di kain itu, "Ini dari budaya Tionghoa, lambang keanggunan. Tapi bunganya, daunnya, awan Mega Mendung-nya, itu Jawa. Mereka menyatu. Kalau kita malu pakai merahnya, kita malu sama sejarah kita sendiri."
Malam itu Salsa tidak bisa tidur. Ia menatap kain Eyang yang tergantung di dinding. Burung Hong merah itu seolah menatapnya balik, mengepakkan sayap.
Keesokan harinya Salsa memutuskan untuk belajar membatik sungguhan. Bukan hanya mewarnai di kertas. Ia ikut Eyang ke belakang rumah, tempat ada wajan kecil berisi malam yang meleleh, canting, dan kompor.
"Berat, Sa," kata Eyang. "Canting harus stabil. Satu tetes salah, rusak semua."
Tangan Salsa gemetar. Malam menetes tidak karuan. Garisnya tidak halus seperti garis Eyang. Ia hampir menangis.
"Eyang dulu belajarnya berapa lama?" tanya Salsa frustrasi.
"Tiga tahun baru bisa bikin garis lurus," jawab Eyang santai. "Kamu baru sepuluh menit."
Salsa tertawa. Ia mencoba lagi. Dan lagi. Sehari, dua hari, seminggu. Tangannya melepuh sedikit karena uap malam. Tapi garis burung Hong buatannya mulai terlihat.
Ia membuat desain baru untuk lomba selanjutnya. Lomba yang lebih besar, tingkat Provinsi di Surabaya bulan depan. Kali ini ia tidak mau pucat lagi.
Ia menggambar Burung Hong yang berbeda. Jika biasanya Burung Hong menghadap ke kanan dengan anggun, Burung Hong milik Salsa menghadap ke depan, sayapnya terbuka lebar seolah akan terbang. Di ekornya, ia selipkan motif Kawung kecil-kecil, motif Jawa yang ia pelajari dari buku. Di sekelilingnya, ia buat bunga peony, bunga khas Tionghoa.
Persatuan Jawa-Tionghoa itu ingin ia tunjukkan dengan lebih berani.
Proses pewarnaan adalah yang paling menegangkan. Eyang mengajarkan cara membuat warna Abang Getih Pitik dari pewarna alami. Tangannya dicelup ke dalam ember berisi air merah. Dingin. Kain putih yang sudah dibatik perlahan berubah menjadi merah darah.
"Jangan takut, Sa. Tekan yang dalam," kata Eyang.
Salsa mencelupkan kainnya. Pertama kali, hasilnya belang. Kedua kali, masih belang. Ketiga kali, merahnya mulai rata dan pekat. Merah yang berani. Merah yang menyala.
"Aku takut juri bilang norak lagi, Eyang," bisik Salsa saat menjemur kainnya di bawah sinar matahari Jombang yang terik.
"Kalau kamu takut dibilang norak, kamu tidak akan pernah jadi pembatik Lasem," jawab Eyang. "Batik Lasem memang harus norak. Harus teriak. Karena kami orang pesisir. Kami bicara keras, warna kami keras, tapi hati kami lembut."
Hari lomba di Surabaya tiba. Aula Grahadi penuh dengan peserta dari seluruh Jawa Timur. Ada yang membawa Batik Parang dari Solo, Batik Mega Mendung dari Cirebon, Batik Madura yang tak kalah cerah.
Salsa menggelar kainnya. Kain batik tulisnya yang masih berbau malam dan akar mengkudu. Tidak seperti peserta lain yang membawa kain printing yang sempurna, kain Salsa ada yang sedikit bleber di ujung sayap burungnya. Tidak sempurna.
Juri berhenti lama di depan kainnya. Seorang ibu berkacamata menatap detail ekor burung yang ada motif Kawung-nya.
"Ini ide siapa, Nak? Menggabungkan Kawung di ekor Hong?" tanyanya.
"Saya, Bu. Saya mau bilang kalau Jawa dan Tionghoa itu bisa menyatu, tidak cuma berdampingan," jawab Salsa gugup.
Juri itu tersenyum. Ia mencatat sesuatu.
Pengumuman juara berlangsung lama. Salsa menunduk, menggenggam tangan Eyang erat.
"Juara I Lomba Batik Tulis Kontemporer Jawa Timur... Salsa Aulia dari Jombang, dengan karya 'Hong Terbang Membawa Kawung'!"
Salsa tidak percaya. Ia maju ke panggung dengan kaki lemas.
Juri yang tadi berkata melalui mikrofon, "Karya Salsa berani. Ia menggunakan warna Abang Getih Pitik yang hampir punah dengan teknik yang benar. Ia tidak takut cacat sedikit karena tulis tangan. Dan yang paling penting, ia punya cerita. Batik tanpa cerita hanya kain bermotif. Batik dengan cerita adalah warisan."
Di perjalanan pulang naik bus, Salsa menyandarkan kepala di bahu Eyang. Kain juara itu ia pangku.
"Eyang, boleh Salsa simpan nama Abang Getih Pitik untuk judul cerpen kalau nanti Salsa jadi penulis?"
"Boleh. Asal jangan lupa, jadi penulis atau pembatik, harus berani. Seperti warna merah itu," kata Eyang.
Salsa mengangguk. Di luar jendela bus, langit Jombang berwarna jingga kemerahan, sama beraninya dengan warna batik di pangkuannya. Ia tidak lagi takut dibilang norak. Karena sekarang ia tahu, keberanian untuk menyala adalah warisan yang harus dijaga.