Matahari pagi di **Sekte Langit Berkibar** belum sepenuhnya naik, tapi keributan di halaman utama sudah sukses menyaingi pasar malem dusun sebelah.
Xiao Yue, dalam wujud manusianya yang mengenakan jubah putih kebesaran (yang sengaja ia curi dari lemari Feng Zao karena bahannya adem), sedang duduk bersila di atas batu giok sakti. Di depannya, Le Zhang dan Xie Le sedang sibuk memasang taruhan kecil-kecilan.
"Ayo pasang! Taruhan sepuluh batu spirit, hari ini Kak Feng bakal ngomel berapa kali gara-gara Kak Xiao Yue nyelupin kakinya ke Kolam Suci Penjaga Naga!" teriak Le Zhang heboh sambil mengibas-ngibaskan kantong koin.
"Gua pasang dua puluh batu spirit kalau Kak Feng bakal pasang muka tembok lagi sambil ngelus dada!" balas Xie Le sambil menjejalkan manisan buah ke mulutnya.
Xiao Yue mendengus sebal, menjulurkan lidahnya ke arah mereka berdua. "Heh, tukang gosip! Asal kalian tahu ya, aku ini sedang melakukan ritual pemurnian spiritual tingkat tinggi! Mana sempat aku peduli sama si kulkas dua pintu itu!"
*KREK...*
Suara langkah kaki yang berat dan penuh tekanan aura dewa terdengar dari arah gerbang paviliun. Suhu udara di sekitar halaman mendadak turun lima derajat.
Feng Zao muncul dengan jubah hitam emasnya yang elegan, rambutnya tergerai rapi, dan wajahnya... oh, wajahnya benar-benar mirip es batu yang baru keluar dari kulkas kutub utara. Matanya yang tajam langsung menatap lurus ke arah Xiao Yue—lebih tepatnya ke arah kedua kaki Xiao Yue yang memang benar-benar sedang *nyelup* santai di dalam Kolam Suci Penjaga Naga, tempat di mana ikan-ikan purba keramat milik para tetua bertempat tinggal.
Le Zhang dan Xie Le langsung pura-pura batuk massal, mundur perlahan, lalu kabur ngibrit menyelamatkan diri.
Feng Zao berhenti tepat di hadapan Xiao Yue. Ia tidak bersuara, melainkan hanya berdiri tegak sambil melipat tangan di dada, menatap sang Ratu Koi dengan tatapan *'tolong jelaskan dosa apa yang sudah kuperbuat di kehidupan lalu sampai harus mengurusimu'*.
Xiao Yue nyengir lebar, memasang muka tanpa berdosa andalannya. "Eh, Feng Zao! Selamat pagi, calon ketua sekte tertampan se-tiga benua. Tadi kakiku gatal, terus nggak sengaja tercebur ke kolam. Asli, ikannya ramah-ramah kok, tadi sempat ngajak aku main *gombalan maut*."
Feng Zao menghela napas panjang. Suaranya terdengar dingin tapi sarat akan keputusasaan yang mendalam. "Xiao Yue... Itu Kolam Suci Penjaga Naga. Isinya adalah monster spiritual ribuan tahun yang bisa menelan manusia hidup-hidup dalam sekali telan. Dan kau... malah asyik nyeker di sana sambil kasih makan remah-remah biskuit?"
"Yaelah, biskuit kelapa bikinan Xie Le itu enak tahu! Makanya ikannya pada antusias," bela Xiao Yue tidak mau kalah, lalu mendadak berdiri dan melompat keluar dari kolam.
Karena dasarnya ceroboh, jubah kepanjangan yang ia pakai tersandung batu licin.
*Hap!*
Xiao Yue kehilangan keseimbangan dan meluncur deras ke depan. Feng Zao yang refleksnya setara pendekar dewa langsung bergerak secepat kilat, merengkuh pinggang Xiao Yue erat-erat agar tidak mencium tanah pelataran sekte.
*Bruk.*
Posisinya jadi sangat dramatis. Xiao Yue mendarat tepat di pelukan Feng Zao. Wajah mereka berdua berada dalam jarak kurang dari dua sentimeter. Napas Feng Zao yang biasanya teratur kini terasa hangat di dekat kening Xiao Yue, sementara aroma wangi bunga teratai surgawi menyeruak dari tubuh pria itu.
Untuk sesaat, halaman sekte yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap.
Xiao Yue tertegun, mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut marah, melainkan karena sadar kalau si kulkas dua pintu ini ternyata punya dada bidang yang cukup empuk dan nyaman.
"Kau... hobi sekali mencari celaka, ya," bisik Feng Zao pelan, suaranya yang biasanya dingin kini terdengar lembut, nyaris seperti belaian angin malam.
Wajah Xiao Yue langsung memerah padam mirip udang rebus. Ia buru-buru mendorong dada Feng Zao dan berdiri tegak sambil salah tingkah. "I-ih! Siapa juga yang cari celaka! Kan tadi jalannya licin gara-gara lantai sekte kalian kurang *paving block*!"
Feng Zao menatap tingkah salah tingkah Xiao Yue, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka—senyuman yang bisa membuat seluruh bunga sakura di tiga benua mendadak gugur karena iri.
Dari balik pilar aula utama, Le Zhang dan Xie Le yang kembali mengintip langsung menutup muka sambil berbisik histeris.
"Wah, wah... jurus pelukan maut berhasil ditebar! Sebentar lagi kita bakal punya Ratu Sekte nih!" bisik Le Zhang kegirangan.
Xiao Yue yang mendengar bisikan itu langsung melempar kerikil ke arah sembunyi mereka berdua sambil berteriak, "LE ZHANG, KELUAR KAU ATAU KUBAHAGIAN JADI IKAN ASIN SELAMANYA!"
Tawa renyah langsung pecah di penjuru Sekte Langit Berkibar, membuktikan bahwa kehadiran sang Ratu Koi yang nyasar ini sukses mengubah sekte paling angkuh di tiga benua menjadi markas komedi romantis paling kocak sepanjang sejarah dunia persilatan.Matahari pagi di **Sekte Langit Berkibar** belum sepenuhnya naik, tapi keributan di halaman utama sudah sukses menyaingi pasar malem dusun sebelah.
Xiao Yue, dalam wujud manusianya yang mengenakan jubah putih kebesaran (yang sengaja ia curi dari lemari Feng Zao karena bahannya adem), sedang duduk bersila di atas batu giok sakti. Di depannya, Le Zhang dan Xie Le sedang sibuk memasang taruhan kecil-kecilan.
"Ayo pasang! Taruhan sepuluh batu spirit, hari ini Kak Feng bakal ngomel berapa kali gara-gara Kak Xiao Yue nyelupin kakinya ke Kolam Suci Penjaga Naga!" teriak Le Zhang heboh sambil mengibas-ngibaskan kantong koin.
"Gua pasang dua puluh batu spirit kalau Kak Feng bakal pasang muka tembok lagi sambil ngelus dada!" balas Xie Le sambil menjejalkan manisan buah ke mulutnya.
Xiao Yue mendengus sebal, menjulurkan lidahnya ke arah mereka berdua. "Heh, tukang gosip! Asal kalian tahu ya, aku ini sedang melakukan ritual pemurnian spiritual tingkat tinggi! Mana sempat aku peduli sama si kulkas dua pintu itu!"
*KREK...*
Suara langkah kaki yang berat dan penuh tekanan aura dewa terdengar dari arah gerbang paviliun. Suhu udara di sekitar halaman mendadak turun lima derajat.
Feng Zao muncul dengan jubah hitam emasnya yang elegan, rambutnya tergerai rapi, dan wajahnya... oh, wajahnya benar-benar mirip es batu yang baru keluar dari kulkas kutub utara. Matanya yang tajam langsung menatap lurus ke arah Xiao Yue—lebih tepatnya ke arah kedua kaki Xiao Yue yang memang benar-benar sedang *nyelup* santai di dalam Kolam Suci Penjaga Naga, tempat di mana ikan-ikan purba keramat milik para tetua bertempat tinggal.
Le Zhang dan Xie Le langsung pura-pura batuk massal, mundur perlahan, lalu kabur ngibrit menyelamatkan diri.
Feng Zao berhenti tepat di hadapan Xiao Yue. Ia tidak bersuara, melainkan hanya berdiri tegak sambil melipat tangan di dada, menatap sang Ratu Koi dengan tatapan *'tolong jelaskan dosa apa yang sudah kuperbuat di kehidupan lalu sampai harus mengurusimu'*.
Xiao Yue nyengir lebar, memasang muka tanpa berdosa andalannya. "Eh, Feng Zao! Selamat pagi, calon ketua sekte tertampan se-tiga benua. Tadi kakiku gatal, terus nggak sengaja tercebur ke kolam. Asli, ikannya ramah-ramah kok, tadi sempat ngajak aku main *gombalan maut*."
Feng Zao menghela napas panjang. Suaranya terdengar dingin tapi sarat akan keputusasaan yang mendalam. "Xiao Yue... Itu Kolam Suci Penjaga Naga. Isinya adalah monster spiritual ribuan tahun yang bisa menelan manusia hidup-hidup dalam sekali telan. Dan kau... malah asyik nyeker di sana sambil kasih makan remah-remah biskuit?"
"Yaelah, biskuit kelapa bikinan Xie Le itu enak tahu! Makanya ikannya pada antusias," bela Xiao Yue tidak mau kalah, lalu mendadak berdiri dan melompat keluar dari kolam.
Karena dasarnya ceroboh, jubah kepanjangan yang ia pakai tersandung batu licin.
*Hap!*
Xiao Yue kehilangan keseimbangan dan meluncur deras ke depan. Feng Zao yang refleksnya setara pendekar dewa langsung bergerak secepat kilat, merengkuh pinggang Xiao Yue erat-erat agar tidak mencium tanah pelataran sekte.
*Bruk.*
Posisinya jadi sangat dramatis. Xiao Yue mendarat tepat di pelukan Feng Zao. Wajah mereka berdua berada dalam jarak kurang dari dua sentimeter. Napas Feng Zao yang biasanya teratur kini terasa hangat di dekat kening Xiao Yue, sementara aroma wangi bunga teratai surgawi menyeruak dari tubuh pria itu.
Untuk sesaat, halaman sekte yang tadinya berisik mendadak sunyi senyap.
Xiao Yue tertegun, mengerjapkan matanya beberapa kali. Jantungnya berdegup kencang—bukan karena takut marah, melainkan karena sadar kalau si kulkas dua pintu ini ternyata punya dada bidang yang cukup empuk dan nyaman.
"Kau... hobi sekali mencari celaka, ya," bisik Feng Zao pelan, suaranya yang biasanya dingin kini terdengar lembut, nyaris seperti belaian angin malam.
Wajah Xiao Yue langsung memerah padam mirip udang rebus. Ia buru-buru mendorong dada Feng Zao dan berdiri tegak sambil salah tingkah. "I-ih! Siapa juga yang cari celaka! Kan tadi jalannya licin gara-gara lantai sekte kalian kurang *paving block*!"
Feng Zao menatap tingkah salah tingkah Xiao Yue, lalu tanpa sadar sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sangat langka—senyuman yang bisa membuat seluruh bunga sakura di tiga benua mendadak gugur karena iri.
Dari balik pilar aula utama, Le Zhang dan Xie Le yang kembali mengintip langsung menutup muka sambil berbisik histeris.
"Wah, wah... jurus pelukan maut berhasil ditebar! Sebentar lagi kita bakal punya Ratu Sekte nih!" bisik Le Zhang kegirangan.
Xiao Yue yang mendengar bisikan itu langsung melempar kerikil ke arah sembunyi mereka berdua sambil berteriak, "LE ZHANG, KELUAR KAU ATAU KUBAHAGIAN JADI IKAN ASIN SELAMANYA!"
Tawa renyah langsung pecah di penjuru Sekte Langit Berkibar, membuktikan bahwa kehadiran sang Ratu Koi yang nyasar ini sukses mengubah sekte paling angkuh di tiga benua menjadi markas komedi romantis paling kocak sepanjang sejarah dunia persilatan.Di Istana Giok Langit Ketujuh—tempat para dewa minum teh sambil gibah—Xiao Yue, sang Ratu Koi Surgawi yang terkenal anggun, sombong, dan hobi pamer sisik emasnya, sedang mengalami hari sial terbesar dalam sejarah keabadian.
Gara-gara salah minum *boba* ginseng celestial beralkohol tinggi, Xiao Yue tidak sengaja melompat terlalu kencang melintasi gerbang dimensi. Alih-alih mendarat di kolam teratai kahyangan, tubuhnya yang setengah manusia setengah ikan koi itu malah melayang bebas di udara, sebelum akhirnya...
*BRUK!*
Xiao Yue mendarat telak di dalam tempayan besar berisi air rendaman cucian beras milik Sekte Qingyuan—sekte silat terkuat di tiga benua yang terkenal paling angkuh, disiplin, dan anteng.
"HUWAAAA! SIALAN! SIAPA YANG BERANI MENARUH AIR BAJU BAU INI DI JALUR PENERBANGANKU?!" geram Xiao Yue, melompat keluar dari tempayan sambil mengibas-ngibaskan jubah sutra putihnya yang basah kuyup. Sisik-sisik emas di ujung rambutnya berkilauan terang di bawah sinar matahari pagi.
Kebetulan sekali, saat itu Mo Ziyuan, sang murid kepala Sekte Qingyuan yang dijuluki *Pedang Es Tanpa Emosi*, sedang berjalan lewat membawa gulungan kitab suci sekte. Wajahnya tampan, dingin, kaku, dan hidupnya 100% lurus tanpa komedi.
Mo Ziyuan berhenti. Ia menatap Xiao Yue dari atas sampai bawah. Xiao Yue menatap balik dengan mata mendelik sinis.
"Makhluk jadi-jadian dari mana kau? Berani-beraninya mengotori air suci Sekte Qingyuan dengan... sisik ikan hias?!" desis Mo Ziyuan dingin, menghunus pedangnya setengah inci.
"Heh, kurcaci es! Jaga mulutmu ya! Aku ini Xiao Yue, Ratu Koi Penguasa Perairan Surgawi! Kalau bukan karena boba kadaluarsa, aku nggak bakal sudi menginjakkan kaki di sekte gersang yang penuh debu ini!" protes Xiao Yue sambil berkacak pinggang, menjulurkan lidahnya.
Sebelum Mo Ziyuan sempat menebasnya karena emosi, tiba-tiba terdengar suara langkah kaki berlari panik disusul suara cempreng yang khas.
"KAKAK PERGURUAN KEPALA! DARURAT! ADA MALING MASUK KOLAM IKAN MAS KOKOH!" teriak Xie Miao, saudari seperguruan wanita yang hobi rusuh dan jadi sumber gosip nomor satu di sekte.
Xie Miao datang tergopoh-gopoh membawa jaring penangkap ikan selebar lapangan bulu tangkis. Begitu melihat Xiao Yue, mata Xie Miao langsung berbinar-binar. "Wah! Kakak Ziyuan! Tangkapan kita hari ini jumbo banget! Bisa digoreng garing pakai saus asam manis nih!"
"Ikan nenekmu garing!" murka Xiao Yue. Ia langsung mengepakkan tangannya, menciptakan cipratan air gaib yang menyembur tepat ke muka Xie Miao dan Mo Ziyuan sampai basah kuyup mirip kucing kecebur comberan.
Mo Ziyuan, yang seumur hidupnya tidak pernah disiram air cucian (atau air gaib) oleh wanita mana pun, membatu di tempat. Rambut kuncir kudanya basah, dan ekspresi dinginnya langsung berubah jadi kaget campur ingin ngamuk.
Di saat situasi makin runcing dan menegangkan, muncullah Lu Zhang, tetua sekte urusan logistik yang hobi nyemil kuaci dan paling malas kerja. Lu Zhang datang jalan santai sambil mengunyah biji labu.
"Wuih, pagi-pagi sudah ada keributan rumah tangga ya?" komentar Lu Zhang tanpa dosa, meludah kulit kuaci sembarangan ke dekat sepatu Mo Ziyuan. "Ziyuan, kalau dapat ikan jadi-jadian begini, jangan digoreng. Mending dipelihara di kolam belakang, siapa tahu bawa hoki atau bisa disuruh ngepel lantai."
"TETUA LU ZHANG, DIAM KAU!" bentak Mo Ziyuan dan Xiao Yue secara bersamaan dengan suara menggelegar, membuat burung-burung di sekitar sekte jatuh pingsan karena kaget.
Xiao Yue mendengus sebal, melipat tangan di dada. "Dengar ya, manusia es! Aku tidak bisa pulang ke kayangan sebelum kekuatan dewaku pulih. Jadi terpaksa, aku akan tinggal di sekte sombong kalian ini!"
Mo Ziyuan memijat pelipisnya yang mendadak pening luar biasa. Mengurus satu sekte silat dengan ribuan murid saja sudah membuatnya hampir botak, apalagi ketambahan Ratu Koi albino yang galak, songong, dan hobi bikin rusuh ini.
"Xie Miao, bawa dia ke kamar gudang sebelah kandang kuda! Dan beri dia makan pelet ikan!" perintah Mo Ziyuan telak.
"APA?! AKU RATU KOI DIKERMATI DI SEBELAH KANDANG KUDA?!" teriak Xiao Yue histeris, sementara Xie Miao malah cekikikan senang sambil menyeret jaring ikan.
Dan begitu lah hari-hari damai di Sekte Qingyuan resmi hancur lebur, digantikan oleh komedi romantis absurd antara sang pendekar es paling kaku dan Ratu Koi paling tengil sedunia.
Hari kedua di Sekte Qingyuan dimulai bukan dengan suara burung merdu atau dentang lonceng meditasi pagi, melainkan dengan teriakan histeris dari aula utama yang sukses membangunkan seluruh penghuni tiga benua.
"SIAPA YANG BERANI MENGGANTI AIR MANDIKU DENGAN AIR TEH PAHIT SISA KEMARIN?!" teriak Xiao Yue menggelegar, keluar dari kamar gudang dengan jubah sutra emasnya yang kini berbau melati campur sepat.
Di luar kamar, Xie Miao sedang berdiri sambil membawa sebungkus pelet ikan ukuran kiloan, cengengesan tanpa dosa. "Hehe, maaf ya, Ratu Koi. Kemarin Kak Ziyuan bilang kalau kamu haus, minum saja air teh tetua. Kalau lapar, nih, aku bawain menu spesial sarapan murid luar: pelet rasa udang rebon!"
"Rebon nenekmu peyang!" maki Xiao Yue, melempar bantal kapuk tua ke muka Xie Miao.
Tepat saat itu, Mo Ziyuan melintas di koridor utama dengan langkah anggun dan wajah sedingin es batu kutub. Hari ini ia mengenakan jubah putih bersih tanpa noda, membawa pedang pusaka di pinggangnya. Tapi begitu melihat Xiao Yue yang sedang ngamuk-ngamuk sambil membawa baskom bocor, urat di pelipis Mo Ziyuan langsung berkedut keras.
Mo Ziyuan berhenti, menatap tajam. "Xiao Yue. Ini Sekte Qingyuan, tempat suci para pendekar agung, bukan pasar ikan hias tempatmu berteriak-teriak di pagi buta."
Xiao Yue mendengus, melipat tangan di dada lalu mendongak sombong. "Ih,, si kurcaci es sok ganteng ngomong lagi! Bilang saja kamu iri kan karena sisik emas di rambutku lebih glowing daripada pedang karatanmu itu?"
"Karat...?" Mo Ziyuan hampir kehilangan kendali atas jurus pedang seribu tahunnya. Belum pernah ada makhluk hidup di dunia persilatan yang berani menghina Pedang Es Langit miliknya dengan sebutan *karatan*.
Tiba-tiba, dari balik pilar aula, Lu Zhang muncul sambil berjalan sempoyongan, menggaruk perutnya yang buncit sambil membawa setoples manisan mangga. "Eits, ribut-ribut apa ini? Wah, Ziyuan, muka merah begitu mirip kepiting rebus. Jangan-jangan kamu mulai terpesona sama kilau sisik si Ratu Koi, ya?"
"TETUA LU, DIAM ATAU KUPINDAHKAN KAU KE JURANG TENGKORAK!" seru Mo Ziyuan dan Xiao Yue serempak dengan nada suara 11-12 mirip Emak-emak nagih arisan.
Xie Miao yang melihat pertengkaran itu langsung menyenggol lengan Mo Ziyuan sambil berbisik usil, "Kak Ziyuan, semalem aku dengar si Ratu Koi ngigo nyariin kolam teratai pribadi. Katanya kamar gudangnya kurang estetik."
Mo Ziyuan memutar bola matanya jengah. Ia tahu betul kalau tidak segera diberi kegiatan, Ratu Koi ini bakal membongkar sekte mereka sampai rata dengan tanah. Dengan helaan napas panjang tanda pasrah pada nasib buruk, Mo Ziyuan berkata, "Dengar, ikan jadi-jadian. Kalau kau mau tempat tinggal yang layak dan air yang jernih, hari ini kau harus ikut ujian kedisiplinan dasar murid luar: membersihkan Kolam Naga Suci."
Mata Xiao Yue langsung berbinar mendengar kata *kolam*. "Kolam? Oke! Tapi kalau airnya kotor, awas saja ya, kuubah seluruh murid sekte ini jadi gelembung sabun!"
Dan begitulah, babak baru penderitaan batin Mo Ziyuan resmi dimulai ketika ia harus mengawasi Ratu Koi yang kerjaannya bukan bersih-bersih kolam, malah asyik main air sambil pamer gaya renang gaya bebas di depan ratusan murid sekte yang tercengang-cengang.