“Mas... boleh aku tidur di sini?”
Aku yang sedang makan mi instan langsung berhenti mengunyah.
Di depan pintu kamar berdiri seorang perempuan.
Rambutnya panjang.
Wajahnya pucat.
Kakinya tidak menyentuh lantai.
Kalau orang normal melihat pemandangan seperti itu, mungkin sudah lari sambil membaca doa.
Masalahnya...
aku bukan orang normal.
Aku justru sibuk memperhatikan kuah mi yang hampir tumpah.
“Mbak siapa?”
Perempuan itu menatapku.
“Hantu.”
Aku mengangguk pelan.
“Oh.”
Dia terlihat kecewa.
“Oh doang?”
Aku mengangkat bahu.
“Harus gimana?”
“Ya takut.”
“Maaf, Mbak. Saya lagi lapar.”
Hantu itu masuk ke kamar tanpa permisi.
Aku langsung menunjuk pintu.
“Eh, jangan sembarangan masuk.”
Dia duduk di ujung kasur.
“Mas, aku takut.”
Aku menatapnya tidak percaya.
“Hantu kok takut?”
Dia menunjuk ke arah lorong.
“Di luar ada hantu.”
Aku diam.
“Lah, Mbak juga hantu.”
“Aku tahu.”
“Terus?”
“Makanya aku takut.”
Aku memijat kening.
“Ini logikanya bagaimana?”
Dia menunduk.
“Namaku Siska.”
“Dimas.”
“Aku sudah meninggal dua tahun.”
“Turut berduka.”
Siska mengangguk.
“Terima kasih.”
“Terus kenapa masih di sini?”
“Belum dapat tempat.”
Aku menatap kamar kosku.
“Memangnya alam sana penuh?”
“Penuh.”
“Seperti kontrakan?”
“Lebih parah.”
Aku hampir tertawa.
Siska kemudian menunjuk kasur.
“Aku boleh tidur di sini?”
Aku langsung menggeleng.
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Kasurnya kecil.”
“Aku kan nggak makan tempat.”
Aku melihat tubuhnya.
Benar juga.
Kakinya bahkan tidak menyentuh kasur.
“Kalau kamu tidur di sini, kamu tidur di mana?”
Siska menunjuk sebelahku.
“Di situ.”
“Enggak.”
“Kenapa?”
“Gue masih jomblo, jangan sampai tetangga mikir macam-macam.”
Siska memandangku datar.
“Masih sempat mikirin tetangga?”
“Reputasi penting.”
Tiba-tiba dari luar kamar terdengar suara keras.
BRAK!
Siska langsung melompat ke belakangku.
Aku ikut kaget.
“Apa itu?”
Siska berbisik.
“Dia datang.”
“Siapa?”
“Hantu yang aku takuti.”
Aku menelan ludah.
“Seperti apa?”
“Seram.”
“Ya jelas.”
“Badannya tinggi.”
“Hmm.”
“Rambutnya panjang.”
“Hmm.”
“Matanya merah.”
Aku mulai merinding.
“Terus?”
Siska menunjuk pintu.
“Dan dia suka kentut.”
Aku menoleh.
“HAH?”
Belum sempat aku tertawa, terdengar suara dari luar.
Prrrttt...
Siska langsung menutup hidung.
“Itu dia!”
Aku tidak tahan lagi.
Aku tertawa sampai perutku sakit.
“Jadi kamu takut sama hantu kentut?”
“Jangan meremehkan!”
“Kenapa?”
“Baunya bisa bikin roh keluar dari tubuh.”
“Kamu kan sudah tidak punya tubuh!”
Siska terdiam.
“Oh iya.”
Aku kembali tertawa.
Tiba-tiba pintu kamar terbuka sendiri.
Kreeeek...
Seorang laki-laki tinggi berdiri di depan pintu.
Rambutnya acak-acakan.
Wajahnya pucat.
Matanya merah.
Aku langsung berhenti tertawa.
Siska bersembunyi di belakangku.
Laki-laki itu melangkah masuk.
Aku mundur.
Satu langkah.
Dua langkah.
Kemudian dia berkata dengan suara berat...
“Dimas...”
Aku gemetar.
“I-iya?”
“Punya minyak kayu putih?”
Aku bengong.
“Hah?”
Dia memegang perutnya.
“Perutku masuk angin.”
Aku menatap Siska.
Siska menatapku.
Kami sama-sama diam.
Hantu laki-laki itu duduk di lantai.
“Dari tadi aku mau menakut-nakuti kalian, tapi malah mulas.”
Siska langsung keluar dari persembunyiannya.
“Makanya jangan makan sate usus!”
Hantu itu menatapnya.
“Kamu jangan ikut campur.”
“Bau kamu sampai alam sebelah!”
“Diam!”
“Tidak!”
Mereka mulai bertengkar.
Aku berdiri di tengah kamar sambil memegang mangkuk mi.
Lima menit lalu aku masih mengira malam ini bakal menjadi malam paling menyeramkan dalam hidupku.
Sekarang aku malah seperti satpam yang sedang melerai dua tetangga bertengkar.
Akhirnya aku menghela napas.
“Sudah!”
Keduanya diam.
Aku menunjuk mereka.
“Kalian sebenarnya mau apa?”
Siska mengangkat tangan.
“Aku mau numpang tidur.”
Hantu laki-laki itu ikut mengangkat tangan.
“Aku mau minyak kayu putih.”
Aku menatap keduanya.
“Terus saya dapat apa?”
Siska tersenyum.
“Kamu dapat teman.”
Hantu laki-laki mengangguk.
“Dan utang minyak kayu putih.”
Aku langsung menunjuk pintu.
“Keluar!”
Mereka malah tertawa.
Malam itu aku akhirnya sadar...
aku bukan lagi penghuni kamar nomor tujuh.
Aku sudah berubah menjadi pemilik kos khusus hantu.
Dan masalahnya baru dimulai ketika keesokan malam...
tiga hantu lain datang membawa koper.