Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala desa, menyisakan bias warna jingga keemasan yang hangat dan damai di langit sore—benar-benar senja kampung halaman yang asli, tanpa ada urusan dengan portal dimensi waktu ataupun takdir kosmis peninggalan zaman purba.
Di teras rumah, *magic com* digital baru hasil jerih payah bergulat dengan oli dan sabun colek terpajang megah di atas meja kayu, bersanding bangga di sebelah traktor merah yang terparkir rapi di halaman.
Aku duduk selonjoran di balai-balai bambu sambil menikmati secangkir kopi hitam buatan Bapak dan semangkuk pisang goreng hangat bikinan Emak. Seluruh otot di tubuhku rasanya mau copot, punggung masih bau oli mesin, dan jidatku ada bekas plester merah gara-gara nyungsep di lapangan. Tapi untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ada rasa lega yang luar biasa lapang di dadaku.
"Gimana, Jef? Masih pengen balik ke Jakarta jadi budak korporat yang tiap hari stres mikirin deadline, atau betah jadi pangeran lumpur di desa?" ledek Bapak sambil menyalakan rokok kreteknya.
Aku terkekeh pelan, menyeruput kopi manis yang sedikit tumpah ke kumisku. "Enggak deh, Pak. Di Jakarta kemarin mah hidupku cuma numpang lewat doang. Kalau di sini... ya ampun, tiap hari rasanya kayak syuting film *action-comedy* tanpa naskah."
Emak yang duduk di kursi goyang sambil merajut langsung melirik tajam, tapi bibirnya menyunggingkan senyum tipis yang jarang ia tunjukkan. "Makanya, jadi anak jangan suka merantau jauh-jauh kalau ujung-ujungnya minta diurusin Emak lagi. Tapi lumayanlah, traktor sama *magic com*-nya bisa buat pamer ke Bu RT sebelah besok pagi."
Yanto yang dari tadi sibuk mengedit video TikTok penaklukan pohon pinang di pojokan teras langsung nyamber, "Tenang, Mak! Video Jefri manjat pinang tadi udah ditonton sepuluh ribu orang! Komentarnya banyak yang bilang Jefri cocok jadi duta anti-stres nasional."
Kami berempat tertawa bersama, suara tawa yang memecah keheningan malam desa di bawah temaram lampu tempel.
Hidupku memang sempat berantakan di ibu kota. Di-PHK, cicilan menumpuk, gagal berkarier, dan pulang dengan rasa malu. Tapi di desa ini—di tengah omelan maut Emak, nasihat tenang Bapak, kejenakaan Yanto, amukan kambing Si Boncel, hingga serangan lele albino—aku menemukan kembali diriku yang sempat hilang.
Besok mungkin bakal ada petualangan absurd baru: mungkin disuruh nangkap ayam tetangga yang hobi kabur, atau disuruh ngerjain sawah pakai traktor lagi. Tapi aku siap. Karena di sinilah panggung utamaku yang sesungguhnya.
"Udah, malem. Masuk-masuk! Besok subuh kamu harus ikut Bapak ngecek kolam lele lagi, Jef!" perintah Emak sambil berdiri dan membereskan piring kotor.
"Siap, Komandan!" jawabku mantap sambil berdiri, meregangkan otot-otot yang pegal linu dengan senyum lebar menghiasi muka.
Malam semakin larut, dan di bawah langit desa yang tenang, lembaran baru hidupku sebagai anak kampung paling kocak resmi dimulai.
Matahari pagi baru saja menyembulkan sinarnya di ufuk timur Desa Sukamaju, menyebarkan kehangatan yang langsung membangunkan seluruh ayam jantan tetangga untuk melakukan konser subuh secara serentak.
*Kukuruyuk! Kukuruyuk massal!*
Belum sempat mataku terbuka sepenuhnya, suara ketukan panci bertalu-talu dari arah dapur sudah membahana, sukses menggetarkan gendang telinga.
"JEFRI! BANGUN! MATAHARI UDAH TINGGI SEGALANYA! KAMU MAU JADI PEMALAS KAYAK KUCING RUMAHAN ATAU MAU IKUT BAPAK KE KOLAM LELE SEKARANG JUGA?!" teriak suara menggelegar Emak, disusul suara decitan pintu kamarku yang dibuka paksa.
Aku langsung terlonjak kaget dari kasur, hampir terjungkal karena kaki kananku masih terbelit selimut. "Iya, Mak! Ampun! Jefri udah bangun! Ini lagi pasang celana!" teriakku histeris sambil jungkir balik mencari kaos partai terbaikku.
Pagi ini, petualangan babak baru resmi dimulai. Sambil menyandang ember plastik dan jaring ikan di bahu, aku melangkah keluar rumah dengan penuh percaya diri—meski muka masih kucel dan iler sisa tidur belum sepenuhnya kering.
Di teras, Bapak sudah siap dengan topipetani dan sabitnya, sementara Yanto muncul dari balik pagar sambil menenteng kamera HP, siap melakukan *live streaming* subuh.
"Siap mental buat duel ronde kedua sama ketua lele albino, Jef?" ledek Yanto dengan cengiran lebar.
Aku menarik napas dalam-dalam, menatap hamparan sawah hijau dan deretan pohon kelapa yang disiram cahaya pagi. Hidup sebagai mantan pengangkut beban korporat Jakarta memang berat, tapi hidup sebagai pendekar lumpur Desa Sukamaju jauh lebih menantang dan penuh kejutan.
"Boro-boro takut sama lele, kemarin aja pohon pinang oli udah gua taklukin!" jawabku mantap sambil melangkah menyusul Bapak menuju kolam.
Dan di sinilah aku sekarang: siap menghadapi hari baru, amukan Emak berikutnya, atau mungkin... tantangan baru dari kambing Si Boncel.
Pagi yang cerah di pinggir kolam lele mendadak berubah menjadi arena sirkus ketika kami tiba. Bapak langsung jongkok di tepi kolam, melempar segenggam pelet beraroma terasi super menyengat ke dalam air hijau pekat.
*Pluk, pluk, pluk!*
Seketika itu juga, permukaan air bergolak dahsyat. Puluhan lele berhamburan naik, saling dorong, dan mencuatkan kepala-kepala gemuk mereka ke udara. Yang paling mengejutkan, si Lele Albino—musuh bebuyutanku minggu lalu—muncul paling depan sambil membawa sehelai daun talas di kepalanya, kelihatan songong banget seolah-olah dia lagi pakai topi pahlawan.
"Wah, songong banget nih ikan. Kemarin udah dikasih
pelajaran, sekarang malah sok cosplay jadi jenderal," gerutuku sambil melipat lengan baju.
"Udah, jangan diajak ngobrol ikannya, Jef. Nanti dikira kamu stres beneran," ledek Yanto sambil mengarahkan kamera HP-nya pas ke mukaku. "Ayo, warganet mau lihat aksi pawang lele beraksi lagi!"
Bapak berdiri sambil menyeringai lebar. "Nah, tugasmu hari ini bukan cuma manggil mereka, Jef. Tapi bersihin kolam bagian sudut timur yang kemarin ketimbun lumpur tebal. Kalau kamu males-malesan, Emak udah nyiapin rantang kosong buat lempar sandal lagi."
Mendengar nama Emak disebut, insting bertahan hidupku langsung aktif seratus persen. Tanpa pikir panjang, aku melepas sandal jepit, menggulung celana training sampai paha, dan... *BYUR!*
Aku melompat masuk ke dalam kolam. Dinginnya air pagi langsung menusuk tulang, sukses membuatku merinding disko. Belum sempat aku memegang sekop kecil untuk mengeruk lumpur, si Lele Albino mendesis tajam di depanku, lalu melompat kecil menyemprotkan air kolam tepat ke arah mukaku.
"Sialan! Kau nantang aku, hah?!" seruku sebal sambil mengusap mata yang perih kena air hijau.
Pertarungan sengit antara manusia setengah stres dan ketua lele albino pun pecah di tengah kubangan lumpur. Yanto di pinggir kolam tertawa sampai guling-guling di rumput, sementara aku sibuk bergulat menghindari cipratan ekor lele yang bertenaga kuda.
Inilah hari-hari biasa di Desa Sukamaju: penuh lumpur, penuh teriakkan, tapi dijamin tidak pernah ada kata bosan.
Pertempuran sengit di kubangan lumpur antara aku dan sang ketua lele albino mendadak mencapai klimaksnya. Di tengah kecipak air hijau pekat, si lele melakukan gerakan *breakdance* bawah air yang sangat tidak masuk akal, lalu melompat tinggi berniat mendarat tepat di atas kepalaku.
"Eits, nggak semudah itu, Mas Bro!" teriakku sambil melakukan gerakan *tangkisan maut*—menggunakan ember plastik kosong untuk menangkap serangan udara si lele.
*PLUNG!*
Tepat sasaran! Si lele albino sukses terperangkap di dalam ember terbalik. Ia mengetuk-ngetuk dinding ember dengan ekornya, seolah-olah mengajukan protes keras atas penangkapan sepihak ini.
Dari pinggir kolam, Yanto bertepuk tangan heboh sambil terus menyorotkan kamera HP-nya. "Luar biasa! Pawang lele kita kembali menaklukkan sang penguasa kolam! Kasih *applause*, *guys*!" teriak Yanto ke penonton *live streaming*-nya.
Bapak mengangguk-angguk puas sambil melipat tangan di dada. "Bagus, Jef. Tenaga tanganmu udah mulai lumayan. Besok tinggal latihan cara nyuci kandang kambing Si Boncel tanpa kena seruduk."
Mendengar kata "kandang kambing Si Boncel", seketika bulu kudukku merinding. Baru saja aku mau bernapas lega karena berhasil mengamankan si lele albino, tiba-tiba terdengar suara ringkikan kambing yang sangat menggelegar dari arah pekarangan rumah.
*MEOK-BEEEEK!* (Suara kambing campur kucing stres).
Disusul suara teriakan Emak dari kejauhan yang menggunakan toa masjid dengan nada alarm bahaya tingkat tinggi:
"JEFRI! CEPETAN NAIK DARI KOLAM! SI BONCEL LEPAS LAGI DAN SEKARANG DIA LAGI NGEJAR-NGEJAR SEPEDA LISTRIK PAK RT!"
Jantungku langsung copot seketika. Aku menatap ember berisi lele di tangan, lalu menatap Bapak dan Yanto secara bergantian dengan muka pucat pasi.
"Ampun... ini hidup kok isinya kejar-kejaran mulu, ya?" ratapku histeris.
Tanpa buang waktu, aku melompat keluar kolam dengan badan belepotan lumpur hijau, menyambar handuk kumal, dan berlari lintang-pukang menuju halaman rumah demi menghentikan amukan Si Boncel sebelum ia menghancurkan fasilitas umum desa.
Petualangan si anak rantau kembali berlanjut, dan sepertinya hari ini urusan lari-larian marathon bakal lebih melelahkan daripada seleksi masuk perusahaan multinasional!
Langkah kakiku berlari sekencang kilat menembus pematang sawah, mengabaikan lumpur yang menciprat ke mana-mana hingga punggung celana trainingku berubah warna jadi cokelat total. Di tangan kiriku masih tergantung ember berisi lele albino, sementara tangan kanannya sibuk memegang handuk kecil buat mengibaskannya ke udara kalau-kalau si kambing psikopat itu mendadak menerjang dari arah samping.
"WOE, SI BONCEL! TERSANGKA UTAMA, BERHENTI KAU!" teriakku histeris sambil membelokan badan ke tikungan jalan desa.
Sesampainya di halaman depan rumah, pemandangan yang tersaji benar-benar di luar nalar peradaban modern.
Sepeda listrik milik Pak RT yang baru dibeli kredit lima bulan lalu tergeletak miring di pinggir selokan. Di atas joknya, Si Boncel berdiri gagah dengan dua kaki depan bertumpu di setang, menggeleng-gelengkan kepala sambil mengembik songong, seolah-olah dia adalah geng motor preman jalanan yang baru saja membajak kendaraan.
Pak RT sendiri berdiri di pinggir jalan dengan sarung setengah merosot, memegang piring singkong goreng sambil melongo takjub menyaksikan kambing peliharaan keluargaku merampas kendaraan dinas tidak resminya.
"Waduh, Jef! Kambing lu udah kena pengaruh pergaulan bebas! Udah berani bawa kabur motor listrik tanpa SIM!" seru Yanto yang datang menyusul di belakangku sambil terengah-engah, kameranya masih sibuk *zoom in* ke arah si kambing.
Dari ambang pintu rumah, Emak muncul dengan aura pembunuh berdarah dingin. Tangannya bukan lagi memegang sapu lidi, melainkan selang air ukuran besar dengan tekanan kencang dari pompa air mesin.
"JEFRI! KALAU DALAM HITUNGAN KETIGA KAMU NGGAK BERHASIL JINAKKAN TUH KAMBING, EMAK SEMBUR KALIAN BERDUA PAKAI AIR POMPA SAMPAH!" ancam Emak dengan suara menggelegar yang sanggup meruntuhkan mental baja prajurit sekalipun.
Waduh, gawat. Kalau sampai kena semprot selang Emak, bajuku yang udah bau lumpur lele bakal tambah kumuh mirip keset masjid.
Aku menarik napas dalam-dalam, memasang kuda-kuda silat asal-asalan ala pendekar terminal, lalu berjalan mendekati Si Boncel secara perlahan sambil mengeluarkan suara desisan jurus penenang gadungan.
"Sstt... sstt... Boncel manis, kambing soleh, ayo turun. Jangan bikin Emak murka, nanti kita berdua dijadikan sate tumpeng massal lho," bujukku dengan nada suara paling ramah yang kubisa.
Si Boncel menoleh ke arahku. Mata kambing itu mendelik tajam, mengorek-ngorek tanah dengan kuku depannya, lalu bersiap mengambil posisi ancang-ancang untuk menyeruduk perutku.
"Wah, ngelunjak ya lu?!" geramku.
Saat Si Boncel berlari kencang menyerbu ke arahku, aku melompat ke samping dengan gaya *matador amatir*, meraih tanduknya erat-erat, dan mendaratkan jurus pamungkas andalanku: **Ketiak Maut Edisi Bau Lumpur Lele**.
*PLAK!*
Ketiakku mendarat telak tepat di moncong Si Boncel. Seketika itu juga, kambing itu terdiam kaku, matanya mendelik putih, lalu ambruk pingsan di atas rumput dengan lidah menjulur pasrah.
Suasana pelataran rumah langsung hening seketika. Pak RT bertepuk tangan pelan sambil geleng-geleng kepala, sementara Yanto berteriak heboh ke arah kameranya, "PEMIRSA! JEFRI KEMBALI MENANG KARENA JURUS AJAIBNYA! KAMBING PREMAN DESA BERHASIL DITUMBANGKAN!"
Dari teras, Emak menurunkan selang airnya sambil tersenyum puas. "Bagus. Pintar juga otak encer anak Emak kalau lagi terdesak. Sekarang, gotong tuh kambing pingsan ke kandangnya, terus bersihin sepeda listrik Pak RT!"
Aku menghela napas panjang, tersenyum kecut sambil mengusap pelipis yang penuh keringat. Hidup di desa memang jauh dari kata tenang, tapi kepulangan kampungku ini dijamin tidak akan pernah kekurangan momen-momen paling konyol sedunia.
Matahari perlahan bergeser ke barat, mengubah langit Desa Sukamaju menjadi hamparan warna keemasan yang menenangkan. Setelah sukses mengevakuasi Si Boncel kembali ke kandangnya dan membersihkan sepeda listrik Pak RT dengan penuh cucuran keringat, aku akhirnya bisa duduk selonjoran di balai-balai bambu depan rumah.
Di sampingku, ember berisi lele albino masih nongkrong dengan damai—ikannya bahkan kelihatan sudah pasrah menerima takdir jadi bahan bumbu kuning Emak malam ini.
Bapak datang membawa segelas kopi hitam hangat dan menaruhnya di atasku, lalu ikut duduk di kursi goyang sambil tersenyum tipis. "Hebat juga tenaga ketiakmu hari ini, Jef. Si Boncel sampai pingsan dua jam lebih."
"Ampun, Pak. Jangan diungkit-ungkit lagi. Ototku rasanya mau copot semua," keluhku sambil memijat bahu sendiri yang pegal linu.
Tiba-tiba, gerbang bambu pekarangan kami berderit pelan. Yanto muncul dengan gaya santai sambil menenteng kantong plastik hitam besar berisi kerupuk udang kaleng dan sebotol teh botol dingin.
"Woi, pahlawan desa! Istirahat dulu, jangan mikirin otot mulu," sapa Yanto sambil nyengir lebar dan duduk di tangga balai-balai. "Omong-omong, video TikTok aksi lo nyergap Si Boncel tadi siang udah ditonton lima puluh ribu orang! Komentarnya banyak yang nanyain, kapan lo buka sasana latihan silat ketiak maut."
Aku mendengus pelan sambil mengambil sepotong kerupuk udang dari kantong Yanto. "Bilang sama netizen, jurus itu cuma bisa dipelajari oleh anak rantau yang mentalnya udah ditempa kerasnya cicilan paylater dan kejamnya PHK ibu kota."
Dari arah dapur, Emak keluar membawa nampan berisi pisang goreng hangat yang baru diangkat dari wajan. Aromanya langsung menusuk hidung, menggugah selera seketika.
"Udah, nggak usah ngomongin netizen maya. Mending kalian siap-siap bersih-bersih badan, sebentar lagi azan magrib," nasihat Emak sambil meletakkan nampan di meja bambu dan menepuk pundakku pelan. Tatapannya kali ini tidak lagi galak, melainkan penuh kehangatan seorang ibu yang bangga melihat anaknya betah kembali ke rumah.
Aku memandang sekeliling: Bapak yang menyeruput kopi dengan tenang, Yanto yang sibuk cekikikan membaca komentar HP, pisang goreng buatan Emak yang mengepulkan asap tipis, serta traktor merah dan *magic com* digital yang terparkir rapi sebagai bukti perjuanganku minggu ini.
Hidup di desa memang tidak ada mewahnya. Tidak ada mal megah, tidak ada Wi-Fi kecepatan tinggi di tiap sudut jalan, dan yang pasti, tidak ada hari tanpa kejutan absurd dari hewan-hewan peliharaan tetangga. Tapi di sinilah kebahagiaan yang sesungguhnya kutemukan—sederhana, berisik, penuh tawa, dan berbalut cinta keluarga yang tulus.
"Besok jadwalnya ngapain lagi, Mak?" tanyaku iseng sambil nyengir.
Emak melirik tajam sambil berkacak pinggang. "Besok jadwalnya kamu ikut Bapak nyangkul di sawah bagian utara! Jangan ngarep bisa rebahan seharian!"
Aku langsung nyengir lebar, merangkul bahu Bapak dan Yanto, siap menyambut hari esok dengan sejuta kekonyolan baru di kampung halaman tercinta.
Malam semakin larut, menyelimuti Desa Sukamaju dalam keheningan yang sesekali dipecahkan oleh suara jangkrik dan embusan angin malam yang sejuk. Di bawah temaram lampu tempel, teras rumah bambu kami terasa begitu hangat dan menenangkan.
Aku merebahkan punggung di atas balai-balai, menatap langit malam yang bersih dari balik rimbunnya pohon mangga di halaman. Tidak ada lagi lampu neon kota yang menyilaukan, tidak ada lagi deru kendaraan ibu kota yang memekakkan telinga, dan yang paling penting: tidak ada lagi beban target kantor atau kecemasan tentang masa depan yang buram.
Semua kekacauan itu—mulai dari di-PHK, salah kirim stiker WhatsApp ke bos, hingga duel maut melawan kambing psikopat dan lele albino—kini berubah menjadi lembaran cerita paling konyol sekaligus paling berharga dalam hidupku.
Bapak merapikan cangkir kopinya, lalu menepuk pelan kakiku yang selonjoran. "Udah malam, Jef. Masuk sana, istirahat. Besok pagi-pagi buta sawah utara udah nungguin."
"Siap, Pak," jawabku pelan sambil tersenyum.
Emak keluar dari dalam rumah membawa selembar selimut tipis, lalu melemparkannya tepat ke mukaku dengan gaya khasnya. "Nih, pakai! Jangan tidur di luar semalaman, nanti kamu masuk angin, terus ngerepotin Emak lagi ngerokin punggungmu yang bau oli!"
"Siap, Komandan!" tawaku pecah.
Yanto berpamitan pulang mengendarai motor bebek brong-nya, melambaikan tangan sambil meneriakkan yel-yel *influencer* desa. Sisa malam itu kembali tenang.
Aku bangkit, melangkah masuk ke dalam rumah, dan memandang sekeliling kamar kecilku. Traktor merah yang terparkir di halaman, *magic com* digital di dapur, serta sisa-sisa gelak tawa bersama Bapak dan Emak adalah bukti nyata bahwa pulang kampung bukanlah sebuah kemunduran, melainkan sebuah awal yang baru.
Aku bukan lagi Jefri si mantan pengangguran kota besar yang putus asa. Di sini, di tanah kelahiran ini, aku adalah Jefri—sang pendekar lumpur, pawang lele albino, dan pahlawan balap karung Desa Sukamaju.
Dan ketika mataku perlahan terpejam menyambut malam, aku tahu pasti: besok petualangan absurd yang baru pasti akan dimulai lagi, dan aku sudah tidak sabar untuk menghadapinya dengan senyuman terlebar di muka bumi.
Kisahku di desa ini baru saja dimulai, dan lembarannya akan terus ditulis dengan tawa, lumpur, dan cinta keluarga yang tak ternilai harganya.