AKU HANYA INGIN DIBELA
Bab 1 — Ketika Suamiku Memilih Diam
Malam itu, Nirma berdiri di depan pintu ruang tengah sambil menggenggam ujung bajunya.
Jantungnya berdegup kencang.
Bukan karena takut pada suara yang meninggi, tetapi karena ia sudah tahu bagaimana malam itu akan berakhir.
Seperti malam-malam sebelumnya.
Ia akan menangis sendirian.
Dan Farhan, suaminya, akan tetap diam.
“Sejak kamu menikah dengan Farhan, rumah ini tidak pernah benar-benar tenang.”
Suara Bu Rahma, ibu mertuanya, terdengar tajam dari ruang tengah.
Nirma menarik napas dalam-dalam.
“Bu, saya tidak pernah bermaksud membuat masalah.”
“Tidak bermaksud?” Bu Rahma tertawa kecil. “Kamu selalu mengatakan begitu. Tapi lihat kenyataannya. Farhan sekarang lebih sering membantah perkataan Ibu.”
Nirma menoleh kepada Farhan.
Laki-laki itu duduk di sofa dengan kepala tertunduk. Tangannya sibuk memainkan ponsel, seolah pertengkaran yang terjadi di depan matanya bukan urusannya.
“Mas Farhan...” suara Nirma terdengar pelan.
Farhan mengangkat wajah.
“Apa?”
“Mas dengar sendiri apa yang Ibu katakan. Aku tidak pernah membuat Mas menjauh dari keluarga.”
Bu Rahma langsung menyela.
“Justru kamu yang membuatnya berubah!”
Nirma terdiam.
Ia ingin menjelaskan.
Ingin mengatakan bahwa selama ini ia selalu berusaha menghormati keluarga Farhan. Ia memasak, membersihkan rumah, membantu ketika ada keperluan keluarga, bahkan berkali-kali menahan sakit hati ketika perkataan ibu mertuanya menyakitkan.
Namun, semua pengorbanan itu seakan tidak pernah terlihat.
Yang terlihat hanya kesalahannya.
“Kamu itu istri Farhan,” lanjut Bu Rahma. “Seharusnya kamu mengikuti keluarga ini, bukan membuat aturan sendiri.”
“Aku tidak pernah membuat aturan sendiri, Bu.”
“Masih membantah?”
Nirma menundukkan kepala.
“Bukan begitu maksud saya.”
“Sudah, Nirma.”
Akhirnya Farhan berbicara.
Namun bukan kalimat yang selama ini Nirma tunggu.
“Jangan memperpanjang masalah.”
Nirma perlahan mengangkat wajah.
Matanya menatap Farhan dengan rasa tidak percaya.
“Mas bilang jangan memperpanjang masalah?”
“Iya.”
“Padahal aku sedang menjelaskan sesuatu yang sebenarnya tidak aku lakukan.”
Farhan menghela napas.
“Nanti kita bicarakan di kamar.”
Nirma tersenyum getir.
“Kenapa harus di kamar?”
Farhan diam.
“Kenapa Mas tidak bisa membelaku di depan mereka?”
Pertanyaan itu membuat ruang tengah seketika sunyi.
Bu Rahma memandang putranya.
Farhan mengalihkan pandangan.
Nirma menunggu.
Satu detik.
Dua detik.
Lima detik.
Namun tidak ada jawaban.
Akhirnya Nirma berkata pelan,
“Mas... aku ini istrimu.”
Farhan menatapnya.
“Aku tidak meminta Mas bertengkar dengan Ibu. Aku juga tidak meminta Mas memilih antara aku dan keluarga Mas.”
Air mata mulai menggenang di matanya.
“Aku cuma ingin Mas mengatakan bahwa aku juga manusia. Aku juga bisa terluka.”
Farhan berdiri.
“Nirma, cukup.”
“Cukup?”
Suara Nirma bergetar.
“Sudah berapa kali Mas bilang cukup setiap kali aku mencoba menjelaskan perasaanku?”
Farhan tidak menjawab.
Nirma mengusap air matanya.
“Kalau aku diam, mereka bilang aku salah. Kalau aku bicara, aku dianggap melawan. Kalau aku menangis, aku dianggap mencari perhatian.”
Ia menarik napas panjang.
“Lalu aku harus bagaimana?”
Bu Rahma berdiri.
“Kalau kamu memang tidak betah tinggal di rumah ini, silakan pergi.”
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
Nirma menatap ibu mertuanya.
Lalu ia menatap Farhan.
Ia berharap suaminya akan berkata, “Jangan, Bu. Nirma tetap istriku.”
Namun Farhan kembali diam.
Dan diamnya Farhan terasa jauh lebih menyakitkan daripada semua perkataan yang baru saja ia dengar.
Nirma mengangguk pelan.
“Baik.”
Ia berbalik dan berjalan menuju kamar.
“Nirma...” panggil Farhan.
Langkah Nirma berhenti.
Ia tidak menoleh.
“Apa?”
“Jangan pergi ke mana-mana.”
Nirma tersenyum tipis.
“Tenang, Mas. Aku tidak akan pergi.”
Kemudian ia masuk ke kamar dan menutup pintu.
Begitu pintu tertutup, Nirma bersandar di belakangnya.
Air matanya jatuh tanpa bisa ditahan lagi.
Ia menutup mulut dengan tangan agar tangisnya tidak terdengar.
Selama ini ia selalu berusaha menjadi istri yang baik.
Ia tidak pernah meminta kehidupan mewah.
Tidak pernah meminta Farhan membelikan barang mahal.
Tidak pernah menuntut suaminya selalu berada di sisinya.
Ia hanya ingin satu hal.
Dibela ketika dirinya tidak bersalah.
Nirma berjalan menuju tempat tidur.
Ia duduk sambil menatap foto pernikahannya yang berada di atas meja.
Dalam foto itu, ia dan Farhan tersenyum bahagia.
Senyum yang dulu ia pikir akan bertahan selamanya.
“Ke mana perginya kita yang dulu, Mas?” bisiknya.
Ponselnya tiba-tiba bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari sahabat lamanya, Rani.
“Nirma, kamu baik-baik saja?”
Nirma menatap pesan itu cukup lama.
Entah mengapa, pertanyaan sederhana itu membuat dadanya semakin sesak.
Ia mengetik:
“Aku baik-baik saja.”
Namun sebelum mengirimkannya, Nirma menghapus kalimat tersebut.
Ia menggantinya dengan:
“Aku capek, Ran.”
Pesan terkirim.
Tidak sampai satu menit, Rani membalas.
“Kamu kenapa?”
Nirma kembali mengetik.
Kali ini air matanya menetes di atas layar.
“Aku merasa sendirian meskipun aku punya suami.”
Rani langsung menelepon.
Nirma memandang layar ponselnya.
Ia ragu untuk mengangkat.
Namun akhirnya ia menerima panggilan itu.
“Halo...”
Suara Rani terdengar lembut.
“Nirma, kamu menangis?”
Nirma terdiam.
“Tidak.”
“Jangan bohong.”
Air mata Nirma kembali jatuh.
“Ran...”
“Iya?”
“Menurutmu, sampai kapan seorang istri harus bertahan kalau suaminya sendiri tidak pernah membelanya?”
Rani tidak langsung menjawab.
“Nirma, kamu jangan mengambil keputusan saat sedang emosi.”
“Aku tidak ingin pergi.”
“Lalu?”
“Aku hanya ingin Farhan menyadari kalau aku juga istrinya.”
Suara Nirma semakin lirih.
“Aku ingin sekali suatu hari nanti dia berdiri di depanku dan berkata, ‘Aku percaya padamu.’”
Di luar kamar, Farhan berdiri tanpa sengaja mendengar sebagian percakapan itu.
Tangannya sudah terangkat untuk mengetuk pintu.
Namun ia mengurungkannya.
Ia menatap pintu kamar cukup lama.
Untuk pertama kalinya malam itu, wajah Farhan terlihat gelisah.
Sementara di dalam kamar, Nirma masih berbicara dengan Rani.
Tanpa mereka sadari, sebuah percakapan lain sedang terjadi di ruang belakang rumah.
Bu Rahma berdiri bersama seseorang yang baru saja datang.
“Bagaimana?” tanya orang itu.
Bu Rahma menoleh ke arah kamar Nirma.
“Seperti yang kita rencanakan.”
Orang itu tersenyum tipis.
“Tapi bagaimana dengan Farhan?”
Bu Rahma menjawab pelan,
“Farhan akan tetap berada di pihak keluarga.”
Sementara itu, Nirma sama sekali tidak mengetahui bahwa pertengkaran malam ini bukan sekadar masalah rumah tangga biasa.
Ada sesuatu yang selama ini disembunyikan darinya.
Sesuatu yang berkaitan dengan Farhan.
Dan ketika rahasia itu akhirnya terbongkar, Nirma akan menyadari bahwa selama ini...
bukan hanya dirinya yang sedang diuji.
Bersambung...