"Wah! Gak kerasa yah tiba-tiba kita udah lulus aja!"
"Iya lagi! Perasaan baru kemarin kita jadi murid baru! Eh udah perpisahan lagi aja!"
"Eh, eh! Setelah ini kalian mau lanjut ke mana? Kuliah atau langsung kerja?"
"Ah! Kalau aku sih..."
"Wih, keren! Kalau aku rencananya..."
Beberapa orang di sekitarku sibuk membicarakan rencana masa depan mereka masing-masing.
Mereka terdengar sangat antusias saat menceritakannya.
Suasana acara kelulusan masih mengalir di udara.
Ini mengandung perasaan yang aneh, seolah segala emosi bercampur menjadi satu.
Senang, lega, haru, kesepian... Semuanya bergabung menjadi satu.
Meskipun lingkungan sekitarku begitu ramai karena orang-orang tenggelam dalam suasananya... Namun rasa sepi menyelimutiku.
Bukan karena aku tidak punya teman ataupun sengaja menyendiri dari keriuhan di sekelilingku... Namun, itu karena aku memikirkan tentang seseorang.
Orang itu adalah dia... Sosok yang kukagumi selama tiga tahun berada di tempat ini.
Aku tidak tahu apa alasan yang membuatku mengaguminya. Seakan-akan hal ini terjadi begitu saja tanpa pemantik yang jelas.
Aku teringat pada saat pertama kali aku melihatnya.
Itu tidak terjadi secara spesial.
Jika aku harus mengatakannya, mungkin ini seperti suatu kebetulan.
Saat itu aku berada di kelas.
Entah apa yang merasukiku, mungkin hanya karena bosan, aku menyapu pandanganku ke seisi kelas dan memperhatikan wajah-wajah yang hadir di sana.
Ketika itu, mataku menangkap wajahnya.
Mungkin berkat efek dari sinar matahari yang masuk melalui ventilasi, wajahnya kala itu tampak begitu cerah memancarkan cahaya.
Aku takjub sekaligus terpana saat melihatnya.
Akan bohong jika kubilang aku tidak tertarik pada wajahnya.
Hanya butuh sepersekian detik, seluruh fitur yang ada di wajahnya, terekam dengan baik dalam ingatanku.
Andai aku bisa melukis, maka aku dapat dengan yakin mengatakan jika aku melukis wajahnya saat ini juga hanya berdasarkan apa yang ada di ingatanku, itu akan memiliki tingkat kemiripan mencapai hampir seratus persen.
Yah, itu agak berlebihan, sih. Tapi itulah bukti betapa mempesona wajahnya hingga aku tidak dapat melupakannya.
Berawal dari situ, rasa tertarik pun muncul.
Tiada hari yang terlewat tanpaku mencari celah untuk mencuri pandang.
Aku melakukan itu hampir setiap hari sampai-sampai aku dapat dengan bangga mengatakan bahwa akulah orang pertama yang akan menyadari jika ia tidak ada di kelas.
Aku tidak tahu apakah dia memang tidak pernah menyadari tatapanku atau dia hanya tidak peduli meski sudah mengetahuinya.
Selama tiga tahun kami di kelas yang sama, aku tidak pernah berbicara langsung dnegannya dan ia pun juga tidak memiliki alasan untuk memulai interaksi denganku.
Hubunganku dengannya hanya sebatas pengagum rahasia.
Bukannya aku tidak ingin berinteraksi dengannya, tapi aku hanya terlalu pengecut untuk memulainya.
Meskipun hati kecilku menginginkannya, tapi pikiran negatifku selalu menghalangiku.
Aku takut ia merasa terganggu. Aku takut dia jijik. Aku takut ia mengabaikanku. Aku takut dia mengusirku. Aku takut dia takut padaku.
Hal-hal itulah yang membuatku menetap di zona nyaman sebagai pengamat dari sudut ruangan.
Aku tidak berani.
Bagiku, lebih baik ia tidak menyadari keberadaanku ketimbang ia sadar lalu menjauhiku.
Aku merasa sakit hanya dengan membayangkannya.
Itulah sebabnya aku selalu menjaga jarak darinya.
Tapi, semakin lama perasaan ini semakin menyiksa.
Aku tidak tahu sejak kapan itu dimulai. Tapi begitu aku sadar, rupanya rasa kagum itu telah berevolusi menjadi rasa suka.
Mungkin karena aku terlalu sering mencuri pandang agar bisa melihat wajahnya.
Atau mungkin karena suaranya, senyumannya, canda tawanya, sifatnya, tingkah lakunya, ekspresi seriusnya saat mengerjakan soal, wajah linglungnya saat mencerna rumus matematika di papan tulis, hingga detail-detail kecil lainnya yang sulit kusebutkan satu per satu.
Tanpa kusadari, aku telah menjadi stalker.
Aku mengetahui terlalu banyak tentangnya meskipun tidak pernah berinteraksi dengannya.
Aku membenci diriku sendiri karenanya.
Aku merasa malu dan tidak berguna.
Aku merasa tidak pantas memiliki perasaan ini.
Aku bahkan tidak seharusnya berada di kelas yang sama dengannya.
Ini menjijikkan. Aku bahkan tidak layak disebut manusia.
Apanya yang pengagum rahasia? Aku hanya menggunakan istilah itu untuk menyembunyikan hobi menjijikkanku.
Aku berutang maaf padanya.
Dan seperti yang diharapkan dariku, sampai detik ini, utang itu masih belum kulunasi.
Bukan karena aku tidak ingin, tapi karena aku tidak berani menghadapinya.
Dia telah beralih dari orang yang kukagumi menjadi orang yang kutakuti.
Tiga tahun aku mengaguminya, dan tiga tahun pula aku memendam perasaan untuknya.
Dan tiada cara bagiku untuk memberitahunya.
Tidak, bukannya tidak ada cara, tapi akulah yang tidak ingin mencari caranya.
Seperti yang kulakukan saat ini.
Ini adalah hari terakhir di mana aku bisa bertemu dengannya.
Esok, lusa, atau kapan pun itu, belum tentu takdir mengijinkanku bertemu dengannya lagi.
Kesempatan terakhirku ada di sini.
Kesempatan untuk mendatanginya, berbicara dengannya, dan mengatakan yang sejujurnya.
Aku mengangkat kepalaku.
Mungkin karena telah terbiasa, seolah ada sensor otomatis, mataku dapat dengan cepat menemukan di mana ia berada.
Dari ujung penglihatanku, dia di sana, duduk sendirian memainkan ponsel di tangannya ketika orang-orang di sekitarnya mulai meninggalkan tempat.
'Inilah kesempatanku!
Aku mengatakan itu dalam hati, tapi tubuhku tidak mau bangkit.
Otakku terus mencari alasan untuk menundanya.
Semakin lama, orang-orang di sekitar semakin berkurang.
'Ayo, kau pasti bisa!'
Aku menyemangati diriku sendiri agar ia mau mengambil langkah.
Tapi itu tetap tidak berhasil.
Ketika tempat ini hanya menyisakan beberapa orang, dia bangun dari duduknya dan beranjak pergi menuju pintu gerbang.
'Tidak! Tunggu aku!'
Aku berteriak dalam hati, tapi tentu saja itu tidak didengar olehnya.
Merasakan sedikit kepanikan, tubuhku akhirnya mau diajak berkompromi.
Aku bangun dan mempercepat langkahku agar tidak kehilangan figurnya yang mulai menjauh.
Di halaman sekolah, aku dapat dengan jelas melihat punggungnya mulai mengecil.
Aku berusaha memaksakan kakiku terus berjalan, tapi ia tidak mau bergerak.
Dari kejauhan, aku melihat ia melambai pada kendaraan yang berhenti di dekatnya.
Itu adalah kendaraan yang selalu menjemputnya.
Momen-momen terakhir ini kupatri dengan jelas dalam memoriku.
Ketika sosoknya ditelan oleh pintu kendaraan, pada saat itu juga kisah tentangnya berakhir.
Dan pada akhirnya, aku tetap menjadi pengagum rahasianya.